Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 66


__ADS_3

06 Januari 2020, pukul 06.00 Wita.


Kenzie merasa mulutnya terasa pahit dan kering. ia berdecap-decap untuk mengusir rasa pahit di mulutnya. dengan malas pemuda itu menoleh mencari istrinya, namun sosok Chiyome tidak berada diranjang itu. Kenzie bangun dengan malas dan merasakan seluruh tubuhnya pegal. tak biasanya ia begini.


begitu ia hendak bangkit, terasa sesuatu dalam perut yang ingin mendesak keluar melalui saluran kerongkongannya. tiba-tiba ia merasa mual yang sangat amat. segera Kenzie menutup mulutnya dengan panik dan bergegas berlari menuju jendela dan membuka penguncinya. ia menguakkannya dan...


HUEEEEEK.... HWEEEEEKKK...KHROOO... HWEEEEEKKK....


pemuda itu mengeluarkan seluruh isi lambungnya pada hari itu. tak ada yang disisakannya. dengan membungkuk-bungkuk ia mengerang merasakan keram yang menekan bagian tantiannya. pemuda itu memijitinya sambil meringis.


pintu membuka dan masuklah Chiyome. melihat Kenzie yang terbungkuk-bungkuk disisi ranjang, membuatnya langsung mendekati suaminya.


"Kenapa Hubby? Hubby sakit?" tanya Chiyome dengan panik dan mengelus-ngelus punggung Kenzie.


pemuda itu menegakkan wajah menatapi istrinya lalu tersenyum."Nggak. nggak ap.....HUMMFF"


Kenzie buru-buru menutup mulutnya dan berlari kembali ke jendela.


HWEEEEEEKKK..... HWEEEEEKKK....


kembali pemuda itu merasakan sebagian besar energinya terkuras keluar bersama muntahan itu. Chiyome bangkit dan memijit-mijit pundak suaminya dengan lembut. ia kemudian berlari pelan menuju pintu dan menguakkannya sedikit.


"Ma... Pa... Kak Ais... Hubby muntaaah... parah!" teriak Chiyome dengan panik.


Adnan dan Mariana yang sementara berjibaku menuntaskan hasrat terliar mereka langshng blingsatan dan Adnan buru-buru mencabut senjatanya dari sarung pusaka istrinya, mereka buru-buru berpakaian dan keluar kamar menjumpai Chiyome yang memekik panik.


"Ada apa nak? pagi-pagi sudah ribut?" omel Mariana yang merasa terganggu waktu berkualitasnya terganggu oleh teriakan panik menantunya.


"Mama, liat Hubby, Maaa... Hubby sakit. muntahnya banyak..." pekik Chiyome panik dan langsung menarik tangan Mariana dan menyeret mertuanya kedalam kamar.


Mariana melihat putranya duduk sambil memijiti perutnya. wajah anak itu pucat dan bibirnya gemetar. Adnan yang menyusul langsung mendekati putranya.


"Kamu kenapa, Ken?" tanya Adnan dengan khawatir.


"Silahkan Papa liat dibawah jendela... Tapi.. muntahannya banyak..." jawab Kenzie dengan meringis.


"Nggak apa-apa... itu cuma sindrom Couvade." timpal Aisyah yang sudah berdiri memyandarkan bahunya dipintu.


keempat orang itu menatapi Aisyah dengan tatapan tak mengerti. Aisyah melangkah mendekati Mariana. "Mama. bikinin Kenzie air jahe saja." katanya.


Mariana mengangguk lalu melepaskan pelukan Chiyome dan bergegas menuju dapur menyiapkan apa yang disarankan putrinya.


"Apa itu sindrom Couvade ?" tanya Adnan.


"Kehamilan simpatik." jawab Aisyah singkat.


"HAH? AKU HAMIL??" pekik Kenzie dengan kekagetan yang luar biasa. "INI MUKJIZAT."


Aisyah mendorong kening Kenzie. "Mukjizat lo tendelengamu!" umpatnya sambil tertawa.


"Tadi Kakak bilang kehamilan bukan? apakah aku juga bisa hamil?" tanya Kenzie dengan kekonyolannya.


"Itu gejala kehamilan yang dirasakan suami ketika istrinya sedang hamil. itu berarti kamu ikut merasakan apa yang rasakan istrimu. tadi kau merasa kembung dan mual,kan?" tanya Aisyah.


Kenzie mengangguk.


Aisyah mengangguk lagi, "Satu hal lagi. sindrom ini berlaku terus dari awal trimester yaitu selama tiga bulan. bahkan ada yang sampai akhir trimester berjalan. sampai istrinya melahirkan.


"Berarti aku...." ujar Kenzie kemudian melamun.


Aisyah tertawa, "Ya, diterima saja, Ken. hitung-hitungan tiba saatmu merasakan apa yang dirasakan Chiyome pada masa kehamilan."


Kenzie langsung menegakkan badan. "Nggak apa-apa deh! demi Wiffy, aku akan sabar menerimannya.!


selesai lelaki itu berdeklamasi, serangan perut kembali dirasakannya. tanpa memikirkan Chiyome dan Adanan yang beraada disisinya, Kenzie kembali berdiri dan berlari ke jendela kembali membungkuk.


HWEEEEKKKK... HWEEEEKKKK..

__ADS_1


Kenzie lagi -lagi membuangkan makanannya tadi lewat muntahannya.


Adnan yang sudah paham duduk perkaranya langsung berdiri dan menatapi Kenzie.


"Sudah, dramanya? ayo mandi! ini hari pertama masuk sekolah lho!" kata Adnan.


"Tapi Pa.." kata Kenzie.


"Nggak boleh! hari ini hanya Chiyo yang nggak masuk sekolah. Aisyah, nanti kamu yang hubungi pihak sekolah untuk mengabarkan Chiyo belum dapat melakukan aktifitasnya." kata Adnan kembali melangkah meninggalkan kamar Kenzie.


Kenzie dan Chiyome kembali menatapi Aisyah dengan sorot memelas. tapi Aisyah tertawa.


"Aku nggak mau durhaka sama Papa. sudah, biarkan Chiyome ke RSIA siti Khadijah sama-sama dengan mama. sedang kau berangkat ke sekolah." kata Aisyah juga beranjak dari tempat tidurnya.


Kenzie tertunduk pasrah. Chiyome duduk bersimpuh dihadapan suaminya. "Hubby... yang sabar ya?"


mendengar ucapan istrinya, sontak Kenzie tertawa. " Permainan ini masih akan berlangsung. jangan kuatir Wiffy. Hubby akan selalu semangat. demi anak kita!"


Kenzie berdiri dan melangkah sedikit sempoyongan karena mengeluarkan banyak tenaga. pemuda itu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. dia harus sekolah hari ini.


Chiyome menatapi punggung Kenzie yang menjauh. tanpa sadar, Chiyome mengelus perutnya sendiri.


"Hai junior... jangan bikin Papamu menderita. kasian. baik-baiklah kau diperut Mama ya? Mama akan menjagamu...."


...**********...


Trias melangkah santai menyusuri koridor. begitu melewati kelas 11A, tiba-tiba tanpa sempat menghindar. salah satu siswa kelas teladan itu melemparkan air dalam loyang keluar dan membasahi sekujur pakaian pemuda itu.


setelah Trias mendapatkan kesadarannya kembali, pemuda itu langsung sigap mencengkeram kerah seragam pemuda kelas 11A tersebut.


"Kamu mau cari mati, Hah??" sembur Trias hendak melayangkan pukulan ke wajah orang itu.


"Hentikan Trias!!!" bentak ketua kelas 11A yang muncul dari dalam ruangan.


"Oooh rupanya kau yang punya ide ini ya? haruskah ku permak saja wajah kelian berdua." ujar Trias dengan geram sambil maju melayangkan benda ke wajah orang tadi.


sebuah tangan dengan tangkas menahan pergelangan tangan Trias yang hendak maju mengincar wajah sipemegang loyang plastik itu. Trias melihat Kenzie yang berdiri santai menggenggam pergelangan tangan tersebut.


Trias menatapi Kenzie. "Kenapa kamu?"


"Jangan melakukan hal itu Yas!" tegur Kenzie.


Trias mendorong orang itu dan menghentakkan tangannya yang digenggam Kenzie. Trias membisikkan pertanyaan.


"Kenapa kamu pakai masker? nggak biasanya kamu begini." kata Trias dengan lirih.


Kenzie merogoh sakunya mengeluarkan pengharum merk Stela aroma jeruk dan mengendusinya sejenak.


"Kau salah... jangan karena terbawa suasana, kau main pukul saja sama orang." jawab Kenzie kini yang lagi bicara tapi tetap mendekatkan pengharum Stela disisi maskernya."


"Lihatlah Trias, sahabatmu lebih bijak darimu." sindir ketua kelas menyindir Trias.


Kenzie menudingkan jarinya yang memegang pengharum Stela. "Kamu nggak usah menghasut seseorang segitunya. aku sendiri hanya menyelamatkanmu dari gasakannya. jangan sampai aku tak bisa mengendalikannya dan kau harus kehilangan puluhan gigi yang bertengger digusimu itu?" ancam Kenzie.


namun nyatanya ketua kelas 11A tetap ngotot dan ia tertawa keras lalu menatapi Trias.


"Trias... apa hakmu marah-marah disini? temanku nggak sengaja membuang air karena isinya sudah kotor. sialmu saja yang membuat air itu membasahi pakaianmu." setelah berkata begitu, Budi, kedua kelas 11A itu bercakak pinggang lalu tertawa mengejek.


"Budi, kalau kau memang punya rasa sentimen kepadaku, silahkan keluarkan uneg-unegmu. jika itu masuk akal, aku akan menerimanya dan tidak memperpanjang masalah ini. tapi kalau tidak...." ujar Trias tanpa melanjutkan kata-katanya.


"Kalau tidak, kenapa Trias? kalau saja Inayah tidak menjalin hubungan denganmu, tentu dia masih disini bersama-sama kami. kenapa bukan kau saja yang mati, Trias?!" umpat Budi.


"Jadi semua ini tentang Iyun?" ujar Trias yang melangkah maju dan berdiri tegak sangat berdekatan membuat masing-masing merasakan hembusan napasnya.


"Ya! memangnya kenapa Trias? kau cemburu? kau tak layak cemburu! dia teman kami! apakah kau keberatan?" tantang Budi dengan senyum sinisnya.


sementara itu seluruh siswa kelas 11A sudah menggerombol didepan pintu kelas menyaksikan pimpinan mereka berdebat dengan pemuda yang selama ini mereka benci karena memacari Inayah.

__ADS_1


"Katakan padaku Budi, apa yang mendasari perkataanmu ini? katakan saja. nggak usah sungkan." kata Trias seraya mengusap-usap telapak tangannya yang sudah sangat gatal ingin melukuh lantakkan kulit wajah pemuda dihadapannya itu.


"Oke... bersiaplah..." gumam Budi sejenak menghela napasnya. "Kau mau mendengarkannya congek?! baiklah. AKU MENCINTAI IYUN!!! KAU DENGAR?! AKU MENCINTAINYA SEJAK KAMI PERTAMA BERTEMU DISEKOLAH INI, DAN KAU MERAMPASNYA DARIKU KAU YA...."


BLUAGH!!!


Budi tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena bogem Trias langsung meluncur melubangi rongga mulutnya, berhasil menghamburkan barisan gigi atas dan bawah yang melindungi mulutnya. pemuda itu terlempar dan menimpa teman-temannya yang sedari tadi bergerombol.


Kenzie langsung maju begitu melihat Trias maju dengan mengepalkan kedua tinjunya. Budi lekas bangkit dan maju menyerang Trias.


namun serangan pemuda itu tak berarti apapun bagi praktisi silat tersebut. dengan cepat Trias menangkap kepalan Budi dan memuntirinya membuat Budi langsung terjingkit-jimkit kesakitan. dengan jengkel Trias mengangkat kakinya, menghadiahkan tendangan ke rusuk Budi membuat pemuda itu kembali terjengkang. namun kali ini ia mendarat dilantai.


sebagian siswa kelas 11A maju membantu Budi menyerang Trias. maka Kenzie dengan sigap membantu sahabatnya menyerang sebagian anak-anak kelas 11A itu. kedua sahabat itu mengamuk didalam kelas dan tanpa mengeluarkan banyak tenaga, keduanya berhasil membabak-belurkan semua siswa penghuni kelas 11A menggeletak memenuhi lantai ruangan kelas 11A.


adapun anak-anak siswi menghambur keluar menuju ruang dewan guru mencari perwalian mereka untuk meminta tolong menghentikan 2 anak kelas 11F yang mengamuk.


tak berapa lama, Ibu Kartin dan Pak Risno berlari menuju kelas 11A dan keduanya tertegun menyaksikan puluhan tubuh siswa yang terbaring kesakitan. Pak Risno memastikan ruangan itu dan ia terkejut melihat meja dan kursi sebagian hancur.


dengan histeris Ibu Kartin meminta Pak Risno mengamankan kedua anak bimbingannya agar dibawa ke ruangan konseling untuk pembinaan. sementara itu ratusan siswa banyak yang bergerumun disekitar lokasi kejadian. hari itu adalah awal masuk sekolah yang paling menggemparkan.


...********...


Endrawan dan Adnan duduk dengan tenang di sofa. mereka menyimak penjelasan dari Ibu Kartin yang berapi-api mempersalahkan tindakan main hakim yang dilakukan oleh Kenzie dan Trias. sementara Pak Risno dan Kepala Sekolah hanya diam memperhatikan bagaimana Ibu Kartin memperagakan segala sesuai dengan penuturan anak-anak binaannya.


setelah Ibu Kartin selesai menjelaskan segalanya, Kepala Sekolah menatapi kedua lelaki itu. "Bagaimana Bapak berdua? anda tadi sudah mendengar segala keterangan dari perwalian kelas 11A tentang tindakan anak-anak anda."


kepala sekolah itu menatapi Pak Risno yang merupakan perwalian kelas 11F. "Semestinya anda harus lebih tegas kepada anak-anak anda, Pak. mereka adalah tanggung jawab anda disekolah ini."


nada bicara kepala sekolah begitu nyata mempersalahkan Pak Risno yang dianggap lalai dan tidak mampu membina anak-anak perwaliannya. guru itu menunduk dalam.


"Saya akui, saya lalai mendidik mereka. namun, saya rasa peristiwa yang terjadi tadi pasti memiliki sebab. saya pribadi yakin bahwa kedua anak ini adalah orang tak membuat masalah jika...." ucapan Pak Risno tak berlanjut.


"Buktinya mereka membuat masalah Pak! dan semua nyata dihadapan anda bukan?" potong Ibu Kartin dengan emosi.


"Jika tidak ada pemicu yang membuat anak-anak saya bertindak diluar batas!" tekan Pak Risno menatapi Ibu Kartin dengan tajam.


Pak Risno menatapi kepala sekolah. "Jika anda menganggap saya tidak bisa mendidik anak-anak bimbingan saya, dengan ini saya siap mengundurkan diri dan melapor ke Dinas Pendidikan sebagai bentuk tanggung jawab saya... tapi, biarkan saya mengusut dan memastikan bahwa ini adalah cara untuk mendiskreditkan kelas binaan saya."


Kepala Sekolah menarik napas panjang. "Aku tak bisa memutuskan sendiri. saya harus membicarakannya segalanya dengan seluruh anggota staf Dewsn Guru. tapi untuk saat ini, saya terpaksa memberikan skors untuk anda." kata Kepala Sekolah.


"Tunggu sebentar Pak Kepala." tukas Adnan. "Anda tak boleh seenaknya membuat keputusan sepihak seperti itu. cara yang paling tepat adalah memanggil kedua anak kami untuk membeberkan alasan mereka melakukan tindakan tersebut."


"Tapi pak..." bantah kepala sekolah.


"Saya yakin anda tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi kepada sekolah yang kita cintai ini, bukan?" kata Adnan dengan senyum datar.


"Mari kita berembuk bersama mencari solusi untuk menyelesaikan masalah diantara dua guru dan dua kelas ini." kata Adnan.


Kepala Sekolah memencet nomor pada mesin telpon. ia mendekatkan gagang telpon ke mulutnya.


"Panggil dua anak itu kemari!" pinta kepala sekolah.


tak berapa lama Trias dan Kenzie masuk kedalam ruangan itu. keduanya berdiri didepan menghadap kepala sekolah, dua guru wali kelas dan kedua orang tua mereka.


kepala sekolah kemudian menatapi kedua anak itu. "Ceritakan padaku kronologinya..."


Kenzie menatapi Trias. pemuda itu mengangguk. akhirnya Kenzie maju menceritakan segalanya.


"Saya melihat Trias sedang memarahi seorang anak siswa yang membuang air sembarangan dan membasahi kemeja Trias. saya sudah berhasil melerai. tapi ternyata Budi muncul dan mulai menghujat-hujat Trias dengan sengit. karena tidak terima, Trias memukul Budi. teman-teman lainnya maju membantu maka saya juga membantu teman saya menghajar mereka." tutur Kenzie.


"Apa yang menjadi bahan hujatan Budi kepada Trias.?" todong Ibu Kartin yang langsung melangkahi kepala sekolah membuat kepala sekolah itu menatapinya dwngan berkerut.


"Budi melecehkan Trias melalui almarhummah iyun. menurut Budi, kalau saja Trias tidak bersama dengan Iyun. maka tentu Iyun ..." tutur Kenzie tak berlanjut.


"Ken, cukup!" tandas Trias.


"Begitu saja kau marah Trias? Iyun itu anak perwalianku. memang siapa dirimu begitu arogan bertindak atas nama anak itu?" tantang Ibu Kartin dengan sinis.

__ADS_1


"KARENA AKU SUAMINYA! DIA ITU ISTRIKU!!!" tandas Trias sambil memperlihatkan cincin yang melingkar dijari manisnya. []


__ADS_2