Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 145


__ADS_3

kehidupan manusia seringkali unik jika diteliti dan dipelajari oleh manusia itu sendiri. kita tak pernah menyangka bahwa apa yang kita lakukan itu akan menjadi buah yang akan kita petik dikemudian hari. penghargaan kita kepada manusia lain akan berubah penghormatan mereka kepada diri kita yang dianggap sebagai panutan.


Bapu Ridhwan telah mengarungi kehidupan beberapa dasawarsa dan telah puas dengan kehidupan itu sendiri. sejak kecil merasai penjajahan kaum nederlinder, hingga tumbuh besar menjadi pemuda yang tangguh dalam membela harkat dan martabat diri serta keluarganya.


ketika tentara Jepang menginjakkan kakinya di bumi Gorontalo, Bapu Ridhwan juga beberapa kali terjun bersama kaum petani melakukan perlawanan dibawah komando legenda pejuang bangsa, Nani Wartabone.


bahkan Nani Wartabone menjadikan Ridhwan Mantulangi sebagai salah satu letnan dalam kesatuan yang disebut pasukan rimba. dari Nani Wartabone, Ridhwan Mantulangi mempelajari seni melebur diri kedalam alam. sebenarnya tak ada sihir didalam seni itu. itu hanyalah kecakapan semacam sulap tradisional yang memadukan seni kamuflase dengan zikir-zikir tertentu.


sesakti apapun Nani Wartabone, ia akhirnya kecolongan dan ditangkap pihak Jepang dan dibuang ke Manado, membuat sebagian pasukan rimba kehilangan semangat tempur dan ikut menyerahkan diri. Ridhwan tidak melakukan itu. ia memilih pulang dan bertani.


dalam peristiwa pemaksaan rakyat menjadi romusha itulah, Ridhwan bertemu dengan Mayor Mamoru Mochizuki (Mamoru Minamoto) yang merupakan keturunan ke 178 keluarga kuno ason, Minamoto cabang Seiwa, satu galur dengan keluarga Tokugawa.


keduanya berhadapan dan Ridhwan menantangnya perang tanding. tentu saja pihak jepang menjadi panas dan Kolonel Rikishi Hijikata memerintahkan Mamoru Mochizuki menanggapi tantangan itu.


Mamoru, adalah salah satu dari anggota genyosha yang direkrut pihak militer karena kemampuan fisik dan seni beladirinya yang mumpuni. bahkan Ryohei Uchida, pendiri Kokuryukai (Kelompok Naga Hitam) yang bermarkas ditepian Sungai Amur, Manchuria mengakui kemampuan Mamoru sebagai sesama praktisi beladiri.


keduanya bertarung atas nama kehormatan. Ridhwan Mantulangi dengan prinsip penolakan Romusha, menantang Mamoru Mochizuki, seorang mayor angkatan laut, yang juga merupakan anggota Kelompok Naga Hitam.


pertarungan berlangsung alot. Mamoru seorang pakar yawara mengerahkan teknik terbaiknya menghadapi Rifhwan Mantulangi seorang praktisi langga tingkat akhir. tidak ada yang memenangkan pertarungan. keduanya sama-sama rontok karena kelelahan.


sejak itu Kolonel Rikishi Hijikata yang gila seni beladiri itu menghormati Ridhwan dan tak berani lagi menantang secara langsung. ia hanya bisa berupaya membunuh Ridhwan dengan cara mengirimkan beberapa satria jepang bertopeng ninja yang kesemuanya berhasil dibunuh dalam perkelahian untung-untungan oleh Ridhwan ketika mereka menggerebek gubuk milik pemuda itu.


selama 3 tahun militer jepang bercokol di Gorontalo, hingga akhirnya menjelang detik-detik kejatuhan bangsa jepang dalam pertempuran laut pasifik. seperti para tuan di tanah jawa, militer jepang juga merekrut pemuda-pemuda Gorontalo termasuk Ridhwan menjadi anggota Heiho.


disitulah awal persahabatan antara Mamoru dan Ridhwan. sebagai mentor, Mamoru sering berlatih bersama dengan Ridhwan untuk meningkatkan skill bertarungnya.


"Seandainya kita tidak bertemu dipertempuran... aku tak akan menemukan lelaki sekuat kamu dalam memegang prinsip." ujar Mamoru memuji kepribadian Ridhwan.


"Tuan. hidup itu hanya sekali. dan Allah memerintahkan aku untuk menerapkan keadilan. maka seperti inilah aku." timpal Ridhwan saat keduanya telah selesai berlatih beladiri.


"Ungkapkan dengan lebih cermat." pinta Mamoru dengan penuh minat.


"Innallaha ya'muru bi adli wal ihsaan, wa ita idzil qurba, wa yanha 'anil fa'sya i wal munkar, wal bagh... ya idzukum la'allakum tadzakkarun..." ujar Ridhwan menyitir ayat ke 90 dari QS. An-Nahl. "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, membantu kerabat, melarang kekejian, kemunkaran dan permusuhan... Allah mengajarkanmu agar kamu dapat mengambil pelajaran."


Mamoru terdiam. keterangan dari Ridhwan berupa terjemahan ayat ke 90 dari Surah An-Nahl itu menggugah hatinya. tanpa terasa kelopak mata lelaki itu basah dan sebagiannya mengalir turun membasahi pipinya.


Ridhwan tersenyum dan menampar-nampar bahu sahabatnya dengan lembut. "Setahuku... kalian menerapkan paham bushido yang membuat kalian rela melakukan jibaku dan seppuku untuk mempertahankan prinsip. apakah kamu nggak sadar, bahwa ayat ini mirip dengan beberapa ajaran dalam paham bushido?" pancing Ridhwan.


Mamoru mengangguk. "Kau benar, Ridho-Yuujin." ujarnya memanggil Ridhwan dengan sebutan itu. "Aku bahkan mengira kau seorang samurai saat mempertahankan prinsipmu saat pertarungan perdana kita itu."


"Mamoru Kun, keadilan adalah dasar dari seni beladiri. jika mereka tak mengganggumu, untuk apa mengganggu mereka?" pancing Ridhwan.


persahabatan kedua lelaki berbeda bangsa dan bahasa itu makin erat hingga akhirnya ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki mengakhiri keakraban itu. jepang takluk tanpa syarat membuat keberadaan mereka di Gorontalo harus ditarik pulang oleh Armada Sekutu.


beberapa hari sebelum penarikan itu, Mamoru mendatangi Ridhwan. ia menenteng gunto kesayangannya, dan mengenakan seragam resminya yang coklat itu. dengan suguhan ubi rebus, keduanya bercengkerama.


"Minggu depan, aku akan pulang ke kampung halamanku." ujar Mamoru dengan senyum getir. "Kau tak akan lagi melihatku sejak saat itu."


Ridhwan hanya diam membiarkan Mamoru bicara. lelaki itu menunduk. Mamoru menatapnya.

__ADS_1


"Ridho-Yuujin... bagaimana kalau kita meresmikan persaudaraan. bagaimana menurutmu?" pancing Mamoru.


"Kita memang seperti saudara." ujar Ridhwan.


"Bagus... besok kita akan melakukan upacara Sakazuki-goto." ujar Mamoru sembari bangkit.


"Apa itu Sakazuki-goto?" tanya Ridhwan.


"Upacara pengresmian saudara angkat." jawab Mamoru sekenanya. "Besok aku akan mengajak beberapa sahabatku untuk menyaksikan upacara yang kita berdua lakukan. kita akan bertemu lagi disini diwaktu yang sama."


Ridhwan hanya bisa mengangguk saja.


...*******...


upacara Sakazuki-goto yang dilakukan oleh kaum genyosha diterapkan digubuk sederhana itu. Ridhwan dan Mamoru melakukan upacara minum bertukar cangkir. mulanya Mamoru menyeruput isi cangkir itu lalu kelima sahabatnya bergantian menyeruput sake dalam cangkir tersebut. terakhir, cangkir dengan sake yang tinggal seseruput diserahkan kepada Ridhwan.


pemuda itu mencium bau alkohol keras dalam cangkir itu. ia ragu meminumnya. Mamoru menatapnya.


"Sekali ini saja, Ridho-Yuujin." pinta Mamoru.


akhirnya Ridhwan menguatkan hati dan lidahnya menyerap khamr yang bukan produk lokal semacam bohito. setelah menghabiskan isi cangkir itu, dengan bantuan tiga orang, mereka melukiskan irezumi ke sekujur tubuh Ridhwan. alat perajahnya hanyalah sebatang jarum yang ditusukkan berkali-kali lalu dibasahi tinta khusus hingga akhirnya rampunglah kegiatan itu.


"Sekarang, kita telah menjadi saudara, Ridho-Yuujin." ujar Mamoru kemudian menyerahkan gunto miliknya ketangan Ridhwan dengan sikap formal dan membungkuk takzim menundukkan wajah.


Ridhwan menerima gunto itu. Mamoru menegakkan tubuh dan wajahnya. "Kutitipkan pedangku padamu. mungkin kita nggak akan bertemu lagi. namun, aku janjikan kepadamu satu hal Ridho-Yuujin."


Ridhwan sejenak menatap gunto yang tergenggam ditangannya, kemudian menatap lagi Mamoru.


"Akan dipenuhi janjimu." jawab Ridhwan, "Aku akan menunggu keturunan kamu datang menyambangiku. benda ini adalah titipan. dialah kedepan yang akan menyandangnya."


Mamoru tersenyum lalu mengangguk. beberapa hari kemudian kapal perang Sekutu mendarat di Kwandang. seluruh personil militer Jepang diangkut dan dibawa pulang ke negerinya. diatas dek kapal, Mamoru hanya bisa menatap hamparan tanah Kwandang yang ditinggalkannya. Ridhwan sendiri hanya menatapnya dengan tatapan datar. tapi dalam hati pemuda itu ada celah kosong yang terasa hampa dan sakit saat sahabatnya pergi meninggalkannya.


...******...


Gorontalo, 30 Mei 2023. Kediaman Mantulangi, Suwawa.


Bapu Ridhwan sakit keras!


semua anggota keluarga Mantulangi dalam keadaan duka yang dalam. lelaki berusia ratusan tahun itu merupakan sosok paling dihormati, digugu dan ditiru oleh anak-anak anggota keluarga Mantulangi lainnya.


Mariana yang sejak kemarin dihubungi telah berada di Kediaman Mantulangi saat itu. Adnan sendiri juga hadir, Aisyah dan suaminya, Bakri juga. tinggal Chiyome dan Kenzie yang belum muncul. semua anggota keluarga, bahkan dari pelosok terjauh pun, telah hadir.


dalam pembaringannya, nampak lelaki berkulit legam itu menderita disetiap tarikan napas. nyawanya seakan belum mau oncat. serasa ada yang dinantikannya. beberapa orang tua yang pintar juga ada beberapa ulama terkenal datang menyambang. semuanya berkesimpulan sama.


"Siapa anggota keluarga keluarga yang belum hadir?" tanya salah satu sarada'a itu kepada salah seorang anggota keluarga Mantulangi yang tertua.


"Kenzie... dan istrinya..." jawab wanita itu.


"Kiranya tentu kedua anak itu yang ditunggunya." ujar ulama itu menambah tangis dan keluh anggota keluarga Mantulangi yang lain.

__ADS_1


Adnan mendekati Bakri yang berdiri menyandar ditiang pintu memandangi beberapa orang yang sementara membangun tenda dan menghiasinya dengan janur kuning. sebagian lainnya membuat beberapa benda adat semacam tangga sulam, pagar model mulut buaya yang menganga. warga desa itu sibuk mengadakan molalunga.


"Kamu sudah hubungi Ken-ken?" bisik Adnan.


"Dalam perjalanan kemari." ujar Bakri. "Dia bahkan menyewa unit patroli jalanan kepolisian untuk mengamankan jalur Marisa-Suwawa. pasalnya Papa tahu kan, Kenzie mengendarai apa?"


Adnan diam. supercar Mc Laren Pirelli 1 memang memiliki kecepatan maksimum diatas rata-rata. mobil-mobil pabrikan lokal akan ditertawai oleh kendaraan berpajak istimewa itu. dalam bayangan Adnan, tentulah sekarang UPT kepolisian yang kebanyakan berjenis BMW dan Mitsubishi Lancer itu justru malah kejar-kejaran dengan Mc Laren P1 kuning milik Kenzie itu.


beberapa jam kemudian, orang yang ditunggu tiba. bunyi sirene dan lampu sokle biru yang menari-nari diatas kap mobil UPT kepolisian Bonebolango tiba bersamaan dengan keberadaan Mc Laren P1 kuning itu. empat buah mobil berhenti kaget mendecit ditengah jalan sedikit membubarkan rakyat yang berkerumun.


Kenzie dan Chiyome keluar bergegas dan berlari memasuki halaman kediaman Mantulangi. keduanya disambut isak tangis anggota keluarga.


"Ayo masuk nak. Bapu menunggu kalian." ujar Mariana.


Kenzie dan Chiyome bergegas masuk kekamar, menyibak sebagian anggota keluarga dan warga yang masih betah berdiam disana menemani Bapu Ridhwan yang sekarat.


"Menyingkir! menyingkir!" hardik salah satu anggota keluarga ketika melihat Kenzie dan Chiyome muncul. mereka memberi jalan. kedua laki istri itu langsung duduk bersimpuh.


"Bapu... Bapu... ini kami... ini kami..." sedu Kenzie sedang Chiyome tak mampu bersuara lagi dan hanya menumpahkan tangisnya.


mata Bapu Ridhwan perlahan membuka, jelalatan melihat sekitar lalu berhenti pada sosok buyut yang dirindukannya. sejenak mulut Bapu Ridhwan membuka, namun tak mengeluarkan suara. seakan ada yang ingin disampaikan namun tak mampu disuarakan.


Kenzie paham. ia mengerahkan tenaga dalamnya. mengisi rongga dada dengan energi kemudian menyalurkannya ke telinga dan mata. ia melakukan telepati.


Uyong... Bapu sudah mau pergi. sudah tiba saatku meninggalkan kamu... batin Bapu Ridhwan melalui isyarat matanya.


Ken tahu Bapu. tenangkanlah hati Bapu. jangan memikirkan apa-apa lagi. Ken dan Chiyome mengikhlaskan Bapu pergi.. jawab Kenzie kemudian ia menangis. sementara Chiyome hanya bisa menumpahkan tangisnya saat melakukan hal yang sama dengan suaminya. melakukan pembicaraan batin dengan kakek buyut itu.


Bapu Ridhwan menatap Chiyome, Nou... Bapu sudah melihat sahabat Bapu... Kakek buyutmu... Mamoru... berdiri dibelakangmu... ahhh... dia tersenyum nou... dia tersenyum padaku... ahhh... dia mengulurkan tangannya... dia memanggilku.. ujar Bapu Ridhwan dalam isyarat tatapan yang sudah basah dengan air mata.


jemari lentik Chiyome terulur dan menyentuh tangan Bapu Ridhwan.


Bapu.... Chiyo... ikhlas melepas... jangan beratkan hati Bapu... jawab Chiyome dalam percakapan batinnya.


sementara beberapa warga yang duduk mentalkin sang calon mayit ini dengan kalimat syahadat. dibacakan setengah berbisik ditelinga Bapu Ridhwan.


Senyum tersungging dan Bapu Ridhwan menghela napas panjang. ia memejamkan mata dan begitu melepaskan napasnya, kakek buyut itu juga melepaskan nyawanya. lama hening suasana dalam kamar itu. beberapa saat kemudian tangis anggota keluarga pecah.


sebagian anggota keluarga, terutama wanita bertindak jahiliyah, memukul dada dan menarik-narik rambut, meratap dengan suara keras kemudian ditenangkan oleh yang lainnya.


Mariana sendiri hanya menangis tanpa suara bersandar dibahu kekar Adnan yang diam namun wajahnya telah basah dengan air mata. Kenzie dan Chiyome memeluk jenazah Bapu Ridhwan dan menumpahkan tangisnya.


tak lama kemudian terdengar suara khas motor gede. Trias beserta Saripah mengendarai Honda CBR, tiba disana. pemuda itu masih mengenakan PDH siswa seba SPN Batudaa. saat bertemu seniornya, para anggota UPT kepolisian Bonebolango, pemuda itu menghormat dan memberotahu kedatangannya untuk melayat.


salah satu anggota polisi itu mengangguk. Trias langsung berlari diikuti Saripah masuk kedalam rumah, langsung ke kamar. dia mendapati Kenzie dan Chiyome disana sedang memeluk jenazah Bapu Ridhwan.


kedua pasangan itu, kemudian duduk disisi Kenzie dan Chiyome. Trias mengambil posisi disamping Kenzie dan menyapu punggungnya menenangkan sahabat karibnya itu sedang Chiyome yang melihat Saripah kemudian memeluk. keduanya bertangisan.


"Ken. sudah cukup. Bapu sudah pergi. relakan beliau." ujar Trias dengan suara gemetar. Kenzie menegakkan tubuhnya dan duduk menatap wajah yang tenang dalam tidur panjangnya itu.

__ADS_1


Trias kemudian menyentuh dada jenazah. ia berucap. "Alhamdulillah... Bapu sudah bebas dari urusan dunia. beliau tinggal memetik hasil amal ibadahnya di Barzakh.... Innalillahi... Wa inna ilaihi roji'uun... kepada Allah kita bermula... dan kepada Allah kita bersua...Bapu... Saya sedih kehilangan Bapu..."


setelah itu Trias melepaskan emosi tanpa suara. tangisnya pecah dan tubuhnya gemetar. wajah kedua lelaki itu mengeras menatap wajah Bapu Ridhwan yang tenang itu dengan mata yang telah basah dengan airmata.[]


__ADS_2