
Gadis itu memandangi tangga yang menjulang dengan takjub. Kenzie berdiri disisinya.
"Menakjubkan?" pancing Kenzie sambil menatapi Chiyome. tanpa menoleh, gadis itu mengangguk pelan.
"Benteng ini dibangun oleh kerajaan Gorontalo dibawah kepemimpinan Ju Panggola, bekerja sama dengan orang Portugis. perekatnya hanya menggunakan isi telur burung maleo (Macrochepalon Maleo). benteng ini menjadi pusat pertahanan utama dimasa jenderal Naha. sekarang situs ini diawasi dan dikelola oleh kementerian pariwisata."
Chiyome tetap menatapi tangga yang menjulang. Kenzie menatapinya. "Mau menjajal tangganya?" tantang pemuda itu.
"Kamu sanggup?" tanya Chiyome menatapi Kenzie dengan sangsi. Kenzie tertawa, kelelakiannya tersinggung.
"Aku kan laki-laki, pasti sanggup. ayo!" ajak Kenzie.
Chiyome mengangguk lalu keduanya berjalan dan mulai meniti anak tangga satu persatu. Kenzie kembali melanjutkan keterangannya.
"Benteng ini terdiri atas tiga bagian. bagian inti disebut Otanaha. bagian kedua disamping benteng Otanaha disebut Otahiya, nama yang diambil dari nama Jenderal Naha. kemudian benteng ketiga terletak agak jauh dan agak rendah, disebut Ulupahu, diambil dari nama putra Jenderal Naha." papar Kenzie.
"Kau lebih cocok jadi tour guide." sindir Chiyome sambil tersenyum.
"Mirip?" tanya Kenzie.
"Mirip. apalagi wajahmu bisa membuat wisatawan-wisatawan enggan pulang ke negaranya." jawab Chiyome sambil tertawa kecil.
"Sepertinya kamu cemburu deh." goda Kenzie.
Chiyome tertawa lagi sambil terus meniti anak tangga ditemani Kenzie.
"Tangga yang kita naiki ini berjumlah 300 undakan dan memiliki 7 pos. benteng ini sengaja dibangun dipegunungan untuk menyulitkan para penyerang dan jumlah tangga yang banyak akan meruntuhkan semangat para penyerang untuk mendakinya." papar Kenzie yang mulai terdengar ngos-ngosan. mereka sudah menapaki anak tangga ke 78.
"Kau lelah? mari kita istirahat." kata Chiyome.
"Jangan. kamu tahu, kata orang-orang tua dulu. kalau menaiki tangga ini menuju puncak, jangan istirahat karena kalau beristirahat dijamin apa yang kita inginkan tidak akan terkabul." jawab Kenzie. "Kalau kamu?"
"Aku nggak pernah menyerah untuk mendaki tangga ini." tandas Chiyome.
"Kau tidak akan pernah menyerah, karena aku disampingmu." kata Kenzie sambil tersenyum lebar.
Chiyome mengangguk dan tersenyum. keduanya kembali meniti tangga. Kenzie terus memaksakan dirinya karena gengsi melihat Chiyome tak sedikitpun memperlihatkan lelah. gadis itu sangat bersemangat.
Chiyome menatapi Kenzie yang menyembunyikan tarikan napasnya yang mulai memburu.
"Jika tak mampu, jangan dipaksakan." tegur Chiyome yang mulai iba.
"Aku masih mampu!" tandas Kenzie.
aduuuh... bikin malu saja... masa aku bisa kalah dari dia? aku harus kuat... memalukan, lelaki bisa dikalahkan perempuan...
meski dengan napas yang memburu, Kenzie terus mendaki hingga melewati pos ke 6, dan berupaya terus mendaki agar bisa mencapai pos ke 7. pandangannya mulai berkunang-kunang. Chiyome dengan cepat menjajari kekasihnya yang mulai oleng dan memapahnya.
"Kan sudah kubilang, kalau nggak mampu jangan dipaksakan." omel Chiyome.
Kenzie menggeleng sambil senyum, "Aku seorang petarung. hal ini akan kuanggap sebagai bagian dari penempaan fisik." elaknya sambil tersenyum.
Kenzie kembali melangkah, kali ini dengan berpegangan pada tiang tangga. harga dirinya sebagai lelaki ia pertaruhkan agar tidak merasa rendah dihadapan Chiyome. gadis itu menggeleng-geleng dan kembali melangkah menjajari pemuda itu. mereka akhirnya tiba di pos ke 7 dan terus mendaki hingga mencapai pintu masuk benteng.
mereka sekarang berdiri ditengah hamparan tanah yang dilingkari tembok batu setinggi dada. Kenzie mengembangkan tangannya.
"Legaaaaaaaa....." teriak Kenzie dengan senang.
Chiyome tertawa melihat gaya pemuda itu. keduanya melangkah ke tepian. mereka menyandarkan diri ke dinding benteng.
Chiyome menatapi 2/3 pemadangan wilayah Gorontalo. dibagian barat terpampang pegunungan Boliyohuto yang membentang dari Paguyaman hingga Pohuwato. dibagian utara terlihat gunung tinggi yang memisahkan Isimu dengan Uanengo (kwandang). diwilayah timur nampak 2 dari 3 puncak gunung Tilongkabila. gunung itu berbatasan dengan kabupaten Bolaang Mongondow dan cagar alam bogani.
ditengah hamparan yang terletak dibawah benteng, nampak permadani alam berwarna hijau yang kadang terhalang silau kemilau atap-atap rumah warga. hamparan air yang mulai mengering dari danau limboto, sebagian wilayah danau itu telah dijajah oleh tanaman eceng gondok dan kangkung getah.
Kenzie merasakan pelukan dari belakang. Chiyome mendekatkan wajahnya dan berbisik.
"Terima kasih telah membawaku ke tempat indah ini."
...*******...
lain dengan Kenzie yang sementara membawa Chiyome ke Benteng Otanaha, Trias meminta ijin kepada Murad Gobel, ayahnya Iyun, untuk membawa gadis itu jalan-jalan.
__ADS_1
"Ingat, jangan sampai malam. Isya sudah balik ya?" pesan Murad kepada Trias.
pemuda itu membungkuk datar mengiyakan permintaan pria itu. ia juga tahu diri. tak mungkin bawa-bawa gadis jilbaber sampe malam.
keduanya naik bentor menyusuri jalanan kota kemudian putar-putar hingga akhirnya menuju ke restoran Mawar Sharon dan mampir disana.
"Kamu duduk disitu." kata Iyun menunjuk kursi diseberang mejanya.
"Kok disitu sih, Yang. aku kan maunya berdua sama kamu." ujar Trias.
"Duduk saja dulu." pinta Iyun.
dengan ogah-ogahan Trias akhirnya duduk di kursi yang ditunjuk oleh Iyun.
"Kenapa sih harus duduk disini. kalau disitu enak tuh dekat sama kamu." omel Trias sambil menunjuk kursi disamping Iyun yang kosong.
"Kalau kamu duduk disisiku, trus ada cewek yang lewat. kamu pasti akan melihatnya, dan aku tak bisa mencegahnya. tapi, kalau kamu duduk didepanku, yang ada dalam tatapanmu hanya aku dan kau takkan pernah berpikir untuk menatapi wanita lain." jawab Iyun sambil senyum.
Trias terdiam dengan hujjah yang diucapkan kekasihnya itu. pemuda itu kemudian tersenyum.
"Segitunya kamu, Yun. masih cemburu juga sama aku. aku janji nggak akan melirik siapapun kecuali kamu." kata Trias pura-pura merajuk.
Iyun tersenyum. "Kamu tau nggak hewan apa yang melambangkan cinta dan kasih sayang?"
"Kalau itu aku sudah tau dari dulu." kata Trias sambil terkekeh. "Merpati, kan? ada juga Tarkuku (Tekukur)."
"Kalau hewan endemik, mana yang melambangkan cinta?" pancing Iyun.
Trias menerawang sejenak lalu menatapi Iyun. "Kayaknya Anoa, deh... atau Tendelenga (kukang)" tebak pemuda itu.
"Aku serius Tri..." kata Iyun dengan wajah cemberut.
"Okey, aku ngalah. aku nggak tau. swear, aku nggak pintar kayak kamu. aku hanya pintar menghamburkan gigi orang dan mematahkan tulangnya." jawab Trias dengan jujur.
"Kamu tau tentang burung Maleo, nggak?" pancing Iyun.
Iyun tersenyum. "Burung Maleo adalah lambang kesetiaan. kau tahu kenapa?" pancing Iyun lagi.
"Katakanlah..." pinta Trias.
"Burung Maleo lebih memilih hidup dengan pasangannya, seumur hidupnya ketimbang bergabung dengan maleo lainnya dan membentuk koloni. dan Maleo, tidak akan pernah menerapkan poligami. ia akan terus berada dengan pasangannya hingga seumur hidupnya." tutur Iyun.
Trias menatapi kekasihnya dengan tatapan penuh makna. setelah gadis itu menyelesaikan presentasinya tentang burung Maleo, pemuda itu melipat tangannya ke dada.
"Yun. jujurlah padaku." kata Trias dengan suara datar.
Iyun menatapi pemuda itu sambil mengangkat alisnya. Trias menghela napas.
"Apa maksudmu bawa-bawa burung Maleo kedalam acara makan kita ini?" tanya Trias dengan suara yang datar tapi menekan.
Iyun sejenak menunduk lalu mengangkat lagi wajahnya. "Kamu nggak suka?"
Trias tersenyum, "Bukan... aku suka mendengarkan kau bicara... hanya saja tiba-tiba menyentil tentang burung Maleo, tentang kesetiaan..."
Trias berhenti sejenak menatapi beberapa pengunjung yang memasuki restoran itu. kemudian pemuda itu kembali menatapi Iyun.
"Aku jujur tersindir dengan burung Maleo itu." ungkap Trias dengan polos.
"Oh ya?" kata Iyun kemudian tersenyum. "Apa yang membuatmu merasa minder dihadapan si Maleo ini?" todong jilbaber itu.
"Tentang kesetiaan Maleo jantan kepada betinanya." ungkap pemuda itu lagi.
"Kau merasa nggak mampu melakukannya?" pancing Iyun.
"Kok kita berdebat tentang itu sih, kayak udah nikahan saja. kamu kira setelah kita nikah aku akan berpoligami, begitu? nggak ada dikamusku begitu. kamu tenang aja. ngurus kamu saja aku malingtuang (jungkir balik) setengah mati, apalagi kalau nambah perempuan lain lagi. mati berdiri aku jadinya!" tandas Trias.
Iyun menutup mulutnya agar tawanya tak terdengar oleh pengunjung lain, sementara Trias menggerutu karena pesanan hidangan belum datang.
__ADS_1
"Udah ah, kita bicara yang lain saja." pinta Trias.
Iyun mengangguk. "Oke. kita akan membahas tentang bunga ini." kata Iyun sembari menarik setangkai bunga mawar dari jambangan kecil dimeja.
"Okey, tentang mawar." ujar Trias. "Setahuku, tumbuhan mawar termasuk dalam salah satu tumbuhan tertua didunia. setahuku, mawar diketahui sejak tahun 815 Masehi sedangkan budidaya tanaman itu dimulai 500 tahun sebelum masehi."
"Waaaah... pintarnya suamiku ini." puji Iyun sekaligus menggoda pemuda itu.
"Pastilaaaaa.... kan aku nembak kamu lalu kan pake mawar merah muda." sambung Trias sambil senyum.
"Aku sangat ingat momen itu." sahut Iyun sambil mengoyang-goyangkan batang mawar itu. "Tapi kenapa kau menggunakan mawar merah muda saat mengungkap rasa cintamu?"
"Karena saat itu cintaku bersemi ketika melihat dan mengingatmu." jawab Trias kembali tersenyum dan memegang ujung tangkai dari mawar itu.
"Dan kau tahu keistimewaan mawar yang lain?" pancing Iyun.
Trias tersenyum. jilbaber itu kembali menjelaskan. "Bagian pinggul dan kelopak bunga mawar bisa digunakan dalam bahan kuliner. menjadi bahan pembuatan permen karet, nougat dan baklava. bisa dijadikan bahan kue juga salad."
"Kalau begitu, kapan-kapan aku akan menagihmu membuatkan aku salad mawar." kata Trias sambil mencondongkan wajahnya mendekat kearah Iyun.
Iyun kembali tersenyum. "Ada yang lebih menarik. kau mau tahu?"
"Katakan saja." pinta Trias.
"Rakyat Romawi kuno memakai bunga mawar dengan pintalan tali yang dikalungkan dileher mereka. dan mereka menganggap, apapun yang dibicarakan dibawah tumbuhan mawar adalah sebuah rahasia." ujar Iyun.
tiba-tiba tanpa bisa dihindari, Trias menarik wajah Iyun ke wajahnya dan keduanya mempertemukan kedua bibir mereka. Trias mengecup bibir gadis itu dengan lembut dan lama, Iyun sedikit terbawa suasana hingga kemudian tersadar dan memukul pundak Trias berkali-kali membuat Trias melepaskan ciumannya.
Iyun langsung mengedarkan tatapannya keseluruh penjuru restoran itu dan menyadari semua tatapan pengunjung iru terarah kepada mereka berdua. wajah Iyun langsung memerah.
"Kenapa kau menciumi aku dikerumunan seperti ini?!" omel Iyum dengan suara lirih.
"Karena ini adalah rahasia kita. kau pegang mawarnya, kan?" balas Trias dengan lirih pula.
"Maksudmu?" tanya Iyun.
"Kau bilang, apapun pembicaraan yang dilakukan dibawah mawar adalah sebuah rahasia." jawab Trias.
"Trus ?" desak Iyun karena belum paham.
"Kau memegang mawarnya dan sekarang kita berada di restoran Mawar Sharon. jadi, ciumanku ini adalah rahasia kita berdua. jangan sampai papamu tahu, aku bisa dibunuhnya!" ujar Trias kembali menegakkan tubuhnya.
kali ini Trias ikut-ikutan memperhatikan keadaan sekeliling dan ia menyadari bahwa keduanya telah menjadi pusat perhatian. giliran wajah Trias yang memerah malu.
Iyun menangkupkan telapak tangannya ke wajahnya. "Aduuuuh... aku malu sekali.. kau nyosor nggak liat keadaan sih... memang takut aku nggak ngasih?" omel Iyun dengan lirih lagi.
Trias hanya diam sambil sesekali meminum air yang sudah berapa kali dituangkannya. pemuda itu gugup bukan main.
"Maaf, nggak tahu kenapa aku tiba-tiba ingin cium kamu. aku sudah kerasukan setan mungkin." jawab Trias dengan kikuk.
"Kamu tahu nggak, itukan momen ciuman pertama kita. kok begini sih modelnya...ish, nggak keren banget sih." omel Iyun lagi.
"Iya, aku minta maaf, Yun.... jangan sogol aku terus dong." pinta Trias dengan memelas.
dengan cemberut gadis itu menurunkan tangannya. "Kamu itu ya? nafsu banget, memang nggak dzikir gitu pas masuk kemari?" omel Iyun lagi.
"Aku terbawa suasana... liat saja pemandangannya saja bikin baperan toh?" kata Trias sambil memperbaiki duduknya.
tak lama kemudian datang pelayan wanita membawa baki berisi hidangan yang mereka pesan. pelayan itu kemudian meletakkan hidangan iru di meja dan tak lupa mencuri pandang kearah Trias lalu tersenyum.
tentu saja pemandangan itu tak lepas dari tatapan Iyun. pemuda itu dipelototinya sambil menggigit bibirnya. Trias benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain menunduk agar tidak menabrak tatapan pelayan iru. setelah meletakkan hidangan itu, pelayan tersebut meninggalkan mereka.
"Tri, kamu sudah membuat ikatan kuat denganku. ciuman nggak kerenmu itu membuat kita tak bisa lagi diapa-apain. awas kamu berani lirik -lirik perempuan lain. akan kubunuh perempuan itu." ancam Iyun sambil mengambil garpu dan menancapkannya pada daging dipiring. Trias tersentak kaget.
"Aduh Yun, kok ngancam gitu sih? aku kan nggak ngapa-ngapain." bantah Trias.
"Biarin! siapa suruh kamu liat-liat cewek itu. sudah nggak permisi ciumi aku, begitu liat cewek baru langsung pasang mata antena." sembur Iyun dengan lirih. ia tak mau menumpahkan amarahnya disini. selain mempermalukan diri, juga ia tak mau merendahkan harga diri pemuda yang dicintainya itu.
"Sudah tak usah marah. makanlah. habis ini kita pulang. Papa pasti sudah bosan nunggu kita." kata Trias kembali dengan nada datarnya membuat Iyun tak berani mencak-mencak lagi. ia kemudian makan diikuti oleh Trias yang juga sudah menikmati hidangan iru.
...********...
__ADS_1
makan malam itu terasa begitu hangat dan membahagiakan bagi Chiyome. bagaimana tidak? Adnan dan Mariana selalu bercanda dan begitu perhatian, begitu juga dengan Aisyah. justru perlakuan mereka dianggap Kenzie berlebihan sampai-sampai Mariana mengoloknya membuat pemuda itu sering tersudut karena godaan dan canda yang dibuat Mariana agar terlihat bahwa Kenzie memang pasangan yang sempurna bagi Chiyome.
sehabis makan malam, Chiyome diajak pulang. gadis itu memeluk erat punggung pemuda itu ketika Kenzie melajukan sepeda motornya. dan kini Chiyome ragu, apakah ia bisa terlepas dari pemuda ini. []