
"Lagian buat apa sih kau coba-coba barang haram itu?" tanya Trias ketika mereka berdua duduk ditaman kota dibelakang Gelanggang Olahraga Nani Wartabone. Kenzie menyeruput ice shakenya, sedangkan Trias mengunyah biskuit malkist.
"Yaaa... ujicoba aja..." jawab Kenzie dengan enteng. "Memang tak boleh?" godanya
"pilotepa lo pombolumu!!!" maki Trias dengan jengkel.
Kenzie tertawa mendengar kalimat makian yang terdengar lucu,meskipun arti sebenarnya tidak lucu.
"Sorry bro. aku kelepasan." aku Kenzie dengan jujur dan memelas, "Lain kali aku akan berhati-hati."
"Kau harus lebih berhati-hati!" tandas Trias, "Ingat?! Burhan sudah mendekatimu. posisimu sekarang sudah sama dengan aku. perbedaan diantara kita hanyalah kau berani memakainya, sedangkan aku tidak!"
"Wei,wei,wei... rendahkan emosimu." pinta Kenzie merayu sahabatnya. Trias hanya melengos.
"Bagaimana reaksi Iyun ketika melihat kita berdua dijemur tadi?" tanya Kenzie dengan mimik kocak.
"Marahlah dia!!" sembur Trias. "Aku bahkan tak ditegurnya tadi hingga pulang sekolah. padahal apa?! aku sedang menyelamatkan temanku yang terperangkap dalam pikiran bodohnya mau coba-coba menghirup barang bangsat itu!!" gerutu Trias sambil membanting sisa biskuit malkist ke tanah.
Kenzie hanya senyum-senyum saja membuat Trias tambah gahar.
"Hei, Huange'emu.... lain kali kalau kau mau coba-coba itu barang, jangan ada aku disekitarmu! jauh-jauh sana, huakedemu tiii... supaya aku nggak repot kena urusan gara-gara menyelamatkan kamu, bionguma!!!!" sembur Trias lagi dengan emosi.
"Yaaaaa.... kalau marah-marah begini, batal dah janji ketemuan dengan Oom Ahmad.." kata Kenzie dengan pelan dan menjebikan bibirnya lalu menyandarkan punggung ke batang pohon sambil menyangga kepalanya dengan kedua lengannya.
kalimat Kenzie barusan menyadarkan Trias dari marahnya. pemuda itu hanya diam menatapi jalanan yang ramai oleh kendaraan. Kenzie kemudian menepuk pundak Trias yang wajahnya masih terlihat merah. ia benar-benar bersyukur memiliki sahabat seperti pemuda ini.
"Aku janji bro. nggak bakal aku make tawas laknat itu lagi." kata Kenzie dengan sungguh-sungguh. "Ini yang pertama sekaligus yang terakhir. "
Trias menatapi Kenzie dengan manyun. "Kalau kau melanggarnya?!"
"Aku pasrah kau ceraikan.." goda Kenzie dengan manja dan berpura-pura mencium Trias.
"Iiiih... eke nggak selera ya.." elak Trias sambil bergaya feminin seperti Riswan.
Kenzie tertawa disusul Trias tertawa. keduanya saling menampar bahu lalu berjalan menuju pinggiran jalan dimana sepeda motor Kenzie terparkir.
"Kenapa kau ikut-ikutan mengguyur tubuhmu?" tanya Kenzie sambil menyalakan mesin.
"Supaya pak kepsek nggak curiga, kalau kau lagi sakau." jawab Trias sambil mengedipkan matanya.
Kenzie tersenyum lalu mulai menarik gas membuat sepeda motor itu melaju meninggalkan tempat itu.
...********...
Ahmad adalah seorang wartawan senior, meski hanya seorang freelance. tulisannya banyak dimuat di koran-koran kota. lelaki itu bahkan pernah menjuarai ajang karya ilmiah tingkat propinsi dengan menulis deskripsi tentang pemanfaatan kalender kuno dalam kegiatan pertanian maupun adat istiadat masyarakat Gorontalo. karyanya mendapat peringkat pertama dalam ajang tersebut yang disponsori oleh Bapak Ir. M. Ramdhan Pomanto, seorang arsitek internasional bersama Bapak Thoriq Modanggu, S.Ag, M.Pd.I, seorang visioner Gorontalo.
pria parobaya itu sedang duduk dikursi bermotif ukiran garuda, menikmati hidangan ringan, segelas besar teh panas dan sepiring kue aliadala. dihadapannya duduk dua orang pemuda yang tak lain Kenzie dan Trias.
"Baik, nggak usah basa-basi." kata Ahmad sambil mengangkat gelas dan menyeruput isinya. "Apa perlunya kalian kemari? Adnan bilang kalian hendak mewawancarai aku sehubungan dengan profesiku sebagai jurnalis." lelaki itu menatapi keduanya bergantian.
Kenzie dan Trias berpandangan kembali. akhirnya Trias memberanikan dirinya.
"Begini Oom. sebenarnya kedatangan kami berdua tidak sesuai dengan berita yang disampaikan Oom Adnan." kata Trias dengan pelan.
alis kanan Ahmad terangkat. rasa penasarannya langsung muncul. Trias sejenak berdehem lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan dua bungkus bubuk putih. salah satu bungkus itu sudah koyak karena Kenzie sempat memakainya untuk memenuhi rasa ingin tahunya. kedua bungkusan itu diletakkan Trias di meja.
Ahmad menjulurkan tangannya memungut dua bungkusan itu. ia mendekatkan bungkusan yang koyak ke hidung dan mulai menghirupnya. tidak puas, Adnan mencolek isi bungkusan dan mencicipinya. terlihat wajahnya menyiratkan kejijikan lalu ia meletakkan kembali benda itu di meja.
"Darimana Kalian memperolehnya?" desis Ahmad.
"Kami disodori oleh salah satu kawan kami." jawab Kenzie.
"Kalian tahu, barang apa ini?" tanya Ahmad kembali merenggut dua bungkusan itu dengan memperlihatkannya kepada kedua pemuda itu.
"Justru karena kami tahu, makanya kami menghubungi Oom." jawab Trias.
"Mau kalian, aku menghubungi pihak kepolisian untuk menyelidikinya lebih lanjut.?" tebak Ahmad.
__ADS_1
"Jangan Oom." cegah Trias. "Kami minta, Oom menjaga rahasia ini baik-baik. kami berdua berencana menyelidiki dan membongkar sindikat ini."
"Kalian gila!" sergah Ahmad sambil berdiri dan melangkah mondar-mandir. tak lama kemudian ia kembali duduk dan memandangi kedua anak muda itu bergantian.
"Kalian tahu resiko membongkar sebuah sindikat?! kalau ketahuan, nyawa taruhannya!!" ujar Ahmad dengan gemas.
"Jangan khawatirkan kami Oom. Insya Allah kami akan bertindak sangat hati-hati. " kata Trias. "Nanti Oom kami akan hubungi secara berkala."
"Kalian jangan melakukan perbuatan konyol itu!!" potong Ahmad dengan suara agak meninggi. "Biarkan polisi yang melaksanakan tugas itu. mereka lebih berkompeten ketimbang anak-anak sok jago macam kalian!"
"Jangan khawatirkan kami, Oom." tandas Trias sambil menyorongkan kedua bungkusan itu ke hadapan Ahmad. "Simpan benda ini sebagai buktinya. biarkan kami melakukan penyelidikan. kami janji tidak akan merepotkan Oom."
kedua pemuda itu bangkit dan menyalami Ahmad lalu melangkah keluar meninggalkan rumah itu. sebelumnya Kenzie meminta Ahmad untuk merahasiakan isi pertemuan itu dari ayahnya hingga penyelidikan mereka selesai.
sepeninggal kedua pemuda itu, Ahmad menggelengkan kepala berulang-ulang lalu mengumpat.
"Dasar anak-anak gila!" umpatnya sambil membanting pintu.
...********...
Pesawat yang ditumpangi Chiyome mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. gadis itu terpaksa menunggu diruang tunggu sementara maskapai mencarikan jadwal keberangkatannya ke Gorontalo.
gadis itu mengeluarkan ponsel dan memencet tombol hingga beberapa saat terdengar bunyi panggilan masuk ketika ia mendekatkan gadget itu ketelinganya.
📞"Assalamualaikum, nak?" sahut Fitri.
📞"Wa alaikum salam, Ibu. alu sudah tiba. tapi harus berganti pesawat. "
📞"Kau sudah mengurusnya, kan?"
📞"Sudah bu. nanti kukabari lagi."
Chiyome memutuskan hubungan dan langsung menyeret kopornya ketika terdengar jadwal keberangkatan pesawat beserta destinasi nya. gadis itu segera bergegas menuju tempat pemberangkatan.
...*******...
"Semoga saja begitu. aku justru khawatir dia akan menghubungi Papa." keluh Kenzie dengan lesu. "Kalau beneran begitu, bisa gagal penyelidikan kita dihentikan sebelum dimulai."
keduanya diam lagi ketika beberapa siswa memasuki gerbang.
Kenzie menghela napas. "Pengaruh barang haram itu masoh terasa. tubuhku sakit-sakitan ketika bangun. apa aku makai lagi supaya sakitnya hilang?"
PLAKKK.... HEH?
Kenzie kaget ketika tamparan Trias mendarat telak dipipinya tanpa sempat diresponnya. biasanya Kenzie sangat tanggap karena sebagai praktisi silat, ia sangat reflektif. namun entah kenapa, mungkin pengaruh narkoba itu membuat kelincahannya berkurang.
Kenzie mengelus pipinya dan menatapi wajah Trias yang mengencang dan gerahamnya gemeletukan menahan kemarahan. Kenzie tersenyum canggung dan memalingkan wajahnya.
Trias langsung mencengkeram kerah kemeja pemuda itu. "Jangan sekali-kali kau berpikir untuk memakainya lagi. mengerti?!" ancam Trias dengan nada menekan.
Kenzie mengangkat tangan dan mengangguk-angguk. Trias melepaskan cengkramannya dengan kasar. keduanya kembali diam melihat beberapa rombongan siswa memasuki gerbang lagi.
salah satu gadis mendekati Trias. gadis berjilbab syar'i itu, pacarnya yang sangat ia cintai melebihi dirinya sendiri.
"Aku mau bicara." kata Iyun.
sejenak Trias menatapnya, lalu mengangguk. pemuda itu menatapi Kenzie. "Aku mau jalan dulu dengan Iyun." ujarnya. "Ingat kata-kataku tadi.." ancamnya. setelah itu kedua muda-mudi itu memasuki gerbang sekolah membiarkan Kenzie sendirian disana.
Kenzie menarik napas panjang lalu melangkah masuk kedalam halaman menuju kesebuah bangku panjang yang diapit oleh dua batang pohon yang rindang. tak lama kemudian muncul Burhan yang langsung duduk disamping Kenzie.
Kenzie sempat terkejut lalu segera bersikap tenang. Burhan menghela napas dan tersenyum. tanpa memandang Kenzie, ia berkata, "Aku tahu, kau langsung memakainya kemarin."
Kenzie memandangi Burhan sekilas, kemudian memandangi hamparan lapangan basket yang ramai. Burhan memamerkan senyum liciknya.
"Bagaimana rasanya? mantap bukan?" pancingnya.
__ADS_1
Kenzie mengangguk pelan. perlahan ditatapinya pemuda disisinya. "Kau masih memilikinya ?"
"Ada.." jawab Burhan sambil menegakkan tubuhnya. "Tapi sudah nggak gratis lagi." ujarnya sambil menatapi Kenzie lalu bangkit dan berlalu meninggalkan pemuda itu dengan langkah enteng.
"Berapa harus kubayar?" tantang Kenzie.
langkah Burhan terhenti. tubuhnya berbalik dan mendekati Kenzie lagi. "Nanti aku kabari. dimana kita bisa bertemu?" pancing Burhan.
"Terserah kamu." kata Kenzie, "Yang jelas, aku menginginkan barang itu."
Burhan terkekeh lalu mengangguk. "Siang ini, didalam gedung bulu tangkis."
setelah membuat deal, Burhan berlalu dengan gaya santai dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
...********...
Iyun berdiri membelakangi Trias, sedangkan pemuda itu hanya duduk santai disalah satu bangku kantin.
Trias menghela napas, "Aku minta maaf dengan kelakuanku kemarin. mungkin sifat kekanak-kanakan kami muncul lagi dan akibatnya...." Trias tidak melanjutkan kalimatnya, hanya menyambungnya dengan mengangkat bahu dan mengembangkan tangannya sekaligus menjebikan bibirnya.
Iyun berbalik dan mempertontonkan wajahnya yang merona merah kepada Trias. "Tapi aku malu, Tri. tak tahukah kamu, betapa aku hampir tak sanggup menahannya?" wajah itu memelas. "Kau ditatapi ratusan siswa bercampur celotehan teman-temanku kepadamu. mereka merendahkanku melalui kamu." setelah berkata begitu, Iyun kembali memungungi Trias.
Trias bangkit lalu menyentuh kepala gadis itu. "Aku janji takkan mengulanginya lagi." kata pemuda itu dengan pelan.
Iyun menengadah menatapi wajah yang selalu dirindukan dalam setiap mimpi ditidurnya.
"Kau berjanji?" pinta Iyun.
Trias mengangguk sambil tersenyum. "Aku ingin melihat senyummu. berikan aku senyuman, aku merindukannya." rayu pemuda itu.
Iyun tersipu. ia kemudian tersenyum. Trias mencolek hidung wanita itu.
"Gitu dong. aku merasakan kehangatanmu disini." kata Trias sambil meletakkan tangannya didada kiri sedang tangan kirinya mengamit lengan Iyun.
"Kita mau kemana?" tanya Iyun dengan suaranya yang serak basah itu.
"Ke hatimu..." goda Trias lagi.
"Iiiiiiih... gombal.." balas Iyun, tapi kali ini ia merasa senang.
...********...
bunyi tapak sepatu beradu dengan lantai menggema dikoridor. nampak seorang guru perempuan diikuti oleh seorang gadis yang mengenakan seragam formal. rambut nya dikuncir dan diikat dengan pita warna biru laut. kulitnya yang kuning langsat menambah serasi seragam yang dikenakannya.
langkah kedua perempuan itu berhenti dikelas XI F, kemudian mereka masuk. siswa-siswa sempat melongo melihat seorang guru masuk membawa serta seorang gadis kedalam kelas. semua siswa diam menunggu penjelasan guru itu.
"Selamat pagi anak-anak." sapa guru itu diikuti suara koor siswa membalas sapaan dari guru mereka.
guru itu menatapi gadis tersebut dan kembali menatapi para siswanya.
"Hari ini sekolah kita mendapat kehormatan menerima program pertukaran pelajar dari Jepang. khususnya kelas kalian, mendapat kehormatan ini." guru itu menatapi gadis yang tak lain adalah Chiyome.
"Siswi ini mendapat kesempatan untuk melanjutkan studinya di Indonesia. silahkan nak, perkenalkan namamu." pinta guru tersebut.
Chiyome mengangguk lalu menghadap kearah para siswa dan membungkuk .
"Ohayo gozaimas... watashi no namaewa.. Mochizuki Chiyome des.." sapa Chiyome dalam bahasa jepang.
"Dia menyapa kalian dan memperkenalkan namanya, Chiyome Mochizuki." sahut guru itu menterjemahkan sapaan Chiyome tadi.
"Mohon bantuannya." tambah Chiyome sambil membungkuk lagi.
penghuni kelas XI F langsung heboh mendengar kalimat bahasa indonesia yang fasih keluar dari mulut gadis jepang itu. Chiyome melanjutkan "Sebelumnya saya mempelajari bahasa anda dengan tekun, supaya mampu beradaptasi..."
siswa-siswa semakin heboh bahkan tak canggung lagi memuji Chiyome, salah satu siswi bahkan nyeletuk kalau Chiyome mirip dengan artis jepang pemeran film kill bill, Chiaki Kuriyama. Bedanya, Chiyome memiliki ginsul yang membuatnya terlihat unik.
sang guru kemudian mengangkat tangannya. "Saya harap kalian akan membantunya agar kerasan belajar di sekolah kita." selesai berkata, sang guru kemudian mempersilahkan Chiyome duduk dibangku dekat Susan yang sudah dikosongkan.
__ADS_1
sepeninggal guru itu, para siswa menghambur mengerubuti Chiyome hendak berkenalan dengannya. Chiyome sempat merasa dirinya seperti artis film yang dimintai tanda tangan. yang paling menyolok adalah anak-anak lelaki kelas XI F yang tak mau melepaskan kesempatan menebarkan pesona, mengharap mendapatkan perhatian lebih dari Chiyome.
dua orang pemuda menarik perhatian gadis itu. tak seperti yang lainnya. justru mereka terkesan santai dan acuh tak acuh, bahkan sedang sibuk membahas sesuatu tanpmemperdulikannya. sesekali Chiyome mencuri pandang kearah Kenzie dan Trias yang lagi sibuk membahas pertemuan mereka dengan Burhan. []