
Saripah tertawa namun berupaya jangan sampai terbahak-bahak. sebab jika tidak, ia bisa mengalami kekejangan dan akan berdampak buruk bagi kesehatan dirinya dan janin.
Trias tetap dengan wajah cemberut. "Kok Umma ketawa terus sih?" omel Trias, "Coba kalau Umma diposisi Abah nih, pasti bakal marah-marah juga kan?"
"Umma nggak mau bayangin." ujar Saripah, "Nggak mau membayangkan bagaimana orang itu menuntaskan hasrat bejatnya di celana Abah."
"Wooh... Abah pukuli sampai pingsan." ujar Trias. "Habisnya, lelaki bejat macam itu, nggak pantas dikasihani."
"Ya sudah. lain kali, Abah nggak usah lagi menginterogasi lelaki itu." ujar Saripah membelai pundak suaminya. "Kayaknya Abah dibikin pelampiasan deh. dia itu punya kelainan seksual.... masa nyipratnya ke celana Abah?" olok Saripah kembali tertawa kecil.
Trias tertawa, "Kalau yang itu nggak usah kuatir dah, Umma... Abah masih lelaki normal kok. yakin dan percaya, hatiku ini hanya untuk Umma seorang..." rayu lelaki tersebut.
"Gombaaaalllll..." olok Saripah.
keduanya kembali tertawa dan berpelukan kembali.
...******...
Kantor Polisi Resort Kota Gorontalo.
Kenzie, Adnan dan Kameie memandang Stefan dari balik kaca dua sisi, sementara diinterogasi sekaligus diintimidadi secara fisik oleh seorang opsir. opsir lainnya berdiri santao menyangga tangannya pada sisi meja.
"Kalau aku yang disana... lelaki itu akan kukuliti hidup-hidup." geram Kameie menampakkan wajah yang belum puas. Adnan sejenak melirik lelaki jepang itu dan sedetik kemudian pintu kamar terbuka, Bambang masuk."
"Sore, Om... bagaimana kabarnya." sapa Bambang.
Adnan membalik menatap Bambang. Kakek itu tersenyum. "Alhamdulillah, aku baik-baik saja..." jawab Adnan tersenyum saat menyambut keberadaan Bambang. lelaki itu menatap Adnan dan Kenzie.
"Anda bertiga mungkin hendak menemui Trias?" tebak Bambang dan menjawab sendiri jawabannya. "Maafkan dia. Trias belum mampu menemui anda sekalian karena terkena musibah."
"Apakah Trias menemui kecelakaan?" tanya Kenzie dengan cemas.
Bambang tertawa dan menggelengkan kepala. "Saya nggal akan mengatakannya kepada anda sekalian... sebaiknya anda tanyakan saja kepadanya... kira-kira... sedikit lagi dia akan kembali ke kantor."
Kenzie mengangguk-angguk. sementara Bambang duduk ke kursi menonton bagaimana sahabatnya menuntaskan fantasi liarnya tentang kebrutalan kepada lelaki yang paling mereka benci.
Adnan menatap putranya. "Semenjak kematian Aisyah, kau jadi gampang berprasangka kepada orang lain." tegur lelaki itu.
Kenzie mendesah panjang. tangannya terulur menjamah permukaan kaca tersebut. "Entah mengapa, aku jadi begini, Pa." keluhnya. "Kepergian Kak Aos menyisakan ruang hampa yang terlalu luas, terutama bagi istriku." Kenzie melepaskan jemarinya dari kaca dan berbalik menatap Adnan. "Terlebih Sandiaga juga sangat merasa kehilangan. mereka berdua baginya bagaikan kedua orang tuanya pula. kita semua sangat kehilangan."
"Itulah mengapa, aku mengembankan tugas tersebut kepafa Chiyome... atau Saburo." sela Kameie.
Adnan langsung menatap Kameie, "Bisakah kau tak menyeret mereka berdua dalam lingkaran dendammu?" sambut Adnan dengan wajah keruh. "Jangan mendoktrin mereka untuk memuaskan kesenangan pribadimu!"
"Chiyome itu putriku, Adnan! Saburo itu adalah cucuku!" tandas Kameie yang mulai emosi.
"Mereka berdua juga putri dan cucuku!" balas Adnan dengan suara lebih menghardik. Kameie menatap lelaki itu dengan tajam. Adnan memicingkan mata. "Apa kau pikir Chiyome berbeda? tidak, Kameie... Tidak! ia juga lahir dari rahim yang sama yang pernah melahirkan Aisyah!"
"Chiyome seorang Mochizuki! jangan kau lupakan itu! kami kaum genyosha..." hardik Kameie dengan lantang.
"Tapi hukum milikmu, tak berlaku disini, Kameie!" sela Adnan menandaskan. ia maju dan menudingkan telunjuknya ke wajah Kameie, "Prinsip kami, Adati hula-hula to syara'i wawa Syara'i hula-hula to Qur'ani...kau paham maksudnya? atau aku fahamkan langsung kepadamu?!"
"Kau mau menguji kesabaranku, Adnan?!" ujar Kameie dengan lirih, memicingkan mata dan rahangnya mengencang.
"Aku hanya ingin, kita semua bertindak logis." jawab Adnan dengan diplomatis.
Keduanya saling memandang seakan ingin saling menerkam. Bambang sesekali melirik antara kedua lelaki yang bersitegang, dengan Stefan yang sementara dipukuli oleh opsir karena merendahkan opsir tersebut. Kenzie sendiri menjadi salah tingkah, ia bingung harus mendamaikan siapa. kedua lelaki itu merupakan sosok paling penting dalan kehidupannya.
"Aku tak segan menyingkirkan siapapun yang tak sepaham denganku... bahkan jika itu... keluargaku sendiri!!!" tandas Kameie dengan lirih.
Bambang langsung bertindak responsif. "Maaf bukan mengganggu sesi pertarungan kalian." lelaki minahasa itu berdiri dan melangkah menuju pintu. "Kurasa kalian berdua harus saling mendiskusikan cara menyelesaikan kasus yang menimpa putri anda."
tatapan Kameie yang terarah kepadanya sejenak membuat Bambang terkejut. lelaki itu berhasil mengintimidasi dirinya sehingga Bambang merasakan seakan ruhnya dipaksa oncat dari tubuhnya. Kameie kembali menatap Adnan lalu mendengus dan berbalik melangkah menuju pintu. ia meninggalkan ruangan tersebut.
Kenzie mendekati ayahnya. "Papa... susul Otoosan, Pa." pinta lelaki bercambang halus itu.
"Jangan nak." tolak Adnan, "Hati ayah mertuamu saat ini masih labil. jika aku menuruti keinginanmu untuk menyusulnya, ia akan terhasut dan balik menyerangku. aku tak ingin kantor polisi menjadi gelanggang pertandingan kami." Adnan tersenyum lalu menyentuh bahu Kenzie.
"Jangan kuatir..." hibur Adnan. "Ketegangan diantara kami nggak akan lama.... Papa sendiri justru bangga kepadanya, sebab ia telah menganggap Aisyah seperti putri kandungnya." lelaki itu kemudian duduk di kursi pelastik. "Papa paham konsep tuntutan yang ia ajukan tersebut. sebagai seorang Yakuza, mereka memang dituntut seperti itu."
__ADS_1
"Tunggu..." sela Bambang kemudian bangkit dan menatap Adnan. "Kurasa telingaku bermasalah... tapi aku menangkap kata yakuza.... benarkah dia seorang yakuza?" tanya Bambang dengan lirih.
Adnan hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut. Bambang mengusap wajah dan rambutnya.
"Aku tak menyangka...." gumamnya.
...****...
Kameie tiba di Kediaman Mantulangi. dengan langkah cepat ia menaiki beranda dan masuk kedalam ruangan. diruang tengah masih menunggu Chiyome, Fitri, Mariana dan Sandiaga.
"Otoosan.." panggil Chiyome yang menyadari tatapan ganjil ayahnya. ada sesuatu yang terjadi... apa ya?
Kameie menyamperi Fitri. ia mengulurkan tangan. "Mari, kita pulang." ajaknya. Fitri mengangkat wajah menatapi suaminya sejenak, lalu akhirnya mengangguk dengan patuh.
"Mengapa secepat ini kalian pergi?" keluh Mariana. "Bisakah kalian pulang ke jepang, setelah hari ke empat puluh satu?"
Kameie menatap besan perempuannya. "Maafkan saya. namun, masih banyak urusan pekerjaan yang tertunda. syaa harus menyelesaikan berbagai jenis tugas yang diembankan kepada saya." jawabnya dengan senyum tipis.
Mariana hanya bisa memaklumi saja. Kameie menatap putrinya.
"Kamu sudah tahu, apa tugasmu?" pancing Kameie.
Chiyome mengangguk mantap.
Fitri menyambut uluran tangan suaminya dan bangkit lalu melangkah ke kamar. tak berapa lama ia keluar menyeret kopor pakaian. sementara Kameie melangkah menuju pintu keluar, Chiyome mendekati ibunya.
Fitri tersenyum, "Kami berdua, pulang dulu ya nak? nanti jika waktu masih mengijinkan.... kita pasti akan kembali... rawatlah Saburo dengan baik dan berikan dia, ilmu yang terbaik. sayangi suamimu dan jangan pernah membantah selama itu bukanlah sebuah kedzaliman. penuhi keinginan ayah-ibu mertuamu sebagai bentuk penghargaan kamu kepada mereka."
"Okaasan jangan bicara seperti itu, seakan kita nggak akan bertemu lagi." rengek Chiyome.
Fitri kembali tersenyum."Nggak. Okaasan hanya ingin menegaskan kepadamu, bahwa kehidupan manusia itu relah memiliki garis masing-masing, hingga ke akhir batasnya. ketika tiba pada batasnya, maka disitulah berhentinya." wanita parobaya itu membelai pipi putrinya. "Jika Aisyah tidak dapat memenuhi kebahagiaannya, aku berharap, kau menjalani hidup penuh kebahagiaan... Allah bersamamu, nak."
Fitri melepaskan belaiannya lalu menyeret kopor melangkah keluar. disana Kameie telah menunggu dan didepan jalan sebuah bentor telah menunggu pula.
Chiyome sempat mengejar ke depan, begitu pula Sandiaga. namun mereka telah melihat pasangan suami istri itu telah duduk dalam bentor dan kendaraan itu melaju meninggalkan tempat tersebut. Chiyome menahan hatinya untuk mengejar kedua orang tuanya.
📱"Hubby...." ujar Chiyome dengan lirih.
📱"Wiffy... Otoosan sudah tiba dirumah?" tanya Kenzie.
📱"Baru saja pergi membawa Okaasan. meraka pulang ke jepang, hari ini." jawab Chiyome.
📱"APA? PULANG?!" seru Kenzie, "Waahhh... nggak benar ini! Hubby akan mencegat mereka di bandara."
📱"Biarkan saja, Hubby." kata Chiyome. "Hubby akan mendapat masalah baru jika mencegat mereka."
📱"Tapi," protes Kenzie.
📱"Nggak usah Hubby!" tandas Chiyome yang mulai terpancing emosinya. lama keheningan menyelimuti. keduanya berusaha mengatur emosi.
📱"Baiklah...." jawab Kenzie pada akhirnya.
keheningan kembali melanda. lama kemudian, Chiyome menarik napas.
📱"Hubby... Wiffy tunggu di Kediaman Lasantu... kita harus mendiskusikan sesuatu." ujar Chiyome dengan suara serak.
📱"Baiklah..." ujar Kenzie menyanggupi, "Tapi, Hubby lagi tunggu Trias... ada juga yang hendak Hubby diskusikan dengan dia."
📱"Baiklah." kata Chiyome, "Setelah itu, pulanglah... Wiffy kangen..."
Kenzie tersenyum.
📱"Hubby juga, sayang... i love you, Chiyome Mochizuki..." jawab Kenzie dengan lirih lalu menyisipkan emonji 😘kepada Chiyome.
wanita itu tersenyum dan memutuskan komunikasi seluler. ia menyimpan gawainya lalu melangkah balik menuju ruang keluarga.
...***...
Trias tiba di kantor resort Kota. reserse itu mengenakan kaos berbahan wol dengan sulaman huruf simbol Alan Walker pada bagian kanan dada. celananya sudah diganti dengan jins ketat yang dibalut sepatu lars pendek. lencananya dikalungkan di leher sedangkan revolver raging bull kesayangannya itu tersarung dalam holster yang tersemat disisi kanan pinggangnya.
__ADS_1
dikoridor, ia bertemu dengan Aldi. "Dimana keluarga korban?" tanya lelaki berambut cepak itu.
"Diruang interogasi." jawab Aldi singkat.
keduanya baru saja melangkah, muncullah Bambang yang langsung menyemburkan umpatan. "Tuangala le ngana! kiapa ngana nya bilang kalau tu Papa tiri tu korban, yakuza, Ha?!" lelaki minahasa itu meninju lengan atas Trias.
Trias mengaduh dan balas mengumpat. "Pemai, memang perlu ta kase tau pa ngana tu keterangan? nya penting le.."
"E, penting itu, Tahede!" balas Bambang kemudian menatap Aldi yang memandang dengan penuh minat. "Kita sandiri le nya sangka pas tu papa kandung korban bicara deng mangaku pa kita."
"Kereeennn..." gumam Aldi dengan semangat.
"Apanya yang keren?" tanya Bambang.
"Jika Ayah tirinya seorang yakuza..." gumam Aldi, "Berarti putrinya juga demikian. benar, kan Trias?" tebak Aldi membuat Trias disergap rasa tak nyaman.
"Lalu maumu apa?" pancing Trias.
"Aku akan menemui istri dari Pak Kenzie, saudaranya korban tersebut. aku akan mewawancarai dia untuk kebutuhan studiku tentang golongan undercover semacam itu." jawab Aldi dengan semangat. "Lagi pula, aku penasaran... apakah mereka memang segarang seperti yang dikisahkan dalam film-film aksi itu?"
"Kau ini nggak cocok jadi polisi... jadi sajalah kau wartawan." olok Bambang sambil tertawa diiringi kekehan Trias.
"Memangnya hanya jurnalis saja yang bisa melakukan wawancara?!" ujar Aldi memelototkan matanya ke Bambang membuat lelaki minahasa itu memgangkat tangan.
"Eisss.... kalian berdua ini bertengkar terus, macam Tom dan Jerry saja...." gerutu Trias. "Aku cabut dulu."
"Eh, kebetulan... kau dinantikan Pak Adnan dan Pak Kenzie diruang interogasi." sela Bambang.
"Aku memang mau kesana." jawab Trias lalu melangkah meninggalkan mereka berdua. ia terus berjalan menyusuri lorong-lorong dan tiba di ruang interogasi. lelaki itu membuka pintu dan memperhatikan Tiko Pangaribuan dan Kondika Reinha Rosarie (Koko), opsir kelahiran Larantuka, Flores itu baru saja memukuli Stefan yang bandel mengejek mereka.
Trias menutup pintu. Koko menatapnya dan tersenyum miring mirip cengiran. "Sori Kakak, Beta seng bisa bikin dia bicara. ini muka tepung trada mau mengaku."
Trias mengisyaratkan keduanya meninggalkan ruangan itu. Koko dan Tiko paham dan melangkah meninggalkan tempat tersebut.
"Buatkan aku kopi..." pesan Trias.
Tiko menatapnya, "Kopi gula aren, kan?" tebaknya.
Trias tersenyum dan mengangguk. Tiko mengangguk dan menyusul Koko yang lebih dulu meninggalkan ruangan. sejenak Trias melirik ke kaca dan ia tahu, Adnan dan Kenzie sedang menontonnya.
Stefan mengatur napasnya yang sesak. wajahnya sudah amburadul karena dipermak begitu rupa oleh Tiko dan Koko. opsir kekar berambut cepak itu duduk dikursi lalu menyeret mesin ketik ke hadapannya. Trias belum berbicara sepatah katapun, hanya sesekali melirik tersangka itu.
Trias mendehem sejenak lalu mengambil sehelai kertas ukuran folio dan menyelipkannya pada gandaran. ia kemudian memutar silinder itu dan mengatur skala letak kertas pada paper guide. setelah kertas itu tertata rapi pada gandarannya, Trias menjepitnya dengan bail.
"Sebaiknya kau bekerja sama." ujar Trias membuka suara. "Nggak usah keras kepala untuk sebuah kasus yang telah nyata pelakunya."
tak disangka, Stefan malah terkekeh. makin lama makin keras, seakan memprovokasi Trias agar terpancing emosinya dan melakukan kekerasan fisik kepada lelaki itu. namun Stefan salah. Trias tak seperti itu.
Trias balas tertawa pelan menanggapi sekehan tawa Stefan yang terdengar memuakkan.
"Tertawalah sepuasnya.... memang begitu seharusnya... sebab kau tak tahu, apa yang akan menimpamu sebentar lagi." komentar Trias menatap Stefan. lelaki itu melipat tangannya didada bidangnya. "Kau tahu? aku nggak perlu dihasut. aku nggak akan terprovokasi oleh segalanya tentangmu." Trias mencondongkan tubuhnya mendekat kearah Stefan dan ia berbicara pelan. "Asal kau tahu saja. aku nggak perlu mengotori pokungku milikku sebab mereka yang akan melakukannya untukku." ujar Trias menunjuk cermin.
"Dibalik cermin itu, ada keluarga korban. adik lelakinya, Ayah kandung dan ayah tirinya... kau dalam bahaya besar sekarang." Trias tertawa pelan lagi dan menegakkan tubuhnya.
"Kau tak bisa mempengaruhiku." ujar Stefan menggertak. "Aku tak takut pada kalian semua."
"Terserah kepadamu." jawab Trias. "Perlu kau tahu...dan aku tahu kau tak sepenuhnya mengetahui sisi lain dari korban. Aisyah memiliki ayah tiri seorang pentolan yakuza. beliau orang paling berpengaruh di Tokyo dan Ichinoseki. beliau sudah mengatakan padaku untuk mengulitimu hidup-hidup... Stefan... kau memang sial, bro... dia akan menerapkan hukum klan Yamaguchi-gumi kepadamu." Trias lalu mengembangkan senyum sinisnya yang penuh kemenangan melihat Stefan kehilangan senyumnya.
"Aku nggak bisa melindungimu, kawan. semua polisi disini sudah menyerahkanmu kepadanya." ujar Trias mengakhiri ceritanya sambil memperbaiki letak duduknya dan bersiap mengetik semua keterangan yang akan disampaikan Stefan.
"Aku butuh pengacara!" pinta Stefan.
"Kau akan mendapatkannya." jawab Trias, "Namun itu tak akan terjadi sebelum kau membuat pengakuan."
"Kau salah jika mengira aku segampang itu." ejek Stefan lagi sambil tersenyum lebar.
"Nggak perlu mengaku pun, aku sudah tahu." tukas Trias. cairan semenmu yang membasahi celanaku itu sudah kukirim ke laboratorium forensik untuk mencocokkan DNA. dan itu cocok... sangat cocok. kau benar-benar dipermainkan Allah dalam hal ini Stefan. kau tak tahu, selama pemerkosaan itu berlangsung, Kak Ais mengalami vaginismus sehingga semua cairan milikmu nggak ada yang masuk kedalamnya. semuanya meluber keluar dan mengendap diliang senggamanya...." jawab Trias kembali dengan sekehan tawa mengejek Stefan.
"Kau benar-benar jatuh kali ini... Stefan." gumam Trias.[]
__ADS_1