
sejak resepsi pernikahan itu, tak ada lagi yang mempermasalahkan status Kenzie sebagai Papa muda, dan status Trias sebagai Duda. mereka menerimanya, bahkan menghargainya. ketenaran kedua pemuda itu lebih terasa. bahkan para siswa kelas 10 yang melihat Kenzie dan Trias menjadikan keduanya bagai idol yang dipuja.
Trias tidak merasa terganggu dengan status idolnya, sebaliknya Kenzie merasa sangat terganggu karena mengkhawatirkan kecemburuan Chiyome yang makin menjadi karena tak lagi mengawani suaminya ke sekolah.
Adnan dan Mariana pernah memergoki Chiyome mengendus-endus seragam Kenzie untuk memastikan tak ada aroma pengharum lain selain pengharum yang disemprotkannya ke pakaian suaminya. Kenzie hanya menganggap perlakuan istrinya adalah wujud kecemburuan cinta. ia membiarkannya saja.
Adnan memberikan solusi sebuah mobil untuk Chiyome sehingga ia dengan bebas mengendarai dan mengantar Kenzie ke sekolah sekaligus menjemputnya. makin tambah iri dan gemas siswi-siswi kelas 10 itu melihat Kenzie yang turun dari mobil dan diciumi Chiyome sebelum mengendarai mobilnya meninggalkan sekolah. pameran ciuman suami-istri itu benar-benar membuat mereka baperan.
sedangkan Trias semakin dekat dengan Syarifah meskipun mereka tak memperlihatkan kedekatan iru, komunitas siswa SMUN 3 Kota Gorontalo sudah menjadikannya rahasia umum. jika disaat tertentu keduanya akan bersama-sama mengunjungi pusara Inayah dan berjanji memperkuat ikatan diantara mereka dengan pusara Inayah sebagai saksinya.
...********...
Budi mengendarai sepeda motornya dengan tenang menyusuri jalanan ketika sebuah mobil land cruiser menghadang jalannya. dari mobil itu menyeruak beberapa orang bertampang sangar. mereka menangkap Budi dan menyekapnya didalam mobil yang kemudian meluncur membelah jalanan. sepeda motor milik Budi dikendarai oleh salah satu preman tersebut.
Budi mengerjap-ngerjapkan matanya mengusir silau dari cahaya artifisial yang memantul dari semprong lampu. suasana disekitarnya gelap.
dimana aku? aduh celaka! dimanakah aku?
tak lama terdengar langkah kaki mendekat. Budi melihat Kenzie yang berdiri dihadapannya yang duduk terikat. salah satu preman membawa sebuah kursi dan meletakkan benda itu disisi Kenzie. pemuda itu membelalakkan matanya melihat Kenzie yang menggeser kursi itu kedepan dan mendudukinya.
"Bagaimana kabarmu, Ompong?" sapa Kenzie dengan sinis.
"Ken, Ken aku minta maaf dengan segala kesalahanku. tapu jangan permalukan aku seperti ini... Ken, tolonglah..." ujar Budi dengan wajah memelas dan menghiba.
Kenzie tersenyum. "Semestinya kalimat itu kau ucapkan pada saat resepsi pernikahanku, Ompong." pemuda itu menyandarkan punggungnya disandaran kursi dan kedua kakinya menyilang.
"Aku malu Ken. banyak orang disana. aku..." lolong Budi dengan putus asa.
"Dan kau pikir kami sekeluarga tidak malu ketika kau memposting foto-foto itu dengan tulisan 'Chiyome... Sugar Baby keluarga Lasantu... wuah... kau cocok jadi wartawan gosip Budi... apa itu sebabnya kau masuk kelas Bahasa?" Kenzie memuji sekaligus menyindir pemuda tersebut.
"Ken... aku..." ujar Budi yang sudah kehilangan kata-katanya bersama dengan keberaniannya.
"Apa? kau mencintai istriku juga?" todong Kenzie sambil memajukan punggungnya. "Waaahhhh.... kau ini harusnya ku apakan ya? membunuhmu masih terlalu enak buatmu."
Budi terkejut dengan ucapan Kenzie yang menatapnya dengan tajam.
"Sebutkan alasan yang bisa masuk dalam kadar logikaku Budi.... kenapa kau memposting gambar-gambar itu di akun blog sekolah?" tanya Kenzie dengan datar.
"Aku hanya ingin meyakini penyelidikanku tentang Trias dan dirimu. aku...." jawab Budi lagi.
"Lalu kemudian memposting gambarku dan istriku di akun blog sekolah supaya semua siswa mengetahuinya, begitu?" todong Kenzie.
Budi hanya mengangguk lemah.
"Ah... Budi.... kenapa kau suka sekali menyelidiki kehidupan kami? apakah dengan melakukan hal itu, kepuasanmu terlampiaskan?" tanya Kenzie.
Budi menunduk. Kenzie mengangguk-angguk. "Trias pernah bilang padaku bahwa ia menjanjikan pelaku fitnah itu akan menerima pukulan demi pukulan preman-preman. tapi aku mengubahnya sekarang. aku takkan menyuruh preman-preman itu memukulimu." kata pemuda itu.
"Terima kasih Ken. kau memang orang baik." puji Budi.
"Nggak... jangan terlalu senang dulu. aku nggak sebaik itu." kata Kenzie sambil berdiri.
dua orang preman maju menggotong tubuh Budi yang terikat. mereka membawanya ke sebuah ranjang. pemuda itu dibaringkannya ke ranjang itu sedang kedua tangan dan kakinya diikat pada sudut-sudut ranjang.
"Ken! apa yang kau lakukan? Ken! lepaskan aku!" ronta Budi dengan menggoyang tubuhnya.
Kenzie duduk disisi ranjang lalu menepuk-nepuk dada Budi. "Kau akan menjalani operasi. sebentar lagi, kau akan berubah status menjadi seorang transgender dengan nama Budiyana..." Kenzie bangkit dan menatapi Budi yang gelagapan dan meronta-ronta.
"Ken, jangan lakukan ini padaku! Ken! aku minta maaf Ken! jangan lakukan ini padaku!" teriak Budi yang histeris.
__ADS_1
"Tenang... aku akan menemanimu disini. jangan takut. lahirlah dengan sosok yang baru." kata Kenzie.
"Kenzie! berani kau melakukan hal ini. aku bersumpah kau akan membayarnya! aku pastikan kau akan membayarnya!" ancam Budi.
"Oooo... kau mulai berani sekarang? bagus. itu bagus. aku suka semangatmu. jangan kuatir, kau akan dibius agar tak merasakan sakit saat batang kejantananmu itu diganti dengan kelamin Mamamu... kau tak perlu memakai sabun lagi untuk onani. cukup gunakan saja terong." olok Kenzie sambil mengisyaratkan sesuatu.
tak berapa lama kemudian muncul beberapa orang mengenakan pakaian untuk operasi dan mengenakan masker. Kenzie sendiri mundur dan duduk dikursi. Budi yang meronta-ronta langsung dipegang oleh dua orang. salah satu orang itu memegang alat injeksi yang kemudian disuntikkan ke leher Budi.
Kenzie membiarkan Budi meronta dan berontak. " Ken. kau akan membayarnya! aku akan membuat kau menyesal! Ken!"
lama kelamaan rontaan dan pemberontakan itu mulai mengendur akibat pengaruh obat bius. Budi perlahan mengatupkan kedua matanya dan memasuki alam subsconcius. atas isyarat Kenzie, tim medis itu melakukan pekerjaannya.
...********...
25 Nopember 2020, 13 p.m.
Trias sedang duduk bercanda dengan Syarifah dikantin ketika Kenzie muncul. pemuda itu melangkah dengan santai menghamparkan tatapannya dan menemukan pasangan itu duduk disudut, jauh dari jangkauan karlota para siswi tukang gosip.
lagipula, siapa yang akan menggosipkan mereka? kelas 10 dan kelas 11 mungkin saja. Kenzie mendekati mereka.
"Sori kalau aku mengganggu kalian." kata Kenzie sambil duduk didepan mereka.
"Nggak, nggak apa-apa. lagipula ini tempat umum. bukan milik pribadi." jawab Ipah.
"Ya, tapi kamu tetap saja mengganggu." tegur Trias, "Kau nggak liat kami sementara memadu rindu dan kasih?"
"Sudahlah... nggak usah lebay membalasku. kalau kalian mau lanjutkan acaranya silahkan saja. aku rela menjadi tukang pukul nyamuk." jawab Kenzie. "Lagi pula kalau aku konak, kan tinggal pulang *****'in istriku."
" te huma'apa ti... " umpat Trias. "Nggak usah ungkit-ungkit begituan ya? kami berdua belum halal lho!"
"Gampang kok." sahut Ipah, "Aku bisa halalin kamu saat ini juga." gadis itu menggodanya, pura-pura membuka kancing baju bagian atas.
wajah Trias langsung merah sementara Kenzie hanya tertawa. Trias langsung menggelengkan kepala berkali-kali.
"Eh, memangnya kenapa dengan istriku?" tanya Kenzie tersinggung.
"Alaaaaa.... kayak nggak ingat masa lalu saja lo." tegur Trias menatapi Kenzie dengan nyalang.
"Tapi kenapa bawa-bawa nama istriku segala. gua gampar baru tau rasa lo!" ancam Kenzie sambil menarik sepatunya dari kakinya dan mengacungkannya ke arah Trias.
"Coba kalau berani lo. gua pake jurus macan, ****** lo!" ujar Trias balas mengancam dan mementangkan cakarnya.
"Sudah! cukup bertengkarnya!" bentak Ipah sambil mementangkan tangan menahan keduanya yang sudah siap untuk bertempur.
Kenzie menggerutu, begitu juga Trias. keduanya duduk kembali. sementara Ipah yang duduk kemudian menatap keduanya dan menggelengkan kepalanya.
"Kalian itu ya... unik... " ujarnya.
Trias menatapi Kenzie dan menjebikan bibirnya. sebaliknya Kenzie membalasnya dengan menjulurkan lidah.
setelah beberapa lamanya saling olok, Kenzie akhirnya mendehem, pertanda ia memberi isyarat serius.
"Yas... aku sudah membawa ponsel rusakku ke reparasi." kata Kenzie mengucapkan kalimat sandi.
"Terus kamu minta apa sama operator itu. ada bisi juga disana tooo?" sahut Trias membalas dengan kata sandi.
"Aku suruh ganti casingnya." jawab Kenzie enteng.
Trias tertawa mendengar ucapan Kenzie. "Casing gimana? jangan macam-macam kau Ken. itu ponsel milik orang lho."
"Biarin... siapa suruh dipake untuk fitnahi orang. biar dia merasakan hal yang sama. masih untung aku nggak membanting ponsel itu sampe berkeping-keping." jawab Kenzie.
pemuda itu mengalihkan pembicaraan. "Eh, besok aku ngantor. kau mau ikut ke kantor nggak?"
__ADS_1
"Lho... kenapa ngajak-ngajak aku?" ujar Trias sambil memberi isyarat Kenzie dengan mata yang menoleh-noleh kearah Ipah.
"Kan kamu pemilik saham 25 persen. gimana sih? ntar kalau sahamnya anjlok, tau rasa lo." kata Kenzie.
"Ah... nggak bakalan." ujar Trias sambil tersenyum santai.
"Kenapa? kok kau yakin sekali?" ujar Kenzie sambil memicingkan mata.
"Kau pikir Om Adnan akan diam saja membiarkan saham mengalami kritik poin? aku yakin kau juga nggak akan membiarkan hal itu." jawab Trias sambil terkekeh membuat Kenzie hanya tersenyum masam saja.
"Aku nggak punya hasrat jadi pengusaha. kau punya bakat itu. jadi, jagalah kerajaan kita berdua. aku sangat mengandalkanmu." ujar Trias sambil maju dan menampar bahu Kenzie.
"Terserah kau saja." kata Kenzie langsung bangkit.
"Mau kemana kamu? jam sekolah belum usai woy." tegur Trias.
Kenzie memperlihatkan arlojinya."Sudah setengah jam kita disini. kau nggak mau masuk? suka di black list kamu?
"Astaga! aku lupa!" seru Trias sambil berdiri dan mengajak Ipah keluar dari kantin diikuti oleh Kenzie yang tertawa menang.
...*********...
Hari itu adalah peringatan hari guru se-indonesia. Ibu Gitarja selalu menjelaskan betapa beratnya menjadi seorang guru jarena dituntut harus bisa cerdas dalam mendidik siswa.
tiba-tiba Kenzie yang sedari tadi diam langsung mengangkat tangannya.
"Ya, Kenzie? ada yang ingin disampaikan?" tanya Ibu Gitarja. pemuda itu mengangguk lalu bangkit sejenak, menatapi teman-teman sekelasnya kemudian menatapi guru tersebut.
"Tadi ibu mengatakan bahwa guru harus dituntut pintar karena menjadi tangan pertama yang mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik." kata Kenzie.
"Ya, itu benar." jawab Ibu Gitarja. "Terus?"
" Jika memang seperti itu, ibu seorang guru, kan?" pancing Kenzie.
"Iya... terus?" tanya Ibu Gitarja dengan penasaran.
"Kenapa bukan ibu saja yang jadi penguasa, atau minimal menjadi orang yang sukses?" tantang Kenzie sambil tersenyum dan duduk kembali.
Ibu Gitarja terdiam sesaat. sepertinya yang dikatakan oleh guru-guru lain, kenzie ini memang cerdik. kritis. baiklah kalau begitu....
"Ibu permisi sebentar." kata Ibu Gitarja sambil melangkah keluar kelas. agak lama juga guru itu kemudian masuk membawa timbangan duduk dan meletakkannya diatas mejanya.
"Bu, ini bukan mata pelajaran ekonomi, kenapa bawa-bawa timbangan?" tegur Kenzie.
"Berarti kamu tau bentuk timbangan ini?" pancing Ibu Gitarja.
"Ya taulah bu. jenis timbangan ini kan sering ditemui di tempat penjualan daging dan sayur." jawab Kenzie sambil menyilangkan kedua tangannya didadanya.
"Bagus. coba kau bayangkan ditangan Ibu sekarang tergenggam sebongkah emas dengan berat 5 ribu kilogram. menurutmu, berapa harga emas seberat itu?"
Kenzie menyipit sejenak untuk berpikir, "Hm. kira-kira, kalau melihat harga emas sekarang, 1 gram emas berharga 800 ribu, maka... 5 ribu gram emas adalah 4 milyar Rupiah." jawab Kenzie dengan nada yang dimantap-mantapkan.
"Bagus. " puji Ibu Gitarja. "Sekarang coba kau bayangkan ada orang yang membawa timbangan ini untuk dijualnya kepadamu dengan harga 5 ribu kilogram. maukah kau membelinya?" tantang ibu Gitarja.
Kenzie tertawa. "Ibu bercanda ya? tentu saya nggak akan membelinya. saya bisa mendapatkan timbangan sejenis dengan harga sekitar 2 juta-an. ngapain saya membayar 4 milyar hanya untuk sebuah timbangan itu?"
"Tepat.." ujar Ibu Gitarja. "Tahukah kamu seberapa bernilai kalian dihadapan kami, para guru?" pancing guru itu lagi.
Kenzie menggeleng dengan jujur. Ibu Gitarja tersenyum. "Kalian itu bagai emas seharga 4 milyar itu. dan kamilah timbangan seharga 2 jutaan itu. kamilah timbangan bobot prestasi kalian dan kalianlah perhiasan dunia ini. biarkan kami para guru menjadi timbangan itu agar kalian bisa mengukur sejauh mana kompetensi kalian." jawab Ibu Gitarja.
jawaban sang guru, berhasil memberi kesan mendalam dalam sukma pemuda tersebut. ia terdiam lama hingga bunyi bel pulang menggema.
*ah... kalian para guru memang luar biasa...
__ADS_1
selamat hari guru*...[]