
Supercar Mc Laren P1 kuning milik Kenzie melaju pelan dijalanan. beberapa orang menatap kagum kendaraan itu. jarang-jarang menemukan mobil berpajak istimewa itu dikawasan Indonesia, bahkan Gorontalo. keanggunan mobil-mobil Xenia dan pabrikan jepang langsung melorot ketika kendaraan buatan eropa itu melintas.
Kenzie dan Chiyome memutuskan menghabiskan malam dengan menyusuri kota kecil itu. kendaraan milik lelaki itu memang tak bisa sembarangan melaju. jalanan kota Marisa belum rata seperti jalanan-jalanan ibu kota propinsi. banyak lubang dan jerawatan disana-sini. lagipula buat apa menarik gas sekencang mungkin sampai batas maksimum jika nggak perlu?
mereka tiba dilokasi depan Everyday is Sunday Camp/Creative, tepatnya di lab. Marisart Studio. ada sebuah Cafe dan Resto disana. Kenzie memarkir kendaraannya beberapa meter dari tempat itu. keduanya keluar dan melangkah santai mendekati kedai tersebut.
Kenzie masuk disusul oleh Chiyome. mereka memilih duduk dipojokan. Kenzie menatapi sekitaran. ada beberapa anak muda sepantaran usia sekolah dan ada beberapa pemuda metroseksual yang duduk menikmati kopi sambil asyik mengutak-atik aplikasi game di perangkat gawainya.
"Kelihatannya bagus juga disini. kurasa Marisa sedikit lagi akan menyamai Limboto atau bahkan ibukota sendiri." komentar Kenzie.
"Pesan makanan Hubby... habis ini kita keliling mandang lautan di Pohon Cinta ya?" pinta Chiyome dengan manja.
"Oke. tunggu sebentar." ujar Kenzie lagi bangkit dan melangkah menuju meja besar tempat barista meracik kopi yang sesuai dengan pesanan pengunjung.
"Pesan apa mas?" tanya salah satu barista yang agak menunduk. wajahnya tertutup topi pegawai yang berlidah panjang.
"Saya pesan... " Kenzie menyebutkan jenis suguhan kopi dan beberapa cemilan. barista itu mengangguk.
Kenzie kembali ke tempatnya sedang Chiyome sibuk membuka aplikasi saham-saham. kemunculan Kenzie membuatnya menghentikan kegiatannya.
"Sudah dipesan?" tanya Chiyome.
"Sudah... Hubby hanya pesan cemilan saja. nanti kita kenyang-kenyangkan diri di Pohon Cinta saja ya?" kata Kenzie dengan senyum.
Chiyome mengangguk memamerkan seringai ginsulnya. senyum khas yang selalu ia persembahkan untuk suaminya dan bukan untuk orang lain. jika dihadapan orang lain, bahkan Trias dan Saripah, Chiyome tak pernah tersenyum seperti itu. senyumnya bahkan sangat tipis. sehingga siapapun yang pertama kali mengenal Chiyome akan mengira perempuan itu sombong dan sangat menjaga image.
"Saham-saham Buana Asparaga.Tbk naik 75 poin. kelihatannya Kak Bakri sangat pintar menaikkan neraca kita." puji Chiyome.
"Oh ya?" kata Kenzie dengan sumringah lalu mengeluarkan gawainya pula lalu membuka aplikasi Bloomberg co.id dan beberapa saat kemudian wajah lelaki itu makin sumringah.
"Kurasa... Kak Bakri memang seorang enterpreneur hebat." puji Kenzie sambil menutup aplikasi itu lagi dan meletakkan gawai di meja.
"Kita melupakan sesuatu...." kata Kenzie.
"Apa Hubby?" tanya Chiyome.
"Tentang Stefan... kemana orang itu ya? seperti raib ditelan bumi." ujar Kenzie memajukan tubuhnya. Chiyome ikut memajukan tubuhnya dan wajahnya agak dekat ke wajah suaminya.
"Hubby... lupakan orang itu. jika memang ia raib, maka berdoalah ia benar-benar diraibkan oleh Tuhan supaya keluarga kita tak akan menderita lagi." ujar Chiyome kemidian maju mengecup bibir suaminya lalu menarik lagi tubuhnya menyandar di kursi.
"Aku berharap lelaki setan itu tidak akan muncul lagi diantara kehidupan keluarga kita. aku berharap dia sudah mati. semoga saja dia sudah mati, entah ditabrak kendaraan, digigit anjing gila atau apalah..." ujar Chiyome dengan datar.
Kenzie tertawa, "Ih... sumpahnya itu kok ngeri sekali." olok lelaki itu lagi.
"Biarin... memang Hubby mau, si Azuki Arai itu muncul dan mencelakai Kak Ais atau Kak Bakri?" ujar Chiyome membesarkan mata sipitnya.
Kenzie tersenyum nakal, "Matanya Wiffy kalau membulat begitu seksi banget deh." godanya merayu.
"Gombal!" olok Chiyome tertawa hingga mata sipitnya semakin sipit mirip cekungan. "Sudah menikah masih juga macam anak-anak muda." omelnya kembali tertawa.
"Ih, jiwa muda itu perlu Wiffy Lovely Dovely... kalau jiwa nggak muda lagi, ya sekalian mati saja." ujar Kenzie lagi.
"Isyyy Hubby kok bicara begitu lagi?!" omel Chiyome.
"Ups... sory Wiffy, becanda saja.... sensi amat." ujar Kenzie meralat dan mengangkat tangan. "Wiffy tahu nggak? Hubby ini aslinya jawa lho."
"Hah? jawa? nggak percaya..." kata Chiyome melipat tangannya di dada.
"Eh, beneran... nggak percaya." kata Kenzie senyum-senyum lagi. Chiyome menatap suaminya.
"Serius nih? memang jawa mana sih? Jawa Barat?" tebak Chiyome.
"Salah..." jawab Kenzie.
"Jawa Tenggaaahh..." tebak Chiyome lagi.
"Salaaaahhh..." jawab Kenzie mulai tertawa senang lagi.
"Yang terakhir pasti benar nih.... Jawa Timuuuurrr.." tebak Chiyome dengan penuh keyakinan.
Kenzie tertawa ngakak, "Salaaahh..."
__ADS_1
"Wah, Hubby bohong nih." tebak Chiyome, "Nggak ada lagi wilayah jawa selain itu. nggak mungkin lah Wiffy sebut Banten, Cirebon, Yogya... memang Hubby Jawa sebelah mana sih?" tanya Chiyome penasaran.
"Hubby itu.... berasal dari Jawa.... ban atas doa-doa Wiffy selama ini..." jawab Kenzie dengan senyum nakal.
"Kampret! Wiffy kirain apa!" seru Chiyome sambil memukul lengan Kenzie dengan manja. "Isyyy.... bikin tersanjung deh... Wiffy suka... I Love You, My Hubby Lovely Dovely..." ujar Chiyome dengan tersipu.
"Aku juga sayang Wiffy... lebih dari diriku... " jawab Kenzie maju mengecup bibir istrinya. semula Chiyome kaget namun makin tersipu dan senyum-senyum sendiri.
"Ahhh.... Hubby...." ujar Chiyome.
tak lama kemudian, muncul lelaki memakai apron hitam membawa nampan dengan dua gelas tinggi berisi kopi campur es dan krim dan dua buah hamburger dalam sebuah piring. hidangan itu diletakkan di meja. Kenzie menatap wajah lelaki itu dan dia terkejut.
"Daming???" tebak Kenzie.
lelaki itu terkejut dan menatap orang yang menyapanya. ia makin terkejut.
"Lho? Kenzie?" serunya lalu menatap wanita didepan Kenzie, "Lho? Chiyome???" serunya lagi.
Kenzie bangkit dan tertawa lalu menampar punggung Daming, teman kelas seangkatannya. "Kamu kerja disini?" tanya Kenzie.
"Iya... aku kerja jadi Robusta..." jawab Daming sekenanya memeluk nampan.
"Robusta?" gumam Kenzie kemudian menatap Chiyome, lalu memandang Daming lagi yang bersikap tenang. "Robusta, apaan tuh Ming?"
"Ahhh.... udik kamu ya? masa nggak tahu?!" ujar Daming mengerutkan dahinya. "Itu yang kerjanya meracik kopi..."
Kenzie menepuk dahinya sedang Chiyome tertawa melihat tenangnya Daming menyebut istilah yang salah.
"Barista.... bukan robusta..." ujar Kenzie meralat jawaban Daming.
"Yang begitu itu..." tambah Daming.
"Sudah, kamu temani kami dulu disini." ajak Kenzie.
"Sori Ken, aku harus kerja..." tolak Daming, "Lain kali saja."
"Duduk saja disini... nanti aku yang traktir." ujar Kenzie memaksa.
"Nanti sajalah dunk, nggak enak sama pelayan yang lain. nanti dilaporin ke majikan, susah aku nanti." tolak Daming lagi dengan halus.
"Okelah, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi." ujar Kenzie mengalah lalu mengeluarkan kartu nama. "Kalau kau punya hajat, datanglah kawan. kau masih punya teman. kau nggak hidup sendirian."
Daming menerima kartu itu lalu tersenyum dan mengangguk tak kentara kemudian berlalu dari situ. setelah mengamati setiap pekerjaan sahabatnya itu, Chiyome menatap suaminya.
"Hubby, biarkan Daming melakukan tanggung jawabnya sebagai lelaki. kita cukup membantu saja dari luar. jangan memperlihatkan kedermawanan jika yang kita hadapi tidak merasa nyaman dengan itu." nasihat Chiyome.
"Ah, seberapa besar sih gajinya disini? kalau saja dia mau, jadi OB di Buana Asparaga.Tbk gajinya lebih dari UMR lho." ujar Kenzie lagi. sifat arogannya muncul.
Chiyome tersenyum, "Rupanya yang dibilang Saripah itu benar tentang Hubby..." ujarnya, "Hubby tuh arogan."
Kenzie tertawa, "Oh ya? pengen mampus anak itu ya? ngatai atasannya arogan."
"Tuh, Nyata begitu..." ujar Chiyome tertawa.
Kenzie meraih gelas dan menyeruput air kopi itu. sebentar matanya melebar dan mengangguk-angguk. "Wahhh... Daming ternyata piawai juga bikin kopi ya?" puji Kenzie.
"Oh ya?" ujar Chiyome ikut meraih gelas dan menyeruput isinya. sebentar mata sipitnya melebar sedikit dan ia pun ikut mengangguk.
"Benar kata Hubby... mantap rasanya..." timpal Chiyome ikut memuji.
Kenzie meraih hamburger satu dan memakannya. sebentar-sebentar alis sebelahnya naik turun. "Kalau yang ini rasanya biasa saja, kayak sama dengan di ibukota."
Chiyome tertawa, "Hubby sekalian jadi kritikus makanan saja." oloknya membuat Kenzie ikut tertawa.
"Kurasa Wiffy benar...." balas Kenzie.
keduanya kemudian merasai hidangan itu lalu kemudian berdiri. sementara Chiyome melangkah ke trotoar dan masuk ke mobil, Kenzie meraih gawainya dimeja lalu menuju kasir dan membayar pesanan. Daming dilihatnya sibuk meramu kopi pesanan salah satu pengunjung.
"Bro, aku cabut dulu ya?" seru Kenzie.
Daming menoleh dan mengangkat tangan menyahuti seruan Kenzie. lelaki itu berbalik meninggalkan kafe itu dan kembali ke mobilnya. kendaraan lux itu kembali melaju pelan dijalanan dan bertemu persimpangan. sambil menunggu lampu hijau menyala, Kenzie menatap Chiyome.
"Trias sekarang ini lagi magang." kata Kenzie.
"Oh ya?... wah, calon besanku sedikit lagi akan meraih pengukuhan ya?" ujar Chiyome sedikit menggoda Kenzie.
__ADS_1
"Masih lama Wiffy..." balas Kenzie membuat Chiyome tertawa.
"Ya, kita doakan apa yang dia inginkan tercapai." kata Chiyome, "Hubby nggak mau punya calon besan polisi?"
"Bukan soal itu. mo polisi atau nggak, mau jadi ustadz atau nggak, bukan itu masalahnya... harapan kita tuh masoh jauh sama Trias... dia saja belum nikah mana sudah beranak?"
"Ya,kan setelah dua tahun masa pengabdian kan boleh menikah... sudah nggak tahan Ipah tuh pengen dilamar." ujar Chiyome.
"Tahu dari mana?" tanya Kenzie.
"Nih..." Chiyome memperlihatkan gawainya. ada gambar Saripah mengabadikan kebersamaan dengan Trias melalui swafoto. Kenzie tertawa.
"Wah, hebat dong..." komentar Kenzie.
lampu hijau menyala dan Kenzie kembali menekan gas agak pelan. kendaraan mewah itu membelok ke kanan menyusuri jalan dua arah menuju selatan. sejenak Kenzie membelok ke deretan gedung yang berbaris menyatu. ia memarkir kendaraannya lalu keluar. Chiyome sejenak memandangnya dan mengawasi lelaki itu dari mobil.
Kenzie masuk kedalam ruangan penuh mesin ATM. ia mengeluarkan kartunya, black gold, kartu unlimited kepunyaan para pengusaha kawakan. ia memasukkannya dan menekan jumlah digit tertentu. tak berapa lama meain ATM meraung dan memuntahkan beberapa lembar uang kertas bergambar Soekarno-Hatta dan setelah itu memuntahkan kartu itu pula.
Kenzie meraih uang dan kartu itu lalu keluar dari ruangan penuh mesin teller tersebut, melangkah santai menuju mobil dan masuk lagi.
"Sori Wiffy, di sini belum melayani sistim pembayaran pakai EDC (Electronic Data Capture), jadi kita harus punya persediaan uang cash untuk memenuhi keinginan kita." ujar Kenzie dengan senyum memperlihatkan barisan uang yang dipegangnya mirip kembangan kipas.
Chiyome mengangguk. "Ayo... Wiffy sudah nggak sabar ingin merasakan aura pohon cinta itu." ujarnya.
Kenzie tertawa lalu menyalakan lagi mobilnya. Supercar Mc Laren Pirelli 1 itu beranjak meninggalkan komplek parkir gedung Bank BRI dan kembali melaju pelan dijalanan dua arah. Kenzie harus lebih hati-hati menyetir. pasalnya jalan dua arah dari sisi gapura, permukaannya banyak jerawatan dan lubang disana sini. bisa-bisa mempengaruhi sasis dan body dari mobil jika sering terantuk lubang jalanan.
mereka melewati perempatan jalan dan Tugu Panua, terus menuju selatan, menyusuri deretan perkantoran hingga menemukan hutan mangrove. tak berapa lama mereka tiba di pertigaan jalan setelah menyeberangi jembatan. ditengah pertigaan terdapat lagi monumen telur maleo yang terkurung. Kenzie membelokkan kendaraan ke kiri dan sesekali berhenti memberikan kesempatan para pejalan kaki yang melintasi jalanan untuk menyeberan.
malam itu kebetulan sangat ramai pengunjungnya dan keberadaan kendaraan lux itu menjadi pusat perhatian orang-orang sana yang mengagumi kendaraan yang hanya bisa dinikmati lewat layar televisi saja.
Kenzie memarkir mobilnya lalu mengajak Chiyome menyeberang menuju deretan resto gaya pantai. mereka membiarkan Mac Laren P1 kuning itu menjadi obyek swafoto anak-anak muda berlagak kaya itu.
Kenzie mengajak Chiyome masuk ke salah satu resto kemudian lesehan disana. Chiyome meraih lembaran menu dan mengamati beberapa menu yang dihidangkan.
"Hubby, aku ingin rasa masakan ini ya?" pinta Chiyome memperlihatkan nama menu tersebut kepada Kenzie. lelaki itu mengangguk.
"Oke, kalau Wiffy mau itu, pesanlah. Hubby pesan ini." timpal Kenzie menunjuk salah satu menu pula.
"Oke deh." jawab Chiyome meraih sebuah notes dan pulpen kemudian menuliskan pesanan mereka. setelah itu wanita bermata sipit itu memandang suaminya.
"Minumnya apa?" tanya Chiyome.
"Wiffy maunya apa?" tanya Kenzie.
"Wiffy minta ini ya?" kata Wiffy menunjuk nama minuman dalam lembaran menu.
"Jadikan dua." tambah Kenzie sambil mengangguk.
Chiyome kemudian menulis nama minuman itu di notes tadi dan merobek kertas itu lalu bangkit menuju kasir dan menyerahkan kertas tersebut.
"Berapa semuanya?" tanya Chiyome.
si kasir menyebutkan harga makanan dan Chiyome berbalik menuju tempat suaminya lesehan. wanita itu duduk disisi Kenzie.
"Hubby, uangnya dong... harganya..." Chiyome menyebutkan harga makanan itu.
Kenzie mengangguk dan mengambil dompetnya lalu diserahkannya ke Chiyome. wanita itu bangkit dan melangkah lagi menuju kasir dan membayar harga makanan itu. setelahnya Chiyome kembali lesehan di depan Kenzie dan menyerahkan dompet suaminya.
"Tuh kan? nggak ada EDC toh?" ujar Kenzie.
Chiyome mengangguk. "Hubby... kabari Abi sama Umi tuh kalau kita pulangnya telat. jadi mereka nggak nunggu-nunggu."
"Oke.." Kenzie setuju dan mengeluarkan gawainya kemidian menghubungi Kartono. tak lama kemudian terdengar suara.
📱"Halo? ma to utonu timongoli tiye? ma jam lat boyito. jam hualingo to bele?" tanya Kartono. (Sudah dimana kamu berdua? ini sudah larut malam, nggak niat balik ke rumah?)
📱"Torang dua ada di Pantai Pohon Cinta. kayaknya kami nggak balik pulang Abi. mungkin siang nanti kami balik ke rumah." jawab Kenzie.
📱"ja po polangolo to dalalo. waw po daha batanga... nde iyo pobisala'u toli Umi timongoli jam bale uhi botiye, lapata'o dulahu po bale mayi wa? o kira ole Adnan poli ami dulota ja mo piarawa tolimongoli. de sudalolo..." ujar Kartono menyudahi pembicaraan dan sambungan seluler itu diputuskan. (Jangan kelaparan dijalan. dan peliharalah tubuh. baiklah akan kuberitahu Umi, kalian berdua nggak akan balik kerumah malam ini. nanti siang pulang ya? nanti Adnan mengira kami berdua nggak memperhatikan kalian. baik. sudahilah..)
Kenzie menyimpan lagi gawainya dan tersenyum menatap istrinya. "Aman, sekarang kita bisa menghabiskan malam ini berdua... bahkan sampai pagi."
Chiyome lagi-lagi tersenyum penuh arti.[]
__ADS_1