
esok adalah hari yang paling dinantikan oleh kedua calon mempelai tersebut. bagaimana tidak? segala persiapan telah disiapkan sepenuhnya.
Fitri bersama suaminya, Kameie, berkunjung ke Suwawa, tepatnya kediaman Mantulangi. disana akan diadakan doa selamatan, semoga harapan baik akan terus melingkupi calon keluarga baru itu.
mereka diterima dengan sangat baik. hanya ada sedikit ketidak sepahaman bahasa karena Kameie menggunakan bahasa jepang. Kenzie dan Chiyome memang sejak sore bersama putranya telah berada di kediaman tersebut.
Chiyome bertindak sebagai penerjemah kata bagi ayahnya kepada semua penghuni rumah maupun tetangga. mereka baru paham jika Chiyome yang menterjemahkan ucapan lelaki tersebut.
Bapu Ridhwan mengundang kaum lelaki untuk masuk ke ruangan yang lapang. Kameie yang keheranan tetap dipandu Fitri dan disuruh duduk disisi Bapu Ridhwan. kaum lelaki duduk mengelilingi ruangan.
tak lama kemudian beberapa bujang membawa kain sutera putih lalu menghamparkannya ditengah ruangan. setelah itu berbagai hidangan tradisional mulai dibawa dan diletakkan diatas kain itu. setelah itu piring-piring di edarkan disisi-sisi hidangan itu.
Bapu Ridhwan berbicara sesekali menggunakan isyarat tangan bahwa saat ini diadakan ritual kenduri tapi lebih dikenal dengan istilah mongaruwa untuk memohon berkah bagi pasangan calon mempelai.
setelah mempersilahkan tuan rumah, orang yang dituakan kemudian membaca beberapa ayat-ayat Al-Qur'an setelah itu lalu membaca beberapa wirid.
Kameie menatapi saja beberapa orang disekitarnya mengangguk-anggukkan kepala sambil melafal wirid la ilaha illa Allah beberapa kali. makin lama makin cepat membuatnya makin terheran. apalagi ia melirik Bapu Ridhwan juga dengan sikap yang sama.
nantilah gerak mengangguk-anggukkan kepala itu selesai, Kameie mendesah lega. sebenarnya ia panik juga. pasalnya Ustadz Taki Takazawa tidak pernah menyinggung dan melaksanakan ritual ini.
tuan rumah mempersilahkan makan. Bapu Ridhwan mengisyaratkan Kameie untuk ikut makan dengan mempergunakan tangan. lelaki jepang itu sempat terkagok-kagok mengikuti adat setempat yang mengharuskan makan dengan menggunakan tangan. sendok hanya diletakkan di piring sayur dan lauk, entah ikan ataupun daging.
lama jadi biasa, itulah yang ada dalam sikap Kameie. lelaki itu akhirnya menjadi lancar menggunakan tangannya untuk makan. ia sempat ditawari berbagai sayur dan lauk dan Kameie menerima semuanya karena tidak ingin menyinggung tuan rumah.
Bapu Ridhwan mengisyaratkan jika memang Kameie tidak menyukainya, boleh menolak asalkan dengan sikap yang sopan. lelaki itu kemudian mengangguk-angguk paham.
setelah acara makan itu selesai dan para bujang sudah membersihkan peralatan makan dan hidangan, kini mereka mendengar calon mempelai wanita mengaji, sementara calon mempelai lelaki mendapat pengarahan dari kepala KUA tentang hak dan kewajiban dalam berumah tangga.
Aisyah memperdengarkan suaranya yang merdu saat melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. suara merdunya sempat membuat Chiyome iri karena lidah jepangnya sering tidak sinkron dalam melafalkan beberapa abjad hijaiyah.
Kenzie hanya tersenyum melihat wajah istrinya yang manyun. "Santai Wiffy, Hubby nggak pusing suara Wiffy mau kayak apa. cinta Hubby nggak berkurang sedikitpun." ujarnya lelaki itu membuat Chiyome kembali tersenyum.
sementara bayi Saburo bermain-main ditengah ruangan itu. terkadang ia bermain disisi Kameie, terkadang bermain disisi Adnan dan Bapu Ridhwan.
"Kamu tahu, Kameie? aku memprediksi, cucu kita akan menjadi seorang jogugu yang akan disegani. aku melihat aura seorang penguasa pada dirinya." kata Bapu Rodhwan.
"Jo-gu-gu?" eja Kameie dengan nada tanya.
"Jogugu... seorang pembesar, negarawan, atau mungkin orang yang akan memegang peranan penting." jawab Adnan.
Kameie hanya mengira-ngira saja maksud perkataan lelaki itu. Kameie sedikit banyak paham bahasa indonesia meski jika berbicara ia masih agak canggung, sehingganya Fitri atau Chiyome yang menjadi penerjemahnya.
"Soda to i..." gumamnya. (semoga saja begitu)
acara itu selesai sementara didapur terjadi kegiatan yang luar biasa. malam itu diadakan kegiatan malam bakupas. kegiatan wajib yang dilakukan untuk menyongsong hari pernikahan pada esoknya. seluruh ibu-ibu bekerja sama mengupas kulit sayuran, mengulek bumbu. menjerang sup. bahkan Fitri dan Chiyome ikut bergabung. wanita jepang itu kebagian tugas menyiapkan bumbu berbasis santan, berdasar pengalamannya meramu makanan pilitode.
para lelaki pindah tempat duduk ke beranda. beberapa kaum tua sudah pamit permisi. jadilah diberanda itu duduklah Adnan, Kameie, Bapu Ridhwan, Kenzie dan Endi.
"Bapu tidak melihat anakmu, Endi. kemana dia?" tanya Bapu Ridhwan.
"Dia lulus seleksi calon bintara kepolisian Bapu. sekarang menempuh pendidikan di SPN Batuda'a." jawab Endi dengan santun.
"Dan tidak pernah memberitahu saya." gerutu Kenzie yang sementara asyik memondong Saburo.
Endi hanya tersenyum simpul sedang Bapu Ridhwan menatap cicitnya itu. "Maksudmu?"
"Semula aku sudah curiga, kenapa dia sudah mengubah gaya rambutnya dengan cepak seperti itu. hanya saja dia selalu mungkir, ternyata benar juga dugaanku." gerutu Kenzie lagi.
"Itu sengaja. supaya kamu nggak mencemaskan dia." jawab Endi, "Tadinya dia mau masuk tentara, tapi Abah tolak. kafi ya dia pilih berkarir di kepolisian saja."
Kenzie hanya memberenggut sambil terus memondong Saburo yang nggak bisa diam. Adnan mengangguk.
"Semoga Trias bisa jadi aparat yang bertanggung jawab dan loyal kepada negara indonesia." ujar Adnan.
Bapu Ridhwan menatap Kameie. "Bagaimana dengamu? apa kau merasa tak biasa? kulihat tadi kau keheranan dan nyaris panik."
"Apakah... agama isram di gorontaro seperti ini?" tanya Kameie.
__ADS_1
"Islam itu luas nak. kamu jangan berpikir bahwa Islam itu hanyalah sebuah ajaran yang datang dari tanah arab saja." jawab Bapu Ridhwan. "Islam masuk ke Gorontalo melalui ajaran mistis semisal tasawuf. jadi wajar kalau kamu melihat kami mempraktekkan beberapa kegiatan yang menurut kamu aneh.... tapi sebenarnya tidak. jika kau ingin lama tinggal disini... misalnya, setahun saja. kau akan mendapati banyak hal yang unik seputar islam disini."
"Putrimu yang sudah merasainya. dan dia menikmatinya." tambah Adnan mengompori Kameie.
"Ah, ternyata Chiyome sangat beruntung hidup disini." ujar Kameie dengan sunggingan senyum lebar.
"Sangat-sangat beruntung." tambah Adnan kembali mengompori Kameie.
Kameie hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. tak lama kemudian Chiyome muncul membawa senampan berisi gelas-gelas yang dituangi air kopi dan sepiring kue cucur.
"Hai semua. silahkan nikmati penganan ini. asli buatan saya lho." kata Chiyome seraya meletakkan nampan itu di meja.
"Benarkah? Wiffy yang buat??" tanya Kenzie dengan takjub.
"Nggak semuanya Hubby, Okaasan yang membuatnya, aku yang memasaknya." jawab Chiyome membuat mereka tertawa dengan kelucuan wanita itu.
"Ah, cicitku ini memang luar biasa." puji Bapu Ridhwan mengacungkan dua jempol. kakek itu kemudian menatap mereka. "Ayo habiskan kue ini." perintahnya.
seketika mereka langsung mencomot kue tersebut, termasuk Kameie. mata lelaki jepang itu sedikit-sedikit membesar menikmati kekenyalan kue tersebut.
"Ini.... unik..." sahutnya.
"Enaknya..." puji Adnan.
"Betul Pa... tapi sayang... cuma sedikit. coba kalau banyak.." sindir Kenzie.
"Oke Hubby, nanti Wiffy minta Okaasan untuk buat lebih banyak lagi!" seru Chiyome dengan gembira dan langsung berbalik meninggalkan kaum lelaki yang bercengkerama itu.
Bapu Ridhwan menatap Kenzie. "Anak itu sangat telaten Kenzie. pertahankan terus!" kata kakek itu.
"Tentulah Bapu... kami akan terus bersama!" tandas Kenzie sambil mengunyah kue cucur tersebut.
"Bagus!" seru Bapu Ridhwan dengan senyum puas.
...******...
angin malam menyapu lengannya yang terbungkus jas mantel hitam. syal hitam semakin dieratkannya dileher. rambutnya yang sebagian besar beruban, bercampur dengan sebagian rambutnya yang masih hitam membentuk warna kelabu pada kesemua rambutnya.
tak lama kemudian datang seorang lelaki mengenakan hem warna krem dan celana panjang katun warna hitam. rambutnya agak panjang dan tatapan matanya tajam.
"Orang yang ingin kau temui tak berada ditempat. pulanglah." kata Kartono dengan senyumnya. lelaki itu memperbaiki sikap duduknya.
lelaki itu bermata tajam dengan kulit merah tabo, rambutnya panjang sebahu. ia terkekeh, "Memangnya orang itu berada dimana? beritahukanlah kepadaku." pinta lelaki tersebut.
"Wah, kalau itu silahkan kau mencari sendiri." sindir Kartono dengan senyum. "Bukankah Aisyah selalu mencarimu sendiri? nah gantian sekarang. kamu cari mereka sendiri."
"Dasar orang tua bangkotan! sudah uzur masih banyak bacotnya!" umpat lelaki itu.
"Wey bro. aku ini masih muda lho. masih seusia bapak kamu. sopanlah sedikit kalau bicara dengan seniormu. apa kamu nggak pernah dididik tata krama oleh orang tuamu?" sindir Kartono masih dengan gaya duduknya yang bahkan kini malah menyandarkan kedua kaki diatas meja.
"Rupanya keluarga Lasantu terlalu sombong dan suka berbangga diri." ujar lelaki itu.
"Stefan... kamu Stefan, kan?" tebak Kartono.
lelaki di hadapannya hanya diam sambil terus menatap tajam kearah si pemilik mantel hitam dengan rambut kelabu tersebut.
"Semestinya alamat sombong dan suka berbangga diri itu ditujukan padamu. bukankah kamu yang selama ini memperalat Aisyah untuk memenuhi nafsu tongkat nafsumu itu? setelah kau dapat manisnya, kau sembunyi diri. ah... benar-benar pengecut!" sindir Kartono lagi.
"Apa kau bilang?! ulangi sekali lagi!" ancam Stefan.
Kartono akhirnya meletakkan kakinya dilantai lalu melangkah pelan hingga akhirnya berdiri dihadapan Stefan yang tegak mengangkang kakinya dengan jemari yang terkepal.
"Apakah ditelingamu itu hanya ada hal-hal semacam itu? kalau memang iya. wah Babi saja kalah denganmu. bagaimana kalau kusebut saja kamu Bandot muda?" sindir Kartono.
"Lelaki edan!!" seru Stefan melayangkan tinjunya.
namun tinju itu hanya mengenai ruang kosong. wajah Kartono tak ada disana menyambutnya.
"Wah, sangat pemarah dan emosian." ujar Kartono yang tiba-tiba muncul dibelakang Stefan dan memutarinya. "Tapi aku salut, kamu bisa menyembunyikan kebuasan itu dalam sikap lemah lembut membuat Aisyah yang lugu jatuh hati padamu."
__ADS_1
"Enyah kau!" seru Stefan melayangkan tendangan menyapu wajah lawannya. namun sekali lagi wajah Kartono tak berada disana menyambutnya. dengan geram Stefan mencari-cari jejak lelaki berjambul uban itu.
"Dimana kau?! tampakkan dirimu!" seru Stefan dengan jengkel.
"Aku sejak tadi disini lho." ujar Kartono yang sekarang sudah duduk lagi dengan santai di kursi beranda.
dengan beringas, Stefan menghujamkan tendangan setengah menginjak. dengan tangkas Kartono menyorongkan pula sebelah kakinya ke depan.
TAKKKK!!!!!
kedua telapak kaki berbalut sepatu itu bertemu. namun Stefan terkejut menyadari ada daya dorong keluar dari sana dan tubuh Stefan terhempas kebelakang. untung saja lelaki itu langsung berdiri tegak dengan kuda-kuda yang menghentak keras ditanah.
Kartono kembali bangkit memperbaiki mantel hitamnya dan mengeratkan kembali syal yang melingkar dilehernya.
"Anak muda.... kelihatannya kau memang membutuhkan pencerahan." ujar Kartono sambil maju.
"Berhenti!" sahut suara wanita yang membuat Kartono menghentikan langkahnya. lelaki berjambul uban itu sedikit menoleh ke belakang.
"Umi..." sahut Kartono.
seorang wanita mengenakan jilbab dengan pakaian ringkas muncul menjajari Kartono. wanita itu tak lain adalah Azizah, istrinya. tatapan wanita itu tak kalah tajam membuat Stefan sempat terkejut.
wanita ini memiliki aura membunuh....
"Kau nggak akan puas bermain-main dengan suamiku. dia pecinta damai yang menyembunyikan kuku mautnya. kalau kau ingin permainan yang serius, kemarilah... hadapi aku." tantang Azizah.
"Umi...." tegur Kartono.
"Biarkan saja dulu Umi bermain... kalau sudah bosan, Abi silahkan membunuhnya." rengek Azizah.
Stefan terkejut dengan ungkapan wanita itu. dia nggak main-main....
Kartono mengangkat bahunya lalu berbalik dan duduk lagi dikursi beranda.
"Aaahhhh.... lumayan, ada pertandingan gratisan yang bisa ku tonton.... tak perlu menghabiskan uang.. cukup menikmati saja." ujar Kartono kembali menyandarkan kedua kakinya di meja.
kini Azizah berdiri tegak dihadapan Stefan yang juga berdiri tegak. lelaki berkulit merah tabo itu tersenyum sinis.
"Tante jangan marah kalau kugerayangi tubuhnya..." goda Stefan.
Azizah menarik napas dalam. emosinya memuncak. perasaannya terbakar.
"Santai saja Umi. dia hanya memprovokasi." tegur Kartono dengan tenang.
Azizah langsung memperagakan kembangan langga bua gaya linula Tapa. tangannya terkepal dan mengarah kebawah.
"Maju anak muda. jangan sungkan menyambut ajalmu!" ejek Azizah.
"Banyak bacot!!" seru Stefan maju mengayunkan tinju.
namun betapa terkejutnya Stefan ketika dengan tangkas Azizah menangkap pergelangan tangannya dan menyusul sikut wanita itu menjurus masuk bersarang ke pipinya.
BLETAGH!!!
Stefan merasa barisan giginya ambrol terkena sikutan itu. pemuda itu terjajar kebelakang. belum sempat Stefan sadar. Azizah telah maju menyerang lagi dengan gertakan hendak menendang.
Stefan termakan tipu. ia menangkis namun ternyata Azizah malah maju mengarahkan tumbukan tinju mengenai rusuk bagian kanan menimbulkan nyeri luar biasa. Stefan kembali terjajar ke belakang. dan kali ini, Azizah benar-benar melayangkan tendangan.
Stefan tersungkur ke belakang dan bangkit dengan wajah penuh kesakitan.
"Tante.... jurus apa yang tante pakai?!" tanya Stefan.
"Kami keluarga Bobihu, pemilik sah benteng Otanaha hanya memberi sedikit pelajaran kepadamu. jangan hendaknya kau sombong. dan hilangkan niatmu untuk mencari masalah dengan keluargaku. ingat! aku sudah merasaimu. bukan tak mungkin dipertemuan kedua, aku akan membunuhmu!" Seru Azizah dengan lantang.
Stefan tersenyum, "Kali ini aku mengaku kalah. namun jika tante memintaku untuk melepaskan dendam ini, maafkan aku... aku menolaknya. lain kali, kita bersua dalam pertarungan... akupun tak segan untuk membunuhmu!"
setelah mengeluarkan ancaman itu, Stefan berbalik dan melangkah pergi. tubuhnya melebur dalam kegelapan dihadapannya.
Kartono dan Azizah hanya menatap dalam diam. keduanya tak bicara sepatah kata pun. []
__ADS_1