Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 177


__ADS_3

Embun dan kabut bercampur memberi kesan sejuk dan kabur menghampar pemukiman warga desa Tulabolo. kabut itu berarak dari puncak menuruni pemukiman, berasal dari lereng pegunungan Tilong Kabila dan Bogani Nani Wartabone yang berlokasi paling timur berbatasan dengan Bolaang Mongondow.


bunyi siutan burung-burung kecil menghiasi pagi dan sinar mentari menerobos menerangi tanah dari sela-sela ranting pepohonan bersaring dengan hamparan butir-butir air dalam kabut.


Fitri duduk bersimpuh ditemani Mariana yang sejak beberapa hari, matanya telah bengkak seakan kelopak mata lelah memeras air mata. dihadapan mereka berdua membentang dua pusara milik Aisyah dan Bakri. dibelakang kedua wanita itu berdiri Adnan dan Kameie. dibelakang mereka berdiri Kenzie dan Chiyome yang memeluk Sandiaga didepannya.


Fitri sudah kelelahan menangis. ia hanya duduk bersimpuh dan mengusap-usap paita Aisyah dengan lembut.


"Ana..." ujar Fitri membuka percakapan. "Ketika Ais lahir kedunia. anak itu begitu cantik." wanita itu tetap mengelus lembut permukaan paita tersebut. "Kulitnya begitu putih dan bersih. tak ada bercak darah setitikpun ditubuhnya, kecuali sejumput kecil diujung rambut tipisnya."


Mariana memejamkan mata menggigit bibir. ia hendak menangis namun airmata bagai telah kering. matanya sudah bengkak hingga posisi matanya sudah menyipit. hatinya trenyuh mendengar Fitri mengungkit kenangannya melahirkan Aisyah.


"Anak itu begitu ceria dan menyempurnakan keluarga kami.... sampai akhirnya kau merebut Adnan dariku..." ujar Fitri.


Mariana terisak namun tak berani menyentuh Fitri. perasaan bersalahnya sangat besar untuk saat ini. Adnan menunduk dan menghela napas panjang. ia kemudian menengadah dan sangat nampak matanya berkaca-kaca.


Kenzie dan Chiyome melihat dengan jelas konflik itu. mereka seakan jatuh ditengah-tengah. Kameie sendiri juga menghela napas dan sedikit melirik ke arah Chiyome. lelaki itu paham benar apa yang dirasakan putrinya. ditengah kegalauan hidup akibat kematian Aisyah, tanpa sadar Fitri mengeluhkan takdirnya yang begitu berliku. tentu secara tidak langsung hal tersebut menyeret Kameie dan Chiyome serta Iechika. seandainya tak ada perselingkuhan antara Mariana dengan Adnan, tentu Fitri masih tetap di Gorontalo dan nggak akan bertemu dengan Kameie, otomatis juga Chiyome maupun Iechika tidak akan lahir.


Fitri tersadar. ia menoleh menatapi Kameie dan Chiyome yang menunduk. wanita itu menyadari kesalahannya. dilambaikannya tangannya kearah Chiyome. Kenzie menyentuh pundak istrinya, menyuruhnya mendekat. Sandiaga sendiri akhirnya dipegang oleh Kenzie.


Chiyome mendekat dan duduk bersimpuh disisi ibunya. Fitri menatapnya dan tersenyum getir. "Okaasan minta maaf, telah membuatmu tersinggung..." ujar Fitri mengulurkan tangan menyentuh pipi Chiyome. "Kehilangan seorang anak yang jauh dalam genggaman, membuat Okaasan melupakan kenyataan Allah masih memberikan Okaasan anugerah terindah dalam hidup. yaitu, kamu dan Iechika... Okaasan minta maaf setulusnya... maafkanlah aku."


Chiyome mengangkat wajah menatap Ibunya dan ia pun menangis lalu menghambur memeluk ibunya. Fitri sendiri kemudian membalas pelukan putrinya dengan usapan lembut pada punggungnya. setelah puas memeluk putrinya, dalam sikap duduk itu, Fitri berbalik menatap Kameie.


"Otoo-Sama... maafkanlah istrimu yang lemah hati ini... aku rela menerima hukumanmu." ujar Fitri membungkuk dalam kehadapan Kameie.


lelaki jepang itu melangkah lalu berlutut dihadapan Fitro yang masih membungkuk. dibelainya kerudung yang menghalangi rambut istrinya.


"Tegakkan tubuhmu istriku... aku memahami hatimu." Kameie menegakkan tubuh istrinya lalu menatap paita Aisyah. "Lagipula... aku sudah mengucap sebuah sumpah dimakam putri kita ini... jika bukan aku yang membunuh pelakunya... Chiyome yang akan menunaikan tugas itu!"


Ucapan itu adalah sabda perintah langsung dari mulut Kameie membuat Chiyome menunduk takzim dan mengucap, "Watashi wa shimasu..." ujarnya dengan nada menekan.


Kenzie menarik napas. sang istri mendapatkan tugas penting lagi, langsung dari sang ayah. sementara Adnan menatap dengan cemas. ia tak mau lagi kehilangan menantunya.


"Kameie... bisakah kau membebaskan putri kita itu dari perintahmu?" pinta Adnan.


tanpa menoleh, Kameie menjawab. "Dalam tradisi genyosha, nyawa harus dibalas dengan nyawa. kami, berkewajiban menuntut darah pembunuh itu. misi ini tidak akan selesai, sampai pembunuh itu tewas ditangan kami. jika bukan aku, maka Chiyome yang akan menunaikan tugas itu... jika bukan Chiyome... maka Saburo kelak yang akan menunaikan tugas itu..."


"Kenapa kau harus menyeret lagi cucu kita, Kameie? Sandiaga masih terlalu kecil untuk mengemban tugas itu. dia baru berusia tujuh tahun!" protes Adnan.


"Itulah resikonya!" seru Kameie sambil berdiri, kemudian membalik menatap Adnan. "Dia berani menumpahkan darah putriku dengan kematian yang tragis dan sangat tidak bermoral... Yamaguchi tak akan membiarkan hal ini. jika perlu, akan kukerahkan seluruh anggota ranting Tokyo untuk menguber pelaku itu... dan mengulitinya hidup-hidup!!!"


untung ketegangan itu tak berlangsung lama. langkah sepatu mendekat membuat keduanya berhenti bertengkar dan menoleh kearah datangnya suara detakan sepatu.


Trias muncul. lelaki itu mengenakan kemeja yang digulung lengannya. ototnya bersembulan karena memang akhir-akhir ini Trias rajin membangun ototnya di gym. sebuah pistol revolver raging bull, hadiah dari Kenzie tersarung dalam holster yang terpasang dibagian kanan ikat pinggang opsir itu sedang dibagian kiri tersemat lencana kepolisian.


sejenak Trias berhenti menyadari ketujuh orang itu berkumpul di pusara Aisyah dan Bakri. Adnan pertama kali menyapanya.


"Trias? ada apa nak?" sapa Adnan.


"Alhamdulillah baik Om." jawab Trias maju menyambut uluran tangan Adnan, menyalaminya dan menciumi punggung tangan lelaki itu.


Trias menatap Kenzie. "Halo Bro." sapanya.


Kenzie tersenyum dan keduanya melakukan highfive gaya mereka. Trias menatap Sandiaga.


"Halo San..." sapa Trias mencubit pipi anak itu. "Bagaimana kabarnya calon mantuku hari ini?"


"Astaghfirullah... Yass..." ujar Kenzie langsung membekap telinga Sandiaga. "Kenapa kamu jujur sekali dihadapannya?"


Trias tertawa. "Sori, Bro... kelihatannya aku silap lagi... abis aku sudah nggak sabaran... pingin cepat nikahi Sandi dengan bayiku..."

__ADS_1


"Hus! jangan bercanda... ini masih pagi Yas..." omel Kenzie masih tetap membekap telinga Sandiaga. "Lagi pula usia kandungan Ipah kan masih tujuh..."


"Kan insya Allah tinggal tiga bulan lagi lamarannya." goda Trias.


"Lamaran kepala botak kau!" semprot. "Sudah... berita apa yang kau bawa... serius sedikitlah.."


Trias mengangkat tangan sambil mengangguk-angguk. Kenzie melepaskan bekapannya pada telinga Sandiaga. anak itu menatap Trias.


"Abah harus melatihku melakukan hal tadi..." ujar Sandiaga.


"Wohohoho... nggak bisa coy... ini gaya kami berdua... ada hak ciptanya tuh.." tolak Trias sambil tertawa. lelaki itu kemudian menatap Kameie dan tersenyum.


"Paman Kameie..." sapa Trias sambil membungkuk takzim.


Kameie melangkah hingga berdiri dihadapan Trias. "Kau sangat cocok dengan penampilan ini." puji Kameie.


"Ya iyalah Om... lagipula sedikit lagi kita akan menjadi keluarga besar." ujar Trias menjabat tangan Kameie dan mencium punggung tangan lelaki jepang itu.


"Keluarga besar?" gumam Kameie dengan senyuman heran.


"Noh... tanya saja sama Chiyo!" ujar Trias.


"Yaaaaasssss...." tegur Kenzie dan Adnan bersamaan.


Kameie menatap Chiyome meminta penjelasan. anggukan putrinya membuat lelaki itu kemudian terkekeh pelan. ia menatap Trias.


"Baiklah, baiklah..." ujar Kameie mengangguk-angguk dan tersenyum. "Sekarang... berikan aku berita gembira."


Trias menatap semuanya dengan wajah serius. "Kami berhasil melacaknya. budo boi itu nyaris melarikan diri ke Sulawesi Utara melalui Atinggola... beruntung kami telah menghubungi polsek Gorontalo Utara, dan mereka langsung melakukan blokade diperbatasan."


"Terus?" desak Kameie.


"Sebatas itu?" tanya Kameie dengan wajah tak puas.


"Om... sejak hari ditemukannya Kak Ais dan Kak Bakri, kami sudah melakukan blokade disetiap perbatasan, apakah itu perbatasan antar daerah maupun perbatasan antar propinsi. Bos Eki sudah menekankan bagaimana caranya pembunuh biadab itu harus ditemukan. kami saja regu pasopati bersama regu buser sekarang sementara diterjunkan. insya Allah dalam waktu yang tak terlalu lama, buronan kelamin itu akan kita temukan." jawab Trias.


"Jika kau menemukannya, serahkan dia kepadaku atau Chiyome. kami akan melaksanakan penuntutan darah!" pinta Kameie.


"Wah, kalau yang itu saya nggak bisa menjamin Om... Indonesia sangat ketat dalam hal hukum termasuk perlindungan hak asasi. tapi kami pastikan, ia akan menderita ditangan kami." tampik Trias sekaligus menghibur Kameie.


Kameie hanya menoleh menatap Chiyome. seakan tahu apa yang dipikirkan ayahnya, Chiyome mengangguk lalu menunduk. Kameie menatap Trias kembali.


"Baiklah... aku percayakan lelaki brengsek itu kepadamu. hanya kepadamu! pastikan dia merasa ingin mati namun jangan kau kabulkan permohonannya." pinta Kameie. "Buat dia ingin mati, namun tak bisa mati secepat itu!"


Trias tertawa. "Om sadis banget." olok Trias. "Gaya yakuza jangan dibawa disini dong Om."


Kameie hanya menarik napas panjang. lalu dipegangnya pundak Trias, agak mencengkeram membuat Trias merasa kesakitan namun ditahannya sekuat tenaga. hanya bulir-bulir keringat sebesar biji jagung yang jatuh dari pelipis menandakan lelaki itu sedang berupaya menahan rasa sakit akibat cengkeraman Kameie pada pundaknya. mata Kameie yang tadinya bening, perlahan mulai memerah pertanda lelaki itu menahan emosinya yang sedang meluap.


"Aku mengandalkanmu untuk mewakiliku memberikan rasa sakit kepadanya, melebihi apa yang dia lakukan pada putriku. jika kau tak sanggup... katakan! agar Chiyome yang menggantikan kamu mengulitinya hidup-hidup." ujar Kameie dengan lirih setengah berbisik agar perkataannya tidak didengar oleh Adnan dan Kenzie.


Trias, didera rasa sakit yang menyengat pada pundaknya akhirnya mengangguk. Kameie balas mengangguk dan melepaskan cengkeramannya dengan pelan lalu menatap Fitri. "Ie ni Kaerimashou..." ajaknya sambil mengulurkan tangan.


Fitri menatap Kameie lalu mengulurkan tangannya pula menyambut uluran tangan suaminya. setelah itu keduanya melangkah pulang. Kameie memeluk Fitri dalam langkah, memberi istrinya penguatan moril bahwa ia masih punya bahu untuk disandarkan Fitri.


keduanya meninggalkan Keenam orang itu. Adnan maju dan memegang pundak Mariana. "Mari Sayang... kita pulang." ajaknya dengan lembut.


Kenzie berlutut menatap Sandiaga. "Saburo... kamu pulang sama Bapu dan Nene ya? Papa dan Mama masih punya urusan dengan Abah..."


Sandiaga mengangguk lalu berlari mendapati Adnan dan Mariana. "Mari Bapu..." ajak Sandiaga menggamit pergelangan tangan Adnan. ketiga orang itu meninggalkan lokasi pemakaman keluarga Mantulangi.


kini tinggal tiga sekawan yang berada dilokasi tersebut. Trias maju memutari makam dan berlutut disisi makam Bakri, guru silatnya. ia mengangkat tangan sejenak membacakan doa-doa penenang arwah lalu kemudian mengusapkan kedua tangan ke wajah dan berdiri kembali.

__ADS_1


opsir itu melangkah memutari makam lagi dan mendekati pasangan suami-istri tersebut.


"Kamu nggak ngajak Ipah kemari?" tanya Chiyome.


"Ipah agak kurang enak badan. mungkin pengaruh kehamilannya mulai memasuki usia delapan, pinggulnya sering terasa sakit." jawab Trias.


Chiyome mengangguk-angguk. Kenzie menghela napas. "Apa yang diomongi Otoosan sama kamu?" tanya lelaki bercambang tipis itu.


"Dia mempercayakan aku untuk mengurusi perkara Stefan. dan..." ujar Trias lalu menatap Chiyome. "Kamu nggak sungguh-sungguh dengan hal itu, bukan?" selidik Trias.


Chiyome hanya menatap datar Trias. opsir itu menarik napas. "Chiyo.... aku serius nih. kamu nggak sungguh-sungguh hendak melakukan itu, kan?" desak Trias.


Chiyome tersenyum dengan ekspresi yang sulit dibaca Trias. opsir itu kemudian menekan. "Aku nggak mau kamu melakukan hal yang sama seperti kau melakukannya pada Burhan!" ungkit Trias.


"Dia nggak akan melakukannya." sela Kenzie.


Trias menatap sahabat kentalnya itu. "Ken, aku nggak mau kejadian sepuluh tahun lalu terulang lagi! aku bisa menangkap Chiyo atas tuduhan pembunuhan berencana."


"Asal kau melakukan tugasmu dengan baik!" tandas Kenzie.


"Aku pasti akan melakukan tugasku dengan baik, Ken!" balas Trias, tersinggung dengan ucapan sahabatnya. "Itu janjiku sebagai aparat negara dan sahabatmu!"


"Termasuk menyiksanya lalu membunuhnya?!" pancing Chiyome. "Itu kan ungkapan sebenarnya yang diucapkan Otoosan kepadamu. iyakan?"


"Untuk yang itu... aku nggak bisa menjamin." jawab Trias. "Aku aparat hukum, Chiyo. aku harus profesional dan juga harus proporsional..."


"Bahkan dihadapan orang yang telah membunuh guru silatmu sendiri?!" hardik Chiyome dengan suara lirih namun tegas.


Trias terdiam. tentu saja hal itu tidak mudah. bayangkan menatap wajah si pembunuh dan terkenang orang yang dibunuhnya dengan kejam. Trias tak akan yakin bersikap proporsional... namun ia harus berusaha.


"Aku... aku akan proporsional." jawab Trias pada akhirnya.


Chiyome hanya tertawa, namun tawa itu terkesan mengejek dan meremehkan idealisme yang digenggam Trias. wanita itu menatap Kenzie.


"Hubby... aku duluan ya? silahkan kalian berdua berdiskusi." ujar Chiyome pamit. Kenzie mengangguk.


"I love you..." bisik Kenzie.


Chiyome tersenyum memamerkan ginsul giginya. "Watashi mo..." balasnya dengan lembut sambil membelai pipi suaminya yang ditumbuhi cambang tipis.


Chiyome melangkah meninggalkan keduanya dilokasi pemakaman tersebut. Trias menghela napas lalu menatap Kenzie. "Sori Ken..."


"Nggak apa-apa..." jawab Ken menormalkan suaranya. "Apakah ada berita gembira untukku?" tanya lelaki itu dengan suara lirih.


Trias mengawasi suasana dengan kerlingan matanya ke setiap sudut, mencurigai keberadaan Chiyome yang entah bersembunyi menguping pembicaraan mereka. bukankah wanita itu seorang shinobi?


setelah yakin ditempat itu hanya mereka berdua, Trias menatap Kenzie. "Kami sudah mencium jejak persembunyian Stefan. aku yakin, kali ini kami nggak akan salah. dia akan tertangkap hari ini."


"Itu bagus... seberapa akurat?" tanya Kenzie.


"Seratus persen, Ken!" jawab Trias dengan senyum tak kentara.


tak berapa lama, gawai pada sakunya bergetar. lelaki itu langsung meraihnya dan menatap layar. matanya memicing lalu menatap Kenzie.


"Dari Stephen..." ujarnya lalu mengaktifkan panggilan.


📱"Ya, kenapa Bro?!" tanya Trias.


📱"Kami sudah menemukan persembunyiannya, Bro. kali ini nggak salah lagi! cepatlah kau kesini!" seru Stephen.


📱"Benarkah?!" seru Trias dengan wajah yang terkejut namun senang. sementara Kenzie memperhatikan raut wajah sahabatnya.[]

__ADS_1


__ADS_2