Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 192


__ADS_3

"Hubungi Tangan Ketiga Buana Asparaga, Ken." pinta Trias. "Aku yakin, orang itu bisa melacak keberadaan Stefan."


"Kenapa tak terpikirkan olehku?!" pekik Kenzie langsung merogoh sakunya mengeluarkan gawai kemudian menekan tuts nomor hacker tersebut.


tak lama terdengar deringan dan sambutan penerimaan panggilan.


📲 "Yo, kenapa Bos?" tanya orang itu.


📲 "Lacak keberadaan Stefan Waworondouw." pinta Kenzie.


📲 "Stefan? siapa tuh Bos? pialang saham baru yang harus kita tumbangkan?" tanya orang itu.


📲 "Bagaimana caranya kamu bisa melacak orang ini?" tanya Kenzie.


📲 "Nomor KTP nya mana?" tanya orang itu.


📲 "Segitu doang?" tanya Kenzie tak percaya.


📲 "Bos mau menemukan orang itu nggak?" sembur orang tersebut dengan nada kesal. "Kalau hanya untuk main-main, jangan ganggu saya, Bos. saya lagi di Transylvania nih, berlibur di kastilnya Drakula."


📲 "Oke, oke. tunggu sebentar." ujar Kenzie kemudian menatap Trias. "Nomor KTP Stefan berapa?"


"Tunggu sebentar." ujar Trias kemudian menghubungi Stephen.


📲 "Yo, Bro." jawab Stephen.


📲 "Phen, kau tahu nomor KTP nya Stefan nggak?" tanya Trias.


Stephen memberitahu nomornya kemudian Trias memberitahu Kenzie. lelaki itu menghubungi Tangan Ketiga.


📲 "Nomornya...." Kenzie memberitahu orang itu.


📲 "Beres Bos. tunggu sebentar lagi." ujar orang itu. "Jangan matikan handphonenya."


Kenzie membiarkan gawainya aktif panggilan sementara Trias langsung mengontak tim Pasopati.


📲 "Bang! aku sementara melacak keberadaan Stefan. pokoknya, begitu aku kirim koordinatnya, ente langsung komando teman-teman Pasopati untuk segera bergerak ya?!" pinta Trias.


📲 "Oke, Bro." jawab Bambang dengan sigap. "Tunggu dulu. ente ini dimana?"


📲 "Di Kediaman Lasantu!" jawab Trias singkat sembari memutuskan pembicaraan via seluler itu.


Bambang menyimpan gawainya dan menyamperi timnya yang sedang menunggu hasil pemeriksaan puslabfor dirumah sakit.


"Bray... kita punya tugas penting sekarang." lelaki minahasa itu kemudian menatap pintu sejenak lalu mengalihkan tatapannya kepada teman-teman Pasopatinya.


"Trias sementara melacak keberadaan Stefan bersama Pak Kenzie. kuduga, mereka juga sementara melacak keberadaan Ny. Kenzie Lasantu." Bambang menatapi Aldi, Stephen, Koko dan Tiko serta Andy Kratos satu persatu. "Begitu kita mendapatkan titik koordinat keberadaan Stefan. kita segera menuju kesana. Ingat! jangan tampilkan belas kasihan! ratakan mereka sampai ke akar-akarnya!"


ucapan Bambang langsung direspon balik dengan baik oleh pasukan Pasopati. Bambang kemudian menghubungi Bos Eki untuk meminta penggantian posisi.


📲 "Kalian sudah menemukan keberadaan Stefan?" seru Bos Eki dengan takjub.


📲 "Masih perkiraan, Bos. kami masih sementara menyisir tempat-tempat yang kami curigai." kilah Bambang. "Bos, kerahkan saja Tim Cakra untuk mengurusi mayat-mayat ini ya? kami bergerak sekarang."


📲 "Gampang itu! berikan saja aku kabar gembira." jawab Bos Eki kemudian menutup pembicaraan.


Bambang menyimpan gawai. ia menatap pasukannya. "Amunisinya lengkap?" tanya lelaki itu memastikan.


"Full!!!!" sambut yang lainnya.


...******...


Kenzie mondar-mandir diruangan itu. sesekali ia menatap arloji dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.30 malam.


📲 "Bos..." terdengar panggilan orang itu. "Kau masih disana?"


Kenzie gelagapan dan langsung mendekatkan gawainya ditelinga.


📲 "Ya, ya, aku disini." jawab Kenzie. "Sudah kau temukan?"


Tangan Ketiga menyebutkan titik koordinatnya. segera Trias pun mengontak teman-temannya melalui handphone sambil sesekali memperhatikan Kenzie yang sementara melakukan pembicaraan dengan hacker misterius itu.

__ADS_1


📲 "Jika dia tak memakai akun palsu, dan setahuku kemungkinannya kecil sekali... di berada di di titik koordinat..." Tangan Ketiga membeberkan kejelasan tempat persembunyian Stefan. "Itu berada di pedalaman pedesaan Kasia, Sumalata. kemungkinan hanya kendaraan sejenis landcruiser saja yang bisa menjangkau tempat itu."


Kenzie tak merespon jawaban Tangan Ketiga. ia menatap Trias. "Apa Maung hitam kamu itu bisa menjelajah wilayah perbukitan terjal tanpa aspal?"


"Tentu." jawab Trias dengan yakin, "Kendaraanku kan jenis kendaraan militer. pastilah berjenis landcruiser."


"Kalau begitu aku ikut denganmu." sahut Kenzie kemudian menghubungi lagi Tangan Ketiga.


📲 "Oke, makasih." ujar Kenzie.


📲 "Imbalannya apa nih?" tagih orang itu sambil terkekeh, terdengar jelas di speaker gawai itu.


📲 "Aku kasih kamu biaya nikah tiga istri. mau?!" tandas Kenzie.


📲 "Ya elah, Bos. mana kuat saya? saya kan nggak macam Bos yang overdosis tekanan ****." sindir Tangan Ketiga lalu tertawa, "Gini saja. liburan ke Luxor, ya?" pinta orang itu.


📲 "Oke, sebutkan saja estimasi biayanya, nanti ku transfer ke rekeningmu!" jawab Kenzie yang sudah malu disindir didepan Trias sebab loudspeaker gawai itu memang dikeraskan Kenzie.


Trias tertawa. "Ken, berapa ronde, tuh? pengen kepo nih." goda Trias.


"Pilotepalopombolumu!! ma mikirangi lo wolo poli yi'o? jo udito pohutu karajamu ti!!" umpat Kenzie.


(********!!! sudah apa yang kau pikirkan? bukan itu yang seharusnya kau urus!)


Trias mengangkat tangan, "Intermezo, kawan... intermezo. serius sekali kau, bray..." olok Trias.


"Kita berangkat, nih?!" seru Kenzie.


"Ayo! jangan buang waktu!" sahut Trias.


Kenzie melangkah kedalam ruamh, menuju kamarnya. ia muncul diberanda kemudian dengan menyandang holster dibagian dada dan pinggangnya. disana mendekam sepucuk P-3A dibagian dada dan SIG-P226 dibagian pinggang. Trias sejenak terpukau menatap beberapa magazine yang berderet dipinggang lelaki bercambang itu.


"Bray, nggak salah nih? kamu kayak serdadu mau maju perang saja." ujar Trias setengah mengolok.


"Aku memang mau berperang, Yas! yang terancam itu nyawa istriku, tau nggak kau?!" jawab Kenzie dengan wajah tegang.


"Tenang Bray, jangan emosi..." kata Trias dengan senyum.


Kenzie menatap ayahnya. "Pa, jaga putraku. aku akan membawa pulang istriku, bagaimanapun caranya."


Kenzie mengangguk lalu menatap Trias. "Kita berangkat!"


Trias mengangguk lalu melangkah diikuti Kenzie. keduanya memasuki Maung hitam kepunyaan Trias dan kendaraan penjelajah itu kemudian meninggalkan Kediaman Lasantu dan melaju dijalanan dengan tujuan kabupaten Gorontalo Utara.


Adnan sejenak menatap jalanan dan kemudian berbalik. sejenak ia terhenyak mendapati Sandiaga yang berdiri dipintu. anak itu menatap dengan tatapan seorang anak yang melepas kepergian kedua orang itu ke medan perang. tajam dan mengagumkan.


"Uyong, kamu belum tidur?" tanya Adnan dengan lembut.


Sandiaga sejenak memicingkan mata menatap jalanan, kemudian melempar pandangan kearah Adnan. diamatinya wajah lelaki yang sudah memasuki usia senja itu.


"Kakek... Kakek juga perlu istirahat." balas Sandiaga membuat Adnan tersenyum.


"Kakek kena insomnia parah lagi, Uyong. susah tidurnya." kilah Adnan membela diri.


"Kelihatannya, aku juga terserang insomnia juga.... susah tidurnya." balas Sandiaga membuat Adnan kembali tertawa keras.


Sandiaga menatap kakeknya. "Aku senang melihat senyuman diwajah kakek." komentarnya membuat Adnan merasa canggung lagi, "Cukup sudah Kakek bersedih atas kematian Umi dan Abi... Mama... akan membawa kepala orang itu sebagai oleh-oleh." ujarnya dengan mantap membuat Adnan terperangah. "Percayalah padaku, Kakek." tambahnya.


Adnan memicingkan mata. anak sekecil ini, mungkin sudah disusupi dokrin sesat kaum yakuza. dia mengucapkan kalimat itu tanpa beban... seakan kepala buntung bagaikan tas kresek berisikan penganan untuk anak-anak.


...*******...


mobil SUV yang ditumpangi tim Pasopati bertemu dengan Maung hitam milik Trias di Persimpangan Tani Isimu. kedua kendaraan itu membelok ke kanan menuju Kwandang. Trias menghubungi lewat walkie talkie.


📟 "Ingat, Stefan pasti sudah dikelilingi oleh para pengawalnya. jadi tugas kita, bukan hanya membekuk Stefan, tapi juga mencegah Ny. Chiyome melakukan tindakan diluar hukum!" ujar Trias.


📟 "Bagaimana jika kita terlambat?" pancing Bambang. "Kita tidak tahu, seberapa cepat kita tiba dan seberapa lambat Ny. Kenzie Lasantu menemukan targetnya."


📟 "Kita melakukan semampu kita. jika ada peristiwa force majure yang memungkinkan kita tak bisa melaksanakan target capaian kita. tapi prioritas utama adalah melindungi Ny. Kenzie Lasantu dari Stefan." ujar Trias. meski aku tak yakin jika Chiyome membutuhkan bantuan kami. batinnya.


📟 "Oke, lajukan saja mobilmu!" seru Bambang.

__ADS_1


dan kedua kendaraan itu kemudian melaju dan meninggalkan wilayah hutan lindung di Labanu. sedikit lagi mereka memasuki Alo.


...******...


Basel Essam sedang berlatih dihamparan yang agak luas, dikepung oleh belantara hutan wilayah Sumalata. lengannya yang kekar mengayunkan dua bilah senjata khas mesir kuno, Khopesh, sebuah pedang melengkung mirip sabit yang menjadi kebanggaan tentara Fir'aun.



gerakannya lincah, seakan tubuh tinggi yang kekar itu tak menghalangi kegesitannya mengayunkan senjata yang agak berat itu.


Basel Essam memang merupakan salah satu atlit Olimpiade yang dibanggakan Republik Mesir. ia seorang pakar anggar. ia juga mempelajari seni pertarungan kuno mesir dan sangat menguasai penggunaan senjata pedang kuno itu. selain itu, Basel Essam merupakan keturunan korps pengawal elit kerajaan mesir kuno, Meidjayi, entah yang keberapa.


Basel Essam selesai mempraktekkan segala jurusnya. napasnya memburu dan diaturnya sedemikian rupa hingga kelelahan tak terlalu menghinggapinya. uap keluar bersamaan dengan hembusan napas, membuatnya bagai hembusan napas naga api.


langkah kaki yang tersamar dalam gemerisik dedaunan rerumputan dan semak menggugah dria pendengaran lelaki Mesir itu. Lelaki itu menoleh ke arah kegelapan yang membentang.


"Aku tahu, kau sudah berada disini." ujar Basel, kemudian mengatur napasnya lagi. "Nggak ada gunanya kau sembunyi. tampakkan wujudmu!" hardik Basel Essam.


dari kegelapan itu muncul sosok berpakaian hitam. Basel Essam mengamatinya dengan cermat. sosok itu adalah wanita, mengenakan pakaian ketat dari bahan polyester. rambutnya dikuncir keatas dan sebuah menpo bercorak mulut setan yang menyeringai menopengi wajah cantiknya. celak mata makin menampakkan kesangaran tatapannya. digenggamannya terhunus sebilah pedang jenis gunto. sosok itu, tak lain adalah Chiyome Mochizuki.


"Kau...." gumam Basel dengan napas tercekat. tatapannya berbenturan dengan tatapan Chiyome dan lelaki itu merasakan aura membunuh yang melingkupi tubuh lawannya.


Chiyome memicingkan mata, pandangannya mencermati sosok setinggi nyaris dua meter dihadapannya. tonjolan-tonjolan otot yang memenuhi permukaan tubuh bagian atas yang mengkilap dihias keringat makin mempertegas maskulinitas sosok itu. tatapannya kemudian beralih ke kedua lengan kekar yang menggenggam dua bilah khopesh yang bilahannya mengkilap disepuh cahaya rembulan.


"Apakah kau, datang untuk mengambil nyawa Stefan?" tebak Basel Essam.


"Apakah kau diperintahkan untuk melindungi bajingan itu?!" balas Chiyome dengan suara datar yang serak. tatapannya tajam menghujam sebab telah dirasuki aura karasu tengu.


"Benar..." jawab Basel Essam kemudian menyilangkan kedua khopesh didada. "Maaf jika membuat rencanamu sedikit berubah."


"Siapapun yang menghalangi, harus mati." sahut Chiyome kemudian memajukan kaki kanannya lalu memasang gaya Hasso no kamae meniru postur Fudo Myo O yang memegang pedang surgawi.


"Aku tak akan sungkan, Nona." ujar Basel Essam.


keduanya berdiri dalam posturnya, mengamati dan menilai situasi. akhirnya Chiyome memutuskan melakukan serangan duluan.


diiringi pekikan nyaring, wanita itu merangsek maju dan mengayunkan Si Penebas Angin memutar menggunakan teknik Chi-Ten-Giri. pedangnya mengayun dari bawah keatas mengincar perut hingga kepala lawan.


Basel Essam dengan sigap menurunkan silangan khopesh dan membentur bilah Si Penebas Angin.


TRANGGGGGGG!!!!!


benturan logam yang dialiri tenaga itu mengakibatkan bentrokan tenaga menyebabkan kedua lengan masing-masing petarung itu kesemutan. tubuh Basel terdorong dua langkah kebelakang sementara Chiyome melompat melayang ringan diudara dan mengayunkan Si Penebas Angin kali ini dengan teknik memotong dari atas ke bawah, mengincar kepala petarung dari Mesir itu.


Basel dengan tangkas mengibaskan khopesh keatas, menyambut ayunan pedang lawannya.


TRANGGGGG!!!!


kembali terjadi bentrokan tenaga yang mengalir lewat benturan benda logam tersebut. Chiyome mendarat ditanah dan langsung merangsek maju mengibaskan pedangnya dengan berbagai teknik dari segala arah.


meskipun begitu, Basel Essam bukanlah lawan yang gampang ditaklukkan. lelaki itu adalah pemain anggar yang sangat menguasai teknik dua pedang. dengan tangkas, lelaki mesir itu mengibaskan kedua khopesh itu ketempat dimana Chiyome mengincar titik kelemahannya.


pertarungan yang begitu epik, didataran luas, dikepung oleh rimbunan belantara, disaksikan oleh cahaya sang rembulan menambah keseruan diantara keduanya.


Basel baru kali ini menemukan lawan yang dianggapnya sebanding, meskipun ia agak kecewa sebab gender yang dimiliki lawannya berbeda jenis. namun kekecewaannya terobati dengan kecakapan yang dipamerkan Chiyome membuatnya semangat meladeni wanita itu.


sebelumnya Chiyome juga tak menyangka akan berhadapan dengan petarung ini. dia berpikir, lawan-lawannya hanyalah para begundal rendahan yang mengandalkan senjata namun berkemampuan rendah dalam olah beladiri. namun nyatanya, Stefan benar-benar diakuinya, mengirimkan petarung bertubuh tinggi itu untuk menghalangi langkahnya.


Chiyome mengandalkan kecepatannya mengayunkan pedang, meski ia sendiri mengakui lawannya tak kalah cepat mengantisipasi setiap serangannya.


dengan sedikit teknik tipuan, Basel Essam menyilangkan khopesh saat Chiyome terpancing menusukkan pedang ke depan mengincar dada bidang petarung itu. dengan sedikit tipuan, ia menjepit bilah Si Penebas Angin dengan lengkungan khopesh membuat Chiyome kesulitan menarik pedangnya.


"Kau pikir, gampang mengambil jantungku, Nona?" geram Basel dengan senyum menyeringai.


sentakan keras lelaki itu membuat Chiyome terpaksa melepaskan genggamannya pada pedang itu. Si Penebas Angin terlempar keatas dan menancap beberapa meter dari medan pertempuran. Chiyome mundur selangkah mengambil jarak dan memasang gaya bertarung khusus tanpa senjata, kumiichi.


Basel menyerbu mengayunkan kedua khopesh. namun Chiyome menyambutnya dengan tenang. tanpa menggenggam senjata, kedua lengannya menjadi ringan. dengan teknik nukite-tsuki, ia menotok kedua pergelangan Basel, membuat lelaki itu mengeluh kesakitan dan genggaman pada kedua senjatanya terlepas.


kesempatan itu tak disia-siakan Chiyome. kedua tangannya maju bergiliran menghujamkan ipponken ke perut dan dada Basel. tubuh lelaki itu terdorong ke belakang akibat pukulan itu, namun lengannya masih sempat mengayun dan jemarinya mencakar wajah Chiyome.


wanita itu mengelak, nyaris terkena cakaran, namun menpo yang menopengi wajahnya tersangkut jemari kekar Basel dan terlepas. keduanya melompat kebelakang mengambil jarak lagi.

__ADS_1


ketika Chiyome mengangkat wajah menatap Basel, seketika lelaki itu terperangah tak menyangka bahwa lawan dihadapannya memiliki wajah yang cantik dan menggugah nuraninya.


lelaki itu.... jatuh cinta pada pandangan pertamanya.[]


__ADS_2