Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 43


__ADS_3

Mariana dan Adnan yang menonton dari balik kaca pintu tersenyum melihat adegan tersebut.


"Aaaa... dasar Kenzie, aku jadi ingat pertama jumpa denganmu..." kata Adnan.


Mariana tersenyum, "Bagaimana menurutmu Pa?" pancing wanita itu.


Adnan mendengus, "Keputusanku sudah bulat. keduanya harus dinikahkan dalam waktu dekat ini. aku nggak mau menunggu lagi!"


...********...


Kenzie melepas ciumannya lalu menyeka bibir Chiyome yang belepotan liurnya. "Itu stempel cintaku. tak ada lagi keraguan didalamnya."


Chiyome tersenyum lebar memamerkan gigi gingsulnya yang membuat Kenzie semakin tenggelam dalam rasa cintanya kepada perempuan jepang itu.


"Aaaa... dasar Wiffy... Hubby benar-benar keracunan... kamu itu ya, dasar perempuan beracun.." ledek Kenzie sambil mencubit pipi Chiyome.


Chiyome meringis, "Sakit Hubby." tegurnya membuat Kenzie melepaskan cubitannya. pemuda itu tersenyum.


"Hubby bilang Wiffy apa? perempuan beracun?" kata Chiyome mulai marah lagi. Kenzie mengangguk sambil tersenyum.


"Iya! Wiffy tu perempuan beracun!" jawab Kenzie sambil melotot dan tersenyum.


"Enak saja! memangnya Wiffy apaan? emang racun apa sih Wiffy kasih sama Hubby?!" omel Chiyome lagi.


"Racun cinta!!!..." jawab Kenzie langsung mengulurkan tangannya ke Payudara Chiyome, tapi langsung ditepis gadis itu.


"Jangan genit disini... kalau ketahuan Om sama Tante baru tau rasa...." kata Chiyome dengan lirih.


"Biarin!" kata Kenzie kali ini lebih nekad. ia naik ke ranjang dan memposisikan tubuhnya diatas Chiyome.


"Hubby, mau ngapain?" tanya Chiyome dengan cemas. tangannya terulur menahan dada pemuda itu.


"Aku mau makan kamu!" kata Kenzie dengan senyum nakal.


tiba-tiba terdengar suara menggelegar.


ASTAGHFIRULLAH HAL ADZHIIIM...KENZIE!!!!!


sontak Kenzie langsung melompat turun dari ranjang dan menatapi Adnan yang berdiri didepan pintu dengan wajah yang pias. Mariana sendiri berdiri dibelakang Adnan dengab wajah terkejut dan menutup mulutnya.


"KAU SUDAH LUPA DENGAN JANJIMU, KENZIE?! ATAU HARUS KU INGATKAN LAGI?!" Adnan maju dengan langkah cepat dan tangannya mulai terayun hendak menampar putranya.


sontak Chiyome dengan gesit melompat dari ranjang dan memeluk Kenzie untuk memperisai diri pemuda itu dari amukan Adnan. tangan ini tak sempat mendarat diwajah sang putra kesayangan.



Kenzie sendiri hanya bisa diam menyongsong kemarahan ayahnya. dia sudah siap menerima konsekuensi perbuatannya. untung baginya, pelukan Chiyome menyentakkan akal sehat Adnan untuk tak melampiaskan tamparan kemarahan kepada putranya.


Adnan hanya bisa mondar-mandir lagi sambil sesekali memijit keningnya. sesekali ia menatapi Kenzie dengan wajah yang murka. sementara Mariana kemudian melangkah mendekati pasangan itu.


"Chiyo, lepaskan Kenzie.... biar dia mendapat pelajaran." bujuk Mariana dengan lembut.


"Shitakunai, kanojo wa kare o koroshimasu..." jerit Chiyome sambil terus memeluk Kenzie dengan erat.


(nggak mau, Om akan membunuhnya)


Adnan hanya bisa mendesah kasar. "Sudah! biarkan mereka!... dunia memang sudah gila!!" umpatnya.


lelaki itu menuding-nuding Kenzie, "Lihat itu Ken? kau liat itu? itu perempuan yang kau bikin pingsan menahan rindu gara-gara kau pergi tak kasih kabar?! kau liat itu Ken?!.... hah! Papa bisa jadi gila gara-gara kelakuan kalian berdua.!!" bentaknya kemudian langsung melangkah keluar ruangan.


Mariana akhirnya mengikuti Adnan keluar dari ruangan meninggalkan pasangan tersebut. Chiyome masih membenamkan wajahnya dipundak Kenzie. pelukannya masih begitu erat benar-benar menggelayut bagai akar pohon beringin.


"Wiffy, lepas... Papa sudah nggak ada..." kata Kenzie dengan pelan.


"Hoshikunai....Adnan Ojisan wa machigainaku anata o taoshimasu....." jawab Chiyome dengan lirih. gadis itu masih enggan melepaskan pelukannya.


(Nggak mau. Om Adnan pasti akan memukulimu)

__ADS_1


"Nggak. Papa nggak akan pukuli Hubby." kata Kenzie.


perlahan Chiyome mengendurkan pelukannya. gadis itu menoleh kesana kemari mencari Adnan dan Mariana. ia tak menemukannya. Chiyome kemudian menatapi Kenzie.



pemuda itu mengangguk dan meminta Chiyome melepaskan pelukannya. gadis itu akhirnya melepaskan pelukannya lalu melangkah dengan lesu ke tepi ranjang. Chiyome menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya lalu mengatur napasnya.


"Watashi wa nani ka shinakereba naranai.." gumam Chiyome.


gadis itu mencari-cari sesuatu. Kenzie mendekatinya. "Ada apa Wiffy?"


"Ponselku... ponselku dimana?" tanya Chiyome dengan bingung lalu menatapi Kenzie.


"Wiffy kayaknya nggak bawa ponsel. apa mungkin ketinggalan dirumah?" tanya Kenzie.


mata Chiyome membulat. "Ah ya... pasti di rumah..." kata gadis itu kembali melangkah menuju pintu. Kenzie langsung mengejar dan menghalangi pintu.


"Wiffy mau kemana?" tanya Kenzie.


"Wiffy mau ke rumah... Wiffy harus segera memberitahu mereka untuk mempercepat kunjungan kemari. Wiffy nggak mau mereka salah paham dengan kita." jawab Chiyome.


"Melakukan apa?" tanya Kenzie tidak paham.


"Mereka mengira kita sudah melakukan hubungan suami-istri!" kata Chiyome setengah menjerit.


"Oooo... itu..." gumam Kenzie akhirnya paham. dia tersenyum. "Biarkan saja. itu lebih bagus."


"Bagus bagaimana? apa keliahatan, Wiffy mirip perempuan murahan?!" tanya Chiyome dengan kesal hendak menyentuh pintu.


tiba-tiba Kenzie memeluk dan mengangkat tubuh Chiyome membuat gadis itu secara spontan melingkarkan kedua kakinya dipinggang pemuda itu, takut jatuh. Kenzie memajukan wajahnya kembali mencium bibir Chiyome. gadis itu membiarkan pemuda itu mempermainkan belahan bibirnya. ia memejamkan mata dan tanpa sadar melingkarkan kedua tangannya ke leher pemuda itu.


sambil terus berciuman, Kenzie kembali membawa Chiyome ke ranjang. gadis itu akhirnya duduk ketika Kenzie melepaskan bibirnya dari pagutan bibir gadis itu.


"Hubby..." ujar Chiyome.


tak lama kemudian Aisyah masuk. jilbaber itu sempat kaget melihat Chiyome yang sudah duduk ditepi ranjang. setelah itu ia menatapi Kenzie.


"Ken, gawat! gawat! apa sih yang sudah kau lakukan?! Papa sama Mama bertengkar di rumah." kata Aisyah dengan panik.


Chiyome menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kenzie mendengus kesal. "Apa yang mereka pertengkarkan?!"


"Kalian berdua! aduuuh...Kenzie... kenapa sih kau nggak bisa tahan? tuh kan Chiyome yang kena getahnya..." ujar Aisyah dengan memelas.


"Melakukan apa? kami berdua nggak melakukan apa-apa!" tandas Kenzie.


"Nggak melakukan apa-apa katamu?! lalu kenapa kau menaiki Chiyome?! kalau saja Papa nggak masuk dan memergoki kalian, tentunya sudah....." Aisyah tak mampu meneruskan kata-katanya.


Kenzie menekan keningnya. pikirannya mumet sedangkan Chiyome jadi serba salah.


"Kak Ais..." panggil Chiyome.


"Ada apa dek. kamu baik-baik saja, kan?" Aisyah mendekati Chiyome lalu membelai rambut gadis itu.


"Apa Kakak melihat ponselku?" tanya Chiyome.


"Ooo ya... ada sama Kakak. sebentar." jilbaber itu merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel milik Chiyome.


"Makasih kak..." kata Chiyome menerima ponsel itu.


gadis itu langsung menekan nomor seluler dengan kode SLJJ ke jepang. tak lama kemudian terdengar suara operator. Chiyome bicara beberapa patah kata. tak lama kemudian terdengar suara ayahnya.


Chiyome kemudian bercakap-cakap dalam bahasa jepang. kelihatannya ia membicarakan sesuatu yang begitu penting karena terlihat gadis itu begitu serius dalam percakapannya.


Aisyah menanti Chiyome bicara, sambil sesekali menatapi Kenzie dengan tatapan sinis. Kenzie sendiri merasa tatapan sang kakak menjadikannya benar-benar tersangka dalam kasus ini.


Chiyome telah menyelesaikan percakapannya. gadis itu kemudian menatapi Aisyah. jilbaber itu menatapi wajah Chiyome yang terkesan penuh makna.

__ADS_1


jilbaber tersebut mendekati Chiyome. "Ada apa dek?" tanya Aisyah dengan lirih. sejenak Chiyome menatapi Kenzie. jilbaber itu mengikuti tatapan gadis itu.


"Kenzie, boleh tinggalkan kami berdua?" tanya Aisyah dengan datar tapi penuh nada tekanan. gaya bicaranya semakin mirip Adnan yang sedang serius.


Kenzie mengangguk. pemuda itu melangkah meninggalkan ruangan meninggalkan kedua wanita itu sendirian dalam ruangan.


Chiyome menarik napas panjang. Jilbaber itu menatapi gadis jepang itu dengan penuh rasa ingin tahu.


"Ayah dan Ibu akan berada disini pada hari keempat." kata Chiyome.


"Itu bagus." jawab Aisyah sambil tersenyum. "Lalu kamu bicarakan masalahmu dengan Kenzie?"


Chiyome mengangguk.


"Terus?" desak Aisyah.


"Mereka akan datang mendiskusikan hal tersebut dengan Om Adnan dan Tante Mariana." jawab Chiyome.


"Alhamdulillah.... berarti segalanya sudah beres kalau begitu." kata Aisyah dengan lega.


"Ibu dan Ayah ingin bertemu dulu dengan Kak Ais " kata Chiyome.


"Wow... ini menarik." ujar Aisyah menatapi Chiyome yang memamerkan senyum datarnya. "Kenapa orang tua Chiyo mau ketemu dengan kakak? toh nanti bisa sama-sama ketemuan dengan orang tua masing-masing."


"Tidak! sebelum menemui Om Adnan dan Tante Mariana, Ayah dan Ibu ingin menemui kakak terdahulu." kata Chiyome, "Aku bisa saja menjelaskannya saat ini, tapi itu akan mengurangi kesan yang bagus... aku nggak mau Kak Ais kehilangan kesan itu."


"Chiyo, kenapa sih bicaramu kayak mahasiswa-mahasiswa filsafat di kampus kakak? kakak jadi penasaran nih." katab Aisyah sambil memegangi dadanya sendiri.


"Kakak bersedia, kan?" todong Chiyome.


"Tentu saja Kakak bersedia.... aduh gimana ya?... kok Kakak jadi gugup nih?" ujar Aisyah sambil tertawa canggung.


...***********...


mendengar informasi yang disampaikan membuat Kameie tak bisa berbuat banyak terkecuali mengiyakan saja permintaan putrinya. bagaimanapun, Chiyome adalah anak tertua. ia pemegang kendali menurut adat dalam keluarga-keluarga kaum genyosha (yakuza).


adat kaum genyosha sedikit berbeda dengan adat kaum samurai. meskipun dalam sejarah, kaum Genyosha sebagaian besarnya merupakan mantan samurai yang tidak mengabdi lagi. dalam keluarga samurai, posisi laki-laki lebih tinggi dari wanita. dalam adat Genyosha tidak seperti itu. siapapun, merupakan anak tertua apakah itu laki-laki atau perempuan, adalah merupakan pengendali keputusan. segala yang diinginkan anak tertua adalah kemutlakan.


Kameie mewakilkan urusan dan organisasinya kepada Ienaga, sedangkan urusan kantor diserahkan kepada putranya Iechika.


sementara Kameie mengurus ijin dan visa, Fitri mempersiapkan segalanya yang akan dibutuhkan putrinya. segala hal, dan tak boleh ada yang terlewat.


ketika semuanya telah selesai. kedua laki-istri itu segera berangkat menggunakan pesawat boeing meninggalkan bandara menuju selatan.


...********...


Adnan dan Mariana menatapi Aisyah yang duduk dihadapannya. dua laki-istri itu mencoba mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut putri mereka.


"Kamu yakin, dia bilang begitu?" tanya Adnan kurang yakin.


Aisyah mengangguk. Mariana memicingkan matanya. "Dimana kamu ketemuan dengan mereka?"


"Kata Chiyome sih dirumah sewaannya. mungkin Chiyome sudah memberitahu mereka tentang saya sehingga kedua orang tua Chiyome inginnya ketemu dulu dengan saya. mungkin saya mau dijadikan perantara untuk kalian." jawab Aisyah.


"Hm, mungkin saja begitu" gumam Adnan sambil mengelus dagunya. "Karena Chiyome akrab dengan Aisyah, jadi mereka mungkin lebih biasa menemui Aisyah dulu. kemudian melalui Aisyah, kita akan menjumpai mereka.


Adnan menatap Aisyah. "Nak, buatlah kesan yang baik sama mereka. ingat! tugasmu adalah mencomblangi Kenzie agar bisa menikahi Chiyome. bagaimanapun keduanya harus bersama. Papa nggak mau gagal. semua Papa serahkan padamu, nak. bantu kami."


"Akan saya usahakan Papa." jawab Aisyah. "Lalu perkara Kenzie bagaimana?"


"Dia akan dipingit untuk itu. begitu juga dengan Chiyome. jadi nak. kau sementara ini tinggallah dengan Chiyome. jelaskan padanya bagaimana supaya anak itu tak keluar kemana-mana dan tidak boleh ketemu Kenzie secara langsung untuk saat ini." jawab Adnan.


"Tapi kan Papa sudah hubungi Bapu untuk..." kata Aisyah.


"Papa akan batalkan sementara. dan Bapu juga harus diundang. bagaimanapun, Chiyome adalah cucu buyutnya juga. bagaimana caranya, semua ini harus berhasil."


kali ini Aisyah benar-benar melihat keseriusan yang begitu tinggi diwajah ayahnya. wajah itu menandakan keletihan dan rasa takut akan kegagalan. jilbaber itu jadi iba dengan ayahnya. ia berjanji akan memperjuangkan sesuatunya dengan lengkap. []

__ADS_1


__ADS_2