
dimulai hari liburan mereka, Kenzie dan Trias dilatih oleh Bapu dengan seni Langga maupun Longgo. gerakan ini merupakan seni yang diciptakan oleh leluhur orang-orang Gorontalo, berasal dari kata helangga-langgawa yang artinya bergerak-gerak. seni langga, adalah seni pertarungan tanpa senjata. paling banyak gerakannya adalah ketangkasan untuk meloloskan diri dari kuncian lawan, biasanya disebut walama. seni Langga sendiri memiliki makna simbolis yang dalam. biasanya berkaitan dengan sistim sosial dan kebudayaan yang mengikutinya.
sebelum mempelajari seni langga, kedua pemuda itu dilakukan upacar mopitodu, yaitu sejenis upacara untuk menitikkan sejenis air tertentu ke dalam mata dari orang yang hendak mempelajari seni langga. setelah upacara mopitodu, maka seorang yang ingin mempelajari seni Langga akan sangat dengan mudah menerima pembelajaran dari guru.
uniknya, gerakan-gerakan dalam Langga tidak memiliki struktur gerak baku seperti halnya seni-seni beladiri yang lain. meskipun begitu, setelah menjalani tradisi pitodu, Bapu Ridhwan masih harus melakukan bayango atau memberitahu gerak-gerak dasar dengan pola gerak dan kembangannya.
sehari penuh Bapu Ridhwan mobayango (melatih dasar gerakan) kedua siswanya hingga akhirnya pada malam kedua, Kenzie dan Trias sudah menguasai gerak-gerak ini. bahkan sebelum tengah malam.
"Esok kita akan mempraktikkan hasil mobayango yang sudah Bapu ajarkan sama kalian. lusanya, kalian kembali melaksanakan adat Pitodu. paham?" ujar Bapu Ridhwan.
"Paham Bapu." jawab Kenzie dan Trias.
Bapu Ridhwan kemudian mempersilahkan mereka untuk kembali ke rumah kediaman Mantulangi. keempat anak muda itu melangkah pulang dengan santai.
Chiyome membalut tubuh Saburo yang sudah tertidur dengan jaket parasut yang dikenakannya. sementara Kenzie di sisinya sesekali memperbaiki letak dari jaket itu.
dibelakang mereka melangkah bersama Trias dan Ipah yang sementara mengelap keringat yang membasahi dahi dan leher pemuda itu.
"Makasih sayang." kata Trias.
Ipah mengangguk sambil tersenyum. Kenzie sejenak menoleh kearah pasangan pendekar itu dan ia tersenyum. ditatapinya sang istri.
"Hubby senang dengan kebahagiaan mereka." ujar Kenzie dengan lirih.
Chiyome tersenyum lebar memamerkan seringai gingsulnya. "Wiffy juga sama, Hubby. semoga saja hubungan mereka langgeng, supaya Saburo bisa cepat dapat pasangannya."
Kenzie tertawa. "Masih jauh, Wiffy Lovely Dovely... dorang juga belum nikah, gimana mau dapat anak? kecuali..."
"Hush... jangan goda mereka. nantinya kebablasan lagi macam dia dan Iyun." tegur Chiyome, "Biarkan saja alur takdir berjalan semestinya."
kedua pasangan halal itu melangkah duluan untuk memberi jeda diantara mereka dan Trias bisa bercakap-cakap lebih intens dengan Ipah.
sedang asyik keduanya berjalan, terdengar suara yang aneh.
pok pok pok pok.... pok pok pok pok..... pok pok pok pok...
Kenzie mengerutkan kening mengamati kegelapan dihadapannya. suara itu keras sekali.
"Suara apa itu Hubby?" tanya Chiyome dengan penasaran.
Kenzie mendesis menekankan telunjuknya dibibir lalu mulai memeluk Chiyome.
"Hubby? kenapa memeluk Wiffy erat sekali?" tanya Chiyome dengan lirih. Kenzie sejenak menatap istrinya.
"Nggak ada apa-apa. ayo kita lanjutkan perjalanan." ajak Kenzie sambil terus menuntun istrinya. keduanya duluan tiba di Kediaman Mantulangi.
"Wiffy duluan dulu. Hubby lagi ada perlu sama Trias." kata Kenzie. Chiyome mengangguk lalu melangkah ke dalam. sementara Kenzie kemudian duduk dipagar beton beranda itu.
tak lama kemudian muncul Trias dan Ipah. keduanya menatapi Kenzie yang berdiri sambil bercakak pinggang.
"Kenapa Ken?" tanya Trias.
"Ipah, boleh nggak minta tolong?" tanya Kenzie.
"Pertolongan apa?" tanya Ipah.
"Temani maitua'u mo dahai te Saburo mo tuluhu." kata Kenzie. (Temani istriku menjagai Saburo yang mau tidur)
"Okelah..." kata Ipah sambil melangkah masuk ke dalam.
tinggallah Trias dan Kenzie diberanda itu. Kenzie menatapi sahabatnya. "Kita kedatangan tamu tak diundang." kata Kenzie.
"Ooo... kukira hanya aku yang mendengarkannya." ujar Trias.
Kenzie.langsung mengisyaratkannya masuk kedalam rumah dan langsung mengambil sapu lidi yang tergeletak di sudut ruangan.
"Kurasa dia mencium aura Saburo. bukankah bau bayi tercium harum dalam dria pencouman mereka?" kata Kenzie.
Trias langsung mengangguk. "Kita harus bersiap-siap."
tak lama kemudian terdengar lagi suara aneh.
__ADS_1
pak pok pok....pok pok pok..... pok pok pok....
"Dia sudah datang. bersiaplah." kata Kenzie dengan sikap waspada.
tiba-tiba.....
KYAAAAAAAAAAA......
Kenzie membelalakkan matanya. suara itu datang dari kamar tengah.
"Chiyome!!!" seru Kenzie langsung berlari disusul oleh Trias. begitu berhadapan dengan pintu itu, Kenzie langsung menendangnya.
BRAKKK!!!! HEHHHH?!
dihadapan mereka tersaji pemandangan mengejutkan. Ipah tergeletak pingsan dilantai sedang Chiyome tersudut dibibir ranjang memeluk Saburo. dihadapan mereka nampak sebuah sosok menakutkan. wanita berambut panjang tanpa tubuh, melainkan dibawahnya nampak organ dalamnya menggantung. makhluk itu mendesis. dibelakangnya terlihat jendela yang menguak lebar.
"Ponggo!!!!" seru Kenzie langsung berlari mendapati Chiyome dan memperisai istri dan anaknya.
(ponggo \= kuyang, leak, palasik)
"Pona'olo yi'o!!!! ja tambatimu teye!!!" seru Kenzie dengan wajah yang dibuat membesi. (Pergilah kamu! tempatmu bukan disini)
makhluk itu kembali mendesis. diluar rumah terdengar suara aneh seakan berputar-putar dirumah tersebut.
pok pok pok pok..... pok pok pok pok..... pok pok pok pok....
"Rupanya dia memang hendak menyerang pemilik rumah ini!!!" seru Trias kemudian berbalik meninggalkan ruangan. tak lama kemudian ia muncul lagi menggenggam sebilah sumala yang diambilnya didinding.
" Ja mo na'o yi'o? o humbadu'u lo sumala ti yi'o!!! po'ongoto'u yi'o!!...." ancam Trias sambil mengacung-acungkan sumala itu kehadapan makhluk tersebut.
Kenzie sejenak menatapi Chiyome yang memicingkan matanya dan sesekali menatapi Saburo yang tertidur.
"Wiffy nggak apa-apa?!" teriak Kenzie.
"Itu makhluk apa, Hubby? dia nggak mempan dengan tatapan karasu tengu no gurrea milikku!!!" pekik Chiyome dengan cemas.
"Nanti Hubby jelaskan deh. tapi Wiffy nggak apa-apa,kan?" teriak Kenzie lagi.
"Baiklah!!" seru Kenzie.
tiba-tiba Trias melompat maju dan mengayunkan sumala kearah makhluk itu. makhluk itu dengan lincahnya menghindar dan langsung melesat melalui jendela yang menguak. Trias memandang Kenzie.
"Ken! jaga maitua mu. kutitip Ipah juga!" seru Trias kemudian melesat melompati jendela dan menghilang dalam kegelapan.
Kenzie langsung memeluk Chiyome dan meraba bagian atas bibir Saburo, merasai jika masih ada udara yang terhela. Kenzie menatap nanar. namun perlahan tatapannya mengendur ketika merasai ada angin lembut yang menampar telunjuknya. Saburo masih hidup. pemuda itu mendesah lega. ia langsung menuju jendela dan menutupnya dan mengunci daun jemdela tersebut.
"Alhamdulillah Saburo selamat. kupikir dia sudah dimakan oleh makhluk itu." kata Kenzie.
"Tapi Saburo kelihatan baik-baik saja." bantah Chiyome masih dengan wajah cemas.
"Yang penting Wiffy melihat makhluk itu nggak menjilati Saburo?" tanya Kenzie dengan tegang.
"Nggak! Wiffy memeluknya erat. ketika jendela tiba-tiba terbuka, Wiffy belum sempat menaruh Saburo di boks. Ipah yang langsung diserangnya. makhluk itu menubruk Ipah membuatnya langsung tergeletak pingsan. Wiffy refleks memeluk Saburo dan naik ke ranjang. ketika makhluk itu mendekat, Hubby dan Trias menjebol pintu." jawab Chiyome panjang lebar.
"Bagus. terima kasih telah melindungi anak kita Wiffy." puji Kenzie dengan senyum kaku karena dirinya masih tegang. ia masih berjaga-jaga. jangan sampai makhluk keparat itu muncul lagi.
...********...
pok pok pok pok..... pok pok pok pok..... pok pok pok pok.....
Trias terus mengejar suara itu dan mempertajam pendengarannya. suara itu kadang membesar dan kadang mengecil. makhluk itu memanfaatkan kegelapan untuk bermanuver.....
pemuda itu menggenggam sumala dengan erat. pandangannya menjelajahi kegelapan dan mulai membiasakannya. setidaknya pengaruh pitodu sangat membantunya mengenal keadaan sekitarnya. Pitodu mampu membuat matanya semakin awas dan penuh refleks. disamping itu juga membuat permukaan kulitnya semakin sensitif.
Trias merasakan sensifitas dipermukaan kulitnya. mata pemuda itu membelalak dan ia langsung bergulingan ditanah. sebentuk angin aneh menyambarnya tadi. untung dengan bergulingan ia berhasil menghindari serangan aneh itu.
pok pok pok.... pok pok pok.... pok pok pok..... pok pok pok...
suara itu kembali terdengar. Trias duduk berlutut dengan tubuh yang direndahkan dan kedua tangannya terkembang.
" Wuih bo pukako... mohe... wonu u' tapu'u yi'o uti yaaa... salaki bo pongaku lo gelap...." ujar Trias dengan jengkel.
__ADS_1
(rupanya pengecut, penakut... kalau kudapati kau hmmm... sayangnya hanya berani memanfaatkan gelap)
pok pok pok... pok pok pok.... pok pok pok... pok pok pok...
suara itu terdengar mulai mengecil pertanda makhluk itu mendekat. Trias mulai waspada. tiba-tiba terdengar desisan disisi kirinya. Trias menoleh.
makhluk itu tepat disampingnya memamerkan seringainya yang buas dan tatapannya yang melotot. Trias sempat memekik lalu melayangkan sumala mengincar wajah makhluk itu.
tiba-tiba rambut makhluk itu memanjang dan membelit pergelangan tangan Trias yang memegang sumala. dengan geram Pemuda itu memindahkan sumala ketangan kirinya dan menyabet rambut itu hingga putus.
sekali lagi makhluk itu menyebarkan rambutnya yang memanjang dan bergerak bagai cambuk menyerang Trias. pemuda itu langsung mengayunkan sumala ke segala arah membabat rambut yang hendak mencambuknya.
"Mendekatkan nene nggosa! kubabat habis kamu!!" umpat Trias menyilangkan sumala didepan dadanya.(Nene Nggosa \= nama seorang pelakon Gorontalo, pria yang berlakon jadi seorang nenek. sangat populer di gorontalo.)
makhluk itu mendesis lagi dan tiba-tiba maju menyerang kearah Trias. pemuda itu juga berteriak lalu maju mengarahkan ujung bilah sumala ke depan. tiba-tiba rambut makhluk itu kembali memanjang dan menyebar kesegala penjuru dan menyerbu ke arah Trias yang tak sempat mengantisipasi serangan dadakan itu.
alhasil tubuh pemuda itu dibelit keseluruhan tubuhnya membuatnya langsung jatuh terbanting menggelosor ditanah dan sumala terlepas entah dimana. pemuda itu meronta-ronta dengan marah.
Teleliloloooo.... kuat sekali belitan rambutnya. aku nggak bisa bergerak sama sekali. apakah ini akan jadi kisah akhirku?
makhluk itu mendekat sambil mendesis diiringi bunyi pok yang makin lama makin hilang. dengan seringai buas, makhluk betina itu mulai membuka mulutnya.
dan....
JLEB!!! SRRRRGHHHHHH.....
kepala makhluk itu dihantam sesuatu dan membuatnya terlempar dan akhirnya tergeletak ditanah dengan mulut menganga dan mata yang membulat lebar. belitan pada tubuh Trias melonggar dan pemuda itu berhasil melepaskan diri kemudian mencari sumala yang terlepas.
Trias menemukan golok itu beberapa meter dari tempatnya dan kembali mendekati makhluk yang menggelepar itu. sebatang tongkat... lebih tepatnya sebatang tombak dengan ujung yang aneh menancap dirahang makhluk betina itu dan menembusinya. Trias mencermati bentuk tombak itu.
ternyata ujung tombak itu adalah sebuah kepala burung Alo (Rhinoplax vigil) yang sudah dikeringkan. tangan Trias terulur hendak memegang tombak itu.
"Jangan sentuh!" seru suara yang berat terdengar.
Trias menoleh. Bapu Ridhwan muncul dalam kegelapan. kakek itu menatapi makhluk betina itu dengan tatapan tajam. sejenak kakek itu menggumam dalam bahasa gorontalo yang sangat halus dialeknya. bahasa itu sudah langka dan jarang dipergunakan kecuali dalam acara-acara adat. penggunaan bahasa gorontalo yang sering digunakan oleh Kenzie dan Trias hanyalah dialek pasaran saja.
Bapu Ridhwan menatapi Trias. "Terima kasih kamu sudah mencegatnya hingga dia tak jadi melarikan diri. sebenarnya Bapu sudah lama membayangimu." kata kakek itu kemudian tertawa lebar.
"Sejak kapan Bapu membayangi saya?" tanya Trias dengan penasaran.
"Sejak rumah dikintari oleh ponggo itu. Bapu mulai merasa ada yang tak beres sewaktu mobayango kalian tadi. makanya Bapu cepat-cepat menyelesaikannya dan kalian kusuruh pulang." jawab Bapu Ridhwan.
"Jadi Bapu juga sudah mendengar suara pok pok itu jauh sebelum kami menyadarinya?" pancing Trias.
Bapu Ridhwan tertawa lalu mengangguk. "Maaf membuatmu kesulitan tadi. tapi Bapu kagum denganmu. bisa menghadapi ponggo itu sendirian. biasanya dia hanya bisa ditangkap ramai-ramai oleh penduduk desa."
"Lalu bagaimana dengan ponggo ini?" tanya Trias.
Bapu Ridhwan teringat sesuatu. ia sejenak mengangkat telunjuknya lalu mengeluarkan sebuah karung nilon bekas mengisi beras. kakek itu maju lalu mencabut tombak kepala Alo yang menancap bersama-sama dengan kepala ponggo itu. ia kemudian membungkusnya bersama-sama kepala tombak.
"Bapu, kenapa harus membungkusnya begitu. tombak Alo itu dilepas saja dari kepala nene punjoiyo itu." saran Trias.
(Nene Punjoiyo \= Nini Thowok)
"Jangan." cegah Bapu Ridhwan. "Kalau dilepaskan, kekuatan gelap setan betina ini pulih kembali. tulang kepala Alo itu berfungsi menghilangkan kekuatan supranaturalnya."
Trias manggut-manggut mendengar keterangan Bapu Ridhwan. kakek itu menyambung lagi, "Esok, kita pastikan dikampung ini siapa yang kedukaan. kalau ada, berarti dialah ponggo ini. siang nanti wajah ponggo akan kembali ke wajah aslinya. jadi kita bisa tahu siapa yang berkeliaran malam-malam mengganggu desa."
keduanya kembali melangkah. Bapu Ridhwan menjinjing tombak Alo yang sudah dibungkus karung nilon. sedang Trias kemudian teringat dengan senjata yang digenggamnya.
"Bapu, maaf. saya tadi lancang mengambil sumala milik Bapu yang terpajang di dinding. ini saya kembalikan kepada Bapu." kata Trias sambil menyerahkan senjata itu.
"Ambil saja." kata Bapu Ridhwan. "Benda itu berjodoh denganmu."
Trias langsung senang dihadiahkan benda itu. namun sesaat kemudian senyumnya lenyap.
"Bukannya Kenzie nanti yang mewarisi sumala ini?" tanya Trias dibalik kegembiraan yang disembunyikannya.
"Nggak... Kenzie punya jodoh yang lain. dia nggak memerlukan senjata. dia hanya membutuhkan istrinya." jawab Bapu Ridhwan.
"Maksud Bapu?" tanya Trias yang gagal paham.
__ADS_1
"Chiyome adalah senjata sesungguhnya dari Kenzie. perempuan itu adalah pedang yang tak memiliki sarung. hanya Kenzie yang bisa mengendalikannya." jawab Bapu Ridhwan sambil terkekeh. []