
Kasia, Tumolata, Pukul 02.12 Dini hari.
Maung Hitam dan SUV yang dikendarai Tim Pasopati bersama Kenzie telah tiba di ujung jalan tak beraspal, tugu semi-gapura Kasia. kedua kendaraan itu memasuki jalanan tak beraspal itu. hamparan bebatuan besar yang menghiasi jalanan itu tak diperdulikan, terus saja diterobos.
malam sudah bergerak menuju subuh, beberapa saat terdengar sahutan kokok ayam jantan saling berbalas. kedua kendaraan itu terus menyusuri jalanan berbatu itu hingga mendapati jalanan menanjak. maung hitam dengan perkasa mendaki jalanan itu disusul oleh SUV yang berjalan terseok-seok, kagok oleh medan yang sulit dijajaki oleh permukaan ban kendaraan itu.
📟 "Bray, kelihatannya kendaraanku nggak akan sanggup mendaki jalanan ini." ujar Bambang dengan cemas.
Maung hitam itu berhenti.
📟 "Bray, parkir saja SUV nya disini. kalian naik saja ke mobilku.
SUV itu kemudian berhenti dan mengambil tempat disisi jalanan dekat dinding bukit. keenam anggota Pasopati kekuar dari kendaraan itu dan berlari kecil ke maung hitam lalu membuka pintu belakang dan kendaraan itu kembali mendaki jalanan menanjak itu.
tanpa melihat kebelakang, Trias memberi brifing.
"Bray, tugas kita adalah menyergap dan menangkap kembali Stefan dan memastikan keselamatan Ny. Kenzie Lasantu. singkirkan semua penghalang dan jangan tunjukkan belas kasihan kepada lawan! paham!" seru Trias.
"SIAAAAPP!!!" seru keenam anggota lainnya.
Trias melirik Kenzie. "Ente siap Bray?"
"Sudah sejak tadi, Coy!" jawab Kenzie dengan senyum tipis.
Trias tersenyum. "Kuanggap kau anggota nggak resmi tim ini." lelaki itu menarik napas lalu kembali menatap jalanan. "Mari kita selamatkan sahabat kita."
kendaraan itu akhirnya menemui jalan buntu. maung hitam itu berhenti dan kedelapan orang itu keluar. maung hitam kemudian disamarkan pada rimbunan pohon kecil yang dahan-dahannya merunduk kebawah.
Trias menghampar kertas berisi peta topografi ditanah dan dikelilingi oleh ketujuh orang itu. Andy Kratos dan Aldi menyorot peta datar tersebut dengan senter.
Trias menunjuk salah satu titik. "Kita berada disini. sedang target berada dititik ini." ujarnya kemudian menunjuk koordinat berdasarkan informasi yang dipaparkan oleh Tangan Ketiga dari Buana Asparaga, Tbk. "Perhatikan kontur-kontur dataran. kita akan menabrak tebing ini, jadi yang kita lakukan adalah, memutar memunggungi tebing. tim penanda (marksman) akan memastikan kawasan awal yang kita masuki aman. lalu kita akan melakukan penyergapan. tim pendobrak bertugas membersihkan kawasan itu agar aku dan Pak Lasantu bisa memeriksa tempat tanpa hambatan. sementara tim lain kemudian bekerja saling membahu untuk mencari cara meloloskan Stefan dari pengamanan orang-orangnya, sekaligus menyelamatkan Ny. Kenzie Lasantu, jika kita menemukannya. paham?!" ujar Trias menatapi satu persatu anggota Pasopati.
"Paham!!" seru keenam opsir tersebut dengan tanggap.
Trias mengangguk lalu melipat lagi peta datar itu dan menyisipkannya dikantung celananya. lelaki itu berdiri diikuti oleh ketujuh orang itu.
"Semua sudah siap?" tanya Trias lagi untuk memastikan. ia mencabut revolver raging bull kebanggaannya itu, sementara Kenzie telah melepaskan pengaman pada SIG-P226 miliknya pula.
"Marksman siap!" ujar Bambang menyandang SV-2 diikuti oleh Stephen. keduanya memang menyandang tugas tersebut dalam setiap penggerebekan.
"Pendobrak, Siap!" seru Aldi menyandang senapan seru SV-1 yang dilengkapi granat launcher, diikuti oleh Andy Kratos.
Trias mengangguk dan menatap Tiko beserta Koko. "Kita bertiga, bersama Pak Lasantu akan menggerebek setelah Bambang dan Stephen melakukan tugasnya."
"Siap!" jawab Tiko dan Koko sembari mengokang senapan gentel buatan Pindad.
"Berangkat!" seru Trias.
keenam opsir itu langsung menandai jalanan dengan jejak langkah mereka sementara Trias dan Kenzie melangkah dibelakang menyusul keenam anggota tim Pasopati.
"Aku berharap, Wiffy belum menemukan Stefan. aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada penjahat itu jika Wiffy menemukannya." ujar Kenzie.
Trias melirik sahabatnya.
__ADS_1
"Saat aku mencari Wiffy dalam insiden Tokyo itu, aku memergoki dirinya menista Nobuo bahkan disaat lelaki itu sudah tak bernyawa. betapa malangnya." ujar Kenzie.
"Kira-kira, apa yang akan dilakukan Chiyome terhadap lelaki itu?" pancing Trias.
"Seperti amanat Otoosan kepadanya.... menguliti Stefan hidup-hidup." jawab Kenzie menarik napas. "Aku tak ragu, Wiffy akan melakukannya. dia, Sang Kembang Kematian... itu julukannya sebagai salah satu dari barisan pembunuh yang dibanggakan klan Yamaguchi."
Trias meringis menghayati jenis siksaan macam apa yang akan Chiyome timpakan kepada Stefan Waworondouw. kedua lelaki itu menyusul keenam opsir yang sudah menelusuk kedalam hutan.
...*******...
Stefan seperti tidak menghiraukan maut yang sejak tadi mengintainya. lelaki itu sibuk melampiaskan hasrat haiwaniyahnya kepada lima wanita telanjang yang sementara digaulinya. dihadapannya duduk bersila, Bubu yang diam saja menonton adegan persetubuhan layaknya sebuah adegan dalam film yang kali ini disorot secara langsung oleh kedua bola mata kamera milik kakek itu.
"Bagaimana.....dengan penjagaan diluar? kau yakin, anak buahmu...bisa menangani....perempuan...itu?" tanya Stefan ditengah napasnya yang memburu karena sibuk menyenggamai wanita dihadapannya, membiarkan yang lainnya memuaskan hasrat dengan membelai dan menciumi bagian tubuh Stefan yang lain. bahkan salah satu wanita itu justru membakar gairahnya dengan mencumbui kawan wanitanya yang sementara disetubuhi Stefan, layaknya kaum sadum.
Bubu menggerakkan tangan dan raut wajahnya, mengisyaratkan jawaban kepada Stefan.
"Aku tak yakin Stefan... mereka tidak sepertiku. selebihnya hanya kriminal cetek yang ingin menemukan kemasyhuran saja. jika yang kau inginkan dari mereka untuk menghadapi sepasukan polisi yang menggerebek, kurasa mereka bisa diandalkan... namun, untuk menghadapi pembunuh selevel hitman, kurasa mereka jauh dari yang diharapkan..."
Stefan mengerang melepaskan cairan suklanya dan tanpa permisi langsung mencabut benda reproduksinya dari dalam tubuh wanita itu. lelaki itu kemudian duduk membiarkan bagian tubuh dirinya, termasuk pipa coitus yang masih mengalirkan air semen, dibersihkan oleh para wanita tersebut. ia kembali menatap Bubu.
"Aku bisa mengandalkan Basel Essam untuk menaklukkan pembunuh itu." ujar Stefan sembari meraih gelas di nakas samping hamparan bolsak yang dihuni betina-betina pemuas nafsu itu, kemudian meneguk beberapa kali dan meletakkan benda itu kembali di nakas.
Bubu menggeleng sambil tersenyum. ia kembali menggunakan bahasa isyarat. "Menurut informanku, pembunuh ini adalah adik serahim dari perempuan bersuami yang kau perkosa hingga tewas itu."
"Begitukah?" tanya Stefan, sedetik kemudian meringis merasai geli pada saluran kemihnya yang disedot salah satu wanodya tersebut. sementara yang lainnya asyik mencucupi bagian dada dan menjilati perut lelaki itu dengan birahi yang menyelimuti hasratnya.
Bubu mengangguk, lalu menyambung dengan bahasa isyarat, "Dan perempuan itu adalah putri seorang yakuza. menilik dari berita itu... perempuan ini punya kemampuan menbunuh sekelas Samantha Lethwaite. sebaiknya kau berhati-hati."
"Apakah kau tak mampu membunuhnya?" ejek Stefan.
"Sekalian menaklukkannya juga. jika kau bisa menangkapnya hidup-hidup, kita bisa bersenang-senang menghangati tubuh kita dengan perempuan itu. kabarnya, perempuan jepang lebih cepat keluarnya dan sangat sensitif bagian genitalnya." ujar Stefan dengan senyum nakal, "Aku penasaran ingin merasai kehangatan liang senggamanya itu. kurasa, benda panjangku ini, mampu membuatnya kelojotan mandi p***h" ujar Stefan kemudian tertawa.
Bubu terkekeh lalu menggelengkan kepalanya. ia menjawab lagi dengan bahasa isyarat, "Aku nggak tertarik dengan wanita. aku nggak sepertimu. jika kau mau bersenang-senang dengannya, silahkan saja."
"Ah, kau jangan munafik." olok Stefan. "Kenapa? kau impoten?"
Bubu tertawa menanggapi hinaan itu. ia menjawabnya lagi dengan bahasa isyarat. "Dalam otak dangkalmu itu hanya ada lobang m***k saja. aku manusia normal, juga mencintai wanita. namun disaat seperti ini, aku lebih memilih melampiaskan hasratku dengan menumpahkan darah lawanku."
Stefan tertawa. "Terserah kamu saja." ujar lelaki itu sembari bangkit dan mendekati Bubu dengan tubuh telanjangnya yang kekar. lelaki minahasa itu kemudian jongkok dihadapan kakek yang duduk bersila itu.
"Hei, dihadapanmu, ada lima perempuan polos tanpa selembar benangpun." Stefan memicingkan mata. "Kau sama sekali tak terusik?"
Bubu menghela napas dan sekali lagi menggeleng. ia kemudian menjawab dengan bahasa isyarat, "Stefan... kamu boleh saja mengumbar kesenanganmu menikmati wanita. tapi kau juga harus sadar bahwa bukan tak mungkin saat ini kau akan menyetorkan nyawamu kepada pembunuh itu. aku bisa melindungimu, namun aku tak bisa melawan kekuasaan takdir..."
"Bah! ada apa dengan takdir?!" umpat Stefan kemudian meludah dengan jengkel. "Sampai saat ini juga aku tak tersentuh oleh maut. kematian, tak akan mendekatiku! kau tahu? kematian, tak akan mendekatiku!!" seru lelaki itu dengan jumawa, sembari bangkit dan mengembangkan tangannya dengan postur mirip patung Apolo Belvedere karya Leokhares.
Bubu bangkit dan menatap Stefan. ia kembali bicara dengan bahasa isyarat, "Kau sudah melampui arogansi seorang penguasa. aku tak mau lagi meladeni kesintinganmu..." lelaki bisu itu tersenyum, kemudian bicara lagi dengan bahasa isyarat, "Sebaiknya aku pergi... musuh mungkin sudah menunggu didepan gerbang..."
selesai berkata begitu, Bubu berbalik dan melangkah tenang meninggalkan Stefan yang mengumandangkan tawa arogannya diiringi cekikian sombong para betinanya.
...*******...
tim Pasopati bersama Kenzie sudah tiba dilokasi. Bambang dan Stephen mengamati keadaan. "Dua orang bersembunyi di reruntuhan pohon itu. disana ada beberapa orang lagi." Bambang menatapi Trias. "Penjagaan ini sudah diperketat. mereka sudah mengetahui kedatangan kita."
__ADS_1
Trias menggeleng. "Mereka bukan menyambut kita." lelaki itu menatap Kenzie, "Mereka menyambut Chiyome."
Kenzie sejenak menatap Trias lalu kembali melayangkan pandangan ke komplek bangunan terbuat dari bahan lignifikan. dindingnya dari anyaman pitate dan atapnya dari serat pohon seho. beberapa bangunan itu berbentuk rumah panggung. di sekitaran bangunan itu nampak dinding buatan dari tumpukan karung-karung berisi pasir, mirip penerapan fortifikasi dalam perang, untuk tempat berjaga maupun perlindungan bagi penjaga.
Trias menunjuk senapan-senapan berat yang berjejer diatas benteng karung beras itu. "Aku tak tahu darimana mereka membeli senapan M2 Browning itu. penjaga lainnya juga bersenjatakan M240 buatan Amerika. menilik persenjataan mereka, kelihatannya bekingan orang-orang ini adalah person yang kaya, semacam milyarder, atau bahkan oknum pejabat tinggi negara." Trias menatap lagi Kenzie. "Penyergapan kali ini tidak akan mudah. ini seperti kondisi perang lepas." ujarnya memperingati Kenzie. lelaki bercambang itu menarik napas, menguatkan tekadnya. bagaimanapun bagi Kenzie, nyawa Chiyome adalah prioritas tertingginya.
"Anggap saja kita sedang menyatroni sarang gerombolan pengacau keamanan." ujar Kenzie kemudian mencabut SIG-P226 miliknya dari holster pinggang. "Kita akan melakukan serangan."
"Kami bergerak sekarang." ujar Bambang dengan pelan.
Trias menatapnya lalu mengangguk. Bambang dan Stephen bergerak dengan lincah meninggalkan tempat tersebut. namun tetap saja gerakan mereka terdeteksi. salah satu penjaga dimenara berteriak, "Penyusup! arah jam dua!" serunya langsung membunyikan bel.
terdengar dentangan logam, membuat Trias mengumpat dengan jengkel. "Berpencar! kepung tempat ini!" serunya kepada tim Pasopati. semua opsir langsung mengaplikasikan. perintah itu. mereka menyebar.
BUM!!! TRETETETETETETTE.... DRETETETET....
seketika menyalaklah senapan M2 Browning dan M240 yang digenggam para penjaga. Bambang dan Stephen mengumpat-umpat. Stephen mengarahkan moncong pistolnya ke arah menara. ia membidik penjaga menara.
DOR!
penjaga itu tertembak tepat dikepala. ia jatuh mirip buah kelapa jatuh dari pohonnya. Bambang membidik salah satu penyandang M2 Browning.
DOR!
penjaga itu tumbang, namun langsung digantikan oleh yang lainnya, mengarahkan moncong senapan itu, menyemburkan proyektilnya ke arah Bambang dan Stephen yang yang bersembunyi di balik pohon besar.
"Ti, Tameya mayi ti... lobuta ambunga limongoli ti!!" seru Trias bangkit dari persembunyiannya, mengarahkan proyektil-proyektil revolvernya ke kawanan musuh. beberapa orang tumbang tertembus peluru jenis 454 Casull, menghadiahkan lubang besar menganga, sebab pistol milik Trias, selevel dengan senapan berburu yang digunakan untuk menembak rusa salju. selebihnya, Trias kembali lari berlindung untuk mengisi ulang pelurunya.
sementara Kenzie juga sudah keluar, menembaki orang-orang itu dengan pistol SIG-P226 andalannya. bunyi letusan yang bersahut-sahutan seiring desingan proyektil yang saling berseliweran, meramaikan adu tembak tersebut.
BUM!! BUM!! DUARRR!!!
Andy Kratos dan Aldi juga telah mengamuk, memuntahkan peluru granat yang memporak-porandakan beberapa benteng karung pasir, menyebabkan sebagiannya terlempar dengan tubuh koyak dan nyawa lunas.
sementara dirumah paling ujung, Stefan yang juga sudah mendengar bunyi-bunyi tembakan langsung sigap menyuruh para betinanya berpakaian. kelimanya sebenarnya merupakan sekelompok wanita pembunuh yang juga berperan ganda sebagai pemuas nafsu birahi. mereka termasuk salah satu kelompok pembunuh bayaran tingkat satu se-Indonesia yang disewa Taipan bernama Chung untuk melindungi kartelnya.
adapun Stefan merupakan salah satu tangan kanan yang dipercaya Chung dalam mengelola kartel narkotikanya. ia menatapi kelima perempuan itu.
"Kalian ikut denganku! kita menyingkir dari sini!" serunya.
Stefan memimpin upaya meloloskan diri itu, dan keenam orang itu melarikan diri kedalam hutan. sementara mereka menyusuri belantara, keenam orang itu terkejut, ketika sosok hitam turun dengan cepat dari dahan pohon, menjejak tanah dalam posisi berlutut sambil menggenggam pedang.
Stefan sejenak menajamkan penglihatannya dan setelah itu ia mengerang.
"Kau!!!" serunya dengan kaget.
bagai dikomando, kelima perempuan berpakaian safari rimba itu kompak membentuk barikade memperisai Stefan dan memasang sikap tempur.
dibelakang para wanita itu, Stefan kembali tertawa jumawa. "Kau tak akan bisa menyentuhku, L***e!!" ejek Stefan sambil bercakak pinggang. "Aku berani mempertaruhkan k****lku untukmu!"
sosok itu, tak lain adalah Chiyome Mochizuki, kemudian berdiri menegakkan tubuh dan memasang sikap hasso no kamae. namun baru saja ia beranjak, tiba-tiba saja langkahnya tertahan. Chiyome menurunkan pedangnya dan menatap kegelapan.
langkah tenang terdengar mendekat hingga akhirnya sosok itu muncul. ia seorang kakek berpakaian mirip pelangga, menggenggam aliyawo yang terhunus.
__ADS_1
Stefan tahu, siapa yang datang. dengan gembira, ia berteriak, "Bubu!!! untung kau datang! ayo, bunuh perempuan itu!"[]