
"Stefaan!!!" hardik Bakri kembali meronta-ronta. "Jangan sekali-kali kau berani menyentuh istriku! kupastikan kau akan menyesal!!" ancam lelaki itu. urat-urat dilehernya terlihat mengencang. matanya mencorong bagaikan mata macan.
Stefan tertawa, "Bakri, Bakri... nggak ada gunanya kau teriak-teriak... nggak ada siapa-siapa disini. kau hanya membuat telingaku sakit saja." ejeknya sambil terus membelai-belai pinggang Aisyah, bahkan kurang ajarnya, tangan itu kemudian bergerak turun membelai pantat Aisyah kemudian meremasnya dengan pelan.
"Stefaaan!!!" hardik Bakri kembali. "Sumpah demi Allah, kau berani menyentuhnya, kupastikan kau akan menyesali dirimu terlahir ke dunia!!!"
Stefan mendesis, "Ssssshhh.... diamlah Bakri." ujarnya dengan lirih. "Kamu tahu, mengapa aku masih tak bisa melepaskan Ais?" pancingnya dengan sorot tatap nakal. Stefan melepaskan rabaannya dan melangkah mendekati Bakri. ia menarik sebuah kursi dan duduk dihadapan Bakri yang semantara duduk terikat.
"Aku... masih sangat mencintai... tubuhnya, Bakri." ujar Stefan dengan tatapan memicing. kemudian dia mendesis lagi dan mendecap-decap. "Tubuhnya sangat menggairahkan bukan? aku pernah merasainya Bakri. nikmat dan nggak ada loyonya... aku benar, kan?"
Bakri hanya diam mendengarkan komentar-komentar Stefan yang mengeksploitasi gambaran-gambaran mesum tentang tubuh Aisyah. namun, tatapan lelaki itu merah membara seakan ia hendak menerkam dan memangsa Stefan jika saja bisa melepaskan diri dari ikatan tersebut.
"Semakin kulihat tubuh hamilnya, aku malah semakin bergairah Bakri." olok Stefan kemudian bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Bakri. "Boleh nggak aku menikmatinya? boleh kan? boleh kan?"
tiba-tiba Bakri memuncratkan ludahnya menyemproti wajah Stefan. lelaki itu sempat kaget tak sempat menghindar. wajahnya belepotan ludah yang disemprotkan Bakri dengan tatapan jijik. lelaki itu berdiri tegak dan mengangguk-anggguk. ia tersenyum sambil mengambil sebuah lenso dari saku celananya.
"Kau meludahiku Bakri... okey, nggak apa-apa... tapi aku akan menagihnya pada Aisyah." ujarnya dan tiba-tiba mengarahkan tendangan menyapu wajah Bakri.
tubuh lelaki itu terbanting dilantai dalam posisi terikat dikursi. dengan gahar dan geram, Stefan menginjak-nginjak dan menendang tubuh Bakri. lelaki itu hanya pasrah tak bisa berbuat apa-apa. diagfrahmanya luka membuat Bakri menyemburkan darah segar. Stefan yang ngos-ngosan menumpahkan amarahnya berdiri bercakak pinggang.
"Ah, Bakri... kau membuatku kesal saja." omel Stefan. "Kau akan merasakan perbuatanmu padaku!"
Stefan bergerak kembali mendekati Aisyah. ia meraih pisau lipat dalam saku dan mengiris putus tali yang membuat jilbaber itu menggantung. diiringi teriakan-teriakan Bakri yang menyumpahinya, Stefan melangkah tak perduli, memondong tubuh hamil Aisyah menuju ke sebuah kamar.
...******...
Trias duduk melipat tangannya didada, sementara Kenzie mondar-mandir diruang keluarga itu. Chiyome hanya bisa memeluk Sandiaga dengan wajah cemas. Sandiaga hanya bisa menangis membayangkan kedua orang tua asuhnya yang kini dalam penyekapan dan posisinya saat ini belum diketahui.
"Jam berapa menurutmu, Kak Bakri dan Kak Aisyah menghilang?" tanya Trias.
"Menurut keterangan Saburo, bisa dipastikan mulai dari jam tujuh itu." jawab Kenzie. ia kemudian berhenti dan memandang Trias. "Lagipula, ini sangat mencurigakan. mengapa gawai kedua-duanya nggak aktif?!"
Trias manggut-manggut. "Ini benar-benar kabur... masalahnya setelah mengantar Sandiaga ke sekolah, keberadaan mereka kemudian menjadi tidak jelas, karena masing-masing menon-aktifkan gawainya."
"Apa kau bisa melacak mereka?" tanya Kenzie.
"Ada dua kemungkinan." ujar Trias.
"Apa itu?" tanya Kenzie.
"Jika mereka ke timur, pasti mereka mengunjungi Om Adnan sama Tante Mariana...." ujar Trias kemudian memandang Kenzie. "Coba, hubungi mereka. tanya apakah keduanya menjenguk beliau berdua?"
Kenzie mengangguk lalu mengambil gawainya dan melakukan panggilan.
"Jangan bilang kalau Kak Bakri dan Kak Ais hilang." pesan Trias.
Kenzie mengangguk bersamaan dengan panggilannya yang direspon.
📱"Halo Assalamualaikum nak." sapa Adnan.
📱"Wa alaikum salam.... Pa... apa Kak Ais ada dirumah sana?" tanya Kenzie.
📱"Nggak... Ais belum kesini... kenapa Ken?" tanya Adnan.
📱"Nggak... soalnya..." ujar Kenzie.
📱"Ken, jangan bikin Papa kuatir. bilang ada apa?" desak Adnan.
📱"Nggak ada apa-apa... ya sudah, Ken tutup dulu ya Pa..." ujar Kenzie.
📱"Ken...." panggil Adnan.
__ADS_1
terlambat. Kenzie sudah memutuskan sambungan seluler. Kenzie kemudian menatap Trias.
"Sekarang bagaimana? aku nggak mau menghadapi kemarahan Papa. kau tahu, kan Papa kalau marah gimana?" ujar Kenzie.
Trias bangkit. "Aku akan mulai melacaknya sekarang. berarti mobil yang dikendarai Kak Bakri sama Kak Ais nggak menuju ke timur, tapi ke barat, ke arah pusat kota dan sekitarnya." ujarnya kemudian melangkah, namun sekali lagi, langkahnya terhenti dan Trias menatap Chiyome.
"Apakah ketika pergi, mereka sudah sarapan pagi?" tanya Trias.
Chiyome menggeleng, "Setahuku nggak."
Trias mengangguk. "Berarti mereka dalam posisi mencari tempat untuk sarapan. kita akan menyisir semua resto, kafe ataupun warteg untuk melacak keberadaannya."
polisi itu kemudian pamit melangkah meninggalkan ruangan keluarga. kini tinggal ketiga anggota keluarga Lasantu itu. Sandiaga menatap ayahnya.
"Papa... Abi akan kita temukan, kan?" tanya Sandiaga.
Kenzie menatap putranya. sangat jelas wajah itu terlihat cemas dan matanya sudah berkaca-kaca. Kenzie memamerkan senyum untuk menepis kegundahan anaknya.
"Kita akan menemukannya, Nak. kau lihat tadi? Abah Trias janji akan melacak keberadaan Abi dan Umi. Kamu sekarang lakukan kewajibanmu kepada mereka, yaitu berdoa, agar mereka lekas ditemukan."
Kenzie menatap Chiyome dan semakin trenyuh dia melihat sang istri sempat meluruhkan dua titik air matanya. lelaki bercambang tipis itu mendekati istrinya dan langsung memeluknya sekalian memeluk Sandiaga.
"Kita akan menemukan mereka.... kita akan menemukan mereka." ujarnya menguatkan hati kedua anggota keluarganya.
...******...
disebuah ruangan, Stefan meletakkan Aisyah. lelaki itu tersenyum penuh gairah. tubuh jilbaber hamil itu dibaringkannya disebuah balai-balai kayu yang masih kuat. dan dengan benak yang sudah dipenuhi nafsu birahi, Stefan mulai menggerayangi sekalian melepaskan pakaiannya.
Aisyah tersadar merasakan dirinya yang sedang digerayangi. wanita itu menoleh dan terkejut menyadari si lelaki bukanlah suami sahnya. dengan refleks kakinya terangkat menendang Stefan.
BUKKK.... UGH...
"Hai, Ais... kita ketemu lagi." sapa Stefan dengan nafsu yang ditahan-tahan.
Aisyah menatap jijik kearah lelaki itu. "Mengapa aku disini?! mana suamiku?!" seru Aisyah dengan wajah mengeras.
Stefan tertawa. "Suamimu, sekarang sedang diluar. dia merelakanku untuk menjamahmu.... oooh... Ais... kemarikan dirimu, aku sudah tak tahan..." lelaki itu mendekat.
"Berhenti ditempatmu, bejat!" hardik Aisyah.
Stefan naik ke balai-balai sambil menyeringai. "Aku nggak akan berhenti sebelum ku kuasai dirimu!" ujarnya langsung menerkam Aisyah. refleks Aisyah meronta sambil berteriak-teriak keras berupaya memancing keributan.
Stefan yang gemas langsung mencengkeram dagu jilbaber itu dan menamparnya berkali-kali. sementara diluar, kembali terdengar raungan kemarahan Bakri yang tak berdaya, meski meronta beberapa kali. ia hanya bisa melampiaskan emosi tanpa bisa melepaskannya merasai pagar ayunya sementara terancam oleh si pemerkosa.
Aisyah menggeletak lemah dan nafsu syaitaniah Stefan kembali menggelegak. lelaki itu menyibak bagian bawah khimar wanita itu sekalian ia menyibakkan bagian pinggir cawatnya mengeluarkan lingga keperkasaannya yang semenjak tadi telah menegang. tubuh jilbaber hamil itu dibuatnya menungging.
dan sekali lagi, Aisyah menjerit dan meluruhkan airmatanya, menangis sekencang mungkin ketika Stefan dengan dengan beringas menancapkan senjatanya kedalam bagian genital Aisyah dan mulai memperkosanya diiringi teriakan kemarahan Bakri yang menggema diseantero ruangan gudang itu.
...*****...
Trias langsung mengontak teman-temannya di kelompok Pasopati. mereka berjanji bertemu di Rumah Makan Li Mami dijalan Sultan Botutihe, beberapa meter dari pertigaan kawasan Bakia. Trias mengendarai Maung miliknya melaju menyusuri jalan Aloe Saboe melewati kompleks pasar tradisional Mo'odu. mobil gaya militer itu kemudian membelok ke kanan, ke arah barat menuju pusat kota.
hanya dalam waktu sepersekian menit, Trias melajukan kendaraannya dan mobil itu tiba ditempat rendezvous. Trias membuka pintu mobilnya dan mendapati mobil milik Bambang telah terparkir disana, begitu juga dua unit sepeda motor milik Andy Kratos dan Stephen, juga sudah terparkir disana.
Trias memasuki rumah makan prasmanan itu dan mendapati kawanan Pasopati duduk disalah satu tempat. meja mereka telah penuh dengan hidangan.
Bambang melambaikan tangannya dan Trias melangkah mendekati partner kerjanya.
"Makan dulu." ajak Bambang sambil memberi Trias tempat duduk.
lelaki kekar itu kemudian duduk disisi Bambang dan mencomot gorengan udang kemudian memakannya. sementara Andy Kratos sudah sejak tadi makan dengan lahap menghabiskan separuh isi prasmanan yang terhidang dipiring-piring sajian.
__ADS_1
"Ada proyek untuk kita." ujar Trias kembali mencomot bakwan sayur dan memakannya.
Bambang melambaikan tangan ke arah pelayan memintanya membuatkan air kopi untuk Trias. lelaki itu menatap partnernya.
"Proyek apa? menantang nggak?" tanya Bambang.
"Sangat menantang." ujar Trias.
beberapa anggota Pasopati menghentikan kegiatan makan malam mereka dan menyimak penjelasan Trias.
"Salah satu kerabatku, dan suaminya, guru silatku diduga mengalami penculikan. sekarang keberadaan mereka sulit dilacak. jadi, tugas kita adalah menyisir semua warteg yang ada di kota ini untuk menemukan langkah awal kita." ujar Trias menatap satu-persatu teman-temannya.
"Kenapa harus menyisiri restoran dan warteg segala?" tanya Stephen.
"Menurut kerabatku, terduga korban penculikan sementara sarapan pagi disalah satu resto, kafe atau warteg sebelum mengalami penculikan." jawab Trias.
"Uhm... kami paham." ujar Bambang. "Sekarang kita bagi tugas." Bambang menatapi teman-temannya. "Riko sama Aldi ikut Trias sementara Andy sama Stephen denganku. kau Trias, susuri semua tempat makan dibagian kota tengah dan utara, sementara aku dan teman-teman lain akan menyisiro wilayah selatan, barat dan timur."
Trias mengangguk. "Kalau begitu kita bergerak sekarang." lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan mencari gambar Aisyah dan Bakri lalu mengirimkannya ke masing-masing gawai mereka. "Itu terduga korban penculikannya."
Bambang bangkit melangkah menuju kasir hendak membayar. "Berapa semuanya?" tanya lelaki itu.
"Delapan puluh ribu, Komdan..." jawab kasir.
Bambang mengangguk lalu merogoh dompet mengeluarkan selembaran uang seratus ribuan dan menyerahkannya ke kasir. sementara kasir mengucek-ucek rak mencari uang kembalian, Bambang memperlihatkan foto Aisyah dan Bakri pada ponselnya kepada kasir dan pelayan.
"Kalian melihat dua orang ini? apa mereka mampir ke rumah makan ini?" tanya Bambang.
Kasir itu menatap sejenak potret dalam handphone itu, lalu menggeleng dengan pasti. Bambang mengangguk dan menerima uang kembalian lalu melangkah kembali menuju tempat para Pasopati berkumpul.
"Korban nggak memesan makanan disini." jawab Bambang menatap Trias. "Baik, kita bergerak sekarang. tugas sudah kita bagi bersama, kan?"
semua anggota Pasopati langsung bangkit. bahkan Andy Kratos yang terkenal pelahap seluruh hidangan prasmanan gratis itu juga langsung berdiri. mereka keluar dari rumah makan itu dan langsung berpencar melaksanakan tugas. pelayan yang membawa kopi milik Trias tiba disana namun terlambat. lelaki muda itu menggelengkan kepala.
"Ahhh.... dasar polisi.... habis pesan nggak diminum." gerutunya sejenak lalu menatap kopi itu dan tersenyum. "Kuminum saja ahhh..." ujarnya sambil duduk ditempat yang tadi diduduki para Pasopati. ia menikmati minuman itu dan sesekali mencomot sisa hidangan yang terhampar dimeja sebelum akhirnya dibereskannya.
...******...
Stefan menggeram senang ketika menumpahkan semua hasrat terpendamnya kedalam tubuh Aisyah. ia melakukannya selama tiga kali putaran dan setiap kalinya ia menumpahkan saripatinya kedalam liang garba jilbaber hamil itu. Stefan mencabut miliknya dan kembali menyarungkannya dalam cawat itu sementara Aisyah hanya bisa memperdengarkan tangis dan isakannya karena telah dinodai lagi oleh bekas suaminya tersebut.
"Ahhhh.... Ais... akhirnya kesampaian juga niatku mengawini kamu lagi... nikmat sekali." ujarnya dengan senyum puas, "Terima kasih ya? Istri pelacurku..." oloknya dengan dibarengi tawa kepuasan.
"Aku melaknatmu! laknat Allah atasmu Stefan!" jerit Aisyah dengan tatapan marahnya.
"Berteriaklah sesukamu." ujar Stefan. "Yang penting bagiku, segala hasrat ini sudah terselesaikan... waahhhh... Ais... ternyata kau tetap seperti yang dulu ya? milikmu itu mantap benar meskipun kau sedang bunting sekarang... nggak ada matinya... nyemprot melulu..." ujar Stefan mengucapkan kata-kata vulgar untuk memuaskan fantasinya.
Aisyah menatap jijik kepada lelaki bekas suaminya itu. Stefan tersenyum puas melihat beberapa titik air miliknya merembes keluar dari garba persenggamaan jilbaber tersebut dan membasahi balai-balai kayu itu. lelaki itu mengenakan kembali celana panjangnya dan melangkah sambil terkekeh meninggalkan ruangan.
ia mendapati Bakri yang masih sementara terguling bersama kursi yang mengikat tubuhnya. Stefan mendekatinya lalu jongkok didepan Bakri.
"Waahhh.... Bakri... ternyata ingatanku tentang istri kita berdua itu memang benar... tubuh Ais sangat menggairahkan Bakri... aku saja melakukannya sampai tiga kali putaran dan kami berdua kelojotan bersama..." setelah itu Stefan tertawa.
"Hentikan bacot laknatmu itu!" hardik Bakri. "Demi Allah, saat ku lepas dari sini, aku akan mengulitimu hidup-hidup. aku pastikan hal itu padamu!!!"
Stefan kembali tertawa. "Nggak apa-apa... toh sebelumnya aku masih tetap memuaskan diriku dengan tubuh istrimu." Stefan bangkit lalu menatap Bakro yang terguling dilantai.
"Aku pergi dulu.... subuh nanti aku kembali untuk mengawini Ais... nggak apa-apa kan kita berbagi? dia juga dulunya, istriku, kan?" ejek Stefan setelah itu lelaki tersebut melangkah meninggalkan Bakri yang terus menyumpahinya.
Stefan melangkah tak perduli. tubuhnya mengihlang ditumpukan-tumpukan kotak-kotak kayu besar yang saling bertumpuk membentuk dinding.
Bakri meraung penuh kemarahan membiarkan suaranya yang dipenuhi amarah menggema di seantero dinding ruangan itu. malam semakin larut dan mulai beranjak subuh.[]
__ADS_1