
Kenzie semakin risau mendengar keterangan yang diberikan Trias. terdengar lagi panggilan sahabatnya itu.
📲 "Ya, kenapa Bro?" tanya Kenzie gelagapan.
📲 "Kau mau melihat jejak peninggalan istrimu?" pancing Trias.
📲 "Ngapain aku lihat hal semacam itu?" ujar Kenzie dengan gusar. "Bagaimanapun caranya, temukan dia Yas! aku sementara dalam perjalanan pulang. kami berdua ada dalam jet pribadi sekarang."
📲 "Baiklah... aku akan mengabarimu jika kudapatkan informasinya." ujar Trias.
percakapan via seluler itu terputus. Kenzie semakin gundah bercampur gusar memikirkan tindakan istrinya. sementara diliriknya, Sandiaga sudah tertidur. kepala anak itu terkulai dan dengkuran halus terdengar dirongga tenggorokannya.
...*****...
Trias menyambut tim puslabfor yang dikirimkan polresta Gorontalo. bersamaan dengan itu, Bos Eki tiba dengan mobilnya. lelaki itu keluar dari kendaraannya dan menyamperi Trias.
"Bagaimana keadaan didalam?" tanya lelaki itu.
"Wuih, persis pembantaian Poso, Bos!" sela Aldi.
Bos Eki sejenak melirik Aldi lalu menatap Trias. ia mengajak lelaki itu menjauh. keduanya terlibat pembicaraan serius.
"Kau tak menjelaskan dengan lengkap, pribadi Nyonya Kenzie Lasantu kepadaku." tegur Bos Eki setengah mencela.
"Apakah dengan itu, Bos Eki akan memaksa Pak Kapolres untuk memerintahkan perlindungan kepada bajingan itu?" pancing Trias.
"Bukan begitu." ujar Bos Eki. "Soal perlindungan, itu bukan urusanku. aku cuma menyesalkan, kau tak menjelaskan secara rinci, siapa sesungguhnya wanita itu."
"Bos... tanpa aku jelaskan, bukankah Bos sudah pernah ketemu dengan ayahnya? Bos lihat bagaimana sikap ayah kandung Nyonya Kenzie Lasantu, kan? dia berniat menguliti Stefan hidup-hidup. itu ancaman tak main-main Bos. beliau adalah pentolan Yakuza kota Tokyo." jawab Trias dengan nada sedikit meninggi. "Aku sendiri menyesal mengapa Bos Eki nggak mengeraskan pendapat dihadapan Pak Kapolres."
"Aku bisa apa?!" seru Bos Eki dengan suara meninggi dan mengembangkan tangan. "Sekarang peristiwa ini sudah bocor, bahkan sampai ketangan Pak Kapolda! kurasa Stefan sudah menghubungi pihak kepolisian untuk meminta perlindungan."
"Dan Bos Eki sudah mendengar, beliau akan menerjunkan tim khusus untuk melindungi penjahat kelamin itu?!" pancing Trias.
"Sampai saat ini belum." jawab Bos Eki dengan jujur. lelaki itu mengajak Trias ke dalam bangunan, mengawalnya melihat proses olah TKP oleh puslabfor.
begitu memasuki bilik pembantaian, Bos Eki langsung merasa perutnya mulas. dan matanya melebar menyaksikan peninggalan jejak si pembunuh. lelaki itu mual. dan seperti Aldi. ia tak sempat menyingkir dan memuntahkan isi perutnya disisi pintu. Trias berdecak jijik lalu melangkah meninggalkan atasannya itu.
Bos Eki kembali menyusul Trias keluar. ia kemudian meraung pula melepaskan kengeriannya. Aldi tertawa.
"Eh, Bos pasti sudah lihat. sadis, kan?" ujar Aldi.
Bos Eki hanya bisa mengangguk-angguk. ia menatap Aldi dan Stephen. "Segera kalian pasang garis polisi disini. jangan biarkan warga mendekati lokasi ini." ujar Bos Eki kemudian melangkah meninggalkan TKP tersebut.
terdengar bunyi raungan knalpot mobil milik Bos Eki yang meninggalkan Kediaman itu. kini tinggal ketujuh anggota tim Pasopati bersama anggota puslabfor. tak lama kemudian salah satu anggota puslabfor mengambil beberapa kantung mayat dari mobil dan membawanya kedalam.
pekerjaan petugas forensik rampung sudah bersamaan dengan diangkatnya 7 buah kantong mayat yang berisi potongan-potongan tubuh ke duapuluh orang pengepung tersebut dan memuatnya kedalam mobil untuk disatukan di rumah sakit.
...******...
Stefan melarikan diri sendirian. kedua wanita penjaja genital itu sudah diterlantarkannya dijalanan. lelaki itu lebih mementingkan nyawanya. mobil yang dikendarainya melaju menyusuri jalanan. ditengah perjalanan itu ia mengontak konco-konconya.
📲 "Kalian segera berjaga-jaga disekitar gudang itu. aku akan segera kesana." seru Stefan kemudian memutuskan pembicaraannya.
lelaki itu kembali menginjak pedal gas hingga full membuat kendaraan itu melaju seakan tak menjejak aspal lagi. ia menuju wilayah bagian utara, menuju kawasan Gorontalo Utara. kendaraan itu memasuki jalan pintas yang tembus ke asrama tentara Brigif 22 Otamanasa di Popalo kemudian membelok ke kiri, menuju arah barat dengan jurusan menuju Buol.
...******...
jet pribadi yang ditumpangi Kenzie dan Sandiaga baru saja mendarat di Bandara Jalaluddin Gorontalo. bergegas Kenzie membangunkan Sandiaga lalu setengah memaksa menarik anak itu keluar dan menuruni tangga pesawat. dengan langkah setengah berlari, Kenzie kembali menghubungi sekretarisnya.
📲 "Apakah kendaraan yang menjemputku sudah tiba?" tanya Kenzie.
📲 "Sudah Pak. mereka sudah menanti anda dua jam lalu." jawab Dewinta dengan sigap.
📲 "Beritahu mereka, aku sudah tiba." ujar Kenzie.
📲 "Baik pak." jawab Dewinta.
__ADS_1
pembicaraan itu terputus dan Kenzie yang menggaet tabgan Sandiaga kemudian sedikit berlari membuat anak itu juga terpaksa mengerahkan tenaganya menyusul sang ayah. mereka tiba di bagian departure. disana ada seorang lelaki yang berdiri memegang sebuah papan nama bertuliskan namanya. Kenzie segera menghampiri laki-laki itu.
"Ayo berangkat. " ajak Kenzie.
"Pak Direktur?" tanya orang itu kurang yakin.
"Kenapa? ragu ya?" hardik Kenzie dengan keras membuat orang itu terkaget-kaget. "Haruskah kurajah namaku didahi supaya kau bisa membacanya?!"
"Maafkan saya pak! mari silahkan ikut saya." sahut orang itu dengan sigap sambil berlari, membuat Kenzie bersama Sandiaga ikutan berlari.
ketiga orang yang berlarian itu sempat membuat perhatian pengunjung tertuju kearah mereka. hampir saja petugas pengaman bandara terpancing mengejar kalau saja salah satunya yang mengenal lelaki bercambang itu tak menyetop teman-temannya.
"Itu Pak Kenzie, direktur utama Buana Asparaga, Tbk." ujar lelaki itu menganggukkan kepala kearah pintu dimana Ke zie keluar. "Melihatnya berlarian seperti itu, bisa jadi ada hal yang mendesak dan harus segera ditanganinya."
sementara itu, Kenzie dan Sandiaga sudah tiba didepan. lelaki itu melongok dari pintu mobil. "Cepat masuk, Pak!"
Kenzie langsung membuka pintu belakang dan mendorong Sandiaga masuk, kemudian menyusul dirinya masuk. ia menepuk pundak kursi.
"Jalan, cepat dan aman!" seru Kenzie dengan tegang.
"Siap Pak!" seru lelaki itu langsung menyalakan mobil dan menginjak pedal gas hingga full. mobil berdecit keras san langsung melaju meninggalkan debu yang membumbung diarea beranda gedung bandara tersebut.
Kenzie kemudian menghubungi ayahnya.
📲 "Halo, Pa! ini Kenzie! kami sudah sampai dan dalam perjalanan menuju kota!" ujar Kenzie tanpa henti. "Papa ada dimana sekarang?!"
📲 "Papa dikediaman Lasantu." jawab Adnan.
📲 "Baik, kami kesana sekarang!" jawabnya kemudian menonaktifkan panggilan. Kenzie menepuk lagi pundak kursi.
"Ke Wongkaditi, Kediaman Lasantu, Sekarang!!" seru Kenzie.
"Siap Pak!!" seru sopir itu dengan sigap.
kendaraan kembali melaju dan bergerak dengan kecepatan nyaris 150 km perjam menuju arah kota Gorontalo.
...*******...
Taipan itu memberikannya pinjaman dana yang digunakannya membangun kerajaan bisnis berbasis narkotika yang sempat vakum sebab ia dipaksa orabg tuanya mengambil studi diperguruan tinggi UNG Kota Gorontalo, mendalami manajemen bisnis untuk meneruskan kepemimpinan kerajaan bisnisnya.
selain itu, Stefan ternyata merupakan pencandu **** bebas. ia pengidap penyakit satiromania sehingga lebih banyak bergaul juga dengan wanita-wanita pengidap gejala kelainan seksual sejenis seperti nympomania.
dikalangan anak buahnya, ada beberapa wanita yang juga pakar beladiri, namun sengaja disterilkan sehingga ia bebas menggauli mereka sekehendaknya. bahkan mereka bisa bermain layaknya sedang berpesta birahi, bersama petinggi-petinggi kartel yang merupakan koneksi Stefan.
lelaki itu tersenyum melihat penjagaan yang begitu ketat. ia memasuki gedung itu. disana sudah menanti seorang kakek dengan pakaian tradisional hitam dan sarung yang melilit dipinggangnya. lelaki itu memakai destar dan dibagian pinggangnya, menggantung sebilah aliyawo dengan gagang terbuat dari gading diukir kepala burung rangkong sedang sarungnya terbuat dari kayu hitam. beberapa helai rambut yang dipercaya merupakan bekas rambut lawan yang pernah dipecundangi lelaki itu, terikat pada bagian pangkal tengkuk ukiran kepala burung rangkong, mirip hiasan pada mandau suku dayak.
"Kukira kau tak datang, Bubu." sapa Stefan.
Kakek itu memang Bubu, yang pernah menjalin persahabatan dengan Adnan dan Yanto Lapananda. namun keberadaannya kali ini, untuk melindungi tuannya dari sergapan musuh yang menginginkan nyawa majikannya.
Bubu tersenyum tipis menanggapi sapaan Stefan. lelaki minahasa itu mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Aku tak akan kuatir, jika ada kau." ujar Stefan.
Bubu menganggukkan kepala dan mendehem. beberapa saat kemudian muncul lelaki tinggi berwajah arab. Stefan menatap lelaki bertubuh tinggi itu.
"Siapa ini, Bubu?" tanya Stefan.
lelaki itu menunduk takzim. "Basel Essam, dari Kairo, Tuan. siap melayani anda." ujarnya memperkenalkan diri dalam bahasa inggris.
"Apakah kau..." ujar Stefan memicingkan mata.
"Saya dikirim Tuan Chung untuk mengawal anda. saya sudah sebulan berada disini, sejak anda ditangkap." jawab lelaki itu.
Stefan mengangguk-angguk lalu menatap Bubu. "Hanya diakah yang dikirim Tuan Chung?"
Bubu mengangguk. Stefan kembali menatap Basel Essam. "Kuharap kau mampu membunuh orang itu. jangan remehkan gendernya. perempuan itu monster. taklukkan dia!" ujar Stefan kemudian tersenyum nakal. "Jika kau bisa menangkapnya hidup-hidup, aku akan membayarmu tiga kali lipat dan kita berdua akan memuaskan fantasi birahi kita berdua pada tiga lubang ditubuh perempuan itu."
__ADS_1
ucapan vulgar lelaki minahasa itu sontak membuat Basel Essam tertawa keras. sedang Bubu, kembali tersenyum tipis saja.
...*****...
Kenzie tiba di Kediaman Lasantu dan Adnan sudah menantinya diberanda. lelaki bercambang itu keluar dari mobil diikuti Sandiaga.
"Bagaimana kau bisa lolos dari penyekapan itu?" tanya Adnan.
"Itu nggak penting sekarang Pa! apakah Wiffy sudah ditemukan lokasinya?" tanya Kenzie.
Adnan menggeleng. "Adek menonaktifkan semua perangkat telekomunikasi. sampai saat ini, dia belum menghubungi Papa sama sekali."
"Sama juga denganku, Pa. seakan dia hilang ditelan bumi. aku sekarang ini kalut Pa." sahut Kenzie.
"Mari masuk dulu." ajak Adnan.
"Mama mana?" tanya Kenzie.
"Dia di Kediaman Mantulangi di Suwawa, sementara dikawal dan dijaga oleh keluarganya." jawab Adnan.
ketiga orang itu masuk, langsung menuju ruang keluarga. sementara sopir perusahaan telah melajukan kendaraannya meninggalkan Kediaman tersebut.
Kenzie menatap Sandiaga. "Nak, beristirahatlah. Papa masih punya urusan lain." pinta lelaki bercambang itu.
Sandiaga menatap Kenzie dan Adnan bergantian lalu melangkah menuju kamarnya dan mendiamkan diri disana. anak itu menatap kamar pribadinya yang tetap tak berubah semenjak ia mengikuti ayah ibunya menuju Jepang, menjenguk Fitri dan Kameie.
aku bisa saja menggunakan kecakapan yang kulatih bertahun-tahun untuk melacak keberadaan Mama. tapi kurasa Mama tak mengijinkanku karena kuatir Papa semakin tidak fokus pada pekerjaannya.
...*******...
Trias menghentikan maung hitamnya dihalaman kediaman Lasantu. lelaki itu turun dan melangkah ringan menaiki beranda dan mengetuk pintu.
tak lama kemudian, pintu menguak, Kenzie dan Adnan keluar dari sana menjumpai lelaki itu.
"Benarkah kau disekap Paman Ienaga?" sembur Trias saat Kenzie baru saja keluar.
"Kau pikir aku bercanda?" tukas Kenzie melangkah menuju sofa di beranda dan duduk disana. "Wiffy meminta mereka menahanku supaya dia tak akan dihalangi untuk menjalankan balas dendamnya. tapi aku berhasil meloloskan diri. entahlah... semua terasa ganjil bagiku..." ujarnya dengan wajah keruh dan melipat tangan kedada.
"Bagaimana? apa kau sudah bisa melacak keberadaan Chiyome?" tanya Adnan kepada Trias.
lelaki itu mendesah. "Bagaimana bisa aku melacak keberadaan orang yang bergerak bagai hantu? inilah yang paling kusesalkan jika Stefan bebas. sayangnya atasanku tak mempertimbangkan hal tersebut."
Adnan hanya menarik napas. "Kalau begitu, tarik dirimu dari kasus ini. biarkan orang lain yang menanggung penderitaanmu."
"Nggak bisa Om." tolak Trias. "Aku menolak! itu sahabatku sendiri. Bagaimana bisa aku membiarkannya berkeliaran dengan kedua tangan berlumuran darah begitu. dendamnya telah memakan nyawa 20 orang pengawal pribadi keluarga Waworondouw. mereka tercincang-cincang dan sekarang telah kuamankan bersama tim forensik dirumah sakit untuk diotopsi."
"Lalu, bagaimana maumu?" pancing Trias.
"Aku akan mencegahnya sebisa mungkin. tapi kurasa itu mustahil. keberadaan Chiyome sulit dilacak. dia mematikan perangkat selularnya sehingga kami kesulitan melacaknya melalui satelit." sesal Trias.
Kenzie melirik Trias. "Kau menyediakan pengawalan dirumahmu?" ujarnya tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Trias.
"Apa kau pikir nantinya Stefan tidak akan menyatroni rumahmu?" pancing Kenzie.
Trias menarik napas. "Ken... Saripah tahu apa yang bisa dilakukannya. tapi pokok persoalannya bukan Ipah, bukan aku, bukan kamu, bukan Om dan Sandiaga. tapi adalah Chiyome dan Stefan." lelaki itu mengambil napas sejenak lalu mengetuk sisi meja. "Jika kita menemukan Stefan, kita pasti akan menemukan Chiyome. jadi target pencarian kita adalah Stefan. bukan Chiyome."
"Kau sudah menghubungi orang tua bajingan itu, menjelaskan situasinya?" pancing Kenzie.
"Aku menyuruh pihak lain menghubungi mereka. bagaimanapun, aku pernah bentrok juga dengan biadab itu." ujarnya kemudian terkekeh. "Aku mematahkan beberapa tulang rusuknya pake bantingan rock bottom gaya Dwayne Johnson."
"Lalu?" desak Kenzie.
"Belum ada keterangan dari pihak keluarga Waworondouw." jawab Trias dengan polos.
Kenzie berdiri lalu memandang suasana malam yang mengitari tempat itu. "Kurasa, Wiffy sudah bergerak sekarang. malam adalah kesempatan baginya untuk bergerak. ia seorang praktisi ninjutsu." Kenzie menatap Trias. "Bagaimana dengan para hacker kepolisian? mereka bisa mengendus keberadaan Stefan?"
__ADS_1
"Nggak. lelaki itu juga berlaku sama seperti Chiyome, mematikan perangkat selularnya." jawab Trias. sejenak kemudian ia tersenyum dan menatap Kenzie.
"Ken, kenapa tidak kita pakai cara Tangan Ketiga Buana Asparaga, Tbk? kurasa mereka bisa." seru Trias.[]