Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 171


__ADS_3

kebahagiaan berjalan sesuai dengan qadha dan qadr yang Allah tentukan atas kehidupan manusia. sisi lain dari kebahagiaan adalah kesedihan. keduanya menjadi pelengkap drama kehidupan manusia hingga akhir dari perjalanan mereka didunia.


kedua lelaki itu makin bertambah semangat. Bakri maupun Trias benar-benar merasa bahwa kebahagiaan terus melingkupi mereka. usia kandungan kedua wanita itu mulai menginjak akhir trimester kedua. tinggal tiga bulan lagi, sabg bakal bayi akan lahir ke dunia menyemarakkan kehidupan dua orang itu.


namun siapa yang menyangka bahwa garis takdir yang terbentang menuju arah yang tak diinginkan namun harus mereka jalani untuk menggenapi kehidupan itu sendiri.


Aisyah entah kenapa ingin sekali jalan-jalan pada hari itu. Bakri meminjam mobil milik Chiyome. keduanya mengantarkan Sandiaga ke sekolah. anak itu senang bukan main karena bisa bermain lagi dengan Aisyah.


kendaraan itu tiba di depan masjid An-Nida, kompleks Pesantren Al-Khairaat. Sandiaga turun dan berbalik menatap Aisyah dan Bakri.


"Abi... Umi, Sandi ke sekolah dulu ya?" ujar Sandiaga.


entah kenapa tiba-tiba dua bulir air mata luruh jatuh membasahi pipi Aisyah membuat Sandiaga langsung mengerutkan keningnya.


"Umi kenapa? kok nangis?" tanya Sandiaga. "Kalau Umi keberatan Sandi sekolah, Sandi nggak akan sekolah deh. soal Mama, gampang belakangan diurusi."


Bakri entah kenapa juga menatap Sandiaga dengan tatapan dalam. Sandiaga masih berdiri mematung disitu.


"Sandi... Sandi harus tetap menjaga ibadah, harus patuh pada orang tua dan jangan pernah durhaka. patuh pada guru selama hal itu merupakan sebuah kebaikan." ujar Bakri.


"Ya, pastilah Abi..." ujar Sandiaga.


"Sandi... ini mungkin akan menjadi perjumpaan kita yang terakhir kali... jadi, Umi dan Abi berharap, Sandi bisa menjaga keluarga ya?" pesan Bakri dengan suara yang ditekan.


"Kok, Abi bicara begitu? memang mau pergi kemana?" tanya Sandiaga dengan polos.


"Kami...." Bakri menatap Aisyah sejenak lalu menatap Sandiaga dan memberikan senyuman paling teduh. "Kami akan pergi jauh, Sandi..."


"Wah, Abi sama Umi curang. pergi nggak mau ngajak-ngajak. mau pesiar ke Poso ya?" tanya Sandiaga.


Bakri hanya memamerkan senyum saja sedang Aisyah mulai banyak mengalirkan air mata. Sandiaga menghela napas.


"Abi sama Umi sudah pamitan sama Mama dan Papa perihal pergi ke Poso?" tanya Sandiaga.


sekali lagi keduanya hanya memperlihatkan senyum saja. Sandiaga mengangkat bahu. "Ya sudah... Sandi ke sekolah dulu ya?"


"Sandi..." panggil Aisyah.


Sandi urung melangkah dan kembali berbalik menghadap kepada Aisyah dan Bakri. "Kenapa Umi?" tanya Sandiaga dengan lembut.


"Bolehkah.... Umi memeluk Sandi, sekali ini saja?" pinta Aisyah dengan suara gemetar.


Sandiaga sekali lagi mengerutkan kening. namun sekali lagi anak itu menyingkirkan lagi perasaan ganjil yang menyelimuti otaknya. anak itu maju lalu memeluk Aisyah sedang jilbaber itu mengetatkan pelukannya sambil menangis.


"Umi, nggak usah nangis dong." tegur Sandiaga. "Kalau Sandi punya salah, Sandi minta maaf deh."


"Nggak. Sandi nggak punya salah..." kata Aisyah masih ditengah isakannya. "Umi hanya ingin memeluk saja... biarkan Umi memuaskan diri memeluk kamu, nak." kembali jilbaber itu memeluk Sandiaga dengan erat sambil menangis. Sandiaga membiarkan saja. namun pikiran ganjil mulai bermain-main di otaknya. sementara itu ia menatap pula ke arah Bakri. tatapan lelaki itu sangat lain dari biasanya. terlihat sendu seakan berat untuk berpisah.


akhirnya, Aisyah melepaskan pelukannya. tanpa menoleh lagi, jilbaber itu kembali kedalam mobil dan Bakri kemudian menghidupkan kembali mesinnya. kendaraan itu melaju meninggalkan Sandiaga yang masih terdiam disisi jalan. anak itu baru sadar setelah kendaraan yang ditumpangi Bakri dan Aisyah sudah menjauh sekitar sekilo meter.


"Abi sama Umi aneh sekali hari ini." gumam Sandiaga lalu berbalik melangkah memasuki pekarangan Masjid An-Nida.


...*******...


kendaraan yang ditumpangi Aisyah dan Bakri bergerak menyusuri jalan Sultan Botutihe, terus ke barat. Aisyah menatap Bakri.


"Kita kemana sayang?" tanya Aisyah.


"Kita mencoba menu baru... kira-kira enaknya kita sarapan apa ya?" tanya Bakri.


"Uhmmm.... bagaimana kalau kita coba rasa makanan di Grenade?" usul Aisyah.


"Di Kompleks Mall?" tebak Bakri.


Aisyah mengangguk-angguk dengan senyum. Bakri tersenyum. "Ayo..." ajaknya.


kendaraan itu melaju dengan wajar menyusuri jalanan protokol hingga bersua dengan perempatan jalan bertraffic light. ketika lampu hijau menyala, Bakri membelokkan mobil ke kanan menyusuri jalan Medi Botutihe dan masuk ke komplek Mall Gorontalo lewat pintu timur. mobil berhenti sejenak didepan palang dan Bakri melongokkan tubuhnya menjulurkan tangan memasukkan kartu parkir ke mesin dan palang itu terangkat. kendaraan itu masuk dan mengambil tempat parkir diujung.


Bakri dan Aisyah keluar dari mobil dan melenggang menuju restoran Grenade. disana restoran merangkap kafe yang menjual menu daging, mie dan minuman dingin. keduanya masuk dan mengambil tempat.


Bakri memesan Hot plate mie sapi, Sop Buntut, dan Ketoprak. Aisyah tertawa.


"Sayang.... tumben kamu mesannya banyak." olok Aisyah.


"Kita nggak akan makan ini lagi setelahnya." jawab Bakri dengan santai.


"Benar juga ya? kalau begitu kita puaskan saja diri kita ya? anggap saja ini sarapan kita yang terakhir." sambut Aisyah.


"Memang yang terakhir, Sayang." sahut Bakri.

__ADS_1


Aisyah tertawa lagi dan mengangguk-angguk. ia memesan Nasi seafood Cumi Asam manis, dan minuman sirup es teler. setelah itu keduanya tertawa-tawa. Bakri menggenggam tangan Aisyah.


"Sayang.... aku mencintaimu." ujar Bakri dengan lirih.


"Aku juga mencintaimu." balas Aisyah dengan mesra.


"Jika ini memang takdir terakhir kita. kita akan mengenangnya dengan penuh senyuman." ujar Bakri.


tak lama kemudian, pesanan kedua laki-istri itu tiba. Bakri mengangkat gelas sirup alpukat. "Demi hidup yang lebih baik."


"Demi Hidup yang lebih baik." balas Aisyah mengangkat gelas berisi es telernya. keduanya bersulang lalu minum seteguk.


setelah itu keduanya asyik menyantap makanan tanpa adanya pembicaraan diantara mereka. tanpa mereka sadari dua orang lelaki memperhatikan dua laki-istri tersebut. Aisyah dan Bakri tetap pada kegiatannya hingga mereka menyelesaikannya.


Bakri mengambil dompet dan menghitung jumlah harga pesanan lalu meletakkan dua lembar uang lima puluh ribuan di meja tersebut dan bangkit diikuti Aisyah. keduanya melenggang keluar.


"Aahhhh.... enaknya sarapan tadi ya, Sayang?" ujar Aisyah.


"Tentu saja." jawab Bakri dengan senyum dan menggandeng Aisyah. keduanya melangkah santai menuju mobil.


"Selanjutnya kita kemana ya?" tanya Aisyah.


"Pokoknya kita menghabiskan waktu kita hari ini hanya berdua saja." ujar Bakri.


Aisyah tertawa. "Oke deh..."


keduanya masuk kedalam mobil. baru saja Bakri hendak menghidupkan mobil, tiba-tiba dua orang laki-laki itu menyeruak dari jok belakang dan membekap dua laki-istri itu dengan sapu tangan yang dibubuhi Chloroform. Bakri dan Aisyah pada mulanya meronta. namun rontaan mereka makin lama makin lemah hingga keduanya tergeletak pingsan.


dengan sigap, dua orang lelaki itu membuka pintu dan menyeret keduanya keluar, memindahkan mereka ke jok belakang. setelah itu kedua laki-laki itu duduk didepan dan salah satunya menghidupkan mesin mobil. satunya kemufian mengeluarkan gawai dan mulai menghubungi seseorang.


📱"Bos... kerja sukses... paket akan segera dikirimkan ke tempat yang disepakati." ujar lelaki tersebut.


📱"Bagus... cepatlah... aku sudah tidak sabar." ujar lelaki diseberang.


orang itu memutuskan sambungan seluler dan menatap temannya. partnernya itu mengangguk lalu mulai menjalankan mobil dan kendaraan itu bergerak meninggalkan komplek Mall Gorontalo.


...*******...


entah kenapa siang itu Chiyome gelisah. benaknya memikirkan Bakri dan Aisyah yang sejak tadi belum kembali. jam telah menunjukkan pukul 11.35 siang. Sandiaga belum pulang. mungkin menunggu jemputan. namun tak biasanya mereka lambat menjemput putranya.


karena tidak tenang, Chiyome kemudian menghubungi pihak sekolah.


📱"Halo? Assalamualaikum..." sapa Chiyome.


📱"Ehm... Anak saya belum pulang ya pak? apakah kelas tiga punya program baru?" tanya Chiyome.


📞"Ooo... anak-anak kelas satu sampai tiga sudah pulang, Bu... kira-kira nama anaknya siapa ya?" tanya Pak Alex.


📱"Ooo... Anak saya namanya Sandiaga Hermawan Lasantu..." jawab Chiyome.


terdengar suara tawa diseberang.


📞"Ooo si jenius sinting itu? dia sekarang di masjid, kumpul dengan salah satu ustadz yang sedang mengadakan kajian untuk anak-anak Aliyah..." jawab Pak Alex.


📱"Apakah kakak saya belum menjemputnya?" tanya Chiyome. perasaan cemasnya muncul namun sebisanya ditahannya.


📞"Kayaknya tidak." jawab lelaki itu, "Sampai saat ini belum ada jemputan. sebaiknya Ibu segera jemput anak Ibu, sebab penculikan anak sekarang lagi marak." ujar piket tersebut.


📱"Baik Pak. Makasih..." jawab Chiyome.


📞"Sama-sama bu..." jawab Piket hari itu dan keduanya memutuskan pembicaraan seluler.


Chiyome kembali mondar-mandir. akhirnya ia memutuskan menghubungi suaminya.


📱"Assalamualaikum Wiffy... kenapa?" tanya Kenzie yang saat itu sibuk memindahkan arsip dari mejanya. disana nampak pula Dewinta Basumbul sang sekretaris. penampilannya sangat anggun, cocok membawakan perannya sebagai sekretaris umum Buana Asparaga.Tbk.


📱"Hubby... Saburo belum pulang." kata Chiyome memberitahu suaminya.


📱"Mungkin masih menunggu Kak Bakri dan Kak Ais yang datang menjemputnya. biasanya kan mereka yang antar jemput Saburo." kata Kenzie masih dengan santai.


📱"Tapi nggak biasanya begini." kata Chiyome. "Aku akan menjemput Saburo."


📱"Iya, hati-hati mengendara." pesan Kenzie.


📱"Aku nggak bawa Hubby... mobilku dipakai mereka berdua. aku mau nyewa ojol." kata Chiyome.


📱"Ya sudah... Saburo dijemput dulu. nanti aku pulang, baru kita bicara." kata Kenzie kemudian menutup pembicaraan seluler.


Chiyome sendiri langsung bergegas menuruni tangga teras dan setengah berlari ke jalanan. ia menyetop sebuah bentor yang melintas.

__ADS_1


"Ke Al-Khairaat, Bang!" ujarnya.


lelaki pembawa Bentor itu mengangguk. Chiyome langsung naik dan duduk dijok. kendaraan lokal beroda tiga itu kemudian melaju menyusuri jalan Aloe Saboe ke selatan. Bentor itu kemudian berhenti didepan masjid An-Nida, Kompleks Pondok Pesantren Al-Khairaat.


"Bang, tunggu sebentar ya? saya mau jemput anak saya. lalu, kita balik lagi ke rumah tadi." kata Chiyome.


abang bentor itu mengangguk lagi. Chiyome bergegas memasuki pekarangan masjid An-Nida dan mendapati Sandiaga duduk dipojokan mendengarkan materi pengkajian yang diadakan seorang ustadz untuk anak-anak Aliyah. ketika melihat Ibunya di pekarangan masjid, Sandiaga sontak berdiri dan menyisip keluar tanpa mengganggu barisan santri Madrasah Aliyah yang sedang mendengarkan materi pengkajian tersebut. anak itu menuruni tangga beranda masjid.


"Mama? kok disini? Abi sama Umi mana?" tanya Sandiaga.


"Mama mau jemput kamu. ayo." ajak Chiyome.


Sandiaga mengangkat bahu lalu melangkah menyusul Chiyome yang sudah didepan bentor itu lagi.


"Bang, balik ke rumah tadi ya?" pinta Chiyome.


abang bentor itu mengangguk lalu menunggu Sandiaga naik masuk kedalam bentor dan kendaraan itu memutar dan melaju kembali ke arah utara.


sepanjang perjalanan Sandiaga bercerita. "Mama... aku heran dengan kelakuan Abi dan Umi tadi pagi."


"Memangnya ada apa dengan Abi dan Umimu?" tanya Chiyome dengan hati berdebar.


"Sewaktu melepas aku ke sekolah, Abi nggak biasanya begitu. tiba-tiba dia nasihati aku untuk berbuat baik, patuh sama Mama, Papa dan guru... pokoknya banyak nasihatnya."


wajah Chiyome menjadi pias. Sandiaga meneruskan ceritanya.


"Umi juga tiba-tiba memelukku erat benar. kukira, aku punya salah sama mereka. Umi hanya bilang ingin memelukku. Abi sendiri bilang bahwa ini perjumpaan kami yang terakhir." ujar Sandiaga.


Chiyome terkesiap. dia langsung meraih gawainya dan kembali menghubungi Kenzie.


📱"Assalamualaikum... kenapa Wiffy?" tanya Kenzie.


📱"Aku sudah menjemput Saburo. Hubby... coba hubungi Kak Bakri dan Kak Ais." pinta Chiyome.


📱"Sudah kuhubungi tadi. tapi aneh, telepon mereka nggak aktif. nggak biasanya, Kak Bakri sama Kak Ais mematikan telponnya bersamaan." ujar Kenzie.


📱"Hubby....." ujar Chiyome tercekat.


Kenzie paham apa yang sekarang berada dibenak istrinya. lelaki itu mendehem.


📱"Wiffy, Wiffy... Hubby harap Wiffy tenang dulu. Hubby akan segera balik. okey? tunggu Hubby di rumah sayang." kata Kenzie.


📱"Aku tunggu..." ujar Chiyome.


hubungan seluler terputus. di kantor, Kenzie bangkit dan melangkah mondar-mandir. jemarinya kemudian mengetik nomor dan lelaki itu kembali menghubungi seseorang


Kali ini.... Trias...


📱"Assalamualaikum... Kenapa Ken?" tanya Trias.


📱"Kamu dimana posisinya sekarang?" tanya Kenzie balik.


📱"Aku dirumah... temani Ipah." jawab Trias.


📱"Aku tunggu kamu dirumahku, sekarang juga. ini penting!" pinta Kenzie dengan tegas.


📱"Okey, aku segera kesana." jawab Trias.


...********...


BYURRRRR..... HUAAAAAHHHH....


Bakri gelagapan bangun ketika dirasakannya sembiran air mengenai wajahnya. lelaki itu hendak bangkit namun keterbatasan gerak membuatnya menyadari bahwa dirinya dalam keadaan terikat disebuah kursi plastik. lelaki itu mengamati suasana disekitaran.


ini... kayaknya seperti gudang penyimpanan barang... tapi dimana ini ya???


ditengah kebingungannya, ia menatap Aisyah yang terikat berdiri setengah menggantung. Bakri berupaya meronta namun tenyata belitan lakban itu lebih kuat membetot lengannya.


terdengat suara tawa nyaring dan berat. Bakri menatap ke kegelapan gudang tersebut. terdengar langkah sepatu pantoufel mendekat. dan nampaklah seorang lelaki yang sangat ia kenal. Bakri tak akan melupakan wajah itu.


"Stefan..." gumamnya dengan geram.


"Selamat datang ditempat penguburan kalian." sapa lelaki itu kemudian tertawa.


"Kau ternyata tak pernah kapok berbuat kezaliman seperti ini?" hardik Bakri.


lelaki itu memang Stefan. ia berhasil mencari persembunyian sejak lalu dikejar dan diburu polisi atas kasus kekerasan rumah tangga.


"Aku tak akan berhenti, sebelum kalian berdua mampus!!" umpat Stefan kemudian meludah.

__ADS_1


"Stefan... lepaskan kami... kami janji akan membersihkan namamu." pinta Bakri dengan putus asa.


"Oooo.... nggak semudah itu, Bakri..." olok Stefan dengan senyum nakal dan mendekati Aisyah yang tergantung. "Aku masih ingin bersenang-senang dengan istrimu." ujarnya kemudian memeluk jilbaber yang pingsan itu dan membelai pinggangnya yang berisi. []


__ADS_2