
pertempuran tanpa senjata antara Trias dan Bubu berlangsung lama dan belum menandakan tanda-tanda siapa yang memenangkan pertarungan.
Trias sendiri berupaya menaklukkan kakek itu meskipun kelihatannya Bubu hanya terlihat bermain-main saja. pengalamannya dalam berkelahi sudah melampui setengah abad usianya sehingga Bubu bisa dengan jelas mempelajari teknik bertarung seseorang hanya dengan beberapa jurus saja.
Bubu mengagumi Trias, bukan karena staminanya yang kuat, atau dia seorang petarung yang berbakat. bukan semata itu, melainkan rasa kekaguman bahwa dijaman sekarang, masih ada generasi muda meskipun nyaris mustahil, meminati seni kuno beladiri rakyat gorontalo yang sudah tidak dipelajari. mereka hanya menyukai sistim perkelahian jalanan yang penuh dengan trik-trik tak etis.
tanah berpijak sudah terang oleh mentari yang menyembul perlahan dari awang timur. namun pertarungan kedua lelaki itu belum menampakkan tanda siapa yang memenangkan pertarungan. keduanya saling membelit, saling memiting, saling membanting juga saling mencengkeram. setiap ayunan serangan Trias langsung diantisipasi oleh Bubu.
pakaian keduanya telah kotor karena, daki keringat dan becek lembabnya tanah. bahkan kemeja Trias telah sobek pada jahitannya. namun opsir itu bagaikan sesosok raksasa yang berhati teguh bagai karang. dalam jurus yang ke tujuh ratus delapan puluh sembilan, mulai nampak kerontokan semangat. napas keduanya sudah saling memburu.
Trias melompat mundur mengambil jarak dan mengatur lagi napas dan detak jantungnya yang terasa menggedor jakun. nadinya terasa benar menghentak leher. tatapan lelaki itu berkunang-kunang.
" Nak, aku salut padamu." puji Bu dalam bahasa isyarat. "Saat ini, Langga sudah bisa dikatakan punah, sebab simpai terakhir penerus Langga yang kuketahui telah wafat satu persatu." kakek itu melangkah ke samping dan bersandar pada sebatang pohon, meringankan tenaganya yang telah banyak menguap akibat pertarungan tadi. ia kembali bicara bahasa isyarat. "Pemegang linula Tapa sebelumku, telah wafat dua tahun lalu. beliau dimakamkan ditanah keluarganya di Atinggola. pewaris linula Suwawa, Bapu Ridhwan Mantulangi juga sudah wafat." Bubu menudingkan jemari telunjuknya, "Kau mempelajari Langga dari siapa?"
Trias memperbaiki kemejanya. " Aku, adalah murid langsung Bapu Ridhwan Mantulangi, bersama cucunya sendiri, Kenzie Lasantu. Aku murid ketiga dalam aturan kependidikan seni Langga itu."
mata Bubu membesar. ia merespon dalam bahasa isyarat, Tentu saja! mengapa tak terpikirkan dari dulu?!" kakek itu kemudian tersenyum lalu membahas dalam bahasa isyarat. "Aku mengenal baik, Almarhum Bapu Ridhwan. beliau salah satu tokoh adat yang sangat dihormati..."
"Dan kau membela orang yang telah menyakiti keluarganya." sela Trias menudingkan telunjuknya kepada Bubu. "Kamu tahu? Stefan adalah pemerkosa sekaligus pembunuh dari Aisyah Fatriana Lasantu dan Bakri Muchsin. kejahatannya sudah begitu besar karena perlakuan yang ia berikan kepada Nyonya Bakri Muchsin sangat diluar peri kemanusiaan. mengapa anda membelanya?" todong Trias.
"Janji yang telah terikrar, nak." jawab Bubu dengan bahasa isyarat. "Aku tahu, dia salah. tapi, jika aku tak membelanya maka aku juga kehilangan kehormatanku. bukankah lidab merupakan kehormatan seorang lelaki?"
"Tapi kau mengucap ikrar yang salah Bubu." bantah Trias. "Dan kau tahu, Om Adnan tidak akan membiarkanmu jika dia tahu, bahwa kau juga terlibat dalam upaya perlindungan Stefan. jangan katakan padaku, kau didera rasa bersalah. itu hanya omong kosong saja." ejeknya dengan senyum sinis.
"Sebagiannya benar..." jawab Bubu dengan bahasa isyarat. "Dan aku sudah siap menanggung semua akibatnya, termasuk menerima kebencian dari keluarga Lasantu dan Mantulangi."
"Berarti, kau sudah siap jika mereka datang menagih nyawamu?" pancing Trias.
"Aku selalu siap untuk apapun. resiko dari seorang petarung adalah karma. ketika ia membunuh seseorang, ia harus siap menerima jika anggota keluarga orang tersebut menuntut balas." jawab Bubu dalam bahasa isyarat.
"Baik. kalau begitu, aku... atas nama ayahku, guruku, dan sahabatku... datang menagih nyawamu." ujar Trias kembali menegakkan tubuh. tenaganya sudah pulih sedikit demi sedikit.
Bubu menghela napas lalu mengangguk. ia kemudian memasang kembangan lalu sikap tempur. Trias akhirnya mendengus lalu memasang kembangan dan sikap tempur pula.
diiringan pekikan yang merobek udara, kedua petarung itu kembali maju mengarahkan serangan dan mempersembahkan teknik terbaiknya untuk menaklukkan lawan.
...*******...
pertarungan Chiyome dengan Sonia Rotcshild berlangsung seru bagai bertarung diantara pasak-pasak. keduanya menjadikan bebatuan yang menonjol itu bagai pasak dan dan arus air sungai yang deras sebagai dasar pasak.
pertarungan kontak dekat menggunakan senjata sejenis dengan taruhan nyawa dilakoni kedua petarung wanita itu. Sonia mengibaskan beberapa kali belati jagkomando menghalau gerakan Chiyome yang maju hendak menghamburkan kunai.
namun Chiyome tak patah arang. dengan kelincahan dan keseimbangan kecakapan ringan tubuh, ia meloncat sejenak kebelakang lalu maju lagi mengibaskan kunai menerobos halauan jagkomando yang dikibas-kibaskan Sonia.
TRANGGGG!!!!
benturan kunai dan jagkomando menyebabkan nyeri dipergelangan tangan masing-masing penyandangnya. Chiyome tak melewatkan kesempatan. ia memutar dan melayangkan tendangan, namun hanya mengancam dagu Sonia membuat wanita berpakaian safari hutan itu terpancing menarik kepalanya ke belakang sehingga perutnya menekuk kedepan.
__ADS_1
dengan cepat Chiyome menarik kaki dan menghujamkan tendangan ushiro menghujam lambung Sonia membuat wanita itu terlempar dan nyaris jatuh kebantaran sungai berarus dangkal yang deras itu.
untung saja Sonia langsung mencengkeram permukaan batu dan melenting kembali lalu menjejak batu dengan kedua kakinya yang melebar untuk menguatkan pijakan. Chiyome mendengus lalu maju melompat mengejar Sonia. wanita bertopeng setan menyeringai itu memutar kunai dan kembali menusukkan senjatanya.
TRANGGGG!!!
Sonia dengan sigap mengibaskan jagkomando kedalam dan senjata Chiyome melenting kesamping. hal ini dimanfaatkan Sonia mengibaskan Jagkomando mengincar leher wanita bertopeng itu. Chiyome merunduk dan menghantamkan bahunya ke dada Sonia membuat wanita itu oleng dan jatuh ke sungai.
BYUR!!!!!
HUMMPHHHH....
Sonia jatuh dan gelagapan bangun. ia mengibas-ngibaskan jagkomando mengancam Chiyome jika ia berniat mengejar. namun rupanya Chiyome tak termakan umpan. wanita bertopeng itu hanya berdiri di atas batu itu. begitu Sonia bangkit, Chiyome melompat kecil, mendarat beberapa jarak dari wanita itu.
air sungai begitu dingin dipagi hari. tubuh sonia menggigil dan pakaian safari khakinya basah semuanya mempertontonkan berbagai lekuk tubuhnya yang tercetak jelas dipakaian itu. pakaian Chiyome juga basah, namun lekukan tubuhnya tersamar oleh hitam pekat seragamnya.
Sonia meringis menahan dingin. sementara Chiyome membuang napas perlahan menyebabkan uap napasnya keluar melalui mulut menpo, membuatnya mirip siluman yang baru bangkit dari alam gaib.
Chiyome kembali memasang sikap bertarung. tangan kirinya terpantang jemari didepan sedang jemari kanannya yang menggenggam kunai melipat disisi bagian pinggang. sementara Sonia sejenak menggigilkan tubuhnya mengusir sisa-sisa air yang membasahi pakaiannya lalu mementangkan kedua tangannya. jagkomando tergenggam ditangan kanan.
"Sini kau J****g! ku kunyah jantungmu!" umpat Sonia dengan histeris.
Chiyome tidak menjawab. baginya, diam adalah cara meladeni umpatan lawan. kita lihat siapa yang sebenarnya j****g disini!
Sonia yang dihinggapi kemarahan maju dan langsung menusukkan jagkomando ke arah Chiyome. dengan tenang, Chiyome menyilangkan kedua pergelangan tangannya ke atas hingga serangan itu hanya tertahan disana. dengan tangkas, Chiyome menggunakan kunai untuk mengait belati jagkomando milik Sonia dan menghentakkannya.
kedua senjata itu terlepas dan jatuh ke air. Sonia hanya bisa menggeram melihat belati kesayangannya hanyut dibawa arus sungai bersama senjata wanita bertopeng dihadapannya. dalam keadaan tanpa senjata, membuat Sonia kagok dan itu tidak disia-siakan Chiyome.
kedua tangannya maju menyarangkan nukite tsuki menghantam beberapa titik di dada dan perut Sonia membuat wanita berpakaian safari itu tersentak dan terdorong ke belakang.
"Die Schlampe!!!! curang!!" umpat Sonia kembali menghambur.
Chiyome sudah siap ketika wanita itu maju hendak menghamburinya. keduanya saling bergulat dan saling membanting. Chiyome menang teknik dari wanita itu. gerakannya sudah lelah sehingga lebih banyak mirip gerakan gorila yang mengamuk.
Chiyome hanya menghindar ketika Sonia mengayunkan cakarnya. wanita itu membiarkan Sonia kelelahan sendiri. dalam gerakan ke dua puluh tujuh, tubuh petarung dari jerman itu jatuh berlutut ditanah dengan napas tersengal-sengal.
Chiyome berdiri tenang dihadapannya dan menghunus Si Penebas Angin. pedang itu terlihat mengkilap bilahnya seakan tak sabar untuk menghirup darah lawannya. Chiyome melakukan postur jodan no kamae, menempatkan Si Penebas Angin diatas kepalanya, siap memancung kepala Sonia.
tanpa setahu Chiyome, wanita itu melihat sebuah pistol kecil yang dilemparkan Kenzie saat menembak Stefan. dengan gerakan kecil diraupnya benda itu.
mata Chiyome nyalang menatap Sonia yang juga mendongakkan wajah menantang tatapan wanita bertopeng itu. Sonia kemudian terkekeh.
"Shineeee!!!!" pekik Chiyome mengayunkan pedang.
namun tanpa disangka, dengan cepat Sonia mengarahkab moncong pistol ke wajah Chiyome.
"Mampus kau, Die Nutte!!!!" seru Sonia.
__ADS_1
DORRR!!!!
Chiyome terpelanting dan terbaring kesakitan dengan luka tembakan dibagian kanan perutnya. wanita itu menggelepar kesakitan. pedangnya terlepas dari genggaman. Kenzie yang sempat melihat tertembaknya sang istri kehilangan pertahanannya.
"Wiffyyyy!!!!" teriaknya hendak menghambur.
"Hei! jangan kesana! layani aku dulu!" seru Stefan yang maju menghalang langkah Kenzie.
dengan geram, Kenzie kembali menyerang lelaki minahasa tersebut. sementara Sonia sudah bangkit dan mengarahkan pistol kearah Chiyome yang meringkuk kesakitan, menampal luka tembaknya dengan sebelah telapak tangan kanannya. tatapannya penuh kemarahan.
"Heh! lihatlah dirimu sekarang, bekloppt. bagaimanapun hebatnya kamu. kau harus mati ditanganku!" ujarnya debgan pongah.
Chiyome meraih Si Penebas Angin yang tergeletak disisinya, namun Sonia lebih cepat menginjak pergelangan tangan Chiyome membuat wanita itu memekik lirih dan meringis kesakitan.
"Kau mau berlaku curang?! kau sudah terlambat! nyawamu sudah ditakdirkan menjadi milikku." ujar Sonia lagi lalu tertawa. "Ah, sebentar lagi lelaki bercambang itu juga akan dibunuh oleh Stefan, dan keluargamu, akan tumpas semuanya."
Chiyome hanya diam. ia tak mau bersuara membuat Sonia jengkel. dilayangkannya tendangan ke wajah Chiyome membuat wanita bertopeng itu akhirnya terlentang dan hanya mengerang pelan.
"Kau itu sudah bisu rupanya." gumam Sonia dengan geram dan kakinya yang terselimut sepatu lars itu terangkat dan memijak perut Chiyome tepat ditempat luka tembak itu dan menginjaknya dengan geram.
Chiyome memekik kesakitan dan Sonia tertawa. "Ya! memekiklah doof, memekiklah!" wanita itu kesenangan memijak perut Chiyome. seberupaya apapun Chiyome memegang betis wanita itu untuk menyingkirkan kaki, tetap saja rasa sakit mengurangi tenaganya.
Sonia membungkuk melepaskan menpo yang menutupi wajah Chiyome dan melempar benda itu ke sungai. wanita itu mengangguk-angguk. "Hmmm.... cantik juga kau rupanya. seperti air yang berarus deras itu." puji Sonia.
"Tapi itu tak menggerakkan hatiku untuk lembut padamu!" seru Sonia mencengkeram kuncir Chiyome membuat Chiyome mengaduh kesakitan dan terpaksa berdiri saat Sonia memaksanya bangkit.
"Kau, l***e sialan! p*****r brengsek! rasai olehmu kesakitanmu!" umpat Sonia lagi mengayunkan tinjunya ke perut Chiyome membuat wanita berpakaian serba hitam itu terbungkuk kesakitan.
dengan pekikan penuh kemarahan, Sonia meraih bahu dan mencengkeram pundak Chiyome dan mengangkat tubuhnya lalu menghempaskan tubuh Chiyome kembali telentang ditanah berbatu itu.
"Rasakan olehmu kemarahanku!!!" seru Sonia maju menghambur hendak meraih rambut Chiyome.
dengan tangkas, Chiyome langsung menangkap pergelangan tangan Sonia dan kedua kakinya langsung melayang menggelayut leher wanita jerman itu. Chiyome mencekiknya dan membanting wanita itu ke tanah berbatu. rasa kaget membuat Sonia kehilangan kemampuan. dengan tangkas, Chiyome langsung mengaitkan kedua lengannya, mencekik leher Sonia dari belakang.
Sonia berontak berupaya melepaskan diri. namun cekikan Chiyome terlalu kuat. keduanya saling bergumul dan Chiyome sama sekali tak melepaskan cekikannya. hingga akhirnya makin lama, gerakan Sonia melemah dan akhirnya diam.
Chiyome melepaskan Sonia yang sudah kepayahan. wanita berpakaian hitam itu bangkit dan meraih Si Penebas Angin yang menggeletak beberapa meter darinya. setelah menggenggam pedang itu, dengan sempoyongan, Chiyome mendekati Sonia yang hanya bisa bergerak-gerak lemah. wanita itu memijakkan sepatunya ke dada Sonia.
"Atas nama hukuman dari langit...." Chiyome mengangkat pedang dengan ujungnya diarahkan kebawah. "Matilah para pendosa!" ujarnya dengan pelan dan menghujamkan Si Penebas Angin kedada Sonia.
sejenak Sonia tersentak menerima hujaman pedang didadanya. wajahnya menyiratkan kesakitan luar biasa. Chiyome membungkukkan tubuhnya, menatap wajah Sonia yang sekarat. diusapnya wajah Sonia. wanita itu tak bisa lagi bicara sebab sekarat telah menyelimuti wajahnya. airmata kemudian menetes dari kelopak mata wanita tersebut.
Chiyome mengusap wajah Sonia. "Tidurlah... tidurlah menuju keabadian... Sonia Rotcshild." ujarnya pelan.
seakan memahami ucapan Chiyome, Sonia kemudoan mengatupkan mulutnya yang membuka, menarik napas panjang dan menghembuskannya. matanya akhirnya menatap kosong. Chiyome menundukkan wajah lalu menghentakkan Si Penebas Angin tercabut dari tubuh wanuta berpakaian safari hutan itu.
Chiyome duduk bersimpuh menancapkan Si Penebas Angin ditanah berbatu. ia mengusap wajahnya dan memperbaiki napasnya yang memburu. perlahan dirasakannya lagi sakit yang menyengat diperutnya. peluru itu belum dicabut.
dengan gemetar, Chiyome mengorek liang luka diperutnya untuk menemukan proyektil yang tertanam disana. ia memekik kesakitan, namun tetap memaksakan jarinya mencongkel peluru itu.
__ADS_1
melalui upaya yang memayahkan energi, Chiyome berhasil mengeluarkan peluru tersebut dan meletakkannya ditanah. tangannya penuh dengan darah. dan perlahan wajahnya yang pucat akibat menahan rasa sakit, menoleh kearah pertarungan antara Kenzie dan Stefan. tatapan wanita itu sayu sebab sudah kehabisan tenaga. ia harus segera memulihkannya.
Chiyome akhirnya duduk bersila disisi mayat Sonia yang sudah membujur kaku. ia melakukan meditasi untuk menyembuhkan diri sendiri. matanya terpejam dan napasnya mulai teratur. wanita itu membiarkan alam adikodrati melaksanakan tugasnya.[]