Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 12


__ADS_3

Aisyah meneliti daftar peserta yang lulus UMPT dipapan pengumuman. lama juga ia membaca dan memastikan namanya tertera dalam daftar peserta tersebut. tak berapa lama sebaris senyuman terbit dibibirnya. namanya masuk menduduki peringkat ke 13 pada peserta yang lulus dari fakultas yang dia masuki. disamping pengumuman kelulusan, terdapat pengumuman lain, yaitu jadwal pelaksanaan masa orientasi bagi mahasiswa baru yang akan dilaksanakan seminggu kemudian.


disana tercatat beberapa persyaratan dan petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan tersebut.


Aisyah menegakkan tubuh dan mengusap wajahnya lalu keluar dari kerumunan calon-calon mahasiswa yang sedang sibuk meneliti namanya pada papan pengumuman itu. ia terus mengayunkan langkah menyusuri jalanan utama kampus. ia menyeberangi jalanan dan memasuki Supermarket Mufidah Center untuk membeli beberapa item yang menjadi persyaratan seperti compeng, dan tali sepatu warna-warni.



setelah itu, Aisyah kembali menyeberangi jalan menuju kampus. disana juga masih sementara berjubel calon-calon mahasiswa baru yang sementara menunggu penjelasan dari panitia pelaksanaan masa orientasi yang akan dilaksanakan seminggu kemudian. ada juga beberapa pengumuman penting dari pihak fakultas, beserta penyelesaian administrasi kegiatan program perkuliahan semester pertama, yang terangkum dalam program SPP tunggal.


Aisyah dan calon-calon mahasiswa baru lainnya dengan tekun mendengarkan penjelasan para panitia. setelah itu rombongan calon mahasiswa baru itu membubarkan diri.


...********...


Chiyome telah menjadi bagian dari warga kelas XI F, meskipun begitu, diantara semua siswa, tinggal 2 orang yang belum memperkenalkan diri kepadanya. kedua orang itu adalah Kenzie dan Trias yang sementara duduk dengan cuek.


sementara guru yang mengajar mata pelajaran yang dijadwalkan pada jam itu, sibuk menguraikan berbagai teori yang dipaparkan oleh para ilmuwan. para siswa semua konsentrasi, karena kalau tidak, guru dihadapan mereka yang termasuk kategori killer ini, meskipun dalam diam, dia akan rajin mem blacklist nama siswa maupun siswi yang memiliki kekurangan dimatanya.



waktu terus berlalu hingga terdengar bunyi bel listrik. guru itu merapikan buku-bukunya kemudian melangkah tanpa permisi meninggalkan siswa-siswi yang juga berhamburan menuju kantin untuk mendamaikan pemberontakan yang terjadi dikampung tengahnya akibat para cacing yang keroncongan. pemusatan pikiran memang menguras energi, menyebabkan rasa lapar memberontak menuntut pemenuhan dan penyeimbangan energi.


kelas itu kini sunyi meninggalkan 3 orang saja. Chiyome yang telah merapikan buku-bukunya dalam rak meja, kemudian bangkit mendekati Trias dan Kenzie. kedua pemuda itu juga hendak beranjak dari tempat duduknya, langsung berhenti ketika menyadari keberadaan Chiyome yang berdiri menghalangi mereka.



"Ada yang bisa dibantu, nona Chiaki?" tanya Kenzie.


alis Chiyome berkerut. "Chiaki?"


Kenzie mengangguk, "Kamu dipanggil Chiaki Kuriyama, kan sama teman-teman?"


Chiyome menarik napas panjang dan memandang langit-langit kelas. Trias yang mulai menyadari kecanggungan situasi langsung berinisiatif mencairkan suasana.


"Maaf, nona. tadi kami terlalu sibuk membahas sesuatu hingga mungkin sedikit mengabaikan. tapi percaya, kami sangat senang, anda berada disini... bolehkah kami tahu.. nama nona? maaf jangan tersinggung." kata Trias dengan sopan.


Chiyome menatapi kedua pemuda itu dengan sinis, lalu membalikkan badan hendak berlalu. Trias menyenggol Kenzie. kedua pemuda itu langsung maju menghalangi Chiyome.


Kenzie mengulurkan tangan. "Saya, Kenzie A. Lasantu, dan ini teman saya, Trias E. Ali."


"Salam kenal..." kata Trias sambil melambaikan tangan.


Chiyome jadi geli dengan gaya kenalan mereka. gadis itu tersenyum dan membalas jabatan tangan Kenzie. "Chiyome Mochizuki, kelas XI F. senang kenalan dengan kalian." balas Chiyome dengan santun.


"Saya harap diantara kita tidak ada lagi kecanggungan seperti ini." kata Trias sambil menggosok-gosok telapaknya.


"Tergantung...." jawab Chiyome dengan santai.


"Tergantung?" kata Kenzie kemudian memandang Trias yang juga memanadangnya kemudian mengangguk tanda tak paham.


"Tergantung... kalian mau jadi sahabat saya, atau nggak." kata Chiyome.


"Aaaaa... ya... kita sudah jadi sahabat. kau adalah bagian dari kelas XI F, maka kau adalah sahabat kami." kata Trias mengangguk-anggukkan kepalanya.


Chiyome menggeleng, "Itu namanya teman, bukan sahabat."


"Oooo... maksudnya sahabat akrab... sahabat karib." kata Kenzie juga mengangguk-angguk.


"Ya.. kita bisa jadi sahabatmu." kata Trias dengan mantap.


"Janji?" pancing Choyome sambil senyum dan mengangkat jari kelingkingnya yang mengait.


ini macam drama korea, pake kait kelingking segala....


demi tidak menyinggung perasaan sahabat barunya, terpaksa Kenzie dan Trias ikut-ikutan mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Chiyome.


ketiganya keluar dan melangkah menuju kantin. sepanjang perjalanan, Chiyome terus meladeni sapaan para siswa, terutama kaum adam yang ingin melakukan pendekatan. dengan ramah, Chiyome menyambut sapaan mereka dengan ramah.


mereka tiba dikantin. Trias celigukan mencari sosok yang dirindukannya. ia mendapati Iyun yang duduk bersama kawan-kawan perempuan kelas XI A.



"Aku kesana dulu, bro. kalian silahkan pesan duluan." kata Trias memberi tanda Kenzie untuk menemani Chiyome sementara Trias meninggalkan mereka menuju kerumunan dimana Iyun berada.


Chiyome memperhatikan kerumunan itu. "Siapa yang hendak ditemui temanmu?" tanya gadis itu melihat Trias sudah duduk disamping seorang gadis berjilbab syar'i diantara kerumunan teman-teman perempuannya.


Kenzie mengajak Chiyome duduk disalah satu bangku. kemudian mereka berdua memperhatikan Trias yang sedang melayani pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya Iyun. Kenzie dan Chiyome duduk berdampingan agar bisa melihat lebih jelas kearah Trias dan Iyun.

__ADS_1


"Itu Iyun, pacarnya." jawab pemuda itu kemudian melambaikan tangan kepada pengelola kantin.


tak lama kemudian pengelola kantin datang. Kenzie memesan makanan dan minuman.


"Kamu pesan apa Chiyome?" tanya Kenzie. "Maaf jika tidak sesuai dengan selera lidahmu."


"Nasi goreng ada?" tanya Chiyome.


Kenzie memesan makanan dan hidangan untuk dirinya dan Chiyome. sambil menulis nama hidangan yang dipesan, pengelola itu memperhatikan Chiyome.


"Siswa baru, non?" tanya pengelola itu.


"Ya, siswa pindahan, baru dikelas saya." potong Kenzie kemudian menyuruh pengelola itu untuk meninggalkan mereka. Chiyome sejenak tertawa.


"Ganggu aja kesenangan orang." gerutu Kenzie.


mereka kembali memperhatikan Trias dan Iyun kemudian mengambil tempat terpisah, menjauh dari kerumunan.


"Kelihatannya mereka buru-buru." kata Chiyome.


"Bukan buru-buru. Trias kuatir, Iyun cemburu lagi."


"Kita kesana yuk.." ajak Chiyome hendak berdiri, namun cekalan tangan Kenzie pada pergelangan tangannya menahan gerak gadis itu. Chiyome menatapi Kenzie yang menggeleng, mengisyaratkannya untuk tak mengganggu romantisme yang terjadi antara Trias dan Iyun.


"Biarkan saja. ini kesempatan mereka untuk melepaskan diri dari golongan sok keren itu." kata Kenzie sambil menganggukkan kepala kearah kerumunan siswa XI A yang mengambil tempat sendiri lepas dari kelompok lain.


tak lama kemudian pengelola kantin datang membawa nampan berisi pesanan hidangan dan meletakkannya di meja depan Kenzie dan Chiyome.


sambil menikmati hidangan, keduanya terus mengamati anak-anak kelas XI A. Kenzie sibuk mengunyah makannya. ia malas memperhatikan kelompok itu.


"Mereka mengaku sebagai golongan elit. kelompok terpintar disini. makanya mereka menciptakan statusnya sendiri.." ungkap Kenzie acuh tak acuh.


ibu... ternyata diferensiasi sosial yang berlaku disekolah-skolah bukan hanya terjadi di jepang saja....


"Mereka terlihat angkuh..." kata Chiyome.


"Kecuali Iyun..." ralat Kenzie sambil memandang Chiyome kemudian melanjutkan makannya lagi.


Chiyome mengangguk-angguk. "Mengapa mereka membiarkan Trias dalam komunitas itu?"


"Trias, siswa paling disegani disini. jangankan siswa, ada beberapa guru yang segan kepadanya karena Trias pernah memprotes beberapa aturan yang dianggapnya terlalu mendiskriminasi." kata Kenzie.


Kenzie mengangguk. "Lagipula, tak ada yang berani menjajal kemampuan Trias dalam beladiri..."


kedua mata Chiyome membulat, "Siapapun?" tanya gadis itu dengan takjub.


"Kecuali aku..." kata Kenzie menatapi Chiyome dengan senyum jenaka.


"Aku tahu... karena kalian sahabat, maka dia tak berani menyakitimu... uuh...so sweeet..." kata Chiyome.


Kenzie menggeleng, "Bukan... apa sih, emang kami homo apa?" gerutu pemuda itu membuat Chiyome tertawa pelan lagi. Kenzie menatapi Trias dan Iyun yang saling bercanda ditengah asyiknya mereka makan. pemuda itu tersenyum.


"Kami berdua, teman seperguruan..." jawab Kenzie, lalu kembali sibuk mengunyah makanan.


Chiyome menyeruput es teh lalu ter senyum, "Berarti kalian berdua hebat dong." puji Chiyome.


"Nggak seperti itu... kamu terlalu tinggi menilai kami." balas Kenzie merendah.


Chiyome mulai menyukai gaya bahasa pemuda ini. tidak sombong dan apa adanya. keakraban keduanya terganggu dengan munculnya Burhan. dengan enteng, pemuda itu duduk disamping Chiyome dan langsung mengulurkan tangan.


"Kenalan yuk, aku Burhan Lapananda." kata pemuda itu memperkenalkan diri.


Chiyome menyambut uluran tangan pemuda itu, takjub dengan sikap sok kenal pemuda ini.


"Chiyome Mochizuki.... kelas XI F." Balas Chiyome.


"Kamu tinggal dimana? kapan-kapan aku kesana." tanya Burhan.


sikap Burhan membuat Kenzie merasa risih sedang Chiyome hanya terpana dengan kekurang-ajaran pemuda itu.


"Kamu ini... bicara yang ringan-ringan dulu, kek... langsung ke alamat lo tanya, driver online lo?" ujar Kenzie mencibirkan bibirnya sambil menyorongkan piring yang sudah tandas isinya.


Burhan tertawa, "Jangan jealous kawan. atau kalian memang pacaran? ah, nggak mungkin..."


kalimat Burhan barusan berhasil membuat wajah Chiyome memerah bagai kepiting rebus. sedangkan Kenzie yang sementara minum langsung tersedak.


"Orang ini...." Kenzie menggeram namun tak melanjutkan umpatannya.

__ADS_1


sementara Trias juga mengamati tiga orang itu disela-sela ia menggombali Iyun. gadis itu untungnya tidak menyadarinya, dan tetap bersenda gurau dengan teman-temannya yang tak jauh berkerumun dari mereka berdua.


sementara itu Burhan masih getol mencuri-curi perhatian Chiyome dengan bercerita macam-macam, sedangkan Chiyome mendengarkannya dengan enggan. Kenzie sendiri justru jadi canggung dengan keberadaan Burhan disana.


"Jadi bagaimana? bisa aku ke rumah kamu?" todong pemuda itu.


"Akan kupikirkan..." jawab Chiyome pada akhirnya.


"Mantaaap... nanti kuhubungi ya." kata Burhan sok akrab sambil menepuk pundak Chiyome lalu beranjak dari tempat itu. sepeninggal Burhan, Kenzie langsung membuang ludah..


"Dasar Bandot!!!" umpatnya.


Chiyome sendiri tersenyum, ada sensasi aneh dalam dirinya ketika Burhan menuduh ia dan Kenzie pacaran. gadis itu mencuri pandang melihat wajah pemuda itu.


tampan... alami.... jantan... aduuuuh... kok aku jadi begini sih?


Chiyome menggeleng cepat lalu memandang lagi Kenzie yang sudah meletakkan gelas jauh darinya.


"Rumahmu sendiri dimana? kita kan sudah sahabatan, jadi boleh aku ke rumahmu?" tanya Chiyome.


Kenzie menatapi gadis itu, membuat Chiyome langsung tanggap mencari alasan. "Maafkan aku, jangan berpikir aku serendah kayak orang itu. aku hanya ingin lebih intim dengan sahabatku. aku orang asing disini, maka aku harus memperbanyak teman. supaya aku bisa beradaptasi dengan baik dan menyelesaikan pendidikanku juga dengan baik."


"Nanti kupikirkan...." balas Kenzie sambil tersenyum, membuat Chiyome tertawa lagi dan meninju dada pemuda itu. Kenzie meringis sambil senyum.


"Kau curang..." ujarnya.


"Makan apa kamu di Jepang? kuat sekali tinjunya." olok Kenzie.


Chiyome langsung sadar, ia ternyata sempat mengeluarkan sedikit tenaga karena gemas dengan pemuda itu.


"Maaf..." kata Chiyome pelan.


"Nggak... jangan diambil hati." kata Kenzie sambil mengacak-acak poni gadis itu.


"Apaan siiih..." ujar Chiyome dengan manyun, namun dalam hatinya senang.


aduuuh... perasaan apa ini? kok aku rasa damai dekat cowok ini...


tak berapa lama, rombongan siswa kelas XI A meninggalkan kantin. Trias pamit kepada Iyun lalu memisahkan diri dan berbaur dengan Kenzie dan Chiyome.


"Wah wah wah... akrab sekali kalian ya? intim benar, kayak orang pacaran saja." sindir Trias, kembali membuat wajah Chiyome bersemu merah. "Sudah, resmikan saja... daripada diambil orang.." sindir Trias penuh makna kepada Kenzie.


"Apaan kamu aaah... begini nih... mentang-mentang sudah ketemu pujaan hati, teman sendiri tak perduli. giliran sendiri, akuuu juga yang disindiri..." balas Kenzie.


"Kamu kan jomblo.... ya.. rugi bro, tampang keren nggak ada pasangannya... manekin aja ada pasanganya." kata Trias. malah Chiyome makin merah wajahnya mendengar gurauan Trias.


"Sudah..sudah... nggak kasihan kamu sama Chiyome... " kata Kenzie membuat Trias menutup mulutnya.


"Maaf maaf... jangan diambil hati..." kata Trias.


"Mengapa tidak kau ajak pacarmu duduk dekat kami?" pancing Chiyome.


"Takut... nanti Iyun cemburu sama kamu." jawab Trias dengan jujur.


"Aku benar, bukan?" sambung Kenzie.


Chiyome mengangguk-angguk. Trias menjawil lengan Kenzie. "Kau sudah pesankan hidanganku?"


"Nggak. tadi kuliat kau mesra-mesra dengan Iyun, pake makan bersama lagi. mau gembul lo?" ejek Kenzie.


"Weee... mentang-mentang sudah punya selingkuhan baru, yang lama dilupakan." sindir Trias meninggalkan mereka sejenak untuk memesan makanan.


"Kau punya pacar, Kenzie?" tanya Chiyome tiba-tiba.


Kenzie menggeleng. "Aku nggak mau pacaran. aku takut, cewe-cewenya pantat bensin."


"Jika kau tak punya pacar, kenapa Trias menyindirmu begitu?" pancing Chiyome.


"Karena akulah selingkuhannya." jawab Kenzie sambil terkekeh, membuat Chiyome juga tertawa.


kantin mulai sepi, tak lama kemudian Trias bergabung membawa semangkuk mie ayam dan sebotol teh es. "Ramai sekali tertawanya." sindirnya mengambil tempat didepan Kenzie.


"Aku bilang sama Chiyome, kalau pertemanan kita lebih kayak orang pacaran." kata Kenzie.


"Memang, bikin jealous orang-orang. bahkan Iyun pun sempat cemburu... dikiranya aku penganut LGBT." sambung Trias membenarkan ungkapan Kenzie.


"Kurasa, aku akan lebih akrab dengan kalian ketimbang teman-teman yang lain." ungkap Chiyome.

__ADS_1


"Kalau begitu, ganti nama 3 sekawan saja." cetus Trias tiba-tiba..Chiyome mengangguk dengan mata berbinar jenaka, sedangkan Kenzie dan Trias langsung melakukan toss high five. []


__ADS_2