Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 73


__ADS_3

06 April 2020 - pukul 10.00


Kenzie terkejut melihat foto-foto dirinya dan Chiyome yang terpampang di halaman blog sekolah. ada juga foto Chiyome yang ditemani oleh Mariana sedang check up kehamilan di RSIA Siti Khadijah, ada juga foto Chiyome yang diantar oleh Adnan disekolah.


diatas foto itu terpampang tulisan yang membuat rahang Kenzie mengencang dan darahnya mendidih.


CHIYOME - SUGAR BABY KELUARGA LASANTU


dengan emosi yang meluap, Kenzie meninju meja sofa itu hingga bagian kacanya pecah berhamburan. tangan Pemuda itu berdarah. Mariana dan kedua anaknya yang sementara berada didapur buru-buru ke ruang keluarga ketika mendengar suara barang pecah.


"Kamu kenapa Kenzie?! apanya yang pecah?!" omel Mariana sambil melangkah cepat dan ketika berada diruangan tersebut seketika ia menutup mulutnya terbelalak melihat meja kaca sofa itu pecah berhamburan dengan Kenzie yang berdiri tegak dengan kepalan bagian kanan yang penuh dengan darah. beberapa titiknya sudah jatuh mengotori lantai marmer diruang keluarga tersebut.


"Ken!! kamu kenapa?!" jerit Mariana.


Chiyome datang menyusul bersama Aisyah. "Hubby? kenapa Hubby?" tanya gadis jepang itu.


perlahan Kenzie mengarahkan tatapan penuh amarahnya kepada Chiyome. wanita itu tercekat. ada apa?


"Hubby...." panggil Chiyome dengan nada datar pertanda harga dirinya terusik. perlahan tangan kiri Kenzie yang memegang ponsel terangkat dan tersodor kearah Chiyome.


"Wiffy.... kelihatannya ada yang ingin cari gara-gara dengan kita!" ujar Kenzie dengan nada datar.


Chiyome meraih ponsel itu dan membuka layar sentuh. tak lama ia terkejut lalu kemudian matanya memicing. sedangkan Aisyah yang melihat foto dan tulisan di blog itu hanya menarik napas panjang dan menggigit bibirnya dengan geram. Mariana yang melihat tajuk dalam halaman blog itu langsung histeris.


Adnan yang sementara tidur terdengar teriakan histeris istrinya langsung terbangun dan berlari keluar kamar.


"Ada apa ini Ma?! ribut benar pagi ini?!" omel Adnan yang hanya mengenakan kaus oblong dan celana tenis itu berdiri didepan pintu.


"Paaa! ada yang memfitnah keluarga kita!" jerit Mariana sambil menangis.


kening Adnan berkerut. ia melangkah mendekati kumpulan keluarganya itu dan meraih ponsel yang ada dalam genggaman Chiyome. seketika matanya membulat dan memerah. rahangnya mengencang dan tubuhnya bergetar.


"Hmmm.... jadi memang ada yang mau main-main dengan keluargaku." geram Adnan.


lelaki itu menatapi keluarganya. "Berpakaianlah yang rapi. Papa mandi dulu. kita akan langsung tele-conference dengan pihak sekolah, meminta klarifikasinya." kata Adnan.


lelaki itu lalu melangkah kearah dapur. ia menuju kamar mandi dan sejenak kemudian terdengar suara air diciduk dengan kasar berkali-kali. tak lama kemudian Adnan muncul lagi dengan tubuh telanjang yang hanya dirutupi handuk. ia masuk kekamar.


melihat ayahnya sibuk, Kenzie langsung mengajak istrinya kedalam kamar dan bersalin pakaian yang lebih pantas, begitu juga dengan Aisyah dan Mariana.


setelah beberapa saat, mereka kembali ke ruang keluarga dan langsung meletakkan tablet didepan televisi. mereka duduk dilantai. yang lelaki bersila, yang perempuan duduk bersimpuh.


Adnan menghubungi kepala sekolah SMUN 3 Kota Gorontalo dengan menggunakan aplikasi Zoom Meeting. tak lama kemudian dilayar itu muncul wajah kepala sekolah itu mengenakan pakaian dinas.


"Assalamualaikum. " sapa Adnan dengan nada datar.


"Wa alaikum salam. Pak Adnan? bagaimana kabarnya?" balas kepala sekolah itu menyapa.


"Saya sehat, keluarga saya juga sehat." jawab Adnan masih dengan nada datar.


merasa nada suara lelaki itu datar, membuat kepala sekolah dilanda rasa gugup. "Ada yang bisa saya bantu, pak?"


"Iya! saya mau minta klarifikasi dari pihak sekolah atas tajuk dan foto-foto yang terupdate hari ini di blog sekolah." kata Adnan semakin mencorongkan tatapannya.


kepala sekolah membuka akun blog sekolah dan terkejutlah ia dengan banyaknya foto-foto Kenzie dan Chiyome, beserta tajuk besar yang menghias halaman blog tersebut. dengan tergagap kepala sekolah menjawab,


"Pak! ini biarkan saya yang menyelidiki! saya minta maaf disini mewakili pihak sekolah! saya akan menghubungi pembuat akunnya dahulu untuk mencari tahu." jawab Kepala Sekolah dengan gugup.


"Saya berikan anda 1 hari untuk menyelesaikan masalah ini. ingat pak, hanya 1 haru saya berikan anda kesempatan. anda mau main-main dengan saya, Pak?!" bentak Adnan membuat kepala sekolah itu langsung mengkerut ketakutan. Adnan langsung memutus pembicaraan itu.


ditatapinya Chiyome dan Adnan. "Kita tunggu sehari. jika belum ada kepastian, Papa akan menghubungi relasi Papa di Kanwil Diknas untuk meminta petunjuk bagaimana menyelesaikan permasalahan kalian. jika memang tak ada yang bisa dilakukan, terpaksa Papa harus menggelar resepsi pernikahan kalian, meskipun ditengah pandemi seperti ini."


Chiyome dan Kenzie saling berpandangan. Kenzie kemudian menatapi ayahnya.


"Pa, apa tidak sebaiknya menunggu istriku melahirkan dulu? kami tahu, Papa marah. saya sangat marah juga Pa. istriku dikatai sugar baby, tentu sangat menyakitkan. tapi... Kenzie hanya meminta Papa bersabar sedikit. sedikit lagi." pinta Kenzie.

__ADS_1


Kenzie menatapi Chiyome. "Jangan bertindak apapun. Hubby mohon." ujarnya dengan tatapan memelas.


Kenzie tahu seberapa kejam istrinya terhadap lawan-lawannya. pemuda itu berharap Chiyome tak akan melakukan tindakan apapun, kecuali bersabar.


"Ingat... anak kita.." ujarnya lirih.


Chiyome hanya menarik napas panjang lalu memejamkan mata dan mengangguk dengan pelan. wanita itu menyadari bukan saatnya melampiaskan emosinya. ada jabang bayi yang harus dijaganya dengan baik. pendidikan pra kelahiran iru sangat perlu untuk membentuk karakter anak dalam kandungan. salah satunya dengan menahan emosi.


Chiyome sekali lagi menunduk dan membelai perutnya. Nak. kali ini keluarga kita kena bencana. Mamamu ini difitnah dengan keji. Mama nggak bisa buat apa-apa nak. Papamu melarang Mama bertindak. bantu Mama menahan emosi ya? Mama sayang kamu, nak.


perlahan dua titik air mata jatuh perlahan dari kelopak mata gadis itu, makin lama makin sering. ia tak mau menangis, ia berupaya menahannya, namun yang keluar adalah isakan.


Adnan melihat itu mendekat dan memeluk putri mantunya itu. "Adek yang sabar ya? Papa janji akan menyelesaikan semua ini tanpa sisa!"


Chiyome hanya bisa mengangguk-angguk dalam pelukan ayah mertuanya. Adnan kemudian menatapi Kenzie dan menyuruhnya dengan isyarat untuk membawa istrinya ke kamar.


Kenzie kemudian mengapit istrinya menuju kamar. sepeninggal laki-istri muda itu, sekali lagi lelaki itu menggeram. Aisyah sendiri hanya bisa memeluk ibu sambungnya yang sedari tadi sudah menangis duluan.


...********...


Trias mengenakan masker dan pelindung wajah dari frame plastik. perjalanannya menuju kuburan keluarga Gobel. namun kali ini ada yang mencegat.


dua orang anggota satpol PP memegang rotan panjang menyilangkan benda itu membuat Trias menghentikan kendaraannya.


"Mau kemana? nggak liat posisinya sekarang lagi lock down?" ujar salah satu anggota satpol PP itu dengan nada agak tinggi.


"Saya mau ke kuburan. mau ziarah. kalau bapak-bapak nggak percaya, boleh ikut saya ke kuburan." jawab Trias dengan tenang.


"Eh, kamu mau melawan ya?" tukas anggota kedua sambil mengacungkan ujung rotan ke arah wajah Trias. pemuda itu menepiskan ujung tongkat dengan pelan.


"Saya seriusan pak. nggak main-main. saya mohon ijinkan saya melanjutkan perjalanan." jawab Trias dengan tenang.


melihat pemuda dihadapan mereka itu tak sedikirpun terlihat takut, nyali kedua anggota satpol PP itu agak keder juga. namun keduanya masih berupaya menggertak mental Trias.


"Memang kau mau ziarah ke mana?" tanya salah satu anggota satpol PP itu.


masih merasa tidak percaya, akhirnya salah satu petugas itu ikut membonceng dengan Trias dan melanjutkan perjalanan. tak lama kemudian mereka tiba di pekuburan keluarga besar Gobel. Trias melangkah duluan membiarkan petugas itu mengekorinya.


akhirnya ia tiba di makam Iyun. pemuda itu kemudian duduk bersila.


"Assalamualaikum Mi... sori, Pipi telat. tadi ada yang cegat, nggak percaya kalau Pipi mau jengukin Mimi." kata Trias sejenak menatapi petugas satpol PP yang mesem-mesem senyumin cengengesan oleh Trias, setelah itu pemuda tersebut kembali menatap pusara Iyun.


"Mi... ketemuan yuk?" ujar Trias.


pemuda itu kemudian menundukkan wajah dan memejamkan mata. ia mengosongkan pikirannya, memusatkan pikiran menuju satu titik. pemuda itu memasuki sesi hampa tak berhampa.


sementara petugas satpol PP itu jadi gerah sendiri karena merasa sunyi. ia menatapi sekitaran dan perlahan ia bergidik melihat pemuda dihadapannya hanya duduk diam sambil menekurkan wajah.


"Hei, sudah cukup ziarahnya. antar aku pulang!" kata petugas itu maju dan menarik tangan Trias. namun betapa terkejutnya ia menyadari bahwa tangan itu tak dapat digerakkan. petugas itu berupaya dengan sekuat tenaga untuk menarik tangan milik Trias, sedangkan tubuh pemuda itu tegak bagai batu karang. tak bergerak sedikitpun.


...*********...


Trias kembali menatapi hamparan sabana. rasa damai kembali menyelimuti dirinya. kembali ia mengumpulkan serangkum napasnya lalu berteriak, "Mimiiiiiii...."


"Nggak usah teriak-teriak begitu, Pipi... Mimi nggak bungolo tau?" (bungolo\=tuli) ujar suara dibelakangnya.


sontak Trias berbalik dan menatapi wanita dihadapannya yang ia rindukan. Iyun kali ini mengenakan sebuah kain tipis yang dililit oleh kain panjang mirip toga yang dikenakan oleh kaum Tribune dijaman romawi kuno. penampilan gadis itu makin cantik saja.


"Mimi.... " sapa Trias sambil maju memeluk mendiang istrinya dengan mesra. "Senang rasanya ketemu denganmu."


Iyun hanya tersenyum dalam pelukan itu. tak lama ia melepaskannya.


"Pipi jangan keseringan kemari. nanti jatah usia Pipi berkurang lho." tegur Iyun.


"Alaaa... memang Pipi sengaja supaya bisa cepat ketemu Mimi..." jawab Trias dengan enteng.

__ADS_1


"Astaghfirullah Pipi! nggak boleh begitu.... iru melanggar kodrat.... Pipi tau, kan tempat ini sebenarnya apa?" pancing Iyun.


"Tau.. " jawab Trias dengan mantap. "Sebenarnya Pipi kesini mau curhat." ujarnya dengan manja.


"Soal Chiyo?" tebak Iyun sambil mengajak Trias duduk dihamparan rumput sabana itu.


"Pipi baca update blog sekolah kita. dihalaman utama tersebar foto Kenzie dan Chiyo, foto Chiyo sedang memeriksa kandungannya, foto Chiyo diantar Om Adnan dengan mobil ke sekolah. mereka menuduh sahabat kita sebagai sugar baby... geram nggak kamu?" pancing Trias.


Iyun diluar dugaan menggeleng membuat Trias terkejut. "Mimi gimana sih? nggak empati banget sama masalah sahabat sendiri." ujar Trias dengan kesal dan memalingkan wajahnya kearah lain.


Iyun tersenyum lalu membelai dada pemuda itu. "Bukannya Mimi nggak empati. tapi disini, bukan itu lagi yang menjadi prioritas pemikiran Mimi. tapi, Mimi yakin, Allah sedang membukakan jalan lain bagi Chiyo, melalui musibah itu. Fa inna ma al ushri yusro... inna ma al ushri yusro... nggak ada kesusahan yang berlari sendiri, kecuali didempet oleh kemudahan. keduanya seiring sejalan. yakin deh sama Mimi." ujar wanita iru.


Trias mengangguk-angguk. "Benar kata Mimi."


Iyun kembali mendekatkan wajahnya. "Sekarang, Pipi maunya apa?"


"Mimi... Pipi kemari bukan mau nagih itu kok. Pipi kemari murni karena kerinduan, bukan birahi." tegur Trias sambil tersenyum.


Iyun tersenyum. "Syukurlah... pikiran Pipi mulai dewasa. Pipi mulai tahu bahwa kehidupan itu bukan hanya sekedar tusuk lubang saja."


"Mimi ini kok mesum sih ucapannya. waktu didunia, Pipi bicara mesum, Mimi yang marah... nah disini, kok malah Mimi yang mancing-mancing pake kata-kata mesum sih?" tegur Trias.


Iyun tertawa. "Iya deh. Mimi salah.... Pipi memang yang terbaik.." puji Iyun sambil mencium pipi pemuda itu.


"Tentu..." jawab Trias dengan wajah jenaka.


"Pipi sudah menemukan wanita itu?" tanya Iyun.


"Wanita yang mana lagi?" balas Trias.


"Isyyy... dasar pikun! itu perempuan yang naruh buket bunga lily di pusara Mimi!" sembur Iyun dengan manja.


Trias membuang napas pelan. "Belum sempat. sekarang lagi lockdown gara-gara Corona."


Iyun tersenyum. "Jangan nyesel lho. nanti dia diambil sama orang lain..." goda Iyun.


"Mimi, kalau urusan jodoh, Pipi serahkan sama Allah. kalau dia memang jodohnya Pipi, ya akan Pipi terima. Pipi nggak mau terlalu berharap. itu hal yang menyakitkan sejak Mimi tinggalkan Pipi sendirian. " kata Trias. pemuda itu kemudian berbaring lalu menatap Iyun.


"Mi... kelonin dong..." pinta Trias.


Iyun tersenyum lalu meletakkan kepala Trias dalam pangkuannya. jemari lentik gadis itu membelai rambut pemuda tersebut perlahan-lahan kedua mata Trias mulai mengatup.


*Aku tak biasa...bila tiada kau disisiku


Aku tak biasa bila 'ku tak mendengar suaramu...


Aku tak biasa... bila tak memeluk dirimu...


Aku tak biasa bila 'ku tidur tanpa belaianmu...


Aku tak biasa.... aku tak biasa*...


...********...


Mata Trias reflek terbuka ketika meyadari sebersit angin pedih menyentuh tengkuknya. seketika ia mengayunkan tangannya ke belakang dan kelima jemari kekarnya mementang dan .....


TAPPP.... HEEEHHHH????


tangan kekar Trias menangkap batang rotan yang diayunkan petugas satpol PP itu. dengan sekali sentakan, tongkat dalam tangkapan Trias hancur lebur, membuat petugas itu memekik lirih dengan wajah pias.


perlahan wajah Trias yang dingin menoleh dan menghujam wajah petugas itu dengan tatapan tajam yang mencorong membuat petugas iru seakan-akan kehilangan kekuatannya dan gemetaran dalam ketakutan yang sangat.


"Kenapa kau memukulku, pak?" tanya pemuda itu dengan pelan. "Kamu mau membunuhku? kau nggak liat sekitaran kita ini apa?"


seketika petugas itu berteriak ketakutan dan melepaskan tongkat dalam genggamannya. ia lari terbirit-birit dan Trias dengan jelas melihat celana sang petugas itu basah, mungkin ngompol ditempat. sambil mendesah panjang, Trias menatapi lagi pusara Iyun.

__ADS_1


"Mi, Pipi cabut dulu ya? nanti kapan-kapan Pipi kemari lagi." ujar pemuda itu seraya membelai paita kuburan itu.


Trias bangkit dan melangkah meninggalkan makam itu dengan langkah ringan. []


__ADS_2