Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 153


__ADS_3

"Kisah yang nggak logis." komentar Adnan.


"Kenapa nggak logis?" tantang Kenzie.


"Dari sekian pemuda yang memiliki pot penuh tanaman yang segar dan indah, raja justru melantik pemuda dengan pot kosong melompong menjadi pewaris kekuasaannya." ujar Adnan Fauzi.


Kenzie tertawa. "Kuncinya ada pada biji yang diberikan oleh raja kepada setiap pemuda."


"Biji?" tanya Adnan dengan lirih.


"Iya... ternyata biji yang diserahkan olah raja kepada setiap pemuda itu adalah biji yang telah dimasak. ya pastilah bijinya sudah mati, nggak bisa tumbuh lagi." jawab Adnan terkekeh.


"Berarti?" tebak Adnan Fauzi.


"Ya! pemuda-pemuda itu semuanya melakukan kecurangan, terkecuali pemuda yang memiliki pot yang gersang." jawab Kenzie.


"Hikmahnya?" pancing Adnan Fauzi.


"Sebelum memberikan jabatan kepada seseorang, kita harus mengetes sejauhmana tingkat kredibilitas orang yang hendak kita tunjuk itu. saat ini kau pasti telah mendelegasikan tugasmu pada seseorang yang kau percaya. pertanyaannya, apakah ia patut dipercaya?" pancing Kenzie.


"Aku mempercayai orang-orangku." tandas Adnan.


"Bagus." puji Kenzie. "Semoga saja kau tak salah menempatkan kepercayaan pada mereka."


"Aku sudah menguji kesetiaan mereka terhadapku." tambah Adnan.


"Bagus.." puji Kenzie sekali lagi.


"Apakah kau melakukan hal yang sama dengan karyawanmu?" balas Adnan.


"Aku pernah kecolongan dua kali. seorang karyawanku ternyata adalah pengkhianat yang bekerja sama dengan musuh besarku. dia memasang sebuah malware yang mengacaukan neraca keuangan perusahaan. beruntung pihak ketiga mengetahui dan memberitahukannya. karyawan itu pula yang berhasil menculik dan menyekapku. untungbya aku diselamatkan." tutur Kenzie.


"Untuk apa kau kisahkan kelemahanmu itu?" tanya Adnan.


"Sebagai ibrah bagimu untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apapun dan sebagai motivasi aku untuk mewaspadai setiap apapun yang berlangsung dalam peristiwa ekonomi yang berada dalam perusahaan." jawab Kenzie dengan senyum.


Adnan mengangguk-angguk. "Akan kujadikan sebagai pelajaran." lelaki itu kemudian melirik arloji pada pergelangan tangannya. "Kelihatannya waktu cepat berlalu saat kita sibuk mendiskusikan kisahmu."


Kenzie ikut-ikutan melihat arloji. "Ah, kau benar." ia menatap Adnan. "Sebaiknya kita kembali saja ke hotel."


Kenzie bangkit dan melangkah pergi diikuti oleh Adnan. keduanya meninggalkan bangunan ibadah itu. waktu telah menunjukkan pukul 02.40 siang.


...*******...


Hotel Trans Luxury, Bandung. pukul 19.50. WIB.


Kenzie baru saja selesai mandi dan memakai piyama handuk membersihkan dirinya. sejenak muncul dipikirannya untuk menghubungi Chiyome. lelaki itu meraih gawai di nakas lalu melangkah ke sofa. ia kemudian memencet tombol panggilan dan menelpon Chiyome.


terdengar suara panggilan dan suara Chiyome terdengar.


📱"Assalamualaikum... Hubby?" sapa Chiyome.


📱"Wa alaikum salam, Hai Wiffy... kangen nih." balas Kenzie. "Kenapa ya, kok selalu ingat Wiffy terus... kayaknya Hubby di mantrain nih."


terdengar suara tawa diseberang.


📱"Masa sih.... perasaan Wiffy nggak ngapa-ngapain deh." jawab Chiyome.


📱"Tunggu, tunggu... kok kayaknya berisik sekali. Wiffy dimana sih posisinya? ribut kayak banyak kendaraan lewat." ujar Kenzie kemudian melangkah menuju jendela dan menyibak tirai menatap suasana malam kota Bandung.


📱"Wiffy ada dipusat perbelanjaan di Kampung Cina. lagi disuruh Kak Ais beli keperluannya." jawab Chiyome dengan enteng.


📱"Saburo gimana keadaannya?" tanya Kenzie.


📱"Seperti biasanya.... mulai menyebalkan." jawab Chiyome kemudian tertawa. Kenzie ikutan tertawa.


📱"Ya sudah, yang penting kalian berdua baik-baik saja, Hubby nggak perlu kuatir." ujar Kenzie, "Oh ya, nanti kalau pulang, Hubby bawain apa untuk Wiffy?"


📱"Jaga diri baik-baik saja, Hubby." jawab Chiyome dengan lembut.


📱"Oke deh... daagh Wiffy... Assalamualaikum.." ujar Kenzie kemudian menutup pembicaraan seluler.


tanpa disadari Kenzie, diluaran seseorang berpakaian serba hitam dan mengenakan topi menatap ke arah kamar tempat Kenzie beristirahat. mata orang itu memicing sejenak lalu ia melangkah dengan tenang memasuki gedung Trans Luxury tersebut.


...*******...


seharian ini dijalani Kenzie dengan biasa-biasa saja, mungkin lebih menjurus ke membosankan. Ketua umum Kamar Dagang dan Industri bersama ketua-ketua cabang sepropinsi berkumpul membahas tentang langkah strategi ekonomi indonesia ke depan.


Ketua Umum KADIN sendiri memberikan kebebasan bagi ketua-ketua cabang propinsi untuk berdiskusi dengan para pengusaha se-daerahnya.


Muhalim Litty mengumpulkan 15 pengusaha asal Gorontalo, termasuk Kenzie. pimpinan cabang itu menguraikan beberapa tahapan yang akan dilakukannya untuk mendorong laju ekonomi Gorontalo agar tidak tertinggal lagi dengan propinsi-propinsi lain.

__ADS_1


"Kita akan membahas kembali langkah-langkah kita bersama Gubernur Gorontalo. saya akan segera melaksanakan rapat pleno untuk merinci segala rencana yang kita buat." ujar pimpinan KADIN Gorontalo itu.


semua pengusaha dalam lingkupan itu mengangguk paham. Kenzie hanya tersenyum datar saja. ia sebenarnya agak kecewa dengan langkah tersebut. jika memang dijabarkan nanti bersama dengan Gubernur Gorontalo, buat apa lelah-lelah menghadiri pertemuan pengusaha semacam ini? buang-buang waktu saja.


pertemuan selesai pada pukul 16.00 WIB. semua enterpreneur yang mengikuti pertemuan bubar. sebagian yang berdomisili di jawa, memutuskan untuk langsung kembali. sedangkan sebagian yang berdomisili diluar jawa memutuskan untuk bermalam dan akan check out keesokan harinya.


Kenzie baru saja melangkah keluar auditorium ketika Kevin Williams datang menghampiri dirinya. "Apa kau akan langsung bertolak?"


"Nggak, aku hendak membelikan sesuatu untuk istriku." jawab Kenzie seadanya.


"Kalau begitu, kita lakukan sekarang. aku juga hendak membelikan sesuatu untuk Fira." timpal Kevin pula.


Kenzie hanya tersenyum menanggapi tawaran Kevin. lelaki Padang keturunan Inggris itu menyambung. "Kita ketemuan dilobi ba'da maghrib ya." setelah mengucap itu, Kevin menepuk pundak Kenzie lalu berlalu dengan langkah santai nan riang.


Kenzie kembali tersenyum dan hendak melangkah. namun langkahnya kembali tertahan. Kenzie menegakkan tubuh dan langsung menoleh kebelakang. ia mengedarkan pandangan kesana-kemari dengan tatapan tajam namun menyamarkannya. mata lelaki itu memicing sejenak lalu menghela napas kembali dan Kenzie berbalik melangkah meninggalkan tempat itu.


"Hadeehhh.... mungkin aku terlalu lelah dan merindukan istriku... dasar wanita beracun... nggak bisa dibiarkan nih... bikin aku selalu konak saja..." gumamnya sambil tersenyum.


sepeninggal Kenzie, seseorang berpakaian serba hitam dan bertopi itu muncul dan menatapi punggung Kenzie yang menjauh. senyuman muncul dibibir orang itu dan ia berbalik meninggalkan tempat tersebut.


...*******...


Kevin duduk santai sambil sesekali menatapi pengunjung yang berseliweran. sebagian pengunjung hotel, wanita, menatap Kevin dan melontarkan senyum penuh arti. Kevin juga hanya tersenyum dan nakalnya, ada sebagian dari mereka yang mengacungkan jari kelingking dan jempol ke arah Kevin dan mendekatkannya ke telinga.


Call me.....


Kevin kembali hanya memberikan senyum menanggapi tindakan nakal itu. sekali lagi ia melirik arlojinya. wah ini sudah jam setengah tujuh... lagi ngapain lagi lelaki itu???


sementara di kamarnya Kenzie sedang duduk di Sofa membaca aplikasi saham, menyimak dinamika saham-saham perusahaan yang sementara berada dilevel yang signifikan. tak lama terdengar ketukan.


Kenzie bangkit, melangkah menuju pintu lalu membukanya. seorang wanita mengenakan seragam pelayan. rambutnya disanggul rapi. ia mendorong


"Layanan kamar, tuan." sahut wanita itu.


Kenzie mengangguk dan menyingkir membiarkan wanita itu masuk. Kenzie kembali duduk disofa dan membaca setiap daftar saham yang terkoreksi. sementara wanita itu melaksanakan tugas, terdengar suara deringan telepon. Kenzie menatap pesawat telpon yang terdapat dinakas. tangannya meraih gagang telpon itu dan mendekatkannya ditelinga.


📞" Ya Hallo?" jawab Kenzie.


📞 "Dengan Pak Kenzie Lasantu dari Buana Asparaga.Tbk?" tanya seorang wanita.


📞 "Ya, saya sendiri..." jawab Kenzie mengerutkan alisnya.


📞 "Oh ya... terima kasih. saya segera kesana." jawab Kenzie.


ia bangkit dari sofa dan menyimpan tabletnya. Kenzie menatap wanita itu. "Maaf, saya harus segera pergi. jika anda tak keberatan... "


pelayan wanita itu mengangguk. "Silahkan pak. saya sedikit lagi menyelesaikan tugas saja."


Kenzie menatap sejenak lalu mengangguk. "Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu." setelah itu Kenzie melangkah meninggalkan kamar. sepeninggal Kenzie, wanita pelayan itu mengembangkan senyumnya yang ganjil.


...******...


Kevin yang mengenakan pakaian santai agak terpukau melihat Kenzie yang muncul mengenakan kaos hitam dan jaket kulit hitam serta celana panjang merah dengan sepatu lars pendek. penampilannya mengingatkan Kevin pada gaya punker.


"Sudah lama menunggu?" tanya Kenzie.


"Lama juga. kita pergi sekarang?" tanya balik Kevin sambil mengembangkan tangan.


Kenzie tersenyum, "Boleh.." jawabnya.


keduanya melangkah meninggalkan lobi. dan pasangan lelaki itu kembali menjadi pusat perhatian ketika mereka menyusuri perbelanjaan Mall Trans. Kevin hanya tersenyum narsis ketika beberapa pengunjung terutama wanita melihat Ke arah mereka berdua.


"Kelihatannya kita menjadi pusat perhatian." bisik Kevin tanpa menatap Kenzie.


Kenzie mengedarkan pandangannya melihat kaum hawa menatap kearahnya dengan senyum yang menggoda. Kenzie mendesah.


"Aku kuatir tatapan mereka justru mengindikasikan bahwa kita adalah pasangan homo." ujar Kenzie.


"Sialan kau! hei, bersenang-senanglah sedikit." sindir Kevin, "Kita baru saja menyelesaikan kegiatan yang menguras kinerja otak kita. marilah santai, sekalian cuci mata."


"Kamu nggak takut kalau istrimu memata-mataimu? apakah kau tak berpikir bahwa dari sekian banyak pengunjung disini, ada yang merupakan informan sewaan istrimu?" ujar Kenzie.


"Ah, kau terlalu paranoid. mana ada kisah seorang istri semacam itu? atau kau memang takut dengan istrimu?" goda Kevin lagi.


"Aku nggak sepertimu yang liar ketika lepas dari genggaman istri. Pak Kevin, apa kau mengajakku hanya untuk membicarakan itu?" ujar Kenzie.


Kevin tertawa, "Baiklah, aku tak akan menggodamu lagi. kau memang nggak bisa diajak bercanda."


"Bukan seperti itu. anda salah paham lagi. kita kesini kan hendak membeli sesuatu untuk istri kita, kan?" ujar Kenzie.


Kevin mengangkat tangan lalu menunjuk toko perhiasan. "Kau tahu kawan? hati wanita itu adalah permata." ujar Kevin, "Ayo..." ajaknya.

__ADS_1


kedua lelaki itu melangkah menuju toko perhiasan yang dimaksud. mereka melihat-lihat jenis perhiasan yang dipajang di etalase tersebut.


Kevin antusias menanyakan harga dan memesan sebagian besar perhiasan itu. Kenzie terkekeh.


"Apakah kamu hendak menjadikan Nyonya Fira aksesoris berjalan? yang ada orang-orang bukan terkagum-kagum melihat penampilannya nanti, tapi malah silau karena yerlalu banyak permata yang bertengger ditubuhnya." sindir Kenzie.


"Bung, aku memang berniat untuk menjadikan wanitaku seorang bidadari. jadi permata-permata ini bukan apa-apa jika menempel ditubuh istriku." kilah Kevin. lelaki itu menatapi Kenzie. "Kau akan memilih apa?"


Kenzie mengamati semua permata yang terpajang dietalase. sebuah permata membuatnya terkesima. pria itu menunjuk.


"Tolong, aku mau melihat kalung itu." ujar Kenzie.


pelayan itu membuka etalase dan mengeluarkan kalung yang diminta Kenzie. lelaki itu menatap kalung tersebut dengan senyum.


Kevin menatap kalung itu. ia nyeletuk, "Hei, ini mirip dengan Jantung Samudera milik Raja Louis XVI... itu tuh, kalung yang pernah dihadiahkan Cakedon Hockley kepada Rose de Witt Bukater saat mereka melancong ke Amerika menumpangi Titanic."


Kenzie tersenyum dan mengangguk. ia menatap pelayan otu. "Aku pilih kalung ini. bungkuskan untukku." ujarnya. pelayan itu mengangguk dan melaksanakan apa yang diminta eksekutif muda tersebut.


keduanya membayar menggunakan kartu kredit. setelah itu keduanya melangkah meninggalkan tempat tersebut. karena jarak pusat perbelanjaan dengan hotel berada disatu kawasan, keduanya memilih berjalan kaki pulang sebagaimana mereka datang ke pusat perbelanjaan itu sebelumnya.


"Ah, Fira pasti akan senang melihat permata-permata ini." ujar Kevin dengan senyum puas.


"Sebaliknya, aku bisa bilang dia akan berpikir, anda akan menjadikannya patung berlian yang berjalan." balas Kenzie.


Kevin tertawa mendengar ucapan Kenzie. namun kegembiraan mereka terhenti ketika sebuah mobil hitam tiba-tiba memotong dan berhenti dihadapan keduanya.


Kenzie langsung waspada dan semakin waspada dia melihat beberapa lelaki bertampang sangar keluar bersenjatakan pentungan, langsung mengurung kedua lelaki itu.


"Hei siapa kalian? mengapa kalian mengepung kami?" hardik Kevin dengan berang. keduanya membentuk pertahanan dengan saling menempelkan punggung masing-masing.


"Siapa mereka ini? apakah musuhmu?" ujar Kevin dengan lirih.


"Aku tak tahu, bisa jadi juga mereka musuhmu." balas Kenzie dengan lirih pula.


"Ucapkan selamat tinggal tuan!" seru salah satu pencegat itu.


bagai dikomando, para pengepung itu langsung merangsek mengeroyok. Kenzie memang sudah siap dari tadi, dia langsung memasang kembangan langga dan menyambuti serangan yang dilangsungkan para pengepung. melihay temannya sudah beraksi, Kevin akhirnya ikut nimbrung menyerang satu-persatu para begal itu. hanya dalam waktu singkat, para pembegal itu ditaklukkan semua.


pimpinan begal itu menggeram dan langsung mencabut pistol Colt 1911 dan mengarahkan moncongnya kehadapan dua orang itu.


"Kalian tak akan bisa lepas dari tembakanku." ujar lelaki itu dengan senyum dingin.


"Kau ini suruhan siapa?" tanya Kevin dengan berang.


"Bertanya sajalah kalian di neraka!" ujarnya seraya membidik Kenzie.


SIUTTT SIUTTT.... JLEB! JLEB! UGH.


sebuah serangan misterius terjadi dan proyektil halus itu menancap ditengkuk lelaki itu. sejenak ia tersentak dan beberapa detik kemudian pistol terlepas dari genggamannya dan tubuh lelaki itu menggelosor ke tanah. ia dalam keadaan tidak sadar.


Kenzie sejenak kaget, namun langsung memahami apa yang menimpa pembegal tersebut. dan ia langsung bisa menduga siapa pelakunya, namun ia merahasiakannya. Kenzie menatap Kevin yang keheranan.


"Mengapa orang itu tiba-tiba pingsan?" seru Kevin.


"Kau larilah ke pos pengamanan... laporkan kita baru saja dibegal." ujar Kenzie.


"Ide bagus...." ujar Kevin langsung berbalik lari menuju pusat perbelanjaan Mall Trans.


sepeninggal Kevin, Kenzie kembali tersenyum dan mengembangkan tangan. "Ayolah Wiffy... keluarlah, sampai kapan mau sembunyi terus?"


tak lama meluncurlah dengan ringan sosok berpakaian hitam. wanita berambut lurus pendek gaya shaggy, dengan kaos turtleneck hitam lengan panjang dan celana zubon lebar hitam. kakinya dibalut sepatu tabi berwarna sama. wanita itu tersenyum lebar memamerkan seringai ginsulnya.


"Hai Hubby..." sapa wanita yang ternyata Chiyome.


Kenzie langsung maju menghambur dan memeluk istrinya dengan erat dan mesra. setelah sekian lama memeluk, ia melepaskannya. "Wiffy jahat ya? sengaja mata-matai Hubby ya? dipikir Hubby selingkuh ya?" goda Kenzie sekaligus menyindir Chiyome.


"Nggak, Wiffy percaya Hubby nggak ngapa-ngapain. cuma beberapa jam sejak Hubby berangkat, hati Wiffy kayak nggak enak. ditambah Saripah kompor-kompori Wiffy lagi. ya, Wiffy susul deh Hubby esoknya." jawab Chiyome dengan polos.


"Lalu Wiffy tinggalnya dimana?" tanya Kenzie membelai rambut shaggy istrinya.


"Di hotel yang sama dengan Hubby, tapi beda lantai, dan Wiffy pake program incognito. makanya Hubby nggak tahu." jawab Chiyome lalu menatap saku celana Kenzie yang menonjol. "Itu apa?" tanya wanita itu.


Kenzie tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kotak hitam dan membukanya. sebuah kalung bermata zirconia biru yang dihiasi platina dipinggirannya dikeluarkannya dan kemudian dikalungkan dileher Chiyome.


"Untuk istriku tercinta... ku persembahkan... La Coeur de la Mer..." ujar Kenzie dengan pelan dan mesra.


Kening Chiyome terangkat dan bibirnya tersungging senyuman. "Indahnya... makasih Hubby..." ujarnya kemudian maju mencium Kenzie. setelah itu ia menatap suaminya. "Hubby menyebut apa, nama kalung itu?" tanya wanita bermata sipit itu dengan mesra.


"Jantung samudera..." jawab Kenzie dengan senyum.


"Ah, tapi aku lebih suka menyebutnya.... Lazuardi Cinta..." timpal Chiyome dengan tatapan penuh kerinduan yang dibalut senyum seringai ginsul yang menawan. []

__ADS_1


__ADS_2