
Trias berdiri menyandarkan punggungnya ditiang ayunan sementara Kenzie duduk santai disalah satu kursi panjang ditaman kota. sesuai rencana, keduanya menunggui Burhan yang telah sepakat untuk melakukan transaksi ditempat itu. Trias melayangkan pandangan ke segala sudut.
"Kau yakin, ia akan datang hari ini?" tanya Trias dengan pelan.
Kenzie mengangguk, "Aku yakin. kami sudah sepakat." ujarnya sambil berdiri. pemuda itu mendesah, "Tabunganku menipis. saldonya tinggal 7 juta. kalau kutarik lagi, bisa curiga Papa. pasti rekeningku langsung diblokir."
"Kan Chiyome bilang, dia akan bantu." sahut Trias.
Kwnzie tersenyum getir, "Aku gengsi Yas. masa minta-minta sama dia?"
tak berapa lama, Burhan muncul dan melangkah mendekat. ia selalu memasang senyum simpatik namun licik. Kenzie berdiri dan menepuk pahanya sesekali sedang Trias ikut bangkit dan melangkah kwarah Burhan dengan santai.
"Oo.. halo Trias," sapa Burhan sambil memandang mereka berdua. "Kalian saling kenal, ya?" olok pemuda itu.
"Tentu saja kami saling kenal." balas Trias menggeram. "Kami kan sekelas."
"Nggak usah basa-basi. ayo transaksi." potong Kenzie dengan lagak tidak sabaran. sikapnya membuat Burhan senang.
"Okey, okey..." jawab pemuda itu.
...*******...
Chiyome melapor ke Pak Risno, perwalian mereka bahwa Kenzie kurang sehat sehingga harus diantar Trias pulang. keterangan itu diperkuat oleh Fendi Modanggu, ketua kwlas mereka. Pak Risno akhirnya mengangguk dan memberikan ijinnya.
Chiyome membereskan buku-buku dan memasukkannya ke ranselnya. gadis itu melenggang keluar menyusul teman-temannya yang sudah dahulu menghambur pulang karena senang dipulangkan.
hari itu, seluruh staf akademika SMUN 3 Kota Gorontalo akan mengikuti rapat umum seluruh guru di Kantor wilayah Dinas Pendidikan yang terletak dikecamatan Tapa. semuanya harus ikut, tak terkecuali. tak ada cara lain, kecuali Kepala Sekolah memutuskan memulangkan anak-anak didiknya lebih dulu.
Chiyome harus bergerak cepat. mereka sekarang tentu sedang bertransaksi. ia tak boleh terlambat.
didepan gerbang, langkahnya agak tertahan. disana Iyun berdiri menatapinya, kali ini menghadiahkan senyuman. sebuah pemandangan yang sangat langka menurutnya.
Chiyome berupaya bersikap wajar. dia kembali melangkah hingga tepat berada dihadapan Iyun.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" sapa Chiyome dengan senyum datar.
Iyun langsung mengulurkan tangan dan kembali melempar senyum yang sangat ramah.
"Aku minta maaf atas sikapku yang tempo hari." ujarnya. uluran tangannya langsung dijabat Choyome, tanpa beban.
"Lupakan saja. aku tak memikirkannya." sahut Chiyome.
"Kamu mau pulang? kita barengan yuk?" ajak Iyun.
"Boleh juga." jawab Chiyome sambil senyum. keduanya melangkah menyeberangi jalanan hingga tiba ditrotoar seberang. Chiyome terus melangkah diikuti Iyun.
"Kamu mau kemana?" tanya jilbaber itu.
"Aku mau ke taman dibelakang gelanggang ini. Kenzie menungguku disana." jawab Chiyome sambil terus melangkah. Iyun berhenti.
"Wah, berarti aku mengganggu, dong. aku pulang duluan ya?" sahut Iyun agak keras. Chiyome berhenti dan berbalik.
"Ada Trias juga disana." jawab Chiyome sambil memanggil Iyun lagi. jilbaber itu tertawa sambil mendekat.
"Kau bilang begini supaya aku tetap menemanimu, kan?" tebak Iyun sambil tersenyum.
"Beneran. dia disana sama-sama Kenzie." jawab Chiyome kembali berjalan dengan cepat.
Iyun menjajari langkah gadis itu. "Ngapain mereka berdua disana?" tanya jilbaber itu.
"Nanti juga tau sendiri. ayo ah, aku nggak mau ketinggalan mereka." ajak Chiyome kali ini mulai berlari-lari kecil. Iyun tertawa lalu berlari menyusul Chiyome.
kedua anak sekolahan itu terus berlari-lari kecil menyusuri trotoar dan memutar mengikuti jalanan. mereka tiba beberapa meter dari taman. sejenak keduanya berhenti lalu mengambil napas. setelah itu mereka kembali melangkah santai.
nampak dikejauhan, Trias dan Kenzie sedang melakukan transaksi dengan Burhan. Iyun yang melihat Trias langsung melambaikan tangan dan hendak mendahului Chiyome, namun gadis itu menahan langkah jilbaber tersebut.
"Sabar, Yun. kita pelan-pelan saja." kata Chiyome membuat Iyun tersipu. sejak dicipok Trias yang tanpa permisi nan gagah berani pada malam kemarin di resto Mawar Sharon, Iyun benar-benar tak mau berpisah dengan lelaki yang telah mengambil momen ciuman pertamanya meski dengan cara yang kurang keren menurutnya.
perlahan Burhan berbalik pergi. ketika melihat Chiyome yang datang bersama Iyun ia langsung melangkah mendekati mereka. pemuda itu memasang senyum semenarik mungkin.
"Halo 2 nona manis. apa kabar?" sapa Burhan.
Kenzie yang cemburu hendak menyusul Burhan namun keburu ditahan Trias yang memberikan isyarat agar pemuda itu diam ditempatnya.
"Kami baik-baik saja. bagaimana denganmu?" balas Chiyome lalu menatapi Iyun yang menatapi pemuda itu dengan tatapan tak suka.
"Kamu boleh duluan." kata Chiyome.
Iyun mengangguk lalu melangkah meninggalkan gadis itu menuju ke arah Trias. sementara gadis jepang itu tetap meladeni percakapan pemuda itu.
"Bagaimana dengan tawaranku?" todong Burhan.
__ADS_1
Chiyome tersenyum. "Nanti kukabari." jawab gadis itu sambil menepuk dada pemuda itu dan memperbaiki kerah seragamnya. Burhan tentu sangat senang mendapatkan perlakuan demikian. khayalnya melayang membayangkan jika perempuan dari jepang itu mau jadi pacarnya.
"Okey, kalau sabtu depan, bagaimana?" todong pemuda itu lagi lebih mendesak.
"Nanti ku kabari." jawab Chiyome lagi sambil tersenyum.
"Oke. aku tunggu ya.." kata Burhan sambil tersenyum dan pamit meninggalkan gadis itu. sepeninggal Burhan, Chiyome melangkah kembali mendekati Kenzie yang sementara pasang wajah keruh.
"Katamu dia sudah jadian sama Kenzie. kok terlihat mesra sama Burhan?" tanya Iyun pada Trias, sengaja menyindir Chiyome.
gadis itu tertawa kecil. "Aku hanya mempermainkannya." jawab Chiyome sambil terus senyum.
"Sebaiknya jangan memberikan harapan." tegur Kenzie sambil menatapi Chiyome dengan sinis.
"Kau cemburu, Ken?" goda Chiyome membuat Kenzie memalingkan wajah ke pepohonan beringin. gadis itu tahu, ia membuat kesalahan yang fatal.
"Maafkan aku. itu tak akan terjadi lagi. selamanya." tandas Chiyome lalu menggelayut dilengan Kenzie dengan mesra membuat Iyun mengoloknya.
"Selamat ya Ken. kamu bukan jomblo kakap lagi." ujar Iyun sambil menyandarkan kepalanya dibahu Trias.
Chiyome tersenyum tersipu. Trias membelai kepala Iyun dan menatap kekasihnya. "Kok kamu bisa datang dengan Chiyome?"
Iyun memandang Trias sambil tersenyum lebar. "Kami sudah sahabatan." jawabnya dengan polos.
Trias menatapi Chiyome dan menganggukkan dagunya meminta bukti. gadis itu balas mengangguk membuat Trias tersenyum lebar.
"Alhamdulilah... gitu dong. baru namanya Jauzi." goda Trias membuat Iyun tersipu dan meninju dada pemuda itu dengan mesra.
"Jauzi?" tanya Chiyome.
"Calon istri." jawab Trias membuat Kenzie dan Chiyome tertawa sedang Iyun semakin tersipu.
tiba-tiba Iyun teringat sesuatu dan ia menatapi Trias. "Kalian berdua disini sedang apa? apa yang kalian bicarakan dengan Burhan?" tanya gadis itu penasaran.
"Sebaiknya kalian berdua duluan saja." saran Kenzie. "Kasian Iyun. pasti ia lelah."
Trias mengangguk penuh arti membaca isyarat yang dilempar Kenzie. Trias mengajak Iyun meninggalkan taman dan mereka menyetop bentor. kendaraan itu pun melaju membawa pasangan kekasih itu meninggalkan Kenzie dan Chiyome di taman.
Kenzie menatapi Chiyome. "Kau menerbitkan cemburuku." ujar pemuda itu dengan jengkel.
"Aku kan bilang tak akan lagi mengulanginya. aku sumpah itu yang pertama dan yang terakhir." tandas Chiyome sambil senyum. senang melihat kekasihnya cemburu.
"Kau nggak mau, misi kita berhasil?" pancing Chiyome.
"Maksudmu?" tanya Kenzie yang kurang paham.
gadis itu kemudian duduk dibangku panjang diikuti oleh Kenzie. ia merogoh mengeluarkan ponselnya lalu membuka fitur tertentu. "Aku tahu, Burhan berusaha memikatku. jadi, aku memanfaatkannya untuk menjebaknya." gadis itu memberikan ponselnya kepada Kenzie. pemuda itu menatapi layar ponsel itu dan terkejut.
"Kamu....." gumam Kenzie.
"Ya, aku memasang alat pelacak ke seragamnya tanpa ia sadari." potong Chiyome sambil tersenyum. "Dia akan membawa kita ke kelompoknya."
Kenzie tersenyum menatapi Chiyome. "Kok kamu cerdas benar, sayang. dapat ide darimana? jangan bilang dari film-film aksi."
"Memang dari film aksi." jawab Chiyome yang tersenyum lebar. Kenzie terkekeh.
"Ayo kita menjejakinya." ajak Kenzie.
"Santai, sayang. nggak usah diburu." kata Chiyome. "Kamu nggak mau mengajakku makan. aku lapar nih.." rengek Chiyome dengan manja.
Kenzie tertawa. "Semua untukmu sayang. tapi jangan pesan pilitode. Kak Ais belum bisa karena lagi dikampus mengikuti kegiatan ospek."
Chiyome menatap Kenzie dengan kecewa. namun pemuda itu tidak hilang akal. "Aku mau mengajakmu ke suatu tempat. insya Allah, kamu akan suka."
Chiyome menatapinya dengan wajah cerah lalu mengangguk cepat. keduanya meninggalkan taman kota, melaju membelah jalanan.
...********...
keduanya turun dari bentor. Trias membayar ongkos perjalanan dan membiarkan bentor itu melaju meninggalkan mereka. keduanya kini berada dihalaman rumah Iyun.
"Masuk dulu.." ajak Iyun.
"Boleh..." jawab Trias.
keduanya melangkah menyusuri halaman kemudian naik ke beranda. Trias duduk dikursi beranda itu sambil mengipasi wajahnya. sedangkan Iyun masuk kedalam untuk bersalin pakaian.
__ADS_1
tak lama ia muncul lagi mengenakan pakaian rumahan, kaus biru tua lengan panjang dengan rok panjang hitam dan sebuah jilbab yang panjangnya selutut warna biru. tak lupa gadis itu juga membawa sebuah pakaian batik yang warna sama dengan warna celana seragam Trias.
Iyun mengangsurkan kemeja itu. "Pakailah... aku nggak mau kamu pakai seragam sekolah hingga orang-orang menganggap kita sedang bolos sekolah."
Trias bangkit meraih kemeja itu lalu masuk keruang tamu sementara Iyun menunggunya duduk diberanda. Trias melepas seragam atasnya dan mengenakan kemeja itu lalu kembali ke beranda dan duduk di seberang. ia tak mau membuat tuan rumah malu dipergoki warga lain sedang asyik bermesraan tanpa orang tuanya.
"Kemarikan seragam kamu. biar kucuci." pinta Iyun.
Trias mengangsurkan kemeja sekolahnya dan langsung diraih Iyun. gadis itu melangkah kedalam agak lama disana dan kemudian keluar lagi sambil membawa sebotol air es dan sebuah gelas tinggi.
"Minumlah... aku tahu kau haus." kata Iyun sambil meletakkan benda itu dimeja. Trias mengambil botol dan membuka tutupnya kemudian menuangkan isinya digelas. ia meminumnya sejenak.
"Makasih..." jawab Trias sambil meletakkan gelas.
Iyun mengangguk lalu menatapi lagi kekasihnya. "Aku minta kamu jujur Tri..."
"Tentang apa?" tanya Trias.
"Apa yang kalian berdua lakukan selama ini? nggak mungkin cuma kongkow-kongkow biasa. terlalu nampak." kata Iyun.
"Menurutmu begitu?" pancing Trias.
"Aku nggak bodoh, Tri." sahut Iyun lagi dengan kesal bercampur penasaran.
lama Trias menimbang-nimbang. Chiyome tahu tentang penyelidikan mereka. apa salahnya jika Iyun tahu? sudah saatnya ia harus jujur. pemuda itu kemudian menatapi kekasihnya, kali ini dengan tatapan serius.
"Kamu bisa pegang rahasia?" tanya Trias membuat Iyun tanpa sadar merinding sendiri hanya karena menantang tatapan serius kekasihnya itu. Trias benar-benar jadi sosok lain jika dalam keadaan serius.
perlahan gadis itu mengangguk-angguk. pemuda itu sejenak menatapi sekitaran. ia kemudian merubah posisi duduk. kali ini ia duduk disamping jilbaber itu. Iyun sendiri dengan deg-degan menanti apa yang akan diungkap oleh oleh pemuda itu. ia menaikkan kedua kakinya disofa rotan yang panjang itu.
Trias menghela napas menghilangkan rasa gugupnya semakin membuat Iyun merasakan sesuatu yang berbeda karena ia tahu, kemungkinan yang dipendam pemuda itu adalah suatu masalah yang besar.
akhirnya Trias kembali memghembuskan napas dengan kasar membuat Iyun cemas. "Tri... jangan buat aku takut dong..." ujar gadis itu dengan suara bergetar.
Trias mengangkat kedua telapak tangannya meminta Iyun tenang. setelah itu pemuda tersebut kembali menatapi kekasihnya.
"Kami sedang melakukan penyelidikan tentang kasus pengedaran narkotika disekolah kita." kata Trias pada akhirnya.
Iyun malah tersenyum. "Kamu jangan bercanda Tri. mana ada pengedar begituan disekolah kita. ada-ada saja deh." namun kembali senyum gadis itu hilang ketika menyadari tatapan Trias tak berubah.
"Ini bukan prank, kan?" tanya Iyun sekali lagi.
"Kau pikir aku suka hal-hal berbau prank?" tanya Trias lagi lebih tajam.
"Oke, oke. lanjutkan ceritamu." pinta Iyun yang tak mau berdebat lagi, takut membuat Trias marah.
Trias menarik napas lagi kemudian melanjutkan kisahnya. "Kamu tau nggak kenapa aku dan Kenzie kebasahan lalu dijemur dilapangan sekolah?" pancing Trias.
"Itu yang paling buat aku penasaran. kamu nggak pernah melakukan tindakan bodoh, terkecuali dihari itu." ungkap Iyun dengan kesal.
"Aku sedang menyadarkan Kenzie yang sakau gara-gara nyoba ngisap sabu-sabu. supaya kamu semua nggak curiga dan nantinya mengancam masa depan anak itu, aku basahi diriku juga. untung Kepala sekolah dan kalian mengira kalau kami bertindak nakal." papar Trias.
Iyun terpana mendengar kebenaran yang keluar dari mulut pemuda itu. ternyata begitu kejadian sebenarnya.
"Siapa yang ngasih narkoba ke Kenzie?" tanya Iyun.
"Burhan." jawab Trias singkat, membuat Iyun menggeram marah.
"Sudah kuduga. dari caranya menatap Chiyome, aku sudah yakin pemuda itu orang yang nggak bener." ujar Iyun sambil meninju telapak tangannya sendiri.
"Makanya kau melihat kami bersama Burhan, itu untuk menjebaknya melakukan transaksi." kata Trias. "Pada waktunya, kami akan melaporkan bukti penyelidikan kami ke pihak kepolisian dan membiarkan mereka yang menyelesaikan sisa pekerjaan kami."
"Chiyome tau juga?" selidik Iyun.
Trias mengangguk. "Tapi dia nggak mau terlibat lebih jauh. dia hanya sekedar memantau saja."
"Tri... aku takut. taruhannya nyawa... bagaimana kalau mereka mengetahui perbuatan kalian? Tri... aku nggak mau kehilangan kamu." kata Iyun dengan lirih dan perlahan mulai menangis.
Trias hanya diam dan tak ada yang bisa dilakukannya kecuali mendekatkan diri dan perlahan memeluk Iyun.
untung Oom Murad belum pulang. bisa dibunuh aku kalau ketahuan peluk-peluk anaknya begini rupa....
"Tenanglah.... kamu berdoa saja supaya segalanya aman terkendali..." kata Trias berusaha menenangkan Iyun yang menangis.
"Aku nggak mau jadi janda, Tri..." ujar Iyun dengan polos ditengah sedu sedannya.
Trias tertawa mendengar ungkapan kekasihnya itu. "Benar nih?" goda Trias sambil melepas pelukannya.
"Jadi...kau nggak mau nikah sama aku?" tanya Iyun dengan sikap merajuk.
"Tentu mau sayang..." jawab Trias langsung maju mencium bibir Iyun. ia mengecup dan mengulumnya dengan lembut membuat Iyun terbuai dan menikmati permainan itu. keduanya larut dalam percakapan spiritual tanpa kata itu hingga....
__ADS_1
ASTAGHFIRULLAHAL ADZHIIIIM...!!!! []