Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 27


__ADS_3

Adnan menatapi Ahmad dengan tatapan sangsi. mereka berdua sekongkol dibelakangku?


"Kau tak menghalangi mereka?" tanya Adnan lagi.


"Aku nggak bisa nahan keinginan mereka." jawab Ahmad. "Mereka sendiri berjanji melaporkan segala perkembangan secara berkala kepadaku."


"Teruskan!" pinta Adnan.


"Kemarin malam, anakmu menghubungiku. mereka melaporkan bahwa keduanya, ah tidak...ketiganya menemukan markas pengedar iru." kata Ahmad.


"Tunggu sebentar... kau bilang ketiganya? siapa yang ketiga?" desak Adnan.


"Itu... anak perempuan teman anakmu itu.." jawab Ahmad.


Chiyome? baiklah...aku akan menyelidikinya...


"Teruskan lagi... maaf, aku sudah menyela.." kata Adnan.


Ahmad mengangguk, "Dia memintaku datang dan menghubungi kolegaku di kepolisian. mereka berdua sendirian menggerebek rumah itu dan terlibat perkelahian dengan para pengedar itu. beberapa saat kemudian, tim Buser datang dan membekuk semuanya. dan disaat irulah kami menemukan jasad Burhan dilorong sempit tak jauh dari rumah itu."


Adnan mendengus. "Aku kecewa padamu. semestinya kau menghalangi ide gila mereka. dan sekarang kau melihat akibatnya bukan? kalau bukan Burhan, bisa jadi anakku atau temannya yang jadi korban!"


Ahmad mengangkat tangan pasrah. "Aku minta maaf nggak kasih tau kamu. itu juga atas permintaan anakmu." elaknya. "Hasil otopsi ditemukan kesimpulan, pelaku adalah orang yang terlatih dalam seni beladiri."


"Itu bukan perbuatan anakku!" tandas Adnan.


"Memang bukan anakmu. selama kejadian itu, kami bersama-sama." jawab Ahmad.


"Menurutmu, siapa pelakunya?" pancing Adnan.


"Aku sendiri sedang mengumpulkan hipotesaku. nanti kukabari kau. tapi ingat! jangan beritahukan hal ini pada siapapun." pesan Ahmad yang kemudian berbalik meninggalkan Adnan sendirian.


lelaki itu membuang napas dengan kasar. ia mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi Kenzie, namun panggilan itu hanya dijawab oleh operator seluler saja. lelaki itu kembali melangkah mencari Chiyome.


ia menemukan gadis itu duduk dideretan akhir. Adnan menghampiri Chiyome lalu menjawil pundaknya. gadis itu menoleh menatapi Adnan yang memandangnya dengan tatapan dingin.


"Chiyome, ikut Om sebentar." ajak Adnan.


gadis itu bangkit dan mengikuti Adnan yang melangkah menuju jalan. keduanya menyusuri jalanan hingga tiba ditempat dimana ia bicara dengan Ahmad tadi. lelaki itu kemudian berbalik.


"Chiyome, Om nggak marah sama kamu. Om sudah tau semuanya." kata Adnan dengan datar.


Chiyome menelan ludahnya dan menunduk. Adnan memegang pundak anak gadis iru. "Sekarang Om tanya sama kamu. jawab yang jujur ya?" pinta Adnan.


Chiyome sejenak ragu, namun akhirnya mengangguk juga.


"Semalam, Kenzie tidur dirumahmu?" tanya Adnan.


terpaksa Chiyome mengangguk juga. Adnan tersenyum. "Syukurlah dia tidur dirumahmu. Om kira dia kelayapan kemana-mana." lelaki itu menegakkan tubuhnya.


"Boleh pinjam ponselnya? kayaknya Kenzie sengaja menghindari Om. ada yang mau Om omongin sama dia." kata Adnan.


Chiyome kembali dengan terpaksa bercampur takut menyerahkan ponselnya. aura lelaki itu sebelas dua belas dengan ayahnya. Chiyome masih kalah untuk menentang kewibawaan lelaki itu.


Adnan mencari nomor Kenzie kemudian menghubunginya. nada sambung berbunyi dan tak lama terdengar suara Kenzie.


📲 "Chiyo, ada apa sih, aku masih ngantuk nih."


📲 " Kenzie, ini Papa. sekarang Papa tunggu kamu dirumah sekarang, jangan pernah beranjak dari sana sampai Papa dan Mama pulang."


Adnan menutup pembicaraan dan menyerahkan ponsel itu ke tangan Chiyome. pria itu tersenyum.


"Makasih ya nak. jangan kuatir. Om nggak marah sama kamu kok. masa kamu yang sudah Om anggap anak sendiri mau Om marahin." kata Adnan mengancak-acak rambut Chiyome membuat gadis yang semula cemas itu kembali cerah wajahnya meski tak bersuara.


"Nggak usah kuatir, Om nggak bakal mampusin pacar kamu kok. cuma diajar sedikit. boleh nggak?" goda Adnan membuat Chiyome kembali tersipu kemudian mengangguk-angguk.


"Sudah.. kembalilah kesana." kata Adnan menyuruh anak perempuan itu kembali ke tenda.

__ADS_1


...********...


prosesi penguburan Burhan berlangsung dramatis. semua orang tak mampu membendung tangis, apalagi teman-teman sekelasnya. ketika jenazah hendak dimasukkan ke liang lahat, sekali lagi ibunya Burhan melolong, hendak ikut masuk ke dalam liang kubur dan untungnya langsung ditahan dan diseret keluar oleh anggota keluarga Lapananda. sementara Yanto, memandang liang itu dengan mata yang merah dan bibir yang bergetar. setelah jenazah diletakkan dalam liang lahat, penimbunan dimulai.


beberapa orang bekerja menyekop tanah dan menimbun liang kuburan hingga akhirnya liang itu tertimbun seluruhnya. disudut kuburan dipasangi ornamen berbahan kertas. ditengah kuburan, syarada'a (pemangku syariat) menancapkan sebongkah batu nisan yang dibalut kain putih mirip pocongan, disertai penanaman tumbuhan balacae (jarak). setelah itu dilanjutkan dengan tabur kembang dan pembasahan tanah kuburan.


para pemangku syariat kemudian menggelar tikar pandan disisi kubur dan mengumandangkan beberapa ayat dan doa tahlilan dengan harapan sang mayit akan dimudahkan hisabnya.


semua proses telah diselesaikan. satu persatu para pelayat meninggalkan tempat itu. diantara para pelayat itu terdapat Chiyome yang terus menatapi makam itu tanpa berkedip. setelah lama memandang kuburan itu, Chiyome berbalik meninggalkan tanah pekuburan tersebut.


...*********...


PLAKKKK....


tamparan Adnan hinggap telak dipipi Kenzie, membuat pemuda itu terhempas jatuh ke lantai. dengan gemetar, Kenzie berupaya bangkit. Adnan dengan jemari yang terkepal hendak maju menyarangkan lagi sebuah pukulan namun Mariana keburu mencegahnya.


tangisan wanita itu berhasil menurunkan tensi kemarahan Adnan. dengan lesu, pria itu menghempaskan punggungnya disofa diruang keluarga itu. Mariana bergegas ke dapur mengambil sebotol air dari kulkas lalu setengah berlari tiba diruangan keluarga dan menyerahkan botol air itu ke tangan Adnan.


tanpa ragu Adnan membuka tutup botol dan menegakkan botol itu ke mulutnya membiarkan seluruh air dingin itu mendinginkan kerongkongannya yang kering karena amarah yang membuat panas ditubuhnya meningkat.


Kenzie duduk dan menyangga sebelah tangannya dilantai sedang tangan satunya menyeka lelehan darah yang mengalir disudut bibirnya. luka bekas perkelahian yang hampir sembuh, terkoyak lagi. Adnan menatapi putranya dengan tatapan mencorong.


"Sudah berani berbohong kamu ya?" cela pria itu. "Papa juga nggak sempat berpikir alasan kau meminta nomor Ahmad. kalau saja kutahu, tentu tak kuberikan." gerutu pria itu.


Kenzie diam membiarkan ayahnya menggerutu. jangan berani memotong pembicaraan pria itu jika tidak ingin menerima pukulan lebih keras lagi. Mariana sendiri hanya duduk disisi suaminya sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.


"Kenapa kau buat hati kami sakit, nak?" tanya Mariana disela sedu sedannya. Kenzie tetap saja membisu.


"Main gaya-gayaan mau menyelidiki... memangnya kau detektif ha???" bentak Adnan.


"Aku bukan detektif Pa... tapi aku juga nggak mau meliat temanku terjerumus terlalu dalam." balas Kenzie mulai berani menentang tatapan ayahnya.


"Tapi kau liat akibatnya, Tooooo?" bentak Adnan. "Bukan tidak mungkin, jika kau ceroboh atau salah melakukan tindakan, nyawamu yang akan melayang!"


"Saya sudah memahami resiko itu Pa, jauh sebelum Om Ahmad mengingatkan." jawab Kenzie lebih berani.


"Lagi pula bukan saya pelakunya! saya disaksikan Om Ahmad sedang melumpuhkan mereka." ujar Kenzie dengan lantang.


"Ooooo... jadi karena merasa sudah menguasai silat, seenaknya menghambur kesana-kemari memamerkan kehebatanmu?" sindir Adnan lagi lebih tajam.


"Buktinya aku bisa mengalahkan mereka, Pa!" tandas Kenzie lagi.


Adnan berdiri. "Bangun kamu." perintahnya. Mariana yang sudah membaca gelagatnya langsung berupaya mencegah.


"Pa...." panggil Mariana dengan memelas.


"Jangan campuri urusan laki-laki!" tandas Adnan kepada Mariana. kemudian Adnan kembali menatapi Kenzie dengan tajam. "Kau laki-laki, kan?" ejeknya.


Kenzie mendengus lalu bangkit. Adnan terkekeh dengan sinis lalu mengisyaratkan Kenzie untuk mengikutinya. kedua lelaki itu menyeberangi dapur hingga tiba disebuah halaman belakang rumah yang asri.


dihalaman itu keduanya berdiri berhadapan. Adnan tegak menatapi Kenzie.


"Sekarang, kutantang kamu! keluarkan segala kemampuanmu!" perintah Adnan.


"Aku nggak mau melawanmu, Pah...." tolak Kenzie.


"Lakukan, atau kau sendiri yang akan celaka!" selesai berkata, Adnan langsung memasang jurus silatnya yang terlihat aneh dimata Kenzie. pemuda itu sama sekali asing dengan teknik yang digunakan ayahnya.


"Kau nggak mau mati, kan?" pancing Adnan setengah merendahkan.


Kenzie langsung memasang sikap bertarung yang pernah diajarkan Bakri kepadanya. pemuda itu berada dalam pososi bertahan. Adnan mendengus lalu menyerang. Kenzie bersiap menyambut serangan dengan tangkisan. namun ternyata serangan itu hanya tipuan saja.


Tinju Adnan menghantam ulu hati pemuda itu. Kenzie terjajar ke belakang, dan langsung disusul lagi oleh Adnan. untuk menahan laju serangan ayahnya, Kenzie melayangkan sebuah tendangan mengincar perut. namun Adnan dengan sikap maju menangkis dengan sebelah tangannya dan tangan yang lainnya maju membentuk sikut dan menghantam wajah Kenzie.


pemuda itu kembali terjajar ke belakang dan meludahkan darah. tubuhnya agak sempoyongan namun masih berusaha meladeni dengan semangat yang tersisa. Adnan memandangnya dengan sinis.


"Bagus... ku suka semangatmu." puji Adnan. "Tapi dengan sekali serangan sudah ku pastikan kau akan mencium tanah!"

__ADS_1


tiba-tiba Adnan maju hendak melayangkan pukulan namun Mariana langsung menghambur dan memeluk anaknya.


"Sudahlaaaaa...." jerit wanita itu dengan histeris. wajahnya telah basah dengan air mata. ditatapinya wajah Kenzie yang babak belur kemudian dengan geram ia menatapi Adnan.


"Sebelum kau ayunkan tanganmu pada anakku, turunkan saja tanganmu dikepalaku! aku sudah siap bertemu ayahku." ancam Mariana.


"jangan mencampuri urisanku Ana! aku sedang mengajari anakku!" bentak Adnan.


"Masih belum cukup kau mengajarinya? apakah pengajaranmu selesai setelah dia menyusul Burhan? begitukah?!" balas Mariana sambil memeluk Kenzie lalu tersedu-sedu.


Adnan terdiam lama, lalu akhirnya masuk kedalam rumah, meninggalkan dua orang disana sedang berpelukan gdalam irama tangis yang sama.


...*******...


Trias mengajak Bakri menemaninya ketika pihak kepolisian mengundangnya untuk dimintai keterangan sebagai saksi. dua pemuda itu tiba diruang penyidikan dipandu oleh salah satu serse. keduanya duduk dibangku panjang dan melipat tangannya disisi meja. tak lama pintu terbuka san masuklah seorang penyidik yang membawa berkas untuk menuliskan keterangan saksi.


Trias menatapi cermin yang memantulkan wajahnya. dia tahu kalau cermin itu bukan cermin sembarangan. dibalik cermin itu, Ahmad dan sahabatnya, seorang polisi berpangkat Ajun Komisaris Polisi.


"Apakah kamu yang bernama Trias Eliasa Ali?" tanya petugas itu memulai intetogasinya.


"Benar." jawab Trias. penyidik itu menatapi Bakri.


"Saya guru silatnya. saya menemaninya kemari." jawab Bakri.


"Boleh kamu ceritakan urutan peristiwa dalam posisi kamu." kata penyidik itu.


"Malam itu, saya dan Kenzie beserta pacarnya menjejaki korban menuju rumah tempat para pengedar itu. Kenzie menghubungi Om Ahmad untuk memberitahu lokasi. terus Om Ahmad tiba. terus dia pernah kasih saran untuk menunggu tim buser datang. tapi kami tak dengar. kami berdua langsung datangi rumah itu dan mengetoknya." kata Trias.


dari sebelah ruangan, AKP. Marwan Djubu, S.Ip menatapi Ahmad, wartawan itu tersenyum.


"Dia nggak bohong." jawab Ahmad.


diruangan sebelah, penyidik itu terus mendengarkan cerita Trias. "Sementara Kenzie mengetok pintu, saya meninggalkannya untuk memutari rumah, memastikan tidak ada tempat untuk meloloskan diri. tak berapa lama, saya mendengar suara gaduh dan saya bergegas kembali. ternyata saya melihay Kenzie dikeroyok, jadi saya langsung bergabung melibatkan diri dalam perkelahian. tak lama rim buser datang membekuk mereka. awalnya saya dan Kenzie dikira bagian dari kelompok. Om Ahmad datang dan meminta kami berdua dilepaskan."


penyidik itu menarik napas dan memgangguk-angguk. selanjutnya ia mengeluarkan beberapa lembar foto dan menghamparkan di meja.


"Menurut kamu, sebab korban meninggal ini bagaimana?" pancing penyidik iru.


Trias melihat-lihat foto itu lalu menggeleng. ia menatapi Bakri. tanpa diperintah, mahasiswa itu mengambil beberapa lembar foto dan memperhatikannya. setelah itu ia kembali meletakkan foto itu di meja.


"Korban tewas karena tercekik." jawab Bakri sekenanya.


"Dari mana anda tahu?" pancing penyidik itu.


"Dileher korban ada memar. bagian tenggorokan. saya bisa pastikan tenggorokannya bengkak terkena hantaman sendi-sendi jari. akibatnya pita suara pecah dan mendesak batang tenggorok kedalam hingga menjepit saluran pernapasan. korban nggak mampu menarik maupun mengeluarkan napas." jawab Bakri.


"Lalu bagaimana dengan lekukan kedalam yang ada pada tengkorak?" pancing penyidik itu.


"Itu hanya bertujuan untuk menyakiti. rasa sakitnya luar biasa, tapi tidak ditujukan untuk menewaskan lawan." jawab Bakri.


sementara diruang sebelah, Ahmad kembali takjub. "Persis keterangan yang dibuat oleh petugas forensik."


penyidik itu menatapi Bakri. "Menurut anda, siapa yang mampu melakukannya?"


"Seorang yang dilatih untuk membunuh. umumnya pakar beladiri." jawab Bakri.


"Bisa dispesifikasi?" tanya penyidik itu.


"Orang yang punya profesi pengamanan dan pertahanan seperti polisi atau tentara misalnya. atau juga pakar beladiri." jawab Bakri.


tak lama kemudian muncul seorang penyidik lain yang membawa boneka dummy dari kayu. ia kemudian menatapi Bakri. "Bisa anda praktikkan?"


Bakri berdiri menghadap ke boneka dummy. "Menurut saya, korban mungkin melakukan serangan pendahuluan seperti menampar pelaku misalnya." Bakri memaparkan sambil beradegan, "Kemudian pelaku menangkis dan melompat lalu melayangkan cakarnya dan mencengkeram kepala korban."


Bakri memperagakan gerakan tersebut dan mencengkeram kepala dummy iru lalu menghentakkannya. dibalik cermin, Ahmad dan sahabatnya terkejut melihat kepala dummy remuk kedalam bersama lima ruas jari yang dihujamkan.


"Dari sini, korban merasa sakit yang luar biasa sampe nggak mampu mengeluarkan suara. untuk mencegah korban bersuara, pelaku menghantam leher korban seperti ini." kata Bakri memperagakan menghantam lehwr dummy dengan ruas jarinya yang ditekuk hingga leher dummy itu hancur dan kepalanya terpental membentur dinding.

__ADS_1


penyidik itu terpana sesaat menatapi Bakri dan dummy yang sudah buntung iru bergantian. rasa hormatnya muncul dan ia mengangguk-angguk. Trias sendiri kagum dengan kekuatan fisik yang dipamerkan Bakri. []


__ADS_2