
Dalam beberapa hari itu, Trias selalu mendatangi pusara Inayah Azura. namun ketika ia berupaya menemui gadis itu dialamnya, kemampuan Trias tak lagi bisa menjangkaunya. beberapa kali dalam duduk sikap padmanya (duduk bersila), pemuda itu memusatkan konsentrasi seperti yang sudah-sudah. namun usaha itu tetap saja sia-sia. pemuda itu bahkan hampir stress.
"Mimi.... apa Mimi sudah bosan ketemu Pipi? Pipi rindu Mi... tidak kasihankah Mimi pada Pipi?" ujar Trias dengan lirih dan kecewa. pemuda itu menangkupkan telapak tangannya ke wajah. tanpa sadar ia terisak-isak. "Pipi masih belum bisa move on Mi.... masih terus terkenang Mimi... tolong Mi.... sekali ini saja... Pipi mau ketemu..." Trias kembali terisak-isak sambil menyapu rambutnya ke belakang.
tanpa disadarinya, Syarifah telah berada disisi pemuda itu. gadis itu melihat sebuah kenyataan, ternyata Trias yang begitu garang disekolahnya, sanggup mempermalukan siapapun, bahkan guru sekalipun. seorang orator yang mampu menyulut semangat para siswa untuk melakukan reformasi akhlak, ternyata juga memiliki kerapuhan sebagaimana makhluk normal lainnya.
Syarifah kemudian duduk bersimpuh. Trias sempat kaget dengan keberadaan gadis itu lalu buru-buru memalingkan wajahnya kearah lain, menyusut air matanya lalu kembali menatapi pusara istrinya.
Trias merasa malu, kerapuhannya sebagai seorang suami yang ditinggalkan seorang istri, terkuak jelas dimata gadis itu. pemuda itu menunduk.
"Maaf... aku terhanyut nuansa rinduku. seharusnya kamu nggak melihatnya. " ujar Trias yang sudah mampu menenangkan dirinya sendiri, tanpa menatap Syarifah. ia tetap memandangi pusara Inayah Azura.
"Aku paham.... kau tak perlu sungkan mengeluarkan emosimu. secara pribadi, akupun akan berlaku sama jika aku berada dalam posisimu saat ini." jawab Syarifah menunjukkan empatinya.
"Terima kasih... kau sudah memahami perasaanku." timpal Trias.
keduanya kembali menatapi pusara Inayah Azura Gobel. Trias sejenak menyapu tanah makam itu dengan jemari kekarnya. Syarifah tanpa sadar, entah dikarenakan empatinya, atau hal lain, mengulurkan tangannya menyapu pundak pemuda itu. tanp sadar, Trias juga mengulurkan tangan memegang tangan Syarifah yang menyapu pundaknya.
"Kau takkan bisa lagi menemuinya.... itu terakhir kalinya... aku.. minta maaf.." jawab Syarifah dengan penuh sesal.
Trias tersenyum. "Iyun beberapa kali menegurku tentang itu. ketegaranku saja yang terus mendorongku untuk tetap menyambanginya." pemuda itu kemudian menatapi Syarifah. gadis itu juga menatapnya. "Tapi, setelah aku merenung beberapa hari yang lalu, aku menyadari bahwa kau tidak memiliki kesalahan apapun terhadapku. kau telah menjalankan kewajbanmu sebagai sesama manusia. jika kau tak menarikku secara kasar keluar dari alam itu, mungkin... saat itu, aku memang sudah melepaskan nyawaku..."
Syarifah tersenyum lalu menunduk. "Alhamdulillah... kau sudah menyadari kesalahanmu."
Trias mengangguk-angguk lalu kembali menatapi pusara Inayah. pemuda itu menarik napas.
"Sebagaimana dirimu yang telah mendengar wasiatnya sebelum meninggalkan barzakh. sebenarnya jauh-jauh hari dalam pertemuan kami berdua, ia selalu menyinggungmu. hanya saja tak menyebutkan namamu. ia memintaku mencarimu. tapi aku tak mengindahkannya. aku masih sangat mencintainya... hingga saat ini." tandas Trias.
Syarifah hanya tersenyum datar. Yun... kau benar... dia lelaki yang setia... bahkan sepeninggalmu... ia belum mampu melepaskanmu... tapi gimana Yun? gimana aku bisa mencintainya, jika hatinya masih kau kunci untukmu? jika kau mengikhlaskannya untukku, berikan kuncinya Yun. biarkan aku memegangnya sebagai amanat darimu....
Trias menghembuskan napasnya. "Aku tahu, kau mengemban amanatnya untuk menggantikan posisinya disampingku." kata pemuda itu kemudian menatapi Syarifah. sementara gadis itu tetap menatapi pusara Iyun, meski konsentrasinya terpusat kepada pemuda tersebut.
"Aku akan menerimanya. aku menerimamu masuk dalam kehidupanku. tapi.... berikan aku waktu, beri aku waktu agar aku bisa menerimamu seutuhnya." kata Trias.
Syarifah diam lalu menatapi Trias dengan dalam. pemuda itu menarik napasnya.
"Kau bisa menerimanya? kau mau menungguku?" tanya Trias.
Syarifah lama menatapi pemuda itu hingga akhirnya ia mengangguk. Trias tersenyum lalu bangkit. pemuda itu mengulurkan tangannya. Syarifah sejenak ragu menggapai tangan itu hingga akhirnya karena malu menyadari Trias tetap mengulurkan tangannya, ia menggapainya lalu bangkit.
"Kita pulang. biarkan Inayah beristirahat dengan tenang. ia sudah cukup terganggu dengan keberadaan kita berdua." kata Trias sambil melangkah dan menarik Syarifah agar mengikutinya meninggalkan area pemakaman keluarga besar Gobel.
...********...
kegiatan Bekerja dari Rumah (WFH) masih tetap diberlangsungkan oleh pemerintah untuk benar-benar meyakinkan bahwa virus 2019-nCoV minggat dari bumi serambi madinah. tak terasa, satu semester telah berlalu dan ujian semester genap, ujian akhir semester dan ujian nasional telah diselesaikan oleh siswa-siswi SMUN 3 Kota Gorontalo, meskipun melalui aplikasi dalam jaringan maya. dan semua siswa telah menyelesaikannya.
satu hal positif yang berlangsung adalah, tak diselenggarakannya pawai kelulusan yang sangat mengganggu lalu lintas kota dan ketenangan warga sekitar, siapapun yang melanggar ketentuan yang digariskan pemerintah kota Gorontalo, akan berakhir di hotel prodeo (penjara) karena melanggar ketentuan tentang budaya kerja dari rumah karena pandemi Corona.
pemerintah telah menjanjikan bahwa budaya kerja WFH akan diselingi dengan WFO (bekerja sebagaimana biasa di kantor) namun tetap memperhatikan protokoler kesehatan yang berlaku, yaitu mengenakan masker dan mencuci tangan. dimasa pandemi ini, pemerintah kota bahkan tetap sibuk memberikan bantuan dan subsidi kepada masyarakat agar tetap bisa melaksanakan aktifitas dimasa pandemi.
bahkan ada kejadian lucu. pada saat itu rombongan Walikota Gorintalo, H. Marten Taha, SE, M.Ec.Dev bersama jajaran birokrasi mengadakan lawatan ke salah satu kampung di kota Gorontalo. beliau memberikan bantuan kepada salah satu nenek yang tinggal dirumah reyot.
nenek itu tidak mengenalinya, langsung bertanya. "Ini bantuan darimana? dari siapa?"
walikota Gorontalo menjawab, "Nene...ini bantuan lo Corona." (lo \= dari).
sontak nenek itu menangis dan langsung berdoa. "Adduh... semoga Corona selalu sehat selalu dan panjang umurnya."
__ADS_1
walikota Gorontalo hanya bisa menelan ludah dan menatapi jajarannya yang sementara menahan tawa mendengarkan doa sang nenek yang salah alamat. mungkin sang nenek mengira, Corona adalah salah satu nama pendonor yang memberikan sumbangan padanya dihari itu.
...********...
masa delapan bulan telah berlalu. kandungan Chiyome memasuki trimester akhir. perutnya sudah membuncit membuat ibu muda itu kadang kesulitan bangkit dan berjalan. namun keluarga Lasantu begitu menjaganya dengan baik. bagaimanapun, bayi dalam kandungan Chiyome adalah cucu pertama keluarga tersebut.
Mariana yang begitu protektifnya bahkan melarang Chiyome memgerjakan tugas dapur. ia hanya diperkenankan untuk melakukan aktifitas ringan seperti jalan-jalan dihalaman dan melakukan senam kehamilan untuk memperlancar proses persalinan nantinya. Chiyome banyak mengunggah video-video tutorial tentang senam kehamilan tersebut.
beberapa senam kehamilan yang diterapkan Chiyome adalah senam kegel yang berfungsi menguatkan otot panggul, urethra, kandung kemih, rahim, rektum dan ******, serta mengatasi wasir. senam lainnya adalah senam tailor, mini-sit up, dan beberapa gerakan lainnya. calon ibu muda itu diawasi oleh Kenzie yang sementara sibuk membuat dokumen-dokumen kantor yang dipercayakan ayahnya. secara tidak langsung, Adnan telah mengangkat putranya sebagai asisten pribadinya.
Kenzie mengerjakan tugas ayahnya sambil tersenyum. hari ini ia merasakan 2 berkah menyelimutinya. berkah pertama, Kenzie diberikan kursi di posisi pimpinan HRD, sedangkan pejabat sebelumnya telah dipromosikan oleh Adnan sebagai wakil Kepala Manajemen perusahaan PT. Buana Asparaga. Tbk dicabang Surabaya. karena statusnya yang masih pelajar, segala urusannya diwakilkan kepada Bakri yang telah lebih dulu berada disana.
berkah kedua adalah usia kandungan istrinya. sedikit lagi, sebulan lagi ia akan menjadi seorang ayah muda. ayah yang masih menyelesaikan pendidikannya disekolah menengah umum. sebuah kebiasaan yang aneh tapi nyata dan menggelikan.
ah boy.... Papa nggak sabar lagi menunggumu...
...********...
kegiatan perekonomiam mulai berjalan lagi meskipun masih merangkak dan terseok-seok. Adnan mulai memberlakukan peraturan WFO dan WFH secara bergantian. namun khusus Kenzie, ia menyuruhnya untuk tetap WFH supaya bisa memonitaring situasi kandungan istrinya.
pernah ada pegawai yang yang mempertanyakan hal tersebut. menurutnya sang presdir bertindak nefotis. Bakri selaku pegawai yang sudah berada dilingkungan itu hanya menengahi saja.
"Kenzie itu pewaris perusahaan. kita bukan apa-apa. setidaknya dia melakukan tugasnya dengan baik dan tak tercela." jawab Bakri.
"Tapi pak, masa pimpinan HRD nggak berada ditempat? lalu kemana kami akan mengajukan beberapa proposal sedang beliau tidak berada ditempat?" todong salah satu personil HRD kepada Bakri.
"Presdir kita sudah mempercayakan hal tersebut kepada saya. kalian bisa berdiskusi dengan saya. nanti saya akan membahasnya dengan pimpinan HRD nanti." jawab Bakri.
"Tapi..."
langkah lelaki itu kembali terhenti lalu menatapi mereka. "Sebaiknya jangan menyinggung perasaan istrinya Kenzie. pimpinan kalian itu meskipun statusnya masih pelajar di SMUN 3 Kota Gorontalo, namun orangnya sangat dewasa dan profesionalis. tapi istrinya seorang praktisi karate penyandang sabuk hitam tingkat shihan. jika kalian masih ingin rahang kalian bertahan ditempatnya, jangan menyinggung sedikitpun hal itu darinya. mengerti?!"
setelah berkata begitu, Bakri meninggalkan ruangan membiarkan karyawannya sedikit ribut membicarakan perihal Kenzie dan istrinya tersebut.
...*********...
Kenzie berjalan setengah berlari. ia panik sedang disisinya para suster sedang mendorong kursi roda yang diduduki Chiyome yang sudah dalam persiapan persalinan. ketuban gadis itu sudah pecah sehingga harus segera dibawa ke ruang persalinan. Mariana sudah duluan mengontak suaminya yang sementara berada di kantor perusahaannya. sementara itu suster sudah memasukkan Chiyome ke kamar bersalin.
hanya Kenzie yang diperbolehkan oleh tim medis untuk masuk dan mengawani istrinya. posisinya sudah bukaan sembilan. sang bayi sudah ingin berontak keluar dari rahim sang ibu. beruntung Chiyome sudah berlatih mengejan dalam setiap senam kehamilan yang dilakukannya.
begitu bidan meminta Chiyome mengejan, ibu muda itu mengejan sementara Kenzie menggenggam erat jemari istrinya. hingga akhirnya....
OEEEEEEKKKK.... OEEEEEKKK....
suara bayi yang menangis mengembalikan kesadaran Chiyome yang nyaris kehabisan tenaga mengeluarkan energi untuk melahirkan anaknya.
" Kodomo.... kodomo..." ujar Chiyome dengan lirih.
Kenzie bahkan tak sanggup menahan harunya. ia menangis. dokter itu mengangkat sang bayi yang putih bersih tanpa darah. Chiyome menatap bayinya. ia menangis.
"Bayinya laki-laki bu, sangat sehat!" kata dokter itu dengan senang. "Kami mandikan dan bersihkan dulu ya bu?" dokter itu memberikan bayi itu untuk dibersihkan oleh suster.
Chiyome menatapi Kenzie dengan lemah. matanya sayu. "Anak kita laki-laki, Hubby..."
Kenzie mengangguk sambil menangis. ia begitu terharu sehingga tak mampu mengucapkan satu kata pun. pemuda itu mencium kepala istrinya.
"Wiffy berhasil menjalankan tugas keduaku, Hubby..." sambung Chiyome. Kenzie tak melepaskan ciumannya dari kepala sang istri.
__ADS_1
tak lama kemudian suster datang membawa bayi milik Chiyome yang sudah dibalut dengan selimut tebal. suster itu meletakkannya dalam pelukan ibu muda itu. melihat bayi dalam pelukannya membuat Chiyome terisak-isak bahagia. ia menangis bahagia.
"Anakku.... " ujar Chiyome. ibu muda itu menatap suaminya. "Segera adzankan Hubby..." pintanya.
diselimuti rasa haru, Kenzie mendekat dan melafazkan seruan adzan ditelinga kanan bayi itu kemudian menyerukan iqamat ditelinga kiri putranya. setelah itu Kenzie menatapi istrinya.
"Wiffy sudah mempersiapkan namanya?" tanya pemuda itu.
"Kalau Hubby berkenan, aku akan menamainya .... Saburo Koga Mochizuki.... " kata Chiyome.
Kenzie tersenyum dan mengangguk mantap. "Baiklah..." Kenzie kemudian menatap bayinya. "Putraku, Saburo...."
Chiyome begitu bahagia ketika mendengar Kenzie menyebut putranya dengan nama pemberiannya. tak lama kemudian, tim dokter dan suster muncul.
"Bapak Kenzie Lasantu silahkan ikut kami untuk menyelesaikan beberapa hal tentang administrasi, sementara Ibu.... " dokter itu kesulitan menyebut nama wanita itu.
"Chiyome Mochizuki..." jawab Kenzie.
"Ibu Choyome... " ujar dokter itu.
"Chiyome... Chi-yo-me... Chiyome..." tandas Kenzie dengan kesal.
"Sedangkan istri bapak akan dipindahkan ke ruang steril." sambung dokter itu. sementara Chiyome hanya tersenyum.
" Otoo-Sama... karera o shikaranaide kudasai..." kata Chiyome. " Karera wa tada karera no shigoto shimasu..."
(jangan marahi mereka suamiku. mereka cuma menjalankan tugas)
Kenzie menutup mata dan tersenyum lalu menatapi dokter itu, "Silahkan dokter... mari..." ajak pemuda itu. Kenzie mengajak para dokter itu keluar meninggalkan Chiyome sendirian.
ibu muda itu mengejan sesaat untuk melahirkan plasenta dan kantung ketuban yang kosong. ia merasakan kontraksi namun sedikit lemah. hingga akhirnya ari-ari itu dikeluarkan. tak lama kemudian muncul suster membersihkan ari-ari bayi yang sudah dilahirkan Chiyome yang kemudian memasukkan beda itu kedalam kantung plastik steril.
Chiyome bersama bayinya dipindahkan oleh suster diruangan steril. Adnan sudah membayar fasilitas VIP untuk menantunya tersebut. setelah menempati ruangan itu, Mariana dan Adnan muncul menjenguk.
Mariana memeluk cucu mungilnya dengan tangis bahagia. "Lihat Pa... mirip wajahmu..." kata Mariana.
Adnan tertawa, "Tapi matanya mirip Chiyome... benar-benar perpaduan yang sempurna. Alhamdulillah..." ujar lelaki itu.
"Adek sudah menyiapkan nama?" tanya Mariana.
"Adek memberinya nama Saburo Koga..." jawab Chiyome.
"Oooo.... bagus juga..." kata Mariana dengan senyum datar. Chiyome menangkap nada getir dari ucapan mertuanya.
" Kalau menurut Mama, cucu Mama akan dinamai bagaimana?" tanya Chiyome dengan senyum sabar.
Adnan hanya diam menatap istrinya. lelaki itu menatap tak setuju kepada Mariana. sang istri paham akan tatapan itu. Mariana kembali tersenyum lalu menggeleng.
"Nama itu bagus kok. Mama suka." kilah Mariana.
"Mama... Adek ingin Mama memberinya nama... berikan anakku nama, Mama..." pinta Chiyome.
Mariana menatapi Adnan. lelaki itu menarik napas panjang dan akhirnya mengangguk.
Mariana menatapi Chiyome. "Kalau Mama akan memberinya nama.... Sandiaga Hermawan Lasantu... bagaimana menurut Adek?"
wanita itu menunggu jawaban mantunya yang dicintainya. []
__ADS_1