Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 140


__ADS_3

Kenzie menarik napas panjang meredakan emosinya. rasa sakit melihat istrinya mengenakan pakaian tahanan itu lebih terasa menyengat ketimbang rasa sakit akibat peluru yang disarangkan Puspita didada kanannya itu.


"Tuan Jaksa... aku akan berikan padamu sebuah perumpamaan.... cobalah kau berada dalam posisiku. terikat, tak berdaya hanya menerima tanpa bisa membalas. apa kau pikir itu kenikmatan? itu pemerkosaan Tuan Jaksa yang terhormat!" ujar Kenzie menatap tajam si jaksa penuntut.


"Memangnya anda tahu siapa Puspita Kusmaratih?" pancing Jaksa penuntut.


"Tentu saja tahu! banci kalengan itu menggunakan identitas palsu dan berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaanku. semula dia ditempatkan di HRD. tapi karena kelakuan tak pantasnya, aku pindahkan dia ke Pemasaran dibawah perintah Dewi Basumbul. ternyata dia memanfaatkan kepercayaan Dewinta dan berhasil memasukkan virus kedalam data base Buana Asparaga.Tbk melalui penyadapan akun Dewinta sebagai direktur Pemasaran. untung Dewi memiliki catatan cadangan yang dengan itu aku berhasil membongkar kebusukannya." tutur Kenzie dengan wajah muak.


"Tunggu..." sela jaksa penuntut. "Anda menyebutnya banci kaleng... dan dia menggunakan identitas palsu saat bekerja diperusahaan anda?"


"Pak, kalau dia menggunakan identitas aslinya, dia nggak akan mungkin terterima disana. Puspita menggunakan surat SKCK palsu juga KTP palsu. aslinya dia pria Pak! dia adalah Budi Prasetya, alumni SMU 3 Gorontalo. kami seleting. dia adalah pelaku fitnah terhadap istri saya. dia menyusupkan artikel menggunakan anonim menyebut istri saya pelacur piaraan keluarga Lasantu! itu yang menyebabkan istriku berhenti sekolah bukan karena malu, tapi untuk meredam isu tersebut! dan aku berhasil membongkarnya." jawab Kenzie.


"Terima kasih atas penjelasannya." ujar jaksa penuntut.


penasihat hukum kemudian maju membawa bukti hasil rekaman sidik jari Puspita dan sidik jari Budi Prasetya. setelah diperiksa, ternyata rumusnya identik. tidak ada setitik perbedaan disana sehingga panitera menyimpulkan bahwa Puspita Kusmaratih dan Budi Prasetya adalah orang yang sama hanya saja berganti kelamin.


"Apa yang anda lakukan ketika dia menyebar fitnah itu?" tanya jaksa penuntut.


"Saya melakukan tindakan preventif bersama sahabat saya, memukulinya dan memaksanya mengakui perbuatannya saat kami sekeluarga memutuskan menggelar resepsi nikah dan membuka semua kepada pihak sekolah." jawab Kenzie.


"Anda memukulinya di pesta?" tanya jaksa.


Kenzie tertawa, "Tentu tidaklah pak jaksa! saya dan sahabat saya memukulinya di sekolah. kami bertiga masuk ruang BK dan masing-masing di skors."


"Terima kasih atas keterangannya Pak Kenzie. saya doakan anda bisa segera sembuh dan dapat berkumpul lagi dengan keluarga." ujar penasihat hukum.


"Terima kasih pak." jawab Kenzie dan konferensi jarak jauh berakhir. Penasihat hukum sejenak menatap jaksa penuntut lalu memandang deretan para hakim.


"Saya pikir penjelasan Pak Kenzie sebenarnya sudah bisa menguak alasan mengapa Nyonya Chiyome melakukan hal yang melanggar hukum." tambah penasihat hukum tersebut. "Tapi mengingat lebih banyak kejahatan yang dilakukan Puspita kepada keluarga Lasantu memberikan kenyataan bahwa tindakan melanggar hukum yang dilakukan Nyonya Chiyome terbukti hanya untuk menyelamatkan kehormatan dan harga diri Pak Kenzie dan keluarganya yang telah dijelekkan oleh saudari Puspita. demikian kesimpulan saya Yang Mulia." ujar penasihat hukum itu.


suasana hening dan para hakim berdiskusi sejenak. sementara penasihat hukum juga berdiskusi dengan Adnan dan Mariana. sementara Saripah diperkenankan meninggalkan ruang sidang.


Chiyome hanya menundukkan wajah menatap lantai ketika semuanya sibuk pada kegiatannya. pikirannya hanya terpusat kepada Kenzie.


sedang apakah Hubby disana... pasti dia kesepian dan kelaparan... Ya Allah... bebaskanlah aku... aku ingin berbakti kepada suamiku kembali. aku merindukannya Ya Allah...


Hakim ketua mendehem sejenak meminta perhatian setelah itu ia berucap. "Melihat dari keterangan dan bukti yang ada. maka kami para hakim sepakat untuk mendiskusikan lebih lanjut perkara ini. kita akan bertemu lagi pada tanggal 30 Mei 2023 membahas tentang putusan perkara. sidang dipending sampai waktu yang ditentukan." ujar hakim itu kemudian mengetok sekali palu sidang pada bantalannya.


...*******...


Kesehatan Kenzie berangsur membaik. peralatan pendeteksi tekanan darah dan detak jantung sudah dilepas begitu juga dengan selang napas. lelaki itu bahkan memaksa untuk keluar dari rumah sakit. namun pihak media bersikeras belum membolehkannya.


"Saya sudah sehat pak! lihat!" ujar Kenzie memperlihatkan ototnya yang menghampar dipermukaan tubuhnya.


"Saya tahu bapak sudah bisa beraktifitas tapi, bersabarlah sedikit sampai anda benar-benar sehat." kata dokter menasihatinya.


"Ada apa ini?" tanya Adnan yang tiba-tiba sudah masuk diruangan itu.


"Pah... bukankah aku sudah sehat? lihatlah aku sudah tak merasa sakit lagi." rengek Kenzie meminta pembelaan.


"Turuti kata dokter Ken... kamu belum sembuh benar!" kata Adnan dengan tegas.

__ADS_1


"Tapi Pa... aku sudah sangat merindukan Wiffy..." rengek Kenzie.


"Bersabar dalam dua hari ini. esok lusa adalah putusan pengadilan. mari kita berdoa bersama agar Adek bisa diringankan hukuman, bahkan kalau syukurnya dibebaskan." ujar Adnan.


dengan menggerutu, Kenzie terpaksa menurut perintah ayahnya. Adnan menghela napas.


"Hari ini, potongan-potongan tubuh Puspita akan dimakamkan." ujar Adnan.


"Syukurlah... semoga Allah mengampuninya." jawab Kenzie dengan singkat sambil menatap jendela. "Aku terlalu gegabah.... jika saja aku menyebarkan anak buahku, tentu kejadian memalukan itu tak akan terekspos dipengadilan. aku jadi malu menghadapi Wiffy... tubuhku terasa kotor oleh jamahan banci kalengan itu."


"Dengan itu kau bisa memetik hikmah bahwa menjadi seorang pemimpin tidaklah gampang. jika kita tidak awas maka yang ada kita justru dikelilingi para pengkhianat yang selalu siap menjatuhkan kita kapan saja." pesan Adnan.


"Yah...." desah Kenzie pada akhirnya, "Papa benar... ahhh... bodohnya aku waktu itu." ujarnya menatap wajah Adnan. "Hanya mengandalkan revolver Smith & Wesson dengan Glock 12, aku menyamperi sarang ular."


Adnan terkekeh. "Kamu belum bisa menyamai Papa dalam mengintimidasi lawan, Ken." oloknya kemudian mengangkat bahu, "Tapi selain itu, Abahmu, Endi juga berperan sebagai bayanganku. makanya pada masaku, tak ada yang berani macam-macam dengan Buana Asparaga.Tbk...."


Kenzie melengos, "Papa sengaja mengungkit kehebatan itu untuk merendahkanku ya? akan kubuktikan kalau aku lebih hebat dari Papa mengelola kerajaan bisnis kita."


Adnan tertawa. "Kau sudah membuktikannya Ken... kau jatih dalam perangkap perempuan itu. jika saja Chiyome tidak mengorbankan dirinya untukmu, Papa nggak tahu lagi harus bagaimana." Adnan menunjuk luka bekas tembakan itu. "Gimana rasanya tertembak? sakit?"


"Sakit... tapi ada lebih terasa menyakitkan... bahkan luka ini tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit itu..." ujar Kenzie dengan lesu.


"Apa?" pancing Adnan.


"Menatap orang yang kita kasihi rela menempuh neraka hanya untuk menyelamatkan hidup kita." ujar Kenzie yang teringat dengan Chiyome. perlahan lelaki itu menelungkup dan menumpahkan tangisnya disana.


Adnan menghela napas lagi dan mendekati Kenzie lalu menepuk punggungnya dengan pelan beberapa kali.


"Bersabarlah nak.... dan berdoalah... kita semua berdoa disini.... kita semua berharap... Adek bebas dari dakwaan itu. dan bisa berkumpul lagi bersama-sama." ujar Adnan dengan pelan.


...*******...


Rumah pejabat, Sam Sarumpaet M.H. pukul 19.35 WITA.


Adnan menyeruput kopi yang disuguhkan istri sang hakim kepadanya. setelah mendesah merasai manisnya air kopi itu, Adnan menatap koleganya itu.


"Saya hanya meminta kepastian sejauh mana anak saya bisa bebas?" tanya Adnan sambil menyilangkan kakinya, gaya khasnya ketika menghadapi klien maupun koleganya.


Sam Sarumpaet tersenyum. "Saya untuk sementara ini menyimpulkan anakda Chiyome bisa diringankan hukumannya. pasalnya, itu termasuk tindakan pembelaan diri menurut saya pribadi. meskipun begitu kita tetap akan mendiskusikan yang terbaik untuk menantu anda."


"Saya berpikir, jika ke depan saya akan lebih membutuhkan dukungan anda dalam kegiatan perekonomian saya." ujar Adnan


"Itu bisa diatur.... bisa diatur..." ujar Sam Sarumpaet sambil tertawa.


Adnan tersenyum dan kembali menyeruput kopi manis yang disuguhkan tuan rumah.


...*******...


Mariana menatap Aisyah dan Bakri. "Malam ini dan esok, mari kita menggelar sholat hajat. berdoa kepada Allah agar Dia mempermudah urusan Adek sehingga Adek bisa dibebaskan."


Bakri mengangguk dan menatap Aisyah. jilbaber itupun mengangguk. "Itu sudah pasti Ma... Adek adalah pahlawan keluarga kita kali ini... Kakak akan berdoa yang terbaik untuknya. Mama tenang saja."

__ADS_1


Mariana mengangguk pelan lalu bangkit melangkah menuju kamar. sepeninggal Mariana, Bakri menatap Aisyah.


"Ayo sayang... kita laksanakan permintaan Mama..." ajak Bakri.


Aisyah mengangguk dan bangkit menyusul Bakri yang terlebih dulu bangkit menuju kamar. lelaki itu memang masih memelihara air Wudhu paska selesai sholat isya tadi, jadi tak perlu kembali mengulangi wudhunya. sementara Aisyah berjalan menuju dapur dan mengambil air wudhu dari selang yang digunakan mencuci lantai. setelah itu ia menuju kamar dan melakukan sholat hajat secara munfarid (sendiri).


sholat hajat adalah satu dari delapan perkara sunnah yang memiliki sebab. barangsiapa yang terjebak dalam keadaan sulit dan sangat mustahil terselesaikan, maka dianjurkan untuk melaksanakan sholat hajat.


...*******...


Kediaman Lasantu, pukul 02 pagi.


Adnan baru tiba dan membuka pintu. langkah lelahnya yang lunglai terayun menuju kamar. perlahan lelaki itu membuka pintu agar tidur sang istri yang nyenyak tak akan terganggu. namun nyatanya ia salah.


Adnan menatapi Mariana yang sementara melaksanakan sholat, entah sholat apa dan dia begitu khusyuk dalam ibadahnya sampai suara pintu membuka pun ia tetap bergeming ditempatnya.


lapat-lapat Adnan mendengar suara semi bisikan dari bibir istrinya yang mengucap, "Subhanallah... walhamdulillah... wa la ilaha illa llah... Wallahu Akbar wala haula wala quwwata illa billahil alil adzhim... Allahumma Sholi ala Muhammad wa ala ali Muhammad... Robbana... aatinaaa.... fidduniya... hasanah... wa fil akhirati hasanah... wa qina adzabannaar..."


Adnan tersenyum lalu melangkah perlahan dan duduk disisi ranjang menonton Mariana yang tekun dalam sholatnya. wanita itu bangkit dari sujudnya dan duduk dengan posisi tasyahud akhir. setelah lama membaca doa, wanita itu lalu salam ke kanan dan kekiri dan kemudian mengangkat tangannya ke atas, menghiba.


"Ya Allah... tiada Tuhan melainkan Engkau yang Maha Lembut nan Maha Penyantun.... Maha Suci Engkau Yang Memelihara Arasy yang maha agung.... Segala puji untuk-Mu wahai penguasa seru sekalian alam... kepada-Mu aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu... yang mendatangkan ampunan-Mu yang menghapuskan dosa-dosa... jangan biarkan dosa disisi kami..." ujar Mariana yang tak tahan dalam emosinya kemudian menangis dan kembali terbata-bata memanjatkan doa, "Tiada suatu kepentingan... melainkan Engkau memberi jalan...tiada hajat yang terkabul melainkan atas kerelaan-Mu wahai Yang Maha Pengasih..."


Mariana mengatur jeda doa dengan tangisnya kemudian melanjutkan lagi. "Sesungguhnya menantu kesayanganku tertimpa musibah... bebaskanlah menantuku dari jerat hukuman yang dzolim Ya Allah.... hanya kepada-Mu aku meminta... hanya Engkau yang bisa membebaskannya... kabulkan permohonanku Ya Allahh....."


Mariana meniarap dan melepaskan tangisnya lagi menyebut nama Chiyome membuat Adnan kembali trenyuh dan bangkit lalu duduk disisi Mariana lalu membelai punggungnya.


Mariana sempat kaget lalu memperbaiki sikapnya, menyusut airmatanya yang tumpah lalu duduk. Adnan menatap istrinya. "Allah akan mendengar doamu, sayangku. aku yakin. Allah tak akan membiarkan hamba-Nya larut dalam kesedihan... percayalah dan serahkan segala sesuatunya kepada Allah..."


Mariana kemudian menyandarkan dirinya dalam pelukan suaminya. Adnan tersenyum dan membelai kepala Mariana yang masih terbalut mukena.


...*******...


Pengadilan Negeri Gorontalo, pukul 10 Pagi tanggal 30 Mei 2023.


semua pengunjung dan Panitera serta jaksa dan penasohat hukum sudah berada ditempatnya. Chiyome duduk dengan tenang dikursi itu. tiada beban dihatinya. semalam ia bermimpi dalam tangannya tergenggam Si Penebas Angin, pedang warisan dari buyutnya, Mamoru Minamoto. tafsirnya, ia akan terbebas dari segala persangkaan.


para hakim muncul dan mengambil tempat masing-masing. setelah menatap lama para pengunjung. hakim ketua mulai membacakan hasil putusan yang telah didiskusikan bersama dengan para anggotanya diruangan khusus. dalam keanggotaan hakim itu terdapat Sam Sarumpaet, M.H yang terus mempengaruhi diskusi dengan mengemukakan dalil-dalil hukum yang mempengaruhi berat tidaknya hukuman tersebut.


diakhir mukadimah pembacaan hasil putusan melalui pertimbangan, mengingatkan dengan menyebut dalil-dalil hukum yang berkaitan dengan kasus yang dihadapi dan memperhatikan bukti-bukti yang terlampir, hakim ketua akhirnya mengucap, "Dengan ini membebaskan Saudari Chiyome Mochizuki dari segala dakwaan dan terhitung bebas sejak tanggal ditetapkan keputusan ini. hari ini, tanggal 30 Mei 2023, hakim ketua, sudah tertanda!" ujar hakim ketua mengakhiri pembacaan putusannya dan mengetokkan palu sidang ke bantalannya sebanyak tiga kali pertanda keputusan yang diambil adalah sah dimata hukum.


Mariana dan Aisyah sontak sujud syukur sementara Bapu Ridhwan menangis haru. Bakri tersenyum dan mengusap wajahnya dengan tangan. semua anggota keluarga Mantulangi dan Lasantu bernapas lega.


Chiyome menangis haru lalu bangkit dan menyalami para hakim, penasihat hukumnya dan jaksa penuntut umum. setelah itu, ia berbalik hendak melangkah, namun langkahnya terhenti.


di pintu ujung ruangan, berdiri Kenzid dengan wajahnya yang sudah klimis tanpa cambang dan kumis. mengenakan kemeja warna pastel dengan kerah membuka. senyumnya mengembang.



begitu Kenzie mengembangkan tangan, Chiyome berlari menghambur ke arah suaminya dan memeluknya dengan penuh kerinduan. tangis bahagianya kembali pecah sementara Kenzie dengan penuh haru menciumi kepala istrinya. semua yang menatap adegan itu tersenyum gembira.


Kenzie melepaskan pelukan Chiyome. "Mari kita mengganti waktu yang dirampas banci kalengan itu dari kita." ujarnya.

__ADS_1



Chiyome mengangguk dan spontan Kenzie memondongnya dengan gaya bridal dan dengan langkah anggun, lelaki itu melangkah kehalaman menuju mobil sambil terus memondong istrinya. setelah keduanya masuk, Kenzie menyalakan mesin dan Lamborghini Mac Laren P1 warna kuning itu bergerak meninggalkan komplek halaman Pengadilan Negeri Gorontalo.[]


__ADS_2