Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 161


__ADS_3

Aula kantor polresta Gorontalo, Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalagi. pukul 09.00 WITA.


hari itu berlangsung sidang BP4R. ada beberapa pasangan termasuk Trias dan Saripah yang rencananya akan melaksanakan pernikahan dihari yang telah mereka tentukan sendiri.


BP4R sendiri adalah lembaga interen dalam organisasi kepolisian negara yang berfungsi untuk menfasilitasi anggota polisi yang hendak melaksanakan pernikahan. Badan Pembantu Penasihat Perkawinan Perceraian dan Rujuk, demikian penjelasan dari antonimnya, memiliki tugas untuk memastikan kesiapan mental anggotanya dalam mengarungi rumah tangga, mensiasati agar tak terselenggaranya perceraian dan kembali rujuk sesuai kaidah yang berlaku.


sidang sandiri dipimpin oleh Wakapolresta Gorontalo, didampingi oleh Kepala Bagian Sumber Daya (Kabag Sumda), Kepala Sie Propam, dan Ketua Kemala Bhayangkari Kota Gorontalo menggelar sidang tersebut.


karena pergelaran ini resmi, maka Trias terpaksa harus mengenakan PDH lengkap tanda pangkat dan penghargaannya. sedangkan Saripah mengenakan pakaian kasual yang senada dengan warna pakaian calon suaminya.


acara itu berlangsung dengan tertib. seperti yang telah dijelaskan oleh Kabag Sumda bahwa setiap anggota polri harus mempersiapkan segala hal dalam mengarungi kehidupan berumah tangga dan mensinergikannya dengan kehidupan para anggota polri yang sarat akan tugas dan pengabdian.


"Kepada calon-calon istri maupun suami dari anggota yang bersangkutan, perlu anda ketahui bersama, bahwa tugas seorang polisi itu berat dan beraneka ragam. maka amda sekalian mesti lebih memahami seberapa berat pasangan anda menjalani tugas dan kewajibannya. selain itu anda sebagai pasangannya juga harus bisa menerapkan kesederhanaan dalam peri kehidupan bersama." tutur Wakapolresta Gorontalo, Komisaris Indra F. Dalimunthe dengan senyum menatapi pasangan-pasangan calon pengantin tersebut.


"Menjadi bhayangkari itu nggak mudah lho..." sambung Wakapolresta Gorontalo lagi, "Anda sebagai pasangannya harus bisa mengikuti alur dan siap mendukung dalam hal apapun segala tindak pengabdiannya kepada negara. khususnya sebagai seorang Reserse yang kesehariannya selalu berhadapan dengan kaum kriminal yang kadang bahkan sangat mengancam nyawa anggota sendiri."


setelah itu, Wakapolresta Gorontalo memberikan berbagai arahan dan nasihat lainnya. semua pasangan calon mendengarkannya dengan penuh perhatian. ditengah kegiatan itu, Trias sejenak melirik kepada Saripah. gadis itu meliriknya dan mengangkat alis.


jangan kuatir, Abahku sayang.... aku pasti mendukungmu... demikian suara hati Saripah berbicara.


Tentu... kalau nggak, kujitak Umma supaya jadi perkedel.. balas Trias menerbitkan senyumnya.


nggak bakalan bisa! berani? nggak kukasih jatah, baru tahu rasa! ancam Saripah dengan pelototan mata.


aahhh...dasar Umma... selalu itu saja yang diungkit.. keluh Trias menghela napas panjang dan kembali menatap Wakapolresta Gorontalo yang masih memberikan arahan dan nasihat.


Saripah tersenyum dan menyapu lengan kekar calon suaminya. aku mencintaimu... Duda tampanku...


Trias tersenyum tanpa menolehi calon istrinya. perhatiannya kembali tertuju kepada arahan dan nasihat yang diberikan pimpinan sidang saat itu. setelah arahan tersebut, giliran ketua kemala bhayangkari menjelaskan tentang etika seorang istri atau suami anggota kepolisian dan sosialisasi tentang organisasi Kemala bhayangkari sendiri. kini ganti Saripah yang memusatkan perhatiannya kepada penjelasan wanita anggun berpakaian merah muda dengan bawahan merah marun itu. sebuah pin organisasi tersemat disisi kerah pakaiannya.


Kemala Bhayangkari pertama didirikan oleh Ny. H.L. Soekanto pada tahun 1949 dan ditetapkan sebagai organisasi resmi pada tanggal 19 Oktober 1952. lambang organisasi, Cupu Manik Astagina ditetapkan pada tahun 1956, dan himne gubahan RAJ. Sujasmin dan Ny. SA. Legowo ditetapkan pada tahun 1959. organisasi ini pernah dilebur dalam satu wadah bernama Dharma Pertiwi hingga tahun 1999, Kemala Bhayangkari memisahkan diri dari institusi Dharma Pertiwi sesuai Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1999. Kemala Bhayangkari menjadi organisasi masyarakat sebagai salah satu dari tujuh ormas wanita Indonesia yang aktif dengan penerbitan Akta nomor 3, tertanggal 16 April 2012 dengan nomor resmi 01-00-00/0096/DIII.4/IV/2012.


acara itu berlangsung hingga pukul 12.00 WITA yang kemudian ditutup dengan doa bersama dan santap bersama.


...******...


Sehari setelah sidang. Trias duduk di beranda samping rumah kediaman partnernya Bambang, menyaksikan Maya sedang memanen poksay, cabe, tomat, bawang dan kacang panjang. sesekali keduanya bercengkrama sambil ditemani kopi susu dan kudapan ringan, biskuit Better dua pack yang dihamparkan pada piring.


"Nah, seperti yang Pak Wakapolres bilang. intinya kamu harus sudah siap mental." ujar Bambang yang baru saja meletakkan cangkir kopi dimeja.


Trias menggigiti pinggiran biskuit Better pelan-pelan kemudian mengunyahnya. ia mengangguk pelan.


"Soal mental, aku sudah mempersiapkan dari dulunya..." jawab Trias. "Sejak aku memulainya bersama..." Trias tersental sendiri. nama Iyun hampir terucap diujung lidahnya. untung lelaki itu segera menahannya. nyaris saja kelepasan.


Bambang mengerutkan kening, "Maksudmu? apa kau pernah bersama seorang wanita sebelum dengan Saripah?" tebak lelaki itu.


Trias menatap partner kerjanya itu lalu tersenyum dan menggeleng. "Nggak... sejak aku memulainya bersama... Saripah..." kilahnya.


Bambang memicingkan matanya. "Jangan kelabuhi aku, Yas. aku sudah sepuluh tahun di kepolisian, hanya saja aku malas mengurus pangkat. jadinya aku tetap pajule, sepertimu." ujarnya, "Namun aku lebih berpengalaman membaca mimik wajah sepuluh tahun lebih dari kamu."


Trias hanya tersenyum menanggapi ucapan Bambang. sementara ia terus menonton Maya yang hampir selesai memanen kebun kecilnya itu. tak lama kemudian muncul seorang wanita.


Trias menganggukkan kepala kearah wanita itu. "Siapa tuh?"


Bambang mengikuti anggukan Trias. ia menatap wanita yang mendekati istrinya itu. "Oooh... Meiske Pandeiroot. tetangga sebelah. suaminya pegawai di Bank Sulutgo cabang Kota ini."


"Akrab istrimu dengan dia ini?" bisik Trias.

__ADS_1


Bambang menggeleng. "Sudah, dengarkan saja percakapan mereka. kau akan menemukan hal menarik." bisik lelaki itu.


Meiske tiba disisi kebun. Maya yang menyadari keberadaan wanita itu menghentikan kegiatannya.


"Eh, Meis... darimana ngana dang??" sapa Maya dengan santai sambil menyeka keringat didahinya.


"Ooo... kita baru pulang dari gereja da bakudapa dengan pendeta Markus... kong kita inga mo bakudapa deng ngana... ada yang mokase tau..." jawab Meiske sekenanya sambil menatap keranjang yang penuh dengan sayuran.


"Kong apa yang ngana mo kase tau ini? peserius skali ini mo ba bicara..." ujar Maya dengan heran.


"Ey, tadi kita pak pendeta da kase tugas... mo pimpin ibadaj kolom..." jawab Meiske dengan antusias.


"O iyo? eh, pe beruntung skali ngana ee? kita saja sampe skarang nya dapa giliran turus... nya tau kiapa.." keluh Maya membuat Bambang tersenyum masam.


"Gimana mau dikasih mimpin ibadah kolom, pengetahuan saja dibawah standar..." sindir Bambang dengan pelan.


Trias mendesis, "Ssst... ente ini... aib istri diumbar sama aku. sakit telingaku ini." jawab Trias dengan kesal dan bersuara pelan pula, takut terdengar oleh Maya yang pendengarannya bisa melampui Superman kalau dia lagi ada maunya.


"Kong ngana so dapa materi ibadah???" tanya Maya.


"Sudah le... depe judul... kasihanilah sesamamu.." jawab Meiske dengan senyum culas sejenak namun segera disembunyikannnya. tanpa dia sadari sebenarnya hal itu tertangkap oleh ketajaman mata elang Maya yang protektif itu.


alis Maya bertaut, "Kalau boleh tahu, apa depe isi khotbah dang..." pancing wanita itu sambil bercakak pinggang.


"Kasihanilah sesamamu..." ujar Meiske memulai isi khutbah, "Terutama tu kasihani itu birman-birman yang minta rica, tomat, bawang... deng rampa-rampa itu... kasih padorang kasian..."


Bambang tertawa pelan sedang Trias tersenyum saja. pinyar benar mengaitkan isi khutbah dengan keinginan meminta dengan cara bias supaya nggak diketahui niat aslinya... dasar licik...


Maya mengangguk-angguk. "Oooh... bagitu kang depe isi??" ujarnya memastikan.


"Kita rasa pernah dengar dang isi khutbah ini sama pendeta mana staw..." ujar Maya. "Ngana nya tau depe lanjutan isi dihalaman sabala???"


Meiske sejenak terkejut. sebenarnya isi khutbah itu bualannya saja. namun untuk membuat Maya tidak curiga ia bertanya, "Nyatanya ana juga baru baca halaman satu... ngana tau depe halaman berikutnya?"


Maya langsung bergaya seperti pengkhotbah kawakan dan menunjuk-nunjuk wajah Meiske. "Janganlah engkau menginginkan milik saudaramu..." ujarnya dengan tatapan sinis, "Apa lagi minta tomat, rica atau bawang..."


Meiske hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan senyum cengiran karena niatnya diketahui Maya. wanita itu mengangkat karung sayuran itu dan hendak beranjak pergi. namun langkahnya terhenti dan kembali menatap Meiske. "Ba tanam kwa setan!!!" umpatnya.


Meiske hanya bisa tertawa dengan wajah jengah. "Birman setang, kwa ngana Maya." umpatnya sambil tersenyum.


Maya, meskipun orangnya rada nyelekit, namun ia orang yang berjiwa sosial pula. sebenarnya pedasnya hanya dimulut saja. dihatinya tidak seperti itu. orang yang belum mengenal dekat dirinya pasti akan berkesimpulan jika wanita kelahiran Minahasa itu sombong dan biang gosip.


"Tunggu sebentar." ujar Maya melangkah menuju dapur membiarkan Meiske berdiri dikebun sendirian. sesampainya didapur, Maya mengambil tas kresek putih.


Maya mengambil beberapa jumput kangkung tanah, pokcay dan rampa-rampa sedikit kemudian dimasukkan dalam tas kresek itu lalu ia keluar.


"Eh, napa ngana pe bagian abis ba khotbah..." olok Maya sembari senyum. dengan tersipu Meiske meraihnya.


"Makasih ye Maya. semoga Tuhan baberkat pangana ini hari." ujar Meiske memuji-muji Maya. wanita itu mengibaskan tangan berlagak mengusir Meiske.


"Ah, suda ngana jang banya mulu... pi pigi jo ngana, tu ngana pe laki so tunggu kasian!" ujar Maya.


Meiske pergi melambaikan tangan dan Maya dengan senyum dan menggelengkan kepala berkali-kali masuk kembali ke dapur.


Trias melepaskan tawa yang sejak tadi ditahannya. Bambang tersenyum. "See? See? Itulah yang kumaksud darimu."


Trias mengangguk-angguk paham. "Ya... kehidupan persuami-istrian, penuh dengan dinamika hidup. kalau nggak pandai memegang kemudi, bisa karam biduk dilautan atau bisa dirampok orang dan barang kita hilang." ujarnya membuat tamsil.

__ADS_1


"Ah, kau macam orang berpengalaman saja." sindir Bambang. "Aku saja yang sudah delapan tahun membina rumah tangga kadang kesulitan mengaturnya." bantah Bambang. "Kau tahu? eh, perempuan itu, tulang rusuknya bengkok benar. tak kau luruskan, selamanya ia bengkok. kau luruskan, patahlah dia!"


"Jadi yang kau perbuat? membiarkannya bengkok terus?" pancing Trias.


"Ya, nggak lah. aku gunakan tarik ulur, macam orang mengendalikan palinggir (layang-layang)." jawab Bambang sambil nyengir.


Trias tertawa dan mengambil cangkir lalu menyeruput air kopi dengan nikmat. tak lama datang Maya diberanda itu. dia langsung memperlihatkan uang selebaran seratus ribuan, seratus lembar dihadapan kedua lelaki itu.


"Apa Mam??" tanya Bambang dengan heran dan wajah pias.


"Ini uang apa?" tanya Maya dengan wajah penasaran.


"Uang apa?" tanya Bambang berlagak tak perduli.


"Uang ini! kita dapa di sei baju-baju, tasusuru di sela-sela bagian bawa kong dirak bawa lagi... uang apa ini so?" tanya Maya dengan lebih mendesak.


Bambang menepuk jidatnya. Trias tersenyum saja. Bambang mendesah.


"Uang soe itu.." jawab Bambang dengan pelan.


"Uang soe apa?" tanya Maya lagi dengan ngotot.


"UANG SOE!!! SO SAMBUNYI LE, NGANA DAPA!!!" jawab Bambang dengan keras membuat Trias tersedak dan terbatuk-batuk.


Maya terkejut. "Ooo ngana so jaga sambunyi uang pa kita haa? ngana mbekeng apa tu doi haa? ngana mba hugel akang? haaa? ey.. bilang!! bilang sapa ngana pe hugel!! ta mo cakar abis padia!!" ujarnya dengan sengit.


"Eh, sudah." sela Bambang tak kalah sengit. "Itu uang for kita mobekeng simpanan tak terduga satu bulan punya. mar ngana so dapa biar jo. ambe saja, bo jangan banya mulu ngana... kita sadiki lagi som ba urus proyek pica!!"


mendengar kata proyek, wajah Maya langsung sumringaj. "O iyo? proyek apa dang yang mo pica ini?"


Bambang menatap Maya dengan jengkel. "Kalau bukang ngana pe mata yang pica, ngana pe mulu yang mo pica!" umpat lelaki itu membuat Maya seketika memanyunkan mulutnya. Bambang menatapnya dengan melotot.


"Pi kasepulang ulang tu doi pa depe tampa. jang kore itu kalau nya perlu." ujar Bambang.


dengan langkah kesal, Maya kembali masuk kedalam. Bambang bersungut-sungut panjang pendek. "Heran bini jaman sekarang, eh... pe tajam skali penciuman, kala anjing pelacak no..." omelnya pelan.


Trias hanya tertawa saja.


...******...


Kediaman Lasantu, pukul 19.10 WITA.


kedua lelaki beda usia itu berdiri saling berhadapan. Bakri mengenakan pakaian silatnya yang merah, khas perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah, lengkap dengan destarnya. dihadapannya, Sandiaga berdiri tegak mengenakan kaos dan celana training.


"Ingat Sandi.... Abi mengajarkan silat kepadamu, untuk tujuan kebaikan. seni beladiri digunakan untuk menghadapi ketidak-adilan dan bukan digunakan untuk memperbudak sesama manusia dan makhluk hidup lainnya." pesan Bakri.


"Sandi paham, Abi." jawab Sandi.


"Baik... terhitung hari ini, kamu adalah murid pertama Abi. di sini, di dojo ini, kita berdua terikat sebagai guru dan murid. Abi melarang Sandi bersikap manja, meski dihadapan Abi sendiri. Sandi harus mendengarkan semua arahan Abi dan melaksanakan apapun perintah Abi dan menjauhi semua larangan yang Abi tak suka!" pesan Bakri dengan sorot tajam.


Sandi teringat pada prinsip shiki yang diucapkan ibunya beberapa hari lalu. ia mengangguk. "Sandi, paham... Abi."


"Bagus..." puji Bakri.


dan mulai malam itu, Sandi diajarkan dasar-dasar gerakan silat, mulai dari memukul, menendang, dan menangkis. Sandi mengikuti semua metode yang diajarkan gurunya. dan Bakri tersenyum puas, melihat semua gerakan yang dipraktekkan Sandiaga, sesuai benar dengan apa yang ia harapkan.


tak salah lagi nak... kau akan menjadi pelindung keluarga Lasantu... kau saja sanggup meniru gerakan-gerakan dasar.. padahal usiamu baru tujuh tahun... kau sangat berbakat Sandiaga... tak percuma... aku menjadi gurumu... ujar Bakri dalam batinnya. lelaki itu tersenyum.[]

__ADS_1


__ADS_2