
01 Februari 2020, pukul 16.30
Trias mengenakan pakaian yang pernah dibelikan oleh almarhumah Iyun sewaktu mereka belanja di Ginza. pemuda itu membawa buket bunga marigold. hari ini memasuki sebulan sejak istrinya dimakamkan.
bunga itu adalah bunga yang tumbuh dipekarangan kediaman Murad Gobel. pemuda itu mengambilnya dua batang lalu digabungkan dengan beberapa tangkai bougenvillea, dan bunga Euphorbia dikombinasikan dengan dedaunan rumput.
pemuda itu memarkir sepeda motornya ditepi jalan lalu melangkah santai memasuki pekuburan keluarga Gobel. hari ini ia akan menyambangi makam istrinya.
namun beberapa langkah kemudian ia menghentikan langkah. beberapa jarak disana, dimakam sang istri, terlihat seorang wanita mengenakan gamis panjang dengan khimar yang panjangnya menjuntai mirip mukena. wajah wanita itu tak kelihatan karena tertutup oleh cadar.
wanita itu meletakkan sebuah buket berisi bunga lily. entah dimana wanita itu menemukan bunga tersebut karena setahu Trias, bunga jenis itu belum diperjualbelikan di Gorontalo. setelah meletakkan buket itu, wanita tersebut kemudian melangkah pergi meninggalkan makam.
beberapa langkah ia berjalan, wanita bercadar itu berhenti dan menatapi dengan kaget sosok pemuda dihadapannya. keduanya bertatapan agak lama dan Trias seakan merasa tatapannya tersedot kedalam tatapan wanita yang bercelak itu. lama akhirnya wanita itu menundukkan wajah lalu melangkah kembali melewati Trias.
pemuda itu diam tak bergerak seakan ia terhipnotis. namun lelaki itu sadar, hanya saja syaraf-syaraf ototnya tak berfungsi seakan menguncinya untuk tetap berpijak disana bagai pasak alam yang menghujam penuh kepunggung bumi.
siapa perempuan itu? ada hubungan apa dia dengan Iyun? Mimi.... bisa Mimi katakan, apa hubungan perempuan itu dengan Mimi?.... Pipi benar-benar rindu, Mi....
Trias menghela napas sejenak, meredakan sejenak debaran jantungnya. perlahan kedua kakinya sudah bisa digerakkan dan kembali melangkah mendekati makam itu.
"Assalamualaikum, Mi... Pipi datang nih... sory ya, sedikit terlambat, soalnya sibuk memgerjakan tugas-tugas sekolah..." kata Trias.
pemuda itu kemudian duduk bersila lalu mengusap tanah kuburan yang lembab. Trias meletakkan buket bunga miliknya dekat buket bunga lily yang diletakkan bersandar pada paita makam tersebut. setelah itu ia kemudian berlutut dan duduk bersila.
pemuda itu menekurkan wajahnya dan menutup kedua matanya. pikiran ia kosongkan dengan bacaan-bacaan wirid dan dzikirnnya. kedua tangan ia letakkan dilututnya. mata pemuda itu kemudian memejam dan mulai memasuki alam bawah sadarnya.
...***********...
pemuda itu membelai daun-daun sabana yang pipih dihembus angin pelan. Trias memandangi penampilannya yabg tak berubah, namun tempat itu amat dikenalnya. disinilah ia bertemu dengan Iyun sebelum siuman mendapati dirinya berada diruang rawat puskesmas.
ya... aku kenal tempat ini... tempat yang damai itu...
Trias langsung mengedarkan pandangannya.
"Iyun!...Mimi!!!.... ini Pipi, Mi!!!..." teriak Trias sambil berlari tak tentu arah dan memandang ke segala arah.
"Mimi disini, Piiii...." panggil sebuah suara merdu berada dibelakang Trias.
sontak pemuda itu berbalik dan menatapi Iyun yang berdiri mengenakan pakaian serba putih tanpa khimar. rambutnya berkibar pelan dihembus angin. dengan penuh rasa rindu, pemuda itu menghambur dan memeluk wanita itu dengan erat dan langsung menyerbu bibirnya dan mengulumnya dengan begitu mesra.
beberapa saat kemudian pemuda itu melepas ciumannya tapi tidak pelukannya.
"Mi.... Pipi benar-benar rindu..." keluh Trias. "Kapan sih Mimi jemput Pipi kemari?"
Iyun tertawa pelan. "Duh, masih lama, sayang... nggak sabaran sekali sih?" goda wanita itu.
keduanya berbaring dihamparan sabana itu. "Ya jelas dong. Pipi sudah lama nggak mainin ini..." kata Trias sambil meremas kedua payudara milik Iyun.
perempuan itu tertawa kemudian mendorong tubuh pemuda itu dan kini ia mengambil alih posisi berada diatas tubuh pemuda itu. posisi yang paling disukai Trias ketika mereka bercinta.
"Mimi dengar, Pipi buat keributan disekolah. kenapa sih pusing ngurusi si Budi?" pancing Iyun.
"Ya, jelaslah harus kuhamburkan semua giginya! dia ngaku cinta sama Mimi, dihadapan Pipi!" sembur Trias dengan kesal.
Iyun tertawa lagi. "Cemburu nih yee..." godanya lagi.
"Ya iyalah Pipi cemburu! kalau nggak cemburu, bukan suami namanya " kata Trias lagi masih dengan wajah keruh.
"Sudah ah, Mimi nggak mau lagi godain Pipi. capek." kata Iyun kemudian menyandarkan pipinya didada Trias.
Trias tersenyum lalu membelai rambut Iyun yang terurai. kepala pemuda itu mengangkat dan menatapi wajah almarhumah istrinya yang kini juga mengangkat menatap wajahnya.
"Mimi cantik sekali hari ini." puji Trias.
"Tentu dong, tiap hari Mimi berdandan hanya untuk saat ketemu Pipi seperti ini..." kata Iyun sambil menegakkan tubuhnya dan Trias begitu takjub ketika Iyun tanpa malu langsung menyibakkan pakaian atasnya hingga tubuh bagian atasnya terekspos jelas. wanita itu kemudian membungkuk lagi dan mendekatkan wajahnya kearah Trias.
"Tidak ada siapapun ditempat ini, Pipi... hanya kita berdua... jadi, lakukanlah semaumu. kita suami istri,kan?"
tentu saja Trias tak menyia-nyiakan kesempatan itu. ia langsung mengulum bibir istrinya kembali dengan mesra sementara tangan lainnya bergerilya disekujur tubuh Iyun. hingga akhirnya keduanya telanjang dan menyatukan kedua alat mereka untuk mencapai kulminasi percintaan yang memabukkan.
sentuhan dan hentakan yang silih berganti menyentak-nyentak menyemburkan susu sukla yang menyatu bersama air swanita di periuk garba. Trias benar-benar semangat menggauli istrinya saat itu. dan pada akhirnya keduanya melenguh dan mengerang bersama mencapai satu tujuan.
entah kenapa disaat itu keduanya tak merasa lelah melakukan persenggamaan, dari gaya umum, doggy style, woman on top, hingga Mongkey up to tree. keduanya menikmati kebersamaan mereka pada saat itu. hingga akhirnya keduanya terkapar bersama setelah sesi pergumulan birahi tersebut.
__ADS_1
Iyun merapatkan pelukannya, membiarkan kedua payudaranya mendempeti dada Trias yang bidang. Trias sendiri mengangkat kakinya melingkari paha putih istrinya. mereka sesekali berciuman menikmati relaksasi.
"Tau nggak Mi?" pancing Trias.
wajah Iyun mengangkat dan menatapi Trias. pemuda itu melanjutkan. "Chiyome hamil, katanya sudah jalan 6 minggu tuh."
"Oh ya? waaah... alhamdulilah ya? pastinya Kenzie senang bukan main tuh." jawab iyun sambil tertawa.
"Kenzie kena sindrom ngidam tuh. lucu, dia pake masker dan selalu bawa-bawa pengharum stela sampai mengendusnya mirip kucing mengendusi makanan." ujar Trias sambil tertawa.
pemuda itu kemudian membelai lalu mempermainkan ****** susu bagian kanan istrinya. "Pipi sempat selorohi sama dia. Pipi bilang bakal jadikan anaknya, Mantu Pipi." Trias terkekeh.
Iyun tertawa. "Amiiiin... semoga tercapai ya, Pi..." kata Iyun.
"Ah, tapi nggak seru...." ujar Trias dengan getir. "Pipi maunya punya anak sama Mimi... tapi Mimi keburu pergi tinggalkan Pipi sendirian... kan sudah Pipi bilang kita buat program anak, Mimi saja yang menolaknya. jadinya begini kan?" suara pemuda itu meninggi.
Iyun tersenyum dengan teduh. "Mimi minta maaf untuk itu Pi, Mimi salah.... Mimi minta maaf ya?"
Trias mendesah, "Yah.... yang sudah terjadi, terjadilah...."
Iyun tersenyum lagi. "Tapi, Pipi nggak usah lagi kuatir, Mimi sudah persiapkan pengganti Mimi untuk Pipi."
"Mimi jangan aneh-aneh lagi. kemarin ucapan-ucapan aneh Mimi masih terngiang dibenak Pipi..." tegur Trias dengan kesal.
"Mimi beneran kok." tandas Iyun. "Dia wanita kuat, seperti Pipi. dia yang akan menemani Pipi sampai akhir hingga nantinya Mimi yang akan menjemput kembali Pipi dipelukan Mimi."
"Mi, sampai kapanpun, perasaaan Pipi nggak akan berubah sama Mimi. jadi jangan sok jadi comblang deh. Mimi mau buat acara Take Me Out untuk Pipi?" tanya Trias.
Iyun kembali tertawa. "Pipi ni lucu deh. tapi rada benar sih. anggaplah itu acara Take Me Out nya Pipi secara pribadi dengan wanita itu."
"Siapa namanya?" pancing Trias.
"Cari dong. siapa namanya, itu Iyun nggak tahu. tapi... kalau Pipi mau cari tahu sedikit, wanita itu adalah wanita yang naruh buket Lily di makam Mimi." jawab Iyun.
"Perempuan bercadar itu?" tebak Trias.
"Sebenarnya dia nggak bercadar sih. dan sebenarnya nggak doyan pake khimar dan gamis. tapi Iyun heran, saat itu ia mengenakan pakaian syar'i di makam itu hanya untuk menunjukkan rasa simpatinya sama mimi yang nolongin Pipi dijalanan kemarin itu. dia menunjukkan empatinya dengan mengenakan pakaian itu. tapi ada ciri khas sama gadis itu." tutur Iyun.
Trias nggak menanggapi. sebenarnya ia ogah-ogahan mendengarkan penuturan Iyun.
"Iyaaaa.... iya... Pipi dengarkan..." kata Trias dengan malas.
"Perempuan itu banyak dilirik lelaki. Pipi harus berupaya mendapatkannya dan mengikatnya menjadi istri. " kata Iyun.
"Apa? jadi Mimi mau, Pipi nikah sama perempuan itu dan ngeduain Mimi, begitu?" ujar Trias dengan wajah keruh dan langsung duduk.
Iyun ikut duduk dan membelai dada pemuda itu. "Dari rahimnya, akan lahir anak yang akan menjadi jodoh dari anak yang dikandung Chiyome, Pi..."
Trias menatapi wajah istrinya. "Jadi.... Pipi..."
"Ya... nikahi dia. gauli dia. titipkan benih Pipi di rahimnya." kata Iyun.
"Tapi, dimana dia bisa kutemukan? kita hanya akan mencari sebuah jarum dalam jerami." kata Trias kembali dengan gaya ogah-ogahan.
"Dia dekat dengan Pipi... tapi Pipinya yang nggak nyadar..." jawab Iyun kembali mendorong dengan pelan agar Trias berbaring.
"Pipi sudah puas dengan permainan kita tadi, kan? sekarang tidurlah..." ujar Iyun kemudian maju mengecup' bibir pemuda itu.
entah kenapa kecupan Iyun membuat Trias mengantuk dan perlahan mengatupkan kedua matanya dan pemuda itu tanpa bisa melawan, terlempar kembali menuju suatu tempat yang gelap.
...*********...
Trias membuka mata dan menyadari bahwa malam mulai menjelang. dia menatapi pusara itu lalu tersenyum.
"Sory ya Mimi.... Pipi ketiduran..." kata Trias sambil mengusap paita dari gadis itu.
Trias hendak berdiri ketika dirasakan basah dalam celananya. Pemuda itu sejenak terkejut lalu tangannya meraba kedalam celana bawahnya. ada yang basah disana. ia meraba terus. terasa licin hingga akhirnya ia mengorek bagian yang basah itu dan memandangnya dengan sorot tajam.
akhirnya, pemuda itu tersenyum lalu menatapi pusara Iyun. "Mimi nakal ya? buat Pipi ejakulasi disini." ujar pemuda itu sambil tertawa lalu kemudian mengangguk. "Tapi, makasih atas pelayanannya Mi."
Trias bangkit dan menatapi pusara tersebut.
"Pipi cabut dulu, ya..." kata Trias pamit.
__ADS_1
pemuda itu kemudian melangkah dengan ceria meninggalkan areal pemakaman keluarga Gobel.
...*******...
sejak insiden penciuman itu, Aisyah melangkah dengan penuh waspada. matanya awas melihat keseluruh penjuru. jangan sampai keberadaanya terdeteksi oleh Stefan. kali ini model jilbaber itu bagai orang paranoid.
namun sekuat dan sewaspada apapun Aisyah. ia tetap saja tak bisa menghindar dari pemuda itu ketika ia bertemu dengannya disebuah koridor.
Stefan yang melihat Aisyah, langsung mendekat. namun jilbaber itu malah mundur dan berlari meninggalkan kelas. Stefan mengejar.
"Ais! tunggu!" seru Stefan.
Aisyah terus berlari dan berlari. seakan tenaganya bertambah dua kali lipat. bahkan stamina nya sekuat kuda betina pacuan yang tahan lama ketika berlari. jilbaber itu kembali tiba dijalanan. ia langsung mencegat sebuah bentor dan menaiki kendaraan itu.
tiba-tiba Stefan muncul mencegat bentor itu. pemuda itu mencengkeram pinggiran atap kendaraan itu. abang bentor itu langsung mengecam.
"Hei, apa yang kau lakukan?! kau mau tertabrak ?! menyingkirlah!!" bentak abang bentor tersebut.
"Tunggu sebentar Bang!" seru Stefan.
akhirnya bentor itu berhenti dan Stefan naik duduk disisi Aisyah. jilbaber itu sebenarnya hendak turun tapi dipaksa pemuda itu untuk tetap duduk. setelah itu Stefan menyuruh bentor itu jalan.
"Kemana?" tanya Abang bentor itu.
"Kemana saja. pokoknya jalan, saya yang bayari semua!" perintah Stefan.
bentor itu kemudian berjalan menuju jalan dua susun. Stefan menatapi Aisyah.
"Kenapa memghindariku Ais?" tanya Stefan.
"Aku tak menghindarimu. aku hanya ingin menenangkan diri saja." elak Aisyah.
"Menenangkan diri bagaimana? jelas-jelas kau melarikan diri dariku." tandas Stefan. "Apa aku semengerikan itu dimatamu?"
Aisyah diam saja sambil menatapi jalanan. jemari-jemarinya saling mempermainkan. Stefan menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Ais... jawablah... jangan buat aku gila. kamu mau aku dibawa ke Rumah Sakit Malalayang Manado untuk dirawat gara-gara gila karena kamu?" rengek Stefan.
Aisyah memalingkan wajah ke tempat lain. kedua bibirnya mengukir senyum, tapi tak lama kemudian ia kembali menatapi jalanan dengan tatapan datar.
"Ais, jika kau tak mau jawab, ku cium lagi bibirmu. mau?!" ancam Stefan.
sontak Aisyah menatapinya dengan wajah keruh, sesaat kemudian dia menatapi abang bentor.
"Turun disini bang!" pintanya.
"Trus jalan bang!" pinta Stefan
"Brenti disini bang!" pinta Aisyah.
"Tetap jalan bang! nanti saya kasih dobel bayarnya" kata Stefan.
tentu saja, sang abang bentor memihak pemberi keuntungan. maju tak gentar membela yang bayar.
."Kamu ini memang tukang paksa, ya?" sembur Aisyah dengan jengkel.
"Aku begini gara-gara kamu! kau yang bikin aku jadi begini" balas Stefan. "Sekarang jawab! mengapa kau menghindariku?!"
"Karena kamu perusak! kau sudah merusakku!" sembur Aisyah lagi sambil memukul dada pemuda itu berkali-kali. "Kau pikir siapa dirimu, melakukan hal itu terhadapku. gara-gara kamu aku nggak bisa konsen lagi mengikuti perkuliahan. aku tak bisa tidur, sering tersedak kalau mengingat kamu. KAMU ITU MERUSAKKU STEFAN... APA YANG KAU SEMAYAMKAN LEWAT CIUMAN ITU? APA?!" teriak Aisyah kemudian.
gadis itu kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu.
"kau jahat Evan, kau jahat... kau membuatku kena insomnia. kau membuatku tak nyaman makan dan minum.... kenapa kau mengganggu hidupku.? kenapa?" sedu sedan jilbaber itu.
Stefan perlahan meraih bahu gadis itu dan mendekatkannya ke dirinya hingga Aisyah bersandar dibahu pemuda itu. Stefan melihat wajah Aisyah yang sesenggukan, semakin menambah cantik pemandangan itu. di angkatnya dagu gadis itu dan ditatapnya manik mata Aisyah yang gemerlapan karena bekas tangisan.
"Aku tahu obat yang dapat membuat keraguan dihatimu hilang." kata Stefan.
Aisyah menatapinya begitu lama, hingga keluar pertanyaan dari bibirnya yang sensual.
"Apa itu?" tanya Aisyah.
"Ini obatnya..." kata Stefan langsung medekatkan bibirnya dan kembali mengulum bibir jilbaber itu dengan mesra. seperti biasa, mulanya Aisyah terkejut, dan perlahan kedua mata lentiknya mengatup dan memejam menikmati rapsody penyatuan bibir yang memicu gairah itu. keduanya terbawa suasana.
__ADS_1
sementara abang bentor yang sempat menonton adegan itu terkejut lalu membuang muka dan menggeleng-geleng kepala.
dasar...budak cinta.... []