Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 159


__ADS_3

Saripah diam menunggu reaksi dari Fahruriza, ayahnya. sementara lelaki parobaya pemilik lahan pertanian luas itu diam dan memicingkan mata menatap Trias.


lelaki itu sendiri hanya diam menunduk sementara Endi menatap Fahruriza. "Bagaimana?" tanya lelaki botak itu.


Fahruriza akhirnya tersenyum dan mengangguk. "Aku tak ingin mengecewakan putriku." jawabnya membuat semuanya menjadi lega. Fahruriza menyambung. "Lagi pula, keduanya sudah terlalu lama pacaran. kalau tidak segera dinikahkan, aku kuatir akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan bersama."


Endi tersenyum dan mengangguk-angguk. "Baik. bagaimana kalau kita tentukan saja hari pernikahannya." usul Endi, "Bagaimana kalau tanggal 30 Sya'ban ini?"


Fahruriza terkejut. "Wah itu tinggal sebulan dong."


"Katanya harus segera dinikahkan..." sindir Endi, "Aku saja maunya esok langsung nikah supaya nggak ada lagi yang perlu dipikirkan."


Fahruriza lebih terkejut lagi mendengar usul abal-abal lelaki botak itu namun kedua calon mempelai itu justru malah tersipu. Endi melirik Saripah.


"Nah lho... anakmu saja mau." olok Endi sambil tertawa menunjuk Saripah, "Lihat saja wajahnya macam kepiting rebus begitu."


Saripah makin menunduk menyembunyikan rasa malu, gugup dan gembiranya. sedang Trias menyikut ayahnya. Endi menatapnya.


"Kenapa? nggak mau kamu? atau batalkan saja sekalian?" pancing Endi menggertak.


"Jangan!!" seru Trias dan Saripah bersamaan. sedetik kemudian kedua terkejut, saling menatap dan menunduk tersipu lagi sambil senyum-senyum.


Fahruriza mendesah. "Ya sudahlah... kalau begitu dipersiapkan saja. aku juga akan mempersiapkannya disini." lelaki itu menatap Trias. "Kamu sudah daftarkan nama kalian di sidang BP4R?"


"Bos Eki sudah tahu, Pak. dia sendiri yang langsung menghubungi pihak terkait untuk memohon dilaksanakan sidang BP4R." jawab Trias dengan senyum.


Fahruriza mengangguk-angguk. ia menatap Endi. "Oke, deal mereka nikah bulan depan." ujarnya kemudian mengulurkan tangan.


dengan senyum Endi mengulurkan tangan menyalami tangan petani sukses itu. keduanya mengangguk-angguk dan tersenyum lebar bersama-sama.


...******...


Kenzie membaca artikel di aplikasi Quora, memilah dan memilih jenis artikel yang disukainya. kacamata yang melorot berkali-kali diperbaiki letaknya. sementara Chiyome muncul membawa gelas tinggi berisi tonik. wanita itu mengenakan piyama yang membalut lingerie tipis miliknya.


Chiyome meletakkan gelas itu dinakas lalu ikut duduk disisi suaminya yang sementara setengah berbaring memandangi layar tablet. Chiyome terlebih dulu melepaskan piyama dan membiarkannya menggeletak dilantai. dengan lingerie seksi yang membalut tubuhnya itu, ia naik ke ranjang dan merayap keatas tubuh suaminya.


Kenzie sudah tahu gelagat itu dan meletakkan gawai di nakas dekat minuman tonik itu lalu melepaskan kacamata pula, meletakkannya juga di nakas dekat dua benda tersebut. lelaki itu sudah mulai memelihara cambang dan kumisnya. namun itu justru membuatnya terlihat seksi dimata Chiyome.


"Hubby..." desah Chiyome.


Kenzie mengangkat alis lalu membelai rambut istrinya yang pendek shaggy itu. Chiyome menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenzie yang bagai pegunungan yang mencembung itu.


"Ada apa gerangan istri tercintaku ini?" tanya Kenzie. "Oh ya, bagaimana indeks pembelajaran putra kita yang banyak akalnya itu?"


"Seperti biasa... badung, tapi nggak keterlaluan sih. tapi tetap saja badung." ujar Chiyome.


"Badungnya kayak apa sih?" tanya Kenzie.


"Tadi siang, pas Hubby pergi, Wiffy dapat telpon dari pihak madrasah... kabarnya Saburo bikin keributan. dia ngamuk-ngamuk dan melayangkan protes didewan guru." ujar Chiyome.


"Kenapa bisa ngamuk?" tanya Kenzie dengan kening berkerut.


maka mengalirlah cerita itu....


...******...


Madrasah Ibtidaiyah Al-Khairaat, Dembe II, kantor dewan guru, pukul 09.10 WITA.


Sandiaga berdiri dengan tenang dan gagah. penampilannya mirip dengan gaya Kenzie ketika menghadapi lawan. disekelilingnya duduk beberapa guru. sebagiannya duduk ditempatnya, sebagiannya duduk di sofa. kepala madrasah duduk dihadapan anak itu. adapun Chiyome dan Saripah duduk disisi guru lain yang juga duduk di sofa.


"Sandiaga... kenapa Sandi protes?" tanya Pak Umar, kepala madrasah dengan lembut. "Apa yang Sandi proteskan?"


Sandiaga menatap pimpinan sekolah itu. "Pak Guru. saya ini semestinya duduk dikelas tiga, bukan dikelas satu. pelajarannya membosankan semua." jawab anak itu membuat semua guru terkejut.


Chiyome langsung mencondongkan tubuhnya. "Shitsureina Kodomo!!! atode bassimashu!!!" hardik wanita itu hendak melayangkan tamparannya, namun dihalangi Saripah. (Anak tidak sopan. aku akan menghukummu nanti!)


"Kenapa mau ditampar? dia nggak buat keributan secara fisik." tegur Saripah, "Sandi cuma mau kemukakan aspirasinya. kok kamu senewen sekali? semestinya kamu bangga, anakmu bisa seperti ini."


Sandiaga menguak, "Watashi wa kashikoi Okasandesuga. anata wa watashi no chisei o taisetsu ni shite imasen!!!" ujarnya dengan tarapan tajam. (Aku cerdas, Mama. tapi Mama nggak menghargainya.)

__ADS_1


Chiyome terperangah, kaget dengan keberanian anak itu, ada rasa bangga, namun juga bercampur rasa malu. sedangkan Saripah tersenyum.


"Kamu yakin cerdas, Sandi?" olok Saripah.


"Tentu saya cerdas! saya akan membuktikannya. silahkan ajukan pertanyaan!" tantang Sandiaga.


Pak Umar tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah... Bapak akan bertanya. 16 dikali 26, berapa?" tanya Pak Umar.


Sandiaga tertawa, "Itu sih gampang Pak Guru. 416!" jawab anak itu dengan tegas.


Pak Umar tersenyum. "Bagus." pujinya kemudian melanjutkan pertanyaan. "Perang Diponegoro berlangsung tahun berapa?"


Sandiaga kembali menggelengkan kepala mendengar pertanyaan itu. "Hadeeehhh... tahun 1825 sampai 1830. pertanyaannya yang berbobot sedikit, Pak Guru!" olok anak itu.


Pak Umar tersinggung tapi tak mau terprovokasi. masih dengan senyum ia bertanya, "Penemu lampu bohlam?"


Sandiaga berdecak. "Ck... Thomas Alfa Edison!"


"Hewan pemakan daging dan tumbuhan... hayo apa?" tanya Pak Umar memberikan pertanyaan kelas tiga untuk Sandiaga.


Sandiaga tertawa, "Duuuhhh Pak Guru... gampang itu... Omnivora!!! bagaimana?"


Pak Umar tersenyum dan menatap para guru lalu Chiyome dan Saripah. "Kelihatannya Sandiaga memang bisa dipindahkan ke kelas tiga. nanti saya akan merekomendasikan."


"Tunggu sebentar Pak." sela Chiyome. "Apa bapak serius?"


Pak Umar mengangguk. "Ya. saya pikir ini hal yang baik. semoga itu bisa merupakan motivasi bagi Sandiaga."


Saripah menatap Pak Umar, kemudian staf dewan guru. mereka memberikan isyarat berkenan. Saripah menatap Sandiaga.


"Baik, Tante akan berikan pertanyaan... kalau kau bisa jawab, berarti kau cerdas dan layak duduk di kelas tiga!" ujar Saripah. "Pertanyaan kali ini, bukan pertanyaan yang biasanya.


Sandiaga kemudian menegakkan tubuhnnya. Saripah mulai mengajukan pertanyaan.


"Benda apa yang huruf depannya K dan huruf akhirnya L. benda ini bisa tegang, bisa juga lemas." tanya Saripah.


deg!!!


wajah kepala madrasah langsung pucat. kenapa perempuan itu nanya yang begituan sama anak kecil hanya untuk menguji kecerdasan? huruf depan K dan huruf terakhir L kan....


"Ketapel!" jawab Sandiaga dengan tegas.


Saripah tersenyum, "Bagus." pujinya lalu melanjutkan pertanyaan. "Sekarang berikutnya, yang huruf depannya M dan huruf akhirnya K. ditengah benda itu ada kacangnya. apa hayo?" tantang Saripah.


Sandiaga sejenak berpikir sementara Kepala Madrasah sudah seringkali mengelap keringatnya yang memenuhi wajah dan leher. kok pertanyaannya rada-rada absurd? itu kan jawabannya mengarah ke...


"Martabak!!" seru Sandiaga dengan tegas lagi.


Chiyome ikut nimbrung. "Sekarang giliran Mama. kegiatan apa yang sering dilakukan Abu Bakri dikamar mandi dengan gerakan yang berulang-ulang? huruf pertama M dan huruf terakhir I... ayo jawab!" tantang Chiyome.


Sandiaga berpikir keras, dan para guru serta Kepala Madrasah makin salah tingkah. pertanyaan kedua wanita ini sudah menjamah luar ranah pendidikan menurut mereka. Sandiaga tertawa. ia menjawab.


"Menggosok Gigi!!!" serunya.


Chiyome mendengus. Saripah kembali mengambil giliran. "Kegiatan apa yang biasa dilakukan seorang laki-laki dan perempuan yang sedang pacaran dimalam hari? ayo, huruf awalnya N dan huruf akhirnya T... kamu pasti kalah kali ini!" tantang Saripah dengan senyum puas.


Sandiaga mengerutkan alis berkali-kali sementara Kepala Madrasah nyaris pingsan jika saja tidak langsung ditopang oleh salah satu guru. ini pertanyaan paling parah... kegiatan yang tabu... itu kan...


Sandiaga menjentikkan jari. "Nonton midnight..." serunya lalu tertawa. "Haaa.... Mama? Tante? Sandi benar kan?"


Saripah mendengus dan hendak kembali mengajukan pertanyaan namun langsung dihentikan oleh Pak Umar.


"Saya pikir Sandi sudah membuktikan dia layak di kelas tiga... bahkan mungkin saya sarankan anda untuk mendaftarkannya saja ke UNG saja." ujar Pak Umar.


"Lho? kok Bapak bicara begitu?" tanya Chiyome dengan nada agak tinggi.


"Tentu saja saya harus bicara seperti itu." tandas Pak Umar. "Anak ini... intelejensianya mungkin sekitaran 100, lebih cerdas dari anak-anak seusianya. saya saja selalu salah menjawab semua pertanyaan yang ibu berikan kepada anak itu!" ujarnya membalas dengan nada tinggi pula. sejenak kedua wanita itu berpandangan.


namun akhirnya mereka paham dan hanya menahan senyum. pasalnya jika salah menjawab pasti akan terkesan orang itu berpikiran mesum. Pak Umar menghela napas lalu menghembuskannya.

__ADS_1


"Keputusan saya bulat! Sandiaga besok langsung duduk dikelas tiga! titik!" tandas Pak Umar langsung berdiri dan melangkah menuju ruang kerjanya.


...******...


Kenzie tertawa keras dan langsung dibekap sedikit oleh Chiyome. "Hubby... jangan keras-keras tertawanya. seisi rumah bisa terbangun semua!" tegur Chiyome.


Kenzie mengangguk-angguk. "Aku bangga sama anak kita. aku sendiri mengakui, mungkin aku sama dengan kepala madrasah itu, salah dalam mempersepsikan jawaban dan berujung pada kekonyolan dan kebodohan yang nyata." ungkap lelaki bercambang itu. "Saburo telah membuktikan bahwa ia layak menerima piala kecerdasannya." puji Kenzie.


Chiyome tersenyum menyeringai menampakkan ginsulnya. jika suaminya bangga, maka ia pun akan ikut bangga terhadap anaknya.


"Bagaimana pertemuannya?" tanya Chiyome.


"Cukup alot." jawab Kenzie memperbaiki letak posisi kepalanya dengan mengganjal bantal. "Kepala Kadin, menasbihkan Hubby sebagai penyelenggara proyek propinsi. ada beberapa tender yang berhasil kita menangkan tanpa harus melalui lelang. aku berterima kasih sekali kepada Pak Muhalim Litty."


"Hubby harus mengapresiasikan hal itu kepada beliau." ujar Chiyome.


"Apakah itu tak terhitung gratifikasi?" tanya Kenzie dengan ragu. Chiyome tersenyum.


"Ini hanya persepsi hukum saja Hubby. KPK juga nggak akan bisa apa-apa jika Hubby menjelaskan bahwa hal itu adalah bentuk rasa syukur saja. nggak lebih." jawab Chiyome. "Bermain cantiklah Hubby... masa Papa bisa, Hubby nggak bisa?"


Kenzie tersenyum dan mengangguk. "Semoga saja beliau tidak menganggap itu gratifikasi."


Chiyome mengangguk. Kenzie mendehem. "Semua agaknya akan lancar. hanya ada masalah kecil."


"Apa masalah kecilnya?" tanya Chiyome membelai-belai dada suaminya.


"Ada sedikit clash antara aku dengan Romin Bulotio. dia mengajukan protes kepada Pak Muhalim. ia tidak terima kalau Hubby memegang hampor keseluruhan proyek itu." jawab Kenzie.


"Kok bisa begitu?" tanya Chiyome mengerutkan alisnya.


"Itu memang sudah hal yang biasa. di Gorontalo ini, ada dua perusahaan besar yang saling bersaing. perusahaan kita dan Atmajaya, yang dimiliki oleh Romin Bulotio." ujar Kenzie. "Pertikaian itu sudah lama sejak awal Papa membangun perusahaan, mereka yang paling reaktif terhadap kita."


"Terus hasilnya bagaimana?" tanya Chiyome.


"Mereka, Atmajaya mendapatkan porsi proyek daerah. tapi melalui kita. beberapa perusahaan juga bergabung disana. mereka berada dalam lingkup pengawasan Buana Asparaga.Tbk" jawab Kenzie.


"Kita akan lihat bagaimana kinerja mereka." ujar Chiyome.


"Tentu. itulah sebabnya nanti Kak Bakri yang akan kutempatkan disetiap proyek itu sebagai perpanjangan Buana Asparaga.Tbk, sehingga mereka bisa kita kendalikan." kata Kenzie.


"Hubby hebat deh... nggak percuma ditunjuk Papa sebagai Direktur Utama." puji Chiyome.


Kenzie tertawa. "Sudahlah. malam ini Hubby nggak mau memikirkan apapun, kecuali satu hal."


"Apa itu Hubby?" tanya Chiyome dengan penasaran. Kenzie tersenyum nakal.


Kenzie menatap Chiyome. "Sudah siap programnya?" goda lelaki itu.


Chiyome tersipu dan mengangguk. maka mereka memulainya. awalnya pelan dan bertahap lalu cumbuan menuju puncak permainan dan dalam waktu singkat semua pakaian yang melekat telah berserakan dilantai. keduanya bergumul dan saling menyatukan olah rasa dan raga mengalirkan bersama aliran sungai mereka menuju lubuk cinta. harapan untuk menumbuhkan benih baru mulai disemikan.


...******...


Trias menerima telpon dari atasannya, Bos Eky. lelaki batak penuh perhatian itu memberitahu bahwa Sidang BP4R akan digelar seminggu kemudian.


📱"Jadi, menunggu sidang digelar, kau persiapkan mental dan ragamu! ingat! ini pernikahan, bukan sekedar mencampurkan ****** dan sel telur. tapi lebih dari itu. ini adalah masalah tanggung jawab!" pesan Bos Eky.


📱"Oke, makasih Bos. saya pasti ingat semua nasihatnya. jangan kuatir." jawab Trias sambil tertawa.


sambungan seluler itu diputuskan. Trias menyimpan gawainya kedalam saku celana. ia menatap Saripah.


"Seminggu lagi, kita akan menjalani sidang BP4R." kata Trias kemudian meraih tangan Saripah dan menggenggamnya. Saripah mengangguk lalu tersenyum.


Endi langsung bangkit. "Baik. untuk malam ini cukup. kita akan ketemu lagi di aula Polresta Gorontalo untuk menghadiri sidang BP4R. untuk sementara ini kita persiapkan semuanya secara adat."


"Oke. nanti aku kerahkan beberapa anggota keluargaku yabg masih paham adat untuk menyelenggarakannya. setelah sidang BP4R, acara tolobalango akan diselenggarakan. kuharap, kola-kola yang kau bawa nggak mengecewakanku." olok Fahruriza Hamid sambik tertawa.


"Heh, akan kupenuhi kola-kola dengan dengan olahan daging dari tiga matra sekaligus." ujar Endi dengan senyum.


Fahruriza tertawa. "Nggak, aku hanya bercanda. nggak usah seserius itu."

__ADS_1


keduanya tertawa. Endi dan Trias pamit meninggalkan kediaman Fahruriza Hamid. keduanya diantar ke beranda. setelah mengucap salam Trias mengajak ayahnya pergi. kedua lelaki itu meninggalkan kediaman Hamid yang pekarangannya dipenuhi berbagai bunga itu.[]


__ADS_2