Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 120


__ADS_3

Di kegelapan malam


Bintang gemintang bertebar diarunika


Kita memandang mereka yang mengambang bebas


Bagaikan engkau dan aku


Terkadang kau merasakan sepi


Namun ku kan mendekat hanya untuk menatapmu


Kau nggak sendiri, aku bersama


genggamlah aku, dan kita campakkan realita


Kamulah simfoniku... disisimu... kita menyatu


Kamulah kekuatanku... cahaya penuntunku


Kita menyatu....


Meski hujan turun deras


Dan Halilintar menggelegar


Petir yang bangunkan ombak


namun melaluinya, kitalah pemberani


Terkadang seorang kan kesepian


Namun ku 'kan mendekat untuk menatapmu


Kau nggak sendiri, ku bersama


genggam tanganku dan kita hamburkan realita


Kamulah..... simfoniku... disisimu... kita menyatu


Kamulah.... energiku... kirana pelindungku... kita menyatu


Kamulah... dendanganku... bersamamu... kita menyatu


Kamulah.. energiku... disisimu...


Kita menyatu.......


^^^(Terjemahan 'We are Unity' - Alan Walker)^^^


Adnan membuang pandang kembali menatap lewat jendela pintu ruangan rawat inap. nampaklah Aisyah yang menyuapi Bakri dengan telaten, makanan dari dapur rumah sakit yang diperuntukkan bagi pasien.


nampaklah Bakri yang sesekali tersenyum dan mengangguk, ketika Aisyah mengajaknya berbincang. entah apa yang mereka perbincangkan. begitu intim, begitu hangat, dan nyata Adnan dapat melihat ada pancaran cinta kasih yang yang begitu nyata disetiap tatapan yang mereka hampar.


putriku... mengapa kau begitu bodoh... apakah harus melewati hal semacam ini... baru kau menyadari betapa kalian adalah pasangan?


lelaki itu menggelengkan kepalanya berkali-kali lalu kembali melangkah menuju bangku panjang dikoridor. ia duduk lagi. tak lama ia mendapatkan panggilan. Adnan merogoh ponsel dan memperhatikan layar sentuhnya. alisnya sedikit bertaut. lelaki itu mengaktifkan panggilan.


📲 "Assalam alaikum Ken, kenapa?" tanya Adnan.


📲 "Om Gode sudah datang. dia katanya nyari Papa." jawab Kenzie. 'Om Gode' adalah kata sandang olokan untuk Kartono karena tubuhnya agak gempal mirip seekor beruang.


📲 "Bilang sama dia, suruh ke Aloei Saboe Irina B. Papa tunggu di koridor." pinta Adnan kemudian lelaki itu memutuskan sambungan seluler.


Mariana lagi keluar membeli makanan untuk Bakri, menjaga kalau logistik dari dapur rumah sakit terlambat tiba. Adnan sedari tadi tidak tenang. lelaki itu tak kerasan duduk dikursi panjang itu, bangkit dan berjalan mondar-mandir.


tak lama muncul lelaki yang ditunggunya. lelaki berpostir mirip beruang itu muncul dan mendekat. melihat Adnan berdiri dilorong itu, ia segera mendekat.


"Kenapa kamu kok kelihatan gelisah sekali?" tanya pria besar itu. keduanya berhadapan, nampak bahwa Kartono sedikit lebih kekar darinya, hanya saja perutnya yang membuncit sedikit kedepan mengurangi sedikit penampilan. dalam hal ini Adnan sedikit lebih ramping dari lelaki itu.


"Acara apa sih yang kau hadiri?" tanya Adnan.


"Ya... biasa, yang namanya orang bergelut didunia pendidikan ya begitu juga yang dihadirinya." jawab Karyono sekenanya, "Kenapa sih?" lelaki itu kembali bertanya.


Adnan menghela napas sejenak lalu mengungkap, "Ada yang mau cari gara-gara dengan keluargaku."


"Wajar..." jawab Kartono dengan tenang membuat Adnan mengerutkan alisnya.


"Bang, aku serius." tukas Adnan dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Ya siapa yang bilang dua rius?" balas Kartono. "Yang namanya pengusaha pasti banyak lawan. jangan ditanya, yang jelas selama ia memimpin perusahaan ia pasti akan menemui hal-hal semacam itu."


"Dalam hal ini, bukan lawan-lawanku. mereka sudah kubungkam." tandas Adnan.


"Lalu?" tanya Kartono.


"Bekas menantuku. dia meneror Aisyah dan Bakri." jawab Adnan.


"Tunggu, tunggu," sela Kartono, "Aisyah sudah menikah? sejak kapan? kok aku nggak dengar beritanya?" suara lelaki itu agak meninggi.


"Dia kunikahkan secara sederhana karena suatu sebab yang tak bisa kusampaikan padamu." jawab Adnan.


"Nando..." sebut Kartono menyebut nama panggilan Adnan sewaktu kecil. "Kita ini keluarga beradat... setidaknya kau kasih tahu aku. pernikahan Kenzie saja kau beritakan padaku meskipun aku berhalangan hadir." tegur lelaki itu.


"Okey, aku salah. aku minta maaf." kata Adnan langsung menangkupkan tangannya.


Kartono hanya bisa menghela napas. "Okey, sekarang apa?" tanya lelaki itu lagi.


"Aku akan menikahkan Aisyah dengan Bakri." kata Adnan.


"Bagus." komentar Kartono.


"Aku akan menitipkan mereka kepadamu." kata Adnan kembali.


"Mengapa?" tanya Kartono sambil melipat tangannya ke dada.


"Mengamankan mereka berdua dari Stefan." jawab Adnan.


Kartono menghela napas. "Bisa saja. aku akan mempersiapkannya. tenang saja. mereka akan aman bersamaku." ujar lelaki itu dengan mantap.


"Makasih bang." jawab Adnan.


Kartono hanya bisa mengangguk.


...******...


Siang terik menyorot hamparan tanah Gorontalo. Pasar Sentral bergulat dengan keramaian pengunjungnya. namun ada hal yang menarik di stan penjualan daging. Adnan menyandarkan punggungnya ke tiang stan jualan sementara Endrawan yang bertelanjang dada yang dibalutnya dengan celemek sedang bertengkar dengan seseorang lewat ponsel.


"Sudalo, sudalo, sudalolo." kata Endrawan sambil meletakkan golok pemotong daging. sementara Adnan hanya cekikikan dan menahan mulutnya agar tawanya tidak terdengar. (Sudahlah, sudahlah, sudahlah)


"Sudalo lo pilomama lo hutamu, lo buta'a ombonguma ti.****" balas seseorang itu yang kelihatannya seorang wanita. ***) kata-kata umpatan dalam bahasa gorontalo.


"Wa'u didu mo bisala, sudalo." kata Endrawan menumpangkan tangannya ke tiang stan. (Aku sudah nggak mau bicara lagi. sudahlah)


"Tunggu, lagi mo bicara dengan taman kita." kata Endrawan. (tunggu, aku masih ada tamu.)


"Bolo pateyilo, bolo pateyilo. harapumu ja m'na'o wa'u lombu?" ancam wanita itu. "Bo dulo pulu limo libu pomayari'u oto, ja po data huangango!" umpatnya. (Coba kau matikan, coba kau matikan, kau pikir aku nggak akan ketempatmu besok? hanya 25 ribu ongkos kesana. jangan banyak omong kosong kau!)


"Bolo pobisalalo yi'o tutu wewu." olok Endrawan yang sudah jengkel sementara Adnan kembali menahan tawanya sengan susah payah. (Bicara saja kamu sendirian.)


"Pilo mamalo hutamu lo buta'a ambungamu lo tinggolopumu****" wanita itu kembali mengumpat. "Tahu'a yilate ma yi'o....Didu mo piyohe nyawa'u to'lemu." (mati saja kau! nggak pernah berhenti sakit hatiku padamu.)


lama suara hening, hingga wanita itu kembali bicara, "Pata'a ja mo hualingai yi'o?" tanya wanita itu masih dengan nada kasar. "Mo ba kirim dialu doi wa'u." (Jadi kau nggak akan pulang? kirimkan uang, aku nggak punya apa-apa lagi.)


"Jo bo odito po bisala mai?" olok Endrawan. (Bukan itu yang kita bahas, kan?)


kembali terdengar kata-kata umpatan yang lebih kasar membuat Endrawan dan Adnan cekikikan sambil menahan mulutnya.


"Longola wa'u po palatomu to nyawa, tolamu ma wawu wa'u po terengimu to HP wa?" umpat wanita itu lagi, "O debo po arbalo yi'o ti." (Kenapa aku selalu kau sakiti hati, kau tinggalkan aku dan kau panas-panasi aku lewat ponsel ha? lama-lama ku bacakan doa arwah kau ya?)


"Donggo tumu-tumulo wa'u yilongola po jalalomu wa'u, yi'o?!" balas Endrawan dengan suara meninggi. (Masih hidup aku, mengapa sudah kau sumpahi mati?!)


Adnan makin susah payah mendengar wanita itu menyumpahi Endrawan. lelaki botak itu langsung memutuskan sambungan seluler dan menon-aktifkan gawainya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Siapa sih itu?" tanya Adnan masih menekan perutnya karena susah payah menahan tawa.


"Ja tawa tan ma tita." jawab Endrawan dengan kesal. (Nggak tahu siapa.)


"Pubermu itu belum hilang?" olok Adnan.


Endrawan hanya mengangkat bahu lalu menatap Adnan dengan serius.


"Jadi sudah bulat tekadmu menikahkan mereka dan menitipkan mereka pada kerabat jauhmu?" tanya Endi.


Adnan mengangguk.


"Semoga saja tidak akan terjadi apa-apa." kata Endi. "Aku sendiri sekarang pusing. berapapun anak buahku disebar, sampai sekarang keberadaan anak brengsek itu tak kunjung kutemukan." keluhnya.


"Santai saja." kata Adnan. "Begitu Bakri keluar dari rumah sakit, aku akan menikahkan mereka."

__ADS_1


"Mereka sudah tahu?" tanya Endi.


"Siapa?" Adnan balas bertanya.


"Anak perempuanmu. dia sudah tahu akan dinikahkan dengan Bakri? jangan terlalu kesusu membuat keputusan." pesan Endi.


"Mudah-mudahan tidak." kata Adnan, "Tujuanku sekarang adalah memberikan Aisyah, seorang penjaga yang nantinya bisa melindunginya dari Stefan. orang ini gila. aku nggak nyangka menikahkan Aisyah dengan seorang psikopat."


"Mau bagaimana lagi?" kata Endi mengangkat bahunya.


...******...


Kenzie dan Chiyome terkejut ketika mendapati tidak ada nama Puspita di daftar siswa alumni tahun 2021. keduanyan saling berpandangan. kepala tata usaha itu juga menggeleng ketika Kenzie memperlihatkan foto Puspita kepada lelaki itu.


"Aku nggak mengenalnya." kata kepala tata usaha.


"Tapi dia hadir di acara perpisahan." kata Kenzie berkeras.


"Bisa saja dia kerabat dari salah satu alumni?" kata kepala Tata Usaha mematahkan asumsi yang dibangun sendiri oleh Kenzie dan Chiyome.


masuk akal. bahkan terlalu masuk akal. tapi kenapa kecurigaanku tidak sedikitpun hilang? batin Chiyome.


Kenzie mengusap wajah sejenak lalu mengulurkan tangan. "Makasih atas informasinya."


kepala Tata usaha itu menyalami Kenzie. lelaki itu kemudian berbalik meninggalkan ruangan diikuti oleh istrinya. sepeninggal Kenzie dan Chiyome, Kabid Tata Usaha itu mengeluarkan gawai dan menghubungi seseorang.


📲 "Sebaiknya kamu berhati-hati. orang itu sudah curiga.


📲 "Baiklah, terima kasih. aku transfer uangmu sekarang."


...******...


You are... my shimpony... be your side... we are unity🎶


Yau are... my energi... a guardin' light... we are unity🎶


lagu itu terus mengalun dari ponsel yang digenggam Aisyah ketika ia tertidur kerena lelah, menyandarkan tubuhnya pada ranjang dan tertidur menelungkup disana.


Bakri mengulurkan tangannya membelai jilbab Aisyah, kemudian meraih ponsel dalam genggaman wanita itu dan meletakkannya di nakas.


lelaki itu tersenyum lalu memandangi tubuhnya yang mulai membaik. lebam dan memar sudah samar dan kekuatan fisiknya sudah kembali sediakala meskipun belum sempurna. lelaki itu bangun ketika tanpa sengaja menyenggol tubuh Aisyah membuat wanita itu terbangun.


"Oh, kau sudah bangun?" tanya wanita itu dengan serak lalu menguap sesukanya.


"Kamu kenapa nggak ikut Bapak ke rumah?" tanya Bakri, "Aku baik-baik saja."


"Aku memaksa tinggal. aku nggak mau meninggalkanmu." jawab Aisyah dengan polos.


Bakri tertawa, "Kenapa harus secemas itu? aku baik-baik saja."


"Tapi aku yang nggak baik-baik saja." kata Aisyah, "Kamu jadi begini gara-gara aku. Evan selamanya tak akan membiarkan siapapun mendekatiku, termasuk kamu."


"Aku mau lihat seberapa jantannya dia menghadapiku. ia lebih banyak bersembunyi seperti banci atau badut komidi." ujar Bakri mengolok dengan jengkel.


"Bakri, ini nggak segampang yang kau pikirkan." kata Aisyah.


"Aku heran, mengapa ia jadi sebejat itu? apakah hanya karena kami berhasil memaksanya menikahimu?" tukas Bakri, "Ais... dimana kamu menemukan manusia purba itu?" suara lelaki itu meninggi.


Aisyah menunduk. Bakri memalingkan wajah dan menghela napas panjang. lelaki itu kemudian menunduk.


"Maafkan aku." desah Bakri dengan pelan.


Aisyah mengangkat wajah. "Kamu nggak salah." ujarnya dengan senyum tipis dan wanita itu kemudian bangkit lalu meraih ponsel di nakas dan berbalik melangkah menuju pintu.


"Ais!" panggil Bakri.


langkah wanita itu tertahan. Aisyah kemudian berbalik menghadapkan kembali tubuh dan wajahnya kepada Bakri yang sudah berdiri disisi ranjang.


"Istirahatlah Bakri. kamu belum terlalu sehat." kata Aisyah.


perlahan tangan Bakri terulur kearah kepada Aisyah. wajah itu memapar senyum.


"Seperti lagu yang terlantun di gawaimu itu... aku akan menegaskannya..." ujar Bakri, "Terkadang seorang yang kesepian... Tapi, aku akan mendekatimu... hanya untuk menatap wajahmu..."


perlahan kelopak mata gadis itu mengalirkan tetes demi tetes airmata yang mengalir dipipinya. Bakri melanjutkan ucapannya.


"Kamu tak sendiri.... kita adalah keluarga..." ujar Bakri masih terus mengulurkan tangannya, "Genggam jemariku Ais, marilah kita campakkan realita ini."


dengan keharuan yang menyelinap di sanubarinya, Wanita itu melangkah dan menyambut uluran tangan lelaki itu kemudian memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Kita menyatu, Bakri..." ucap Aisyah ditengah sedu bahagianya.


"Kita menyatu, Ais." balas Bakri senyum, balas memeluk kekasihnya dengan lembut. []


__ADS_2