
lima tahun telah berlalu, membawa perubahan yang signifikan bagi keluarga Buana Asparaga.Tbk yang makin lama makin bersinar. proyek-proyek tender pemerintah kota dan propinsi banyak digondol berkat kepiawaian Kenzie memberikan kesan baik pada proses tender sehingga pemerintah mempercayakan Buana Asparaga.Tbk menjadi pengelola tender negara.
Kenzie mewarisi secara otodidak bakat Adnan dalam mengatur perusahaan itu. Buana Asparaga.Tbk dibawah kepemimpinan Kenzie berubah menjadi perusahaan transnasional yang menangani Ekstraktif, niaga, industri dan jasa. semuanya tak lepas dari peran Bakri Muchsin sebagai pimpinan Operasional perusahaan dan Dewinta Basumbul, sekretaris berlidah emas yang mampu menundukkan lawan dalam setiap debat dan negosisasi. ketiganya adalah Trio Dynamic Buana Asparaga.
...******...
Chiyome uring-uringan melihat kebadungan Sandiaga. anak itu semakin besar, semakin nampak kenakalannya disamping kreatifitas pemikiran yang menyertainya. namun anehnya, Adnan dan Mariana malah semakin sayang kepada cucu lelakinya itu, ditambah Aisyah dan Bakri benar-benar menumpahkan kasih sayang laiknya seorang ibu dan ayah membuat Sandiaga benar-benar seperti seorang pangeran dalam lingkar dalam keluarga Lasantu.
hal ini tentu menerbitkan rasa tak suka dibenak Chiyome. oa yang dididik sangat keras oleh Kameie dan Ienaga merasa bentuk kasih sayang yang diberikan oleh dua pasangan itu dinilai sudah keterlaluan. ini sangat berdampak tidak baik bagi mentalitas anak bangsa.
Sandiaga sudah tiba waktunya mengenyam pendidikan dini. ia didaftarkan pada TK. Al-Khairaat yang berada dalam lingkupan pesantren yang dimotori yayasan Al-Khairaat Kota Gorontalo. Kenzie juga termasuk salah satu donatur aktif di pesantren tersebut, selain ia merupakan donatur aktif pada badan-badan sosial semacam panti asuhan dan panti wreda di Kota Gorontalo. itu sudah menjadi tradisi keluarga Lasantu. menyisihkan keuntungan perusahaan sebanyak 10% untuk amal sosial.
Sandiaga duduk dan didepannya tergelar meja pendek dengan sebuah buku panduan cara membaca untuk PAUD dan TK. disisinya Chiyome, menggenggam sebuah gantungan baju mempraktekkan pengajaran kepada anaknya. beberapa jarak dari sana nampak Bakri yang tersenyum-senyum melihat putra kesayangannya diajari oleh ibu kandungnya. sedangkan Aisyah hanya bisa memandang dengan cemas karena tahu bagaimana cara adik serahimnya itu mengajari Sandiaga.
"Untuk bisa belajar baik di sekolah, Mama akan mengajar kamu." ujar Chiyome sesekali memukulkan gantungan baju itu disisi meja. "Sudah siap?"
Sandiaga hanya bisa mengangguk takut. Chiyome mengangguk-angguk, "Bagus, kita belajar membaca." ujarnya kemudian membuka buku panduan tersebut dan meletakkannya didepan Sandiaga.
"Nah... ayo baca..." perintah Chiyome. "M-A..."
Sandiaga tidak merespon, justru menatap Aisyah. "Bunda... minta air..."
sontak Chiyome langsung garuk-garuk kepala dengan gemas. "Sa anata o nomi nasai... isoide anata o nomi nasai..." ujarnya dengan gemas. (ya, sudah. minumlah kau. cepatlah kau minum.)
Aisyah memberikan segelas minuman mineral kepada Sandiaga yang langsung dihabiskannya seperti orang menegak sake. Chiyome kembali memukul-mukul meja.
"Isoide... itai kuso..." keluhnya dengan geram. (cepatlah... duuuh...)
Sandiaga meletakkan gelas plastik yang kosong. Chiyome kembali memulai pelajarannya. "Nah, membaca lagi..."
Sandiaga mengangguk-angguk dan memegang pinggiran buku.
"M-A..." eja Chiyome lagi.
Sandiaga menatap Aisyah lagi. "Bunda... minta bakwan.." pinta anak itu menunjuk piring penuh bakwan yang digenggam Bakri. hal ini kembali membuat Chiyome sontak garuk-garuk kepala lagi. rambut shaggy miliknya sudah mulai berantakan.
"Astaghfirullah...." geram Chiyome.
akhirnya dengan jengkel, Chiyome merampas piring dalam genggaman Bakri dan meletakkan piring itu didepan Sandiaga.
"Koko de tabete! anata o tabete..." perintah Chiyome mulai mencak-mencak. (Nih makan. ayo makan!) ibu muda itu mulai lagi memukul-mukul penggantung pakaian pada sisi meja, ditatapi oleh Bakri dan Aisyah dengan tatapan geli.
Sandiaga mencomot satu bakwan dan mencicipinya. sekali gigitan saja dan mengembalikannya ke piring membuat Chiyome menggeram lagi.
"E to, mo hoshikunai. anata no riyu wa totemo takusan arimasu..." omel Chiyome mengembalikan piring itu kepada Bakri yang tanpa sadar tertawa pelan. Chiyome memelototinya membuat Bakri terdiam. (Eh, sudah nggak mau lagi. banyak benar alasanmu.)
Sandiaga disuruh lagi membaca. Chiyome mengejanya. "M-A..."
Sandiaga kali ini menatap ibunya. "Ma... ada salak nggak?" tanya anak itu kontan membuat Chiyome garuk-garuk kepala lagi.
"Nani ga hoshi no???" erang Chiyome dengan geram. dengan jengkel ibu muda itu kembali memukul-mukul gantungan baju di meja. "Eh, cepat baca. tatap disini matamu!" hardik Chiyome menunjuk-nunjuk buku panduan. (apa lagi maumu?)
Sandiaga menatap buku itu dengan takut-takut. Chiyome kembali mengeja. "M-A...."
"Ma..." jawab Sandiaga.
"M-A..." eja Chiyome lagi.
tak ada respon dari Sandiaga kembali membuat Chiyome garuk-garuk kepala.
"Astaghfirullah... nggak pernah kau belajar di sekolahmu?" tanya Chiyome dengan berang. Sandiaga hanya menatapnya saja. dengan mengencangkan rahangnya Chiyome kembali menunjuk buku panduan itu. "Baca baik-baik!"
Chiyome mengeja lagi. "M-A.."
"Ma.." jawab Sandiaga dengan takut-takut.
"M-A..." eja Chiyome sekali lagi.
"Maaa..." jawab Sandiaga dengan pelan.
"Bacanya?" pancing Chiyome.
Sandiaga menatap ibu kandungnya. "Oma..." jawabnya.
sontak Chiyome langsung bergulingan jengkel dilantai. "Aduh kasihan, Ya Allah..." Sandiaga hanya memandang saja kelakuan ibunya sedang Bakri dan Aisyah tertawa. Chiyome bangkit lagi dan menunjuk-nunjuk buku panduan. suaranya seperti hendak menangis. "Ini Mama... heeh.. Mama.." ujarnya menunjuk-nunjuk tulisan pada buku panduan. kemudian menunjuk dirinya sendiri.
"Ma... ini M-A-M-A... ini heh, Ma...ma..." erangnya berkali-kali menunjuk tulisan pada buku itu dan menunjuk dirinya sendiri. kemudian ia menggeram lagi menahan kemarahan.
secara tidak langsung, teknik Karasu Tengu no Gurrea teraktifkan menyebabkan tatapannya memiliki aura menjatuhkan mental, membuat Sandiaga menunduk takut.
__ADS_1
"Ulangi nak? ulangi..." ujarnya dengan geram.
Sandiaga menatap ibunya lalu menunduk lagi. Chiyome menatap putranya. "Kamu biasa dipukul gurumu di sekolah?"
Sandiaga menggeleng. Chiyome mengangguk. "Berarti sekarang kau dapat guru baru!"
Chiyome kembali mengajari Sandiaga mengeja dan berkali-kali pula dia dijahili putranya sendiri. Sandiaga sebenarnya sudah menguasai pengejaan sederhana semacam itu. hanya saja ia malas jika harus mengulang lagi. jadinya anak itu sering menjahili ibunya sendiri membuat Choyome berkali-kali menggaruk kepala dengan kasar.
"Bisa atau tidak kau mengeja?" hardik Chiyome.
Sandiaga kembali hanya menatapnya. Chiyome mengatur napasnya sejenak meredakan emosinya. akhir-akhir ini Sandiaga selalu menerbitkan kemarahannya.
"Jangan salah-salah lagi ya?" pinta Chiyome membuat Sandiaga mengangguk patuh. "Sekali lagi kau salah... watashi wa anata o hirateuchi shita." ancamnya mengarahkan ujung gantungan baju ke wajah putranya. (kutampar kau.)
"Baca baik-baik!" tegas Chiyome.
Sandiaga mengangguk pelan. Chiyome mulai lagi mengeja. "M-A???"
"Maa..." jawab Sandiaga.
"Ma! ingat itu! tanamkan di otakmu itu, Ma..." tandas Chiyome lagi menjnjuk-nunjuk kepala putranya. Sandiaga hanya bisa mengangguk saja. Chiyome kembali mengeja, "M-A????"
"Maaa..." jawab Sandiaga.
"Bacanya?" pancing Chiyome kemudian mencondongkan tubuhnya kearah Sandiaga.
dengan senyum nakal, Sandiaga menjawab. "OMAAA"
Chiyome hilang akalnya. langsung diseretnya Sandiaga. "Huh, cepat sekali kau bilang ya? cepat sekolah kau... sekolah kau cepat." omel Chiyome.
Aisyah buru-buru bangkit dan langsung melepaskan cekalan Chiyome pada Sandiaga. Chiyome menatap kakak serahimnya dengan wajah keruh.
"Dek, jangan ditarik begitu tangannya, kasihan." tegur Aisyah.
"Dia nakal, kurang ajar! dia harus diajar!" seru Chiyome
"Ya, tapi bukan begitu caranya." bantah Aisyah.
sedang asyik-asyiknya keduanya berdebat. Sandiaga duduk lagi didepan meja, membuka buku panduan membaca tersebut dan membaca dengan keras.
"M-A-M-A..... P-A-P-A.... K-A-K-A-K.... A-D-I-K... MAMA... PAPA...KAKAK.... ADIK... MAMA... PERGI... KE... TOKO... PAPA... PERGI... KE... LADANG... KAKAK.... MEMBAWA... KERANJANG... " setelah membaca Sandiaga mendongak menatap Chiyome yang melongo. "Sudah Mama... Sandi sudah membaca."
Sandiaga mengangguk sambil terus mengunyah bakwan. Chiyome mendatangi putranya yang asyik mengunyah bakwan bersama Bakri.
"Sandi kenapa jahil sama Mama? hah?" tanya Chiyome menjadi lembut.
Sandiaga menatap lama kepada ibunya lalu kembali mengunyah bakwan tanpa perduli. "Mama kalau marah, kelihatan lucu."
Aisyah terkikik bersama Bakri yang tertawa sedang Chiyome tersedak dikatai putranya sendiri. menenangkan batuknya, Chiyome menatapi putranya. "Kan Sandi bisa saja langsung membaca, nggak usah lebay deh."
"Tadi Sandi dapat nilai seratus di sekolah..." ujar Sandi.
sontak wajah Chiyome langsung cerah dan senyumnya terkembang. "Anak pintar..." pujinya.
Sandiaga mengangguk-angguk. Bakri tersenyum. "Dapat nilai seratus?" pancing Bakri.
"Iya Abi..." jawab Sandiaga kemudian menerawang, "Berhitung dapat 40... mengeja dapat 30 dan menulis dapat 30..." jawab Sandiaga sekenanya.
Sontak Bakri dan Aisyah tertawa sedang Chiyome langsung memperlihatkan wajah keruh. "Menulis dapat 30? memangnya apa yang kau tulis disekolah?"
Sandiaga dengan enteng mengangkat bahu dan menjebikan bibirnya. "Nggak tahu... Sandi kan belum pandai mengeja." jawabnya polos semakin membuat Bakri dan Aisyah tertawa.
Chiyome menggeram dan mengulurkan tangannya hendak mencubit Sandiaga, namun anak itu langsung diraih oleh Aisyah yang memeluk dan menggendongnya kemudian menatap Chiyome dengan pelototan mata.
"Mau apa kamu? mau nyubit Sandi? mau kamu kulaporkan Kenzie kalau kau menyakitinya?" ancam Aisyah.
"Kok Kakak begitu sih? kalian semua terlalu memanjakannya! pendidikanku tak sekalipun berbekas padanya! semua gara-gara kalian!" seru Chiyome dengan kesal.
Bakri bangkit. "Chiyo, apa kau ingin putramu nanti berwatak kasar? masa anak sekecil begini dibentak-bentak? nanti di trauma dan terbawa setelah besar, apa kamu mau ketika besarnya giliran dia yang membentakmu?"
Chiyome menatap keduanya lalu mendengus. "Heh, kalian selalu saja punya alasan untuk melegalkan perbuatan Saburo!" setelah itu Chiyome berbalik dan meninggalkan ruangan itu dengan langkah kesal.
Bakri menatap Sandiaga dalam gendongan Aisyah. "Sandi, lain kali jangan bikin Mama marah ya? kasihan. apa Sandi nggak kasihan sama Mama?" tegur Bakri dengan lembut.
Sandiaga menunduk. Aisyah tersenyum. "Sandi kan anak pintar. nanti, jangan bikin Mama marah ya. nanti berdosa sama Mama. Sandi mau dapat dosa?"
Sandiaga menggeleng. Aisyah tersenyum lagi. "Anaknya Umi, pintar ya?"
Bakri mendekat dan menyapu kepala anak lelaki itu. "Semoga kamu menjadi penjaga keluarga ini, nak."
__ADS_1
...********...
Kenzie tertawa mendengar curahan hati istrinya. karena kesal, atas kelakuan Saburo dan pembelaan Aisyah dan Bakri terhadap anak itu, Chiyome memilih menenangkan diri dengan mengendarai angkot dengan tujuan kantor Buana Asparaga.Tbk.
"Anak itu sudah pandai menjahili Mamanya ya?" gumam Kenzie sambil mengurut dagunya dan tersenyum. sementara Chiyome hanya duduk dengan wajah keruh sambil menyilangkan kaki jenjangnya.
Kenzie bangkit lalu melangkah ke sofa, duduk disisi istrinya. "Nanti aku nasihati Saburo. Wiffy nggak usah senewen begitu. nakal-nakalnya dia, dia adalah putra kita."
Kenzie mengusap pipi Chiyome yang menunduk sambil memain-mainkan jemarinya. Kenzie mengamati wajah istrinya yang masih terlihat jutek.
"Wiffy..." panggil Kenzie.
Chiyome menegakkan wajah dan menatap suaminya. Kenzie menatapnya dengan tatapan teduh.
"I love you..." ujar Kenzie dengan lembut.
akhirnya perlahan wajah jutek itu mengendur berganti senyum yang makin lama makin lebar menampakkan seringai ginsul yang selalu dirindukan Kenzie.
seringai cinta....
Kenzie merapatkan wajahnya dan makin mendekat. akhirnya kedua bibir itu bersatu saling mengecup dengan lembut. makin lama makin intens, makin panas, makin bergairah...
...******...
Trias dan Bambang sedang asyik mengendarai Suzuki SX4 S Cross biru menyusuri perkampungan Biau. Bambang baru saja membayar DP mobil itu dan mengeluarkannya dari showroom. dengan senang ia mengemudikan kendaraan tersebut. sedang asyik menyetir, Bambang menerima panggilan dari istrinya. lelaki berkulit gelap dan gembul itu langsung tanggap menjawab.
📱"Ya, kenapa sayang?" tanya Bambang.
📱"Eh, ngana so ba kredit oto?" tanya Maya Rolot, istrinya yang dinikahinya dua tahun yang lalu di Pencatatan Sipil.
📱"Eh iyo no. for kita pe wibawa supaya orang dikantor lia kita itu bagaya pool... kan ngana mopake-pake olo ini oto mokaluar kamana-mana.." jawab Bambang.
📱"eh kita skarang minta doi pangana Bambang..." ujar istrinya.
📱"eh, pagi-pagi so baminta doi... ngana mo bekeng akan apa poli itu?" tanya Bambang dengan kesal, sedang Trias disebelahnya hanya menahan senyum.
📱"Sudah ngana jang banya macico situ... mana tu 50% penghasilan... sini pi transfer kamari..." paksa istrinya.
📱"Iyo kita som transfer... mar kase tau dulu... for apa katu itu doi???" tanya Bambang dengan penasaran.
📱"For bagaya akan noh..." jawab istrinya dengan enteng.
Bambang menghela napas panjang dan menjawab.
📱"Maya Rolot sayangku, Tuhan saja cuma minta kase sisih 10% for dia, kong ngana mo minta 50%? memang ngana sapa so? Tuhan pe mama?" omel Bambang langsung mematikan sambungan seluler dan menon aktifkannya.
Trias tertawa membuat Bambang meliriknya dengan kesal. "Kenapa lagi kau tertawa? menertawakan nasib sialku tadi?"
"Ya wajar, istri minta 50% gajimu bro. diakan yang urus makan minummu, tidurmu, anak-anakmu. apa salahnya?" ujar Trias. "Untung cuma 50%, coba kalau dia minta 100%, bukan polote ente?" ujar Trias kembali tertawa.
Bambang hanya bisa menampilkan wajah masam saja. Trias kembali tertawa.
"Memang kalau melihat tampangmu ini, aku langsung ingat lirik lagu Ada Band." komentar Trias sambil senyum.
"Ada Band? lagu yang mana?" tanya Bambang.
Trias hanya senyum-senyum saja membuat Bambang penasaran dengan partnernya ini.
"Kau auraku?" tebak Bambang menyebutkan salah satu judul lagu dari Ada Band. Trias menggeleng dan kali ini senyumnya makin lebar.
"Surga Cinta?" tebak Bambang lagi membuat Trias menggeleng dan kali ini ia tertawa. Bambang yang penasaran habis kata dan pikiran.
"Lalu apa dong?" desak Bambang.
Trias menatap Bambang sejenak. sambil senyum lebar, Trias menyebut. "Manusia Bodoh..."
"Huangangamu! tapualemu! tinggolopumu... ba suara kamari ulang ngana, coba?!" umpat Bambang sambil mengancam.
Trias tertawa dan mengangkat tangan. Bambang mengalihkan pandangan kedepan dan mendadak ia memelankan laju mobil kebanggaannya. Trias menatap partnernya.
"Kenapa?" tanya Trias.
Bambang menunjuk kedepan. Trias melihat sekumpulan anak-anak muda begajulan mengerumuni seorang penjual sayur. kelihatannya mereka sedang memalak pedagang itu.
"Kita samperi yuk." ajak Bambang.
Trias langsung mengangguk dan keluar dari mobil, mengenakan kacamata rayban dan melangkah santai diikuti Bambang mendekati gerombolan pemuda itu.
"Eh, ada apa ini? kalian memalak Om penjual ini ya?" hardik Trias sambil bercakak pinggang.
__ADS_1
Bambang dibelakang sudah dalam model siaga memegang gagang pistol G2 Elite K9mm yang disembunyikan dibalik pinggulnya. []