
Suwawa, 01 Januari 2021. 00.00 a.m.
upacara moduhu wawu mopasi telah selesai dilakukan oleh Bapu Ridhwan. kini Kenzie dan Trias resmi telah mendapatkan ijazah sebagai praktisi langga meskipun masih dalam taraf mahir pemula, langsung dibawah bimbingan Bapu Ridhwan.
"Aku sudah memberitahu Adnan untuk melanjutkan latihan kalian dibawah kepengasuhannya. Bapu yakin, kalian bisa mengambil manfaat dari latihan itu." kata Bapu Ridhwan, kemudian menatap Chiyome.
"Sekarang tiba saatnya aku menyerahkan peninggalan kakek buyutmu kepadamu. nah persiapkan dirimu dan temui Bapu di rumah dibelakang."
Bapu Ridhwan bangkit meninggalkan kumpulan orang itu. karena upacara pemberian pedang itu dibuat secara adat, maka Chiyome dipakaikan pakaian adat lengkap dengan aksesori yang menghiasi pakaiannya. Saburo yang sementara tidur dipeluk oleh Ipah. bayi itu dipakaikan selimut tebal untuk menahan udara dingin dini hari.
dituntun oleh Kenzie yang mengenakan pakaian adat warna hitam lengkap dengan destar yang disebut piingo berwarna coklat bercorak geringsing motif lung kembang. sedang Trias mengenakan pakaian adat payungo hitam juga dengan piingo dari bahan batik bercorak geringsing ceplok kembang warna biru indigo. Ipah tidak mengenakan pakaian adat namun mengenakan pakaian yang pantas dan kerudung dililitkan dikepalanya.
keempatnya melangkah menuju halaman belakang. disana nampak Nenek Juno dan Bapu Ridhwan telah berdiri menanti. dalam genggamannya nampak sebuah pedang yang tersarung.
Chiyome dihadapkan ditengah pekarangan itu kemudian disuruh duduk bersimpuh. Kenzie dan Trias berdiri di samping saling berbanjar, berjarak 2 meter dan memghadapkan tubuh mereka kearah Chiyome yang sementara bersimpuh. Ipah berdiri agak jauh dibelakang wanita itu.
Bapu Ridhwan sejenak menyerahkan pedang itu ke tangan Nenek Juno, setelah itu ia membuka seragam payungo hingga telanjang dada menampilkan sepir-sepir yang menghiasi sekujur tubuhnya yang sudah renta itu. Chiyome terkejut melihat rajahan yang paling dikenalnya melekat ditubuh kakek itu. itu rajahan irezumi!!
"Kamu pasti terkejut dengan rajahan ini, kan? Chiyome?" pancing Bapu Ridhwan sambil tersenyum.
Chiyome mengangguk, "Bapu... jelaskan padaku."
"Rajahan ini mirip dengan rajahan yang melekat ditubuh Mamoru. Ya, dia sendiri yang meminta temannya untuk merajahku meniru rajahan di tubuhnya. Bapu nggak tahu alasannya. tapi Bapu menghormatinya dan membiarkan mereka merajah tubuh Bapu. belakangan baru Bapu tau kalau ini tato yakuza." ujar Bapu Ridhwan lalu tertawa.
Chiyome tersenyum, "Bapu terlihat keren dengan dengan irezumi itu."
"Ooo... jadi rajahan ini namanya irezumi?" gumam Bapu Ridhwan mengangguk-angguk. kemudian ia menegakkan tubuhnya dan meraih kembali pedang dalam genggaman Nenek Juno.
kakek itu kemudian menatap Chiyome. "Cucu ku, hari ini aku akan menyerahkan pusaka yang dititipkan Mamoru kepadamu. terimalah. "
Bapu Ridhwan menyerahkan pedang itu ke tangan Chiyome. wanita itu menerima pedang itu dan mencermatinya. pedang itu bergaya gunto dengan sarung yang terbuat dari logam yang diukir. gagang pedangnya terbuat dari gading bermutu tinggi, dililit oleh tsuka ito warna merah marun. mekugi membentuk pola daun. tsuba terbuat dari campuran bahan emas dan besi dengan ukiran motif daun bambu. habaki terbuat dari bahan emas polos.
wanita itu kemudian berdiri, sementara Bapu Ridhwan mundur seakan tahu apa yang akan dilakukan cucu mantunya itu. Chiyome menghunus pedang itu dan memperhatikan pedang yang terbuat dari Titanium tersebut. panjang pedang itu 1.10 cm. Choyome langsung menarikan sebuah jurus menggunakan pedang tersebut.
pakaian adat yang membalut tubuhnya tak menyulitkan Chiyome mengayun-ngayunkan pedang tersebut. hingga akhirnya ia menyelesaikan rangkaian tarian pedang itu dan menyarungkan kembali senjatanya. wanita itu tersenyum puas.
"Bagaimana?" tanya Bapu Ridhwan.
"Sangat hebat. meskipun pedang ini jenis pedang tentara, tapi kekuatannya mirip dengan katana milik para samurai. terima kasih Bapu.. " kata Chiyome kemudian membungkuk.
"Itu adalah hak kamu. apakah kamu sudah memberikan nama untuk pedangmu?" tanya Bapu Ridhwan.
"Aku menamakannya...." Chiyome mengangkat pedang yang tersarung dan menatapinya. "Si Penebas Angin... Kazekiri..."
Bapu Ridhwan mengangguk-angguk setuju. "Nama yang bagus. aku setuju dengan nama itu."
Kakek itu kemudian menatapi Kenzie. "Kurasa ini adalah malam terakhir kalian disini. nikmatilah. besok kalian sudah harus kembali ke kota."
Kenzie dan Trias saling berpandangan. Bapu Ridhwan kemudian mengenakan kembali pakaian payungo dan masuk kedalam rumahnya. tak lama ia membawa sebuah kotak dan membukanya. kakek itu mengeluarkan sebuah batangan kembang api dan menyulutnya.
maka menyalalah kembang api itu membuat kedua pemuda itu melongo. kakek itu menatapnya.
"Kalian nggak mau merayakan pergantian tahun? sudah lewat sebenarnya...." ujar Bapu Ridhwan tertawa.
Kenzie dan Trias tertawa lalu melangkah mendekati Bapu Ridhwan dan mengambil dua batang kembang api dan menyulutnya. kedua pemuda itu kemudian memutar-mutar kembang api itu ke udara sementara Chiyome dan Ipah tertawa melihat kelakuan konyol kekasih mereka. Bapu Ridhwan dan Nenek Juno hanya tersenyum melihat mereka. Nenek Juno sejenak menyingkirkan tetesan air mata yang sempat jatuh dari kelopak matanya karena sejenak ingatan tentang suaminya melintas dibenaknya. untung saja Kenzie dan Chiyome tidak melihatnya.
bayi Saburo makin meringkuk dalam tidur hangatnya dalam pelukan Ipah. gadis itu menatapnya. "Anakku... baik-baiklah kau dalam tidurmu. damailah dalam mimpimu... aku hanya bisa mendoakan kebaikan menyelimutimu... semoga takdirmu akan lebih baik dari mereka."
dan kegembiraan dimalam pergantian tahun itu berlangsung semarak meskipun tidak dirayakan dengan kemewahan.
...*********...
Kediaman Lasantu, Kota Gorontalo, 01 Januari 2021, 16.30 p.m.
__ADS_1
Adnan membolak-balik kertas berharga tersebut dengan penuh senyuman. itu adalah surat pengajuan naturalisasi bagi putri mantunya. bagaimanapun Adnan berharap pemerintah akan mengabulkan karena beberapa pertimbangan. yang pertama, Fitri Lasabang, ibunya sampai saat ini belum melepaskan kewarganegaraan sebagai WNI, ini menurut pengakuannya sendiri. setiap tahun ia selalu memperbaharui ijin tinggalnya di kantor konsulat Republik Indonesia di jepang. yang kedua, Chiyome pandai berbahasa Indonesia dengan lancar. memang keberadaannya di Gorontalo semenjak ia sekolah hingga saat ini masih belum cukup untuk memperoleh kelayakan naturalisasi. namun Adnan selalu punya harapan agar keinginannya bisa terpenuhi.
"Assalamualaikum..." seru Kenzie dari luar.
pintu kemudian membuka. Kenzie muncul menenteng pedang sedang Chiyome memeluk Saburo sambil menenteng tas pakaian.
"Baru pulang kalian? dari mana saja sih?" tanya Adnan.
"Istirahat dulu Pa... kami kan semalaman sampai subuh lho ngerayain pergantian tahun." jawab Kenzie.
"Itu apa? pedang ya?" tanya Adnan menunjuk sesuatu yang ditenteng Kenzie.
"Milik Chiyome Pa, Kazekiri..." jawab Kenzie.
"Kazekiri ?" gumam Adnan.
"Nama pedangnya... Chiyo memberi nama pedang ini Kazekiri, artinya Si Penebas Angin..." jawab Kenzie.
"Ooooo....." Adnan membulatkan mulutnya sambil mendekati Chiyome. "Adek... kemarikan Sandiaga. Papa sudah rindu nih..."
Chiyome tersenyum dan membiarkan Bayi Saburo diambil oleh kakeknya. wanita itu melangkah menuju kamar setelah ia menerima pedang yang diberikan suaminya. Kenzie sendiri duduk di sofa keluarga. ia menyandarkan punggungnya sambil mendesah panjang. Adnan duduk disisinya.
"Mama mana Pa?" tanya Kenzie.
"Biasa.... kunjungi teman untuk merayakan pergantian tahun.... sebentar lagi pulang." jawab Adnan.
Kenzie menatap layar TV yang gelap karena tidak dinyalakan olehnya.
"Pa... nilai semester ganjilnya Ken agak turun. nggak apa-apa, kan? kalau menurut Ken sih nggak masalah... toh yang penting dalam kehidupan adalah penerapan ilmu, kan? bukan nilai di buku raport." kata Kenzie.
"Jika itu menurut kaku tak membahayakan posisimu, Papa cuma bisa mendoakan agar kau menjadi lebih baik dari kami." kata Adnan.
"Tanggal 4 masuk sekolah Pa.. tapi agaknya Kenzie belum bisa ngantor karena masih sibuk mempersiapkan pembelajaran nanti malam." kata Kenzie. "Jadi, pekerjaan Ken bisa di hadle sama Kak Bakri ya?"
Kenzie bangkit membiarkan Adnan sibuk bermain dengan sang cucu. pemuda itu melangkah menuju pintu kamarnya dan membukanya. dilihatnya sang istri sudah terlelap duluan. untunglah sebelum tidur, Chiyome sudah membereskan isi tas dan memasukkannya kedalam keranjang cucian yang nanti akan dicucinya esok. pedang Kazekiri entah sudah disimpan dimana, Kenzie tak mengetahui. pemuda itu hanya ingin tidur disisi istrinya.
Kenzie menaiki ranjang lalu berbaring disisi Chiyome. pemuda itu sejenak mengamati wajah sang istri.
cantiknya.... aku selalu tak pernah bosan menatap wajah ini. ada sebuah magnet yang memaksaku untuk tak mengalihkan tatapanku darinya. ah, Chiyo... kau memang selalu berhasil membuatku mencintaimu...
Kenzie merebahkan dirinya disisi Chiyome dan perlahan kedua matanya terkatup dan akhirnya menyusul istrinya menuju alam mimpi.
...********...
Trias menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu membiarkan Ipah menuju kamarnya. kedua orang tuanya sementara berkunjung ke sanak keluarga. pemuda itu menguap sejenak melepaskan oksigen yang kekurangan ionnya. pemuda itu memang lelah, tapi berupaya kuat.
Ipah muncul di ruang tamu. ia melihat Trias yang kelihatan lesu. gadis itu tersenyum.
"Kalau sudah ngantuk, jangan dipaksa. tidur saja disofa. Mama sama Papa juga nggak pulang seharian ini. jadi bebas kamu tidur disitu." tegur Ipah setengah mengolok.
"Nggak, aku masih kuat kok. benar!" jawab Trias dengan lagak menegakkan tubuh dan memutar kepalanya. terdengar bunyi suara tulang berkeretakan.
"Tulangnya nanti dol tuh... jangan bikin begitu lagi." tegur Ipah kembali. "Tulang yang dol akan menyebabkan ngilu tulang. jadi kamu akan kesakitan terus dan merasa nggak enak disetiap persendian. meregangkan tubuh boleh-boleh saja asal jangan terlalu."
Trias tersenyum. "Memang nggak salah kamu jadi calon Umma." ujar pemuda itu setengah merayu, setengah mengolok.
"Ih, kege-eran." jawab Ipah sambil duduk di sofa, seberang depan Trias.
Trias terkekeh. "Ge-er juga nggak apa-apa. yang penting semua untuk kamu."
Ipah bangkit lagi. "Tunggu sebentar ya?"
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Trias.
"Udah.... duduk saja sana." kata Ipah sambil meninggalkan ruang tamu.
gadis itu ke dapur, melihat-lihat apa yang bisa disajikan untuk pemuda itu. ia membuka lemari menemukan teh seduh. Ipah membongkar lagi isi lemari itu menemukan toples gula dan sekotak bubuk jahe. gadis itu tersenyum.
Ipah mulai menyeduh teh, dan meramunya dengan gula dan setengah sendok teh bubuk jahe, menambah rasa pedas yang bisa menghangatkan tubuh.
setelah itu ia menaruhnya digelas besar dan membawanya ke ruang tamu. gadis itu meletakkannya dihadapan Trias.
"Tuh minum, masih anget tuh..." pinta Ipah.
Trias meraih gelas itu dan meminum isinya. tak lama ia melihat Trias mengernyitkan wajahnya dan menatap Ipah.
"Sayang... ini teh apa wedang sih? kok pedas?" tanya Trias.
"Teh, ku campur jahe supaya hangat tubuhmu dan stamina balik lagi." jawab Ipah.
"Oooo.... begitu ya?" gumam Trias kemudian meminum air teh jahe itu tanpa jeda hingga habis. Ipah sendiri tercengang melihat betapa Trias mampu menahan napas begitu lama demi menghabiskan seluruh cairan teh jahe itu padahal gelas yang digunakan termasuk gelas tinggi mirip dengan gelas-gelas yang biasa disuguhkan untuk minuman bir.
Trias mendesah dan sejenak bersendawa membuat Ipah tertawa. pemuda itu mendecap-decapkan lidahnya sambil meletakkan gelas besar itu dimeja kaca.
"Kelihatannya kamu kuat minumnya. sering minum nih?" goda Ipah.
"Minum apaan?" tanya Trias merasa kurang paham. pemuda itu mulai paham melihat Ipah yang terus tertawa sambil menutup mulutnya.
" Porogegelooo.... memangnya aku sering minum khamr? begitu? Paaa... gini-gini aku orangnya selalu sholat nggak pernah absen biarpun kadang terlambat waktunya. mana mau aku menyentuh khamr? enak saja kamu kalau ngomong ya?" hardik Trias.
Ipah kembali tertawa. "Iya, iya... Ipah tahu kalau calon Abah ini orang alim lho... alim-alim bulotu." jawab Ipah kembali tertawa. (bulotu artinya perahu. kalimat alim-alim bulotu mengartikan keimanan yang sering naik-turun atau tak menentu.)
Trias menggeram marah tapi tak melakukan apapun. pemuda itu akhirnya hanya diam dan memandang keluar. Ipah merasa candanya mungkin keterlaluan kemudian mendekati Trias dan menyentuh lengannya.
"Maaf dong." kata Ipah dengan manja.
Trias hanya diam terus memandang keluar. Ipah tak kurang akal. wajahnya langsung mendekat dan mencium pipi pemuda itu membuat Trias terhenyak dan menatap gadis itu.
"Ini apaan?" tanya Trias dengan nada tinggi.
"Permintaan maaf.." jawab Ipah sambil senyum.
"Alaaa.... nggak ada maaf-maaf..." ujar Trias merajuk.
Ipah tersenyum. pemuda ini harus dirayu supaya suasana akan kembali normal.
Ipah menjadi lebih agresif. tiba-tiba dia menangkup wajah pemuda itu kemudian menyatukan bibir mereka membuat Trias makin terkejut. pemuda itu berupaya menolak namun ternyata tak bisa. ia membiarkan dulu gadis itu menyelesaikan ciumannya. akhirnya Ipah melepaskan ciumannya dan menatap wajah pemuda itu sambil tersenyum hangat.
"Kamu itu ya, dasar... " gerutu Trias. "Kamu ngapain naiki tubuhku begini? mau main kuda-kudaan ya? belom halal tau!!!"
pemuda itu mendorong Ipah kesamping sambil menggerutu. dikira nggak bangun batangku diduduki macam begitu... teleilolooo...
Ipah kembali tersenyum. "Sudah marahnya? maafin Ipah ya?"
Trias menatap Ipah lalu mendesah. "Sayang. aku memang marah tapi nggak bisa lama-lama, bukan karena ciuman itu. aku nggak butuh ciuman itu jika kau pikir itu bisa meredakan kemarahanku. aku mencintaimu. aku menyayangimu dan aku nggak mau kamu menduduki aku kayak tadi."
"Memangnya kenapa? umumnya kan lelaki itu suka duduki. " kata Ipah.
"Benar, kecuali aku!" tandas Trias, "Ipah... kamu tau aku ini duda. kau tuh perawan. jelas jam terbang kita beda. aku lebih tahu makanya aku nggak mau. kalau si Otong bangun dan minta jatahnya, gimana?!"
"Ya.... kasih saja. nggak apa-apa." jawab Ipah ngeyel dengan senyum nakalnya.
Trias hanya bisa menggeram kembali, tapi dia tak mau terjebak dalam permainan itu. []
__ADS_1