
"Hubby..." jerit Chiyome dengan cemas.
"Bagaimana nak? menyerah?!" tantang Kenzie setengah menghardik. Sandiaga menatap Kenzie dan lelaki itu bercambang menyadari tatapan Sandiaga yang memerah. ia terkejut.
"Tidak akan!!" seru Sandiaga tiba-tiba menangkap kedua tangan Kenzie yang mencengkeram kerah tegi nya. dan dengan sekali ayunan, dua kaki maju menghantam dagu Kenzie membuat lelaki itu terdongak dan seketika cengkeraman pada kerah pakaian lawannya terlepas. Sandiaga melakukan rolling ke belakang dan duduk setengah berlutut dengan tangan terpentang membentuk cakar.
Kenzie terjajar beberapa langkah kebelakang dan memegang rahangnya yang sakit terkena tendangan putranya sendiri. ia kemudian berdiri menatap Sandiaga yang masih tetap dengan posturnya.
"Lumayan sakitnya. aaahhh.... Papa kali ini semangat betul!" seru Kenzie dengan gembira dan langsung mengerahkan sikap dudutao dan disambung dengan gerak mohudu bersiap menyambut serangan Sandiaga.
"Hubby..." tegur Chiyome lagi dengan cemas.
"Jangan kuatir Wiffy.... ini pertandingan laki-laki..." jawab Kenzie kemudian menudingkan telunjuknya kearah Sandiaga. "Bukankah kau laki-laki Saburo?!"
"Papa jual, saya beli!!!" seru Sandiaga yang kemudian langsung merubah kembangan mengikuti gaya dudutao dalam langga dan menyambungnya dengan sikap mohudu.
"Kau tukang jiplak ya?!" hardik Kenzie dengan senyum terkembang dan ia maju melakukan serangan. Sandiaga refleks melakukan sikap mohemeto, menyambut serangan ayahnya.
terjadi pergumulan antara dua lelaki beda usia. keduanya berupaya saling menangkis dan menangkap tangan dengan tujuan membanting lawan ke lantai. keduanya kini bertanding bukan menggunakan tekniknya, melainkan sudah beralih ke teknik langga. Sandiaga berulang kali menangkis dan menangkap pergelangan tangan ayahnya namun berkali-kali gerakannya mampu diantisipasi oleh Kenzie.
pergumulan itu kini terlihat lebih mirip adu seni wingchun jarak dekat. keduanya berkutat saling berupaya menjatuhkan. Chiyome menatap keduanya dengan cemas. ia ingin berdiri dan menghambur kearah mereka berdua. namun ia sadar, sang suami kini dalam posisi to baya-bayango sehingga apapun gerakan dari luar akan dianggap sebagai serangan dan pasti dia akan mengantisipasinya dengan cepat.
disisi lain Sandiaga juga dalam posisi terjepit. hanya kecerdasan saja yang menolong anak itu sehingga berkali-kali lepas dari ancaman serangan ayahnya. keduanya masih terus terlibat dalam aksi membelit dan bergumul. hingga akhirnya Sandiaga memutuskan untuk mengambil jeda. ia mendorong kedua tangan Kenzie dan dengan ringan melompat ke belakang lalu berdiri dengan sikap gedan barai.
"Hah!!! kamu nggak akan bisa mengalahkan Papa, Saburo!!" olok Kenzie dengan keras.
"Kishamaaaaa!!!!!" seru Sandiaga tiba-tiba melompat ringan ke udara dan berpusingan diatas. dalan posisi melayang itu ia melakukan teknik ushiro tobi geri yang kemudian dicampur dengan teknik yoko tobi geri.
Kenzie terkejut dan terpaksa membuang tubuhnya dua kali ke belakang. sekali lagi, Sandiaga maju mengayunkan kumade uchi. Kenzie terpancing menyilangkan kedua lengannya ke wajah dan cakar anak itu tertahan pada silangan lengan tersebut. Sandiaga maju mengarahkan teknik ura nukite tsuki mengincar dagu Kenzie.
terpaksa Kenzie melepaskan silangan lengan dan menepis keluar serangan putranya. Sandiaga tak patah semangat. ia merubah teknik ura nukite tsuki menjadi haiwan shuto uchi mengincar batang leher Kenzie.
TAKKK.....PLAKKK....
Kenzie dengan refleks menangkap pergelangan tangan Sandiaga dan menariknya. tubuh anak itu terdorong ke depan dan Kenzie maju melayangkan teknik molulao mengincar perut Sandiaga.
dengan cakarnya, Sandiaga berhasil menangkap pergelangan tangan ayahnya dan menariknya keluar dari sisi kanan. Sandiaga maju mengayunkan oitsuki uchi mengincar wajah Kenzie.
serangan itu luput dan Kenzie berhasil melempar tubuhnya ke belakang. sementara Sandiaga berdiri dengan posisi zenkutsu oitsuki kamae.
"Sudah hebat juga kamu ya?" puji Kenzie kemudian melakukan penghormatan.
Sandiaga tahu sang ayah tak lagi menyerang. ia kembali ke sikap shizentai lalu berdiri gaya musubi dan membungkuk melakukan reishiki. Sandiaga kemudian menegakkan kembali tubuhnya.
"Papa... ajari aku teknik itu dong!" tuntut Sandiaga.
Kenzie tertawa. "Kamu kan sudah punya teknik ibumu." oloknya.
"Nggak sempurna jika semua warisan keluarga belum kukuasai." kilah Sandiaga.
Chiyome tersenyum, anak yang haus ilmu....
wanita itu bangkit berdiri lalu melangkah mendekati kedua petarung itu. "Latihan hari ini cukup sampai disini." ujarnya.
"Ahhh... padahal aku masih tergoda untuk menggali lagi potensi Saburo." keluh Kenzie.
"Hubby... sudah cukup!" tegur Chiyome. "Hubby nggak pikir sedari tadi aku cemas melihat kalian berdua bertarung seakan nggak ada lelahnya."
"Itu memang kelebihan anak-anak keluarga Lasantu-Mochizuki.... energinya kayaknya nggak habis-habisnya." puji Kenzie lalu mengusap kepala Sandiaga. "Kau ganti pakaianmu." perintahnya.
"Ya, Papa..." jawab Sandiaga kemudian membungkuk sekali lagi dihadapan ayah dan ibunya lalu melangkah santai meninggalkan dojo.
tinggallah Kenzie dengan Chiyome. lelaki itu langsung memeluk istrinya dengan mesra. "Tinggakl kota berdua, honey..." ujarnya.
Chiyome tersipu. tangan Kenzie merayap ke bagian dada dan meremas bongkahan yang bersembunyi dibalik tegi putih kedodoran tersebut.
__ADS_1
"Kita main yuk. lama aku nggak main... panthungo sudah mengacung sejak tadi." bisik Kenzie.
Chiyome tertawa dan mengangguk. "Ayo... aku layani Hubby sampai puas."
keduanya melangkah saling menggandeng pinggang melangkah meninggalkan dojo.
...******...
Bakri bekerja dengan lebih semangat. kehamilan Aisyah menimbulkan energi baru dalam keseharian hidupnya. lelaki itu bahkan telah hadir lebih pagi melebihi semua karyawan Buana Asparaga.Tbk membuat mereka sering risih dengan keberadaan direktur operasional perusahaan tersebut.
Bakri tidak perduli. baginya ini bagian dari rasa syukurnya kepada Allah atas kehamilan yang dianugerahkan-Nya kepada istrinya. Aisyah sendiri kini telaten memeriksakan diri ke dokter kandungan dan selalu mengonsumsi susu perkembangan janin.
"Ini adalah anak pertama kita. aku ingin dia mendapatkan pelayanan paling baik dari kita berdua." ujar Bakri ketika keduanya duduk di beranda sore itu.
"Oooo berarti kalau anak kedua dan seterusnya, nggak dilayani dengan baik kebutuhannya, begitu?!" tanggap Aisyah dengan nada merajuk.
"Bukan begitu sayang..." ujar Bakri sambil tersenyum. "Semua anak kita, pasti akan kulayani segala kebutuhannya. bagiku... ini adalah berkah terbesar yang Allah berikan kepada kita."
"Sayang...." ungkap Aisyah dengan manja. "Kamu maunya anaknya apa? laki-laki atau perempuan?"
"Kok nanyanya kesitu?" tanya Bakri.
"Ya, biasanya kan bapak-bapak itu sukanya pertama tuh anak laki-laki." ujar Aisyah dengan wajah sendu.
"Aku nggak pikirkan kelaminnya sayang. mau perempuan kek, laki-laki kek, bagiku mana-mana ada yang dikasih Allah, aku terima.... asal bukan banci saja yang keluar.... aku nggak ridho.." jawab Bakri kemudian berkelakar membuat Aisyaj tertawa.
"Kalau begitu, boleh nggak kalau anak pertama kita perempuan?" pinta Aisyah.
"Nggak usah menargetkan hal seperti itu. nanti kalau nggak sesuai kenyataan bisa kecewa. pokoknya siapapun dia, laki-laki maupun perempuan, kita sambut kelahirannya." jawab Bakri.
"Kau... memang suami idaman." puji Aisyah.
"Ya, tapi kau lama nggak sadar." sindir Bakri dengan senyum membuat Aisyah menjadi malu.
"Jangan ingatkan aku tentang kenangan buruk itu lagi. aku telah tentram disisimu." tegur Aisyah dengan lembut.
"Aahhhh... Abi, mentang-mentang Umi sudah punya calon bayi, aku disingkirkan." ujar Sandiaga yang tiba-tiba saja sudah ada diberanda berdiri sambil bercakak pinggang.
Bakri tertawa, "Nggak kok. bagi kami, kamu tetap putra pertama kami." ujar lelaki itu melambaikan tangan mengisyaratkan Sandiaga untuk mendekat.
anak lelaki itu melangkah mendekati Bakri dan dengan sigap lelaki itu meraihnya dan mendudukkannya di pangkuan.
"Bagaimana perkembangan beladiri putraku ini?" tanya Bakri.
"Aku baru saja mengalahkan Papa dalam olah tanding tadi." jawab Sandiaga.
"Oh ya?" ujar Bakri dengan senyum.
"Tentu, tapi ku yakin Abi pasti nggak percaya." ujar Sandiaga lagi.
"Ahhh... teknik yang digunakannya curang." ujar Kenzie yang ditemani Chiyome muncul pula diberanda. kedua laki-istri itu kemudian duduk disofa berseberangan dengan Bakri dan Aisyah yang sementara mengelus perutnya yang mulai membuncit.
"Curang gimana?" tanya Bakri.
"Anak ini punya photograpic memory. dia dengan gampang bisa menjiplak jurus macanku, bahkan teknik langga." jawab Kenzie dengan wajah dibuat kesal.
"Oh ya? wah... berarti putraku hebat dong." puji Bakri.
"Tentu Abi.... sesuai amanat kalian semua... ke depan, aku akan menjadi penjaga keluarga... dan... penguasa dunia!" seru Sandiaga dengan semangat.
Bakri terkejut. "Hei, darimana anak ini mendapat ide menjadi penguasa dunia?" ujarnya menatap Kenzie dan Chiyome.
"Sejak dia diresmikan lompat ke kelas 3." jawab Chiyome.
Bakri menatap Sandiaga dengan dalam. "Mengapa kau ingin menjadi penguasa dunia, nak?"
__ADS_1
"Bukankah Nabi Muhammad juga seorang penguasa dunia?" ujar Sandiaga menatap Bakri.
"Setahu Abi nggak begitu kok." bantah Bakri.
"Lalu, mengapa dia bisa bertemu Tuhan dengan fisiknya sementara nabi-nabi dan rasul lain nggak bisa? bukankah itu menandakan bahwa dia juga seorang penguasa dunia, bahkan alam semesta?" ujar Sandiaga.
Bakri menatap Kenzie dan Chiyome sejenak lalu kembali menatap Sandiaga.
"Mengapa kamu punya pemikiran seperti itu?" tanya Bakri.
"Coba Abi bayangkan... ketika Nabi Adam tercipta, dia melihat sebuah kalimat tertera, 'Asyhadu alla ila ha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah' dan beliau bertanya kepada Allah. siapa orang itu? Allah menjawab, sesungguhnya Adam sendiri tercipta dari cahaya orang itu. sehingga Adam pun merasa sedih. orang itu masih berbentuk cahaya yang disebut Nur Muhammad." jawab Sandiaga panjang lebar.
Bakri menatap Kenzie. "Kamu memberikan dia bacaan yang belum pantas dicernanya." tegurnya.
"Hei, buku-buku jenis itu nggak ada dalam daftar perpustakaan digitalku." bantah Kenzie.
"Aku bukan belajar dari buku-buku milik Papa, Abi... tapi ustadz di sekolah yang bilang begitu." jawab Sandiaga. "Makanya, aku ingin mencontoh Nabi Muhammad untuk menjadi penguasa dunia!"
Bakri memicingkan mata. "Siapa kepala madrasah Ibtidaiyah di Al-Khairaat?" tanya lelaki itu.
Kenzie menyebutkan namanya. Bakri menarik napas panjang. "Sebenarnya ini ajaran yang berhubungan dengan tasawuf..."
"Tasawuf itu apa Abi?" sela Sandiaga.
"Nanti Abi jelaskan... tapi, bolehkah Sandi nggak menyela dulu? atau Sandi nonton tivi saja ya?" pinta Bakri.
"Ah, bosan tiap hari nonton tivi melulu." kata Sandiaga kemudian menatap ayah dan ibunya. "Papa, Mama.... boleh nggak Sandi pesiar ke rumah teman?"
"Sama siapa?" tanya Chiyome.
"Sama Farid Bulotio di Marhamah..." jawab Sandiaga.
"Ya sudah, Mama antarkan ya?" ujar Chiyome sambil bangkit dan mengulurkan tangannya. Sandiaga turun dari pangkuan Bakri dan menyambut uluran tangan ibunya. keduanya menuruni tangga dan masuk kedalam mobil milik Chiyome. tak lama kemudian, kendaraan itu bergerak meninggalkan kediaman Lasantu.
Bakri sejenak menatap jalanan lalu memandang Kenzie. "Kau membiarkan Sandiaga menyelami semua katalog buku dalam perpustakaan digitalmu?" selidik Bakri.
"Ya, kenapa? membaca itu kan jendela dunia. aku nggak mau anak-anakku nggak memahami dunia. dengan memahami dunia, kuharap mereka bisa menjejakinya dengan mudah." jawab Kenzie.
"Tapi nggak ada bacaan dewasa dalam katalog bukumu itu kan?" tanya Bakri.
"Kalau itu, aku menyegelnya dengan password yang tak diketahuinya." jawab Kenzie sambil tertawa.
Bakri menghela napas. "Anak itu terlalu cerdas menangkap segala apa yang dibacanya. aku kuatir, tanpa dasar yang kuat, ia akan menjadi orang yang gila akan sebuah hasrat."
"Kan ada Kakak berdua yang mengajarinya tentang ilmu agama. ada ustadz-ustadzah disekolah yang mengajarinya tentang ilmu agama. kami nggak kuatir. berkat kalian dia tekun sekali sholat. aku bahkan pernah memergokinya sempat sholat qiyamul lail." ujar Kenzie.
"Kapan?" tanya Bakri.
"Dua hari lalu..." jawab Kenzie, "Dan Kakak tahu apa yang didoakannya?" pancing lelaki bercambang halus itu.
"Jangan membuatku penasaran." tegur Aisyah.
Kenzie tersenyum dan kedua matanya mengalirkan airmata. ia terisak. Bakri menatap dengan heran.
"Dia mendoakan kesehatan kalian berdua, kesehatan bayi dalam kandungan Kak Ais... dan terakhir, ia mendoakan kami berdua.... aku sampai baper... kalian lihat sekarang, kan?" ujarnya ditengah tangisannya.
Bakri tertawa lalu mengulurkan tangannya menampar pelan bahu Kenzie.
"Kalian nggak sia-sia melahirkan anak yang berbakti. aku bahagia bisa menjadi bagian dari takdirnya." ujar Bakri kemudian menatap Aisyah. "Tak sia-sia dia menjadi putra pertama kita, Ais..."
"Apakah Chiyo tahu tentang itu?" tanya Aisyah dengan sorot mata bangga.
"Aku memberitahunya dan Wiffy menangis bahagia. aku sampai melihatnya tidur dengan mata balut, karena terbawa dalam tidur." jawab Kenzie kemudian tertawa sambil menyeka air matanya.
"Anak itu.... aku berharap dia menjadi tonggak keluarga." ujar Bakri dengan senyum penuh kebanggaan.
__ADS_1
"Dia akan menjadi apa yang kita harapkan, Sayang." sahut Aisyah.
Bakri mengangguk-angguk. begitu juga dengan Kenzie.[]