Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 196


__ADS_3

Sarang Narkoba, Kasia-Tumolata, Pukul 04 Dini hari.


helikopter yang membawa AKP. Ekoriyadi Siregar melayangi dirgantara subuh menuju ke arah barat-barat laut, 25° dari posisi aslinya. capung besi jenis B 429 Global Rangers itu melesat membelah udara, berangkat dari hanggar, dan sekarang telah menyusuri hutan berdasarkan titik koordinat yang diketikkan Trias melalui pesan singkat.


tak lama, kendaraan taktis udara itu menemukan lokasi tersebut. Bambang melambaikan tangan. sayangnya, heli tak bisa mendarat, sebab posisi dataran itu sempit dan dipenuhi benteng-benteng karung pasir. Ekoriyadi mengambil megaphone loudspeaker dan mengarahkannya ke kerumunan Tim Pasopati yang melindungi Koko. Ekoriyadi mengisyaratkan Bambang agar menggunakan handphone untuk bicara dengannya.


📢 "Status?!" seru Ekoriyadi sambil menempelkan ujung earphone ke telinganya.


📲 "Koko terluka, tapi tidak vital. hanya memerlukan tranfusi darah saja! barang bukti 30 kardus berisi sabu-sabu, segera di evakuasi!" jawab Bambang.


📢 "Baik! akan kuturunkan tandu dan tambang!" sahut Ekoriyadi.


tak lama kemudian dari heli yang melayang, turunlah tandu dan tambang. dengan sigap, Bambang dan Aldi memindahkan Koko dan membaringkannya di tandu tersebut, kemudian memasang pengikatnya. sedangkan Andy dan Stephen mengumpulkan 30 kardus berisi narkoba itu kemudian mengikatnya dengan tambang.


Bambang menatap Tiko. "Bray, kawal Koko ke rumah sakit. kutitipkan dia padamu!"


Tiko mengangguk dan Bambang menatap lagi ke atas lalu melambaikan tangan. dua orang polisi udara bergegas menarik tali tandu hingga tiba diatas dan dimasukkan dalam helikopter. setelah itu, mereka menarik tambang yang mengikat barang bukti tersebut. adapun Tiko, berpegangan pada tambang itu, ditarik bersamaan menuju helikopter.


tak lama kemudian, Ekoriyadi meluncur turun menggunakan tali. ia mendarat dengan apik, setelah itu melambaikan tangan ke arah helikopter. capung besi itu kemudian mengangkasa lagi dan bergerak menuju tenggara.


Ekoriyadi menatap Bambang. "Mana Trias?!"


"Bersama Pak Kenzie mencari keberadaan istrinya." jawab Bambang.


"Istri Pak Kenzie, ngapain ada disini?!" tanya lelaki berpangkat Ajun Komisaris Polisi itu.


Bambang menceritakan segalanya berdasarkan keterangan yang disampaikan Trias tentang jati diri Chiyome Mochizuki. Ekoriyadi Siregar sendiri menutup mulutnya dengan tangan, mendengar cerita itu. baginya, kisah perburuan Chiyome terhadap Stefan lebih mirip kisah-kisah dalam film saja.


"Jadi begitu, Bos." ujar Bambang mengakhiri ceritanya.


"Kimbek!!! cepat kita susul, anak tak berotak cerdas itu! Bah! bisa runyam aku, ditendang Pak Kapolres gara-gara ini!" ajak Ekoriyadi. lelaki itu mencari-cari senjata dan menemukan salah satu senapan M240 yang kebetulan tergeletak diatas benteng karung pasir.


lelaki itu menatap anak buahnya. "Sebelum pergi, bakar semua bangunan ini! semua senjata yang tersisa, kubur dalam satu lubang. laksanakan!"


"Siap!!!" seru keempat anggota tim Pasopati dengan sigap.


Stephen menyimpan pistolnya kemudian mengambil pula senapan M240. hal itu dilakukan pula oleh Bambang. setelah itu keduanya membuat liang untuk menguburkan senjata-senjata api. Stephen berinisiatif melucuti semua magazine senapan itu setelah memeriksa isinya.


"Sebagai cadangan amunisi." jawabnya enteng saat ditanya Bambang.


Ekoriyadi mengawasi Aldi dan Andy yang sibuk menyulut api membakari bangunan-bangunan, ketika Bambang mendekatinya.


"Komandan." panggil Bambang.


Ekoriyadi menoleh. "Ada apa?!"


"Bukankah senjata-senjata ini bisa juga digunakan sebagai barang bukti?" ujar Bambang.


Ekoriyadi terhenyak dan langsung memukul jidatnya. "Alamak! betul pula usulan kau tu! tak terpikirkan di kepala otakku." umpat Ekoriyadi pada dirinya sendiri. lelaki itu kemudian menatap Stephen. "Phen, taruh saja senjata-senjata itu dilobang tapi jangan dikubur. timpakan saja beberapa karung pasir untuk menyamarkannya. nanti setelah misi selesai, kita kembali untuk membawa senjata-senjata itu sebagai barang bukti. paham?!"


Stephen mengangguk. "Paham, Bos!" jawabnya.


"Bambang! bantu dia!" perintah Ekoriyadi.


"Siap, Bos!" jawab Bambang kemudian kembali membantu Stephen memasukkan semua senjata peninggalan para penjahat itu kedalam lobang lalu memindahkan beberapa karung pasir, sekedar menyembunyikan benda-benda itu.


bangunan-bangunan sudah dibakar oleh Aldi dan Andy. keduanya berlari mendapati Ekoriyadi. lelaki itu langsung mengokang senapan dalam genggamannya.

__ADS_1


"Ayo kita cari Trias!" ujarnya dengan semangat.


...*****...


Hutan kasia- pukul 04.28


hutan yang tadinya sunyi senyap, diributkan dengan bunyi benturan logam, parang yang digenggam Trias dengan aliyawo milik Bubu. mereka bertarung mengandalkan dria perasa pada permukaan kulit, sebab keadaan disekitar mereka sangat gelap dan rembulan sudah sejak tadi menyingkir. keduanya mempertajam rasa sensitif dipermukaan kulit untuk mendeteksi keberadaan lawan.


bagaimanapun teknik ini sifatnya adil. ketika seorang petarung berupaya menyembunyikan aura yang melingkupinya, maka otomatis pula, dria sensitivitas pada permukaan kulit akan melemah dan akibatnya, petarung itu tidak akan bisa mendeteksi keberadaan lawan jika bertarung dalam kegelapan.


berkali-kali terdengar dentingan logam beradu. Bubu selalu merasa semangat ketika beradu tenaga dengan petarung baru yang memiliki kompetensi hebat. selama ini, Bubu sudah memiliki jam terbang pertarungan lebih lama dari para petarung seusianya.


awalnya, yang bisa menandingi kehebatan Bubu dalam olah tarung adalah mendiang Ateni yang merajai tambang emas Suwawa. ketika Ateni tewas dalam pengeroyokan tak seimbang itu, maka yang merajai jagad petarung Gorontalo adalah Bubu. kemudian ia mendapati petarung yang kemampuannya nyaris mencapai kehebatan Ateni. orang itu adalah Endrawan, preman pasar sentral yang diakui kekuasaannya dikawasan tengah Kota Gorontalo.


pertarungannya menghadapi Endrawan terjadi saat konflik Biawu saat anak buah Endrawan bentrok dengan anak buah Bubu saat memperebutkan wilayah bagian pasar tua. pertempuran itu begitu alot sampai mengundang pihak kepolisian yang membubarkan dengan paksa gerombolan dari dua pihak dan menangkapi mereka.


entah apa yang membuat Endrawan mengundurkan diri dari kelompoknya dan memilih menjalani bisnis halal usaha daging potong, meskipun ia masih tetap menjalin silaturahim dengan teman-temannya sebaya preman pasar sentral. dari berita yang didengarnya, Endi-sapaan Endrawan, menjalin persahabatan dengan putra dari Kapolresta Gorontalo saat itu dan sejak itu ia menarik diri dari pergaulan bawah tanah, menyerahkannya kepada kepercayaannya. sebagian kawanannya akhirnya ikut pula meninggalkan jalan itu. hingga saat ini, tak ada lagi yang menandingi kemampuan Bubu dalam olah tarung.


dan kini ia berhadapan dengan putra sang mantan preman, justru lelaki itu kini memilih jalan sebagai penegak hukum. dan kemampuannya setara dengan Endrawan. kakek itu merasakan semangat masa mudanya bangkit kembali.


TRANGGGG!!!


terjadi lagi bentrokan tenaga dalam yang dialiri kedalam senjata yang sama-sama dibenturkan. Trias meringis kesal merasai tangannya kesemutan. akibat bentrokan tenaga dalam menimbulkan daya dorong yang membuat keduanya terpental sejauh dua meter.


Trias beruntung menjejakkan kedua kakinya dengan kokoh. ia menatap kearah Bubu yang tersamar sosoknya dalam balutan kegelapan subuh itu. namun, tanpa meningkatkan sensitivitas pada auranya, sosok itu sudah bisa dilihatnya, sebab subuh mulai beranjak pagi. mungkin fajar sudah mulai memanjati lazuardi di ufuk timur.


Bubu mengatur napasnya. bagaimanapun, usia yang sudah uzur membuat kekuatannya sedikit melemah. kakek itu selalu meremajakan kekuatannya dengan melakukan banyak meditasi dan melatih terus kecakapan tangan dan kakinya. namun, pertarungan ini banyak menguras tenaganya sebab tenaga muda Trias sedikit banyak membuatnya terdesak.


Bubu bicara dalam bahasa isyarat, "Aku salut padamu. terimalah hormatku."


Bubu ikut memperhatikan bilahan aliyawo miliknya. kakek itu menghela napas dan menatap Trias, menyahutinya debgan bahasa isyarat. "Sama... senjataku juga mengalami... karies.." sejenak alis kakek itu kemudian menaut. "Tunggu... karies itu apa sih?" tanya Bubu dalam bahasa isyarat.


Trias tertawa sejenak menyadari keluguan dan kepolosan kakek dihadapannya. ia menjawab dengan bahasa isyarat. "Apa kau tak pernah mendengarnya?"


Bubu menggeleng dengan jujur. Trias kembali tertawa. ia menjelaskan dengan bahasa isyarat lagi.


"Karies itu istilah dalam ilmu kedokteran, merujuk pada gigi yang berlubang dan rompal..." jawab Trias dalam bahasa isyarat kemudian menatap lagi sabele dalam genggamannya. kali ini ia bicara secara oral. "Senjata ini sudah tak bisa digunakan." keluhnya kemudian membuang parang itu ke kumpulan semak-semak tinggi kemudian menatap Bubu. "Majulah Bubu. aku akan menghadapi kamu meski tanpa senjata!" tantang lelaki itu kemudian memggunakan salah satu kembangan dalam olah tarung langga.


Bubu tersenyum dan bicara dalam bahasa isyarat. "Melihat kehebatan dan kompetensimu... akan terasa tidak adil jika aku menghadapimu yang tanpa senjata... itu merupakan hinaan bagiku." kakek itu kemudian menyarungkan aliyawo miliknya. ia kemudian menatapi Trias. "Sekarang posisi kita sama. tak bersenjata. mari kita lanjutkan pertarungan." ajaknya kemudian membuat kembangan dalam olah tarung langga linula Tapa.


Trias terkekeh. "Kurasa, aku sepatutnya bangga terhadapmu yang menjunjung kesopanan dalam olah tarung." lelaki itu kemudian memasang sikap tarung lagi lebih waspada. tatapannya terhujam kearah Bubu. "Mari! datangilah aku, Kakek!!!" ajaknya menantang.


diiringi pekikan keras, Bubu maju melayangkan pukulannya. Trias maju pula menyambutnya. maka terjadilah pameran kecakapan olah tarung untuk menentukan siapa yang lebih berkompeten dalam pertarungan langga diantara kedua orang itu.


...******...


Stefan terus berlari diikuti oleh kelima betinanya. ternyata, keenam orang itu menyusuri aliran sungai dangkal berbatu yang menuju kearah hilir. lelaki itu mengajak kelima pengawalnya itu menyusuri pinggiran sungai tersebut. hari sudah mulai terang.


namun langkahnya terhenti ketika beberapa meter dihadapan mereka telah berdiri Chiyome yang telah menghunus Si Penebas Angin. tatapannya tajam menghujam. Stefan menggeram marah.


"Berbalik!!!" serunya kepada kelima perempuannya.


keenamnya hendak berbalik ketika melihat Kenzie muncul beberapa jarak dibelakang mereka. keenam orang itu terperangkap. Stefan melihat sungai dangkal. ia berseru. "Seberangi sungai!!!"


keenam orang itu memberanikan diri menyeberangi sungai memanfaatkan bebatuan yang timbul-tenggelam diantara arus deras sungai. Kenzie dan Chiyome juga tak membiarkan target mereka lolos begitu saja.


Chiyome, mengandalkan kecakapan ninjutsu, melompati bebatuan dengan tangkas dan berdiri dengan waspada diseberang sungai. tatapannya yang tajam menyoroti Stefan dan kawanannya.

__ADS_1


sementara diseberang sungai satunya Kenzie berdiri santai dengan moncong pistol yang diarahkan ke kawanan tersebut. ia menarik pelatuk senjata itu.


DOR! DOR! DOR! DOR!


empat kali senjata itu menyalak dan empat tubuh wanita jatuh ke sungai dan terkapar tak bernyawa. dua jasad dihanyutkan oleh arus sungai yang deras sedangkan dua lainnya tersangkut dibebatuan. kini tinggal Stefan dan seorang wanita lagi.


"Menyerahlah Stefan! kuberikan kau pengampunan dengan kematian yang cepat jika kau menyerah!" seru Kenzie mengajukan ultimatumnya. "Jika tidak, jangan salahkan istriku jika dia menghinakan jasadmu!"


Stefan, meskipun nyawanya diujung tanduk, masih juga mengumandangkan tawa lepasnya.


"Kenzie!!! apa kau pikir ancamanmu itu berfungsi padaku?! jangan mengkhayal!" Stefan kembali tertawa. "Akan kubungkam kau agar menyusul Kakakmu ke neraka!"


tiba-tiba lelaki itu melesat ke udara. Kenzie menatapnya dan mengarahkan pistolnya kearah Kenzie yang melayang di udara.


"Matilah!!!" seru Kenzie dengan pelan dan menarik pelatuk pistol.


CEKLEK!!! CEKLEK!!!


Kenzie terkejut ketika mendapati senjatanya kosong, lalu membuangnya. lelaki bercambang itu mengambil pistol kecil dari holster diketiak, dan mengarahkan moncongnya kepada Stefan.


DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!


Kenzie menembak beberapa kali, namun kelihatannya peluru itu tak mengenai targetnya. sementara Stefan bersalto sejenak lalu menukik mengarahkan tendangannya ke arah Kenzie.


"Patelooo!!!" umpat Kenzie seraya membuang pula pistol kecilnya. dengan pameran kekuatan, ia menghimpun prana dari pusar menuju ke seluruh tubuhnya. lelaki bercambang itu menyilangkan kedua lengannya.


BUAGH!!!!


HIHHH!!!


UHMMM....


tendangan yang ditumbukkan Stefan mengenai tepat silangan pergelangan tangan Kenzie. daya dorong tendangan berbenturan dengan pijakan kaki Kenzie yanf menjejak kuat tanah berbatu itu dengan tegar bagai karang.


Stefan terpental namun lekas bersalto kembali dan menjejak tanah, tak ingin memberi kesempatan bagi Kenzie untuk mengumpulkan prana murni. ia maju merangsek dengan memutarkan tubuhnya melayangkan tendangan memutar, mengincar kepala lelaki bercambang itu.


Kenzie dengan sigap menyilangkan lengannya tegak disisi kepala hingga tendangan Stefan hanya mengenai lengan tersebut. Kenzie tak menyia-nyiakan kesempatan. tangan kirinya mengayun, menebas lutut lelaki itu membuat Stefan merasakan kebas pada sepanjang tungkai kakinya itu.


Kenzie langsung memutar tubuhnya dan menyarangkan tendangan belakang yang tepat menghantam tubuh Stefan. lelaki itu terjungkal, namun cepat bangkit hingga Kenzie terpaksa kembali memperkuat sikap bertarungnya.


sementara dibatang aliran sungai, wanita pengawal terakhir langsung berlari ke arah Chiyome dan menerjang wanita bertopeng itu. Chiyome dengan sigap membentuk sikap jodan no kamae dan menebaskan Si penebas Angin dengan teknik tebasan atas kebawah. wanita itu dengan sigap berkoprol hingga pedang milik Chiyome nyaris dengan jarak sesenti saja. setelah berkoprol, wanita itu bersalto dan menjejak tanah berbatu dengan pijakan bagus.


wanita berpakaian safari hutan berwarna khaki itu dengan sigap mencabut belatinya. Chiyome menatap belati milik lawannya. itu jenis jagkomando. jenis belati yang sangat dilarang penggunaannya dalam peperangan. penggunanya bisa dihukumi penjahat perang jika menyandang jagkomando.


Chiyome langsung menyarungkan Si Penebas Angin dan menghunus kunai. senjata khusus itu juga mirip dengan jagkomando.


"Chiyome Mochizuki, Klan Koga dari Shiga!" ujar Chiyome memperkenalkan diri layaknya pertarungan resmi.


wanita itu paham, maka iapun menyahut layaknya adat seni kuno, yaitu memperkenalkan nama.


"Sonia Barren Rotcshild, Klan Tameng Merah." jawab wanita itu kemudian menyilangkan belatinya ke depan wajah dan memasang sikap tempur.


"Kutagih nyawamu!" seru Sonia.


"Ambil jika kau bisa." balas Chiyome.


keduanya maju mengayunkan senjata dengan incaran titik vital paling mematikan. []

__ADS_1


__ADS_2