Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 104


__ADS_3

Stefan memasuki sangkar raksasa itu. ia memasukinya dengan beban terpaksa, harus memenangkan pertarungan yang sangat ingin dihindarinya. bagaimana tidak? dia harus mengalahkan pemuda yang sepantaran dengannya tapi bukan pemuda biasa. orang ini kelihatannya sudah sangat memahami dunia pertarungan, bahkan mungkin pertarungan berdarah. sedangkan dia? Stefan hanya tahu pertarungan birahi. menjebol gawang setiap wanita jangan tanyakan padanya. dengan mata tertutup pun ia mampu membuat wanita bertekuk lutut padanya. tak terkecuali Aisyah.


Aisyah, jilbaber dingin polos dan tak mengenal apa itu petualangan cinta. jika sebatas cium, mungkin wanita itu bisa memahaminya, tetapi ketika merasakan pergumulan yang diikuti saling menyatunya dua alat reproduksi, adalah hal yang pertama kali baginya.


Aisyah memang dipaksa secara tidak sadar memasuki dunia percintaan yang penuh jebakan nafsu. ia terpeleset tanpa merasakan sakit pada tubuhnya kecuali disaat Stefan menghujamkan alat kelaminnya kedalam milik jilbaber tersebut. ia mengejan merasakan setiap hujaman itu dibalik rasa sejuk air terjun yang membilas keduanya dalam ritual tanpa batas itu.


dan kini Aisyah menyadari kepolosan, keluguan dan kebodohannya yang tak mengetahui hati laki-laki. menyesal kini tak ada gunanya karena apa yang telah dijaganya kini tak ada lagi. rahasia paling rahasia dari seorang wanita tak ada lagi dalam dirinya. siapa yang mempersalahkan siapa? saling menyalahkan? atau menyalahkan diri sendiri yang belum berpengalaman merambah sisi gelap dari cinta.


keduanya telah berdiri di arena. Kenzie sendiri duduk di kursi di apit oleh pemuda-pemuda begajulan yang disewanya lalu. senapan SPG1 masih terbaring tenang dalam pangkuannya.


Kenzie memanggil salah satu pemuda dengan isyarat tangan. salah satu pemuda mendekat dan membungkuk. Kenzie mendekat.


"Jaga kurungan ini dengan baik. pastikan tidak ada celah untuk pemuda itu melarikan diri." kata Kenzie.


"Siap Bos." jawab pemuda itu kemudian mengintruksikan beberapa temannya mengepung kurungan raksasa tersebut.


Bakri menatap Stefan dengan tatapan membunuh. sedangkan Stefan hanya menghindari tatapan itu dan berpikir mencari cara untuk meloloskan diri.


"Kurasa kita bisa membicarakan hal ini baik-baik." kata Stefan mencoba bernegosiasi.


Bakri tersenyum, "Hal ini tidak akan terjadi jika kamu langsung bertanggung jawab." pemuda itu mengeluarkan kaosnya.


hal itu langsung dimanfaatkan oleh Stefan menyerang Bakri. tinjunya terus terayun menghantam wajah pemuda itu. Stefan yakin serangan curangnya itu mampu membuat Bakri tak mampu berbuat apa-apa.


keduanya terjerembab dilantai dengan posisi Stefan menduduki tubuh Bakri. ia terus melayangkan tinju membabi buta. Stefan tidak sadar bahwa yang diserangnya adalah seorang pakar beladiri yang sudah matang disetiap pertandingan terbuka.


tiba-tiba kedua kaki Bakri terangkat mengait kepala Stefan. pemuda itu terhenyak dan tak sempat melepaskan diri karena keburu ditarik oleh Bakri dengan kedua kakinya ke belakang.


Bakri berhasil meloloskan diri. Stefan langsung bangkit berlari menuju pintu ketika menyadari Bakri langsung berdiri dan mencampakkan bajunya lalu melangkah mendekati Stefan yang sibuk menggedor dan menggoncangkan slot (gembok) yang mengunci pintu kandang tersebut.


baru saja Stefan hendak berbalik mencari pintu lain, tangan kekar Bakri telah menjamahnya dan tubuh pemuda itu tertarik kearah Bakri.


satu tinju yang terarah tepat menghantam bibir Stefan membuat pemuda itu terjungkal menghempas dilantai. Stefan bangkit mengaduh meraba bibirnya yang langsung pecah dan robek.


"Akan kubuat bibirmu menjadi sumbing delapan seperti moncong suntung (sotong)." ujar Bakri kembali maju.


dengan sekuat tenaga Stefan melayangkan tendangan menyapu kaki Bakri. namun begitu terkejutnya ia menyadari kedua kaki lawannya kokoh bagai tiang pilar.


Bakri menarik kerah baju Stefan memaksa pemuda itu berdiri dan Stefan langsung menari kesakitan akibat tubuhnya yang dijadikan samsak hidup oleh lawannya. tonjokan demi tonjokan pelungku (kepalan) hinggap disekujur tubuh pemuda itu.


satu ayunan kaki yang bersarang di perut membuat Stefan jatuh terduduk tanpa mampu bangkit lagi, karena Bakri telah membuatnya stunning. napasnya seolah berhenti di diafragma membuat Stefan sulit menarik maupun membuang napasnya.


Bakri kemudian jongkok dihadapan Stefan. "Kau kalah. besok kau akan menjalani akad pernikahan dengan Aisyah."


selesai berkata, Bakri bangkit dan melangkah meninggalkan kurungan raksasa tersebut. tinggallah Stefan disana, meringkuk kesakitan tanpa bisa membalas.


Bakri mendekati Kenzie. pemuda itu memandang guru mudanya. "Kakak sudah puas?" tanya Kenzie.


"Sebenarnya belum." jawab Bakri dengan jujur dan menahan emosi. "Tapi, Kakak nggak boleh bertindak terlalu jauh. itu tidak adil."


Kenzie tersenyum, "Terlalu idealis...." gumam pemuda itu.


Kenzie kemudian mengangguk. "Kakak benar. dalam keadaan marah, kita tetap harus belaku adil, kan?" ujarnya sambil tersenyum lagi. Kenzie kemudian merogoh sakunya mengeluarkan gawainya.


ia menghubungi Endrawan. tak lama kemudian terdengar nada sambung.


📲 "Halo, assalamualaikum, Ken." sapa Endrawan.


📲 "Wa alaikum salam, Om. bisa minta tolong nggak?" pancing Kenzie.


📲 "Untuk ponakan Om ini, apa sih yang nggak bisa?" kata Endrawan.


📲 "Hubungi kawan-kawan Om. saya membutuhkan mereka di gudang Utara..." Kenzie kemudian menjabarkan alamatnya.


📲 "Oke. Om instruksikan mereka kesana sekarang." kata Endrawan.


hubungan seluler itu diputuskan. Kenzie kembali menatap Bakri. "Kakak istirahat saja dulu. besok kita ketemuan lagi. nggak usah ngantor. nanti Papa curiga lagi. kalau Papa tanya, bilang Kakak sedang kurang sehat." ujar pemuda itu. Bakri mengangguk.


"Kalau begitu, Kakak pulang dulu." kata Bakri.

__ADS_1


Kenzie mengangguk. mahasiswa itu melangkah meninggalkan Kenzie yang masih mengawasi Stefan yang sudah duduk meringkuk menahan rasa sakit yang menyengat seluruh tubuhnya.


"Sementara ini anda kami kurung disini. selama tiga hari anda akan berada dalam pengawasan kami sampai memar diwajah anda sembuh dan anda bisa melakukan akad nikah dengan kakakku." ujar Kenzie sambil bangkit dari kursi dan melangkah menghilang dikegelapan.


Stefan menatap kegelapan yang menelan tubuh Kenzie. tatapannya membara penuh dendam.


jika kalian kira aku akan menuruti, kalian salah besar. akan ku buat kalian menyesal.


...*******...


Kenzie duduk menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. tatapannya memicing, alisnya bertaut. pemuda itu meyakini orang yang disekapnya digudang itu bukan orang yang gampang menyerah. dia tahu dari tatapan orang itu terhadapnya, mengandung keinginan untuk menginjak-injak dan menghinakannya.


terdengar ketukan pintu. Kenzie menoleh sejenak ke arah pintu. "Masuk."


pintu membuka dan masuklah Puspita Kusmaratih, sekretarisnya yang berwajah mirip gadis-gadis russia. sekretaris itu membawa sebuah dossier hitam dalam pelukannya.


"Pak. ini saya bawakan daftar karyawan tidak tetap yang bekerja pada pertambangan kita di Gunung Pani, Pohuwato." kata gadis berambut coklat pudar itu. ia meletakkan dossier itu di meja.


"Terima kasih." jawab Kenzie meraih dossier tersebut dan membukanya. sementara Puspita masih berdiri disana.


Kenzie melirik, "Kenapa masih disini? kembalilah ke kubikelmu." perintah pemuda itu.


"Saya disini selama Bapak butuhkan." jawab Puspita dengan teduh.


"Aku belum membutuhkanmu. pergilah." jawab Kenzie dengan cepat.


Puspita menarik napas panjang. "Ya Pak." jawabnya kemudian berbalik meninggalkan ruangan tersebut.


Kenzie asyik membuka-buka halaman file para pekerja ketika pesawat telepon dimeja kerjanya berbunyi. pemuda itu meletakkan dossier lalu mengangkat gagang telepon.


📞 "Ya, HRD, Kenzie Lasantu disini." jawab Kenzie.


📞 "Ken, kamu ke ruangan Papa sekarang!" perintah Adnan.


📞 "Oke, saya kesana Pa." kata Kenzie kemudian meletakkan kembali gagang telpon dan berdiri melangkah meninggalkan ruangan tersebut.


terdengar bunyi dentingan pertanda lift telah sampai dilantai puncak. pintu membuka dan Kenzie keluar kemudian melangkah santai menelusuri lorong panjang yang akhirnya tibalah dia diruang presdir.


Kenzie mengetuk pintu kaca itu. Adnan melambaikan tangan menyuruh putranya masuk. Kenzie membuka pintu kaca itu kemudian melangkah masuk.


"Silahkan duduk." kata Adnan menunjuk sofa.


Kenzie kemudian melangkah menuju sofa dan duduk disana menunggu sang ayah menyelesaikan pekerjaannya. pemuda itu mengambil gawai dan memeriksa channel sekolahnya untuk memastikan ada tidaknya tugas daring yang diberikan.


Adnan menyelesaikan pekerjaannya memeriksa dan menandatangani dokumen-dokumen yang diangsurkan Bakri sebelumnya kepadanya. pria itu bangkit lalu melangkah menuu sofa, kemudian duduk disana.


"Papa heran dengan Bakri." ungkap Adnan mengerutkan keningnya. "Kok hari ini Bakri mendadak bilang dia kurang sehat. padahal Papa tahu anak itu jarang sekali sakitnya."


"Ya, namanya manusia, nggak selamanya sehat Pa... kalau Kak Bakri selalu sehat dan tak pernah alpa masuk kantor, justru perlu dicurigai apakah dia manusia atau sudah dipasangi perangkat cybertech pada anggota tubuhnya sehingga joss terus." tangkis Kenzie.


"Benar juga.... " gumam Adnan mengurut dagunya.


"Ada perlu apa, Ken dipanggil?" tanya Kenzie.


Adnan mengangguk, "Ah... ini.... ada program kerja yang harus kembali di addendum. supaya karja sama antara dua perusahaan akan terus terjalin."


"Perusahaan siapa?" tanya Kenzie.


"Perusahaan kita dengan MLT. Group." jawab Adnan. "Kamu masih ingat dengan Deni yang dipindahkan kesana, kan?" kata Adnan.


Kenzie mengangguk.


"Deni menyarankan Papa untuk melakukan addendum dalam perjanjian kerja untuk menguatkan joint venture yang dapat menguntungkan kita juga." kata Adnan. "Jadi Papa mau kau berangkat ke Padang untuk merealisasikan hal tersebut."


"Kapan?" tanya Kenzie. "Kalau untuk 3 hari kedepan belum bisa. Ken masih punya urusan yang juga nggak kalah penting."


"Urusan apa sih? kok Papa merasa ini ada hubungannya dengan keluarga kita." kata Adnan dengan curiga.


"Nggak kok Pa. cuma penting saja." kilah Kenzie sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bicaralah jujur nak. jangan sampai aku mendengarnya dari orang lain." tandas Adnan setengah mengancam.


Kenzie diam agak lama, kemudian menatapi ayahnya. "Papa.... jika memang ini ada hubungannya dengan keluarga kita, apakah Papa bisa menjaga emosi?"


"Kau membuatku semakin cemas dan curiga, Ken." kata Adnan dengan wajah yang menampakkan rasa penasaran. "Ungkapkan pada Papa, nak. jika ini menyangkut keluarga kita, Papa harus tahu!"


Kenzie menimbang-nimbang hal itu. sementara Adnan semakin menampakkan wajah cemas.


"Ken..." tegur Adnan.


Kenzie akhirnya mengangguk, "Oke Pa. Ken akan cerita, tapi Papa janji dulu." pinta pemuda itu.


"Janji apa? kamu jangan bikin Papa malah marah sama kamu. kelihatannya ini sebuah masalah yang pelik." kata Adnan.


"Sangat pelik, Pa." sambung Kenzie. "Makanya Papa janji jangan emosi."


"Ken..." tegur Adnan lagi.


"Pokoknya Ken hanya minta Papa jangan emosi!" tandas Kenzie yang juga mulai hilang kesabarannya.


"Oke, Papa nggak akan emosi! kau puas?!" seru Adnan sambil mengangkat tangannya kemudian berdiri dan bercakak pinggang. "Sekarang katakan, apa masalahnya!"


"Papa masih emosi. Kenzie nggak akan cerita." kata Kenzie beranjak bangkit dan hendak meninggalkan ruangan.


"Ken!" tegur Adnan lagi.


akhirnya pria itu memijit keningnya lalu duduk dan mengatur napasnya. "Oke, Ken. Papa.... sudah tenang." kata Adnan kemudian menampilkan senyumnya. "Katakanlah... ada apa sekarang?"


Kenzie akhirnya berbalik dan duduk lagi di sofa. pemuda itu membuang napas kasar lalu menatap ayahnya.


"Ini soal Kak Ais." jawab Kenzie dengan pelan.


"Ada apa dengan Aisyah?" tanya Adnan dengan kening berkerut.


akhirnya Kenzie menceritakan semuanya, mulai dari pengakuan Aisyah kepada Chiyome, hingga proses penculikan Stefan. Kenzie tidak membahas perasaan Bakri kepada Aisyah, agar Adnan semata-mata menuntut pertanggung jawaban pemuda yang telah membuat putrinya seperti orang yang nyaris blank.


tubuh Adnan gemetar menahan amarah. disamping itu ia merasa gagal telah mendidik dan menjaga Aisyah. pria itu merasa malu terhadap mantan istrinya.


"Jangan berbuat apapun sama Kak Ais, termasuk ringan tangannya Papa!" ancam "Aku menerima tamparan Papa sama karena aku memang pantas untuk itu. dan aku berterima kasih karena Papa menampar aku. tapi untuk Kak Ais, sangat tidak tepat dan akan membuat dia kehilangan kepercayaan dirinya. Ingat! Papa cukup marah, tapi jangan bermain tangan sama Kak Ais. Papa mengerti?!"


Adnan menundukkan wajah dan memejamkan mata. perasaan sakit ini serasa menguliti jantungnya. ia tak menyangka anak gadisnya yang begitu polos telah berani melepas keperawanannya demi seorang pemuda brengsek yang mendewakan hubungan tanpa status. siapa yang tak menyangka bahwa keramahan anak lelaki itu palsu demi mendapatkan cinta lugu putrinya.


"Papa..." tegur Kenzie.


Adnan menarik napas begitu panjang, memenuhi paru-parunya yang terlanjur panas dengan udara yang sejuk agar sedikit meringankan amarah yang sudah mengintari benaknya. pria itu membuka matanya.


"Lalu, bagaimana dengan pemuda itu?" tanya Adnan.


"Kenzie sudah menangkapnya. dia sekarang disekap di gudang bagian utara. Ken sudah menghubungi Om Endi untuk mengerahkan anak buahnya menjagai target." jawab Kenzie.


"Apakah anak itu sehat, atau sudah dipermak?" tanya Adnan.


"Kak Bakri sudah merias pria pemetik kembang itu. Ken menunggu 3 hari untuk meredakan bengkak diwajah dan tubuhnya supaya pejabat nikah nggak curiga." jawab Kenzie.


"Bagus. apakah 3 hari yang kau bilang itu berurusan dengan pemuda itu?" pancing Adnan.


Kenzie mengangguk.


Adnan balas mengangguk, "Kalau begitu, serahkan 3 hari urusanmu dengan lelaki itu pada Papa. berangkat kau besok dengan Puspita ke Padang."


"Nggak mau Pa!" tolak Kenzie. "Aku mendingan jalan dengan istriku."


"Jangan sibukkan Adek dengan urusan kantor. Kasihan dia. sudah cukup dia ngurusi Sandiaga." balas Adnan. "Pokoknya kau berangkat dengan Puspita besok. Pake jet pribadi Papa. jangan membantah!"


Kenzie lagi-lagi membuang napas dengan keras, kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan tanpa pamit.


Adnan hanya menatapi kepergian putranya dengan menggelengkan kepala sambil tersenyum. setelah itu pria tersebut menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan keras.


permasalahan Aisyah mengganggu konsentrasinya hari itu. []

__ADS_1


__ADS_2