
Hakim mengangguk-angguk. penasihat hukum kembali menyambung, "Jadi jelas, insiden yang terjadi merupakan bentuk pembelaan diri terdakwa untuk melindungi suami dan keluarganya dari serangan orang-orang Tohoku itu." ujar penasihat hukum itu sejenak melihat kepada Chiyome kemudian menatap jaksa penuntut.
hakim ketua menatap Chiyome, "Saudari terdakwa. siapa pimpinan kelompok Tohoku itu?" tanya pimpinan sidang.
"Nobuo... tepatnya Yakushizi Nobuo, putra Yakushizi Kagenobu.... pimpinan dari shitei (cabang) Tohoku. semacam propinsi jika diibaratkan. Nobuo memegang wakachu Ichinoseki. dia dijodohkan oleh ayahnya secara sepihak kepadaku pada hari pertemuan antara kumicho dengan para shitei dan wakachu." tutur Chiyome.
"Teruskan." pinta hakim ketua.
"Aku menolak perjodohan itu dan mempertahankan Kenzie yang menjadi suamiku sekarang. dalam pertemuan itu Kagenobu tidak terima dan membuat keributan, menantang ayah dan kakekku yang tetap diam karena menghormati Tuan Shinobu Tsukasa yang saat itu menjabat kumicho. karena ayah dan kakekku tak terhasut, Kagenobu menghunus belati dan menyerangku. aku membunuhnya sesuai dengan hukum genyosha." jawab Chiyome kemudian menghela napas yang panjang. Hakim dengan jelas melihat kesenduan wajahnya. ada sebaris duka disana.
"Teruskan." pinta hakim dengan ngotot.
"Nobuo tidak terima. pada hari pernikahanku dengan Kenzie, dia mengumpulkan pasukannya dan memblokade jalan. iringan mobil kami sempat terkepung dan dihujani peluru. yasunori, putra ketiga Paman Ienaga berinisiatif melarikan Paman Endrawan, Trias dan Inayah... sahabat saya menyelamatkan diri. sedang Yasuyori dan Koreyuki bersama kami bertahan ditempat membalas tembakan mereka." suara Chiyome mulai terbata-bata. "Dalam insiden... itu.... Koreyuki, putra tertua Paman Ienaga.... tewas mengorbankan diri... aku tidak terima... aku balas menembaki mereka.... dan... mengejar Nobuo... hingga dia tersudut... disana aku membunuhnya..." ujar Chiyome yang tanpa sadar mengalirkan air matanya. wanita itu menunduk dan memejamkan mata lalu menangis dalam diam.
ruangan hening sejenak. Chiyome kemudian menyusut air mata dan menegakkan wajahnya kembali. "Dihari persemayaman jenazah Koreyuki, Paman Ienaga tetap bersikeras meminta keluarga kami melangsungkan resepsi pernikahan. menurutnya, kematian Koreyuki tidak boleh mempengaruhi terlaksananya pernikahan hingga sampai selesai prosesi itu. jadi.... kami tetap melanjutkan upacara pernikahan malam harinya dengan restu dari Paman Ienaga sendiri."
suasana menjadi haru. beberapa anggota keluarga Mantulangi menangis mendengar kisah menyayat dibalik insiden tersebut. Chiyome melanjutkan.
"Itulah sebabnya... saya bertekad melayani suami saya sepenuh hati.... tak lagi memikirkan nasib saya sebagai siswa.... ketika saya mengandung, dan terkena fitnah itu, saya memutuskan berhenti sekolah, memilih menjadi ibu rumah tangga dan istri yang patuh bagi suami saya. Kenzie tetap melanjutkan sekolah sampai tamat." ujar Chiyome. "Bagi saya, pengorbanan Kakak Koreyuki tidak boleh sia-sia. dia memilih mati agar saya dan Kenzie hidup. dan pengorbanannya tidak akan saya sia-siakan. itulah mengapa ketika Puspita menembak Kenzie... saya menjadi ganas, teringat dengan sumpah saya pribadi. akhirnya... sudah anda sekalian tahu sendiri..."
hakim ketua mengangguk-angguk. ia menatap hadirin. "Baik, sidang ini ditunda sampai tanggal 26 Mei 2023... dengan agenda keterangan saksi." ujar Hakim ketua mengangkat palu sidang dan mengetoknya sekali pertanda sidang dipending.
Chiyome kembali digiring keluar dan dikawal. tanpa disangka Bapu Ridhwan menyeruak mendorong dua sipir yang mengapit Chiyome hingga mereka terjungkal. suasana sempat kacau karena para petugas mengira Bapu Ridhwan hendak melakukan kekerasan. kakek itu kemudian memeluk Chiyome. kedua cucu mantu dan kakek itu menangis. setelah puas melepaskan emosinya, Bapu Ridhwan membelai kepala Chiyome.
"Bapu bangga padamu. tak percuma kamu adalah buyutnya Mamoru Minamoto. tenang saja! Bapu tidak akan biarkan mereka menyakitimu! hadapi takdir dengan senyuman ya?" nasihat Bapu Ridhwan.
Chiyome tersenyum disela tangisnya. ia mengangguk dan kembali melangkah keluar ruangan diapit oleh sipir lain. Adnan bangkit bersama Mariana. rahanganya mengeras dan matanya yang berair menatap tajam ke arah jaksa penuntut tersebut.
kau berani menyebut pernikahan mereka kecelakaan... tunggulah... kucelakai kau nanti begitu kasus ini selesai.
...******...
Kenzie mengerutkan kening ketika Aisyah menceritakan hasil sidang siang itu. wajah lelaki bercabang itu menampakkan wajah tak puas.
"Harus berapa lama lagi Wiffy mendekam di tahanan?!" ujar Kenzie menatap Bakri. "Apa hakim-hakim itu tak melihat kondisiku supaya Wiffy dibebaskan saja?!"
"Sabar dik. kita tetap melakukan langkah terbaik mengawal Chiyome. Papa sendiri kurasa telah melakukan segala upaya untuk itu. kuminta kau bersabar dan sehatkanlah fisikmu. supaya kau bisa memberikan keterangan yang bisa membebaskan Chiyome dari jeratan hukum." pinta Bakri.
Kenzie hanya menatap jendela yang terbuka dengan alis yang tetap berkerut.
...*****...
Adnan dan Mariana membawa Saburo menjenguk Chiyome ditahanan polres Kota Gorontalo. sipir menerima mereka dan mempersilahkan kedua laki-istri itu menemui menantu mereka.
Chiyome keluar dari sel dan menemui mertuanya. Saburo yang melihat ibunya langsung mengembangkan tangan minta dipeluk. Chiyome dengan tangkas meraih Saburo dalam pelukan Mariana ke pelukannya kemudian menenangkan anak itu.
Mariana menatap Chiyome dengan trenyuh. "Bagaimana kabar Adek?" tanya Mariana dengan lirih.
"Baik, Ma... makasih sudah menjenguk Adek dan membawakan Sandiaga..." jawab Chiyome dengan tabah. "Kak Ais?"
"Menemani Kenzie di rumah sakit." jawab Mariana dengan singkat.
Chiyome tersenyum lalu bermain-main dengan Saburo sejenak. Mariana mulai menangis, "Dek... Mama rindu... rumah sunyi sekali tanpa kamu..."
"Apa mau dikata Ma... saya masih disini, belum bisa menemani Mama... sidang masih akan berlanjut dengan keterangan saksi... jadi... Mama sabar ya? doakan saya bebas dan Mama bisa dengan gemas mencubit hidung saya lagi.." jawab Chiyome setengah mengolok yang justru membuat Mariana sentimentil. wanita itu tambah menangis.
__ADS_1
"Apakah Sandiaga tidak nakal Ma?..." tanya Chiyome disela ia bermain dengan anaknya.
"Ia justru merindukan kamu... itu yang membuat kami trenyuh... hukum telah dengan kejam memisahkan ibu dari anaknya, memisahkan istri dari suaminya... memisahkan kamu dari Mama dan Papa..." keluh Mariana ditengah sedu sedannya. "Hati Mama lebih sakit lagi mendengar alasanmu membunuh perempuan itu demi Kenzie.... mengapa mereka tidak membebaskanmu saja? bukankah yang kau lakukan itu sama-sama merupakan tindakan pembelaan diri?"
"Maaa..." tegur Adnan dengan pelan namun Mariana justru malah memeluk suaminya dan menangis. "Ahhh.... aku nggak sanggup menemui Fitri... apa nanti katanya? dia mungkin berpikir aku tak menjaga putrinya..."
"Okaa-San nggak sepicik itu Mama..." jawab Chiyome, "Beliau sudah tahu resiko dari putri seorang yakuza... kurasa Okaa-San nggak akan terkejut... apalagi Otoo-San."
"Apakah keluara Mochizuki memang setegar itu?" ujar Adnan dengan senyum haru.
"Bahkan jika menghadapi kematian, kami akan sangat tegar." jawab Chiyome dengan mantap.
"Jangan sebut-sebut kematian dihadapan Papa.... Papa nggak mau dengar." tegur Adnan.
"Maaf... Papa..." jawab Chiyome.
"Sudahlah... kalau begitu, kami pamit dulu. jaga diri baik-baik ya?" kata Adnan.
Mariana mengangkat sebuah bungkusan dan meletakkannya di meja."Ini Mama minta Aisyah membuatkan hidangan kesukaanmu."
"Apa ini Ma?" tanya Chiyome seraya membuka bungkusan dan seulas senyum kembali tersungging dari bibirnya. "Waaahhh.... Mama kereeeen.... Adek suka... makasih ya Ma?"
Mariana mengangguk lalu mengambil lagi Saburo dari pelukan Chiyome. "Dihabiskan ya?" pinta Mariana.
"Pasti Mama..." jawab Chiyome dengan mantap.
Mariana yang menggendong Saburo pamit disusul Adnan. Chiyome membawa bungkusan itu ke dalam sel. salah satu penghuni satu sel dengannya mendekat, melongok kedalam bungkusan itu dan menelan ludahnya.
"Kita makan sama-sama ini." kata Chiyome mengangkat bungkusan itu. ia meletakkannya di lantai dan duduk bersila dihadapan bungkusan yang terbuka itu.
wanita teman satu sel dengan Chiyome itu duduk berhadapan dan mereka menghabiskan makanan itu bersama-sama dengan lahap.
...******...
26 Mei 2023, Pengadilan Negeri Gorontalo.
ruangan dipenuhi pengunjung dan beberapa pria bertoga hitam masuk lalu berdiri didepan meja masing-masing. setelah saling mengangguk dengan hormat, mereka duduk dikursinya. hakim menatap hadirin yang memenuhi kursi pengunjung.
"Agenda sidang hari ini adalah keterangan saksi" kata hakim mengetukkan palu sekali untuk membuka sidang lalu duduk di ikuti anggota hakim yang lainnya. hakim ketua menatap panitera. "Hadirkan terdakwa dalam ruangan."
tak lama kemudian Chiyome kembali muncul diapit oleh dua sipir kemudian duduk dikursi depan hakim. hakim ketua menatap panitera. "Hadirkan saksi." pinta Hakim ketua.
dari pintu, muncul Saripah yang melangkah tenang menuju tempatnya. jaksa penuntut maju dan menatap Saripah. "Bisakah anda bersumpah."
Saripah mengangkat tangan kanan ke atas dan berucap, "Demi Allah saya bersumpah, akan mengatakan yang sebenarnya dan memberikan keterangan yang sejujurnya demi terlaksananya hasil sidang yang memuaskan."
"Terima kasih. silahkan duduk." ujar jaksa penuntut.
Saripah kemudian duduk di kursi. jaksa penuntut menatapnya. "Jelaskan kronologis kejadian di tempat perkara."
Saripah menarik napas sejenak lalu menutur, "Saat kami tiba dilokasi yang kami curigai sebagai tempat penyekapan Kenzie, kami berdua membagi tugas. saya diminta Chiyome mencari keberadaan Kenzie sedang dia sendiri membersihkan jalan agar pencarian saya berjalan dengan mudah. saya menemukan Kenzie dalam keadaan terikat. tubuhnya kurus, mungkin kurang asupan gizi. dia menanyakan siapa saya dan saya memperkenalkan diri."
"Tunggu.." sela jaksa penuntut. "Apakah kau dan Kenzie bersahabat?" tanya jaksa tersebut.
"Ya kami bersahabat." jawab Saripah dengan wajah heran, tak paham maksud jaksa mengapa menanyakan oertanyaan konyol itu.
__ADS_1
"Mengapa dia tak mengetahui bahwa itu kamu?" selidik jaksa penuntut.
"Keadaan diruangan itu gelap dan hanya diterangi oleh cahaya yang muncul dari sela-sela ventilasi bangunan." jawab Saripah.
jaksa penuntut mengangguk. "Teruskan.."
"Belum sempat saya melepaskan ikatan, Puspita tiba-tiba muncul. dia menghina dan mengancam saya agar tidak ikut campur. tapi saya sebagai pengawal pribadi Nyonya Kenzie Lasantu sekaligus sahabat mereka, berkewajiban membela harga diri dan kehormatan mereka maka kami bertarung. tapi saya kalah. hanya saja disela pertarungan saya mencuri pandang tempat Kenzie dan nyatanya kursi itu kosong. asumsi saya, pada saat kami terlibat pertarungan, Kenzie berhasil meloloskan diri." tutur Saripah lagi.
"Bagaimana cara dia meloloskan diri?" selidik jaksa penuntut.
"Saya tidak tahu. saya sibuk menangkis pukulan dan tendangan yang diarahkan Pupsita kepada saya." jawab Saripah. "Dalam keadaan terdesak, Nyonya Kenzie Lasantu muncul dan menyelamatkan saya. keduanya bertarung dan Puspita dapat ditaklukkan dengan mudah. disaat Nyonya Kenzie Lasantu berbalik melangkah ke arah saya, tiba-tiba Puspita bangkit mengarahkan pistol kearahnya. bertepatan dengan itu Pak Kenzie tiba-tiba muncul memperisai istrinya dan tertembak. Nyonya Kenzie Lasantu kemudian kembali menyerang Puspita sambil menghunus pedang dan menebas Puspita dibeberapa bagian tubuh. begitu Nyonya menyarungkan pedang, tubuh perempuan itu jatuh satu persatu ke lantai."
"Apa kau tahu jenis pistol apa yang digunakan Puspita?" selidik jaksa penuntut.
"Saya nggak tahu. saya nggak kenal jenis-jenis pistol. tapi menurut Nyonya, itu pistol milik suaminya." jawab Saripah.
jaksa menatap hakim. "Cukup sekian yang mulia."
hakim memandang hadirin. "Keterangan saksi berikutnya adalah saksi ahli yaitu Bapak Kenzie Lasantu sendiri. kami akan melakukan konferensi jarak jauh via zoom."
panitera mengaktifkan aplikasi tersebut dan mulai menghubungi Kenzie. tak lama kemudian dilayar muncul Kenzie Lasantu yang sementara di apit oleh Aisyah dan Bakri.
"Assalamualaikum, Pak Kenzie." sapa Hakim ketua.
"Wa alaikum salam." jawab Kenzie.
"Pak... bisa bapak ceritakan diri bapak pada saat penculikan itu?" selidik jaksa penasaran.
"Saya pergi ke rumah Puspita, memaksanya untuk mengakui kejahatan yang dia lakukan." jawab Kenzie.
"Kejahatan apa?" tanya jaksa.
"Memasukkan sejenis virus ke data keamanan Buana Asparaga.Tbk yang menyebabkan ketidak stabilan neraca dan turunnya poin stok opsi perusahaan saya nyaris ke titik nadir." jawab Kenzie dengan wajah kesal. "Untungnya saya menghubungi tangan ketiga saya hingga dia berhasil mendeteksi dan memblokir kerja virus itu. tangan ketiga perusahaan memberitahu bahwa virus itu dimasukkan dengan menggunakan IP palsu. tapi ia berhasil membongkarnya dan terbukti IP yang digunakan adalah IP atas nama Puspita Kusmaratih." tutur Kenzie lagi masih dengan wajah kesal.
"Tapi apakah anda yakin dia yang menyelundupkan birus itu dalam security base data Buana Asparaga.Tbk?" selidik jaksa.
"Ya... saya sudah mengkonfirmasinya saat itu. dia mengaky dan bekerja sama dengan Stefan Waworondouw... lelaki mantan suami kakak saya yang terjerat kasus KDRT dan sampai saat ini masih buron." jawab Kenzie.
"Teruskan..." pinta jaksa.
"Puspita balik mengancam saya dengan pameran kekuatan. ia mengepung saya dengan centeng bayarannya yang menodongkan senjata api. saya ikut menodongkan revolver smith & Wesson 617 milik saya ke wajahnya untuk mengancamnya menghindari konflik." ujar Kenzie.
"Teruskan..." pinta jaksa.
"Salah satu anak buahnya berhasil melumpuhkan saya. saya kemudian dibawa ke bangunan itu, disekap dan Puspita memperkosa saya berkali-kali selama sebulan sampai akhirnya saya ditemukan oleh Saripah, sahabat saya." jawab Kenzie lagi.
"Diperkosa? anda diperkosa?" tanya jaksa dengan takjub.
"Anda meragukan saya, pak?" tantang Kenzie dengan berang. "Anda tahu bagaimana rasanya diperkosa? anda ingin diperkosa?!"
"Keberatan Yang Mulia! saksi menghina pribadi saya." seru jaksa.
"Keberatan Yang Mulia! jaksa terkesan melecehkan saksi dengan pertanyaannya sehingga saksi yang masih dalam kondisi paska trauma terhasut berkata kasar!" sela penasihat hukum.
"Keberatan penasihat hukum diterima! saudara jaksa, mohon jangan mengajukan pertanyaan yang mengarah kepada pelecehan." pinta hakim.
__ADS_1
jaksa penuntut hanya bisa menatap penasihat hukum dengan wajah berang karena ditegur hakim dalam persidangan itu.[]