Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 175


__ADS_3

Fitri menjerit histeris saat menerima telpon dari Chiyome yang mengabarkan wafatnya Aisyah dan Bakri dalam peristiwa penculikan dan pembunuhan. Kameie yang sedang menyiangi tanaman bonsai kesayangannya langsung melepaskan gunting dan berlari menaiki genkan dan menuju kebagian dalam ruangan. ia menyibak pintu shoji, menemukan Fitri sementara terduduk dan tersedu-sedan.


"Nani ga mondaidesuka?!... Nande nai teru no?!..." tanya Kameie yang langsung menghambur memegang lengan Fitri.


Fitri menatap Kameie, "Aisyah.... Aisyah tewas terbunuh... dia dibunuh." sedunya dan kembali tenggelam dalam tangisnya.


Kameie meraih telepon dalam genggaman Fitri. ia menggantikan menginterogasi putrinya.


📞"Katakan padaku, Chiyome! apa yang terjadi dengan Kakakmu?!" tanya Kameie dengan nada datar yang menekan.


Chiyome menata isakannya agar tidak terlalu terdengar memilukan. ia menjawab pertanyaan ayahnya.


📱"Stefan.... bekas suami Kakak... menculiknya... ia menyiksa dan akhirnya membunuh Kakak beserta suaminya...."


Kameie mengencangkan rahangnya.


📞"Bagaimana dia dibunuh?" selidik Kameie.


📱"Dia.... diperkosa berkali-kali.... hingga tewas..."


Kameie menutup mata dan mengencangkan rahangnya. sejenak kemudian dia membuka matanya.


📞"Otoosan dan Okaasan akan kesana!" ujar Kameie dengan datar dan langsung meletakkan gagang telpon. setelah itu lelaki tersebut berlutut menghadapkan tubuhnya ke Fitri.


"Kita akan kesana, Fitri... kita akan kesana." ujarnya kemudian memeluk Fitri dengan erat. wanita itu semakin hanyut dalam tangisnya didalam dekapan hangat suaminya tersebut.


...******...


Chiyome menggenggam erat gawainya didada. Kenzie datang dan menyentuh pundaknya. Chiyome menoleh menatap suaminya.


"Otoosan dan Okaasan akan datang kemari." ujarnya dengan lirih.


Kenzie mengangguk. "Mereka memang perlu datang. bagaimanapun... Kak Ais adalah putri mereka juga."


"Tapi... aku takut..." ujar Chiyome dengan gemetar.


"Kenapa Wiffy?" tanya Kenzie dengan lembut.


"Aku takut.... Otoosan akan mengamuk membalaskan sakit hati Okaasan kepada Papa..." jawab Chiyome dengan suara gemetar.


Kenzie merengkuh tubuh istrinya. "Kita tak bisa mencampuri hal itu... biarkan kedua orang tua kita menyelesaikan masalahnya sendiri...."


suasana duka menaungi keluarga Lasantu, Mantulangi dan Muchsin. keluarga dari Poso itu datang. Una bahkan meratap saat memeluk pusara putranya Bakri. anak yang dibanggakan keluarga. beberapa anggota keluarga Lasabang juga hadir dalam pemakaman tersebut namun yang tinggal bersama-sama ikut berbela sungkawa, hanyalah Samsul Bahri Lasabang, seorang opsir polisi yang bertugas di Pohuwato dan sementara menjalani masa cutinya. selebihnya hanya menggugurkan kewajiban saja.


lelaki itu menjumpai putri sepupunya. "Kudengar dari pembicaraanmu tadi, kedua orang tuamu akan datang. kapan mereka tiba?" tanya Samsul Bahri.


"Mungkin besok mereka tiba." jawab Chiyome.


Samsul Bahri menatapi Kenzie. "Kalian berdua ikut denganku menjemputnya di Bandara."


"Akan kami lakukan." ujar Kenzie.


Samsul Bahri mengangguk. "Kalau begitu aku permisi dulu. sampaikan salamku kepada orang tuamu."


"Akan kusampaikan..." jawab Kenzie.


Samsul Bahri mengangguk lagi. ia kemudian berbalik langkah meninggalkan kediaman Mantulangi. ini sudah hari yang ke empat dari peringatan wafatnya pasangan Bakri dan Aisyah. keluarga Muchsin akan bertolak pada hari ke delapan paska peringatan hari ketujuh. sementara mereka menginap dirumah kerabat mereka dari keluarga Laiya di Padebuolo.


sepeninggal Samsul Bahri, Kenzie kembali memandu Chiyome duduk dikursi tamu. sebagaimana Kenzie yang berduka, Chiyome lebih berduka lagi sebab wanita itu adalah saudara sekandungannya. mereka berdua lahir dari uterus yang sama. Chiyome terkenang pertemuan pertamanya dengan kakak serahimnya tersebut. air mata menganak-sungai membasahi pipinya. Kenzie merengkuh pelan sang istri. keduanya saling menguatkan.


...*****...

__ADS_1


Sandiaga sudah tiga hari kehilangan selera makannya. anak itu hanya diam saja kerjanya. yang paling kentara hanyalah kedatangannya ke pusara Aisyah dan Bakri saban pagi dan membersihkan makamnya. ketika dibujuk oleh Adnan dan Mariana, jawaban yang keluar dari mulut anak itu terdengar begitu memilukan.


"Mereka adalah orang-orang terpenting dalam hidupku... aku bahkan belum bisa membalas kebaikan mereka berdua... bahkan jika kujagai makam ini sepanjang malam seumur hidupku... itu belum dapat membalas kebaikan mereka padaku." ungkap Sandiaga.


ungkapan bernada dewasa keluar dari mulut anak kecil. terdengar begitu tegar namun juga begitu menyedihkan. Adnan sendiri hanya bisa mengalirkan air mata tanpa memperdengarkan isakannya. Mariana semakin terlihat sedih ketika keduanya mengawasi Sandiaga yang selalu membersihkan makam kedua orang itu dari kejauhan. anak sekecil itu telah dapat memahami betapa besar jasa Aisyah dan Bakri kepada dirinya. tak ada yang bisa dia lakukan terkecuali membersihkan makam mereka saban hari saja kemudian duduk tafakur didepan pusara dan memanjatkan doa-doa kemudian pulang dengan wajah yang begitu datar. kesedihan anak itu begitu menggumpal.


"Aku tak menyangka, perasaan Sandiaga terhadap Aisyah dan Bakri begitu mendalam." ujar Adnan dengan pelan.


"Keduanya mengasuh Sandiaga layaknya anak mereka. itu menurut Chiyome. makanya, dia begitu kehilangan." sambuy Mariana menyeka air matanya.


"Jika anak sekecil itu begitu mendalam rasa kehilangannya, apa lagi aku, ayah kandungnya..." Adnan menunduk dan menangis tanpa suara.


"Aku lebih malu Pah... entah bagaimana tanggapan Fitri terhadapku... aku malu menghadapinya." sahut Mariana.


Sandiaga telah selesai memanjatkan doa. anak itu bangkit dan menenteng sapu lidi menatapi pusara yang telah bersih itu.


"Abi... Umi... Sandi pulang dulu ya? insya Allah Sandi balik lagi.... Abi dan Umi nggak usah kuatir, selama Sandi disini, Sandi akan terus membersihkan rumah Abi dan Umi." ujar Sandiaga dengan pelan. matanya tertuju pada paita pasangan suami-istri itu. berkali-kali Sandiaga menghela napas dan berupaya mengusir air mata yang hendak menjebol kelopak matanya dengan mengucek-nguceknya.


"Wahh... Abi, Umi... kayaknya udara disini masih terlalu murni. mata Sandi sampai berkabut..." kilah Sandi kemudian langsung berbalik dan melangkah meninggalkan pemakaman keluarga itu.


Adnan dan Mariana sengaja menyembunyikan diri sehingga Sandiaga melangkah tanpa menyadari keberadaan mereka berdua ditempat itu. anak itu terus melangkah sambil menenteng sapu lidi. sepeninggal Sandiaga, kedua laki-istri itu menampakkan diri dari rimbunan pepohonan rendah, menatap punggung Sandiaga yang menjauh.


"Anak yang malang... ia kehilangan cinta justru disaat anak itu membutuhkan lebih banyak cinta..." keluh Adnan.


kedua laki-istri itu kemudian berbalik melangkah menuju pemakaman. tujuan mereka adalah menjiarahi Aisyah dan Bakri.


...*******...


Kenzie, Chiyome dan Samsul Bahri duduk dengan tenang di ruang tunggu menantikan kedatangan Fitri dan Kameie. sesuai dengan penyampaian Kameie yang terbaru, mereka akan tiba hari ini. berkali-kali, Samsul Bahri melihat jarum jam yang berdetak pada arlojinya.


Fitri adalah sepupunya. wanita itu, sejak perceraian dengan Adnan memilih meninggalkan keluarganya dan merantau ke Jepang. hingga saat ini, ia belum bertemu dengan sepupunya itu. Allah memberikan berkahnya dikedukaan keponakannya. hari ini ia akan bertemu sepupunya yang sudah dianggap hilang oleh keluarga besar Lasabang.


Kameie memang selalu membawa watak tenang dan datar dihadapan istri dan putra-putrinya. namun jangan memancing kemarahan lelaki itu. Kameie adalah sosok yang mengerikan jika marah. ia pernah beberapa kali membuat Heita Masakado nyaris kehilangan nyawa ketika lelaki itu berada dipuncak kemarahannya. kematian kakak-kakak tirinya dalam seppuku akibat membela ayahnya, Tasuku membekas jelas diingatannya.


kini berita tentang putri tirinya yang wafat akibat diculik, diperkosa dan tewas akibat perkosaan itu mengoyak lagi ingatan yang sempat dipendamnya jauh setelah menikahi Fitri dan menyadari ia memiliki anak tiri yang begitu anggun.


sejak pertemuan pertama kalinya dengan Aisyah dibandara itu dan kerelaan Aisyah memanggilnya Ayah, membuat Kameie luruh dan mencintai putri tirinya sebagaimana ia menyayangi Chiyome, putri kandungnya. sifat anak itu sangat mirip dengan Fitri, berbanding terbalik dengan Chiyome yang seratus persen mengadopsi gaya berpikirnya sehingga meskipun tampil feminin, jiwa wanita itu sesungguhnya lebih mirip lelaki ketimbang perempuan.


kebahagian Kameie lengkap dengan keberadaan Aisyah. ia dan Chiyome bagaikan yin dan yang, dua unsur berlawanan yang saling melengkapi. dan sekarang unsur itu hilang menyisakan celah yang sangat besar dan dalam. hal itu membuat perasaan dalam diri Kameie menjadi guncang. ia menjadi tak seimbang lagi.


suara detakan langkah sepatu yang cepat membuat Chiyome mengangkat wajah dan menoleh kearah sesuatu. disana nampak Kameie yang sedang menggandeng Fitri yang mengenakan pakaian berkabung. lelaki itu sendiri hanya mengenakan kemeja hitam lengan panjang dan celana panjang hitam pula khas perkabungan.


Kenzie dan Chiyome bangkit ketika keduanya tiba dihadapan mereka. Sontak Chiyome menghambur memeluk ibunya dan menumpahkan tangisnya, sedang Kenzie sibuk mengusir air mata yang memaksa menjebol kelopak matanya. Kameie memeluk Kenzie dan menampar bahunya dengan tenang.


"Aku senang, kalian berdua baik-baik saja." itu saja kalimat yang keluar dari mulut Kameie. Samsul Bahri maju menyapa.


"Kak Fitri... masih ingat saya?" tanya Samsul Bahri.


Fitri menatapnya dan matanya memicing. tak lama ia mendesis. "Aip?" tebaknya.


Samsul Bahri tersenyum. Aip adalah nama kecilnya. lelaki itu maju menyalami Fitri. wanita itu menatap Kameie.


"Perkenalkan, ini sepupuku...Samsul Bahri Lasabang." ujar Fitri memperkenalkan Samsul Bahri kepada Kameie. pemuda itu maju menyalami Kameie.


"Senang, dapat berkenalan dengan anda." ujar Samsul Bahri.


Kameie tersenyum. "Saya senang, ternyata masih ada keluarga Fitri yang mau menyapanya. setahuku... keluarga Lasabang tak lagi mencari tahu berita tentang istriku... apa kalian kira dia sudah mati?" tukas Kameie.


Samsul Bahri Lasabang tersenyum, "Maaf jika konflik keluarga kami mengganggu harmonisasi dalam keluarga kalian. tapi memang kenyataannya begitu. sejak perceraiannya denfan Adnan, keluarga besar Lasabang memang mengasingkan Fitri dari mereka sebab merasa malu dengan perceraian tersebut. tapi kurasa, kami sudah cukup lega mengetahui Fitri hidup dengan baik di Jepang bersama anda, bahkan melahirkan keponakan yang cantik."


Kameie tersenyum datar. "Anda datang menjemput kami atau hanya sekedar ingin bertemu dengan istri saya?" tukas Kameie.

__ADS_1


"Kedua-duanya." jawab Samsul Bahri masih dengan senyum. "Mari, saya antar anda ke Suwawa."


"Kenapa bukan ke Kediaman Lasantu?" tanya Kameie sedikit protes.


"Aisyah dan suaminya, Bakri, dimakamkan di Suwawa di pekuburan keluarga Mantulangi. itulah sebab saya menawarkan hendak membawa anda ke Suwawa." jawab Samsul Bahri Lasabang.


Kenzie maju. "Mari, Otoosan..." ajaknya.


kelima orang itu melangkah meninggalkan ruang tunggu. mereka tiba diluar. disana terparkir Mac Laren kuning milik Kenzie dan SUV hitam milik Samsul Bahri.


Kameie dan Fitri memilih naik di SUV, sedang Kenzie dan Chiyome menaiki kendaraannya. dua kendaraan itu kemudian meninggalkan bandara dan melaju menyusuri jalanan. mereka tidak menempuh jalur Batudaa, melainkan menyusuri jalan protokol Isimu-Limboto-Gorontalo.


sepanjang perjalanan, Kameie diam sedang Fitri kembali terisak tanpa suara. Samsul Bahri melirik sesekali kepada pasangan suami-istri itu dari kaca spion. dibelakang SUV yang melaju itu, Mac Laren kuning yang dikendarai Kenzie melaju dengan jarak yang diatur.


perjalanan tanpa percakapan itu berlangsung selama satu setengah jam hingga mereka tiba di Suwawa. itupun Samsul Bahri sengaja mengambil jalan-jalan potong. menemukan belokang pada tugu ketupat Yosonegoro, Samsul mengambil jalan lurus memasuki desa Huidu dan Pone hingga bertemu dengan jalur simpang Jalan Sudirman, Limboto, menyusuri Jalan abdul Wahab dan bertemu dengan simpang lima Telaga, Gorontalo.


Samsul Bahri membelokkan SUV ke kiri menuju Tapa lalu memutar ke Kabila hingga kemudian mengambil lagi jalan potong dan tembus di Jalan Pasar Minggu menuju Suwawa. menjelang sore, mereka tiba di Kediaman Mantulangi.


SUV berhenti didepan pekarangan rumah yang masih dipasangi tenda. besok adalah perayaan hari ketujuh dari Aisyah dan Bakri. dibelakangnya Mac Laren Kuning berhenti dan keluarlah Kenzie dan Chiyome. Kameie dan Fitri betgegas keluar.


dirumah muncul Adnan. ketika melihat Kameie dan Fitri, bergegas lelaki itu melangkah hendak menyambut mereka dan...


PLAKK... BUGH.... UGH!!!


tanpa disangka sebelumnya, Kameie tiba-tiba menerjang menendang Adnan hingga lelaki itu terhempas ke belakang sementara Kameie hendak mengejar, Chiyome dengan tangkas berlari dan memperisai Adnan.


"Otoosan! mengapa memukul Papa? dia tidak salah!" tegur Chiyome.


"Menyingkir dari situ, Chiyome!!" seru Kameie dengan tatapan penuh kemarahan.


"Aku akan tetap disini!" tandas Chiyome.


Adnan memegang lengan Chiyome. wanita itu menatap mertuanya. Adnan mengisyaratkan Chiyome untuk menyingkir. lelaki itu kemudian berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor.


keluarga Mantulangi tersinggung dengan perlakuan Kameie terhadap menantu keluarga mereka. sebagiannya mengumpat marah dan sebagiannya bahkan telah menelanjangi aliyawo dan telah gatal hendak menetak tubuh Kameie dengan senjata tersebut.


"Apa yang mau kau curahkan? maka curahkanlah." ujar Adnan dengan tenang dan tegar.


"Kenapa kau membiarkan putriku terbunuh?! mengapa?!" seru Kameie dengan marah sambil mencengkeram kemeja Adnan.


lelaki itu tersenyum getir dengan mata basah penuh airmata. "Siapa yang bisa menentang takdir? meski sekuat apapun kami menjaganya.... seketat apapun kami melindunginya... dia akan tetap mendatangi tempat ajalnya..."


Kameie tetap mencengkeram kemeja Adnan. lelaki itu sudah diambang puncak kemarahannya. Adnan menghela napas. "Apa kau pikir aku tak terluka? bahkan kau yang bukan ayah kandungnya begitu kehilangan... apalagi aku, ayah kandungnya...."


Kameie melepaskan kemeja Adnan dan melangkah mundur. ia menatap Adnan dengan wajah memelas. Adnan menghela lagi napasnya.


"Aku hanya menyesali satu hal... mengapa ia pergi dengan begitu tragis..." Adnan jatuh bersimpuh dan meluruhkan air matanya. "Anakku.... anak perempuanku.... sejak kecil... ia terlunta-lunta karena kebodohan orang tuanya... sekarang... dia tersiksa karena kebodohan cintanya... dan harus melepas nyawa... juga karena kemurnian kasihnya...." sedu sedan Adnan. "Aku merasa.... gagal menjadi ayah yang baik baginya...."


Fitri semakin menangis dan Chiyome langsung memeluk ibunya dan menangis bersamaan. Kenzie menyeka air matanya lalu melangkah menjajari Kameie.


"Otoosan.... mari duduk dulu..." pinta Kenzie.


Kameie menatap menantunya. Kenzie menyuruh salah satu warga mengambilkan kursi. warga tersebut kemudian meletakkan kursi itu disisi Kameie. Kenzie meminta ayah mertuanya duduk.


Kenzie kemudian meminta salah satu kerabatnya mengambilkan air minum. setelah mereka menyerahkan gelas berisi air bening kepada Kenzie. lelaki itu menyodorkan gelas itu kepada Kameie.


"Minumlah Otoosan..." pinta Kenzie.


Kameie meraih gelas itu dan menegak isinya sampai tuntas. setelah itu ia menyerahkannya kembali kepada Kenzie. lelaki itu menatap Kenzie dengan tajam. tatapan penuh intimidasi. Karasu Tengu no Shisen...


"Ceritakan padaku dengan detail... bagaimana Aisyah bisa meninggal?" pinta Kameie dengan matanya yang telah merah.[]

__ADS_1


__ADS_2