Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 176


__ADS_3

Chiyome terasa berat menceritakan. namun itu sebuah kewajiban. wanita itu menghela napas dan mulai berkisah. "Aku nggak nyangka kalau hari itu adalah hari terakhir kami melihat mereka. seperti biasa, Kak Ais dan Kak Bakri mengantar Saburo ke sekolah." ujar Chiyome menyebut nama putranya dengan nama jepang supaya Kameie paham. "Setelah itu, kabar tentang mereka tak lagi kami ketahui. belakangan Saburo cerita kalau Kak Bakri saat itu entah banyak berwasiat padanya. ditambah Kak Ais katanya memeluknya begitu erat... Saburo berpikir mungkin ia ada kesalahan yang tak disengaja sehingga membuat uminya memeluk dan menangis. namun Kak Ais menampik dan hanya terus memeluk sambil menangis."


Chiyome menghentikan ceritanya sejenak dan menarik napas panjang. Kameie menatapnya dengan gaya duduk mirip seorang jenderal samurai yang sedang memimpin gelaran perang.


"Saburo memanggil mereka berdua dengan sebutan apa tadi?" tanya Kameie.


"Umi dan Abi... itu panggilan dalam bahasa Arab yang berarti ibuku dan ayahku... memang Kak Ais dan Kak Bakri sangat menyayangi Saburo sehingga Saburo menyebut mereka dengan panggilan itu." jawab Chiyome.


Fitri kembali menangis. tak lama Mariana muncul dan begitu ia melihat Fitri, wanita itu histeris dan berlari ke halaman dan menghambur memeluk Fitri.


"Maafkan aku... maafkan aku..." sedu Mariana. "Aku ibu yang nggak berguna! anak kita mati... aku tak mampu menjaganya... ooohhh... Fitri... maafkan aku... kau boleh bunuh aku! bunuh aku, Fitri... aku memang orang tua tak berguna!" wanita itu meratap dan Fitri semakin mempererat pelukannya. kedua wanita itu bertangisan dan sama-sama meratap.


Kameie menunduk dan memejamkan mata, membiarkan dua tetes air mata itu keluar membanjiri pipinya. tapi, ia tak boleh menangis. sebagai lelaki, itu adalah tantangan. setelah otu ia menengadah dan menghapus kedua jejak air mata yang mengalir dan menatap Chiyome yang terlarut suasana hingga kembali menangis sesenggukan. Kenzie menyapu pundak istrinya dan memberikan penguatan moril.


Kameie menarik napas panjang lalu menatap Chiyome. "Teruskan..." pintanya.


namun, kali ini, Adnan yang bicara. "Aku mendapat firasat tak enak ketika Kenzie menelponku, menanyakan keberadaan Aisyah disini. aku bilang, Ais belum kesini dan suara Kenzie terdengar gugup. aku curiga dan kami memutuskan ke Kediaman Lasantu, mengorek keterangan dari Kenzie. ternyata disana ada Trias juga. aku mendesak Kenzie menceritakan semuanya. dan barulah aku tahu, anak dan menantuku itu sehari ini tak nampak kabar. aku semakin gelisah ketika cucuku Sandiaga terbangun dan menangis. ia mimpi bahwa Bakri diikat pada tiang dan Ais sementara disiksa oleh seseorang tak dikenal..."


"Tunggu," sela Kameie. "Siapa Sandiaga?"


"Saburo..." ujar Adnan. "Maksudku, Saburo bermimpi buruk tentang mereka. maka aku meminta Chiyome menjagai istriku dan Sandiaga. lalu aku, Kenzie dan Trias bergegas melacak keberadaan Ais dan Bakri."


"Dimana dia ditemukan?" tanya Kameie.


"Digudang tua dikawasan Tanjung Keramat. wilayah paling selatan dibagian barat Gorontalo. Bakri tewas tertembus peluru... dan Ais..." ujar Adnan tercekat, tak mampu meneruskan kisahnya.


"Kenapa dengan Aisyah?!" hardik Kameie dengan tangan mengepal.


"Otoosan..." tegur Chiyome dengan gemetar.


Adnan menggeleng. "Jangan suruh aku menceritakannya..." lelaki itu kemudian menangis dan jatuh terduduk ditanah. "Aku tak sanggup bercerita lebih jauh..." ujarnya lirih ditengah sedu sedannya.


Kameie bangkit dan mencengkeram kerah pakaian Adnan, memaksanya berdiri. dengan wajah marah dan mata mendelik dia mendesak. "Dia anak kita, Adnan! katakan! BAGAIMANA DIA MATI?!!" teriak Kameie dengan histeris.


"Otoosan... jangan memaksa Papa bicara." tegur Chiyome, "Biarlah aku yang berkisah."


Kameie melepaskan. cengkramannya pada pakaian Adnan. lelaki jepang itu menatap putrinya. "Ceritakan!" pintanya.


"Kak Ais tewas akibat kekerasan seksual, Otoosan... dia diperkosa berkali-kali hingga kelaminnya rusak dan Kak ais tewas gara-gara itu." jawab Chiyome dengan gemetar.


seketika riuhlah dalam tenda itu. anggota keluarga Mantulangi dan warga sekitarnya terhasut emosinya dan mereka mengumpat-umpat dalam bahasa Gorontalo. bahkan diantara mereka langsung bicara dalam bahasa Gorontalo untuk melakukan pengganyangan kepada pemerkosa tersebut.


AAAARRRRRRGGGHHHH..... BRAKKKK!!!!


Kameie seketika meraung marah dan meraih kursi yang tadi didudukinya lalu membantingnya dengan keras ke tanah. kursi plastik itu hancur berkeping-keping akibat benturan keras bercampur ledakan tenaga dalam yang keluar melalui bantingan itu.


Fitri langsung semaput dalam pelukan Mariana. wanita itu terkejut. "Fitri?! Fitri?! Fitri?!" seru Mariana menepuk pipi Fitri namun wanita itu tak siuman juga. Mariana meratap lago. "Dooooohhhh Fitri... jangan kau bikin kami makin bersalah dengan pingsanmu itu.... bangun Fitri!!!! banguuunnn.... ooooohhhh Fitri...." ratap Mariana.


beberapa warga sontak membantu menggotong wanita itu kedalam rumah diikuti oleh Mariana yang masih terus menangis. Chiyome ikut masuk kedalam pula ingin melihat keadaan ibunya yang pingsan akibat tak sanggup menahan kesedihan.

__ADS_1


Kameie menatap Adnan yang berdiri lunglai. "Siapa pelakunya?! kau sudah menangkapnya?!" tagih Kameie.


"Trias sementara melacaknya sekarang... kau tahu? anak itu sekarang seorang polisi... dia pasti akan menemukannya." jawab Adnan dengan senyum getir.


"Bapu...." sahut suara dipintu halaman.


semua menoleh melihat seorang anak kecil yang berdiri memegang sapu lidi. anak itu kemudian melangkah dan menatap sejenak kearah Kameie lalu menatap Adnan. dihadapan Adnan, anak itu bertanya.


"Kenapa Bapu menangis?" tanya anak itu yang tak lain adalah Sandiaga (Saburo Koga Mochizuki).


Adnan hanya tersenyum dan menggeleng. Sandiaga menatap Kameie dan langsung mengacungkan ujung sapu lidi, menatap lelaki genyosha itu dengan tatapan tajam.


"Anda yang membuat Bapu menangis? anda tak kasihan melihat kami sementara berduka?" tegur Sandiaga dengan nada mengintimidasi.


Adnan berlutut memegang pundak Sandiaga. anak itu berbalik menoleh menatapnya. Adnan tersenyum ditengah matanya yang masih basah dengan air mata.


"Bapu nggak apa-apa, nak..." jawab Adnan. "Nah... sambutlah... kakekmu dari Jepang." ujar Adnan menganggukkan kepala kearah Kameie.


mendengar kata itu, Kameie luruh dan menatap Sandiaga dengan tatapan haru. "Watashi no mago...." desisnya dengan mata yang penuh dengan airmata lagi.


Sandiaga menoleh menatap Kameie. kini Kameie dapat melihat bahwa wajah cucunya mirip dengan wajah Chiyome hanya saja nampak dalam bentuk maskulin. lelaki itu berlutut. tatapannya melembut.


"Apakah kau... Bapuku?" tanya Sandiaga.


"Ya, Saburo... itu Bapumu... dari Jepang..." timpal Kenzie dengan haru. Sandiaga menatap ayahnya. Kenzie mengangguk menguatkan pendapatnya. Sandiaga kembali menatap Kameie.


"Bapu..." sebut Sandiaga dan mata anak itu berkaca-kaca.


Sandiaga sontak menangis dan berlari memeluk Kameie. lelaki jepang itu memeluk erat cucu lelakinya. ia menumpahkan air matanya sekali lagi dan menggigit bibirnya berupaya menahan jangan sampai tangisnya keluar.


"Bapu... kasihan Abi dan Umi Bapu... orang jahat membunuh mereka... Bapu..." sedu Sandiaga ditengah pelukannya.


Kameie mengangguk-angguk sambil terus menggigit bibirnya. "Bapu tahu... Bapu tahu..." ujarnya menyapu-nyapu punggung anak itu.


warga sekitaran dan anggota keluarga Mantulangi ikut terharu dan melelehkan air matanya mendengar curhatan seorang cucu kepada kakeknya. Kameie membuka matanya yang memerah saga menatap Adnan. ia mengencangkan rahangnya.


"Pastikan!!! kau menangkapnya!!!" pinta Kameie. "Jika aku sempat menemukannya... akan ku kuliti ia hidup-hidup..." ujar Kameie dengan suara sangat geram.


Adnan mengangguk menarik isakannya lalu menghapus air matanya. "Pasti, Kameie... pasti!!! aku tak akan membiarkannya hidup!" sambut Adnan.


Kameie kembali memeluk Sandiaga dengan erat lalu melepas pelukannya. lelaki jepang itu menatap cucunya.


"Bisa bawa Bapu ke makam Umi?" pinta Kameie.


Sandiaga mengangguk dan menarik jemari Kameie agar mengikutinya. lelaki itu bangkit dan melangkah mengikuti Sandiaga. kedua lelaki beda usia itu menyusuri jalanan setapak menuju pemakaman keluarga Mantulangi.


tak lama keduanya sampai. Sandiaga melepaskan pegangan Kameie dan anak laki-laki itu berlari mendahulu. dihadapan dua makam yang masih baru, dengan hamparan kembang-kembang yang mulai mengering, Sandiaga berdiri.


"Umi... Abi... Sandiaga balik lagi... tapi kali ini membawa Bapu... beliau datang menjenguk kalian." ujar Sandiaga.

__ADS_1


Kameie tiba di kedua makam itu. lelaki itu lalu duduk bersimpuh dan menumpahkan tangisnya. kepalanya menunduk dan jemarinya mengepal, tubuhnya gemetar. lelaki itu menangis tanpa memperdengarkan suaranya. Sandiaga yang melihat Kameie menangis kemudian menyapu pundaknya.


"Bapu... jangan sedih lagi... kalau Bapu sedih, Umi dan Abi tak akan tenang dikuburnya." tegur Sandiaga menyadarkan Kameie. lelaki itu membuka matanya dan menengadah menatap nisan yang baru diukir tersebut.


"Ais... Otoosan minta maaf... tidak bisa menjagamu..." Kameie berhenti dan terisak lagi. "Tapi... kalian jangan kuatir. Otoosan akan memastikan orang itu, tak akan selamat. jika bukan Otoosan yang akan membungkamnya... maka... Chiyome yang akan membungkamnya..."


Kameie mengencangkan rahangnya. tatapannya kembali mengedar dan menemukan makam Bapu Ridhwan Mantulangi tepat disisi dua pusara tersebut. emosi Kameie menggelegak. ia berdiri.


"Bapu!!!" serunya dengan suara keras dalam bahasa jepang. "Selama ini aku tak pernah meminta apapun kepadamu!... namun... kali ini restui aku! keluarga Mochizuki akan menuntut darah kepada pelaku itu! jika bukan aku yang melalukannya, maka Chiyome yang melakukannya!!!" seru Kameie, tiba-tiba merenggut kemeja hitamnya dan mencampakkannya ke tanah. terlihat sepir-sepir tubuhnya yang dihiasi rajahan irezumi membuat Sandiaga terperangah.


tiba-tiba Kameie mencabut tanto yang tersembunyi dibalik pinggulnya. lelaki itu menelanjangi pisau kecil tersebut lalu mengiris telapak tangannya sendiri. darah mengalir membasahi telapak tangannya dan bilah pisau itu dan jayuh di tanah sisi makam Aisyah.


"Bapu... memgapa Bapu mengiris telapak tangan Bapu sendiri? itu sama artinya dengan menyakiti diri sendiri... Agama Islam melarang hal semacam itu." tegur Sandiaga.


Kameie terkesiap. anak sekecil itu sudah berani menasihatinya. lelaki genyosha itu berpaling menatap cucu lelakinya. lelaki itu tersenyum lalu menyarungkan pisau itu dan menyembunyikannya kembali dibalik celananya.


"Itu sumpah seorang genyosha, nak." jawab Kameie.


"Genyosha itu apa, Bapu?" tanya Sandiaga.


Kameie paham bahwa anak itu belum terlalu paham garis darahnya. dan bisa jadi Chiyome memang menyembunyikan hal itu agar Sandiaga tak mengetahui riwayat keluarganya dari galur ibu. Kameie tersenyum.


"Ibumu akan menjawab ketika kau menanyakannya." jawab Kameie. lelaki itu mengangguk-angguk memantapkan pendapatnya. Sandiaga memandang rajahan yang menghiasi tubuh Kameie. seakan tahu apa yang dipikirkan anak itu, Kameie tersenyum.


"Ini adalah Irezumi, merupakan salah satu adat istiadat kita sebagai kaum genyosha." ujar Kameie kemudian menyentuh kedua pundak Sandiaga. "Kelak, kau pun harus menghias tubuhmu dengan rajahan ini."


Sandiaga diam mencerna perkataan kakeknya. Kameie kemudian melepaskan pegangannya pada pundak anak itu lalu bangkit dan mengambil pakaiannya yang tercampak ditanah. ia mengibaskannya sejenak lalu kembali mengenakannya. tangannya terulur kepada Sandiaga.


"Mari pulang.... Umi dan Abimu sudah mendengarkan sumpah Bapu..." ajak Kameie.


Sandiaga menatap kedua pusara tersebut. "Umi... Abi... Sandi dan Bapu pulang dulu ya? insya Allah, Sandi besok ke sini lagi."


setelah mengucapkan kalimat perpisahan itu, Sandiaga melangkah menyambut uluran tangan Kameie dan keduanya melangkah meninggalkan pemakaman keluarga Mantulangi.


...*****...


Malam itu diadakan acara mongaruwa, yaitu perayaan yang biasa dilaksanakan untuk memperingati hari ketujuh dari wafatnya seseorang. dihadapan para tamu dihamparkan dibentangkan kain putih yang melambangkan bahwa para pendoa haruslah telah bersuci terlebih dahulu sebagai syarat terkabulnya sebuah doa.


kemudian ada beberapa hidangan yang dipersembahkan disana. namun yang khas adalah sebuah piring yang diiso dengan garam yang dibentuk pola segitiga dan tiga batang cabai yang diletakkan pada sisi-sisi garam tersebut. garam melambangkan adab tenggang rasa dan kesederhanaan sedangkan cabai melambangkan sifat keburukan yang ada dalam diri manusia.


kemudian ada semangkuk tiliaya, yaitu adonan yang dibuay dari campuran telur dan gula merah, dimasak sedemikian rupa hingga membentuk mirip jelly yang dikonsumsi bersama nasi kuning. tiliaya melambangkan harmonisasi dalam perbuatan baik.


para tamu yang melaksanakan ritual mongaruwa mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana panjang hitam. tak lupa songkok atau upiya (peci) bertengger dikepala para pendoa tersebut. Imam mengenakan surban yang dilipat mirip sarung dan dikalungkan di lehernya.


mulanya Imam meminta para pendoa untuk membersihkan hati lalu ia mengambil sejumput alama dan meletakkannya pada pendupaan. bau alama harum menyeruak dan Imam mulai membaca surat al-fatihah, kemudian ayat kursi, kemudian doa-doa lainnya.


"Irhamna ya arhamarrahimin..." bacaan itu terulang tiga kali hingga akhirnya sang imam mulai mendaras kalimat La Ila Ha Illa Allah sebanyak 33 kali dengan nada pelan diikuti oleh jamaah pendoa. kemudian 33 kali berikutnya, kalimat itu mulai dipercepat hingga di 33 kali berikutnya, bacaannya sudah sangat cepat sehingga sering terdengar menjadi da ha da ha illa... da ha da ha illa... atau ha.. ha.. ha... hingga akhirnya imam mengakhiri bacaan kalimat tersebut lalu kembali mengambil sejumput alama dan meletakkannya kembali di pedupaan.


harum bau alama kembali menyeruak. imam kembali membaca doa dan kali ini diaminkan oleh semua jamaah. selesai kegiatan tersebut Adnan kemudian mengangsurkan uang yang disisipkan dalam amplop kepada Imam dan seluruh hadirin yang berdoa tersebut. setelah itu Adnan dengan bahasa gorontalo mempersilahkan para hadirin untuk menikmati santap bersama.

__ADS_1


acara itu berlangsung khidmat. Kameie, Kenzie dan Adnan ikut makan bersama diruangan tersebut. setelah acara itu, kegiatan berikutnya adalah acara dakwah takziyah yabg dibawakan oleh salah satu ustadz kondang di Gorontalo. acara itu berakhir saat waktu menunjukkan pukul 10 malam.[]


__ADS_2