Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 193


__ADS_3

Basel Essam terdiam, menikmati pancaran pesona wajah Chiyome yang memancarkan aura kecantikan dibalik ketajaman tatapan matanya yang memancarkan aura membunuh.


cantik sekali.... batinnya tanpa sadar mengagum.


Chiyome memicingkan mata. wanita itu menegakkan tubuhnya. "Aku terlalu meremehkanmu... maafkan aku." ujar Chiyome dengan tatapan tulus.


Basel terhenyak. wanita ini begitu memegang kesopanan meskipun dalam pertarungan... ahhh perasaan apa ini???


"Aku juga, minta maaf, membuatmu harus merubah rencanamu, Nona." jawab Basel.


"Aku sudah menikah..." jawab Chiyome menegaskan statusnya.


ada rasa sakit menyucuk sanubari Basel ketika wanita itu menyatakan status pernikahannya. lelaki itu entah kenapa menjadi cemburu dengan lelaki yang berhasil meraih hati Chiyome.


"Sekali lagi, disebabkan rasa hormatku kepadamu sebagai sesama petarung. biarkan aku pergi. Stefan merupakan orang yang harus lenyap dari muka bumi. jangan halangi langkahku untuk mempersembahkan nyawanya kepada neraka." pinta Chiyome lagi.


Basel tersenyum. "Sayangnya... kita berada pada dua sisi yang berbeda. bagaimanapun, aku ditugaskan majikanku untuk melindunginya."


"Untuk apa majikanmu melindunginya? masih banyak orang lain yang memiliki kompetensi... bukan hanya lelaki itu. serahkan Stefan padaku." pinta Chiyome lagi.


Basel menarik napas panjang dan mengeluh. "Melihat tekadmu, aku salut Nyonya... tapi aku harus menjalankan tugasku."


"Jangan salahkan aku, jika terpaksa merampas pula selembar nyawamu gara-gara melindungi lelaki tak berguna itu." ancam Chiyome kemudian memasang postur kumiichi, gaya bertarung tanpa senjata yang dipraktekkan kaum onna bugeisha dalam pertempuran.


Basel Essam juga memasang sikap bertarungnya. "Kerahkan semua kecakapanmu, Nyonya..."


kembali Chiyome maju menyerang Basel. hujaman tinjunya mengarah ke titik-titik atemi lawannya. namun serangan itu seringkali gagal sebab Basel dengan mudah mengayunkan pula kedua lengan kekarnya membentengi titik-titik itu sehingga semua serangan yang dibangun oleh Chiyome selalu patah ditengah-tengah.


wanita itu tak menyerah. kali ini ia mengayunkan kedua tungkai kakinya bergantian melayangkan tendangan dengan begitu lincahnya seperti seorang penari yang membawakan tarian kagura yang diperuntukkan untuk dewa Susanoo (dewa badai) dan Hachiman (dewa perang). gerakan Chiyome memang terlihat gemulai namun menyimpan gerak membunuh.


Basel sesekali nyaris terjebak dalam gerakan tipu dari serangan yang dilancarkan Chiyome. hanya kewaspadaan dan kesigapan yang membuatnya selalu lolos dari perangkap gerakan yang dilakukan Chiyome. lelaki itu mengakui kecerdikan dan kelicikan yang dipamerkan Chiyome dalam membawakan seni kumiichi tersebut.


Basel terus mempelajari gerakan lawannya sambil berkali-kali menangkis dan menahan rasa sakit akibat hantaman pukulan dan tendangan wanita itu.


bagaimanapun seorang petarung membawakan teknik tarung terbaiknya, tetap saja menyisakan sebuah celah yang bisa dimanfaatkan lawan ketika petarung itu lengah dan ceroboh. hal itu terjadi pula pada Chiyome.


entah disebabkan oleh eforia kemenangan yang membalut perasaannya menyebabkan wanita itu terlalu bersemangat hendak menjatuhkan lawannya hingga gerakannya menjadi tak terkontrol. Basel memanfaatkan hal itu, dengan mengelak sedikit saat tendangan Chiyome luput dan posisi wanita itu membelakanginya.


tiba-tiba, Basel memeluk Chiyome dari belakang dan mengepit pinggangnya. Chiyome memekik kaget namun tak sempat melepaskan diri ketika Basel mengangkatnya dan membanting dengan teknik suplex menyebabkan tengkuk Chiyome langsung mengarah ke tanah, mengancam leher yang akan meretakkannya dan berpotensi menyebabkan kelumpuhan permanen.


dengan sigap, Chiyome menyilangkan lengannya ke belakang kepala, memperisai lehernya agar tidak menghantam tanah meskipun tetap saja bagian punggungnya akan menderita sakit tak terhingga.


BLUGHHH!!!!


UGH!!


tubuh Chiyome terbanting ke belakang dan mengalami kelumpuhan sesaat akibat rasa sakit yang menyengat punggung dan belikatnya. Basel bangkit lalu berdiri tegap menatap Chiyome yang mengerang kesakitan lalu bangkit dengan susah payah dan kembali memasang postur bertarung.


"Menyerahlah Nyonya.... kau tak akan bisa mengalahkanku." kata Basel seraya mengatur napasnya.


"Kau tak mengetahuinya jika tak mencoba." seru Chiyome kembali melayangkan pukulan.

__ADS_1


kali ini, karena gerakan Chiyome agak lamban, membuat Basel dengan mudah mengelakkan diri dan menangkap kepalan tinju Chiyome kemudian memuntirnya. bersamaan dengan itu, Basel menyepak kaki Chiyome membuat wanita itu melayang terputar diudara dan jatuh berdebam ditanah.


Basel mengulurkan tangan meraih leher lawannya, namun dengan sigap Chiyome menangkap pergelangan tangan Basel dan dengan cepat kedua tungkai kakinya menelusup lewat lengan lawan dan mencekik leher Basel.


Basel terhenyak membuat gerakannya terhenti dan langsung dimanfaatkan Chiyome menggerakkan pinggul membuat jepitan kedua kakinya pada leher basel memuntir dan Chiyome mengayunkan kedua kakinya melempar tubuh Basel melayang melewati tubuhnya dan jatuh bergulingan ke tanah.


Basel cepat bangun, begitu juga dengan Chiyome. wanita itu dengan cepat berlari melompat ke arah Basel. lelaki itu mengayunkan tendangannya mengincar tubuh Chiyome yang melayang diudara. namun dengan kelincahan mirip seekor kera yang bergelantungan didahan, Chiyome berkelit dan meraih lengan Basel yang terpentang sedang kedua kakinya juga memeluk lengan Basel yang lainnya kemudian merenggangkan tubuh sambil mencekik kedua tungkai tangan lelaki itu dengan jepitan keempat tungkai tubuhnya.


Basel merasakan uratnya bergeser akibat teknik jepitan otu. namun lelaki itu tak mau menyerah. dengan pameran kekuatan, ia menekukkan kedua lengannya dan mendorong tubuh Chiyome dengan punggungnya membuat tubuh wanita itu menekuk kedalam dan jepitannya terlepas.


Chiyome jatuh ketanah namun langsung bergulingan menjauhi Basel lalu memutar kedua kakinya berpusingan mirip tornado dan menghentakkan pinggulnya hingga tubuhnya terangkat dan kedua kakinya menjejak dengan bagus ditanah.


"Nyonya... aku salut dengan kelincahanmu." puji Basel namun kemudian lelaki itu berlari maju dengan tangan terkembang. "Tapi kau akan segera takluk ditanganku!"


Chiyome sontak kembali melompat dan berpusingan diudara saat kedua tangan kekar milik Basel hendak merengkuhnya. Basel dengan cepat berbalik dan mengulurkan tangannya dengan cepat, jemarinya menangkap pergelangan kaki Chiyome dan mengayunkannya ke tanah.


tubuh wanita itu menghantam tanah, namun Chiyome sudah mengantisipasi hal itu dengan mengatur pola napas jntuk menyebarkan ki keseluruh tubuhnya sehingga hantaman ditanah tadi tidak begitu membuatnya kesakitan. Chiyome berbalik dan mengayunkan kakinya mengincar lengan Basel sehingga buru-buru lelaki itu melepaskan cengkramannya.


Chiyome bangkit dan memasang lagi postur tarung kumiichi. Basel kembali maju menghujamkan tinjunya. dengan sigap Chiyome menangkap pergelangan tangan Basel kemudian tubuh wanita itu memutar dengan posisi kedua tahgan memegang lengan lawannya dan menggunakan daya dorong pinggung untuk melakukan tachi nagewaza (bantingan berdiri) terhadap Basel.


lelaki itu tahu apa yang hendak dilakukan lawannya. tangan satunya langsung sigap menekan pinggul hingga Chiyome tak bisa menekukkan tubuhnya. hal itu langsung dimanfaatkan Basel menggunakan teknik rear naked choke terhadap Chiyome.


lengan kekar lelaki itu langsung mengepit leher Chiyome dan kedua tungkai kakinya memeluk Chiyome dari belakang. dengan memanfaatkan berat tubuhnya, Basel berhasil membuat Chiyome terbaring dalam posisi terlentang. tabgan wanita itu menggapai-gapai lengan kekar itu, berupaya menariknya agar cekikan itu menjadi longgar.


"Lepaskan, Brengsek!" umpat Chiyome dengan suara tercekik.


Basel tersenyum. naluri birahinya bangkit membayangkan tubuh lawannya yang menggairahkan itu. satu lengan kekarnya sudah cukup menjepit leher Chiyome. tangan satunya langsung menggerayangi tubuh wanita itu dan berhenti dikedua bongkah dadanya.


"Aku akan melepaskanmu... asalkan kau tinggalkan suamimu dan menikahlah denganku." pinta Basel.


didorong rasa jijik dan marah karena dilecehkan, Chiyome memekik. "Tidak akan pernah!!!" ujarnya penuh kemarahan.


"Perempuan bodoh! aku akan memuaskanmu dari segala sisi." rayu Basel menurunkan rabaannya menuju selangkang dan mengusap disana.


pelecehan seksual itu membuat harga diri Chiyome terluka. benci, jijik, marah, menyatu dalam amarahnya. Basel bisa merasakan tenaga wanita itu meningkat seiring ia memekik.


"Ketsumedoyarou!!!!!"


seiring dengan itu, Chiyome menggerakkan kepalanya menghantam dagu Basel dengan sekuat tenaga.


DUAGH!!!


WADAOOOOWWW....


Basel mengaduh kesakitan membuat jepitannya melonggar. dan itu dimanfaatkan oleh Chiyome menggerakkan salah satu kakinya menendang ke belakang.


"Teme!!!!" seru Chiyome sekuat tenaga.


BUGH!!!


AAAARRRGGGGG....

__ADS_1


tendangan itu tepat bersarang dibagian segitiga pribadk lelaki itu, memberikan rasa sakit yang begitu menyengat hingga menyucuk otak. teknik cekikannya langsung tak berarti dan Chiyome bergulingan menjauh sementara Basel menekukkan tubuhnya dan bergulingan sementara kedua tangannya memegang bagian reproduksinya yang dihantam sekuat tenaga oleh Chiyome.


wanita itu bangkit dan menatap Basel dengan marah. sangat kentara urat yang nampak ditengah dahinya.


"Uzai yatsu!! kamu benar-benar tak bisa lagi ku ampuni! Bakeru!!! Warugaki!!!" teriak Chiyome dengan kalap. wanita itu mencabut sebatang jarum dari saku rahasia dipinggangnya. ia kemudian menggigiti jarum tersebut.


Basel berdiri dengan susah payah. Chiyome berlari dan menerjang dengan cepat. ia memanjati tubuh Basel dan melingkarkan tungkai kakinya memeluk bagian pinggang lelaki itu. kedua tangannya memijak pundak Basel. dengan cepat tubuh Chiyome menekuk dan dengan bibirnya, ia menancapkan jarum tersebut tepat pada bagian antara tengkuk dan pangkal kepala.


JLEB!!!!


UOKH!!!


jarum itu menancap dalam dibagian itu. Chiyome melepaskan pelukannya dan melompat ke belakang lalu berdiri dengan santai. Basel dengan geram mencabut jarum tersebut. ia memperlihatkan benda itu kepada Chiyome.


"Kau pikir, benda ini bisa menghentikanku menguasaimu?" Basel kemudian tertawa lalu menatap Chiyome dengan sorot penuh birahi. "Aku sudah berjanji pada Stefan.... aku akan membuatmu bertekuk lutut, menggagahimu hingga kau kecanduan dengan permainanku."


Chiyome tersenyum sinis. dengan santai ia mengembangkan tangan. "Kalau begitu, kemarilah Chikushou..." wanita itu kemudian menekan bagian pinggiran *********** hingga kedua bongkahan itu mendempet makin menonjol. "Kau mau ******* disini?"


Basel tertawa sejenak lalu melangkah. tiba-tiba...


HEGH!!!


alis Basel mengerut. ia merasakan gemetar pada keseluruhan tubuhnya. seakan ia mengalami paralysis dan getaran itu makin kuat. sejenak kemudian ia merasakan sakit tak terhingga di otaknya yang menekan dan Basel merasakan seluruh pembuluh darahnya menegang. bagian sinusnya membengkak dan pecah memuntahkan darah yang mengalir lewat hidung. matanya berair, namun bukan airmata yang keluar melainkan darah. telinganya berdengung dan ia merasakan cairan keluar dari liang telinganya. itu juga darah.


"Kau! apa yang.... kau... lllakkkhhhuukkhhhan... p-p-paddhhaaaa.... khhhuuuu....????" ujarnya dengan suara yang tercekik dan getaran tubuhnya makin kuat. dan akhirnya tubuh Basel jatuh berlutut.


HUEEEEKKKKHHHH....


lelaki itu memuntahkan darah. dengan nanar ditatapinya Chiyome yang mendekat lalu duduk bersimpuh dihadapannya.


"Kkkhhhhh...." hanya itu saja suara yang keluar dari Basel.


kedua tangan Chiyome terulur menjamah kedua pipi Basel. ia tersenyum sinis. "Kau mau tahu, teknik yang kugunakan dan kau remehkan itu? dalam seni kuno, teknik itu disebut Tatsu no Seppun... Ciuman Sang Naga." Chiyome mendekatkan wajahnya hingga Basel benar-benar merasakan hembusan napas wanita itu sebab jarak keduanya hanya tinggal seinci saja, "Nikmatilah rasa sakit itu, Kuso.... kapan lagi kau merasakannya?"


Basel merasakan tubuhnya tersiksa. darah terus dirasakannya mengalir di kesembilan lubang tubuhnya. celananya sudah basah dan berbau amis bercampur busuk seperti bau tinja. tapi lelaki itu seakan dipaksa untuk belum mati. ia dipaksa menjalani rasa sekarat yang menyakitkan.


"Kau mau menggagahiku? biar kulihat seberapa kuat benda tumpulmu itu sekarang." Chiyome melepaskan sabuk celana lelaki itu dan memelorotkan celananya, beserta cawatnya. tangannya terulur memegang benda berurat sepanjang 20 senti itu, namun tak lagi bangkit sebab telah mengalirkan darah yang mengalir deras dari saluran kemihnya.


Chiyome mencibir, "Sayang sekali." ujarnya melepaskan benda itu kembali menjuntai lalu menatap Basel yang matanya sudah setengah terpejam. "Kamu nggak memenuhi syarat sebagai pejantanku, Bakayarou..." wanita itu kemudian berdiri dan menatap Basel yang sudah mencapai detik-detik pelepasan nyawanya. Chiyome menyentuh batok kepala lelaki itu.


"Kutabare.... Shinee.... Shinjimae..." ujarnya dengan lirih dan mendorong kepala Basel. lelaki itu terjungkal dan kelojotan sejenak lalu diam tak bergerak lagi.


Chiyome mengedarkan pandang dalam kegelapan. ia menemukan menpo miliknya tergeletak beberapa jarak dari tempat jasad Basel terlentang. wanita itu melangkah mendekat dan memungut benda itu kemudian memasangkannya kembali ke wajahnya.


Chiyome kemudian menatap Si Penebas Angin yang menancap ditanah, sepuluh meter dari medan pertempuran. ia melangkah mendekatinya dan kemudian mencabut pedang jenis gunto itu dan membersihkan sisa tanah yang melekat pada bilahannya yang mengkilap.


Chiyome menyarungkan Si Penebas Angin lalu kemudian menatap sejenak kearah jasad lawannya lalu memandang rembulan yang menyinari hamparan luas ditengah belantara itu.


"Stefan... kau telah mengorbankan orang lain untuk memenuhi ambisi dan sikap pengecutmu..." gumam Chiyome kemudian menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. setelah itu, ia bergegas melangkah meninggalkan medan pertempuran itu, menyisakan mayat petarung yang entah menjadi apa nasibnya setelah itu, yang jelas, telah banyak predator nokturnal yang mengepung tempat itu, terpancing oleh bau amis darah yang menguap dihembus angin malam. suasana kembali menjadi sunyi setelah sebelumnya diramaikan oleh bunyi dentang-denting logam dan suara daging yang terhantam atau bunyi retak tulang patah dan suara raungan nan pekikan kesakitan yang memecahkan udara. sebentar lagi para predator, baik yang bersayap maupun yang merayap direrumputan akan berpesta dengan bangkai yang tersaji gratis untuk mereka.


pemandangan yang bertabur ironi kemudian tersaji di depan mata.

__ADS_1


Basel Essam, petarung terbaik dalam olah anggar, juara Olimpiade, pembunuh bayaran berpenghasilan tinggi yang dikirimkan untuk melindungi Stefan, harus tewas menyedihkan ditangan seorang wanita yang tadinya hendak diperkosanya. lelaki itu harus menyerah kalah dibawah belitan akar tumbuhan Kembang Kematian.[]


__ADS_2