Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 15


__ADS_3

Trias menghela napas dan memeluk Iyun dengan mesra. gadis itu mengkerut dalam pelukan pemuda itu.


"Jangan terlalu cemburu. aku nggak mau dituduh macam-macam." ujarnya.


sesaat Trias selesai berkata, ponselnya bergetar. Iyun mendorong tubuh pemuda itu. Trias mengeluarkan ponsel dan menatapi fitur panggilan.


"Dari Kenzie." kata Trias meminta Iyun menunggu.


📲 "Ya, kenapa?" tanya Trias.


📲 "Aku mau mengajak kamu ke Pasar Jajan. kita makan-makan dengan Chiyome." kata Kenzie. Trias menggeleng-geleng sendiri.


📲 "Nggak bisa. sudah 2 minggu ini aku belum ngapelin Iyun. sekarang aku lagi dirumahnya. lain kali saja ya?" tolak Trias.


📲 "Okelah kalau begitu." kata Kenzie.


Trias memutuskan panggilan seluler. Iyun mendekat.


"Kenzie nyuruh kamu ngapain." tanya Iyun memelototi Trias.


Trias tertawa. "Jangan melotot begitu. jelek." kata pemuda itu. Iyun mendengus sambil terus melotot.


"Aku nggak mau calon istriku jadi tendelenga.." kata Trias sambil senyum. tendelenga adalah nama dalam bahasa gorontalo yang dinisbatkan pada hewan sebangsa kukang.



mendengar nama hewan itu membuat Iyun langsung meredupkan tatapannya. kali ini menyipit. sinis tapi menggemaskan.


"Kenzie manggil aku untuk makan-makan di Pasar Jajan. tapi sudah ku tolak. kau dengar sendiri kan aku bicara apa tadi?" jawab Trias sambil mendekatkan wajahnya ke wajah gadis berjilbab itu.


"Malam ini, aku hanya ingin bersamamu."


...*****...


Kenzie meletakkan ponselnya ke tepi meja. dihadapannya duduk Chiyome, mengenakan kaus krem dan celana jins warna biru pudar. rambut gadis itu dibiarkan terurai. sebuah tas kecil terletak bersebelahan dengan ponsel milik Kenzie.


Kenzie menelpon Chiyome dan meminta kesediaannya untuk diajak jalan-jalan. gadis itu langsung mengiyakannya karena ia memang harus mengenal wilayah operasinya. bagaimana dia bisa bergerak kalau tidak mengenal kota ini?


"Jadi, Trias tidak ikut dengan kita?" tanya Chiyome.


"Dia lagi sibuk menenangkan pacarnya. sudah 2 minggu dia nggak setor muka ke Iyun." jawab Kenzie sambil tersenyum. "Nggak apa-apakan kalau kita berdua saja."


Chiyome tertawa pelan. "Nggak apalah... yang penting ada kamu."


kali ini, ucapan gadis itu mengganggu benak Kenzie. ia menatapi gadis itu dengan tatapan penuh makna. Chiyome gelagapan dan langsung menyambung, "Maksudku, kan kita bertiga sahabatan, kalau tak ada dia, ya kan kamu yang menemani aku."


aku yakin bukan itu maksud dari ucapanmu barusan. kau menutupi kenyataan itu dengan kata-kata diplomatis.


Kenzie mengangguk-angguk sambil tersenyum. tak lama pelayan datang. Kenzie menatapi Chiyome.


"Kau mau pesan apa?" tanya Kenzie.


"Kamu saja yang pesan." balas Chiyome.


"Mana bisa begitu? belum tentu yang kusukai, akan kau sukai juga. jangan maksa menyukai sesuatu hanya karena takut membuatku tersinggung. jujurlah, supaya aku senang." pinta Kenzie.


"Nggak ada yang kusukai dalam menu ini." kata Chiyome dengan pelan dan sesekali menatapi pelayan yang menatapi keduanya bergantian.


Kenzie memberi isyarat agar pelayan itu menjauh sejenak. kemudian pemuda itu menatapi Chiyome.


"Kamu mau makan apa? bilang saja. kemanapun makanan itu akan aku cari, asal jangan kau suruh cari ke Jepang." kata Kenzie membuat Chiyome terkikik.


gadis itu sejenak berpikir. matanya mengerjap-ngerjap lalu tersenyum. ketika ia menatapi Kenzie, wajah gadis itu bersemu merah dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain."


"Ayo... bilang saja. makanan indonesia?" tanya Kenzie.


Chiyome mengangguk. Kenzie mengangguk pula. "Kukira makanan lain. sebutkan saja."


"Aku malu mengatakannya. kau akan menertawaiku." kata Chiyome dengan tersipu.


"Aku janji nggak akan melakukannya." kata Kenzie sambil menuang air kedalam gelas dan hendak meminumnya. lama Chiyome menimbang-nimbang hingga akhirnya ia memutuskan untuk jujur. gadis itu maju mendekati Kenzie.


"Aku mau makan.... pilitode." kata Chiyome dengan pelan.


kalimat itu membuat Kenzie seketika tersedak. air yang diminumnya langsung memancar deras keluar melalui kedua lubang hidungnya, kemudian pemuda itu terbatuk-batuk. Chiyome membuang muka menyembunyikan tawanya kemudian menyeberangi meja lalu duduk disisi Kenzie dan menyapu punggungnya. Kenzie mengatur napasnya yang sesak akibat tersedak tadi. ditatapinya Chiyome dengan tatapan tak percaya.



"Kau yakin?" tanya Kenzie sambil batuk-batuk lagi lalu menatapi Chiyome.


"Sudah kuduga. kau akan menertawaiku." gadis itu menunduk.


"Kau lihat aku tadi tertawa? aku tersedak, Chiyome." bantah Kenzie sambil mengelap meja yang basah dengan air bekas sedak. pemuda itu mengangkat dagu gadis itu.

__ADS_1


"Kita nggak akan menemukan masakan itu disini. karena itu masakan rumahan." jawab Kenzie. Chiyome menatapinya dengan sendu, membuat Kenzie tak kuasa untuk membiarkan gadis itu tak mendapatkan keinginannya.


tak lama ia mendapat ide. ia meraih ponsel lalu memencet nomor ibunya. tak lama kemudian terdengar suara.


📞 "Halo, assalamualaikum, Kenzie. ada apa nak?" tanya Mariana.


📞 "Mama dirumah nggak, saya mau kesana dengan teman perempuan saya." kata Kenzie.


📞 "Kamu kenapa bawa teman perempuan? ini sudah malam nak. kasian orang tuanya, nanti nanyain.." kata Mariana dengan cemas.


📞 "Sudaah.. pokoknya Mama tenang saja. eh Ma, bisa masak sayur pilitode nggak?" tanya Kenzie.


📞 "Aduuuh... Mama nggak bisa sayang,.. tapi tunggu sebentar...."


terdengar suara ibunya melangkah menyeberangi ruang dan mengetuk pintu kamar.


hm... Mama ngebangunin Kak Aisyah... moga-moga saja Kakak bisa....


terdengar suara orang berdiskusi sejenak, kemudian suara ibunya terdengar lagi.


📞 "Halo? halo? Ken... boleh, boleh. kakakmu tahu memasaknya. nanti Mama dengan Kakakmu persiapkan semua. kalau sudah selesai nanti kami misscall kamu ya.."


📞 "Okey.. makasih Maa.." jawab Kenzie sambil memutus sambungan seluler.


pemuda itu menatapi Chiyome. "Aman... pesananmu sementara dimasak." ujarnya sambil tersenyum.


"Makasih yaa.." kata Chiyome langsung memeluk Kenzie dalam posisi duduk membuat jantung pemuda itu langsung saling berkejaran saking gugupnya. Chiyome seperti sadar, lalu cepat melepas pelukannya.


"Maaf..." ujarnya sambil menunduk.


gadis ini memang benar-benar membuat jantungku mau copot. aaahhh...apa dia merasakannya juga?


Kenzie menggelengkan kepala lalu bangkit dan menggamit tangan Chiyome mengajaknya keluar dari tempat itu. untuk menghibur pelayan itu, Kenzie mengeluarkan selembar uang 20.000 rupiah dan menaruhnya dimeja, kemudian mereka berdua meninggalkan tempat itu.



mereka melangkah pelan menyusuri trotoar besar yang mengelilingi lapangan Taruna Remaja. dibagian utara terdapat sebuah taman dengan sebuah patung besar berdiri kokoh disana. itu adalah patung peringatan untuk Nani Wartabone, pahlawan nasional dari Gorontalo yang berhasil memerdekakan Gorontalo pada tanggal 23 Januari 1942 bersama pasukannya yang disebut pasukan rimba.


diseberang taman, berdiri megah rumah dinas gubernermen. diseberang taman bagian timur ada kantor polisi lalu lintas yang berseberangan jalan dengan markas polisi militer. bangunan markas itu masih berbentuk asli, rumah panggung adat gorontalo.


malam itu banyak juga pasangan-pasangan yang berjalan-jalan sekedar melepaskan kepenatan akibat kerja penuh waktu disiang hari.


mereka tiba dibalai-balai beton yang mengelilingi taman itu. Chiyome duduk kemudian Kenzie duduk agak menjauh. situasinya menjadi canggung karena masing-masing takut untuk memulai percakapan.


Kenzie berdehem menarik perhatian Chiyome dan berhasil. gadis itu memandang wajahnya.


"Bagaimana kabar orang tuamu?" tanya Kenzie.


aduuih... kok nanya itu sih... hubungannya apa?...


Chiyome tersenyum. "Mereka baik-baik saja." jawabnya singkat.


"Kamu kerasan dikelas kami?" tanya Kenzie lagi.


Chiyome mengangguk sambil tersenyum. lalu menyilangkan kakinya dan menyandarkan punggungnya kesandaran tembok. kedua tangannya menyangga permukaan balai-balai itu dan ia memejamkan mata menikmati angin malam yang berhembus pelan.


cantik sekali.... andai saja....


Kenzie garuk-garuk kepala dan menggelengkan kepala lalu kembali menatapi Chiyome yang masih memejamkan mata.


"Halo? Chiyo? kamu belum ngantuk kan?" tanya Kenzie sambil melambai-lambaikan tangan ke wajah Chiyome. gadis itu membuka mata dan sempat terkejut, reflek menarik wajah lalu menatapi Kenzie.


"Kenapa?" tanya Chiyome.


"Nggak... aku kira kamu sudah ngantuk. jangan ngantuk dulu. kasian kakakku masakin yang kau mau, jadi sia-sia." jawab Kenzie.


Chiyome tertawa pelan, "Jadi tadi kamu pikir aku ngantuk?" tanya gadis itu. Kenzie mengangguk sambil tersenyum.


"Kan kalu aku ngantuk ada kamu yang keloni aku." ujar Chiyome dengan asal namun berhasil membuat wajah Kenzie panas bagai disambar api kompor. pemuda itu menelan ludah.



gadis itu kemudian mengangkat kakinya dan duduk dengan gaya teratai (bersila) lalu menyangga tangan kirinya ke lutut sedang telapak tangannya menyangga wajahnya yang sekarang fokus memandang Kenzie.


Kenzie sendiri justru terkejur dengan tatapan gadis itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu? " tanya Kenzie dengan alis yang terangkat.



"Kamu beneran nggak punya pacar?" selidik gadis itu sambil memicingkan mata.


Kenzie menggaruk lagi kepalanya yang tidak gatal lalu menatapi lagi Chiyome. pemuda itu juga mengangkat kakinya lalu duduk bersila dan menghadapkan tubuhnya kearah Chiyome.


"Mungkin akan terdengar aneh dan lucu bagimu jika pemuda seperti memilih jomblo." kata Kenzie sambil meneroboskan tatapannya menjebol kornea gadis itu membuat Chiyome merasa sebagian energinya tersedot akibat tatapan pemuda itu.

__ADS_1


"Aku menjaga diriku sendiri agar kelak aku menemukan jodoh yang sama baiknya denganku. aku sendiri bersama Trias sudah berkomitmen untuk itu. sayangnya, aku belum beruntung." pemuda itu menarik tubuhnya kebelakang, menegakkan badan dan mengembangkan tangannya.


"Dan inilah aku." kata Kenzie dengan senyum.


"Tapi kurasa, banyak cewek-cewek disekolah menyukaimu." kata Chiyome.


"Tau darimana kamu?" pancing Kenzie sambil tersenyum memamerkan giginya.


"Tatapan mereka. aku bisa mengetahui tatapan mereka kepadamu." jawab Chiyome. "Namun kau menutup hatimu. makanya mereka curiga, kalian berdua penganut LGBT." ujar gadis itu tertawa memamerkan gigi ginsulnya.


"Kalau pandanganmu padaku seperti apa?" tantang Kenzie.


Chiyome menunduk sejenak, lalu menatapi patung Nani Wartabone. ia tersenyum.


"Gagah sekali patung ini." kata Chiyome.


hm... dia mengalihkan pembicaraan.... awas kau ya...


Kenzie memandang patung itu pula. "Itu patung pahlawan nasional kami. namanya Nani Wartabone." jawab pemuda itu.


"Sepertinya dia menunjuk ke suatu arah." kata Chiyome sambil memperhatikan arah yang ditunjukkan patung tersebut.


"Dia mengarahkan telunjuknya ke arah kampung halamannya. Suwawa..." jawab Kenzie lagi.


Chiyome kemudian menoleh menatapi Kenzie tepat disaat pemuda itu menoleh pula ke arah gadis itu. tatapan keduanya bertemu dan keduanya langsung merasakan wajah mereka memanas. cepat-cepat keduanya memalingkan wajah ketempat lain.


astaghfirullah.... kok bisa kebetulan seperti itu ya... Ya Allah... apakah benar ini tanda-Mu?...


Kenzie membuang napasnya dengan pelan. sementara Chiyome sibuk mempermainkan temali tasnya.


fuuh... Kenzie... please .. jangan menatapiku seperti itu... aku jadi nggak bisa nahan perasaan aku.... Tuhaaan.. tolong aku dooong....


tiba-tiba ponsel dalam saku Kenzie bergetar. pemuda itu cepat-cepat mengeluarkan gadget itu dan membaca panggilan dilayar sentuhnya.


"Dari Mama... kayaknya masakan yang kau inginkan sudah rampung." kata Kenzie langsung menurunkan kakinya dan berdiri kemudian mengulurkan tangannya.


Chiyome menyambut uluran tangan pemuda itu kemudian keduanya melangkah saling bergandengan meninggalkan taman itu menuju ke sepeda motor milik Kenzie yang terparkir disisi trotoar.


...*****...


Aisyah sudah menghias meja makan itu dengan berbagai hidangan khas gorontalo. ada juga beberapa penganan yang ia buat. bagaimanapun ini yang pertama kali. Kenzie tak biasanya membawa teman perempuan. biasanya teman yang mampir kerumah hanyalah Trias, karena memang mereka bersahabat sejak kecil, mengikuti persahabatan ayah mereka.


"Kita tunggu mereka tiba." kata Mariana dengan senyum jenaka. "Coba kalau Papa ada, tentu lebih rame ini..."


Aisyah ikut mengangguk dengan senyum yang jenaka pula. Mariana mengajaknya duduk disofa diruang keluarga sambil menonton tivi menantikan kedatangan Kenzie dengan teman perempuannya itu.


tak lama terdengar deruman sepeda motor yang sangat akrab ditelinga Mariana. wanita itu bangkit dan menyuruh Aisyah ke dapur untuk mempersiapkan segalanya. wanita itu berjalan dengan cepat nan tak sabar menyambut tamu perempuan yang membuatnya penasaran.


pintu telah dibuka Kenzie. keduanya masuk ke ruang tamu. Kenzie menyalakan lampu kirstal menggantikan nyala bohlam besar.


"Ini rumahku. jangan sungkan." kata Kenzie.


tak lama kemudian Mariana muncul, "Kau sudah tiba." sambut wanita itu.


Kenzie mencium pipi ibunya lalu memperkenalkan Chiyome kepada ibunya.


"Ini Chiyome Mochizuki, siswa program pertukaran pelajar Jepang-Indonesia, teman Kenzie." kata pemuda itu menjabarkan curriculum vitae gadis itu.


"Cantik ya..." puji Mariana sambil mendekat dan memegang pundak Chiyome. "Maaf, Tante nggak bisa bahasa Jepang. tapi nyamankan diri kamu nak ya? anggap saja rumah sendiri." sambut Mariana sambil tersenyum.


"Makasih Tante. saya merasa terhormat bertemu dengan anda." jawab Chiyome sambil membungkuk setengah tegak. Mariana membulat matanya juga mulutnya dan menatapi Kenzie sambil memegang dadanya. tak menyangka, gadis didepannya bisa berbahasa indonesia dengan fasih.


Kenzie tertawa. "Kejutan Ma..."


"Kalau begitu langsung saja yuk." ajak Mariana sambil memegang kedua pundak Chiyome dan menuntunnya menuju dapur diekori oleh Kenzie.


didapur nampak Aisyah yang sibuk. begitu Aisyah berbalik dan tatapannya bertemu dengan Chiyome, seketika gadis itu terhenyak. langkahnya terhenti seketika.


DEG DEG DEG...


wajah itu..... itukan.....


"Ada apa Chiyo?" tanya Kenzie yang langsung menjajari gadis itu, sedangkan Mariana yang memandunya juga ikut heran. Kenzie mengikuti arah pandang gadis itu.


kenapa dia menatapi kakak dengan tatapan semacam itu? ada apa sebenarnya?


"Chiyo?" panggil Kenzie lagi.


Chiyo tergagap kaget. "Y-ya?" tanya gadis itu sadar dari kekagetannya lalu cepat menguasai dirinya. cepat-cepat gadis itu tersenyum untuk mencairkan suasana yang sempat canggung tadi.


"Maaf... sudah membuat anda sekalian tidak nyaman." ujar Chiyome sambil membungkuk.


Mariana dan Kenzie yang semula heran kembali tersenyum. sedangkan Aisyah hanya diam saja menatapi Chiyome.

__ADS_1


mengapa gadis itu menatapiku seperti itu? seakan ia melihat seseorang yang belum lama dijumpainya.... tatapan itu terasa sangat akrab... dimana ya aku melihat tatapan seperti itu?.... []


__ADS_2