Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 57


__ADS_3

"Hei ! perempuan itu menghubungi polisi!" seru salah satu pengeroyok.


"Apa?!" bentak sang pimpinan.


Trias langsung berlari mendapati Iyun setelah menjatuhkan satu lagi penyerangnya. pemuda itu kembali memperisai Iyun dengan tubuhnya. Trias menoleh ke istrinya.


"Mimi telepon siapa? polisi?" tanya Trias dengan lirih.


Iyun menggeleng. "Mimi telpon Kenzie. ia sementara dalam perjalanan kamari." jawab wanita itu.


Trias tersenyum lalu melayangkan pandangan ke sekelompok pengendara motor itu.


"Kalian pikir aku memerluka. polisi untuk membekuk kalian? dengan tanganku sendiri, kubuat kalian menyesali keinginan yang terbetik dalam pikiran kalian tentang aku!" ejeknya sambil mengarahkan jempolnya ke dada.


"Habisi dia!!!" seru pimpinan geng motor itu penuh murka


tanpa setahu para pengeroyok iru, Iyun mengaktifkan perekam gambar dan berhasil merekam pertarungan antara Trias dengan sekumpulan pengendara motor itu.


keseluruhan pengendara itu maju mengeroyok. dengan penuh percaya diri, Trias menyongsong serangan demi serangan yang diarahkan para agresor tersebut kearahnya. berkali-kali para pengendara itu terhempas ke jalanan.


pimpinan geng motor itu menggeram. ia menghunus senjatanya, sebilah bito palepe dan maju mengincar Trias yang sementara dikeroyok oleh beberapa penyerang.



Iyun sempat melihat pimpinan geng motor itu menghunus senjatanya dan maju hendak membokong Trias. didorong oleh rasa cintanya, Iyun menghambur memeluk melindungi Trias.


"Pipi! awas!" jerit gadis itu.


Trias tak sempat berbuat apapun ketika Iyun memeluknya. serangannya terhenti saat itu juga. disaat yang sama pimpinan geng motor maju menghujamkan bito palepe.


JLEB ... AHHHHH....


belati itu menghujam pinggang belakang Iyun dan menembusi tubuhnya seketika. perempuan itu tersentak sejenak. Trias yang kaget hanya bisa membelalakkan mata ketika menyadari Iyun memperisai dirinya dan merelakan tubuhnya tertikam senjata yang ditusukkan si pembokong.


"MIMI !!!! MIMI !!! IYUUUUN..." Teriak Trias dengan histeris.


tubuh Iyun menggeloyor rubuh ke tanah ketika selesai menerima tikaman tersebut. dengan senyum yang terkembang ditengah rasa sakit yang menyengat, wanita itu menatapi suaminya. dengan mata sayu, melepas setitik energi hidup, sang istri masih sempat berucap...


"Syukurlahhh.... bukan..kau....yang tertikam...."


tubuh perempuan itu diam tak bergerak. nyawanya baru saja lepas saat itu juga. putus asa, pemuda itu menguncang-guncang jasad istrinya. ia menangis histeris.


tanpa menunggu kesempatan, salah satu pengendara motor itu maju menghantamkan balok kayu ke tengkuk Trias yang didera rasa kalut karena kematian istrinya. pemuda itu langsung menggeloyor pingsan disisi mayat kekasihnya.


"Amankan orang ini! bawa di ke bos!" perintah pimpinan geng motor itu. 2 orang maju menyeret tubuh Trias dan menaikkannya kesalah satu motor kemudian kawanan geng motor itu melaju meninggalkan tempat tersebut menyisakan mayat Iyun yang tergeletak begitu saja dibahu jalan sisi motor Trias.


saat itu terdengar sirene menandakan malam pergantian tahun baru saja dimulai.... happy new year...2020.


...**********...


Kenzie hanya diam terpaku menyaksikan beberapa anggota tim forensik dari kepolisian memeriksa tempat kejadian perkara. bekas-bekas darah yang mengering sedang ditandai. sebagian lainnya memasukkan jenazah Iyun kedalam kantong mayat untuk dilakukab otopsi.


pemuda itu terlambat tiba dan hanya menemukan pemandangan yang mengiriskan hatinya. matanya memerah, air matanya menggenang disudut mata. jemarinya mengepal, tubuhnya gemetar menahan kemarahan yang hampir tak mampu dikendalikannya.


untunglah satu-satunya bukti berhasil diamankannya. ponsel milik Iyun disembunyikannya, tidak diserahkannya kepada pihak reskrim polres Limboto sebagai satu-satunya barang bukti. Kenzie bertekad mengusut keberadaan sahabatnya sendirian. masalah Iyun biarlah ditangani pihak kepolisian.


beberapa anggota polisi menaikkan kantong mayat Iyun kedalam ambulans sedangkan sepeda motor milik Trias digelandang keatas boks truk untuk diperiksa di markas.


Kenzie menghela napas dan menyeka ingus yang memenuhi lubang hidungnya. ia menyeka lagi genangan air matanya sejenak lalu menaiki kembali sepeda motornya dan melaju menyusul ambulans yang terlebih dulu meninggalkan tempat kejadian perkara.


...************...

__ADS_1


Kenzie tetap membisu ketika Adnan berulang kali mencecar pemuda itu dengan rentetan pertanyaan seputar kejadian dimalam pergantian tahun baru tersebut. Adnan hampir saja kehilangan kendali kalau saja Mariana tidak menenangkan suaminya.


"Ken pasti syok dengan kejadian ini, Pa. biarkan dulu ia tenang dalam pikirannya." kata Mariana.


saat ini pihak kepolisian resort Limboto menduga Trias Eliasha Ali sebagai tersangka pembunuhan Inayah Azura Gobel. hal itu dikonfirmasi oleh pihak kepolisian kepada Endi dan Murad Jalaluddin Gobel. Endi membantah keras asumsi pihak kepolisian, meskipun ia tak mampu berbuat apa-apa selain menunggu hasil keputusan dan penyelidikan dari pihak kepolisian.


Kenzie sendiri meyakini hilangnya Trias dan tewasnya Iyun, ada kaitannya dengan penggerebekan sarang pecandu narkoba pada beberapa waktu silam. kelihatannya pimpinan sindikat tersebut mengontak orang-orang sewaan untuk mengendus keberadaan Trias dan berhasil memata-matainya. Trias kemudian diculik kemudian Iyun dibunuh untuk menghilangkan jejak.


Kenzie tak mungkin membeberkan dugaannya kepada ayahnya. cara satu-satunya adalah menghubungi Endi, ayahnya Trias dan menjejaki keberadaan para penculik.


tanpa bertanya, pemuda itu meninggalkan kantor polisi, melajukan kendaraan ke rumahnya. mungkin saat ini, Chiyome sangat cemas menantikannya.


...********...


Chiyome mondar-mandir diruang tamu. sesekali ia bercakak pinggang, ada kalanya ia melipat tangannya ke dada. wanita itu membiarkan piyama panjangnya menjuntai-juntai menyeret dilantai.


tak berapa lama, terdengar ketukan di pintu. bergegas wanita itu mengintip lewat jendela sejenak kemudian membuka daun pintu.


Kenzie masuk dengan perasaan kosong nan hampa. Chiyome memegang lengan suaminya.


"Bagaimana?" tanya Chiyome.


wajah Kenzie terlihat lelah. perlahan pemuda itu memeluk pinggang istrinya.


"Ada apa?" tanya Chiyome dengan lembut.


Kenzie mendesah lalu membenamkan wajahnya disisi pundak istrinya. pandangannya kosong. "Kurasa... Hubby benar-benar lelah...."


Chiyome akhirnya memeluk punggung Kenzie dan mengusap-usapnya dengan lembut.


"Apa yang bisa Wiffy lakukan untuk Hubby?..." tanya Chiyome sambil terus membelai punggung suaminya.


"Biarkan aku memelukmu untuk saat ini..." jawab Kenzie sambil membenamkan wajahnya dileher jenjang istrinya dan matanya mulai terkatup. ia tertidur dalam posisi memeluk Chiyome.


...**********...


Chiyome menatap layar laptop dengan tatapan nanar. sesekali ia melihat Kenzie yang duduk menyandarkan punggungnya ke dinding dengan tampilan seperti biasanya. tubuh bagian atas yang telanjang menampakkan sepir-sepir dada dan perut, celana boxer yang menutupi bagian kelelakiannya.


atas permintaan Kenzie, Chiyome membongkar file-file yang ada dalam memori ponsel milik Iyun. ia menemukan sebuah rekaman video peristiwa pengeroyokan anggota geng motor terhadap Trias yang direkam Iyun secara sembunyi-sembunyi.


masih mengenakan lingerie seksi itu, Chiyome terus menatapi layar laptop. ia harus menghafal wajah-wajah pengeroyok itu agar ia bisa mengenalinya ketika menemukan mereka.


sebagai praktisi seni aliran koryu, Chiyome dibekali kemampuan mengenal dan menghafal apapun yang dianggapnya penting. selesai menonton video itu, Chiyome mencabut kabel USB dari colokan pada sisi kiri laptop. ponsel itu diserahkannya kepada suaminya.




Kenzie meletakkan ponsel itu dimeja dekat ranjang. "Hubby menyembunyikan benda ini dari pihak kepolisian. Hubby berencana melakukan penyelidikan sendiri. Hubby akan menemui Om Endi. dia, kan mantan preman. kurasa dia mampu menghafal wajah orang ini."


Chiyome menatapi manik mata suaminya dengan dalam. wanita itu menghela napas. ia mengisyaratkan Kenzie untuk berbaring dipahanya. pemuda itu menurutinya.


"Kapan Hubby menemui Om Endrawan?" tanya Chiyome.


"Sore, ba'da ashar." jawab Kenzie.


Chiyome mengangguk-angguk lalu membelai rambut suaminya. "Kalau Hubby mau, Wiffy bisa bantu...."


Kenzie menggeleng. "Hubby nggak mau Wiffy mengotori tangan Wiffy dengan darah kotor para penculik itu. biarlah Hubby yang menangani ini. Wiffy awasi Papa... jangan sampai Papa tau Hubby melakukan penyelidikan."


Chiyome kembali mengangguk-angguk. "Baiklah, sesuai keinginan Hubby..."

__ADS_1


Kenzie mendesah, "Wiffy, maafkan Hubby telah mengacaukan acara makan malam kita...."


Chiyome tersenyum lebar lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Kenzie kemudian mengulumnya sedikit. setelah itu ia melepaskan.


"Rikai dekiru...." jawab Chiyome. (Aku bisa memahaminya).


"Makasih Wiffy..." jawab Kenzie.


pemuda itu membelai pipi istrinya lalu bangkit dan berdiri disisi ranjang. "Aku kelelahan... bisakah memberiku might booster hari ini?"


Chiyome kembali tersenyum lebar memaknai maksud suaminya. ia mendekat lalu duduk disisi ranjang. Chiyome memelorotkan sedikit celana boxer itu hanya untuk membuat sebatang tongkat lembek itu meloncat keluar. Chiyome menggenggam benda itu dan memijatnya dengan lembut hingga perlahan ia bangkit dan menegang. Chiyome langsung mengemut dan menjilati benda milik suaminya. Kenzie membelai-belai rambut Chiyome yang masih getol mengerjai benda panjang itu.


Kenzie tak tahan. ia melepas wajah istrinya dari benda panjang miliknya yang sudah mengacung tegak itu. giliran Kenzie yang jongkok dan melebarkan kedua tungkai kaki istrinya. ia mengorek bagian pembalut dan meminggirkannya agar bebas melihat liang chubby milik istrinya yang memekar. dengan rakus, Kenzie maju menjilati permukaan liang senggama iru membuat Chiyome mendongak dan mendesah. lama ia menikmati rasa nikmat diarea tersebut karena dibasahi dan dijilati oleh suaminya.


Kenzie mendorong tubuh Chiyome hingga terbaring diranjang. pemuda iru menuntun pedang tumpul miliknya kedalam warangka milik Chiyome. sesaat kemudian terdengar suara erangan halus Chiyome yang menikmati miliknya dihujam begitu sering dengan ritme yang teratur. ia memeluk leher suaminya.


Kenzie merasakan sebuah kedamaian ketika ia menyatukan dirinya bersama Chiyome saat itu. tak ada rasa paling indah daripada rasa ini. dan ketika keduanya mengejan melepaskan air amerta yang menjelma menjadi lautan susu mengaduk dalam periuk rahim. keduanya kemudian terbaring lemas memasuki sisi relaksasi paska pergumulan untuk mengaduk lautan susu tersebut.


"Hubby... puas?" tanya Chiyome dengan lirih.


"Puas sayang... Makasih." jawab Kenzie sambil mengecup dan mengulum bibir istrinya dengan lembut.


sejam kemudian Kenzie sudah keluar membawa ponsel milik Iyun untuk diperlihatkan kepada Endi. sesuai pesan suaminya, Chiyome berdiam dirumah dan mengawasi perilaku kedua mertuanya bersama kakaknya sendiri.


...**********...


01 Januari 2020, Pukul 16.45 WITA.


Endrawan menggeram marah ketika Kenzie memperlihatkan rekaman video tersebut kepadanya. tangan lelaki botak tersebut gemetar menahan kemarahan yang sangat memuncak. paska menyaksikan rekaman itu, lelaki berkepala botak itu menyerahkan ponsel tersebut kepada Kenzie.


"Mengapa benda ini tak kau serahkan ke polisi? kau tahu, kan hukum menyembunyikan barang bukti?!" tegur Endrawan dengan keras.


"Aku nggak bisa menyerahkan rekaman ini kepada mereka. bukannya aku tidak mempercayai kemampuan mereka. hal ini saya lakukan, lebih kepada harapan untuk segera menemukan dirinya." jawab Kenzie kemudian menghembuskan napasnya dengan kasar."Pada malam kejadian itu, Iyun menghubungi saya. saya pribadi sudah berupaya melaju untuk menyelamatkannya. saya terlambat dan menemukan jasad Iyun yang tergeletak begitu saja dibahu jalanan. saya menemukan ponselnya lalu mengecek file-filenya dan menemukan rekaman itu."


Kenzie menatapi air muka Endrawan. "Om, kalau om tau siapa saja orang yang berada dalam rekaman ini, kasih tau saya Om." pinta Kenzie dengan memelas. "Aku akan membuat mereka bicara dan memberitahu keberadaan Trias, bagaimana keadaannya."


Endrawan menatapi Kenzie lalu memicingkan matanya. "Kurasa kau tidak mendiskusikan hal ini dengan Adnan lagi, kan?" tebaknya.


Kenzie tersenyum lebih menampakkan cengiran jenakanya, membuat lelaki botak itu ikut tersenyum.


"Sudah kuduga.... apa kamu nggak jera dipukuli Papamu?" olok Endi sambil menampol tengkuk anak itu seperti yang ia lakukan kepada Trias.


"Om, jangankan dipukuli, dihabisinya pun aku sudah siap. Trias sahabatku, kembaranku, tentu saja aku tak akan mendiamkannya." tandas pemuda itu, "Lagipula, Om mantan preman, tentunya Om tau beberapa orang yang masih menekuni pekerjaan gelap itu,kan?" tanya pemuda tersebut.


"Aku tau siapa mereka." jawab Endi sambil memeluk dadanya sendiri. mereka ini sering nongkrong di jembatan Potanga. setahuku, mereka dilindungi seorang jawara bernama Bubu."


"Bubu?" tanya Kenzie dengan mengerutkan keningnya. istilah 'Bubu' merujuk pada orang yang tak bisa bicara. istilah indonesianya disebut bisu.


seperti menebak isi pikiran Kenzie, lelaki botak itu mengangguk. "Ya... karena dia mahal bicara. ia sering memberi perintah dengan isyarat tangan atau memakai surat saja. tapi keberadaan orang ini lebih mirip legenda, karena sangat susah ditemui. " ujar Endrawan, "Kabar lainnya, Si Bubu ini seorang pakar beladiri langga dan sudah menggapai tingkatan tinggi karena melaksanakan ujian Tonggade."


"Tonggade?" gumam Kenzie lagi.


"Tonggade, saling menyerang didalam sarung yang dikemulkan antara dua orang petarung. dalam sarung itu keduanya akan saling menikam hingga ada salah satu yang akan tewas." jawab Endi.


Kenzie mengangguk. mungkin Bapu Ridhwan akan mengajarinya teknik ini jika sudah melampui tingkatan-tingkatan tersebut.


"Teruskan Om." pinta Kenzie.


"Aku pernah sekali, berhadapan dengannya. waktu itu aku terlibat masalah di kelurahan Biawu. wilayah itu termasuk dalam teritorial kekuasaan anak-anak yang dilndunginya. pertempuran diantara kami berlangsung tak seimbang. aku kalah pengalaman. sejak aku pensiun, aku sudah nggak tahu lagi perkembangan didunia bawah tanah itu." tutur Endi sambil mengelus kepalanya yang mengkilap kulitnya.


"Om mau membantuku, kan?" tanya Kenzie.

__ADS_1


"Tentu saja. tentu." jawab Endrawan. []


__ADS_2