Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 89


__ADS_3

"Zanshin...?" gumam Ipah, terbelalak.


Zanshin, secara umum dikatakan kewaspadaan terhadap serangan berikutnya. seorang praktisi yang memiliki zanshin akan bisa membaca apa yang akan dilakukan oleh penyerang berikutnya. atau jika ia dalam posisi menyerang, maka ia akan tahu gerakan jenis apa yang ia lakukan setelah melihat gerakan sebelumnya mampu melemahkan pertahanan lawan.


Chiyome menatapnya lalu mengangkat alis. "Kau sudah paham?" tanya ibu muda tersebut.


Ipah mengangguk mantap. Chiyome memperlihatkan senyum jenakanya. "Kurasa tadi kau hanya terfokus pada cara bagaimana mematahkan serangan karasu tengu no gurrea milikku, kan? sehingga kau tak sempat berfikir apa seranganmu bisa mengenaiku atau tidak." tebak Chiyome.


Ipah hanya tertawa malu sambil meringis menahan sakit. ibu muda itu mengangguk-angguk lagi. "Kita lanjutkan? jujur aku kecewa kalau kau menyerah." pancing Chiyome, "Nggak gampang lho, aku mau share pengetahuan ini sama orang lain."


terpancing motivasi dibalik sindiran itu membuat Ipah langsung bangkit.


"Ayo kita lakukan lagi! aku akan mengalahkanmu kali ini!" tandas Ipah, meskipun ia tak yakin dengan kata-katanya.


Chiyome berdiri dan tertawa lalu mengacungkan jempolnya. "Semangat yang bagus." pujinya sambil tertawa kecil.


kedua wanita itu kembali memasang sikap. seperti biasa, Chiyome yang sudah setingkat shihan hanya memasang gaya shizentai, ketimbang Ipah yang masih dalam tingkatan Senpai tingkat 1, tetap saja menggunakan dachi (kuda-kuda atau postur gaya) untuk memperkuat serangan maupun pertahanannya.


"Menyerang atau diserang?" tanya Chiyome sambil tertawa.


ibu muda itu sengaja tak menggunakan lagi teknik karasu tengu no gurrea, untuk menguji sejauh mana kemampuan serangan Ipah tanpa terpengaruh oleh serangan mental lewat teknik tatapannya.


"Aku akan menyerangmu!!" seru Ipah yang menyalurkan ki-ai lewat ucapannya tadi, maju menyerang dengan melayangkan tendangan mawashi mengicar rusuk Chiyome sebelah kanan.


TAK! PLAK!... TAK! PLAK!...


dua kali Ipah menyarangkan tendangan mawashi dan dua kali pula Chiyome mengangkat lututnya memperisai rusuk yang disasar oleh Ipah dengan serangannya. Ipah maju melayangkan pukulan nukite mengancam leher Chiyome. ibu muda itu bergeser ke kanan dan mengayunkan shuto uchi menekan pergelangan tangan Ipah yang menusukkan nukite tadi.


dari ayunan shuto uchi, kembali Chiyome mengayun ke kenan mengancam wajah Ipah dengan teknik kumade. sontak Ipah mengarahkan juga teknik kumade untuk menangkap tangan Chiyome yang terulur mengancam wajahnya.


Chiyome buru-buru menarik lengan kanannya. ia berputar dan mengayunkan shuto uchi kali ini mengincar tengkuk Ipah.


gafis itu sontak menjatuhkan diri dan melakukan rolling kedepan sehingga serangan Chiyome mentah. ibu muda itu sempat terkejut melihat Ipah rol ke depan dan berbalik menghadap ke arah Chiyome.


"Hebat juga kamu." puji Chiyome. "Aku akan mulai menggunakan karasu tengu no gurrea untuk menguji tingkat zanshin yang kau terapkan.


Chiyome memutar dan melayangkan ushiro keri mengancam wajah Ipah yang masih sementara duduk merunduk. spontan Ipah menyilangkan kedua lengannya lagi menangkis tendangan yang dilayangkan Chiyome.


tubuh Ipah terjajar. Chiyome maju dan melompat melayangkan tendangan mae tobi geri mengancam wajah Ipah. gadis itu kembali melakukan roll kedepan dan bangkit membalik dengan melayangkan tinju seiken lebih mirip seorang petinju.


Chiyome yang baru saja menjejak matras kembali melompat ke arah Ipah mengayunkan tendangan yoko tobi keri. sesaat kemudian telapak kaki Chiyome menghantam tinju seiken milik Ipah.


BLETAKKKKK...


baik Chiyome maupun Ipah merasakan benturan tenaga membuat keduanya terpental. Chiyome jatuh dengan posisi menyamping menumpu ponggulnya dengan kedua tangannya sedang Ipah terlempar setombak ke belakang dan terjengkang kemudian bangkit dan memijit pergelangan tangannya yang sakit ketika membenturkan tinjunya dengan telapak kaki Chiyome saat dia menyerang.


Chiyome sendiri bangkit dan berdiri agak menjingkit, pertanda pengaruh pukulan ipponken yang didatangkan ditelapak kakinya sedikit berdampak padanya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ipah dengan cemas.


"Kamu sendiri gimana?" olok Chiyome tertawa. Ipah hanya menggaruk kepalanya dan tersenyum malu.


"Bisa kita serius sekarang?" tanya Chiyome.


Ipah bangkit dan menggoyang-goyangkan tangannya sejenak lalu kembali ke postur gayanya semula. "Aku sudah serius sekarang." ujar Ipah.


Chiyome mengangguk dan berdiri tegak lagi dengan posisi shizentai. tangannya terulur maju.


"Datanglah..." panggilnya.

__ADS_1


dengan pekikan ki-ai, Ipah melompat melayangkan tendangan yoko tobi geri. Chiyome hanya menggeser tubuhnya sedikit. begitu mendarat, Ipah memutar melayangkan ushiro geri.


Chiyome menangkis dengan haiwan uchi uke mementahkan tendangan Ipah sekaligus mendorong kakinya keluar, lalu Chiyome maju melayangkan tinju nakadaka mengancam punggung Ipah.


BUK!!!! UGH...


Ipah melenguh merasakan tinju Chiyome mendarat dipunggungnya. tubuh gadis itu terdorong ke depan. Ipah cepat berbalik. tiba-tiba Chiyome melesat ke udara dan melayangkan pukulan kumade mengincar batok kepala Ipah.


gadis itu terkejut tak menyempatkan lagi menangkis serangan itu. ia pasrah.


tiba-tiba sesosok tubuh menyeruak mendorong Ipah membuat gadis itu terlempar kesamping. sosok itu menangkis ayunan cakar Chiyome yang nyaris menyentuh batok kepalanya. Chiyome dengan cepat menarik cakarnya dan tangan satunya maju melayangkan pukulan hiraken. namun sosok itu sudah tahu arah sasaran pukulan Chiyome. ia berhasil menangkapnya ketika tinju itu tinggal beberapa senti menyentuh batang tenggoroknya.


Chiyome terkejut menyadari dua serangannya dimentahkan sosok itu dan lebih terkejut lagi ia melihat siapa sosok yang berhasil mementahkan 2 serangannya.


"Trias???..." ujar Chiyome dengan gemetar.


Trias menatap Chiyome dengan tatapan tajam. merasa tertekan, ia balas mengerahkan teknik tatapan karasu tengu no gurrea, mengimbangi tatapan pemuda itu.


"Katakan padaku dengan jujur, Chiyo...." ujar Trias masih menggenggam tinju hiraken milik Chiyome. "Apakah kau.... yang membunuh Burhan?"


Ipah yang sedari tadi bangkit menatap keduanya dengan rasa keterkejutan yang luar biasa.


"Apakah kau punya bukti, jika aku yang membunuhnya?" tantang Chiyome dengan suara datar makin menambah aura keangkerannya.


"Apa yang kugenggam ini bukan buktinya?" sogol Trias membuat Chiyome langsung menghentakkan tangannya hingga genggaman Trias terlepas.


Chiyome berbalik dan mengatur suasana hatinya. lama wanita itu diam sementara Trias terus menatap wanita itu. Chiyome menarik napas sejenak lalu berbalik dan menatapi Trias dengan tajam dan mengintimidasi.


"Ya... aku terpaksa membunuhnya karena dia menyerangku ketika aku berupaya menangkapnya." jawab Chiyome pada akhirnya.


"Apakah dia memang harus dibunuh?" tanya Trias dengan gemetar. "Kau tahu apa imbas dari terbunuhnya pemuda itu, kan?"


Chiyome kembali memalingkan wajah. ia tak sanggup menantang tatapan Trias. Ipah sendiri hanya bingung dan berdiri disisi kekasihnya.


"Berani sekali kau menggunakan takdir untuk membenarkan perbuatanmu?! Kau gila!!!" umpat Trias.


Chiyome terkejut tak menyangka Trias akan mengucapkan kata itu padanya.


"Aku gila?.... aku gila?.." gumam Chiyome yang melangkah mendekati Trias dan...


PLAK!!!!!


Trias kaget merasakan tamparan Chiyome yang telah mendarat di pipinya. Trias menatap Chiyome. mata wanita itu sudah berair.


"Jangan berani mengatakan aku gila demi sebuah tujuan baik untuk menyelamatkan kalian berdua!" ujar Chiyome sambil mendorong Trias membuat pemuda itu terjajar ke belakang beberapa tindak. "Jika dia tidak mati. apakah kau bisa menjamin Iyun bisa hidup bersamamu selamanya?"


"Kenapa kau bawa-bawa Iyun dalam masalah ini?!" tanya Trias. emosinya mulai tersulut.


"Trias! benang takdir Iyun sudah diputuskan. dia tak akan bersamamu selamanya. jika bukan Om Yanto yang membunuhnya, Burhanlah yang akan membunuhnya. Allah hanya mengalihkan peran karena kita menghentikan salah satu benang takdir yang terjalin bersamamu!" kata Chiyome. "Tega sekali kau mengataiku gila, Trias..."


Trias terhenyak. "Chiyo... maafkan aku... aku..."


"Kau tahu, mengapa aku melatih Ipah?" pancing Chiyome


Trias menatapi Ipah disisinya yang kini ikut menatapi pemuda itu dengan tatapan menyalahkan. pemuda itu terpojok.


"Aku melatihnya agar kejadian yang menimpamu tidak akan terulang lagi." jawab Chiyome. "Dan kau mengataiku gila, Trias?!"


sekali lagi Trias tertohok dengan perkataan Chiyome. ia tak mampu lagi menjawab dan menangkis. tak lama ia melihat ibu muda itu terisak. tak lama kemudian Kenzie muncul membawa Saburo.

__ADS_1


sejenak ia terkejut melihat istrinya berdiri menundukkan wajahnya dan terisak-isak sedang dihadapannya Trias berdiri bersama Ipah. lelaki itu mendekati mereka.


"Ada apa ini?" tanya Kenzie dengan datar. pemuda itu menatapi Chiyome. "Wiffy? kenapa menangis?"


"Hubby... calon besan kita mengataiku gila hanya karena melatih calon istrinya dengan keras." jawab Chiyome kembali menangis dan terguguk-guguk menyeka air matanya. Ipah sendiri kini justru mendekati Chiyome dan menenangkannya.


untuk menghilangkan kecanggungan, Trias meminta Kenzie menyerahkan Saburo.


"Jangan sentuh Saburo! anak itu tak boleh punya mertua yang mengatai ibunya orang gila!" jerit Chiyome yang kemudian meraih Saburo dari pelukan Kenzie sebelum Trias memondongnya.


Trias terkejut. "Chiyo... Jangan gitu dong. aku kan nggak punya maksud apa-apa... hanya sekedar kaget saja... masa segitunya kau mau memutuskan hal itu secara sepihak? " ujar pemuda itu memelas.


"Apa yang terjadi pada Iyun itu murni kesalahanmu! kau tidak menjaganya dengan baik! sekarang aku menginginkan yang terbaik untuk keselamatan calon besanku, dan kau mengataiku gila? dimana otakmu hah?" bentak Chiyome dengan gahar. untung saja Saburo menangis hingga wanita itu langsung meredakan tensi suaranya dan sibuk menenangkan bayinya.


Kenzie mengajak Trias meninggalkan dojo. "Percuma kau berupaya memperbaiki suasana.... biarkan dulu.. ikuti aku. biarkan Ipah menemani istriku." ajak Kenzie.


Kenzie sendiri mengisyaratkan Ipah untuk tetap menemani Chiyome. gadis itu tersenyum dan mengangguk.


kedua lelaki itu kemudian meninggalkan dojo, menyusuri halaman samping dan duduk diberanda samping rumah.


"Ken. jangan diambil hati dong. aku, nggak sengaja buat Chiyo begitu. aku...." Trias merasa bersalah atas sikapnya barusan.


"Aku paham. aku tahu, kau mengenali teknik itu berdasarkan pemaparan Kak Bakri di ruang introgasi. jujur, aku sudah tahu siapa pembunuh Burhan, sejak melihat keganasan istriku mempecundangi Nobuo. aku sengaja tidak memberitahumu, karena kau akan salah paham nantinya." jawab Kenzie.


Trias menatapnya dengan lama.


"Yas... Aku yang meminta Chiyo untuk memperkuat kompetensi Ipah, agar ketika ia mendampingimu, kami berharap apa yang terjadi pada Iyun, tak akan terulang lagi. aku memintanya juga sebagai bentuk rasa bersalahku tidak memberitahumu tentang pelaku pembunuh Burhan." ujar Kenzie menatapi sahabatnya dengan lekat.


"Aku paham. Iyun adalah cinta dan istri pertamamu. tapi benang takdir tidak mengijinkan kalian bersama. Yas... peristiwa yang terjadi malam itu, ketika kita menggerebek markas pemakai narkoba, dan pembunuhan Burhan oleh istriku, hanya mengalihkan peran saja. dan itu sudah takdir. jika bukan Om Yanto yang menyebabkan Iyun terbunuh, bisa jadi justru Burhan yang akan membunuh Iyun." papar Kenzie dengan lugas. "Kitalah sebenarnya yang memulai garis takdir ini Yas, bukan Chiyo. dia hanya menjadi pelengkap dari garis itu. jika kau mau menyalahkan orang selain dirimu atas terbunuhnya Iyun, kau semestinya menyalahkan aku karena kita berdualah yang menjalinnya pertama. kalau kita berdua tidak berniat membongkar sindikat itu, sampai sekarang Iyun masih hidup."


Trias menangkupkan kedua tangannya diwajahnya. tak berapa lama tubuhnya terguncang. ia menangis menyadari kebodohan dibalik kegagahannya. kesombongan dibalik semangatnya untuk membuktikan kedok Burhan sebagai penyalur narkoba saat itu. imbasnya adalah kematian Iyun. dan dia menyalahkan Chiyome yang sebenarnya tak lebih dari pelengkap takdirnya. kini sahabatnya itu berniat baik untuk melindunginya melalui Ipah, dan dia berprasangka buruk atas niat sahabatnya.


"Yas!!! kau memang manusia bodoh!!!" umpat pemuda itu.


Kenzie tersenyum dan menyusut air matanya yang sempat jebol dari kelopak matanya. tangannya terulur mengelus punggung Trias.


"Relakan Iyun, Yas.... gadis itu sudah tenang. dia tak menyalahkan Chiyome. dia juga tak menyalahkanmu. mungkin penyesalannya padamu hanya satu. dia hanya bisa memperisai dirinya demi melindungi kamu. ia menyerahkan jiwanya untuk melindungi jiwamu. relakan dia, Yas.... sekarang ada Ipah disampingmu. jangan lukai perasaannya dengan kenanganmu atas Iyun. sebagai wanita, dia pun akan terluka ketika menyadari rasa cintamu padanya belum tulus karena kau masih mengenang orang lain." ujar Kenzie.


Trias memeluk sahabatnya itu. "Makasih Bro... kamu memang sahabat sejati aku. kamu selalu mengingatkan aku. aku memang bodoh, Bro..."


"Kita memang sahabat sejati, bro... sama-sama saling mengingatkan." jawab Kenzie sambil melepas pelukannya.


"Bisa nggak bilang ke Chiyo, supaya dia tidak memecatku dari daftar satu-satunya calon besan?" pinta Trias merengek.


Kenzie tertawa. "Itu gampang Bro.... bisa diatur..."


Trias tersenyum kikuk dan menggaruk-garuk kepalanya. tak lama kemudian Ipah muncul sambil memondong Saburo. dibelakangnya Chiyome menjajari. kelihatannya sang ibu baru saja menyusui putranya. *Uwa*gi putih itu sudah terkuak lebar dan menjuntai lepas namun masih bertengger disana karena tersangkut pada obi hitam lusuhnya. kaos hitam milik ibu muda itu nampak longgar pada bawahannya.


"Kemarikan Saburo padaku." pinta Trias.


Chiyome baru saja hendak menyela ketika melihat tatapan Kenzie kepadanya akhirnya membiarkan saja Ipah menyerahkan Saburo dipondongan pemuda itu. Trias langsung mencium pipi bayi itu.


"Oo Saburo... Abah minta maaf padamu sudah menuduh Mamamu gila karena sebuah ingatan sepele... benar, nak. Abahmu memang bodoh sekali..." ujarnya seakan curhat dan menumpahkan tangisnya. Saburo terlihat berjingkrak-jingkrak gembira dalam pelukan pemuda itu.


"Abah nggak mau kehilangan kamu nak. bisakah kau tegarkan pada Mamamu supaya mempertahankan Abah? kamu mau, kan?" pinta Trias kepada bayi iru seakan sang bayi memahami permintaannya.


Chiyome sendiri akhirnya tersenyum sambil menyeka air matanya. "Aaaa... kebodohan apa yang abahmu bikin Saburo... teganya dia mengatai Mamamu gila. berarti dia sudah menyadari kesalahannya... Mama lega, nak..."


"Berarti... aku tetap jadi calon besan satu-satunya kan?" tebak Trias.

__ADS_1


"Tentu saja! mau cari siapa lagi?!" kata Chiyome sambil memeluk Ipah. gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk-angguk.


"Setidaknya.... Saburo sudah berhasil menjinakkan hati kalian berdua... dasar pendekar cengeng!" olok Kenzie sambil tertawa. []


__ADS_2