Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 48


__ADS_3

malam itu salju turun dengan lembut, mirip gerimis. seluruh halaman rumah kediaman keluarga Mochizuki sudah tertutup salju. Aisyah sudah lebih dulu berkemul dalam futon untuk mengusir hawa dingin sambil nonton acara olahraga di ESPN.


sementara Kameie sibuk berdiskusi dengan Fitri tentang rencana mereka untuk memuluskan pernikahan putri mereka. Kameie sudah menghubungi Ienaga untuk membeli beberapa rompi anti peluru dipasar gelap.


sementara di genkan. Kenzie duduk menatapi langit malam. angkasa hanya dipenuhi bulir-bulir es lembut yang turun dan mengendap menjadi salju, mendinginkan hamparan bumi yang terletak diwilayah subtropik tersebut.


pemuda itu mengenakan jaket tebal dari parasut yang menutupi lagi sebuah baju tebal dari wol. ia mengenakan kaus tangan untuk menjaga jangan sampai jemarinya menjadi kaku. Kenzie sebenarnya ingin memakai kupluk dari wol, tapi ia malu, lebih tepatnya gengsi melihat gadis disebelahnya tidak mengenakan pakaian penghangat selain kimono yang lebih tebal, warna putih, bagian pakaiannya dilukis batang bambu dan beberapa lembar daun rumput.


seakan Chiyome tidak merasakan hawa dingin. gadis itu tenang saja menyampirkan kepalanya ke bahu pemuda disampingnya. uap napas keluar dari hidung dan mulutnya setiap kali gadis itu bernapas.


Kenzie sedikit lebih parah. pemuda itu bahkan tak sadar mengeluarkan ingus bening dari hidungnya akibat kedinginan. Chiyome yang sempat melihat kemudian tertawa lalu mengisyaratkan Kenzie untuk menyeka ingusnya. pemuda itu mengelap lendir itu dengan punggung tangannya yang dilapisi kaus tangan tebal.


"Dingin ya? nggak usah maksa. masuk saja. Wiffy nggak mau Hubby batal nikah gara-gara masuk dingin." ledek Chiyome.


Kenzie hanya tersenyum masam meladeni olokan calon istrinya itu. Chiyome sejenak bangkit meninggalkan Kenzie. beberapa saat gadis berkimono itu muncul lagi membawa sebotol besar sake dan sebuah cangkir lebar mirip piring lalu menyerahkannya kepada Kenzie.


"Apa ini?" tanya Kenzie.


"Cobalah.... penghangat tubuh diwaktu dingin." jawab Chiyome kemudian duduk dan menuangkan cairan dalam botol kedalam cawan tersebut. "Minum sedikit-sedikit, jangan langsung dihabiskan." gadis itu mengangsurkan cawan itu kepada Kenzie.


pemuda itu menerima cawan tersebut dan mendekatkan bibir cawan ke bibirnya kemudian menyesap airnya. sedetik kemudian Kenzie menyemburkan air tersebut. wajahnya terlihat menahan rasa pahit.


"Minuman apa ini? pahit..." tanya Kenzie dengan lirih.


Chiyome mengambil cawan itu dari tangan Kenzie lalu menyesap isinya. gadis itu memejamkan mata sejenak lalu kembali menatap Kenzie. "Ini namanya sake."


"Oooo... ini yang namanya sake itu? pahit benar..." ujar Kenzie sambil meleletkan lidah berkali-kali untuk mengusir rasa pahit dimulutnya.


Chiyome tak perduli lagi dan menghabiskan secawan sake tersebut hingga habis. ia meletakkannya disisi genkan. gadis itu menatapi Kenzie lalu tersenyum. wajah gadis itu mulai memerah akibat pengaruh 20 persen alkohol dalam minuman tersebut.


"Hubby... Wiffy cinta banget sama Hubby..." kata Chiyome sambil mendekat dan menggelayut manja. ia menyandarkan lagi kepalanya didada Kenzie.


Kenzie sebenarnya mual mencium bau alkohol yang keluar dari mulut Chiyome. tapi ia sebisanya menahan rasa itu. lebih baik ia rela kedinginan daripada disuruh lagi minum minuman tersebut. hangat, memang akan terasa hangat. setelah itu pengaruh alkohol akan merasukinya dan pemuda itu khawatir ia tak mampu membendung hasratnya. biarlah ia tak menjamah minuman itu agar otaknya bisa berpikir jernih.


Chiyome jelas berbeda. ia memang sejak kecil, akrab dengan minuman tersebut. karena minuman itu dianggap cemilan penghangat tubuh. tapi Kenzie tak mau memaksa Chiyome untuk tidak minum. biarlah di Gorontalo ia akan menyuruhnya untuk tidak menyentuh khamr.


"Hubby juga cinta banget sama Wiffy. makanya Hubby disini. inilah buktinya Hubby mau halalin Wiffy. biar ******* sama mainan remasannya kan sudah boleh.." goda Kenzie.


"Hmmm.... Hubby mulai mesum lagi ya? tapi... Wiffy suka..." desah Chiyome dengan suara serak. tatapan matanya sayu. sesekali gadis itu menggigiti bibir bawahnya. "Tapi Hubby ... boleh kredit dulu, biar sedikit... biar setelah nikah boleh dikontan..." goda gadis itu kembali mendesah nakal membuat Kenzie langsung melirik ruangan tengah, berharap orang tua gadis itu tidak memergoki keduanya.


"Hubby kan sudah kredit duluan di benteng Ulanga. Wiffy nggak ingat?" kata Kenzie mengingatkan supaya Chiyome tidak akan bertindak lebih jauh.


"Ah... cuma itu doang... itu juga masih pakai seragam... Hubby nggak remasin didalam..." rengek Chiyome dengan manja.


tanpa bisa dicegah Kenzie. tiba-tiba tangan Chiyome langsung menyambar bagian bawah pusar Kenzie. pemuda itu tersentak seketika dan kedua tangannya lantas memegang tangan Chiyome yang berhasil menggenggam sesuatu yang menonjol dibalik celana tebal itu. wajah Kenzie langsung pias.


"Astaghfirullah... Wiffy... jangan dong... lepasin please..." pinta Kenzie dengan lirih sambil melirik lagi ke ruangan dimana Kameie dan Fitri masih asyik berdiskusi.


"Nggak mau..." jawab Chiyome dengan senyum nakalnya.


"Ya Allah, Wiffy... jangan pancing Hubby dong. bentar kalau tombaknya Hubby berontak, gimana? batal dong malam pertamanya... lepas ya... Hubby janji deeh... kalau malam pertama... akan Hubby buat Wiffy nggak bangun-bangun semalaman... Tapi dilepas dulu... please.."

__ADS_1


dengan senyum memberenggut Chiyome terpaksa melepaskan benda yang sudah mulai membentuk itu. Kenzie membelai rambut gadis yang tersanggul itu. pemuda itu berupaya meredakan birahinya yang telah dipancing tadi.


"Jangan marah dong..." pinta Kenzie. "Gini saja deeh... Hubby kreditnya dibibir Wiffy saja ya? bibir Wiffy kelihatan seksi malam ini. bikin jantung Hubby berdesir." rayu Kenzie.


benar perkiraan Kameie terhadap Kenzie. Chiyome langsung berbinar mendengar tawaran pemuda itu. hanya Kenzie yang bisa mengendalikan monster betina tersebut.


"Mau deh kalau begitu... asal Hubby suka..." jawab Chiyome.


Kenzie mengangkat kakinya satu lalu memeluk Chiyome dan menyandarkan kepala gadis itu dilututnya. wajah pemuda itu mendekat lalu mencium pelan bibir gadis itu. Chiyome memejamkan mata menikmati seinci demi seinci daging bibirnya yang diemut Kenzie mirip orang yang menikmati kembang gula. lama mereka berciuman hingga akhirnya Chiyome sendiri yang mendorong wajah Kenzie karena ia hampir kehabisan napas.


keduanya saling mengatur napas. Kenzie menatapi wajah gadisnya. Chiyome membuang pelan napasnya.


"Hubby... Wiffy mau ngaku..." kata Chiyome.


"Ngaku apa?" tanya Kenzie.


"Wiffy habis membunuh orang..." jawab Chiyome dengan nada ringan seakan kalimat membunuh orang itu terasa seperti orang yang sedang menikmati cemilan.


Kenzie menarik napas sejenak, mengatur debar dijantungnya. pasalnya, gadis itu melakukan perampasan nyawa manusia seakan tanpa beban.


"Siapa yang Wiffy bunuh kali ini?" tanya Kenzie.


"Orang yang hendak menghalangi pernikahan kita." jawab Chiyome. Kenzie merasa surprise.


"Oh ya?" tanya Kenzie.


Chiyome mengangguk, "Orang itu berani menghina Hubby dihadapan ayah, kakek, dan tuan Kumicho. jadi Wiffy buntungi kepalanya dan menantang semua pengikutnya untuk tidak mengganggu kita." jawab gadis itu.


"Makasih ya Wiffy, sudah memperjuangkan Hubby." jawab Kenzie dengan gemetar. Chiyome mengangguk dan tersenyum lebar memamerkan gigi ginsulnya.


"Kalau dalam pesta nikah nanti terjadi kekacauan, Hubby jangan kaget dan takut ya? nanti Hubby, Trias, Iyun dan Om Endi akan dilindungi paman Ienaga dan ketiga anaknya." kata Chiyome.


"Masa iya, akan ada kekacauan?" tanya Kenzie.


"Bagi Hubby itu hal yang baru. tapi kami memang sudah terbiasa dengan hal semacam itu." jawab Chiyome sambil mempermainkan ujung rambut Kenzie.


"Memang siapa yang akan mengacaukan pesta?" tanya Kenzie sambil mengelus pipi Chiyome yang merah.


"Nobuo, putra dari orang yang Wiffy buntungi kepalanya di rapat dewan, tadi siang." jawab Chiyome lagi.


"Kenapa dia mau cari gara-gara?" tanya Kenzie berupaya meredakan rasa cemburunya.


"Sejak dulu, tuan Kagenobu memang ingin sekali melamar Wiffy untuk anaknya. tapi Ayah maupun Kakek tidak pernah menghiraukannya. begitu mendengar Wiffy mau nikah dengan Hubby, dia berontak diruang sidang, mencaci ayah dan kakek serta melecehkan Wiffy. tapi hal itu Wiffy anggap biasa saja, hingga akhirnya ia mempermalukan Hubby dihadapan tuan Kumicho lalu menantang Wiffy bertarung, jadi... Wiffy ladeni dia dan Wiffy buntungi lehernya." tutur Chiyome.


"Orang bernama Nobuo itu memang nggak pandai menyerah ya?" pancing Kenzie.


"Nggak tau juga Hubby." jawab Chiyome. "Tapi Wiffy akan melakukan segala macam cara untuk menjaga Hubby dari mereka yang ingin menggagalkan rumah tangga kita." tandas gadis itu.


"Bukannya terbalik? kan semestinya Hubby yang jaga Wiffy. hmmm Wiffy bikin Hubby kehilangan percaya diri nih." ujar Kenzie pura-pura merajuk.


"Iya deh... Wiffy mau dilindungi Hubby... ganbatte Hubby." ujar Chiyome spontan. gadis itu memang tidak ingin melukai hati calon suaminya.

__ADS_1


"Biar Hubby hadapi orang bernama Nobuo itu. Hubby mau lihat seberapa kuat dia." kata Kenzie yang juga tersinggung bercampur cemburu mengetahui calon istrinya diminati oleh pemuda lain.


Chiyome tersenyum dan mencubit dagu Kenzie, "Hontoi Kakkoi... aisureba suru hodo.." pujinya.


(duh kerennya.. makin cinta deh)


Kenzie tersenyum dan kembali menyambar bibir gadis itu dan menikmati kedua belah daging bibir Chiyome, mengemutnya, mendesakkan lidahnya lebih ke dalam menjilati dinding-dinding mulut Chiyome, lalu membelit lidah gadis itu. kedua liur mereka menyatu.


tanpa sadar Kenzie melanggar sendiri prinsipnya karena terbuai dengan suasana saat itu, ditambah dinginnya malam bertabur salju, kehangatan tubuh Chiyome adalah alternatif terbaik untuk menghilangkan rasa dinginnya. Kenzie melepaskan sarung tangannya kemudian tangan itu menyelusup kedalam kimono Chiyome. gadis itu sedikit tersentak lalu biasa kembali menerima jamahan tangan pemuda itu bergerilya didalam pakaiannya.


tangan Kenzie terhalang oleh stagen yang membelit dada gadis itu. ia memaksa menyelusup kedalam lipatan stagen itu dan mulai menjelajahi kedua bukit milik Chiyome dengan intens dan perlahan. Chiyome menggeliat sejenak merasakan jemari dan telapak tangan pemuda itu menelungkup dipermukaan bukitnya kemudian telunjuk dan jari tengah Kenzie perlahan bersatu memuntir-muntir stupa kecil gadis itu dengan perlahan. Chiyome kembali menggeliat dan melingkarkan kedua lengannya ke leher kekar pemuda tersebut.


hampir saja keduanya melakukan hal yang lebih jauh kalau saja tidak terdengar deheman keras dibelakang mereka. sontak Kenzie melepaskan ciuman dan tangannya lalu menoleh ke belakang. Chiyome memperbaiki kerah kimono yang sempat menguak dan menatapi pemilik deheman itu.


Kameie berdiri dibelakang mereka berdua. Chiyome memperbaiki duduknya dan menunduk tersipu karena kepergok ayahnya sedang bermesraan dengan Kenzie. apalagi Kenzie, wajahnya menjadi sangat panas karena malu ketahuan oleh ayah gadisnya.


Kameie menggelengkan kepala lalu berdecak-decak. lelaki itu menatapi Chiyome yang menunduk.


"Kau, temani ibumu memasak untuk makan malam." perintah Kameie.


tanpa membantah, Chiyome langsung bangkit dan berjalan cepat sambil menunduk. begitu berada didalam, Chiyome menengok Kenzie lagi yang juga sedang menatapnya. gadis itu tersenyum nakal lalu kembali menunduk dan berjalan kedalam ketika mengetahui sang ayah melihatnya.


Kenzie duduk dengan canggung sedangkan Kameie kemudian duduk disamping Kenzie. lelaki itu mengambil botol dan menuangkan sake kedalam cawan itu, kemudian menyesapnya dengan pelan hingga tandas. lelaki iti meletakkan cawan disamping Kenzie dan menuang isinya.


"Minumlah! itu hukumanmu karena berani mengutak-atik tubuh putriku tanpa ijin." perintah Kameie dengan suara berat dan tatapan yang dingin mengiris.


tanpa ragu karena takut dimarahi, Kenzie dengan gagah berani langsung meminum sekali teguk minuman hasil fermentasi beras itu lalu meleletkan lidah lagi berkali-kali untuk mengusir rasa pahit yang menyengat permukaan lidahnya.


Kameie tertawa melihat tingkah Kenzie yang tak biasa dengan minuman itu. ia merampas cawan dari tangan Kenzie kemudian menuangkan sake kembali kedalam cawan itu kemudian meminumnya.


keduanya bercengkrama di genkan tersebut sambil menatapi pemandangan malam yang bertabur salju. Kameie mendesah menghamburkan uap napas yang mirip hembusan naga ke udara.


"Kenzie.... " panggil Kameie tanpa memandang pemuda itu. Kenzie menoleh memperhatikan wajah calon mertuanya. Kameie melanjutkan. "Dua hari lagi, kalian akan melakukan akad nikah di Masjid Cammi Tokyo. Papa sudah menghubungi Ustad Taki Takazawa dan dia bersedia menjadi seishokusha (penghulu). dalam dua hari ini, Papa akan mengurus dokumen kalian berdua ke Kedutaan Indonesia di Osaka. supaya kalian bisa cepat memperoleh Surat Pengakuan Pernikahan dari Dinas Catatan Sipil Negara."


Kenzie hanya menunduk. tak ada yang bisa dia katakan. Kameie menatapi Kenzie.


"Nak, berjanjilah akan satu hal." pinta Kameie.


"Katakanlah Papa.." jawab Kenzie yang tak lagi canggung memanggil Kameie dengan sebutan itu.


"Jagalah Chiyome baik-baik. dia bagaikan pedang yang tak bersarung. setiap tindakannya pasti akan menimbulkan korban jiwa. Papa berharap kau yang akan menjadi sarungnya." kata Kameie dengan wajah sendu.


Kenzie menatapi Kameie lalu tersenyum dan mengangguk. "Percaya sama Kenzie, Pa. Kenzie akan menjaganya sekuat tenaga..." jawab Kenzie dengan mantap.


"Kalau kau sudah bosan padanya.... jangan katakan itu padanya.... katakan itu padaku, biar aku yang akan menjemputnya pulang." kata Kameie dengan suara serak. ia menegak sake langsung dari botolnya.


"Apa Papa pikir aku akan mengembalikannya pada Papa? tidak Pa! dia milikku dan sampai kapanpun dia akan tetap jadi milikku. bahkan aku akan menggugat Tuhan jika dia dipisahkan dariku di akhirat." jawab Kenzie sambil terkekeh.


Kameie menatapi pemuda itu meski Kenzie tak menatapnya.


"Pa... mungkin ini terdengar konyol. tapi benar! seluruh rongga tubuhku sudah terisi olehnya. rongga dadaku terisi oleh napasnya. aliran darahku teracuni oleh cintanya. dan Papa pasti yakin... racun cinta itu nggak ada obatnya Pa... kecuali pemilik racun itu memberikan penawarnya."

__ADS_1


Kameie tersenyum dan tangannya terulur menampar-nampar bahu pemuda itu. []


__ADS_2