Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 9


__ADS_3

sejenak Kenzie menarik napas, memperbaiki kalimat untuk bisa meluluhkan hati ayahnya agar mau mengabulkan permintaannya.


"Kan dia wartawan senior, Pa." jawab Kenzie, "Masa kami berdua disuruh belajar otodidak tentang jurnalistik?"


Adnan kembali tertawa. "Oooo... jadi mau minta nasihat? boleh saja. nanti Papa hubungi dia."


"Sekarang saja, Pa.." desak Kenzie.


"Jangan Ken. kayaknya Papamu benar. Oom Ahmad mungkin lagi sibuk saat ini. lain kali saja." potong Trias.


"Naaaaa.... temanmu saja paham.." kata Adnan sambil terkekeh.


Kenzie memandang sengit kearah Trias, namun pemuda itu berlagak cuek. Trias menatapi Adnan. "Kira-kira kapan kami berdua bisa ketemuan dengan Oom Ahmad?"


"Nanti kukabari lewat Kenzie." jawab Adnan tersenyum dan mengangguk ramah.


Trias langsung bangkit dan mohon pamit. "Kalau begitu, kami berdua pamit, Oom." ujarnya sambil menarik tangan Kenzie agar segera menyingkir dari tempat itu.


panggilan Adnan membuat langkah kedua pemuda itu berhenti. Kenzie berbalik menatapi ayahnya.


"Hubungi kakakmu. bilang kau akan menjemputnya." perintah Adnan.


"Kakak bilang di chat, dia akan terlambat pulang." jawab Kenzie.


"Justru itu. kau nanti jemput dia." kata Adnan kali ini sedikit menekan. "Kau tanya posisi dia dimana, lalu bawa dia pulang."


"Baik Pa.." jawab Kenzie.


pemuda itu menyusul Trias yang sudah menunggunya disamping sepeda motornya yang terparkir. sesampainya Kenzie langsung menyembur.


"Kau ini!! hilang dah kesempatan untuk bertemu dengan Oom Ahmad!" kata Kenzie dengan jengkel.


Trias tertawa pelan, "Boncengi aku dulu. kita ke Pasar Sentral, nanti disana aku akan menjelaskannya."


Kenzie mengangguk lalu menaiki motornya dan menyalakan mesinnya. setelah itu Trias naik ke boncengan. setelah itu motor yang mereka kendarai telah melaju menyusuri pusat-pusat perbelanjaan hingga akhirnya mereka menyusuri Jalan Tengah.


"Aku sengaja memotong pembicaraan Oom Adnan supaya beliau tidak curiga dengan misi kita." kata Trias agak keras dari boncengan. "Nanti kalau Papamu sudah menghubungi Oom Ahmad, barulah kita pelan-pelan menjalankan rencana kita."


"Supaya?" pancing Kenzie dengan suara yang tak kalah keras.


"Supaya kita masih gampang melakukan penyelidikan. kalau Papamu tahu, maka aksi kita akan dihentikan ditengah-tengah. dia pasti langsung menghubungi polisi, lalu polisi mendatangi sekolah kita, mereka langsung datang menemuiku, kemudian menginterogasiku, dan kalau sudah begini kejadiannya, Burhan pasti sudah curiga. dia akan lebih berhati-hati. dan akhirnya, baik polisi maupun kita nggak bisa menangkap pelakunya." beber Trias panjang lebar.


Kenzie mengangguk.


"Salut kawan. ente hebat juga dalam menganalisa suasana." puji Kenzie.


"Makanya jangan langsung emosi dulu." kata Trias dengan jengkel.


"Maaf bro. aku terbawa emosi." kata Kenzie sambil tertawa.


"Sudahlah... hei, kita mau ke Pasar Sentral. aku mau menemui Papaku." kata Trias.


motor itu melaju menyusuri Jalan Tengah hingga tiba di Kampung Kramat, kompleks Pasar Sentral bagian luar. kendaraan itu terus melaju dan tiba dibagian pusat dari Pasar Sentral kota Gorontalo.


Kenzie memarkir motornya ditempat yang disediakan oleh pengelola Pasar Sentral. keduanya melangkah menyusuri serambi berundak-undak dan tiba disalah satu koridor bangunan.


keduanya menyusuri pasar hingga tiba di lapak daging. keduanya mencari lapak ayahnya Trias. tak berapa lama mereka ternyata sudah tiba di lapak daging.



didalam lapak yang gerah itu berdiri seorang lelaki kekar bertelanjang dada dan hanya menutupinya dengan apron. sebilah golok besar tergenggam ditangan kanannya. sebuah kalung model bola-bola tasbih menggantung dileher kekarnya. sesekali lelaki itu mengelus kepala plontosnya.


"Papa..." sapa Trias.


lelaki berkepala botak itu menatapinya dan tertawa. " Kau sudah datang? ayo bantu Papa membereskan ini." pinta lelaki itu menunjuk kesebuah boks besar yang berisi tumpukan kulit sapi dan kambing. Kenzie yang melihatnya langsung mundur dan menutup hidung nya, sedangkan Trias melangkah ke arah boks yang ditunjuk oleh ayahnya.


"Tri, aku balik dulu ya, aku harus mencari kakakku." kata Kenzie.


Trias tertawa, "Eleeeeeh... bilang saja kau jijik memegang kulit-kulit itu." godanya kemudian mengibaskan tangan kedalam. "Sudahlah... kita ketemu besok saja. jangan lupa dengan misi kita. "


"Beres." jawab Kenzie.


pemuda itu meninggalkan barisan lapak daging dan terus menyusuri lorong-lorong dalam pasar tersebut. ia tiba ditempat motornya yang terparkir. Kenzie merogoh saku dan mengeluarkan ponsel kemudian memencet nomor dan mendekatkan gadget itu ke telinganya. tak lama kemudian terdengar sapaan disana.


📞"Assalam alaikum..." sapa Aisyah.


📞"Kakak dimana? Papa bilang Kakak nanti saya yang jemput" kata Kenzie.


📞"Kakak ada dikampus IAIN Sultan Amai." jawab Aisyah.


📞"Kakak pindah kampus?" tanya Kenzie.


terdengar sejenak suara tawa diseberang.


📞"Nggak Ken, kakak temui teman kakak yang kuliah disini. " kata Aisyah dengan suara renyah.

__ADS_1


📞 "Ya sudah...saya kesana. " kata Kenzie sambil menutup panggilan.


pemuda itu memasukkan ponselnya ke saku celananya. setelah membayar biaya parkir, pemuda itu menyalakan mesin dan mengenakan helm dan melajukan motornya meninggalkan Pasar Sentral kota Gorontalo.



Kenzie melajukan motornya melewati Pertamina dan bundaran Hulondalo menuju ke kawasan Gelatik, dimana gedung IAIN Sultan Amai bertempat. Kenzie memasukkan kendaraannya ke areal halaman kampus dan memarkirnya. ia duduk disadel dan kembali mengeluarkan ponsel kemudian menghubungi Aisyah.



📞"Halo, Assalamualaikum, Kakak dimana? aku sudah dihalaman kampus ini, aku tunggu disini ya...cepat datang Kak." pinta Kenzie lalu memutuskan percakapan dan menyimpan kembali ponselnya.


tak lama kemudian, dari arah koridor muncul Aisyah ditemani seorang mahasiswa yang sangat dikenal oleh Kenzie.


"Kak Bakri? kalian berdua saling kenal?" tanya Kenzie yang merasa surprise dengan pemandangan itu.


"Tentu... kakakmu sudah menceritakan tentang kamu." kata Bakri sambil tersenyum.


"Kalian pacaran, kan?" tebak Kenzie.


"Ken, apaan sih?" sergah Aisyah dengan jengah dan wajahnya merona karena malu sedang Bakri hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gosok pake Rinso otak kamu itu." kata Bakri sambil bercakak pinggang berlagak marah, "Kau tahu? aku dan kakakmu ini teman satu kampung si Poso. Aku duluan kuliah disini." kata Bakri sambil memelototkan matanya.


"Bakri bilang kemampuan silatmu meningkat pesat." puji Aisyah.


"Memang. itukan berguna untuk menjaga diri, juga menjaga kakak supaya jangan diculik orang." jawab Kenzie sambil menggoda keduanya.


"Ilobuta ambunguma... " maki Bakri sambil tertawa. "Sudah, antarkan kakakmu pulang."


Kenzie memutar sepeda motornya kemudian mempersilahkan Aisyah untuk membonceng.


"Besok, kutunggu kau dipadepokan, ya?" pesan Bakri.


Kenzie menggeleng."Saya mohon ijin, belum latihan kak, kayaknya Trias juga."


"Kenapa? kok kalian kompak ijin tidak latihan?" tanya Bakri dengan heran.


"Kami berdua sedang mengerjakan tugas penting dari guru bahasa indonesia, mengunjungi kenalan Papa yang seorang wartawan." jawab Kenzie sambil memutar kunci stater. "Kami dapat tugas meliput berita."


Bakri mengangguk, "Ya sudah. antar kakakmu..."


motor hitam yang dikendarai Kenzie dan diboncengi Aisyah meninggalkan area kampus.


...*********...


tiba-tiba Adnan teringat sesuatu.


"Ken, Papa sudah menghubungi Oom Ahmad." kata Adnan disela-sela mengunyah makanan. Kenzie sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan, ingin mendengar kabar dari Papanya.


Adnan menyambung, "Dia setuju untuk bertemu dengan kalian berdua. dia menetapkan deadlock nya besok." kata Adnan setelah menelan makanannya.


"Alamatnya dimana, Pa?" tanya Kenzie dengan riang.


"Padebuolo, dekat Masjid Walfajri. tanya saja sama birman-birman disana. mereka pasti memberitahumu." jawab Adnan sambil terus menikmati makanannya.


kata 'birman' merujuk pada kata tetangga atau warga yang tinggal disamping, depan maupun belakang rumah.


"Oke bos!" jawab Kenzie yang kali ini lebih semangat dalam menghabiskan makanannya.


"Ada apa ini?" tanya Mariana penasaran.


"Tugas sekolah, Ma." jawab Kenzie. Mariana menatapi Aisyah.


"Bagaimana dengan ujianmu? kapan diumumkan?" tanya Mariana.


"Lusa Ma, di Kampus..." jawab Aisyah dengan senyum.


"Kakak ternyata punya teman disini Ma. Laki-laki, tampan, teman sekampung katanya." potong Kenzie.


"Dasar tukang ngadu niiiii..." ujar Aisyah dengan mimik kesal.


Adnan memandang Aisyah. "Benarkah? siapa namanya?"


"Bakri, anaknya Bibi Una di Lawanga." jawab Aisyah sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.


"Ooooo Bakri Muchsin? anaknya Una Laiya? ya, ya, papa ingat." kata Adnan sambil tersenyum dan mengangguk-angguk.


"Siapa mereka?" tanya Mariana.


"Anak itu bukan orang lain. dia masih termasuk kemenakan dekatku." jawab Adnan sambil menatapi Kenzie dan Mariana bergantian.


"Kan kau sudah tahu, keluargaku adalah cabang dari keluarga Laiya. kami kan masih sama-sama keturunan bugis."


"Jadi, kita ini masih termasuk orang bugis?" tanya Kenzie.

__ADS_1


"Cuma keturunannya. lagi pula kita sudah banyak melakukan kawin campur dengan warga asli." jawab Adnan.


Kenzie mengangguk-angguk.


"Buat apa kita membicarakan galur-galur itu? itu hanya omong kosong saja. Papa saja waktu menikahi Mama tidak mendapatkan pertentangan dari dua keluarga. padahal fam Mama kalian bukan fam sembarangan, masih ada kekerabatan dengan galur raja-raja Suwawa." kata Adnan sambil memelankan suaranya.


Mariana hanya tersenyum.


"Di Gorontalo. banyak keluarga yang menyandang status tinggi karena merupakan keturunan Jogugu dijaman Kesultanan Gorontalo. ada juga sepupu Papa, yang menikahi perempuan yang keluarganya memiliki galur kerajaan kuno Gorontalo.


"Apa fam istri sepupu Papa?" tanya Aisyah.


"Bobihu, satu dari tujuh keluarga besar yang merupakan keturunan Raja Panipi." jawab Adnan.


"Apakah dia bermarga Lasantu?" tanya Aisyah.


Adnan menggeleng. "Ibunya dari galur Laiya. ayahnya mantan tentara asal Surabaya. sekarang dia bekerja sebagai Aparat Sipil Negara."


"Kok bisa ya, sepupu Papa yang keturunan Jawa itu menikahi perempuan ningrat Gorontalo? apakah tidak ditentang oleh kedua keluarga?" tanya Aisyah dengan penasaran.


"Katanya sih tidak. justru pertemuannya dengan perempuan itu sangat unik." kata Adnan dengan wajah serius seakan hendak membacakan sebuah kisah.


"Ceritakanlah Papa.." pinta Kenzie.


"Eeeee.... kenapa kita ngomongi orang? nggak boleh! dosa!" potong Mariana .


"Mama sudah larang tuh." kata Adnan sambil kembali menikmati makanannya.


"Aaaa... Mama... menghalangi keingintahuan saya saja." kata Kenzie dengan sengit."


"Mama benar Ken. " sahut Aisyah. "Kalau mau tahu tentang beliau, tanya saja langsung sama beliau. jangan lewat lidah orang lain."


"Nyindir nih ceritanya?" kata Adnan sambil tertawa


"Maaf Pa, saya cuma nasihati adek." jawab Aisyah sambil menunduk.


"Maaf juga kak, aku sempat cemburu sama kakak." kata Kenzie dengan jujur.


Adnan dan Mariana terkesima dengan kejujuran putranya. "Kenapa kamu cemburu dengan kakakmu?"


"Saya sempat berpikir jelek, dia akan merebut kalian dariku." jawab Kenzie sambil menunduk.


"Kamu jangan cemburu sama kakak, dek. kakak nggak bakal rampas Papa dan Mama. justru Kakak yang kuatir kamu nggak mau terima kakak disini.." balas Aisyah.


"Sudah, sudah... ngelantur bicara kalian malam ini." tegur Mariana. "Yuk kita habiskan makanan ini. jangan ada yang tersisa lho."


dan kehangatan diruang makan itu bertambah hangat


...*********...



Fitri baru saja meletakkan gagang telepon dan menekan dadanya dengan sebelah tangannya. wanita itu memejamkan mata dan beberapa titik air mata jatuh membasahi pipinya. untung Fitri cepat tersadar dan menghapus air matanya.


jangan sampai Kameie tahu, apalagi Iechika. tentu kedua lelaki itu akan menginterogasinya. kabar dari saudaranya di Poso tentang keberadaan putrinya membuat wanita itu merasakan pilu dihati. kerinduan kapada Anak itu mulai merasuk lagi dalam sanubarinya. selama ini Fitri selalu dapat menahan rindunya dan hanya mengirimkan uang kepada saudaranya untuk memenuhi kebutuhan putrinya.


sekarang Aisyah sedang menempuh pendidikan tinggi di Gorontalo dan tinggal bersama ayah dan keluarga tirinya. tentu rasa sayang ibu sambung tidak sebesar kasih sayang seorang ibu kandung.


rasa bersalah karena meninggalkan Aisyah sendirian di Poso semakin memilukan hatinya. seandainya ia bisa membawa Fitri bersama-sama ke jepang, tentu takkan sesakit ini rasa rindunya. apalagi visa yang dimilikinya hanya berlaku untuk dirinya sendiri. meskipun ia telah menikah dengan Kameie, Fitri tak pernah merubah status kewarganegaraan meskipun harus bolak-balik mengurus perpanjangan tinggal di jepang setiap 5 tahun sekali.


hatinya bimbang dan diwarnai banyak pilihan. apakah ia semestinya pulang ke Indonesia, sekalian menemani Chiyome disana? bagaimana dengan Kameie dan Iechika? tentu mereka akan kesulitan dan tidak terurus.


sudah menjadi kewajibannya mengurusi suami dan anak-anak. di jepang, ia telah memiliki keluarga yang bahagia. Fitri tak sampai hati meninggalkan Kameie .


Fitri melangkah menyusuri lorong dan tanpa sadar ia sudah berdiri didepan kamar putrinya. hari ini, Chiyome resmi berangkat melanjutkan pendidikannya di Indonesia.


Fitri memandangi Chiyome yang telah mengepak barang dalam kegiatannya iru. wanita itu menghela napas lalu berjalan mendekati putrinya.


"Ibu berharap kau tidak akan kesulitan disana. " ungkapnya dengan berat.


"Ibu. aku akan baik-baik saja." kata Chiyome, menghentikan kegiatannya kemudian menatapi Fitri."Aku akan selalu mengabari Ibu."


"Maukah kau menerima permintaan Ibu?" tanya Fitri dengan segan.


Chiyome memandangi ibunya, "Katakan saja ibu.."


Fitri menghela napas, "Ibu tak pernah paham, mengapa kau memilih Kota Gorontalo untuk studimu. tapi.... ibu... ingin kau melakukan sesuatu... untuk ibu." ujarnya dengan terbata-bata.


Chiyome terus menatapinya. Fitri menguatkan hatinya lalu menyambung lagi ucapannya. "Ibu ingin kau mencari tahu tentang seseorang, dan bagaimana kehidupannya."


"Siapa dia, ibu? apakah dia orang yang berharga dimatamu?" selidik Chiyome.


ditanya seperti itu, sontak membuat Fitri terhenyak. wanita itu kemudian tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. "Tidak.... hanya saja ia putri dari seseorang yang pernah berjasa kepada ibu semasa hidup di Gorontalo."


"Jadi, kedatangan aku kesana pasti karena takdir. jangan khawatir ibu, aku akan melaksanakan perintahmu." []

__ADS_1


__ADS_2