Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 14


__ADS_3

Adnan menggenggam sebuah buku rekening yang dia daftarkan atas nama Aisyah. dengan senyum ia melangkah menyusuri ruangan dan masuk ke kamarnya. disana, Mariana sudah menunggunya duduk ditepi ranjang hanya mengenakan lingerie semi transparan. Adnan tersenyum dan membuka bajunya dan membuangnya ke tepi ranjang.


"Sudah lama kau menungguku?" tanya Adnan dengan mesra.


"Bahkan membuat rinduku membuncah." desah Mariana.


Adnan tetap tersenyum. kali ini ia melolosi semua meninggalkan cawat yang membungkus bagian segitiga pribadinya. tubuhnya yang masih kekar meskipun berada diambang usia 45 tahun masih terlihat begitu mempesona.


keduanya naik ke ranjang dan menyelusup dalam selimut. Adnan mencium istrinya dengan penuh gairah. meskipun Mariana sudah mencapai usia 39 tahun, namun tubuhnya begitu terpelihara dengan berbagai ramuan tradisional leluhurnya.


tubuh istrinya yang menggairahkan menerbitkan birahi dalam dirinya. perlahan namun pasti, ciuman-ciuman berubah menjadi cumbuan demi cumbuan yang mengompori nafsu lelaki itu yang semakin intim membangkitkan birahi istrinya.


dengan sekali hentakan, pilar keperkasaan milik Adnan telah menjebol liang garba Mariana dan keduanya memulai ritme penyatuan mereka bagai simfoni lagu yang menyatu antara hantaman bas, petikan dawai gitar dan dentingan tuts piano menghasilkan erangan dan lenguhan ketika mereka berhasil memanjati bukit nafsu mencapai puncak pemuasan hasrat yang alami dari insting purba makhluk hidup.


masih dalam posisi bertindihan, kali ini, Mariana berada diatas tubuh kekar suaminya. ia membelai dada bidang lelaki itu.


"Bagaimana dengan anak perempuan kita sayang?" bisik Adnan.


"Kecapekan. langsung tidur setelah tiba dari kampus. katanya ada persiapan masa orientasi mahasiswa baru." jawab Mariana disela nafasnya yang memburu.


keduanya menenangkan diri bersama-sama. Mariana merebahkan kepalanya didada suaminya.


"Aku tadi membersihkan kamar Aisyah. aku menemukan sebuah buku rekening berisi sejumlah uang dengan nominal diatas 20 jutaan. aku nggak tahu, darimana ia mendapatkan uang itu. bisa kau tanyakan ya?" pinta Mariana.


"Tentu saja. tapi kenapa kau masuk ke kamarnya dan mengutak-atik barangnya? itu nggak baik sayang." tegur Adnan sambil membelai rambut Mariana.


"Aku jadi curiga." desah Mariana, "Semoga cuma perasaan jelekku saja."


"Nanti ku tanyakan pada Hasnia. darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu." kata Adnan menenangkan hati istrinya. Adnan kemudian menghembuskan napas.


"Aku memikirkan masa depan Kenzie. " ujar Adnan dengan suara pelan.


"Kenapa dengan Kenzie? dia masih sekolah sayang, masih 1 tahun lagi. jangan dulu ganggu masa indahnya."


"Entah setelah ini, dia hendak melanjutkan kemana? itu yang nggak jelas." ujar Adnan.


"Tanyakan langsung padanya." kata Mariana. "Tapi kayaknya dia belum akan menjawabnya. anak muda jaman sekarang belum mau diikat oleh apapun. mereka masih ingin menenggelamkan diri kedalam kesenangan masa muda."


"Aku ingin ia menggantikanku sebagai pimpinan perusahaan." kata Adnan.


"Bicaralah padanya baik-baik. jangan memaksakan keinginan." pesan Mariana.


"Kau memang istri yang bisa kuandalkan." puji Adnan kembali menindih Mariana dan mencumbuinya. mereka melakukan kembali permainan birahinya.


...********...


Chiyome baru saja tiba ketika ponselnya bergetar. gadis itu melangkah menuju kamarnya dan mengeluarkan ponsel dari saku roknya. aplikasi whatsappnya berbunyi dan Chiyome membukanya. disana ada potret wanita muda berusia 20 tahun mengenakan jilbab syar'i warna hijau toska. dibawah potret itu tertulis caption : cari tahu kehidupan perempuan ini. ketika kamu menemukannya, awasi dan jagalah dia.


Chiyome menatapi potret gadis berjilbab syar'i itu agak lama agar bisa mengenalinya ketika menemukan wanita itu nanti. akhirnya Chiyome merebahkan dirinya tanpa menanggalkan seragamnya. ia terlelap sejenak. bunyi deringan ponsel kembali mengembalikan kesadarannya. gadis itu menekan layar sentuhnya dan mendekatkan gadget itu ke telinganya.


📲 "Halo?" sapa Chiyome dengan suara serak karena melawan kantuk.


📲 "Hai, ini aku, Iechika. " seru suara disana dalam bahasa jepang.


📲 "Kenapa menghubungiku?" tanya Chiyome tanpa basa-basi dalam bahasa yang sama. gadis itu bangkit dan duduk ditepi ranjang.


📲 "Selama kau disana, ada beberapa kejadian penting yang menyeret nama keluarga kita." jawab Iechika.


📲 "Terus?" pancing Chiyome.


📲 "Anak cabang Yamaguchi dibawah pimpinan Paman Masakado menyerang wilayah kekuasaan Kakek. diruang pertemuan Cabang Kanto, terjadi perdebatan sengit antara paman Masakado dengan Kakek. Paman Masakado menyangkal serangan yang terjadi di Shibuya, bukan dia yang memulainya dan balik menuduh pihak lain yang sengaja memancing di air keruh untuk menggoyah keluarga Genkuro dengan Heita." tutur Iechika.


Chiyome menarik napas sejenak.


📲 "Bagaimana dengan ayah?" tanya Chiyome.


📲 "Ayah nggak bereaksi apapun di sidang dewan. justru yang reaktif adalah paman Yoshikane dan paman Sadamori yang balik menuduh paman Masakado membunuh paman Kunika bersamaan dengan insiden penyerangan itu." jawab Iechika.


📲 "Teruskan." pinta Chiyome.


📲 "Setelah perdebatan itu, Kakek memerintahkan Ayah melakukan serangan balasan. paman Masakado menyingkir ke utara."


lama tak terdengar suara. akhirmya Iechika memulai lagi pembicaraannya.


📲 "Bagaimana keadaan mu disana? apakah cuaca disana panas?" tanya Iechika.

__ADS_1


📲 "Ya, kau takkan sanggup mengenakan yukata tipismu itu disini." jawab Chiyome sambil meloloskan seragamnya membiarkan tanktop hitam menyelimuti tubuh bagian atasnya. "Aku minta tolong padamu."


📲 "Katakan saja."


📲 "Jaga ibu baik-baik. dalam suasana yang tidak kondusif seperti itu, bukan tak mungkin lawan-lawan ayah akan melakukan serangan balasan. jangan lupa hubungi kak Koreyuki, kak Yasuyori dan Kak Yasunori untuk memastikan keselamatan ibu." pesan Chiyome.


📲 "Sesuai perintahmu." jawab Iechika.


Chiyome memutuskan sambungan seluler lalu melempar gadget itu ke kasur. rasa kantuk hilang berganti rasa pegal yang menggelayuti tubuhnya yang lelah. gadis itu mengambil handuk dan menuju kamar mandi.


rumah sewaannya termasuk rumah mewah yang dikontrakkan setahun dam segala administrasi telah dipenuhi. sendirian ia tinggal dirumah itu menikmati fasilitas rumah yang lux.


Chiyome mengisi bathup dan ia menanggalkan pakaiannya kemudian berendam untuk melunturkan kotoran yang menyelimuti tubuhnya. dalam kenyamanan itu, Chiyome justru terlelap.


...*******...


Adzan ashar membangunkan Aisyah dari tidur siangnya. gadis itu bangun dengan malas. untuk mengusir rasa malas, ia mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi.


ruangan itu terasa lengang ketika ia membukanya. Aisyah membuka pakaiannya lalu memutar keran hingga air meluncur bagai rintik hujan dari shower. gadis itu menyabuni tubuhnya dan membiarkan air dari shower membilas tubuhnya.


Selesai mandi dan berpakaian, Aisyah keluar dan menuju sofa ruang tengah tepat dimana Adnan dan Mariana juga duduk disana.


"Duduk nak. Papa mau bicara." kata Adnan.


Aisyah duduk dan Adnan memperlihatkan sebuah buku rekening dan meletakkannya di meja.


"Itu milikmu. " kata Adnan.


Aisyah mengambil buku rekening itu dan membukanya. Adnan kemudian menjelaskan, "Setiap minggu, seperti Kenzie, Papa akan mentransfer jatah belanjamu ke buku ini."


"Saya nggak mau merepotkan Papa dan Mama." kata Aisyah sambil meletakkan buku itu di meja.


"Itu kan hakmu, sayang." sahut Mariana.


"Saya masih punya tabungan, Ma. biarlah Kenzie yang menerima itu. saya nggak mau merepotkan Papa dan Mama." balas Aisyah lagi.


"Lalu darimana uang belanjamu sayang? biaya kuliah kan banyak." kata Mariana.


"Mama saya terus mengirimkan uang untuk saya." jawab Aisyah sambil menunduk dan mempermainkan ujung jilbabnya.


kalimat yang keluar dari bibir gadis itu mendiamkan Mariana yang kemudian menatapi Adnan. lelaki itu menghela napas.


"Saya tidak tahu, bahkan bibi juga tidak tahu. dia sesekali menghubungi bibi melalui saluran jarak jauh." jawab Aisyah masih menunduk.


sesaat suasana menjadi canggung. akhirnya Mariana bertepuk tangan sekali. "Ya sudah, yang penting kamu masih sanggup membiayai kuliahmu. nggak apa-apa." kata wanita itu, "Yang diinginkan Papa adalah, jika kamu butuh sesuatu jangan segan meminta."


wanita itu mencondongkan tubuhnya dan mencubit dagu Aisyah dengan lembut. "Jangan lupa, aku juga Mamamu."


Aisyah mengangguk, berusaha menahan air mata yang mau membanjir keluar. Mariana paham, ia maju memeluk putri sambungnya.


"Mama nggak cemburu. kamu nggak usah takut." kata Mariana sambil mengangkat wajah Aisyah, menyisakan bekas-bekas air mata yang sempat mengalir. Mariana menghapus bekas-bekas itu lalu mencium dahi Aisyah, lalu melepaskan pelukannya.


"Terima kasih Mama..." ucap Aisyah dengan serak.


Adnan sendiri merasa lehernya tercekat langsung memalingkan wajahnya kearah lain, mengusir air mata yang hendak jatuh.


Aisyah kemudian bangkit. "Mama, Papa. saya mohon ijin ke masjid. ada kajian disana dari ba'da ashar sampai menjelang Isya."


"Silahkan nak. penuhi kebutuhan rohanimu." jawab Mariana.


Aisyah kembali masuk ke kamar. Mariana menatapi Adnan. "Setidaknya, kita berdua sudah tahu darimana sumber pendapatan anak itu." wanita itu membelai lengan suami nya. "Jangan kuatir. aku nggak cemburu."


"Terima kasih. kau sudah bersikap bijaksana." puji Adnan sambil menggenggam tangan yang membelai lengannya.


"Aku justru memuji sifatnya yang tak mau merepotkan kita." kata Mariana lalu mendesah. "Andai anak itu lahir dari rahimku."


Adnan membelai pundak Mariana. "Dia adalah putri kita." kata lelaki itu.


tak lama kemudian, Aisyah muncul mengenakan gamis dan jilbab syar'i.


"Aisyah berangkat dulu Pa, Ma..." kata Aisyah.


"Papa antar?" tanya Adnan.


"Nggak ah Pa...nanti Aisyah dibilang anak manja." tolak Aisyah sambil tertawa.

__ADS_1


Aisyah meninggalkan kedua orang tuanya. ketika melintasi halaman, ia melihat Kenzie tiba dengan motornya. pemuda itu melepaskan helm.


"Kakak mau kemana?" tanya Kenzie.


"Ada kajian di masjid. kakak mau kesana." jawab Aisyah.


Kenzie mengangguk-angguk lalu memarkir motornya. pemuda itu masuk kedalam rumah, menyapa orang tuanya dan masuk ke kamarnya.


dalam kamar, Kenzie langsung menghempaskan diri. perlahan nan pasti sebentuk wajah Chiyome muncul dalam benaknya. pikirannya bermain-main dalam khayalan.


"Weh, kenapa aku malah memikirkan perempuan itu?" gumam Kenzie sambil memperbaiki letak guling dan memeluknya.


...*******...


maghrib itu Iyun sedang menyibukkan diri mengiris ban karet dengan sebilah golok. namun konsentrasinya bukan bertumpu pada pekerjaannya saat ini, melainkan memikirkan gadis asing yang kini akrab dengan Trias. gadis itu sekelas dengannya. entah dari cina atau korea, ia malas mencari tahu. perasaan cemburunya terbit melihat betapa akrabnya gadis itu mengintimi kedua pemuda tersebut terutama Trias.


adtaghfirullah hal adhziiimmm... ada apa dengan diriku ini?


dihasut oleh rasa cemburu, Iyun mengiris ban karet dengan menghentak-hentak. namun ternyata ban karet itu alot hingga dengan kesal Iyun mengayunkan golok itu kearah ban karet tersebut. tentu saja ban yang kenyal itu memantulkan kembali golok itu dan hampir mengenai wajah Iyun. untung saja gadis itu langsung mengelak.


kemarahannya membuncah. diambilnya palu besar dan dipukulnya serta ditamparnya golok itu hingga patah-patah. napas gadis itu tersengal-sengal. dengan jengkel Iyun melempar palu tersebut.


"Golok itu nggak punya salah. kenapa dihancurkan gara-gara gagal memotong ban?" tegur suara dibelakangnya.


Iyun menoleh, "Bukan urusanmu!" jawab Iyun dengan ketus.


Trias tersenyum, "Boleh kubantu?"


Iyun hanya membisu. akhirnya Trias berinisiatif mengambil belahan golok dan mengiris ban karet itu dengan lembut hingga akhirnya terbelah.


belahan itu diambil dan diserahkan kepada Iyun. gadis itu merenggut benda itu dengan kasar dan membuangnya kemudian bangkit meninggalkan Trias.


Trias membuang belahan golok itu dan melangkah menyusul Iyun. dengan tangkas diraihnya pergelangan tangan gadis itu. mulanya Iyun hendak meronta. namun genggaman kuat pemuda itu menghilangkan kekuatan si gadis untuk melepaskan diri.


"Ada apa?" tanya Trias dengan lembut.


Iyun menatapinya dengan tatapan sengit kemudian hendak berlalu. namun langkahnya tertahan lagi karena pergelangan tangannya masih digenggam Trias.


"Kalau kau nggak bilang, aku mana tahu apa yang terjadi?"


Iyun menarik napas yang panjang, menenangkan hatinya yang gemuruh dicambuk cemburu. kemudian gadis itu menatap Trias.


"Siapa gadis itu?" tanya Iyun.


"Anak baru?" tebak Trias namun Iyun hanya membisu.


"Namanya Chiyome Mochizuki. dia siswa program pertukaran pelajar." jawab Trias sekenanya.


"Dan karena sia, kau hendak menyingkirkanku?!" todong Iyun dengan tatapan membara.


sejenak Trias kaget, namun sedetik kemudian ia tertawa membuat hati Iyun tambah gahar.


"Mana bisa aku menyingkirkanmu. perempuan itu nggak ada apa-apanya." jawab Trias sambil mengembangkan tangannya. "Apa aku salah mengakrabi teman sekelasku? dia itu hanya teman sekelas. nggak lebih. swear.."


Iyun masih tetap membisu. Trias akhirnya menghela napas. "Setidaknya persilahkan aku masuk lalu sambut sebagaimana biasanya."


"Tak sudi." jawab Iyun dengan ketus.


"Cemburumu itu jangan terlalu. nanti kamu menyesal sendiri. ingat sabda Nabi muhammad SAW: tempatkan segala sesuatu pada tempatnya. marahlah musuhmu sekedarnya, dan cintai kekasihmu sekedarnya. "


"Pake-pake hadis nabi lagi. sok suci." cela Iyun lagi.


Trias tertawa. "Kemarahanmu kepadaku, aku terima. tapi tuduhanmu kepadaku, Demi Allah, aku tidak terima!" ujar pemuda itu dengan tegas.


Iyun menatapnya dengan tajam, membuat Trias jadi uring-uringan.


"Kalau kau nggak percaya, aku akan buktikan!" ujarnya langsung menyeret Iyun memasuki rumah.


"Mau kemana kau?!" bentak Iyun sesekali meronta.


"Hari ini aku mau bilang sama calon mertuaku kalau aku akan melamarmu dan hendak berhenti dari sekolah untuk menikahimu, meskipun secara siri." ungkap Trias dengan kesal.


Iyun langsung menarik tangannya dan memegang tangan Trias. dengan segera pemuda itu berbalik dan memeluk gadis itu. Iyun menunduk dan tersipu malu.


"Kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?" tanya Iyun dengan manja.

__ADS_1


"Mau bukti lagi?! kita ke KUA, sekarang!!" ajak Trias semakin uring-uringan.


gadis itu menggeleng pelan. "Aku percaya." []


__ADS_2