Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 75


__ADS_3

diberanda samping itu, Chiyome duduk menselonjorkan kedua kakinya. ia sementara membaca kitab Al-Qur'an dan terjemahannya yang terangkum dalam aplikasi di ponselnya. gadis itu berharap perjalanan hidupnya akan terarah baik setelah peristiwa fitnah itu.


Chiyome memang tak pandai melantunkan lagu-lagu bayyati, shoba, nahawand, hijaz, dan beberapa jenis lagu lainnya seperti para Qori'ah terkenal semacam Sarini Abdullah yang legendaris itu. namun setidaknya ia berupaya membaca tiap hurufnya sesuai makhroj dan kaidah bacaan Qur'an. meski lidah jepangnya kadang kesulitan menyebut huruf Lam, biasanya menjadi Ram.


Kenzie sendiri berbaring menyandarkan kepalanya dipaha Chiyome yang terselonjor itu. matanya mengatup meresapi nada dan suara yang keluar dari mulut istrinya.


lama juga gadis hamil itu mengaji Qur'an hingga akhirnya ia menyelesaikan 2 juz dan meng off layar sentuh ponselnya. gadis itu mencium ponsel itu seakan benda itu adalah kitab suci, kemudian gadis itu memandang Kenzie.


"Hubby? lagi tidur?" tanya Chiyome.


Kenzie membuka matanya lalu menatapi istrinya. wajah teduhnya memancarkan senyuman lembut.


"Wiffy... Hubby minta maaf ya, sudah bikin Wiffy menderita." kata Kenzie yang tiba-tiba saja matanya telah berair dan meruntuhkan bendungan kelopak mata menyebabkan sungai air mata deras mengalir, meskipun pemuda itu tidak memperdengarkan sedu sedan dan isakan.


"Kenapa Hubby harus minta maaf? apa sih yang membuat Hubby harus meminta maaf sama Wiffy?" tanya Chiyome sambil meletakkan ponsel dilantai dekatnya lalu jemari-jemari lentiknya mengusap air mata yang mengalir.


"Gara-gara Hubby, Wiffy mengorbankan waktu dan keinginan Wiffy untuk sekolah... " Kenzie berkata dengan gemetar.


Chiyome tersenyum lebar memamerkan seringai gingsulnya lalu terkekeh sejenak.


"Wiffy kok kayaknya santuy banget deh.... kayak nggak perdulikan apapun. apa Wiffy memang sesantai ini atau..."


"Hubby..." potong Chiyome. "Bukankah di Tokyo lalu, Wiffy pengen cepat punya anak, kan? Wiffy serius kok, makanya Wiffy sudah memprediksi hal ini. syukurnya semua berjalan sesuai dugaan. jadi Wiffy nggak merasa berat tuh."


Kenzie bangun dan menatap Chiyome. "Wiffy, apa Wiffy segitu takutnya ditinggali Hubby sampe rela mau punya momongan di usia sekolah seperti ini? Wiffy membuat Hubby merasa bersalah sama Otoo-San."


"Iya! Wiffy memang takut Hubby tinggali. di jepang, banyak lelaki kaum genyosha yang memperlakukan istrinya hanya seonggok daging. jika mereka pulang membawa wanita lain, sang istri tidak boleh melarang dan membiarkannya. itu sudah menjadi mindset dari kaum perempuan kami. Otoo-San memang tak melakukan hal itu terhadap Okaa-San. tapi kakek Tasuku selalu melakukan hal itu terhadap Nenek. Wiffy nggak mau kehidupan Wiffy seperti mereka." jawab Chiyome panjang lebar.


Kenzie kembali lagi dihantam keharuan. ternyata dibalik ketegaran dan kebuasannya sebagai wanita kuat, tersembunyi kerapuhan cinta. Kenzie lagi-lagi tak mampu menahan air matanya.


"Isyyyy.... akhir-akhir ini kok Hubby banyak nangis sih? hapus air mata itu. Wiffy nggak suka dikasihani. Wiffy maunya dicintai, bukan dikasihani!" tandas Chiyome.


Kenzie dengan lembut meraih kepala istrinya dan menyandarkannya di dadanya. "Hubby makin cinta sama Wiffy.... justru sekarang, Hubby yang paling takut ditinggalin Wiffy...."


"Kalau begitu, hapus air mata itu! Hubby harusnya gembira. bayi kita tak suka Papanya cengeng. bagaimana dia akan menjadi pejuang kalau melihat Papanya yang pendekar justru mewek-mewek dihadapan istrinya? kuat dan semangatlah Hubby!" pinta Chiyome.


Kenzie tersenyum lalu mengangguk. "Baik! demi kamu dan anak kita. semoga Allah meneguhkan kita berdua!"


"Ganbatte... Hubby!!" seru Chiyome.


"Ya! ya! ya!" seru Kenzie dengan semangat dan mengacungkan tinjunya keatas.


kemudian Kenzie mengerutkan keningnya sejenak lalu menatapi istrinya.


"Wiffy, kemarin-kemarin waktu percakapan dengan Trias, apa memang Wiffy mau jodohi anak kita dengan anaknya Trias nanti?" tanya Kenzie dengan penasaran.


"Iya, ngapain jauh-jauh nyari jodoh kalau teman sendiri bisa dijadikan besan? toh kalian berdua sudah saling mengenal diri masing-masing. yang penting, kita jangan ikut campur urusan anak-anak kita ketika mereka sudah menikah. biarkan mereka yang menyelesaikan sendiri urusan mereka. " jawab Chiyome.


Kenzie tertawa mendengar jawaban istrinya. "Wiffy kok dewasa benar pemikirannya? wah Hubby kalah kalau begini." puji pemuda itu.


"Hubby justru lebih dewasa dari Wiffy. Hubby berani mengambil keputusan menikahi Wiffy diusia seperti ini. berani bertanggung jawab dan berani pasang badan untuk urusan cinta kita." jawab Chiyome membalikkan pujian itu. "Yah, namanya perjalanan cinta tak akan semulus yang kita duga. namun inilah kita. sekarang bersama karena Hubby memperjuangkan cinta kita."


Kenzie kembali membenamkan wajah istrinya didadanya. "Ternyata Mama memang benar. Wiffy paling pintar mengambil hati orang." ujar Kenzie sambil mencubit hidung kecil istrinya.


"Auugh... sakit Hubby!" teriak Chiyome sambil meringis dan memegangi hidungnya. "Kenapa sih kalian selalu saja mencubit hidungku?"


"Karena wajahmu paling imut, dan Hubby sekarang pingin ciumi bibir Wiffy. kesinikan bibirnya!" pinta Kenzie.

__ADS_1


"Ih... puasa Hubby, nanti nafsunya muncul jadi makruh puasanya." tolak Chiyome.


"Yang penting jangan sampe tongkat Hubby bangun aja. sini dong." pinta Kenzie.


pemuda itu mendaratkan ciumannya di bibir istrinya. keduanya saling mengulum dengan pelan. Kenzie akhirnya duluan melepas ciumannya. Chiyome langsung tahu alasan sang suami melepaskan pagutannya. ia tertawa.


"Makanya, jangan mancing-mancing nafsu... rasain deh." olok Chiyome sedangkan Kenzie hanya bisa senyum-senyum masam saja.


...***********...


sore itu, menjelang buka puasa. Chiyome dan Mariana berjibaku menyiapkan hidangan pembuka puasa. Adnan terpaksa memesan lewat online hidangan es kopyor. sementara Kenzie kembali berkutat dengan tugas-tugas sekolahnya. pemuda itu mengirimkan beberapa tugas ke e-mail guru-guru mapelnya.


dimana Aisyah?


Ternyata gadis itu bersembunyi dikamarnya dan tak keluar sore itu. dia rela melakukannya asal bisa menghubungi Stefan.


📲 "Maafin Papa ya? Dia sebenarnya cuma godain kamu." kata Aisyah dengan manja. entah apa yang sekarang berada dikepalanya. tak biasanya gadis itu melakukan hal itu. selama ini ia selalu berada di dapur membantu Mariana. namun kali ini, ia melupakannya, atau berpura-pura lupa dan sengaja mengunci diri dikamar.


📲 "Iya, aku paham. aku juga yang salah. nelpon kamu pas makan sahur. mungkin aku terlalu rindu, makanya tak sadar melanggar batas etika." jawab Stefan sambil tertawa.


📲 "jangan marah dong..." rengek Aisyah.


📲 "Nggak. aku nggak marah kok." jawab Stefan.


📲 "Bener yaa?" todong Aisyah.


📲 "Iyyaaa... sudah ya. kamu bantu Mamamu didapur dong. sudah mau buka nih. nanti aku lagi yang disalahkan karena membuatmu mangkir." tegur Stefan.


Aisyah menutup mulutnya lalu segera memutuskan panggilan dan menyimpan ponselnya disaku lalu melangkah keluar kamar dengan langkah tenang seolah tak terjadi apapun, menuju dapur.


Mariana yang mendapati Aisyah baru muncul langsung menegurnya. "Ais, kok baru muncul sih? tuh kasihan Adek bantu-bantu Mama, kok malah Kakak yang kabur. gimana sih?"


"Adek duduk disini saja ya. tuh Kakak yang sudah kerjai semua." kata Mariana sambil mendudukkan Chiyome di sofa keluarga. gadis hamil itu mengangguk dan tersenyum datar saja. Mariana kembali ke dapur mengambil alih pekerjaan Chiyome yang hampir selesai.


tak lama kemudian terdengar ketukan dipintu depan. Adnan dan Kenzie yang sementara asyik bermain catur di tontoni Chiyome, menunda kegiatannya.


"Ken, bukain pintu. liat siapa yang datang. " perintah Adnan.


"Biar adek saja yang buka Pa." kata Chiyome hendak berdiri.


"Jangan! biar Papa saja." ujar Adnan langsung bangkit dan melangkah melintasi ruang tamu dan membuka pintu.


"Bapu?" seru Adnan dengan takjub.


"Kejutan heh?!" seru Bapu Ridhwan sambil tertawa dan masuk. lelaki tua yang masih perkasa itu masuk membawa sebuah balok sagu dan penganan dodol durian.


Chiyome yang mendengar suara Bapu Ridhwan langsung berdiri dengan raut wajah senang dan berseru, " Ojiichan.." (Kakek)


Bapu Ridhwan tertawa dan menaruh benda-benda dilantai lalu mendekati Chiyome dan mengembangkan tangan. "Cucu mantuku, bagaimana kabarnya? bagaimana kabar cicitku?"


Chiyome memeluk kakek itu lalu melepaskannya. "Cicit Bapu sangat sehat. Bapu jangan kuatir, Chiyo menjaganya dengan baik."


Bapu Ridhwan mendongak lalu bersuara keras. "Hei Mamoru! kau liat sekarang? kita berdua punya cicit! ah, brengsek kau. kenapa duluan pergi dan tak menungguku? kalau saja kau disini, kita akan sama-sama menyaksikan kelahiran cicit kita!!!" selesai berkata begitu Bapu Ridwan kembali menangis membuat Chiyome kembali memeluknya dengan haru.


"Bapu...." sahut Chiyome.


"Ah, Buyutmu itu keterlaluan. pergi tak bilang-bilang... " sedu kakek tua iru.

__ADS_1


mereka kemudian menuntun Bapu Ridhwan duduk disofa keluarga. Adnan mengambil barang-barang bawaan Bapu Ridhwan dan membawanya ke dapur. tak lama kemudian Mariana dan Aisyah muncul bergabung.


" Wololo habari Bapu?" Sapa Mariana sambil mencium tangan Bapu Ridhwan. (Bagaimana kabarnya, kakek.)


"piyo-piyohu nunu.... waw wololo timongoli? sehati nga' mila?" tanya Bapu Ridhwan. (Aku baik-baik saja. bagaimana dengan kalian? sehatkah kalian?)


Mariana dan Aisyah mengangguk. "Sedikit lagi waktu berbuka. Bapu ikut dengan kami ya?" pinta Mariana.


Bapu Ridhwan hanya tertawa menanggapi permintaan cucunya. " Tentu saja Bapu berbukanya disini. memang Bapu mau kemana lagi?"


semua anggota tertawa mendengar kata-kata lelaki tua itu. Bapu Ridhwan menyuruh mereka duduk. Adnan dan Mariana duduk di sofa, sedangkan Aisyah duduk sofa sebelahnya. adapun Kenzie dan Chiyome lebih memilih duduk dilantai.


"Bapu hanya mau bertanya saja. kemarin bibimu bilang keluargamu difitnah orang. fitnah apa yang ditimpakannya kepada kalian?" tanya Bapu Ridhwan menatapi Mariana.


"Bapu. tidak mendidihkah darah Bapu jika mendengar cucu Bapu dikatakan seorang ******* dikeluarga kita?" pancing Mariana dengan emosi.


Chiyome dengan refleks mengelus perutnya sambil menunduk membuat Kenzie langsung menegur Mamanya. Mariana tersentak dan langsung menangis.


"Bapu! cari orang itu Bapu. Aku tak rela mantuku dihinakan orang!" jerit Mariana membuat Adnan langsung menenangkannya.


Bapu Ridhwan mengencangkan rahang mengeraskan urat-urat diwajahnya. "Berani mereka merendahkan mantu keluarga Mantulangi? baik! tunggu saja. sayangnya ini masih bulan puasa! Bapu benar-benar tidak rela."


"Saya sudah mengkomunikasikan semuanya dengan pihak dinas pendidikan. sayangnya hasilnya tidak terdengar baik. dan Chiyome memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah." timpal Adnan.


Bapu Ridhwan menatap Chiyome. "Bagaimana tanggapan ayahmu, nak?" tanya kakek itu.


" Otoo-San sudah tahu. dia telah mendaftarkan nama saya di Jepang sebagai siswa pindahan. tapi saya mengikuti program online. saya harap kalian semua tidak kuatir dengan saya. jadi persoalan itu, saya anggap sudah selesai." kata Chiyome dengan senyum datar. Kenzie tahu bahwa istrinya sebenarnya tidak berkenan menceritakan hal itu. kentara dari senyumnya yang datar dan terkesan dipaksakan.


Kenzie menyentuh punggung tangan istrinya. Chiyome menatapnya. Kenzie memberi isyarat gelengan tak kentara. gadis itu menunduk.


" Gomen...Hubby.." jawab Chiyome menunduk dan tak lama ia terisak. Kenzie tanggap mendekat dan memeluk istrinya, memberikan penguatan moril dan menegaskan bahwa ia tak berjuang sendiri.


"Istriku sudah merelakan itu. saya harap Papa dan Mama tidak membicarakan hal itu lagi." ujar Kenzie sambil membelai rambut istrinya. "Namun yang saya tekankan adalah.... saya tidak rela atas pencemaran nama baik istriku. saya harap Bapu segera bertindak mencari siapa orang itu. aku tak perduli, Bapu mencarinya dengan cara lain."


Bapu Ridhwan mengangguk-angguk. "Hm.... aku sependapat denganmu Cucuku. bagaimanapun ini menyangkut keluarga besar Lasantu-Mantulangi dan Mochizuki-Lasabang. aku takkan melepaskan pelaku itu. akan kubuat ia menyesal seumur hidup." ujar lelaki tua itu.


bunyi beduk bertalu-talu terdengar keras dari Masjid yang terletak satu blok dengan kediaman Lasantu, disusul dengan suara adzan maghrib, membuat semua anggota keluarga itu terperangah.


"Sudah buka rupanya. ayo!" ajak Adnan.


Mariana dan Aisyah yang tanggap langsung ke dapur menyiapkan segalanya disusul oleh Adnan dan Bapu Ridhwan yang melangkah bersama.


Kwnzie membantu Chiyome berdiri.


"Wiffy nggak apa-apa, kan?" tanya Kenzie.


Chiyome menatapi Kenzie dan pemuda itu menghela napas. "Gomen... Wiffy.... Mama kelepasan bicara. Hubby harap Wiffy bisa memakluminya."


Chiyome tersenyum lebar memamerkan seringai gingsulnya. "Wiffy paham kok Hubby. jangan kuatir."


Kenzie menatap istrinya dengan penuh makna. Chiyome langsung menggamit lengan suaminya dengan manja dan mengajaknya ke ruang makan. disana mereka disambut oleh Bapu Ridhwan.


"Acara manja-manjanya ditunda dulu. ini habiskan makanannya. kita rayakan buka bersama pertama kita sebagai syukur bahwa kita telah berhasil melewati cobaan pertama ini." ujar Bapu Ridhwan.


dengan tersipu-sipu Chiyome duduk disisi Mariana dan Kenzie di sisi Bapu Ridhwan. kakek tua itu berdoa.


Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, untuk-Mu, aku beriman, dan dengan rezeki-Mu, aku berbuka, dan dengan rahmat-Mu wahai yang Maha memberi lagi Maha penyayang.

__ADS_1


telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap.... Insya Allah...


dan acara buka buasa bersama keluarga itu berlangsung meriah dan penuh gurau, canda tawa.[]


__ADS_2