
Chiyome sedapat mungkin tidak terlibat langsung dalam penyelidikan tersebut. dia hanya duduk diam dikantor sambil sesekali mengamati pesawat telepon. pena pada jemarinya bermain-main dengan cepatnya menimbulkan kesan dirinya orang yang pandai bermain pisau.
lelaki yang disuruh untuk mengamati kediaman Aisyah melaksanakan tugasnya dengan baik, mengamati dan mendokumentasikan segala kegiatan yang terjadi dalam rumah itu.
Chiyome mengamati satu persatu foto yang dikirimkan lelaki itu ke gawainya. wanita sejenak mengangguk-angguk.
📲 "Nyonya, sudah seminggu saya disini. apa lagi yang harus saya lakukan?" tanya lelaki itu.
📲 "Kembalilah. sekali waktu aku akan membutuhkan kamu lagi."
📲 "Baik Nyonya. kalau begitu saya permisi."
hubungan seluler itu terputus. Chiyome bangkit dari kursi dan melangkah mondar-mandir diruangannya. tak lama kemudian pintu terdengar di ketuk.
"Masuk." ujar Chiyome.
pintu membuka dan masuklah Dewinta Basumbul. wanita itu membawa berkas.
"Bu ini daftar hadir dan laporan kinerja bagian pemasaran." kata Dewinta.
"Letakkan di mejaku." jawab Chiyome.
Dewinta Basumbul mengangguk lalu melangkah menuju meja kerja dan meletakkan berkas tersebut disana. sebelum ia kembali, wanita itu dipanggil Chiyome.
"Ya Bu?" tanya Dewinta Basumbul.
"Kamu kenal Si Puspita?" tanya Chiyome.
"Iya Bu. dia kan mantan sekretaris bagian HRD." jawab Dewinta.
"Bagaimana kinerjanya di bagian pemasaran yang kamu pimpin?" selidik Chiyome.
"Biasa-biasa saja Bu. nggak turun juga nggak naik. stagnan. untuk lebih jelas, Ibu bisa lihay dalam berkas kinerja karyawan." jawab Dewinta Basumbul.
"Baiklah. silahkan..." kata Chiyome.
membungkuk sekali lagi, Dewinta kemudian berbalik dan membuka pintu lalu keluar dari ruangan tersebut. Chiyome kembali sendirian dalam ruangan itu.
__ADS_1
wanita itu membuat keputusan. malam ini, ia harus menyambangi kediaman kakaknya.
...******...
Kenzie sementara duduk diberanda bersama Trias. ada pemilik rumah juga disana. paman jauhnya Kenzie dari marga yang berbeda.
Kartono, adalah pemuda keturunan jawa yang lahir dan besar di Gorontalo, lebih menguasai bahasa ibu ketimbang bahasa ayahnya, meskipun sesedikit ia mempelajarinya lewat kamus dan percakapan-percakapan teman sejawatnya yang bersuku jawa. lelaki itu menikahi wanita berstatus bangsawan bermarga Bobihu. keduanya mengaku sesama bangsawan karena keluarga sebelah ayahnya merupakan keturunan entah ke berapa dari Raden Kiseputrodipo.
ayah lelaki itu bernama lengkap Raden Ngabehi Bambang Budi Prayitno bin Rahmat. seorang menak yang bekerja sebagai seorang prajurit negara. pensiun dengan pangkat sersan mayor saat bertugas di Kodam Merdeka XII.
seperti ayahnya, Kartono bertubuh tinggi besar, mungkin boleh saja dibilang beruang karena posturnya yang sedikit mengarah ke obesitas sebab kurang gerak badan.
"Bagaimana pekerjaanmu di tambang? lancar?" tanya lelaki itu. Kenzie mengangguk.
"Lancar Om..." jawab Kenzie sambil tertawa. Trias sendiri hanya ikut tertawa meramaikan suasana agar lebih akrab.
"Kerasan kamu disini?" tanya Kartono lagi.
"Alhamdulillah selama ini saya tidak mendapatkan hal-hal yang tak menyenangkan disini." jawab Kenzie.
"Om dengar Aisyah nikah sama pemuda yang disukainya." kata Kartono.
"Lho? kok jawabannya kedengaran ragu?" pancing lelaki itu, "Apakah pernikahannya dipaksa?"
"Dipaksa juga nggak sih Om. hanya saja didesak sangat keras." jawab Kenzie membuat Kartono tertawa.
"Pernikahan itu jangan sampai dipaksa. nggak bagus jadinya." kata Kartono.
"Tapi dia melakukan hal yang tak baik sama Kak Ais." kata Kenzie dengan tegas.
"Jadi mereka berdua sudah..." ujar Kartono dengan kaget melihat Kenzie hanya mengangguk saja.
"Wah, susah juga..." gumam Kartono. ditatapinya kemenakan jauhnya otu. "Berapa lama pekerjaanmu disini?" selidik lelaki itu.
"Sudah selesai barusan Om. rencananya mau senang-senang sedikit, refresing Om." kata Kenzie.
"Tunda refresingnya." kata Kartono tiba-tiba.
__ADS_1
"Lho? kenapa Om?" tanya Kenzie dengan heran.
"Nak. perasaan Om nggak enak saat kamu cerita tadi tentang Ais. coba kamu hubungi istrimu." kata Kartono.
Kenzie dengan bingung langsung mengambil ponsel dan mengaktifkannya kemudian memencet nomor istrinya. terdengar bunyi 'tut' beberapa kali tapi tak ada respon. dengan cemas dihubunginya lagi. begitu seterusnya hingga ke sepuluh kali.
"Ada apa dengan Wiffy? biasanya dia akan langsung merespon panggilanku." gumam Kenzie. ia mulai gelisah. ditatapinya sang paman jauh.
"Om... kalau begitu, saya bergegas saja pulang." kata Kenzie langsung berdiri. Trias menyusulnya dengan bingung. sementara Kartono hanya tersenyum datar saja.
"Yas... kamu belum ngantuk kan? kita balik yuk!" ajak Kenzie.
"Ayo, aku juga sebenarnya pengen balik nih." jawab Trias dengan jujur.
"Om... maaf ya. kami berdua harus pergi." kata Kenzie.
"Hati-hatilah mengemudi." pesan Kartono.
kedua lelaki otu dengan membawa kopor langsung bergegas memasukkannya dalam mobil kemudian duduk didepan dan Trias yang menyupiri segera menjalankan mesin dan beberapa saat kemudian, kenderaan itu bergerak meninggalkan kediaman lelaki itu.
tak berapa lama, muncul Azizah, istri lelaki itu. wanita itu heran mendapati suaminya yang hanya duduk sendirian diberanda rumah.
" Tonu ta kiki'o dulota boyito?" tanya Azizah sembari mengedarkan pandang mencari keberadaan dua pemuda itu. (dimana dua anak-anak itu?)
"Timongoliyo dulota ma ilona'o to kota. oluwo urusani ja beresi tetomola." jawab Kartono dengan tenang. (Mereka balik ke kota. ada urusan yang belum selesai disana)
"Ati'olo sambe ja monga? ja pilolanga ta la'i dulota boyito?" ujar Azizah dengan sedih. pasalnya dia sudah memasakkan hidangan lebih untuk makan malam.
" O uamu. ma wakutu lo monga olo botiye... de ma opulito ma' boti masakan olemu..." ujar Kartono setengah bercanda. (iya ya.. sudah waktu makan juga.. biarlah kuhabiskan saja semua masakanmu.)
"Te olobu gambusi ti... ja mo pota olo ombongumu dadata monga ja mberendi... po berendima ngope'e boti monga... ti batanga madelo damango lo jati..." sindir Azizah, istrinya. (Dasar kerbau gembul... nggak meletus pula perutmu menampung banyak menampung makanan. hentikan sedikit kesukaan makanmu itu. lihatlah tubuhmu sudah sebesar lingkar pohom jati.)
"Bo uti-utiyelo ni'mati ti... wonu ma sikola... ma dialu poli uti masakan... ambungu kuhu ma ila waw tembe... " olok Kartono. (Hanya inilah nikmatnya... kalau sudah kerja di sekolah... sudah nggak ada masakan enak... untung-untungan nasi sama tempe saja.) ujar Kartono.
"po sukuri loma'o donggo monga yi'o. ja' tawamu dadata tawu wewo to bosnia waw to afrika boyito ma dialu po ponga limongoliyo? sambe mo lani huta mali biskoi..." balas Azizah. (syukurlah kamu masih dapat makanan. tak tahukah kamu banyak orang di bosnia dan afrika sudah kehabisan makanan? sampai-sampai menggoreng tanah menjadi biskuit.)
Kartono hanya menarik napas panjang. " Ma mowali boti bisala uamu... ombongu'u ma pilolango... dadata bisalamu ma kancang poli pilolango'u..." (sudah cukup bicaramu... perutku sudah lapar... semakin banyak kau bicara, semakin kuat rasa laparku.)
__ADS_1
lelaki itu kemudian meninggalkan Azizah diberanda tersebut meninggalkan Azizah yang memancang-mencongkan bibirnya mengejek suaminya, kemudian melangkah menyusul Kartono kedalam rumah. []