
Kenzie menghempaskan tubuhnya ke sofa. perasaannya tidak senang siang itu. yang sedikit meredakan panas hatinya hanyalah keberadaan Chiyome dan putranya. sang istri melihat ada sedikit percikan api yang masih menyala dalam raut wajah suaminya.
"Kemarikan Saburo. aku memerlukan pereda panas dalamku." pinta Kenzie dengan nada datar.
Chiyome menyerahkan Saburo ke pangkuan ayahnya. tingkah Saburo yang lucu sedikit menyiram nyala api yang memanasi wajah pemuda itu.
"Hubby... Wiffy pijitin ya?" kata Chiyome.
Kenzie mengangguk. pemuda itu turun ke lantai dan bermain-main dengan Saburo dalam pelukannya. sementara Chiyome duduk dibelakang suaminya dan mulai memijiti pundak suaminya dengan lembut.
panas yang meradang dihati Kenzie lenyap sudah berganti tenang merasakan pijatan lembut sang istri ditambah tingkah putranya sudah memasuki usia 7 bulan. Saburo, menurut Chiyome sudah pandai berjalan dengan keempat tungkai tubuhnya. gerak bayi itu sangat lincah.
"Aaahhh... putraku Saburo... kamu memang selalu membuat Papa senang..." puji Kenzie kemudian menatap istrinya. "Hubby cinta sama Wiffy."
Chiyome tersenyum lalu maju mencium kepala suaminya. "Boleh Wiffy bertanya, nggak?"
"Boleh saja." jawab Kenzie sambil terus bermain-main dengan Saburo.
"Kenapa Hubby pulang wajahnya kok kusut benar?" tanya Chiyome dengan hati-hati.
"Ah, Papa keterlaluan Wiffy!" sembur Kenzie tiba-tiba.
"Kenapa dengan Papa?" tanya Chiyome sambil terus memijiti pundak Kenzie dengan pelan.
"Papa tanpa bilang-bilang sudah menugaskan salah satu pegawai baru jadi sekretarisnya Hubby. mana dianya perempuan lagi. Hubby kan nggak suka." sembur Kenzie lagi dengan alis bertaut.
"Mungkin Papa punya alasan tersendiri." ujar Chiyome menenangkan suaminya, padahal dalam hatinya, ia sangat terusik.
"Oke, alasan tersendiri. baik Hubby terima. nanti kalau Papa bicara sama Wiffy, tolong bilang sama Kakatua itu, Hubby nggak suka sekretaris perempuan. jika iya, harus dengan pertimbangan dan persetujuan Wiffy, supaya Hubby tenang. itu aja." tandas Kenzie.
Chiyome sejenak diam. wanita itu menimbang-nimbang sejenak permintaan suaminya. benar, normalnya ia memang terusik dengan kabar itu. jika memang diinginkan Kenzie, tentu dia lebih setuju, sekretaris pribadi suaminya adalah laki-laki. namun pemegang kuasa perusahaan adalah ayahnya dan itu adalah perintah mutlak.
"Hubby.... bisa nggak Wiffy saranin sesuatu?" tanya Chiyome.
"Silahkan..." kata Kenzie.
"Terima saja sarannya Papa. tapi Hubby nggak usah kuatir. Wiffy juga akan melihat perkembangannya. Hubby tenang saja ya." kata Chiyome.
"Yaaaa.... kalau Wiffy bilang begitu, Hubby sih oke-oke saja. yang penting Wiffy sudah Hubby kasih tau. yang jelas konsekuensi dari ini bisa kita pertimbangkan bersama." jawab Kenzie.
__ADS_1
Chiyome tahu betul konsekuensi apa yang dimaksud oleh suaminya. berduaan dalam ruangan atau berjalan bersama dengan wanita bukan muhrim akan berpotensi menimbulkan perselingkuhan. wanita itu harus bisa mengantisipasinya mulai dari sekarang, dengan cara apapun dan bagaimanapun.
"Iya... Hubby tenang saja. percaya sama Wiffy." kata Chiyome sambil tersenyum.
"Sini sayang. duduklah dipangkuanku." pinta Kenzie sambil meletakkan Saburo dilantai membiarkannya berjalan merangkak sesukanya. Chiyome memutari sofa dan duduk dipangkuan Kenzie.
"Wiffy tau sayang?... Wiffy adalah yang paling berharga milik Hubby... Hubby nggak mau Wiffy salah paham yang dapat merenggangkan hubungan suami-istri yang tadinya harmonis. Hubby bicara blak-blakan supaya Wiffy tahu Hubby nggak menyembunyikan apapun." kata Kenzie dengan lembut.
"Wiffy tahu Hubby nggak bakalan berani selingkuhi Wiffy... karena ini akibatnya." ujar Chiyome dengan senyum jenaka memperlihatkan kepalan tinjunya. Kenzie tertawa renyah.
"Salah satunya itu. sekuat-sekuatnya pria, pasti takut dengan wanita." jawab Kenzie sambil memeluk Chiyome dan wanita itu balas melingkarkan tangannya ke leher suaminya.
"Besok Wiffy sama-sama dengan Hubby ke kantor ya?" pinta Kenzie. diluar dugaan, Chiyome menggeleng.
"Kenapa?" tanya Kenzie.
"Hubby tenang saja. jalankan saja lakon Hubby sebagaimana mestinya menurut kemauan Papa. yang penting, Hubby bisa jaga hati Hubby untuk Wiffy." kata Chiyome.
"Kalau Hubby mulai membelok?" pancing Kenzie sambil tersenyum.
"Ya, diingat-ingat saja kejadian waktu Wiffy membunuh Nobuo." jawab Chiyome dengan senyum.
Kenzie menelan ludah. yang jelas ia sudah mengetahui bagaimana sepak terjang istrinya. Chiyome, Si Kembang Maut dari Tokyo. pemuda itu tersenyum lalu mengecup pipi istrinya.
"Wiffy yakin kok Hubby orangnya setia. Semoga saja Tuhan selalu menetapkan hati Hubby pada Wiffy." kata Chiyome.
"Makasih Wiffy." kata Kenzie.
setelah itu keduanya bermain-main dengan Saburo siang itu di ruangan tengah.
...********...
Aisyah dengan pakaian yang serba tertutup sedang dalam perjalanan menuju kompleks asrama mahasiswa. ia menemui salah satu sahabat kelasnya. gadis itu berdiri di pintu kamar kost sahabatnya.
ia mengetok pintu itu beberapa kali. tak lama pintu iru membuka. muncul seorang gadis berperawakan cantik dengan kulit sawo matang dan berambut lurus. Aisyah kaget dengan penampilan gadis itu.
sahabatnya itu hanya mengenakan kaos singlet dari bahan katun warna pink dengan padanan celana jins yang pendek sepangkal pahanya. memang ini pertama kali Aisyah mengunjungi sahabatnya.
"Mirna... kamu tahu dimana kostnya Stefan?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Ais... kenapa kamu disini? ada apa?" todong perempuan bernama Mirna itu.
"Aku memerlukan alamat Stefan. kamu tahu dimana kost nya?" tanya Aisyah.
"Kenapa kamu tanyakan padaku? memangnya aku tahu dia dimana?" balas Mirna dengan suara nyaris ketus.
"Tapi kan kamu setingkat dengan dia... kalian sama-sama teman satu semesteran, kan?" kata Aisyah dengan penuh pengharapan.
"Memang. tapi kan banyak temannya, bukan cuma aku. coba kamu tanyakan sama Noldi atau Refli. mungkin saja mereka tahu." jawab Mirna.
Aisyah menggigiti jarinya dan sesekali mengamati kamar-kamar yang pintunya tertutup. kemudian ia menatapi Mirna.
"Ya sudah. aku akan mencari Refli dan Noldi. aku permisi dulu." ujar Aisyah pamit meninggalkan tempat itu.
Mirna menghela napas panjang dan membuangnya dengan kasar. ia kemudian menutup pintu.
"Dia sudah pergi?" tanya seorang pemuda yang bertelanjang dan bagian pribadinya hanya dihalangi cawat biru.
"Kenapa Aisyah mencarimu Van?" todong Mirna.
pemuda itu yang tak lain adalah Stefan hanya mengangkat bahu. "Mana kutahu. mungkin dia masih kangen." jawab Stefan tersenyum.
"Kebersamaan kalian di Poso masih membuatnya kangen sama kamu?" ujar Mirna dengan membelalak mata. "Dasar fuckboy kau ya. kamu ngapain saja dia?"
Stefan hanya menatap Mirna lalu mengangkat-angkat alisnya membuat Mirna tambah kaget.
"Astaghfirullah, Van! kamu sudah memerawaninya?! gila kamu ya?!" pekik Mirna sambil menutup mulutnya.
"Diamlah! jangan sampai suaramu terdengar keluar." hardik Stefan kemudian bangkit dan melangkah mendekati Mirna.
"Kamu cukup diam dan jadilah gadisku yang manis. tidak perlu mencari tahu atau bersikap simpati terhadapnya." kata Stefan.
pemuda itu meraih bagian bawah singlet Mirna dan menariknya ke atas hingga menyembullah sepasang payudara tanpa bra itu.
"Hari ini, aku hanya ingin bercinta denganmu." kata Stefan sambil tersenyum nakal dan mendekatkan wajahnya ke wajah Mirna.
bibir keduanya bertemu dan saling mengulum sementara Stefan bergerilya dikedua bongkah dada wanita itu. keduanya kemudian menuju ranjang dan melakukan kegiatan mereka yang sempat tertunda.
dan Mirna langsung mengerang ketika Stefan mencoblos liang senggamanya dengan tonggak kelelakiannya kemudian pemuda itu menyebadaninya dengan penuh birahi.
__ADS_1
permainan erotis itu berlangsung seru hingga akhirnya keduanya melepaskan hasrat purba mereka dan sama-sama tergolek di ranjang itu dengan napas yang memburu.
Mirna, sadar bahwa hubungan mereka merupakan pengkhianatan terhadap sahabatnya. namun ia tak perduli. baginya, barang milik Stefan lebih berharga dari sebuah persahabatan. []