
Kameie membuka matanya. kenangan-kenangan yang terlintas itu berhenti membayangi benaknya. lelaki itu menatap ruangan kamarnya yang kini terasa begitu luas. ketiadaan Fitri menghampakan sebuah letak kosong dalam sanubari lelaki itu.
ia mengedar tatapan lagi. sejenak kemudian ia bangkit. sementara suara Sandiaga yang mendayu-dayu melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an masih terdengar jelas. Kameie kembali dengan membawa secarik kertas dan sebatang pulpen. lelaki itu duduk menghadap meja pendek dan kemudian mulai menuliskan sesuatu pada lembaran kertas yang dihamparkannya di meja.
...*****...
Iechika melangkah santai menyusuri lorong. ia bermaksud menemui ayahnya untuk menguatkan hati lelaki itu. pemuda itu tiba didepan ruangan ayahnya.
"Otoo-San... saya masuk." ujar Iechika memberitahu.
lengang terasa tak ada sahutan. Iechika memegang tepian pintu shoji dan mulai menggeser pelan untuk mengintip. nampak sang ayah duduk dalam posisi seiza membelakanginya. Iechika tersenyum lalu menggeser penuh pintu tersebut. pemuda itu masuk.
"Otoo-San...." panggil Iechika. "Jangan terlalu bersedih. masih ada kami berdua disisi Otoo-San."
Iechika kembali menatap tubuh ayahnya yang duduk membelakanginya. pemuda itu tersenyum meski matanya berkaca-kaca.
"Siapa yang bisa menahan takdir, Otoo-San? bahkan seorang nabi terkasih saja harus menyerah dan pasrah ditangan Sang Maut ketika tiba ajalnya. kematian Okaa-San, sudah ditakdirkan oleh Allah. Otoo-San tak perlu terlalu menyalahkan keadaan." ujar Iechika.
kembali pemuda itu melihat tubuh sang ayah tetap saja membelakangi dan tak merespon. alis pemuda itu berkerut. ia curiga. perlahan ia beringsut mendekati ayahnya dan menyentuh pundak Kameie.
"Otoo-San..." panggil Iechika dengan lembut.
BLUGH....
tubuh Kameie limbung dan jatuh terbaring dalam posisi menyamping. Iechika terkejut dan langsung membalikkan tubuh Kameie. sekali lagi pemuda itu terkejut melihat sebilah pisau menancap pada perut yang sudah terkoyak. darah membanjiri tatami ketika tubuh lelaki itu terguling disana.
dengan gemetar, Iechika yang tak mampu menahan emosinya lagi kemudian mendongakkan kepala dan meraungkan jeritan dukanya.
AAAAAAARRRRRRRRGGGGHHHHHH......
ruangan itu menghentikan Sandiaga dari kegiatannya membaca Al-Qur'an. anak itu mendongak menatap ibunya.
"Paman Iechika!!!" pekiknya.
Ienaga tanggap langsung bangkit berlari meninggalkan ruangan diikuti oleh Yasuyori dan Yasunori. Sandiaga langsung menutup kitab dan meletakkannya pada tatakan dan bangkit bersama-sama Chiyome dan Kenzie.
mereka berlari menyusuri lorong menyusul menuju kamar Kameie. dan sekali lagi ketiganya terlambat. diruangan itu, nampak keluarga Chigaji duduk bersimpuh dengan tubuh gemetar. ditengah ruangan Iechika duduk membungkuk melepaskan tangisnya yang lirih dan dihadapan Iechika, membujur tubuh kaku sang ayah dengan pakaian yang telah terbuka dan perut koyak yang tertancap pisau.
Chiyome melangkah perlahan kedalam ruangan dengan gemetar dan nyaris sempoyongan. wajahnya pias dengan airmata yang belum kering. Sandiaga sendiri ditahan oleh Kenzie. anak kecil itu menggigit bibir menahan suara tangis sedang Kenzie mengencangkan rahang namun matanya sudah basah dengan airmata.
Chiyome tiba disisi Iechika dan duduk disana. dengan gemetar, tangannya terulur menyentuh jasad Kameie. dan seketika emosi yang ditahannya begitu rupa tak mampu lagi dibendung. ia jebol. benar-benar jebol saat Chiyome dengan sepenuh tenaga kemudian melantunkan jeritan duka.
"OTOOOO...SSAAAAAAAAANNNN...."
...*****...
sekali lagi keluarga Mochizuki didera duka. kali ini beruntun. kematian Kameie hanya berselang dua hari paska kematian Firi. lelaki itu melakukan seppuku untuk mengakhiri hidupnya. Chiyome sendiri tak menyangka ayahnya akan melakukan hal demikian. meskipun seppuku adalah cara terhormat seorang samurai dan keturunannya untuk mengakhiri bakti hidupnya, namun bukankah agama mereka sangat mencela bunuh diri? bukankah dalam Surah An-Nisaa ayat 29, sudah jelas Allah melarang pelaku bunuh diri?
...*Walaa taqtulu an(g)fusakum... Inna Allah Kaana bikum rohiimaa......
...dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah amat Maha Penyayang kepadamu*...
Chiyome sangat menyesalkan tindakan sang ayah. meskipun ia paham benar seberapa berat ditinggalkan oleh orang yang paling dikasihi.
didepan kuburan disisi sang ibu. Chiyome duduk bersimpuh menyebarkan bunga-bunga krisan ke gundukan makam Kameie. dibelakangnya, berdiri Kenzie dan Sandiaga. dibelakang kedua ayah-anak itu, berdiri Ienaga dan kedua putranya. di sisi Chiyome, Taki Takazawa, teman sekaligus guru ngaji Kameie duduk memandangi gundukan makam tersebut.
Taki diberitahu secara langsung melalui percakapan seluler sehingga lelaki bersurban itu langsung pergi meninggalkan masjid camee dan menuju Shiga menggunakan jalur kereta api. wajahnya menyiratkan penuh kesedihan. seperti perkataan Syaikh Akhtar Osman, Kameie tidak memiliki keyakinan hati yang kuat. keislamannya kuat karena adanya Fitri disisinya. dan kini, wanita itu telah wafat. maka keislaman Kameie juga turut sirna. kecintaan yang begitu terlalu terhadap Fitri membuatnya tak merelakan kepergian sang istri. cara untuk menemui sang istri dalam benaknya adalah dengan melakukan seppuku.
Taki berkali-kali mendesah dan menatap Chiyome. bagi Iechika, kematian ibunya memang menyakitkan. namun ia bisa menerimanya. kematian sang ayah membuat pemuda itu syok, dan Chiyome tidak setegar Iechika ketika menemui musibah yang beruntun.
Taki menghela napas, lalu menatap Chiyome. "Sudahlah Nak. inilah takdir yang wajib kau tempuh. disinilah pendewasaan dirimu dalam memaknai hidup bahwa kehidupan itu sendiri begitu berharga. musibah menimpa siapapun dan itu merupakan kehendak Allah." kata Taki memberi penguatan kepada Chiyome.
"Tapi..." protes Chiyome.
"Hari ini, mungkin kau akan menganggap semua yang terjadi adalah ketidak adilan. Namun, ada waktu dimana kau akan menyadari bahwa ketentuan Allah merupakan yang terbaik dalam hidupmu." jawab Taki menandaskan hal tersebut.
Chiyome hanya diam menanggapi kalimat yang dilontarkan Taki Takazawa. lelaki bersurban itu tersenyum lalu menatap lagi Chiyome.
"Apa yang kau cari, Nak?" tanya Taki.
__ADS_1
Chiyome tidak menoleh, namun Taki dapat melihat bahwa alis wanita itu menaut.
"Kau mencari ridho Allah. kan?" ujar Taki dengan lembut.
Taki dapat dengan jelas mendengar tarikan dan hembusan napas yang berat dari wanita berkerudung disebelahnya. Taki menunduk lalu tersenyum dan mengangguk.
"Aku tahu kau mencari keridhoan Allah. tapi hal itu terhalang oleh syaitan yang menghalangi hatimu untuk mengakuinya. tapi aku tahu, kau tidaklah jahat, Nak. kau orang baik dan Allah menguji kebaikanmu dengan musibah ini untuk memberimu ganti yang lebih baik." kata Taki.
Chiyome perlahan menoleh menatapi muballigh yang selalu di gugu oleh mendiang ayahnya itu.
"Kau mau kuajarkan doa untuk memperkuat hati?" pancing Taki.
Chiyome lama menatapnya hingga akhirnya, wanita berkerudung itu mengangguk pelan. Taki mengangguk lalu menatap kedua nisan yang masih basah itu. kedua tangannya terangkat, menengadah keatas.
"Ikuti aku nak." ujar Taki.
maka setelah itu, keluarlah kalimat doa dari bibir mubaligh tersebut.
Alhamdulillahi robbil alamin...
Inna Lillahi wa inna ilaihi rooji'un
Allahumma ajirni fii mushibati wa ahlifli khairan minha...
(Segala pujian kepada Allah Yang Maha Memelihara alam semesta. Sesungguhnya segalanya dari Allah dan sesungguhnya hanya kepada Allah semua kembali. Ya Allah, aku rela menerima musibah ini dan berikanlah aku ganti yang lebih baik dari ini.)
...******...
BRAKKKKK!!!!
Trias menggebrak meja dengan penuh emosi. bagaimana tidak? sebegitu lelahnya mereka meringkus Stefan Waworondouw dan Trias bahkan mengorbankan jabatannya demi sebuah prinsip agar lelaki itu tak akan bebas berkeliaran. dan kini, entah siapa yang berani menggelontorkan bergepok-gepok uang untuk menjamin lelaki itu hingga melenggang dengan angkuhnya meninggalkan kantor polisi.
"Apa Bos tak berupaya mencegahnya?!" pekik Trias dengan suara meninggi lalu mondar-mandir diruangan.
Bambang, Aldi dan Stephen hanya bisa duduk dengan geram dan meremas jemari tangan mereka sendiri. sia-sia sudah apa yang mereka upayakan selama ini. pemburuan, penangkapan, investigasi semuanya tak lagi berguna.
Trias dengan geram kembali meninggalkan kantor. Bambang dan konco-konconya tak bisa mencegah lagi. tak ada gunanya pula mencegah lelaki itu pergi.
Kenzie menutup mata dan mengencangkan rahangnya mendengar berita yang dikatakan ayahnya melalui pembicaraan seluler. Stefan dibebaskan. dengan terbata-bata diselingi isakan, Adnan menjelaskannya.
📲 "Dan Papa tak bisa berbuat apa-apa?!" tekan Kenzie dengan jengkel.
📲 "Papa sudah berusaha, Nak." ujar Adnan dengan isakan. "Tapi, kita kalah... Stefan memiliki bekingan yang kuat..."
📲 "Bekingan kuat? bukankah keluarga mereka sudah tak bisa melakukan apa-apa?" tangkis Kenzie dengan lirih.
📲 "Kau salah nak." kata Adnan. "Mereka punya koneksi dengan salah satu Sembilan Naga."
📲 "Sembilan Naga?" ujar Adnan dengan lirih.
📲 "Sembilan megakorporat yang menguasai perekonomian Indonesia. dan kau tahu apa yang mereka lakukan sekarang?" pancing Adnan.
📲 "Apa?" tantang Kenzie.
📲 "Mereka menekan poin saham kita. saham Buana Asparaga. Tbk terkoreksi beberapa poin." kata Adnan.
📲 "Dan kita kolaps?!" seru Kenzie.
📲 "Tidak. pondasi kita kuat. Saham hanya terkoreksi beberapa poin. namun sudah kembali semula. kelihatannya mereka hanya menegur kita untuk menarik kasus itu dan membiarkan Stefan tak tersentuh. Papa nggak bisa berbuat apa-apa." kata Adnan kemudian menangis.
📲 "Tapi itu Kakakku, Pa! dia putri Papa! mengapa Papa selemah ini?!" seru Kenzie. "Aku tak akan pernah rela! aku tak rela! bahkan setelah Kak Ais wafat, ia masih tetap teraniaya? keadilan macam apa ini?!" teriak Kenzie dengan kalap dan langsung menutup pembicaraan seluler itu.
ia ingin berteriak mengeluarkan sumpah serapah, mengutuk ketimpangan hukum yang menimpanya. namun kesadarannya mengingatkan bahwa lelaki itu berada dikediaman keluarga istrinya.
Chiyome tidak boleh tahu atas berita ini. wanita itu bisa mengamuk dan Kenzie yakin dia tak akan bisa mengendalikan istrinya lagi. berbagai goncangan telah membuat Chiyome seperti kehilangan pegangan. kematian Aisyah, menyusul ibunya Fitri dan sekarang sang ayah pergi tanpa pamit dengan melakukan bunuh diri menurut adat lama. wanita itu sudah jatuh dalam sisi gelap, hanya saja dia tak menampakkannya.
Chiyome tersenyum dalam dukanya. itu berbahaya! sang istri tak boleh mengetahui bahwa lelaki bejat itu bebas dari jeratan hukum. Kenzie mengatur napasnya.
namun Kenzie tak menyadari, segala percakapannya telah tertangkap oleh dria rungu Chiyome yang sejak tadi telah berdiri disisi dinding kamar itu. wajah wanita itu tenang, namun matanya memendarkan hawa membunuh yang luar biasa.
__ADS_1
...*****...
Ruangan pribadi Kameie.
Chiyome menatap dua lembar surat. satunya adalah daftar aset tekiya milik Kameie. sedang satunya adalah surat wasiat sang ayah beberapa saat melakukan seppuku.
Chiyome membuka surat tersebut dan membacanya.
*Shiga, 02 Agustus 2028.
Kepada putra-putriku.
Maafkan ayahmu karena tidak kuat menanggung hidup. bagaimanapun, ibumu begitu berharga bagiku. aku tak akan bisa melepaskannya dengan rela. aku akan menemaninya dengan segala cara, meski itu harus menempuh pelepasan nyawa.
anak-anakku. kutitipkan aset-asetku pada kalian. kelola aset itu karena kalian hidup dari aset-aset itu. jangan kuatirkan ayahmu lagi. aku akan menemani ibumu disana.
^^^Kameie Saburo Mochizuki*^^^
Chiyome melipat surat itu kembali dan meletakkannya dimeja. wanita itu kemudian mengambil sebuah pena dan secarik kertas lalu menulis sesuatu disana.
...*****...
kamar peraduan Chiyome dan Kenzie.
keduanya berbaring. Kenzie menatapi wajah Chiyome yang tenang.
"Wiffy..." panggil Kenzie.
Chiyome menatap suaminya dan tersenyum sambil mengangkat alis. Kenzie merasa lidahnya kelu. dia kembali tersenyum namun kali ini terlihat hambar.
"Nggak...." ujar Kenzie. "Aku hanya suka melihatmu tersenyum."
Chiyome kembali tersenyum. kau bohong Hubby. kau menyembunyikan berita sial itu dariku. tapi, tak apa. untuk apa lagi kau katakan? aku sudah mengetahuinya dengan jelas.
"Kau kerasan disini?" tanya Kenzie.
Chiyome mengangkat alis lagi. "Menurut Hubby?"
"Kalau Wiffy betah disini, ya kita tinggal disini saja." jawab Kenzie dengan enteng sambil menatap langit-langit kamar.
"Bagaimana dengan perusahaan? apa Hubby akan kembali menyerahkan kepemimpinan kepada Papa?" tanya Chiyome dengan wajah keheranan.
"Tentu saja. lagipula, kita punya aset milik Otoo-San yang harus kita kelola, kan?" sahut Kenzie kembali menatap Chiyome.
"Iechika bisa mengelolanya." kata Chiyome. "Hubby nggak akan bisa mengelolanya. sebab, Hubby bukan golongan genyosha."
"Ooo... begitu ya?" gumam Kenzie dengan kecewa.
"Dan ingat! Wiffy nggak mau pendidikan Saburo terganggu. bagaimanapun, pendidikan agama itu penting. dia nggak boleh pindah sekolah." sambung Chiyome, "Jadi, kita tetap tinggal di Indonesia. mengerti?!"
"Okey, okey, aku manut sama Wiffy." ujar Kenzie sambil tersenyum.
"Huh, dasar suami takut istri! jangan mempermalukan Wiffy dihadapan mendiang Otoo-San." hardik Chiyome dengan mata yang dibesarkan.
"Aku nggak perduli disebut suami takut istri. yang penting, Wiffy ada disisiku." jawab Kenzie.
"Apa Hubby ingin meniru Otoo-San?" tanya Chiyome dengan datar. "Apa kalau Wiffy wafat, Hubby akan melakukan bunuh diri?"
"Nggak." ujar Kenzie kemudian menatap Chiyome. "Kita akan tetap bersama. dan kita... akan wafat juga bersama-sama. aku janjikan itu padamu!"
Chiyome menatap suaminya dengan dalam dan ia menemukan sebuah keyakinan dimata Kenzie. lelaki itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Hubby janji?" tuntut Chiyome.
"Demi Allah... aku janjikan hal itu padamu. maka tak akan ada yang tersakiti diantara kita berdua. tak akan ada yang sendirian diantara kita. jika harus menempuh kematian, kita akan menjemputnya bersama-sama mengikuti cara-Nya." tandas Kenzie. "Percayalah padaku, sayangku!"
Chiyome tersenyum dan akhirnya mengangguk. dan Kenzie memajukan wajahnya mengecup kening sang istri. dan seterusnya telah dipastikan. keduanya saling bercumbu dan melakukan kegiatan olah batiniyah melalui penyatuan senggama. bersama-sama mengaduk tirtamerta dalam lautan susu diperiuk uterus.
Kenzie menegadah melepaskan mata air sukla bersama Chiyome yang juga mengejan melepaskan semburan sungai pradana menuju lubuk penyatuan. keduanya lemas dalam pengaduan periuk cinta diputaran kelima.
__ADS_1
malam telah merambat menuju subuh.[]