Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 53


__ADS_3

Kameie menyesap ujung filter dari batangan rokok yang terjepit disela telunjuk dan jari tengahnya. lelaki itu menatap hampara belantara pencakar langit yang menghiasi kota Tokyo. di kejauhan nampak menara tokyo yang menjulang tinggi. akar pundasinya mencengkeram lahan taman Shiba yang mempertunjukkan kesendiriannya di hamparan lahan taman tersebut. tingginya yang 332,6 meter menasbihkan dirinya sebagai menara dengan cengkeraman kuat bagai monster yang mengangkangi taman tersebut. sebagai karya Tachu Naito, menjadi salah satu ikon kota Tokyo. Kameie menoleh lagi kesuatu arah, kembali menemukan pesaing pencakar langit itu, Tokyo Skytree yang merupakan sebuah gedung tertinggi nomor dua didunia setelah Burj Khalifa didubai.


angin dingin kembali menyergap Kameie. lelaki itu membuang puntung rokok yang telah padam apinya. lelaki itu membalik hendak pergi ketika menemukan Fitri yang berdiri mematung menatapnya. Kameie memaksakan senyumnya.


Fitri mendekat, "Apa yang dipikirkan Otoo-Sama?"


wanita itu mengenakan syal dilehernya sedangkan kedua lengannya memeluk dirinya sendiri yang dibalut jaket tebal dari wol. jilbab gaya bergo menghias kepala wanita tersebut menandaskan penampilannya yang stylish dan melek akan mode terupdate.


Fitri kini selangkah lebih dekat dengan suaminya. wajah wanita itu teduh. "Aku bahagia..." ujar Fitri dengan senyum yang selalu membuat sang yakuza tertawan.


"Kau bahagia dengan pernikahan Chiyo-hime?" tebak Kamie sambil tersenyum miring, gaya khasnya yang membuat Fitri jatuh cinta.


"Itu nomor sekian..." jawab Fitri.


wanita itu kembali melangkah lalu memeluk dan menenggelamkan dirinya dalam jaket parasut tebal milik lelaki itu. Kameie balas memeluk dan seakan membenamkan Fitri lebih kedalam pakaiannya.


"Kupikir, kau bahagia dengan lancarnya pernikahan putri kita. yah, sederhana memang. tapi aku puas." kata Kameie menyandarkan dagunya dikepala Fitri yang dibalut jilbab.


"Bukan itu yang membuatku bahagia. maksudku, aku bahagia. tapi bukan itu penyebabnya." timpal Fitri.


"Oh ya? aku lelah menebak-nebak. tolong katakan, apa yang membuatmu bahagia? jika itu membahagiakanmu, aku akan terus melakukannya, agar kau lebih bahagia." desak Kameie.


" Aku bahagia... karena kau akhirnya mau juga melaksanakan sholat...." jawab Fitri dengan lirih.


Kameie sempat kaget. sejenak kemudian ia tersenyum. "Itu rupanya." gumamnya.


"Alangkah bahagianya aku, jika nantinya sholat, Otoo-Sama yang berdiri didepan menjadi imamku." ujarnya dengan manja.


Kameie menjauhkan wajahnya lalu menatapi Fitri. "Kau yakin mau di imami oleh lelaki yang tak lancar baca Al-Qur'an?"


"Itu, bisa dipelajari Danna-San. yang penting bagiku, kau mau berubah dan ingin dekat dengan Allah. sholatmu kemarin malam, merupakan kado terindah buatku. terima kasih, Otoo-Sama." jawab Fitri.


"Baiklah, kalau begitu. mulai hari ini, aku akan melaksanakan Sholat, seperti keinginanmu. aku akan belajar mengaji untuk menyenangkanmu. jangan Kuatir. ini janji seorang yakuza." tandas Kameie.


Fitri tersenyum. biarlah untuk sementara ini, segala ibadah yang dilakukan suaminya untuk menyenangkan hatinya semata. semoga ia akan terus menuntunnya untuk mencintai Allah. wanita itu akan berupaya terus membimbingnya.


Ya Allah... ampunilah suamiku, jika ibadah yang ia lakukan hanya ditujukannya untuk menyenangkanku. bimbing dia, Ya Allah ketika ia berupaya mendekati-Mu. karena hidayah hanyalah otoritas-Mu semata....


Kameie mendehem sejenak. Fitri kembali menatapinya dengan tatapan sejuk.


"Aku telah memutuskan... aku akan pensiun dari pekerjaanku sebagai yakuza. bisnis tekiya akan diwariskan kepada Chiyo-hime dan Iechika." kata Kameie.


mata Fitri membesar, " Benarkah?"


"Tentu. aku akan menghadap Direktur Hidesato, didampingi ayah. aku akan menjelaskan alasannya agar beliau mau mengerti. jika tidak, aku akan mengorbankan kelingkingku, agar beliau memahaminya." jawab Kameie.


"Lalu, setelah pensiun, kita mau tinggal dimana?" tanya Fitri dengan sedikit bingung, karena setahunya, Kameie tidak memiliki harta lain selain perusahaannya dan kediamannya.


"Kita akan pulang ke Shiga. keluarga kita punya tanah kaum, terletak ditepian danau Biwa. dekat Otsu. kita berdua akan benar-benar menyepi disana, merintis usaha baru. lagi pula aku ingin mengaji dan mendalami agamaku. nantinya kami-san akan mengajariku disana." sambung Kameie.


Fitri tersenyum lagi. "Bawalah aku Otoo-San kemana engkau mau. asalkan aku bersamamu, segalanya terasa mudah bagiku."

__ADS_1


Kameie tersenyum dan mengecup lembut bibir istrinya, kemudian ia kembali membenamkan tubuh mungil Fitri kedalam pelukannya.


...********...


Endi dengan heboh menceritakan pengalamannya saat yakuza cabang Tohoku mengepung iringan pengantin dan bagaimana para pengawal yang dipimpin besannya itu berupaya menyelamatkan mereka hingga tiba di hotel dengan selamat.


"Bagaimana dengan Kenzie?" tanya Adnan dengan panik.


"Ah, aku nggak tahu kejadiannya seperti apa. tapi mereka selamat. hanya saja putra tertua kepala pengawal tersebut tewas diberondong peluru. itu yang kudengar." jawab Endi. "Tapi, syukurnya... akad nikah dan upacara pernikahannya berjalan sebagaimana mestinya. kurasa mereka mengabadikannya. nanti kuhubungi salah satu pengawal untuk meminta rekaman ijab qabul Kenzie di masjid Tokyo dan upacara pernikahannya dirumah."


"Kirimkan padaku segera! aku sudah tak sabar melihat videonya." pinta Adnan.


"Tunggu sebentar." kata Endi tanpa mematikan video callnya. lelaki itu keluar dari kamar dan menemui Trias dan Iyun yang asyik bercengkrama di balkon hotel.


"Yun... coba kamu bicara dengan pengawal, minta video rekaman ijab qabul dan resepsi pernikahan Kenzie dan Chiyome." pinta Endi.


semula pasangan itu kaget dengan kemunculan lelaki botak itu. Trias yang sementara asyik menjelajahi kedua payudara istrinya, langsung menghentikan aksi gerilyanya dan menatapi ayahnya dengan wajah keruh.


"Abah ini! persis jailangkung saja, datang tak permisi, pulang tak diantar. kemesraan kami terganggu abah!" sembur Trias yang terganggu benar dengan keberadaan ayahnya membuat Iyun sontak mendorong tangan suaminya dan mengatupkan kembali jaketnya yang sempat menguak lebar lalu memperbaiki jilbabnya.


"Aduhh... sori, sori sudah mengganggu." kata Endi sambil memelas. "Ini, Om Adnan minta Abah untuk kirimkan video akad nikah dan resepsi pernikahan Kenzie. tolong Abah dong. kan abah nggak tahu bahasa asing mau bicara dengan pengawal-pengawal itu." rengek lelaki botak itu.


Iyun perlahan mendorong tubuh suaminya agar ia bisa bangkit dan menatapi mertuanya. "Sebentar ya, Bah. Iyun tanyakan sama mereka."


Iyun melangkah meninggalkan kedua ayah-anak itu. Trias memandang punggung Iyun yang menjauh. ditatapinya Endi dengan wajah rusuh.


"Abah gimana sih? susah payah Iyas rayu tu bini supaya mau mesraan lagi, Abah datang mengganggu saja. nggak lihat nih, antena saya sudah tegang begini?!" sembur Trias sambil memperlihatkan batang kejantanannya yang memang sudah mengacung keras.


"Alaaaa... alasan abah juga ini. Bah, daripada ganggu kemesraan kami berdua, mendingan Abah cari sibuk lah.. itu ibu kepala pelayan lagi nganggur tuh... Abah kan Fuckboy tuh. sudah... sodorin tongkat ajimat abah ke dia tuh.. langsung minta terus noh... ayooo..." ujar Trias mendorong Endi agar menjauh.


"Astaghfirullah, Yas! kamu mau buat Abah durhaka sama almarhumah ibumu?! anak macam apa lo?!" balas Endi mulai sengit.


"Abah! Almarhum Emak sudah damai disana. nggak usah diganggui. doa sudah cukup menentramkan Emak disana dan dia yakin Abah masih cinta sama beliau. tapi Abah patut ingat, abah masih lelaki normal dan Iyas tau itu. apa Abah pikir Iyas nggak tahu keadaan abah skarang?" balas Trias kembali yang karena emosinya mulai meninggi, aliran tenaga dalamnya berpindah dari bawah pusar menuju tantian membuat batang lanangnya kehilangan energi dan menguncup kembali.


Endi terpekur mendengar jawaban slenge'an putranya yang semi-gendeng itu. tak lama kemudian Iyun muncul.


"Katanya tuan Yasunori, dia yang akan mengirimkan langsung video tersebut melalui e-mailnya Om Adnan. nanti Abah bilang saja sama Om Adnan begitu. minta beliau kirimkan e-mailnya ke nomor ini." kata Iyun sembari menyerahkan secarik kertas bertuliskan alamat e-mail atas nama Keitaro Yasunori Chigaji.


"Oke, makasih Yun ya? abah ke kamar dulu." kata Endrawan lalu menatapi Trias, "Dasar, otak kelamin lo." umpatnya lalu meninggalkan balkon.


"Aaaa... kepala abah tuh, Bosoooo..." balas Trias nggak kalah sengit.


"Sudah, masa sama abah bertengkar. nanti durhaka lho." tegur Iyun kembali duduk. dengan bersungut-sungut Trias ikut duduk setengah berbaring dan kembali tangannya yang masih nakal hendak membuka lagi jaket Iyun.


"Iiih... Pipi gimana sih, nanti kalau ketahuan Abah, gimana? Mimi kan malu..." kata Iyun menahan tangan Trias yang telah berhasil membuka lagi jaket milik Iyun sehingga dua bongkahan empuk itu nampak lagi.


"Aaaaa... Bodooo! nih, gara-gara abah bikin program kita terganggu. Pipi nggak mau nanggung. pokoknya malam ini Pipi harus puas ngerayangi dan ngenjotin kamu." jawab Trias kembali mengobok-obok kedua payudara Iyun dengan setengah kasar.


Iyun mendesis ditengah nikmatnya bongkahan dadanya dipermainkan suaminya. namun kewarasannya masih ada. "Jangan keras-keras ngomongnya. nanti pengawal sama Abah bisa dengar."


"Nggak tau juga kenapa kakarlak tua itu muncul. pake alasan disuruh Om Adnan lagi, hadeeeh..." umpat Trias lalu membenamkan kepalanya ditengah gundukan dada Iyun yang ia kepitkan lalu dengan rakus menjilatinya. Iyun kembali mendesis nikmat.

__ADS_1


wajah Trias terangkat. "Mi, Pipi udah nggak tahan nih. kita bikin anak saja ya?" pinta Trias dengan memelas.


"Enak saja!" kata Iyun langsung mendorong wajah Trias, "Pipi mau melanggar kesepakatan kita berdua? kan kita masih sekolah, Pi... masih satu tahun lagi. nggak bisa sabar apa?" omel Iyun hendak menutup jaketnya tapi ditahan lagi oleh Trias.


pemuda itu berdiri dan Iyun dengan jelas melihat bagian selangkang suaminya yang masih tertutup celana itu membengkak, pertanda senjata vajura miliknya telah diselimuti oleh petir-petir birahi.


"Mi, masukin ya?" pinta Trias.


"Tutup Gordennya sana!" omel Iyun pura-pura kesal tapi otaknya sudah dipenuhi fantasi mesum.


dengan tangkas Trias menutup gorden lalu menutup lagi pintu kaca. setelah itu ia memelorotkan celananya menyisakan cawat. udara dingin bersalju justru menjadi semacam elixir penumbuh nafsu. pemuda itu menyibakkan sedikit cawatnya agar senjata pamungkasnya terjulur memanjang dan mengangguk-angguk meminta dimasukkan kedalam warangka cintanya.


Iyun membuka cawatnya membiarkan bagian segitiga emas itu terekspos oleh suaminya, nampak chubby dan sedikit merekah. perlahan Trias duduk melebarkan tungkai kakinya dan mulai mengebor sumur pengeboran milik Iyun yang memang sudah basah karena stimulus yang kerap diberikan oleh Trias ke dada Iyun.


Iyun mendesis lagi merasai dinding liang peranakannya bergesekan dengan permukaan batang pohon khuldi milik suaminya hingga akhirnya Trias sukses menjebol dasar sumur istrinya. sambil menggenjoti wilayah selangkang istrinya, Trias memperlakukan gerakannya selembut sekaligus sesering mungkin. Iyun mengaitkan kedua tungkai kakinya dipinggul suaminya agar kegiatan pengeboran itu lebih terasa ritme dan irama cintanya.


sambil sesekali membuang napasnya yang memburu, Trias melanjutkan pembicaraannya, "Kan... bisa... pake cara... lain... Mi, ikut... paket C, kan... bisa..."


"Aaaa... nggak mau.... enakan Pipi.... terus genjoti... Mimi... kan... Mimi... masih.... suka... sekolah... nggak mau.... ikut... paket C..." jawab Iyun yang kedua matanya merem-melek menikmati ketangkasan permainan suaminya.


"Pipi... cuma... kasian... sama abah... sama abi.... kita... enakan.... mereka kasihan.... ngurusi.... keperluan kita... Pipi... malu, Mi.... kita berdua.... nyusahin mereka..." kata Trias juga ikut merem-melek sambil terus memacu kecepatan pengeboran ladang minyak milik Iyun.


"Jadi.... maunya... Pipi.... bagaimana?" tanya Iyun yang mulai konak mengulurkan kedua tangannya memeluk leher Trias membiarkan kedua payudaranya terpental keatas dan kebawah karena daya dorong dari wilayah ladang sumur minyak yang sementara di bor oleh alat pengeboran tumpul milik suaminya.


"Sepulang sekolah.... Pipi mau bantui... Abah jual daging... nanti uangnya.... kita tabung... buat beli... kebutuhan kamu... dan calon anak kitaaaaa...." jawab Trias setengah mengerang.


Iyun begitu senang mendengar ungkapan suaminya. memang semestinya orang yang berumah tangga tak perlu lagi menggantungkan hidup kepada orang tua mereka. si lelaki semestinya tahu diri bahwa ia dituntut dalam memenuhi kebutuhan istrinya dengan mata pencaharian yang halal. Iyun tersenyum ditengah kenikmatannya dipermainkan dengan begitu lembut oleh Trias.


"Ouhmmm.... so sweet banget.. Pipi... iya deh... Iyun mau... tapi... semester depan ya?" pinta Iyun.


"Kenapa nanti semester.... depan?" tanya Trias menyeka bulir keringat yang menerjuni pelipisnya.


"Kalau sudah kelas 12, selesai semester.... ganjil... usai... kita buat ..... program anak.... kan... semester.... genap...cuma... dua bulan... kalau... insya Allah.. lulus,... kita sudah .... punya.... momongan...." kata Iyun yang mulai merasa sesuatu yang keram disekitar area kewanitaannya. dinding-dinding garbanya mulai berkontraksi pertanda ia akan menuju ke pemenuhan hasrat terliar.


"Piiii... mau keluar niii..." rengek Iyun.


"Lepasin saja.... nanti Pipi nyusul...." jawab Trias


Iyun tak mampu lagi mempertahankan dirinya. tubuhnya menengang dan mengejan membiarkan dinding-dinding senggamanya menjepit batang lingga suaminya dan dari iterusnya melepaskan cairan swanita berwarna putih susu, membasahi dan melumuri alu tegang milik Trias hingga makin melicinkan area itu. tak lama kemudian, Trias mencapai ekstase tingkat dewa, melepaskan hasrat terliar melalui semprotan susu sukla dari ujung tombak tumpulnya, menyatu bersama swanitarasa milik Iyun memenuhi liang sumur gadis berjilbab itu dan sebagiannya membanjir keluar menodai beludru hitam dikursi lesehan itu.


tubuh keduanya melemas kembali rileks. Trias terus membelai-belai kedua payudara Iyun dan membiarkan posisi mereka tanpa bergeser sedikitpun. Trias membiarkan alatnya terbenam dalam liang kesuburan istrinya sementara Iyun masih tetap melingkarkan kedua kakinya dipinggul pemuda itu.


"Hmmm.... maksud Mimi, begitu memasuki awal semester genap dikelas 12, kita mulai program anaknya. jadi prediksinya paska UNBK, Mimi insya Allah hamil dan begitu lulus, si junior lahir, begitu?" tebak Trias kemudian membelai kepala Iyun yang tertutup jilbab.


Iyun mengangguk lalu menutup jaketnya kembali. Trias terkekeh. "Kok Pipi nggaj kepikiran ya?"


"Gimana mau berpikir, dalam otak, cuma nyoblosi lubangnya Mimi saja..." omel Iyun. "Sudah ih, Pi... kaki Mimi sudah keram nih..." rengek Iyun. "Mau sampai kapan begini terus?"


"Sampai pagi! enak batangnya Pipi didalam sumurnya Mimi, anget! dinginnya salju mah, nggak terasa kalau begini." kata Trias dengan semangat.


Iyun tertawa. wajah Trias mendekat. "Kita sambut pagi dengan aktifitas ringan ya?" rayu Trias.

__ADS_1


Iyun tersenyum dan mengangguk. dan mereka kembali menyatukan kedua bibir mereka dan saling mengulum dengan lembut membiarkan posisi mereka tak berubah. sementara malam sudah mulai berakhir, ditandai dengan semburat merah di ufuk bagian timur laut... []


__ADS_2