
Stefan berdiri santai menyandar di pintu sambil melipat tangannya didada. Aisyah terhenyak dan mundur menempel disisi ranjang dengan napas yang sesak. Bakri menggeram, seakan lupa dengan rasa sakitnya, turun dari ranjang dan berdiri membuka kaki dengan tegap. tatapannya tajam.
"Untuk apa kau kemari?!" hardik Bakri, "Kau tidak diinginkan disini."
Stefan tertawa pelan, "Aku juga tak suka lama-lama disini. aku hanya ingin menjemput istriku saja." jawabnya sambil menatap Aisyah.
"Dia sudah bukan istrimu." ujar Bakri, "Kalian sudah cerai secara in absentia."
Stefan kembali tertawa, "Bakri... tak usah sok membela perempuan itu. dia sudah nggak ada gunanya. sudah barang bekas." ejek lelaki itu.
"Tapualemu, tinggolopumu, lo buta ambungamu!****ja podata huangango teye yi'o!" umpat Bakri. "Sebelum kupatahkan batang lehermu, menyingkirlah dari sini!" ancam lelaki itu. (**** kata umpatan. jangan banyak omong kosong disini kau!)
Stefan hanya tersenyum mengejek lalu melangkah pelan menuju sofa dan duduk disana dengan santai menatap Bakri yang berdiri tegang serta Aisyah yang menyandarkan diri begitu ketat ke dinding seakan ia hendak ingin menyatu dengan dinding itu.
"Nggak usah tegang begitu. santailah... kalian seperti melihat setan saja." ejek Stefan kemudian melipat kakinya.
"Kamu memang setan!" hardik Bakri membuat Stefan tertawa.
"Mana ada setan seganteng ini Bakri? kau ini ada-ada saja." kata Stefan mengembangkan tangannya. "Kamu tahu Bakri? saat aku memerawaninya di air terjun waktu itu..." pancing Stefan menghasut kemarahan Bakri, "Uhmmm.... dia merintih senang. dalam balutan pakaian kami berdua..."
"Cukup Evan!" bentak Aisyah, "Tidak puaskah kau merendahkan aku? apa yang ada di pikiran brengsekmu itu? membuat Bakri jijik terhadapku?" wanita itu mulai menangis.
Stefan tertawa, "Siapa yang merendahkanmu? aku? kamu sendiri yang merendahkan dirimu di Saluopa waktu itu. menyangga dibatu kau menungging dan dengan bebad aku me..."
"EVAN! HENTIKAN!" teriak Aisyah.
Stefan tertawa puas. "Kau kalau marah memang makin cantik saja Aisyah. jujur... aku masih tetap konak membayangkan kamu." ujarnya dengan senyum nakal.
"Pergilah Stefan. aku tak mau membunuh orang untuk saat ini." kata Bakri menatapi Stefan dengan tatapan mengintimidasi.
Stefan kembali tertawa, "Bakri! serahkan saja dia padaku! aku masih ingin bermain dengannya. aku belum puas!"
"Selangkah kau kemari, kau rasai bekas tanganku!" ancam Bakri mengepalkan kedua kepalannya.
Stefan mengangkat tangannya. "Baiklah, baiklah... hari ini aku mengalah saja. ambillah perempuan itu, Bakri. dia sudah tak berguna juga untukku." lelaki hendak berbalik namun langkahnya tertahan dan ia berbalik lagi. "Undanglah aku ke pestamu, Bakri. atau.... kau takut perempuan itu akan kuculik?" setelah berkata begitu, Stefan berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan itu disertai tawa keras yang membahana.
Bakri mengatur napasnya yang memburu sementara Aisyah menggelosor dilantai dan terduduk dengan gemetar. Bakri menoleh menatap Aisyah lalu berjongkok dihadapannya.
"Bangkitlah. jangan tampakkan kelemahanmu dihadapan musuh." tegur Bakri menggenggam kedua bahu Aisyah.
"Aku.... t-t-tak menyangka d-d-dia datang kemari..." ujar Aisyah dengan gagap.
"Ssssshhhhh.... diamlah." kata Bakri mengangkat tubuh Aisyah hingga ia berdiri meski dengan tubuh yang gemetaran.
Aisyah menatap Bakri, "Aku akan melaporkannya sama Papa."
"Nggak usah..." tolak Bakri, "Dia nggak ngapa-ngapain kamu. jangan terlalu menampakkan ketakutan dihadapannya. dia akan senantiasa menekanmu, akan menerormu hingga kau akhirnya menyerah."
"Aku tak takut padanya Bakri." jawab Aisyah dengan mantap, "Ada kau disisiku... aku bisa menghadapinya."
"Mohe tiyo mpohutu hale teye... mo tapu ta'apo wawu tinggodu to batanga liyo tiyo." jawab Bakri dengan senyum. (Dia berpikir dua kali untuk membuat masalah disini... dia akan terkena seranganku.)
Aisyah tersenyum kaku. Bakri mengusap pipi wanita itu. "Tidurlah... aku akan menjagamu."
"Tapi Bakri..." protes wanita itu.
"Sudah malam, Ais... Tidurlah. aku akan menjagamu." kata Bakri.
Aisyah mengangguk lalu melangkah menuju pintu dan menutupnya lalu menguncinya. setelah itu Aisyah melangkah menuju sofa dan berbaring disana. Bakri naik kembali ke ranjang namun tak berbaring. ia bersila diatas ranjang dan menatap Aisyah yang berbaring menatapnya. perlahan mata wanita itu menjadi sayu, layu, lalu memejam dengan sendirinya.
meyakini Aisyah sudah tidur, Bakri memilih bermeditasi, siaga dalam tidur, terjaga dalam lelap.
...*****...
Kartono dan Azizah, dua laki istri itu tertegun mendengar keterangan yang dilontarkan Adnan lewat sambungan seluler. sejenak keduanya berpandangan. Azizah melipat tangan ke dadanya.
"Beeehhhh.... berani juga anak itu ya? semangat badak dia tuh." komentar wanita itu.
Kartono terkekeh, "Keberanian di posisi yang salah." timpal lelaki itu.
"Abi, kapan kita ke Toto?" tanya Azizah.
"Aku beritahu kepala sekolah untuk ambil cuti penting lalu kuberitahu kapan kita kesana. tapi segera saja berkemas-kemas, supaya tidak lagi membuang-buang waktu hanya untuk itu." jawab Kartono.
"Azkadiratna dipanggil juga?" tanya Azizah.
__ADS_1
"Tanya saja sama dia. mau nggak dia ikut ke kota apa nggak?" balas Kartono.
Azizah mengangguk lalu meninggalkan Kartono sendirian di beranda.
📲 "Halo? masih disitu kau?" tanya Adnan.
📲 "Aktiflaaa... kenapa?" balas Kartono.
📲 "Aku tunggu kedatanganmu." kata Adnan.
📲 "Aman... aku akan kesana, Insya Allah...." jawab Kartono.
lelaki bertubuh bak beruang itu memutuskan sambungan selulernya. ia kemudian menghubungi kawan-kawannya via Whatsapp group.
🌀"Halo bro." sapa Kartono.
tak lama kemudian dilayar ponsel itu muncul tiga wajah lelaki yang sangat dikenalnya.
🌀"Kenapa raaaasssss..." tanya lelaki berwajah tirus putoh dengan janggut tak teratur didagunya.
🌀"Min... kamu masih kerja?" tanya Kartono.
Mamin, si lelaki berwajah tirus itu tertawa.
🌀"Kenapa tanyakan hal itu?" tanya Mamin.
🌀"Aku mau ke Gorontalo..." jawab Kartono.
🌀"Bagus. sudah lama kita nggak ketemuan." respon lelaki dengan perawakan gempal berkulit putih kemerahan. "Kau sejak terangkat menjadi aparat sipil negara, sudah kayak lost contact dengan kita-kita, Pengsen'k ini...."
Kartono tertawa menanggapi komentar itu.
🌀"Sory raaassss... namanya panggilan tugas kan di atas segalanya uty.... ente kan tahu itu. ente juga kan aparat sipil negara di Pencatatan Sipil, toh?" balas Kartono sambil terkekeh.
🌀"Alaaa.... alasan saja kau. memang dasar kau pombolu, kerjanya baporo terus." umpat lelaki berkulit coklat. Kartono tertawa lagi.
🌀"Jangan begitu, raaassss..... ana nggak bohong lho. itu kan peraturan pemerintah kita sekarang. nggak ingat kamu semboyannya? kerja.... kerja... kerja.... " jawab Kartono.
terdengar tawa berderai ketiga lelaki pada tampilan layar sentuh ponsel tersebut.
🌀"Aku tahu modelmu ini. ada tujuan apa kamu menghubungi kita-kita?" todong si pegawai Pencatatan Sipil tersebut.
🌀"Ya... dari kerutan didahi dan kelopak matamu!" jawab lelaki berkulit coklat lalu tertawa.
🌀"Kita nanti ketemuan dimana? ada yang ingin ku diskusikan dengan kalian." jawab Kartono.
🌀"Dimana? dibasecamp?... Marhamah sudah nggak layak jadi basecamp lagi." kata lelaki berkulit coklat.
🌀"Nde Mo dunggaya mota ami." kata Kartono kemudian memutuskan sambungan seluler. (nanti kita ketemuan.)
Kartono menyimpan gawainya lalu menghela napas panjang. lelaki bertubuh beruang itu bangkit dan melangkah memasuki ruangan.
...*******...
Kediaman Lasantu, pukul 10 a.m.
Adnan melangkah mondar-mandir dengan wajah yang kencang. kejadian semalam belum sama sekali hilang dari benaknya. hari ini Fitri dan Kameie akan berangkat dari Haneda menuju Jakarta, lalu akan transit ke Gorontalo.
lelaki itu harus menjemputnya bersama kedua anaknya. oa tak membuang waktu. Chiyome sendiri mengemudikan mobil sedang Kenzie duduk memangku putranya, Saburo disamping kursi sopir yang diduduki istrinya. Adnan duduk alam nanti. jadi Chiyome merasa tak perlu menguber gas mobil agar segera tiba disana.
mereka masih sementara berhenti sejenak diperlimaan Isimu untuk beristirahat sekaligus melaksanakan sholat dhuhur. Chiyome memilih duduk disalah satu dikedai makan yang berjejer disana sedangkan Kenzie dan ayahnya memutuskan ke mesjid agung Isimu untuk mengistirahatkan kelelahan spiritualnya.
dalam sujudnya tanpa sadar Adnan menitikkan air mata. meski tak sampai mengeluarkan desah dan hanya sesekali isakan mirip orang yang menarik ingus, Adnan melampiaskan emosinya yang tertahan dalam hati kepada Pemilik Kehidupannya.
*Ya Allah, aku akui kesalahanku memaksakan pernikahan putriku dengan lelaki brengsek itu. bagaimanapun sebagai kepala keluarga, aku telah gagal mendidik putriku.
Ya Allah... aku menghadap kepada-Mu dalam rangka mengadukan kelemahan dan ketidak berdayaanku dihadapan manusia seperti Stefan itu. Ya Allah, aku hanya meminta kepada-Mu, keselamatan untuk putriku. semoga dia tak akan diganggu dan diteror oleh Stefan.
Ya Allah, selamatkan putriku dari kekejaman lelaki itu. aku serahkan kepadanya lelaki terbaik dalam pandanganku. aku memohon restu-Mu ya Allah. tiada sekutu bagi-Mu*.
Adnan menyelesaikan ritual sholatnya. Kenzie sempat melirik ayahnya yang menangis dalam diamnya. lelaki itu tak berkomentar apapun. ia mengetahui sang ayah sangat mengkhawatirkan putrinya. kemunculan Stefan di rumah sakit saat itu benar-benar sebuah kecolongan yang luar biasa bagi keluarga Lasantu.
keduanya keluar dari mesjid dan keheranan melihat kerumunan. Kenzie langsung merasa tidak enak.
"Papa.... itu kedai dimana Chiyo beristirahat." ujar Kenzie.
"Apa?! ayo kesana!" seru Adnan langsung berlari.
__ADS_1
kecemasan mereka terbukti. wanita yang memegang bayi itu sementara bertengkar dengan dua orang lelaki kekar bertato. bisa dipastikan mereka adalah preman yang berkeliaran disekitaran perlimaan Isimu.
Adnan langsung menyeruak kerumunan dan menatap kedua preman itu dengan tatapan yang membelalak.
"Ada apa ini?!" seru Adnan dengan pengerahan tenaga dalam membuat kedua preman itu langsung menoleh.
Chiyome langsung melangkah mendekati Kenzie. "Saburo no mendo o minakattara koroshitte ita." sembur Chiyome dengan kesal menatap kedua preman itu. (Kalau saja tak menjaga putraku, sudah kubunuh mereka!)
Kenzie menatap kedua preman itu. "Siapa yang menyuruh kalian? mengapa kalian mengganggu istri dan anakku?!" tegur Kenzie.
kedua preman itu malah tertawa dan saling berpandangan. Kenzie makin tersinggung.
"Wey, polotahede limongoli dulota! olobu! bungolo kira ja modungohu bahasa lo tawu!" umpat Kenzie dengan panas. ia hendak maju namun langsung ditahan oleh Adnan. (Hei ****** kalian berdua! dasar Sapi! tuli kayaknya sampai tak mendengar perkataan orang.)
Adnan menatap kedua preman itu dengan memicingkan matanya. "Ti mongoli ti walao le Bubu?!" tebak Adnan. (Kalian anak buahnya Bubu?)
kedua preman itu justru malah menghunus sejenis badik dan menimang-nimangnya dihadapan Adnan.
"Pa..." panggil Kenzie.
"Sssttt.... tenanglah." kata Adnan.
lelaki itu maju lagi kali ini selangkah lebih dekat dengan kedua preman tersebut.
"Wonu timongoli dulota ma mohile mate, pona'o mayi!" tandas Adnan langsung memasang kembangan seni langga dan menggunakan postur gaya langga bua. (jika kalian berdua sudah bosan hidup, datangilah!)
kedua preman itu terkejut menatap teknik itu. gaya yang digunakan oleh Adnan adalah langga garis linula suwawa. yaitu satu dari dua linula yang paling disegani.
"Yilongola? mohe? ja pohutu gara-gara wonu pukako!" sindir Adnan. (Mengapa? takut? jangan cari gara-gara kalau berhati pengecut.)
tersinggung dengan sindiran Adnan, kedua preman itu maju dan menyerang lelaki itu mengandalkan badik yang mereka genggam. dengan santai Adnan menghindar ke belakang lalu maju menyorongkan tapaknya.
PLAK !!!
salah satu preman jatuh dengan rahang yang terkena hantaman telapak lelaki itu membuatnya terjungkal dan kepalanya membentur tanah membuat preman tersebut langsung pingsan.
preman satunya yang melihat temannya tak berkutik lagi sebenarnya sudah ciut namun ia gengsi melihat banyak kerumunan warga. ia maju kembali menyerang.
DUK!!!
Adnan maju mengayunkan tendangannya langsung menghantam perut preman tersebut. preman itu terbungkuk menahan rasa sakit yang menyerang levernya. sekali mengayun sikut, menyarang ditengkuk membuat preman itu jatuh menghantam tanah dan pingsan disana.
para warga bertepuk tangan mengakui kehebatan Adnan menaklukkan preman itu. Adnan kembali mendekati kedua anaknya.
"Adek sudah makan?" tanya Adnan.
"Bagaimana mau makan, sudah diganggu preman itu." gerutu Chiyome dengan kesal.
Adnan tersenyum melihat Saburo yang berjingkrak gembira dalam pelukan ibunya.
"Kelihatannya, Sandiaga lebih senang menonton perkelahian." olok Adnan sambil mencubit pipi pemuda usia setahun itu.
Chiyome tertawa, "Kayaknya iya. mungkin dia mengidolakan kakeknya."
Adnan tertawa. tak lama kemudian datang mobil polisi dan keluarlah dua orang petugas. keduanya mendekati Adnan.
"Anda yang menjatuhkan mereka?" tanya salah satu petugas. sedang satunya sibuk memborgol lengan kedua lelaki besar bertato yang menggeletak pingsan ditanah.
"Iya," jawab Adnan tegas, "Mereka mengganggu putriku. jadi, kuberikan saja yang mereka mau." Adnan menatap kedua petugas itu. "Kenapa?"
"Mereka berdua ini, preman terkenal dikawasan ini. mereka berdua ditakuti. hanya anda yang bisa menaklukkan keduanya." jawab petugas itu.
"Mereka anak buahnya Bubu, kan?" desak Adnan.
petugas itu mengangguk. "Mereka mengandalkan nama besar orang itu untuk bertindak seenaknya." ujar petugas itu menatapi rekannya yang telah selesai memborgol mereka dan mengangkut keduanya dengan susah payah karena tubuh kedua preman itu termasuk berat.
"Kalau begitu kami permisi." kata petugas tersebut.
kedua petugas itu kemudian menaiki mobil dan kendaraan itu kemudian memutar dan membalik jalan menuju timur. Adnan menghela napas panjang lalu mengeluarkan gawainya. ia menekan nomor seseorang. tak lama seseorang pun menyapanya.
📲 "Ada apa kau menghubungiku?" tanya orang itu dengan ketus. Adnan mendengus.
📲 "Aku ingin kau mempertemukan aku dengan Bubu." kata Adnan.
📲 "Dia tak gampang ditemui." ujar orang itu.
📲 "Itu aku nggak mau tahu Yanto! pokoknya aku minta kau hubungi orang itu dan katakan aku hendak menemuinya!" ujar Adnan dengan tegas lalu memutuskan sambungan selulernya.
__ADS_1
Adnan menatapi Chiyome dan Kenzie yang juga menatapnya. lelaki itu tersenyum.
"Kita makan dulu yuk? mereka mungkin tiba nanti malam. kita masih punya banyak waktu." kata Adnan mengajak kedua anaknya memasuki salah satu kedai. []