
Bakri menemani Aisyah dirumah itu seharian hingga keduanya selesai menunaikan sholat Dzuhur. Bakri memutar duduknya yang bersila itu menghadap ke arah Aisyah.
"Bagaimana perasaanmu hari ini? tenang? damai?" tanya Bakri dengan senyum tersungging.
Aisyah tersenyum pula, "Ini kali pertama aku sholat di imami suamiku. makasih Bakri... makasih."
"Tentu, ini adalah tradisi kita berdua. kita akan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru nantinya yang akan kita lakukan bersama-sama." timpal Bakri.
Aisyah menatap jam dinding lalu menatap suaminya. "Pergilah ke kantor. Ken-ken mungkin sudah menunggumu sejak tadi."
Bakri mengangkat pergelangan tangan menatap arloji. ia mengangkat alis dan terkekeh, "Ahh... rupanya waktu yang berkualitas itu cepat berlalu. aku harus menghadap direktur baru untuk melaporkan hasil perjalananku."
Aisyah tertawa, "Ya, aku tak mau dihari pertama kerjanya sebagai direktur operasional, langsung kena teguran dan pemotongan gaji. ayo... Pergilah."
Bakri maju mencium kening istrinya. "Baiklah istri rampingku, aku berangkat ke kantor dulu ya?"
Aisyah mengangguk dan mengikuti Bakri bangkit dari duduk. keduanya merapikan peralatan sholat dan meletakkannya disisi ranjang. Bakri merapikan dasinya lalu mengenakan jas dan memakai kembali sepatu. Aisyah membantu merapikan pakaian suaminya.
"Terima kasih sayangku. aku berangkat dulu ya?" ujar Bakri pamit.
"Hati-hatilah mengendara dijalan." pesan Aisyah.
"In Syaa Allah..." jawab Bakri.
Aisyah mengekor Bakri yang melangkah menuju beranda. sekali lagi Bakri membalik dan melambaikan tangannya kepada istrinya lalu melangkah menuruni tangga beranda dan memutar menuju mobil perusahaan yang terparkir disisi mobil milik Adnan.
Aisyah mengikuti kepergian suaminya dengan tatapannya. setelah mobil menghilang dilekukan pagar, barulah Aisyah berbalik masuk dan menutup pintu kembali.
jilbaber itu melangkah menyeberangi ruangan bersua dengan Chiyome yang muncul dari kamarnya.
"Kak Bakri mana? sudah pergi?" tanya Chiyome.
"Baru saja tuh." jawab Aisyah.
Chiyome mengangguk-angguk, Aisyah tertawa kecil. "Ken-ken menyuruhnya menyambangi Kakak."
"Perintah pertama seorang direktur." Tebak Chiyome ikut tertawa.
keduanya duduk disofa sambil menatap layar televisi yang menayangkan beberapa peristiwa.
"Kak...." panggil Chiyome.
Aisyah menatapnya.
"Kakak, meskipun telah merasai ketenangan, patut berhati-hati.... aku sendiri belum akan tenang sebelum lelaki itu benar-benar lenyap dari muka bumi." ujar Chiyome.
"Sebegitu takutkah kamu?" pancing Aisyah.
Chiyome menatap jilbaber itu, "Kak, masih belum hilang dari ingatanku bagaimana bentuk tubuh kakak yang mengalami siksaan itu... aku pakar menyiksa musuhku kak. jadi aku tahu betapa menderitanya kakak. aku tak sanggup jika kehilangan kakak."
Aisyah tersenyum, "Dek.... Kakak tahu, betapa kau menyayangi kakak. tapi, biarkan saja Dek. biarkan Allah yang membalasnya."
"Jangan libatkan Allah dalam masalah ini Kak. aku sudah bersumpah demi kuburan moyangku. Aku akan membuat lelaki itu menyesal pernah mengganggu kehidupan kita." tandas Chiyome.
Aisyah dapat melihat dengan jelas cahaya kebengisan dari sorot tatapan Chiyome tersebut. Aisyah menarik napas panjang.
"Sudahlah.... jangan Adek hanyut dalam kebencian. itu tidak baik. istighfar Dek.... syaithan sedang mengusikmu." kata Aisyah.
Chiyome menutup mata dan mengatur udara yang keluar masuk dari liang tenggorokannya. perlahan ia membuka mata dan menatap Aisyah lalu tersenyum dengan teduh.
"Aku sangat menyayangi kakak." ujar Chiyome.
"Kakak juga, sayang." balas Aisyah lalu mengembangkan tangan dan memeluk adik serahimnya itu. Chiyome balas memeluk dan keduanya merapatkan tubuh.
bunyi tangisan Saburo, menyadarkan kakak-beradik itu.
"Aahhh... Saburo..." seru Chiyome langsung bangkit dan melangkah ke kamarnya meninggalkan Aisyah yang hanya diam tersenyum dan menggelengkan kepala lalu bangkit melangkah menuju kamarnya pula.
...******...
Bakri sedang asyik mengendarai mobil perusahaan ketika tiba-tiba ada sebuah mobil lain menyalipnya dan berhenti mendadak didepan kendaraannya. Bakri terkejut dan buru-buru menginjak rem.
CIIIIIITTTTT....
"Brengsek! siapa sih yang usil?" gumam Bakri.
dari mobil didepannya tiba-tiba membuka pintu dan menyeruakkan beberapa orang bertampang sangar yang membawa beberapa senjata tajam semacam golok.
__ADS_1
Bakri makin terkejut tapi dia tidak panik. sengaja ia menghubungi Kenzie tapi tanpa bicara dan hanya mengaktifkan loudspeaker.
"Buka!!!!" seru salah satu orang itu menggedor pintu dengan keras.
Bakri tahu jika dia membuka pintu pasti akan langsung ditikam dan diserang. lelaki itu memilih bertahan dalam mobil membiarkan para preman itu mencoba menghancurkan kaca jendela. mereka tidak tahu bahwa selama ini Adnan selalu memfasilitasi mobil dengan kaca yang tebal dan tak gampang pecah asalkan para agresor tidak menggunakan alat berat semacam penggedor yang digunakan densus anti teror.
sekian lama ia menunggu para agresor itu bosan dan meninggalkannya. namun harapan itu tak kian muncul. teguhnya mobil yang digedor dan dihantam berkali-kali dengan tongkat besi dan parang membuat para preman semakin penasaran dan mengamuk.
tak lama kemudian muncul dua buah mobil yang berhenti tak jauh dari mobil Bakri yang dikeroyoki para pegajulan tersebut. Kenzie keluar dari mobil dan mencabut revolver Smith & Wesson Magnum lalu mengarahkannya ke kumpulan para preman.
DOR! DOR! DOR!
tiga orang preman roboh dengan kepala berlubang besar ditembusi proyektil kaliber besar. sisanya kaget dan melarikan diri kembali masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkan jalanan itu.
beberapa orang keluar dari mobil menyandang senapan lalu mendekati mobil yang dikendarai Bakri. lelaki itu melihat Kenzie datang menghampiri sambil memasukkan kembali senjatanya kedalam sarungnya.
"Kak! Kak Bakri! kamu nggak apa-apa, kan?" seru Kenzie mengetok-ngetok pintu tersebut.
Bakri keluar dari mobil dan berdiri berhadapan dengan Kenzie. dua orang itu saling memandang sesaat.
"Terima kasih, kau sudah menolongku." ujar Bakri dengan senyum.
Kenzie tertawa, "Kenapa kakak nggak langsung terobos mereka dan lawan sebagaimana kakak dulu?" goda Kenzie.
"Aku memikirkan Aisyah..." jawab Bakri dengan senyum.
"Sudah, nanti aku akan hubungi kenalan Papa di kepolisian. Kakak nanti ngurus ijin kepemilikan senjata ya?" kata Kenzie. "Nggak usah kuatir, kan Kakak emosinya stabil. jadi in sya Allah lulus ujian psikotest deh."
Bakri hanya tersenyum saja meladeni olokan adik iparnya itu. semasa menjadi murid silat Kenzie memang berwatak usil. lelaki itu menatap salah satu lelaki.
"Hubungi pihak kepolisian Kota. kau temani aku membuat laporan ke mereka." ujar Kenzie.
Lelaki itu mengangguk. Kenzie kembali menatap Bakri. "Sori, Kak. untuk saat ini Kakak dilarang menyetir dulu. anak buah saya yang akan menggantikan posisi Kakak. nanti kakak duduknya dibelakang bersama salah satu anak buah saya lagi. sori kalau Kakak nggak nyaman, tapi sudah begini prosedurnya."
"Kamu kayak polisi saja bicara begitu. ya sudah... aku manut saja sama saran kamu." jawab Bakri kemudian mengerutkan alisnya. "Memang kamu mau kemana?"
"Ke kantor polisi, melaporkan perbuatanku menembak tiga orang preman tersebut. nanti setelah dari sana aku ke Kantor Buana Asparaga.Tbk.... oke Kak, silahkan." kata Kenzie.
Bakri mengangguk lalu berbalik masuk kembali ke dalam mobil dan kendaraan itu melaju meninggalkan Kenzie dan seorang lelaki. sepeninggal mereka, Kenzie menatap lelaki itu.
Kenzie melangkah santai kembali ke mobilnya dan tak lama kemudian kendaraan itu juga melaju menyusul kendaraan yang dinaiki Bakri.
...******...
Chiyome mengencangkan kepalannya ketika Kenzie memberi tahu tentang aksi pengepungan yang menimpa Bakri disalah satu kawasan kota. untungnya Bakri sengaja menghidupkan loudspeaker ketika menghubungi Kenzie hingga lelaki itu bisa melacak keberadaan Bakri.
"Aku tunggu kalian di....." Kenzie menyebutkan alamat tersebut dan langsung bergegas meninggalkan Buana Asparaga.Tbk hanya untuk memastikan keselamatan Kakak Iparnya.
sejak Trias tidak menemaninya lagi dalam setiap aksinya, Kenzie terpaksa menempuh cara lain untuk melindungi diri. ia mengikuti ujian persyaratan kepemilikan senjata oleh Kepolisian Negara atas ijin Departemen Kehakiman. beruntung ia lulus tes kejiwaan dan berhasil mengantongi senjata.
"Wiffy nggak usah kuatir. Hubby sudah suruh mereka membuntuti Kak Bakri." ujar Kenzie dengan senyum.
"Oke deh Hubby, yang penting Hubby juga nggak apa-apa ya? Wiffy sudah cemas nih. sudah nggak sabar nunggu Hubby pulang kantor." timpal Chiyome.
"Kangen ya?" olok Kenzie.
"Ya iyalah... masa ya iya dong." jawab Chiyome.
Kenzie tertawa, "Sudah tahu membalas dengan bahasa prokem ya?" oloknya lagi.
"Aaahhhh.... Hubby..." rengek Chiyome dengan manja. "Wiffy sudah kangen berat niih..."
Kenzie melirik arloji dipergelangan tangannya lalu tertawa, "sabar Wiffy Lovely Dovely, masih sejam lagi. ditahan sedikit dong..." rayu lelaki itu, "Nanti kalau pulang, Hubby kasih batang coklat Silverqueen deh. dijamin enak."
"Iya?" tanya Chiyome dengan mata membulat. "Wah, Wiffy nggak sabar menunggu nih. ya sudah, Wiffy siap-siap saja sejam lagi."
sambungan seluler itu diputuskan. Kenzie menatap dinding kaca yang merefleksikan pemandangan lanskap Kota Gorontalo dan lelaki itu tersenyum sendiri.
...********...
Puspita memaki-maki sendiri. permasalahannya, akun rekening miliknya diblokir oleh pihak Bank Rakyat Indonesia. Tbk tanpa pemberitahuan kepadanya. mencak-mencak wanita itu memberitahu Costumer Service mengadukan masalahnya.
"Kalau begitu, silahkan ibu menghadap direktur. nanti beliau yang akan menjelaskannya." jawab CS tersebut.
dengan mendengus kasar, Puspita bangkit dan melangkah cepat menaiki tangga menuju lantai dua. disana ia melewati meja-meja yang dilingkari kubikel milik karyawan-karyawan yang menangani kredit. langkah wanita itu terus terayun menuju sebuah ruangan yang agak menjorok keujung. disana ada sebuah meja-kursi biro yang diduduki seorang wanita berpenampilan anggun.
"Saya mau ketemu direktur. tolong sampaikan." ujar Puspita dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Ada keperluan apa ya bu?" tanya wanita tersebut.
"Saya mau konfirmasi kenapa rekening saya diblokir tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada saya. saya mengajukan keberatan atas ini. tolong sampaikan kepada direktur, saya hendak ketemu dengan dia. sekarang juga!" tandas Puspita.
"Sebentar ya bu." jawab wanita itu kemudian mengangkat gagang telepon dan menekan salah satu tombol. terdengar suara diseberang.
📞 "Ya Tuti? kenapa?" tanya suara diseberang.
📞 "Bapak ada tamu, wanita, nasabah yang punya keperluan dengan bapak." jawab Tuti.
📞 "Siapa Tuti?" tanya orang itu.
Tuti sejenak menatap wanita itu. "Nama ibu siapa?"
"Puspita Kusmaratih! cepatlah!" desak Puspita dengan tak sabar.
📞 "Nama nasabah itu, Puspita Kusmaratih, pak." jawab Tuti.
📞 "Ooo... dia... sudah, suruh masuk saja." ujar orang itu.
Tuti meletakkan gagang telepon dan menatap Puspita sambil tersenyum. "Silahkan bu." ujarnya.
dengan mendengus kasar lagi-lagi Puspita melangkah dan membuka pintu disisi kanan sekretaris itu. disana ia disambut oleh direktur tersebut.
"Silahkan duduk." ujar direktur itu dengan senyum.
"Terima kasih." jawab Puspita dengan datar.
wanita itu duduk dan menatap direktur tersebut, "Sekarang jelaskan kepada saya, mengapa rekening saya diblokir?" tanya Puspita.
"Anda dicurigai pihak manajemen Buana Asparaga.Tbk sebagai pelaku tindak penggelapan uang." jawab direktur tersebut.
Puspita memajukan tubuhnya, "Apa? saya nggak salah dengar?!"
"Benar. dan Pejabat Eksekutif Utama yang langsung meminta saya membekukan rekening anda. beliau berpesan sebelum pemeriksaan keuangan tuntas, anda belum bisa mempergunakan rekening tersebut." jawab direktur itu dengan tenang.
Puspita mengencangkan rahangnya. tindakannya telah terendus oleh lawannya. Kenzie telah melangkah sekali didepanku. tidak! aku tak boleh kalah... aku harus mencari orang yang mampu mengeluarkanku dari kekacauan ini!
Direktur itu menatap Puspita. "Bagaimana bu? apa penjelasan saya bisa diterima?" tanya direktur tersebut.
Puspita menghela napas dan menatap wajah direktur tersebut. wanita itu mengangguk.
"Saya paham. kalau begitu saya harus segera menyelesaikan masalah saya dulu." Puspita bangkit, "Kalau begitu, saya permisi."
"Silahkan. maaf atas ketidak nyamanannya." ujar direktur tersebut.
Puspita tidak menanggapi, langsung berbalik pergi membuka pintu dan meninggalkan ruangan itu. sepeninggal wanita itu, direktur tersebut mengeluarkan gawainya dan menghubungi Kenzie.
📲 "Ya, dengan Pejabat Eksekutif Utama Buana Asparaga.Tbk, ada yang bisa dibantu?" sapa Kenzie.
📲 "Wanita itu baru saja datang menanyakan perihal akunnya yang diblokir oleh pihak bank." ujar direktur.
📲 "Terus?" desak Kenzie.
📲 "Saya terpaksa mengatakan andalah yang menegaskan perempuan itu menjadi pengangguran." jawab direktur tersebut. Kenzie tertawa.
📲 "Ya sudahlah. itu nanti urusan saya. terima kasih sudah menghubungi saya." ujar Kenzie.
pembicaraan seluler itu dihentikan. Kenzie meletakkan gawainya di meja kerjanya dan menarik napas.
...*******...
Puspita masih terus menggerutu. tatapannya membara. wanita itu sekarang sedang duduk disalah satu tempat diruang makan sebuah restoran.
"Kenzie.... kau belum tahu siapa Puspita sebenarnya. aku akan tunjukkan padamu, kegarangan seekor singa yang diam. kau rupanya sudah berani mengusikku...." gumam Puspita kemudian meraih gelas berisi minuman dan meneguknya sekali.
"Kita lihat saja nanti. siapa yang akan tertawa belakangan. kau... atau aku..." gumamnya.
dengan penuh amarah jemari lentik wanita itu mencengkeram dinding gelas.
PRANGGGGG!!!!!!
gelas itu pecah menghamburkan minuman dimeja bercampur dengan darah yang mengalir dari luka akibat beling gelas yang menancap dipermukaan kulit telapak tangan wanita itu. napasnya menderu dan tatapannya semakin membara.
"Kenzie....." gumamnya dengan suara yang berat. []
__ADS_1